December 9, 2010

Maria Magdalena Istri Yesus?


Isu yang ramai diembuskan dalam buku-buku sensasi masa kini adalah peran Maria Magdalena yang disebut-sebut sebagai pacar dan istri Yesus. Dalam fiksi "The Da Vinci Code" digambarkan Yesus mengawini Maria Magdalena dan mempunya keturunan di Inggeris, bahkan, dalam film "The Lost Tomb of Jesus" diisukan bahwa Yesus dan Maria Magdalena dikubur bersama dalam kuburan keluarga di Talpiot beserta anak mereka bernama Yudah.

Sebenarnya, baik dalam kitab Injil, injil gnostik, maupun literatur pada abad pertama, tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus. Jika teori seperti itu muncul, itu hanyalah tafsiran sensasional yang dilontarkan oleh mereka yang mencari sensasi demi popularitas dan uang dengan menyudutkan kekristenan. Tambahan pula, berita skandal sangat laku dan punya daya jual tinggi di masyarakat karena publik haus cerita yang seperti itu, apalagi kalau skandal seks dikaitkan pada
tokoh agama.

Tidak ada indikasi dalam Injil bahwa Maria Magdalena berpacaran atau bahkan menjadi istri Yesus. Demikian pula para bapak gereja, mereka tidak pernah mengaitkan Maria Magdalena sebagai istri Yesus meskipun ada yang menghargainya sebagai seorang murid perempuan yang bisa dijadikan teladan
karena kesetiaannya. (Maria Magdalena memang adalah murid Yesus yang dekat dan ikut hadir ketika Yesus disalib. Ia juga disebut bersama dengan perempuan lain yang lebih dahulu melihat Yesus yang bangkit, kemudian memberi tahu murid-murid lainnya.)

Isu soal Maria Magdalena sendiri sebenarnya tumbuh dari penafsiran sempit dan tendensius atas beberapa naskah gnostik. Padahal, khasanah gnostik yang ditulis pada abad II-III itu pun tidak memuat pernyatan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus. Bahkan, injil Filipus dan injil Maria Magdalena yang dikutip dan 'dianggap' sebagai 'bukti' itu juga tidak memuat pernyataan secara eksplisit bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.

Yang ada pun hanyalah kerancuan yang dilakukan oleh Paus Gregorius Agung. Pada abad VI, tanggal 21 Desember 591 M, di Basilika St. Clement, dalam khotbahnya, ia memang pernah mengidentikkan antara Maria Magdalena (perempuan yang disembuhkan oleh Yesus dari kerasukan tujuh roh jahat, Luk.8:1-2) dan perempuan pelacur tanpa nama pada bacaan sebelumnya (Luk.7:36-50). Paus Gregorius mengaburkan nama Maria Magdalena dengan perempuan yang berzina dalam ayat-ayat sebelumnya, dan Maria saudara Marta dan Lazarus, berhubung pada abad VI Kota Magdala dikenal sebagai kota yang memiliki reputasi moralitas yang kurang baik. Meskipun demikian, Paus Gregorius tidak mengaitkan Maria Magdalena sebagai istri Yesus. Ia hanya memberikan contoh mengenai pesan moral yang meninggikan Maria Magdalena sebagai pelacur yang bertobat.

KHASANAH GNOSTIK
Kitab-kitab gnostik sebenarnya sudah lama ditemukan secara parsial. Namun, ketenarannya mencuat ketika pada tahun 1945 di Nag Hammadi, Mesir, ditemukan perpustakaan gnostik yang berisi tiga belas kodeks (bundel berisi beberapa kitab) yang berisikan 52 kitab. (James M. Robinson, The Nag Hammady Library,
Harper: San Francisco, 2005). Dari ke-52 kitab gnostik yang ditemukan itu ada beberapa yang dikaitkan dengan Maria Magdalena, mungkin yang paling terkenal adalah Injil Thomas karena Jesus Seminar menganggapnya sebagai injil kelima. (The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say? Pollebridge, 1993). Dalam ayat terakhir (Logion 114) injil itu disebutkan bahwa Maria Magdalena dianggap tidak layak menjadi warga Kerajaan Surga karena ia seorang perempuan.

Injil Filipus adalah injil yang banyak dikutip dalam hal "ciuman" Yesus kepada Maria Magdalena. Ayat dalam injil Filipus itulah yang dikutip oleh Michael Baigents, Barbara Thering, dan Dan Brown dalam buku-buku mereka. Injil Filipus sebenarnya merupakan kompilasi tentang makna dan nilai sakramen dalam konteks ajaran gnostik Valentinus. Berbeda dengan Injil kanonik yang berisi narasi, injil itu, meskipun menyebut beberapa perbuatan Yesus, lebih menekankan ucapan-ucapan Yesus seperti lazimnya naskah gnostik
yang muncul pada abad II-III. Dalam injil itu diceritakan adanya tiga pendamping (companion) yang bernama Maria, tetapi yang lebih disorot adalah Maria Magdalena -salah satu ayatnya yang terkenal berkaitan dengan Maria Magdalena.

Injil gnostik lainnya yang terkenal adalah Injil Maria Magdalena. Injil itu menceritakan kondisi Maria Magdalena sebagai murid kesayangan Yesus yang lebih superior daripada Petrus, yang dalam tradisi gereja dianggap sebagai rasul utama (primat gereja). Injil itu tidak termasuk khasanah Nag Hammadi, tetapi ditemukan tersendiri pada tahun 1896 ketika muncul di Kairo. Injil Maria Magdalena dibagi dua bagian. Pertama mengungkapkan percakapan Yesus dengan para murid-Nya mengenai materi dan dosa. Dalam hal itu, setelah ditinggalkan Yesus, para murid menjadi sedih dan ragu-ragu. Maria Magdalenalah yang kemudian menghibur mereka dan membawa mereka untuk memandang ajaran Yesus yang baik. Bagian kedua memuat wahyu khusus yang diterima Maria Magdalena dari Yesus, yang membuat Petrus bertanya kepada Maria mengenai ajaran itu. Ayat itulah yang dianggap menunjukkan keutamaan Maria Magdalena yang lebih daripada Petrus dan murid lainnya.

Pistis Sophia merupakan kitab gnostik lain yang digunakan sebagai alasan untuk menunjukkan adanya hubungan yang khusus antara Maria Magdalena dan Yesus. Injil Orang Mesir (The Gospel of the Egyptian) adalah tulisan isoteris yang mewakili ajaran mitologi gnostik menurut aliran Set.

Ternyata konfrontasi antara Maria Magdalena dan Petrus itu bukan saja ditemukan dalam Injil Maria Magdalena, melainkan juga dalam injil Thomas, Pistis Sophia, dan injil Orang Mesir. Konfrontasi itu menggambarkan salah satu pertentangan atau fraksi sejak abad II, yaitu antara Petrus juga Andreas (yang mewakili mereka yang menolak wahyu isoteris dan menolak perempuan mengajar) dan pengikut Maria Magdalena (yang menekankan Maria sebagai murid yang dikasihi Yesus dan lebih superior daripada yang lainnya).

Khasanah gnostik lainnya adalah Kisah Filipus (The Acts of Phillips). Kisah yang tersimpan lama di biara Xenophontos, Yunani, ditemukan oleh Francois Bovon yang kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Kisah itu bercerita tentang Filipus yang memiliki saudara bernama Marta dan Mariamne. Ketiganya menjadi penginjil dalam aliran yang menekankan kesucian, vegetarian, dan selibat. Kisah Filipus sendiri mencuat karena nama Mariamne muncul dalam salah satu osuari di makam Talpiot, yang oleh film "The Lost
Tomb of Jesus" dianggap sama dengan Mariamne dalam Kisah Filipus karena keduanya mengajar. Dalam makam Talpiot itu namanya adalah Mariamne e Mara atau Mariamne sang guru, yang kemudian dianggap sebagai nama lain Maria Magdalena.

INJIL FILIPUS
Salah satu kutipan Injil Gnostik yang ditulis dalam novel karya Dan Brown: "The Da Vinci Code" untuk menunjukkan bahwa Maria adalah isteri Yesus diambil dari Injil Filipus yang kebetulan berada dalam kodeks yang sama dengan Injil Thomas, keduanya termasuk khazanah Nag Hamadi.

Injil Filipus tidak menyebutkan siapa penulisnya dan nama itu adalah nama yang diberikan pada masa kini karena hanya nama Filipuslah yang disebutkan sebagai rasul disitu. Injil ini berasal dari abad-3 dan menunjukkan nafas gnostik. Ayat-ayat yang mengungkapkan ajaran gnostik adalah:

Diberkati ia yang ada sebelum ia ada. Karena ia yang ada, telah ada dan akan ada.

"Ia yang memiliki pengetahuan kebenaran adalah manusia bebas, tetapi manusia bebas tidak berdosa, karena "Ia yang berbuat dosa adalah budak dosa." Kebenaran adalah ibu, pengetahuan adalah bapak."

"Echamoth adalah satu hal dan Echmoth hal lain. Echamoth adalah hikmat sederhana, tetapi Echmoth adalah hikmat kematian, yaitu yang mengenal kematian, yang disebut "hikmat kecil"."

"Mereka yang mengatakan bahwa mereka akan mati lebih dahulu dan kemudian bangkit, mereka salah. Kalau mereka lebih dahulu belum menerima kebangkitan waktu hidup, waktu mati mereka tidak akan menerima apa-apa."

"Yesus datang untuk menyalibkan dunia."

"Yesus mengambil mereka semua dengan diam-diam, karena ia tidak nampak seperti keadaannya, tetapi dengan cara yang dapat dilihat mereka. Ia memperlihatkan diri kepada mereka semua. Ia menampakkan diri kepada yang besar sebagai besar, Ia menampakkan diri kepada yang kecil sebagai kecil. Ia menampakkan diri kepada malaekat sebagai malaekat, dan kepada manusia sebagai manusia."

"Tidak mungkin bagi seseorang untuk melihat segala sesuatu yang sebenarnya ada kecuali kalau ia menjadi seperti mereka... Kamu melihat roh, kamu menjadi roh. Kamu melihat Kristus, kamu menjadi Kristus. Kamu melihat Bapa, kamu akan menjadi bapa. Itulah sebabnya ditempat ini kamu melihat segala sesuatu dan tidak melihat dirimu sendiri, tetapi ditempat itu kamu melihat dirimu sendiri - dan apa yang kamu lihat kamu akan menjadi seperti itu."

"Adam menjadi ada dari dua perawan, dari Roh dan dari bumi yang perawan. Kristus karena itu, dilahirkan dari seorang perawan untuk memperbaiki kejatuhan yang terjadi pada permulaannnya."

"Tuhan melakukan segala sesuatu secara rahasia, baptisan dan minyak suci dan perjamuan suci dan penebusan dan kamar pengantin."

Banyak yang melihat Injil Filipus termasuk tulisan lingkaran sekte Valentinus yang menulis Injil Kebenaran. Tema utama Injil Filipus adalah tentang sakramen, terutama pernikahan, dan karena dianggap menyebut soal
Yesus mencium mulut Maria Magdalena maka menjadi alasan untuk mencuatkan ide bahwa Maria Magdalena adalah isteri Yesus. Ada dua ayat dikutip Dan Brown:

"Ada tiga yang selalu berjalan bersama Tuhan: Maria, ibunya, saudaranya, dan Magdalena yang disebut teman (companion). Saudaranya, ibunya dan temannya semuanya Maria."

Dan Brown menafsirkan terjemahan bahasa Inggeris 'companion' sebagai 'spouse' (pasangan hidup), apalagi ayat berikut bertendensi kearah itu:

"Dan pendamping [...] Maria Magdalena. [...] lebih dari [...] para murid, [...] menciumnya [...] di [...]. Para murid lainnya [...]. Mereka berkata kepadanya "Mengapa engkau mencintainya lebih dari kami semua?" Juru Selamat menjawab dan berkata kepadanya, "Mengapa aku tidak mencintai kamu seperti aku mencintai dia?"."

Sebenarnya ayat diatas tidak secara eksplisit menyebut Yesus mencium mulut Maria, tetapi secara provokatif Dan Brown mengisi bagian yang terhilang [...] dengan kata [Yesus] menciumnya [sering] di [mulutnya] (Tanda dalam kurung dengan tiga titik menunjukkan bagian naskah yang hilang tapi oleh Dan Brown diisi seperti itu). Padahal dalam Injil Filipus tidak ada satupun pertanda bahwa Maria adalah isteri Yesus.

Dalam Injil Filipus mungkin saja ayat itu menunjuk pada kalimat 'ciuman bibir' namun dari kacamata gnostik di atas kita dapat melihat bahwa itu bukan berarti ciuman fisik karena di kalangan gnostik, hal-hal tubuh dan
dunia dianggap jahat, karena itu ayat itu memiliki arti kedekatan hubungan sesama pewaris gnosis. Injil Filipus ditemukan baik dalam naskah berbahasa Yunani maupun dalam terjemahan dalam bahasa Koptik, dan dalam injil Filipus tidak disebutkan bahwa Maria Magdalena itu isteri Yesus. Lalu bagaimana dengan injil Maria?

Dalam novel The Da Vinci Code, selain kutipan dari Injil Gnostik Filipus, ada juga kutipan dari Injil Maria Magdalena. Kedua kutipan itulah yang kemudian dijadikan bahan sensasi untuk menyebut bahwa Maria Magdalena adalah isteri Yesus dan Rasul kepada Rasul. Apakah Injil Maria Magdalena itu dan apakah isinya?




INJIL MARIA MAGDALENA
Injil Maria (Injil ini tidak menyebutkan nama Magdalena, namun dari isinya diketahui bahwa yang dimaksudkan sebagai Maria disini adalah Maria Magdalena, atau Maria dari kota Magdala) ditemukan di Kairo pada tahun 1896 dan kemudian dua fragmen lainnya juga. Ketiga fragmen itu tidak lengkap, yaitu dua dalam bahasa Yunani yang berasal dari abad-2/3, yaitu P. Rylands 463 yang dipublikasikan pada tahun 1938, P. Oxyrhynchus 3525 yang dipublikasikan pada tahun 1983, dan terjemahan koptik yang lebih panjang Berolinensis Gnosticus 8052,1 yang dipublikasikan pada tahun 1955.
Dari kenyataan bahwa naskah Yunaninya lebih tua dari naskah Koptik, demikian juga dengan yang terjadi pada naskah-kaskah Gnostik lainnya seperti Injil Thomas, dapat disimpulkan bahwa khazanah Gnostik semula ditulis dalam bahasa Yunani (abad-2/3), kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Koptik (abad-3/4). Menurut perkiraan, naskah Injil Maria Magdalena ditulis sekitar tahun 120-180.
Menurut Karen King teologi yang diberitakan Injil Maria Magdalena adalah:
... Injil Maria menyampaikan penglihatan bahwa dunia sedang berlalu, tidak menuju ciptaan baru atau orde dunia baru, tetapi menuju pembubaran khayalan kekacauan mengenai penderitaan, kematian, dan dominasi yang tidak sah. Juruselamat telah datang agar setiap jiwa dapat menemukan spiritualitas alamiahnya sendiri yang benar, yang berakar dalam Yang Baik, dan kembali ketempat peristirahatan yang kekal yang melebihi batasan waktu, materi, dan moralitas palsu” ( Penulis Buku The Gospel of Mary of Magdala, [Polebridge, 2003], menulis dalam buku The Complete Gospels kesimpulan ini).
Injil Maria Magdalena meninggikan Maria Magdalena diatas para murid lainnya yang kesemuanya laki-laki, bahkan dalam Injil ini ditimbulkan kesan bahwa Maria Magdalena adalah murid yang paling disayangi oleh Yesus dan mendapat banyak pesan rahasia yang tidak diberikan kepada para murid lainnya. Lebih dari itu disimpulkan bahwa Maria Magdalena adalah rasul kepada rasul, atau rasul yang utama, karena ialah yang pertama melihat kebangkitan Yesus dan kemudian ialah yang memberitahukannya kepada para rasul lainnya.
Dalam Injil Kanonik, disebutkan mengenai Maria Magdalena sebagai berikut:
“Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus.” (Yohanes 20:1-2).
Ayat berikut dikutip oleh Dan Brown dalam buku novelnya The Da Vinci Code:
Petrus berkata, “Benarkah Juru Selamat berbicara dengan perempuan tanpa setahu kita? Apakah kita harus bertanya kepadanya? Apakah Ia lebih memilihnya daripada kita?” ... Dan Lewi menjawab, “Petrus, engkau selalu panas hati. Sekarang saya melihat persainganmu dengan perempuan itu bagaikan musuh.  Bila Juru Selamat membuatnya penting, siapa engkau sehingga engkau menolaknya? Tentu saja Juru Selamat sangat mengenalnya. Itulah sebabnya ia mencintainya lebih dari kita.”
Irihati rasul Petrus terhadap Maria Magdalena nyata diperlihatkan dalam Injil ini, bahkan di ayat berikut Petrus disebutkan bertanya kepada Maria tentang apa yang belum ia ketahui:
Petrus berkata kepada Maria, “Saudari, kami tahu bahwa Juru Selamat mencintaimu lebih dari perempuan lain. Ceritakan kepada kami perkataan Juru Selamat yang kau ingat, hal-hal yang engkau tahu dan kami tidak karena kami belum mendengarnya.”
Dikalangan penganut gnostik ada fraksi Maria Magdalena, Petrus, Thomas dan lainnya yang saling bersaing. Itulah sebabnya sering kita lihat dalam injil-injil Gnostik penonjolan pada pribadi rasul tertentu. Dan bila dalam ayat diatas ditonjolkan Maria Magdalena lebih superior dari rasul Petrus, bahkan sampai Petrus bertanya kepada Maria Magdalena, dalam Injil Thomas kita dapat menjumpai keadaan sebaliknya. Disini Thomas menulis bahwa Petrus menganggap perempuan lebih rendah dari laki-lakidan ini didukung oleh Yesus dalam injil itu:
Simon Petrus berkata kepada mereka, “Biarkan Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak layak memperoleh hidup.” Yesus berkata: “Lihatlah, aku akan membimbingnya menjadi laki-laki, agar ia pun dapat menjadi roh yang hidup menyamai kamu yang laki-laki. Karena setiap perempuan yang menjadikan dirinya sendiri laki-laki akan masuk kerajaan Surga” (Logion 114).
Jadi, kalau kita membaca naskah Gnostik, kita harus melihat adanya latar belakang penonjolan tokohnya, adanya fraksi-fraksi yang bersaing, dan perlu dibandingkan antara satu naskah gnostik dengan naskah gnostik lainnya.
Menurut Karen King, dalam naskah Yunani Injil Maria Magdalena, kepemimpinan wanita belum dipermasalahkan melainkan ajarannya, sedangkan dalam naskah Koptik sudah ada variasi yang memberikan pembelaan akan kepemimpinan wanita dikarenakan masa itu di gereja resmi kepemimpinan wanita memang tidak diberi tempat. Dalam pendahuluannya dalam buku The Nag Hamadi LibraryKaren L. King menyebut:
Konfrontasi antara Maria dan Petrus, skenario yang juga dijumpai dalam Injil ThomasPistis Sophia, dan Injil Orang Mesir, mencerminkan adanya ketegangan yang terjadi dalam kekristenan abad-2. Petrus dan Andreas mewakili posisi orthodox yang menolak keabsahan wahyu isoterik dan menolak kewenangan perempuan dalam mengajar. Injil Maria menyerang pendapat itu melalui penggambaran peran Maria Magdalena. Ia adalah yang dikasihi Juru Selamat yang memilki pengetahuan dan pengajaran yang melebihi tradisi apostolik. Kelebihannya didasarkan penglihatan dan wahyu pribadi dan dibuktikan dengan kemampuannya menguatkan para rasul yang goyah dan membalikkan mereka kearah Yang Baik itu. (The Nag Hamadi Library in English, hlm.524. Bandingkan dengan Karen L. King, The Gospel of Mary of Magdala, Polebridge, 2003, hlm.85-86).
Melihat konteks gereja masa itu, kelihatannya kalangan gnostik yang tidak setuju dengan gereja (demikian juga gereja menolak gnostik) berusaha untuk menulis Injil-Injil lain yang kelihatannya berusaha melawan pengajaran gereja resmi.Injil Maria Magdalena jelas termasuk Injil Gnostik, bahkan ada ayat yang sejalan dengan ajaran mistik Taoisme. MariaMagdalena menyebutkan bahwa Yesus berkata:
Semua alam, segala sesuatu yang dibentuk, semua mahluk ada didalam dan dengan satu sama lain dan akan berubah kembali ke pada asalnya, karena alam materi akan berubah sendiri kepada asalnya yang alami. 
Ayat ini sangat mirip pengajaran Taoisme:
Segala sesuatu memperoleh kehidupannya dari Tao. Segala sesuatu akan kembali kepadanya, dan memuat semuanya” (Lao Tzu, Tao The Ching, 34).

Bagian lain dari Injil Maria Magdalena menggambarkan perjalanan jiwa setelah kematian dan tantangan-tantangan yang dialaminya. Bagian ini juga mirip cerita dalam buku kalangan Budhhisme, yaitu: Buku Tibet Tentang Mereka Yang Mati. Jadi jelas, injil Maria Magdalena adalah injil gnostik.

ISU SKANDAL MARIA MAGDALENA

Karena buku dan film dengan tema yang melecehkan Yesus laku keras (bestseller)maka banyak bermunculan buku-buku sejenis, yang menjadikan Maria Magdalena sebagai pacar dan istri Yesus.
Pada tahun 1983 terbit buku The Holy Blood Holy Grail (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, Dell Book, 1983). Di dalam buku itu diungkapkan teori bahwa The Holy Grail bukanlah cawan perjamuan yang merupakan bagian dari legenda Raja Arthur di Inggris, melainkan merupakan simbolisasi dari rahim perempuan yang menerima benih Yesus. Dalam buku itu disebutkan,
“Menurut legenda abad pertengahan tertentu, Magdalena membawa ‘Darah Suci’ (Holy Blood) atau ‘Darah Raja’ (Royal Blood) ke Perancis ... Mungkin, Magdalena –wanita yang sukar dipahami dalam Injil– sebenarnya adalah istri Yesus. Mungkin hubungan itu menghasilkan keturunan. Setelah penyaliban, mungkin Magdalena, dengan sedikitnya satu anak, diselundupkan ke Gaul –tempat komunitas Yahudi yang sudah lama tinggal di situ memberinya perlindungan”(Baigent et.al., hlm. 313).
Kisah penyelundupan Maria Magdalena ke Gaul (Perancis) di kemudian hari dikaitkan dengan keberadaan organisasiKnights Templar (Baigent, hlm. 64–95. Pada Bab 3 diceritakan tentang sejarah Knights Templar). Dikisahkan bahwaKnights Templar didirikan pada tahun 1118 dengan misi melindungi para peziarah yang datang ke Yerusalem dari kemungkinan gangguan orang-orang Arab. Organisasi Knights Templar kemudian semakin terkenal dan kaya karena menjalankan aktivitas perbankan selain berperan sebagai penjaga peziarah. Namun, karena lama-kelamaan kekuasaannya menjadi terlalu besar dan kaya, organisasi itu dituduh menjalankan sihir sehingga dibubarkan pada abad XIV oleh paus dan raja. Banyak pengikutnya dianiaya dan dihukum dan harta mereka dirampas.
Legenda yang kemudian berkembang adalah bahwa Knights Templar juga mengemban misi rahasia untuk menyelamatkan Holy Blood yang dianggap sebagai keturunan darah suci. Seusai keberadaan Knights Templar, misi penyelamatan suci itu dipercayai diteruskan oleh legenda baru berupa organisasi Prieure de Sion (Priory of Sion/Biarawan Sion).
Dalam buku lanjutannya yang berjudul The Messianic Legacy, Baigent dkk. kemudian menghadirkan organisasi di lingkungan gereja Katolik RomaOpus Dei, sebagai antitema Preure de Sion. Bila Prieure de Sion menjaga kelangsungan keturunan darah suci, Opus Dei justru diisukan berusaha untuk membungkam Holy Blood(The Messianic LegacyCorgi Books, 1987 –pertama diterbitkan oleh Jonathan Cape pada tahun 1986). Mengenai Opus Dei, baca hlm. 230, 426, 438, 448).
Dalam bukunya itu Baigent kemudian mengaitkan peran Maria Magdalena sebagai penerus darah suci dengan tulisan dalam injil gnostik (injil Filipus dan Maria Magdalena) bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus dan rasul kepada rasul, yang kemudian memunyai keturunan dinasti Merovingian (salah satu keturunannya, Plantard de St. Clair, tinggal di Perancis Selatan).
Injil Filipus yang dikutip Baigent itu berbunyi:
“Dan pendamping [Juruselamat adalah] Maria Magdalena. [Namun, Kristus mencintainya lebih dari] para murid], [dan biasa] menciumnya [sering] di [mulutnya]. Para murid lainnya [merasa terpojok dan tidak setuju]. Mereka berkata kepada-Nya, ‘Mengapa engkau mencintainya lebih dari kami semua?’ Juruselamat menjawab dan berkata kepadanya, “Mengapa Aku tidak mencintai kamu seperti Aku mencintai dia?” (Baigent, hlm. 382).
Kutipan Baigent itu bernada tendensius karena sebenarnya beberapa bagian naskah itu, yang dikurung [ ... ],  hilang/rusak. Yang hilang itulah yang ditambahi olehnya tanpa penjelasan. Naskah asli yang dikutip itu sebenarnya berbunyi,
“Dan pendamping [ ... ] Maria Magdalena. [ ... ] para murid, [ ... ] menciumnya [ ... ] di [ ... ]. Para murid lainnya [ ... ]. Mereka berkata kepada-Nya, ‘Mengapa engkau mencintainya lebih dari kami semua?’ Juruselamat menjawab dan berkata kepadanya, ‘Mengapa Aku tidak mencintai kamu seperti Aku mencintai dia?’” (James M. Robinson “Injil Filipus” dalam The Nag Hammady LibraryHarper: San Francisco, 2005, hlm. 148).
Jadi, kalau dilihat dari naskah aslinya, kutipan Baigent dalam bukunya itu merupakan tafsiran yang direkayasa dan merupakan penambahan yang spekulatif, dan dalam bukunya, tanda kurung itu dihilangkan sehingga terkesan seluruh kalimat adalah asli.
Buku Holy Blood Holy Grail yang kemudian disusul dengan sambungannya, The Messianic Legacy, pada waktu itu laris manis. Bahkan, di sampul buku itu diberi komentar “The Shocking International Bestseller”. Namun, banyak buku yang kemudian ditulis orang yang melemahkan tesis Baigent dkk. karena ia telah merekayasa kutipan injil Filipus dan ditafsirkan secara harfiah di luar konteks pengertian ciuman dalam latar belakang gnostiknya.
Adapun cerita Holy Blood Holy Grail tentang Pierre Plantard de St. Clair sebagai keturunan Yesus dan keberadaanPrieure de Sion yang kontroversial, semua itu telah dibuktikan kebohongannya oleh banyak pihak. Bahkan, Plantard kemudian diajukan ke pengadilan pada tahun 1989.
“Bukti-bukti yang mendukung keberadaan Priory of Sion hingga kini masih diragukan keasliannya oleh para ahli sejarah dan ilmuwan. ... Para peneliti dan pengarang lainnya bahkan menyatakan bahwa teori Priory of Sion itu adalah kebohongan besar, dan menjatuhkan nama Plantard. ... Plantard kemudian mengakui bahwa semua cerita tentang Priory of Sion adalah kebohongan.” ( Cinemags, 82, Mei 2006, hlm.44–45 di bawah judul “Priory of Sion”).
Plantard de St. Clair mengaku
Di pengadilan, Plantard akhirnya mengaku bahwa ia bukan keturunan Yesus dan bahwa keberadaan Prieure de Sionadalah cerita yang direkayasanya. Ia memanipulasi aktivitas-aktivitas dan peninggalan-peninggalan Saunierre di Rennes-le-Chateuu dan mengaitkannya dengan Priory of Sion. Plantard juga menuliskan dua daftar anggota Priory of Sionyang berbeda dan keduanya fiktif.
Priory of Sion (diciptakan Plantard untuk) dipimpin oleh seorang Grand Master. Namun, ternyata ada dua buah versi daftar Grand Master itu. Uniknya, dua-duanya adalah ciptaan Plantard, dengan memakai nama samaran yang berbeda. ... Versi Vaincare No. 3, September 1989, halaman 22 (harus diingat, editor majalah itu adalah Thomas Plantard de St. Clair): ... Versi kedua itu dibuat saat Plantard berusaha untuk kembali ke pusat perhatian, di tahun 1989, ketika ia menyatakan bahwa versi pertama adalah palsu dan sebagian kecil dari  ‘Secret Files’ yang ternyata juga palsu.” (Cinemags, hlm. 45 di bawah judul “The Grand Masters of the Priory of Sion”).
Kebohongan itu, seperti halnya kebohongan Notovitch tentang biara Himis di India, terus diulang-ulang oleh buku-buku berikutnya. Misalnya, ide Baigent mengenai Maria Magdalena sebagai istri Yesus dan mengikuti Plantard tentang biarawan Sion, meskipun sudah disangkal Plantard, terus dihidupkan dalam buku-buku yang terbit kemudian.
Penulis lain, John Shelby Spong, dalam bukunya yang berjudul Born of a Woman: A Bishop Rethinks the Birth of Jesus(Harper: San Francisco, 1992mengatakan bahwa Yesus mengawini Maria Magdalena dan catatan dalam “Perjamuan Kawin di Kana” tidak lain adalah perjamuan kawin Yesus sendiri. Yesus yang dikatakannya menikah dengan seorang pelacur itu dapat juga menjadi “kabar baik” bagi para pelacur.
Barbara Thiering, dalam bukunya, Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scrolls (Harper: San Francisco, 1992. Di London diterbitkan dengan judul Jesus The Man,1993), mengemukakan teorinya berdasarkan metode penafsiran Pesherbahwa Yesus mengawini Maria Magdalena, murid yang pernah ditolong-Nya. Buku itu memang diakuinya sebagai buku kontroversial. Bahkan, di sampul edisi London, Jesus the Man, diberi komentar tambahan, “The Controversial Bestseller That Will Change Forever Your View of Christianity.
Thiering, yang dalam bukunya itu memuat juga kutipan ayat injil Filipus hasil rekayasa Baigent, kemudian menyimpulkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus. (hlm. 87–88). Ia juga menyimpulkan bahwa setelah Maria Magdalena melahirkan dua anak laki-laki dan satu perempuan, ia mengajukan cerai kepada Yesus, dan Yesus kemudian menikahi Lydia yang masih perawan.
“Sesudah kelahiran anak ketiga ... , pada bulan Maret 44 Maria Magdalena memutuskan meninggalkan suaminya. ... Bahwa ada perceraian dan perkawinan kedua secara tidak langsung disebutkan dalam pernyataan pada bulan Maret 50: ‘Tuhan membuka hati (Lydia, perempuan yang muncul di Filipi)’. Tanggalnya adalah enam tahun setelah kelahiran putranya pada tahun 44. ... Frasa ‘membuka hati’ juga menunjukkan bahwa Lydia masih perawan.” (hlm. 146–147).
Semua itu menunjukkan bahwa kebohongan ternyata banyak terjadi di kalangan cendekiawan, yang sebenarnya diharapkan bersikap jujur secara ilmiah dan akademis. Meskipun ia seorang uskup (Spong) atau pemegang gelar doktor yang membawa jargon ilmiah dan mengaku ahli sejarah, yang keluar bisa saja bukan pendapat ilmiah yang subjektif, melainkan lebih merupakan hasil pendapat pribadi yang tendensius.
The Da Vinci Code
Ide buku Baigent di atas dua puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 2002, diteruskan dan dipopulerkan oleh Dan Brown dalam novelnya yang laris manis yang berjudul The Da Vinci Code. Pada tahun 2006, setelah buku Brown meledak di pasar, film dengan judul yang sama dirilis.
Brown yang menulis novel berjudul The Da Vinci Code dua puluh tahun setelah Baigent menulis Holy Blood Holy Grail, kemudian dituntut oleh Michael Baigent dan Richard Leigh di pengadilan London. Menurut mereka,  Brown mengambil sebagian besar ide buku mereka. Secara kasatmata buku The Da Vinci Code memang memuat banyak data yang dikemukakan dalam buku Holy Blood Holy Grail, misalnya tentang Yesus yang mengawini Maria Magdalena dan memiliki keturunan, tentang Knights Templar dan Priory of Sion yang menjaga garis keturunan, dan mengenai organisasi Opus Dei yang ingin membungkam rahasia keturunan Yesus itu.
Meskipun pada tahun 1989 Priory of Sion itu sudah diakui sebagai kebohongan oleh Plantard, penulisnya, Brown masih memanfaatkan kebohongan itu dengan teknik yang menarik dalam novelnya sehingga pembaca novelnya umumnya terkecoh dan menganggapnya sebagai kebenaran sejarah. Brown juga mengutip ayat dalam injil Filipus mengenai “ciuman” yang diterima Maria Magdalena dari Yesus, demikian juga mengenai peran Maria Magdalena sebagai rasul kepada rasul. (Dan Brown, The Da Vinci Code, Corgi Books, 2004, hlm.331–333. Ayat-ayat yang dikutip sama dengan yang digunakan oleh Baigent dan Thiering).
Brown menafsirkan istilah “companion” dalam injil Filipus itu sebagai “spouse” yang berarti ‘istri’. Dengan demikian, ia ingin menekankan bahwa ayat itu kuat sekali mendukung ide bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus. Untuk mendukung ide itu, ia juga memanfaatkan lukisan “Last Supper” karya Leonardo da Vinci dan menyebut Maria Magdalenalah yang duduk di sebelah kanan Yesus, bukan Yohanes. (Bab 58, hlm.326–336). Popularitas buku novel The Da Vinci Code itu juga mencuatkan kembali popularitas buku Holy Blood Holy Grail. Bahkan, kedua buku itukemudian diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia setelah buku Brown laris.
The Lost Tomb of Jesus
Setelah James Cameron dan Simcha Jacobovici membuat film “The Lost Tomb of Jesus” yang dirilis Discovery Channel pada tanggal 4 Maret 2007, dengan konsultan James Tabor, penulis buku The Jesus Dynasty, sensasi perkawinan Yesus dan Maria Magdalena pun kembali mencuat. Simcha Jacobovici juga menulis buku bersama dengan Charles Pellegrino yang berjudul The Jesus Family Tomb (2007). Di sampul depan buku itu dituliskan kalimat provokatif bahwa isi buku itu bisa mengubah sejarah. ‘The Discovery, the Investigation, and the Evidence than Could Change History’.
Dalam film The Lost Tomb of Jesus, osuari yang bertuliskan “Yesus Anak Yusuf” dianggap berisikan tulang-tulang Yesus dalam Injil kanonik dan osuari yang bertuliskan “Mariamne e Mara” berisikan tulang-tulang Maria Magdalena. Apalagi, DNA keduanya tidak sama, yang berarti bukan saudara kandung, sehingga ditafsirkan bahwa keduanya adalah suami istri. Untuk memperkuat tesis tentang Yesus dan Maria Magdalena itu, mereka kemudian menyebutkan bahwa nama Mariamne itu ada di dalam Kisah Filipus (Acts of Phillip), yang mengungkapkan bahwa Mariamne adalah saudara Filipus yang juga mengajar (“e Mara” ditafsirkan sebagai “sang guru”).
Jika teori itu diperhatikan, akan tampak bahwa para ahli pun ternyata mudah menyangkali teori mereka semula demi mendukung konspirasi menjadikan Yesus sebagai “suami” Maria Magdalena (di makam Talpiot bernama Mariamne e Mara). Dalam buku Jesus Dynasty, James D. Tabor menyebut nama Mariamne. Namun, nama itu ditujukan untuk menyebut istri Herodes (2006, hlm.39,96–97,101). Bahkan, ia menolak cerita mengenai Maria Magdalena sebagai istri Yesus. Tabor menulis:
Jesus Dynasty tidak memiliki hubungan apa-apa dengan pendapat populer akhir-akhir ini bahwa Yesus menikah dan memiliki anak dengan Maria Magdalena. Walaupun merupakan fiksi yang menarik, ide itu merupakan spekulasi panjang, tetapi dengan bukti sedikit. ... Berbagai teori fantasi timbul berdasarkan ide itu. ... Yang lain adalah bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, dan setelah selamat dari salib, bersamanya dan bersama anak mereka, mereka tinggal di Perancis Selatan. ... Tidak satu pun teori itu memiliki dasar dalam sumber-sumber sejarah yang bisa dipercaya” ( hlm. 4, 229–230).
Meskipun teori perkawinan itu tidak berdasar secara sejarah, Spong menyebutkan bahwa perjamuan di Kana itu sebagai perjamuan kawin Yesus. Tabor sendiri menyebutkan perjamuan kawin di Kana itu sebagai perjamuan kawin Yakobus, saudaranya. Namun, dalam film “The Lost Tomb of Christ”, Tabor ternyata justru  mendukung teori Maria Magdalena sebagai istri Yesus.
Karen L. King, yang bersama dengan John Shelby Spong dan Barbara Thiering adalah anggota (fellowJesus Seminar, dalam bukunya, The Gospel of Mary of Magdala (Pollebridge, 2003230 hlm) tidak sekali pun menyebutkan bahwa Maria Magdalena memiliki nama lain, Mariamne. Namun, setelah film “The Lost Tomb of Jesus” populer, ia kemudian mendukung konspirasi yang menyebutkan bahwa Mariamne adalah Maria Magdalena, yang osuarinya ditemukan di Talpiot.
Francois Bovon, yang menemukan kembali naskah Kisah Filipus (The Acts of Phillip) dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, menyebutkan bahwa Mariamne mengikuti aliran selibat. Oleh karena itu, mustahil ia adalah Maria Magdalena yang dianggap kawin dengan Yesus. Dalam ayat 50 Kisah Filipus, Filipus berkata kepada Areus, “Do no wrong, and leave thy wife.” Dengan demikian, adalah mustahil kalau pengikut yang sudah bersuami disuruh bercerai, sedangkan adiknya, Mariamne, dibiarkan menikah.
Rasul Kepada Rasul ?
Mengenai “Maria Magdalena sebagai rasul kepada rasul”, dalam bukunya, Baigent mengutip ayat dari injil Maria Magdalena yang menceritakan kisah Petrus yang berbicara kepadanya.
“Saudari, kami tahu bahwa Juruselamat mencintaimu lebih dari perempuan lainnya. Ceritakan kepada kami perkataan Juruselamat yang kamu ingat –yang kamu tahu dan tidak kami ketahui”. Dengan marah Petrus kemudian bertanya kepada murid-murid lainnya, “Benarkah Ia berbicara secara pribadi kepada perempuan dan tidak secara terbuka kepada kita? Apakah kita harus berbalik dan mendengarkan dia? Apakah Ia menyuruhnya untuk kita?” Seorang murid-Nya kemudian menjawab Petrus, “Pasti Juruselamat mengenalnya lebih daripada kita. Itulah sebabnya, Ia mencintainya lebih daripada kita.” (hlm.381–382. Lihat juga Robinson, hlm. 525 dalam The Gospel of Mary).
Kutipan itu juga disebut oleh Brown dalam bukunya untuk menunjukkan bahwa sebenarnya Maria Magdalena memiliki peran penting sebagai rasul utama yang memberitakan kebangkitan kepada para rasul lainnya. Bahkan, Brown juga mengutip bagian injil Maria Magdalena yang sama.
“Petrus pun berkata, ‘Benarkah Ia berbicara dengan perempuan di luar pengetahuan kita? Apakah kita harus berbalik dan mendengarkan dia? Apakah Ia menyuruhnya untuk kita?’ Lewi pun menjawab, ‘Petrus, engkau selalu panas hati. Sekarang saya melihatmu menganggap perempuan sebagai saingan. Bila Juruselamat membuatnya penting, siapa kamu yang bisa menolaknya? ‘Pasti Juruselamat mengenalnya lebih daripada kita. Itulah sebabnya, ia mencintainya lebih daripada kita.’” (hlm.333, juga dalam Baigent, hlm.381-382 dan Robinson, hlm.526–527 dibawah The Gospel of Mary).
Apakah ayat itu otomatis membuktikan bahwa Maria Magdalena adalah rasul kepada rasul (atau primat gereja) karena lebih dicintai Yesus daripada Petrus? Sebagai perbandingan, berikut adalah komentar sebaliknya, yang terdapat dalam injil gnostik lainnya, yaitu Injil Thomas.
“Simon Petrus berkata kepada mereka, ‘Biarkan Maria meninggalkan kita karena perempuan tidak layak hidup.’ Yesus berkata, ‘Saya sendiri akan membimbingnya untuk menjadikannya sebagai laki-laki, karena setiap perempuan yang mau menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Surga’”. (Logion 114. Lihat Robinson, hlm. 138).
Bila khasanah gnostik dipelajari, dapat dilihat bahwa pengajaran tentang “keselamatan karena usaha sendiri melalui gnosis yang mereka terima” itu sangat kuat melatarbelakangi khasanah gnostik. Hal itu membawa pada iman yang sangat individualistis, eksklusif, bahkan arogan. Misalnya, jika dalam injil Maria Magdalena, Maria Magdalenamenganggap dirinya lebih superior atau di atas Petrus, dalam injil Thomas, Petrus justru merendahkan Maria Magdalena sebagai perempuan yang tidak layak hidup. Hal yang sama juga dapat dilihat dalam injil Yudas. Jika Yudas menurut Injil kanonik adalah sebagai penghianat yang menyerahkan Yesus, Gurunya, dalam injil Yudas, Yudas justru menganggap dirinya lebih besar daripda para rasul lainnya. Bahkan, dalam injil Yudas, Yesus berkata kepada Yudas, “Tetapi engkau akan lebih besar daripada mereka semua: karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diri-Ku.”(Rodolphe Kasser et al.Eds), The Gospel of JudasInjil Yudas, terjemahan Indonesia oleh Penerbit Gramedia2006, hlm.36).
Baik istilah “ciuman” maupun “posisi superioritas” dalam khasanah gnostik harus dilihat dari konteks siapa yang menulisnya dan ajaran gnostik yang melatarbelakanginya. Jadi, khasanah gnostik itu tidak begitu saja ditafsirkan secara harfiah atau literal. Dengan demikian, kekeliruan tidak terjadi karena  menafsirkan yang metaforis sebagai literal atau yang literal sebagai metaforis.
Ciuman Gnostik
Mengenai adanya anggapan tentang hubungan asmara antara Yesus dan Maria Magdalena, selain sepotong ayat dari injil Filipus yang dikutip sebelumnya, biasanya disebutkan juga kisah romantis yang tergambar dalam kitab gnostik lainnya, yaitu Pistis Sophia. Namun, apakah kedua kitab gnostik itu memang menunjuk pada hubungan asmara Yesus dan Maria Magdalena ataukah ada maksud lainnya? J.J. Hurtak dan D.E. Hurtak dalam kata pendahuluan kitab Pistis Sophia yang mereka terjemahkan ke dalam bahasa Inggris mengatakan,
“Apakah ada pernikahan rahasia antara Yesus dan Maria Magdalena ataukah Maria Magdalena salah seorang teolog feminis masa Perjanjian Baru?  Apakah Yesus memiliki murid perempuan? Kitab Pistis Sophia mengungkapkan dalam dialognya mengenai hubungan yang benar antara Yesus dan Maria Magdalena. Kitab itu menggambarkan hubungan spiritual yang dalam antara keduanya, gambaran yang berbeda dengan apa yang dikesankan dalam novel laris Dan Brown, The Da Vinci Code.” (The Pistis Sophia: Text and CommentaryAcademy for Future Science, 1999,Introduction).
Dalam kitab gnostik Pistis Sophia, “ciuman” memang beberapa kali disebutkan. Misalnya, Marta (I/38) dan Maria Magdalena (II/94) disebutkan “mencium kaki Yesus” atau Yohanes (I/40) dan Yakobus (I/51) “mencium dada Yesus’. Dalam “ciuman” Yohanes, kata ciuman itu diberi penjelasan dalam kurung oleh Hurtak sebagai “secara harfiah artinya sujud (worshipped), jadi bukan ciuman antar bibir. Dalam Pistis Sophia juga disebutkan berkali-kali ungkapan “kebenaran dan damai saling berciuman”. Hal itu mengindikasikan bahwa “ciuman” dalam Pistis Sophia itu lebih menunjukkan hubungan spiritualitas yang erat daripada ciuman dengan bibir.
Pertanyaannya, bagaimanakah dengan “ciuman” yang disebutkan dalam injil Filipus yang dikutip berulang-ulang oleh Baigent, Thiering, dan Brown dalam buku-buku mereka, apakah ciuman di sana menunjukkan ciuman harfiah yang biasa dilakukan oleh suami kepada istrinya? Sebenarnya, ayat dalam injil Filipus itu tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa Yesus mencium mulut Maria, tetapi secara provokatif Baigent dan Brown mengisi bagian yang terhilang “[...]” dengan kata “[Yesus] menciumnya [sering] di [mulutnya]”. (Tanda dalam kurung dengan tiga titik menunjukkan bagian naskah yang hilang, tetapi oleh Dan Brown diisi seperti itu). Padahal, dalam injil Filipus itu tidak ada satu pun pertanda bahwa Maria adalah istri Yesus. Demikian juga dalam injil Maria Magdalena dan injil gnostik lainnya, tidak ada kesan sama sekali bahwa Maria Magdalena itu adalah istri Yesus.
Dari kacamata gnostik kata “ciuman” dalam injil Filipus itu bukan berarti ciuman fisik karena di kalangan gnostik hal-hal yang bersifat daging dan duniawi itu dianggap jahat. Jadi, ayat itu cenderung memiliki arti metaforis/perlambangan, yaitu adanya kedekatan hubungan spiritual di antara sesama pewaris gnosis dan melambangkan penyaluran atau pewartaan gnosis dari seorang murid gnostik ke murid gnostik lainnya. Sebagai perbandingan, arti “ciuman” gnostik itu dapat dilihat dari naskah-naskah gnostik lainnya. Misalnya, dalam injil Thomas, Yesus menyebut,
“Ia yang mau minum dari mulut-Ku akan menjadi seperti Aku” (Logion 108).
Secara harfiah, “minum dari mulut” dalam Logion itu menunjukkan pertemuan bibir peminum dan bibir Yesus. Namun, di sana Yesus tentu tidak bermaksud bahwa semua yang berciuman bibir dengan-Nya itu akan menjadi seperti Dia. Dalam bagian lain injil Filipus juga disebut tentang ciuman, yang jelas menunjukkan arti metaforisnya.
“Itu dijanjikan pada tempat surgawi bahwa orang (menerima) makanan (...) dari mulut. ... Akan dikenyangkan dari mulut dan akan menjadi sempurna. Karena dari ciuman, yang sempurna mengandung dan melahirkan. Karena alasan itu, kita saling mencium” (58–59).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ciuman dalam khazanah gnostik itu secara metaforis menggambarkan bahwa seseorang dikenyangkan dengan makanan rohani. Hal itu juga menekankan bahwa hubungan saling memberi makanan spiritual itu dilakukan oleh sesama anggota komunitas gnostik dengan istilah saling mencium, bahkan mengandung dan melahirkan pesan gnosis. Dalam Wahyu Kedua Yakobus (Second Apocalypse of James), juga dituliskan,
“Dan ia mencium mulutku. Ia memelukku dan berkata, ‘Kekasihku!’” (56).
Di sana jelas bahwa Yesus tidak dimaksudkan berciuman bibir dengan Yakobus, saudaranya. Kalau ditafsirkan secara harfiah seperti itu, jangan-jangan ditafsirkan bahwa keduanya menjalin hubungan homo dan inses! Jadi, tepatkah penafsiran harfiah (literal) atas ayat itu? Dalam injil Maria Magdalena juga tidak disebutkan bahwa Maria adalah istri Yesus. Mengenai “ciuman” disebutkan dalam salah satu ayat injil itu sebagai berikut.
“Lalu Maria berdiri dan menyalami mereka, ia dengan ramah menciumi mereka semua” (5:4).
Kalau ayat-ayat itu selengkapnya digunakan oleh Brown dan oleh penebar sensasi yang lainnya, bisa saja komunitas gnostik itu ditafsirkan seakan-akan melakukan perzinaan massal karena mereka saling berciuman bibir, termasuk dengan Yesus sendiri.
Dalam Alkitab, istilah “ciuman” juga ada. Namun, kata itu juga tidak dimaksudkan sebagai ciuman fisik, tetapi merupakan metafora/perlambang “relasi kasih”, seperti relasi kasih antara Tuhan dan umat-Nya, Israel dalam Perjanjian Lama, yang ditunjukkan dalam ayat berikut.
“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!” (Kid. 1:2).
“Ciuman” juga melambangkan salam persaudaraan, yaitu dengan mencontoh hubungan Yesus dan gereja sebagai pengantin-Nya, seperti yang disebutkan Paulus,
“Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus” (1 Kor. 16:20).
Pengertian ayat-ayat Alkitab itu bisa literal atau metaforis, tergantung konteksnya. Naskah gnostik, di samping bisa literal atau metaforis artinya, umumnya juga memiliki pengertian yang isoteris. Isoterisme adalah sifat alamiah ajaran mistik gnostik. Jadi, kata “companion” yang dipaksakan dengan arti “spouse” (pasangan hidup/istri), seperti yang ditafsirkan Brown dalam novelnya, hal itu harus dilihat dalam pengertian isoterisnya juga, yang memiliki berbagai macam arti.
Dalam naskah injil Filipus yang berbahasa Yunani, kata yang diterjemahkan menjadi “companion (pendamping) itu berasal kata Yunani “koinonos”. Kata itu dalam Perjanjian Baru memiliki berbagai arti, antara lain sebagaipartner/teman (Luk. 5:10), partner/teman sekerja (2 Kor. 8:23), communication of the faith/persekutuan iman (Flm. 1:6), companion/mengambil bagian (Ibr. 10:33), dan companion/saudara & sekutu (Why. 1:9). Adapun kata  “istri” atau “pasangan hidup” (spouse), dalam Alkitab Perjanjian Baru yang digunakan adalah kata Yunani “gune” (Mat. 1:20, 1 Kor. 7:3, 4, 1 Tim. 3:11), bukan “koinonos”.
Dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa baik Injil FilipusPistis SophiaInjil Orang Mesir, maupun Injil Maria Magdalena, sama sekali tidak ada yang menyebutkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus. Oleh karena itu, menggunakan ayat injil gnostik untuk menafsirkan bahwa Yesus mengawini Maria Magdalena adalah usaha yang dibuat-buat.
Dari berbagai literatur, baik Injil kanonik maupun injil gnostik, jelas terlihat bahwa tidak ada satu pun petunjuk yang menunjukkan bahwa Yesus mengawini Maria Magdalena, atau bahkan kemudian memiliki anak. Yang jelas, memang benar Maria Magdalena merupakan salah satu murid Yesus, tetapi ia tidak memiliki hubungan pribadi dengan Yesus dari Nazaret. Jika Maria Magdalena dekat dengan Yesus, hal itu dapat dimaklumi karena ia pernah dilepaskan dari tujuh roh jahat sehingga ia sangat berterima kasih kepada Yesus dan menjadi pengikut-Nya yang setia. Namun, ada fraksi murid dari generasi berikutnya yang terpengaruh gnostik, yang kemudian menjadikan Maria Magdalena sebagai simbol pemimpin perempuan yang dihormati oleh mereka.
Dalam Yohanes 20:16–18 disebutkan bahwa ketika Maria Magdalena melihat Yesus yang bangkit, ia ingin memegang Yesus. Namun, keinginannya itu ditolak oleh Yesus.
“Kata Yesus kepadanya: ‘Maria!’ Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: ‘Rabuni!’, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.’ Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: ‘Aku telah melihat Tuhan!’ dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.”  
Kalau Yesus adalah suami Maria Magdalena, tentu Ia tidak menolak kalau dipegang (bahkan dipeluk) oleh-Nya. Kalau Yesus suami Maria Magdalena, Maria Magdalena juga tentu akan memanggil-Nya sebagai “suamiku”, bukan “Tuhan”!
Murid yang Dikasihi Yesus
Seperti telah dibahas, asumsi yang menyebutkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus dan memiliki anak (Baigent dkk., Thiering, Brown, dll.) itu sudah lama beredar. Namun, dari berbagai cerita seputar anak Yesus itu tidak ada nama yang diberikan kepada anak itu, kecuali yang disinggung dalam buku Holy Blood Holy Grail, yaitu Barabbas. Itu pun sebenarnya bukan nama, melainkan sebutan karena diartikan sebagai Bar Abba ‘anak Bapa’. Jadi, dalam kaitan dengan peristiwa penyaliban, yang dibebaskan dari hukuman itu dianggap anak Yesus, dan Yesuslah yang kemudian dihukum dengan disalib. (Baigent, hlm. 350–352).
Dalam film “The Lost Tomb of Jesus”,  makam yang ditemukan di Talpiot itu dianggap sebagai makam keluarga Yesus dan dianggap menyimpan osuari anak Yesus yang bernama “Yudah anak Yesus”. Cerita yang dikembangkan dalam film itu adalah bahwa anak Yesus dan Maria Magdalena itu menjadi besar. Bahkan, ketika Yesus di kayu salib, Ia berbicara kepada anak-Nya itu agar mengajak ibunya, yaitu Maria Magdalena, untuk tinggal bersamanya.Spekulasi film “The Lost Tomb of Jesus” itu terlalu jauh sebab dalam Injil Yohanes (19:25–27) disebutkan bahwa Yesus di atas kayu salib berbicara kepada ibu-Nya, Maria isteri Yusuf, dan meminta “murid yang dikasihi-Nya” untuk mengangkat ibunya sebagai ibu angkat. “Murid yang dikasihi-Nya” itu tidak lain adalah Yohanes, yang menuliskan Injil itu (21:24–25).
Ada juga asumsi yang dikemukakan bahwa “murid yang dikasihi” itu menunjuk kepada orang yang sering disebutkan tanpa nama dalam Injil. Misalnya, ketika Yesus ditangkap, ada yang melarikan diri dalam keadaan telanjang (Mrk. 14:51–52). Bahkan, asumsi itu diperpanjang dengan kemungkinan bahwa ia adalah murid yang memotong telinga tentara (Mat. 26:51).
Dalam Injil Yohanes (13:23) disebut bahwa pada waktu perjamuan, ada “murid yang dikasihi”, yang bersandar disebelah kanan dada Yesus. Tradisi dan konteks ayat itu mengindikasikan bahwa itu adalah rasul Yohanes penulis Injil itu. Namun, film “The Da Vinci Code” menggambarkan bahwa orang yang bersandar di sebelah kanan Yesus itu adalah Maria Magdalena. Lain lagi,  para pendukung film “The Lost Tomb of Jesus”, menafsirkan bahwa orang yang bersandar itu adalah anak Yesus. Alasan mereka adalah bahwa yang bisa duduk sangat dekat/intim dekat Yesus hanyalah istri atau anak-Nya dan bukan orang lain. Jadinya Maria Magdalena atau Anak Yesus ? lalu dikemanakanYohanes salah satu dari kedua-belas rasul itu?
Penafsiran tentang “‘murid yang dikasihi” sebagai anak Yesus terlalu mengada-ada karena kedua murid yang tidak disebutkan namanya dalam peristiwa penangkapan Yesus itu tidak jelas. Keempat Injil kanonik pun tidak menjelaskan lebih jauh, baik murid yang lari telanjang maupun yang memotong telinga tentara. Yang jelas, keduanya sudah dewasa.Murid yang dikasihi”, yang duduk di sebelah Yesus ketika perjamuan malam, jelas adalah salah satu dari kedua belas murid-Nya, yaitu Yohanes. Hal itu diakui sendiri oleh Yohanes pada akhir Injil yang ditulisnya. Yang juga jelas di sana adalah bahwa  murid itu sudah dewasa.
Kalau benar bahwa “murid yang dikasihi” itu adalah anak Yesus, berapa umurnya? Bila diasumsikan Yesus mengawini Maria Magdalena dalam tiga tahun masa pelayanan-Nya, umur anak itu baru dua tahun. Andaikan Yesus mengawini Maria Magdalena sejak pemuda, anaknya tentu masih remaja. Jika dilihat dari percakapan ketika Yesus disalib, bagaimana mungkin anak remaja memiliki rumah dan ibunya diajak tinggal bersamanya? Seandainya anak itu sudah remaja, tentu ia dilahirkan sejak lama, yaitu ketika Yesus dan Maria Magdalena belum terlibat pertentangan dengan otoritas Romawi. Oleh karena itu, tidak masuk akal bahwa otoritas Yahudi dan Romawi tidak mengenalnya sejak lama atau dalam peristiwa penyaliban namanya dirahasiakan hanya karena takut ikut disalib?
Semua spekulasi itu justru lebih lemah daripada argumentasi dari Injil sendiri bahwa “murid yang dikasihi” Yesus itu tidak lain adalah Yohanes, penulis Injil itu:
“Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.” (Yoh. 21:4, baca selengkapnya ayat 20–25).
A m i n !
Selesai.
Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org)
Untuk argumentasi lebih mendalam dan lengkap bacalah buku ‘Menggugat Yesus’ (Kalam Hidup, 2008).

2 comments:

  1. saya jauh lebih percaya pada da vinci code daripada ajaran sesat yang diciptakan kaisar roma yang bertujuan untuk perluasan kekuasaan. saya mengakui maria magdalena sebagai istri jesus.

    ReplyDelete
  2. namanya juga kristen tukang bohong dan tukang tipu, sejarah bisa disulap dan dibolak-balik agar sesuai dengan versi kekristenan yang menuhankan yesus padahal jelas-jelas yesus hanya manusia biasa yang juga punya keinginan sex yang disalurkan lewat pernikahan dengan maria magdalena dan akhirnya punya anak!

    ReplyDelete