Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

May 12, 2008

Denominasi Kristen

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.



Dalam pengertian Kristen, Denominasi adalah suatu kelompok keagamaan yang dapat diidentifikasikan di bawah satu nama, struktur, dan/atau doktrin

Daftar isi

Denominasi

Di masa modern, agama Kristen diungkapkan dalam berbagai nama. Kelompok-kelompok dengan nama yang berbeda-beda ini: Lutheran, Anglikan, Presbyterian, Katolik, dll. biasanya disebut sebagai denominasi.
Denominasionalisme adalah sebuah ideologi, yang menganggap sejumlah atau semua kelompok Kristen sebagai versi-versi dari suatu kelompok yang sama, tak peduli dengan label-label yang membedakan mereka. Namun tidak semua denominasi mengajarkan hal ini, dan ada sejumlah kelompok yang menganggap semua kelompok yang berbeda dengannya sebagai murtad atau sesat: artinya, bukan versi yang sah dari agama Kristen.
Ada sejumlah denominasi atau kelompok semi-Kristen di masa lalu yang tidak ada lagi sekarang. Misalnya kaum Gnostik (yang percaya akan dualisme esoterik), kaum Ebionit (yang menyembah saudara-saudara kandung Kristus), dan kaum Arian (yang percaya bahwa Yesus adalah suatu makhluk ciptaan dan bukan sama-sama abadi dengan Allah Bapa, dan yang untuk jangka waktu yang panjang mengalahkan jumlah kaum non-Arian di dalam lingkungan gereja yang institusional). Memang dapat diperdebatkan apakah kelompok-kelompok ini adalah ajaran sesat (doktrin baru yang berlawanan dengan doktrin-doktrin yang asli dan benar), atau apakah keyakinan-keyakinan tersebut hanya sekadar tidak dirumuskan oleh komunitas Kristen yang lebih besar hingga saat itu. Namun perpecahan terbesar dalam agama Kristen di masa kini adalah antara Gereja-gereja Ortodoks Timur, Katolik Roma, dan berbagai denominasi yang terbentuk pada masa dan sesudah Reformasi Protestan. Di kalangan Gereja Protestan juga terdapat berbagai kesatuan dan perbedaan dalam tingkat yang berbeda-beda.
Perbandingan antara kelompok-kelompok denominasional harus dihampiri dengan hati-hati. Misalnya, dalam sejumlah kelompok, jemaat adalah bagian dari satu organisasi gereja yang monolitik, sementara dalam kelompok-kelompok lainnya, masing-masing jemaat adalah sebuah organisasi yang mandiri dan otonom. Perbandingan dengan angka juga dapat menjadi masalah. Sejumlah kelompok menghitung keanggotaannya berdasarkan jumlah orang percaya yang dewasa dan anak-anak orang percaya yang dibaptiskan, sementara yang lainnya hanya menghitung orang percaya dewasa yang sudah dibaptiskan. Selain itu, barangkali ada motif-motif politik dari para penganjur atau lawan dari suatu kelompok tertentu untuk menggelembungkan atau menggemboskan jumlah keanggotaan melalui propaganda atau pengelabuan.

Skisma historis dan metode-metode skema klasifikasi

Sejak abad pertama agama Kristen tidak pernah bersifat monolitik, dan di masa kini terdapat banyak sekali kelompok yang memiliki sejarah dan tradisi yang sama di dalam dan di luar agama Kristen arus utama. Karena agama Kristen adalah agama terbesar di dunia (dengan jumlah sekitar sepertiga dari seluruh penduduk dunia), kita perlu memahami berbagai tradisi keagamaan dalam pengertian kesamaan dan perbedaan antara tradisi, teologi, pemerintahan gereja, doktrin, bahasa, dan seterusnya.
Pembagian terbesar dalam banyak skema klasifikasi adalah antara Gereja-gereja Timur dan Barat. Setelah kedua kelompok besar ini muncullah cabang-cabang yang beraneka ragam dari agama Kristen. Kebanyakan skema klasifikasi mendaftarkan enam (sesuai urutan besarnya: Katolik, Protestan, Ortodoks Timur, Anglikan, Ortodoks Oriental, dan Asiria). Yang lainnya mungkin mencantumkan Restorasionisme sebagai yang ketujuh, tetapi secara klasik kelompok ini dicantumkan di antara gerakan-gerakan Protestan. Setelah cabang-cabang ini muncullah kelompok-kelompok denominasional. Dalam sejumlah tradisi, kelompok-kelompok ini didefinisikan secara tegas (seperti misalnya gereja-gereja otosefalus dalam kedua cabang Gereja Ortodoks), dalam tradisi-tradisi yang lainnya, mereka mungkin merupakan kelompok-kelompok ideologis yang kendur yang dapat bertumpang tindih. Hal ini khususnya terjadi dalam hal Protestanisme, yang mencakup Adventis, Anabaptis, Anglikan, Baptis, Kongregasionalis, Lutheran, Methodis, Pentakostal, Presbiterian, Gereja-gereja Reformasi, dan barangkali juga lain-lainnya, tergantung pada siapa yang menyusun skemanya. Dari situ muncullah denominasi, yang di Barat, memiliki kemandirian mutlak untuk menetapkan doktrin (misalnya, gereja-gereja nasional di lingkungan Persekutuan Anglikan atau di lingkungan Lutheranisme). Di sini, skemanya menjadi semakin sulit untuk diberlakukan kepada gereja-gereja Timur dan Katolik, karena struktur-struktur hierarkhis mereka yang dari atas ke bawah. Satuan-satuan yang lebih terinci setelah denominasi adalah dewan-dewan regional dan jemaat dan organisasi-organisasi gereja individual.
Sebuah skema taksonomi denominasional Kristen.
Sebuah skema taksonomi denominasional Kristen.
Perbedaan-perbedaan mula-mula antara tradisi-tradisi Timur dan Barat berakar pada perbedaan sosial-budaya dan bahasa di dalam dan di antara Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Karena bahasa yang digunakan di Barat (artinya, Eropa) lingua francanya adalah Latin dan di Timur ( Timur Tengah, Asia, dan Afrika utara) umumnya bahasa Yunani Koine untuk meyebarkan tulisan-tulisan, perkembangan-perkembangan teologis sulit diterjemahkan dari cabang yang satu kepada yang lainnya. Dalam perjalanan Konsili Ekumenis (pertemuan-pertemuan besar dari para pemimpin Kristen), sebagian kelompok gereja memisahkan diri dari keluarga agama Kristen yang lebih besar. Banyak kelompok penyesat yang mati karena kekurangan pengikut dan/atau tekanan oleh gereja yang lebih luas (seperti misalnya Apolinarian, Montanis, dan Ebionit).
Perpecahan pertama yang penting dan bertahan hingga sekarang dalam agama Kristen yang historis muncul dari Gereja Asiria di Timur, yang memisahkan diri setelah terjadinya pertikaian Kristologis menyangkut Nestorianisme pada 431 (pada 1994 Gereja Asiria menerbitkan sebuah pernyataan kristologis bersama dengan Gereja Katolik). Kini, Gereja Asiria dan Katolik memandang skisma ini umumnya hanya bersifat linguistik, yang disebabkan oleh masalah-masalah dalam menerjemahkan istilah-istilah yang sangat genting secara persis dari bahasa Latin ke dalam bahasa Aram dan sebaliknya (lihat Konsili Efesus). Setelah Konsili Khalsedon pada 451, perpecahan besar berikutnya terjadi ketika Gereja-gereja Suriah dan Alexandria (Mesir atau Koptik) memisahkan diri, dan Gereja-gereja yang keluar tersebut kini disebut sebagai Gereja Ortodoks Oriental. (Sebuah pernyataan kristologis serupa disusun antara Paus Yohanes Paulus II dan Patriarkh Suriah Ignatius Zakka I Iwas, serta antara wakil-wakil Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental).
Meskipun gereja secara keseluruhan tidak mengalami perpecahan besar selama berabad-abad sesudah itu, Gereja Timur dan Barat semakin berjauhan hingga pada suatu saat para Patriarkh dari kedua keluarga saling mengekskomunikasi yang lainnya pada 1054 dalam apa yang dikenal sebagai Skisma Besar. Alasan-alasan politik dan teologis untuk skisma ini sangat kompleks, namun salah satu pertikaian besarnya didasarkan pada masalah Keutamaan kepausan: Gereja Barat menuntut bahwa Paus Roma menduduki sebuah posisi kewibawaan khusus atas Patriarkh-patriarkh lainnya (di Alexandria, Antiokia, Konstantinopel, dan Yerusalem), sementara Gereja Timur mengajarkan bahwa semua Patriarkh sederajat dan tidak mempunyai wewenang atas yurisdiksi yang lain-lainnya. Masing-masing gereja menganggap yang lainnya sebagai penyebab perpecahan, dan baru pada tahun 1960-an, di bawah Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras, langkah-langkah penting mulai diambil untuk memperbaiki hubungan di antara kedua Gereja ini.
Di kalangan agama Kristen Barat, ada segelintir gerakan yang terisolasi secara geografis, yang mendahului semangat Reformasi Protestan. Kaum Kathar adalah suatu gerakan yang sangat kuat di Perancis barat daya pada abad pertengahan, tetapi gerakan ini tidak bertahan hingga masa modern. Di Italia utara dan Perancis tenggara, Peter Waldo mendirikan gerakan Waldensian pada abad ke-12. Gerakan ini umumnya telah diserap oleh kelompok Protestan di masa modern. Di Bohemia, sebuah wilayah Ortodoks, Negara Kepausan (yang saat itu merupakan kerajaan yang jauh lebih kuat daripada Takhta Suci sekarang) mengambil alih seluruh wilayah dan menjadikannya Katolik. Sebuah gerakan pada awal abad ke-15 oleh Jan Hus yang disbut kaum Hussit menolak dogma Katolik dan masih ada hingga sekarang (juga dikenal sebagai kelompok Moravian).
Sebuah skisma besar secara tidak sengaja dimulai melalui penempatan 95 dalil Martin Luther di Sachsen pada 31 Oktober 1517. Mulanya ke-95 dalil tersebut ditulis sebagai serangkaian keluhannya untuk mendorong Gereja Katolik agar memperbarui dirinya, dan bukan untuk memulai sebuah sekte baru, tulisan-tulisan Luther, ditambah dengan karya teolog Swiss Ulrich Zwingli dan teolog dan politikus Perancis Yohanes Calvin memulai perpecahan dalam kekristenan di Eropa yang kini menciptakan cabang agama Kristen kedua terbesar setelah Gereja Katolik sendiri, Protestanisme. Di Inggris, Henry VIII dari Inggris menyatakan dirinya sebagai kepala tertinggi Gereja Inggris melalui Akta Supremasi pada 1531, mendirikan Reformasi Inggris, meskipun dengan tujuan-tujuan yang jauh lebih terbatas daripada Reformasi Calvin atau Ulrich Zwingli.
Berbeda dengan cabang-cabang lainnya (Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental, Gereja Asiria, dan Anglikan), Protestanisme adalah sebuah gerakan umum yang tidak mempunyai struktur pemerintahanan internal. Oleh karena itu kelompok-kelompok yang sangat berbeda-beda seperti misalnya Adventis, Anabaptis, Anglikan, Baptis, Kongregasionalis, Lutheran, Methodis, Presbyterian, Reformasi, Pentakostal, dan bahkan mungkin pula Restorationis (tergantung pada skema klasifikasi yang digunakan) semuanya adalah bagian dari keluarga yang sama, dan dengan variasi doktriner yang lebih jauh di dalam masing-masing kelompoknya. Dibandingkan dengan masa satu setengah milenium pertama di seluruh Dunia Kristen, Protestanisme menghasilkan gereja-gereja dan denominasi baru dalam jumlah yang paling banyak.

Kelompok Barat

Gereja Katolik dan Protestan adalah dua bagian utama dari agama Kristen di dunia Barat, bila Anglikanisme dimasukkan ke dalam kelompok yang belakangan. Misalnya, Gereja-gereja Baptis, Methodis, dan Lutheran umumnya dianggap tergolong Protestan, meskipun dalam pengertian yang lebih ketat, dari ketiganya ini hanya denominasi Lutheran sajalah yang didirikan sebagai sebuah "protes" terhadap Gereja Katolik Roma. Anglikanisme pada umumnya digolongkan sebagai Protestan, tetapi sejak "Traktarian" atau Gerakan Oxford dari abad ke-19, yang dipimpin oleh John Henry Newman, para penulis Anglikan menekankan pemahaman yang lebih Katolik dari Gereja tersebut dan menggambarkannya sebagai suatu tradisi yang tersendiri — sbuah via media ("jalan tengah"), Protestan maupun Katolik.
Kita pun dapat mengatakan hal yang sama tentang Lutheranisme mengingat sifat katolik dari dokumen-dokumen pembentukannya (Pengakuan Iman Augsburg dan dokumen-dokumen lainnya yang dikandung dalam Kitab Concord) dan pemisahan historisnya dari Gereja-gereja Calvinis dan Reformasi, yang dalam satu cara atau lainnya merupakan induk dari semua denominasi Protestan lainnya.
Sebuah ajaran sentral Katolik adalah ketaatannya yang harafiah terhadap suksesi apostolik. "Rasul" (atau apostel) adalah "seorang yang diutus ke luar." Yesus mengutus keduabelas rasul pertama (lihat Tokoh-tokoh Alkitab untuk daftar keduabelas murid Yesus), dan mereka, pada gilirannya meletakkan tangannya pada para pemimpin gereja berikutnya untuk menahbiskan (mengutus) mereka ke dalam pelayanan. Dalam cara ini, Gereja Katolik menelusuri para imam mereka semua kembali kepada Keduabelas rasul yang pertama itu. Gereja Katolik mempunyai ciri khas dalam keyakinan mereka Paus mempunyai otoritas yang dapat ditelusuri balik langsung kepada rasul Petrus. Ada beberapa kelompok perpecahan dari Gereja Katolik, seperti misalnya Gereja Katolik Lama yang menolak definisi infalibilitas paus pada Konsili Vatikan Pertama, dan Anglo-Katolik, Anglikan yang percaya bahwa Anglikanisme adalah kelanjutan dari iman Katolik yang asli dan yang memadukan banyak keyakinan dan praktik Katolik. Ajaran Katolik(bdk. Gereja Katolik Roma) pada umumnya disebut ajaran Katolik Roma oleh kaum Protestan yang juga menganggap dirinya sebagai bagian dari Gereja Katolik. Mereka yang tergolong ke dalam Gereja Katolik Roma sering tidak menganggap Protestan sebagai bagian dari iman Katolik. Mereka juga menganggap nama Katolik "Roma" sebagai cerminan yang tidak tepat terhadap sosok iman Katolik mereka, karena ada sejumlah ritus keagamaan lainnya di luar Ritus Latin (yang merupakan kelompok mayoritas). Kelompok-kelompok yang lebih kecil ini termasuk dalam Ritus Timur, dan pada umumnya terdiri atas kelompok-kelompok Kristen Timur yang keluar dari tradisi mereka untuk menaklukkan diri ke bawah otoritas paus. Iman Katolik Roma adalah iman yang hierarkhis dari atas ke bawah di mana otoritas tertinggi dalam hal-hal iman dan praktik kehidupan merupakan ranah eksklusif Paus.
Karena Protestanisme tidak mewakili sebuah kelompok pengikut, yang bersatu, melainkan sebuah tradisi iman yang telah terpecah beberapa kali (meskipun dibandingkan dengan rentangan keyakinannya tidak lebih besar daripada rentangan yang ada di lingkungan Gereja Katolik Roma), Gereja ini lebih sering dipahami di dalam kelompok denominasional yang besar. Masing-masing gerakan Protestan telah berkembang secara beas, dan banyak yang terpecah karena masalah-masalah teologis. Misalnya, sejumlah gerakan yang muncul dari kebangunan rohani seperti Methodisme dan Pentakostalisme. Masalah-masalah doktrin dan hati nurani juga telah memecah-belah kaum Protestan. Tradisi Anabaptis, yang terdiri atas kelompok Amish dan Mennonit, menolak doktrin Katolik dan Lutheran tentang baptisan anak. Kelompok ini pun terkenal karena keyakinannya akan pasifisme. Upaya untuk saling menerima di antaraberbagai denominasi dan gerakan berbeda-beda, namun langkah ini berkembang terutama karena adanya gerakan ekumenis pada abad ke-20 dan lembaga-lembaga Kristen yang sangat luas seperti misalnya Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Teologi Protestan untuk masing-masing denominasi biasanya dijaga oleh majelis gereja setempat.

Kelompok Timur

Di dunia Timur, kelompok yang mempunyai pengikut terbesar adalah Gereja Ortodoks Timur, yang kadang-kadang secara keliru disebut "Ortodoks Yunani." Gereja Ortodoks Timur juga percaya bahwa dirinya adalah kelanjutan dari Gereja Kristen yang asli, yang didirikan oleh Yesus. Menurut pemahaman Gereja-gereja Timur tentang keutamaan kepausan, uskup Roma memiliki kehormatan pertama di antara para uskup, tetapi tidak mempunyai otoritas langsung atas keuskupan-keuskupan lain selain dari keuskupannya sendiri dan tidak mempunyai pengaruh terhadap keuskupan lain daripada keuskupan-keuskupan yang secara alamiah berada di bawah yurisdiksi Patriarkhalnya. Akibatnya, masing-masing gereja di Gereja Ortodoks Timur bersifat otosefalus, dan secara internal bertanggung jawab untuk masalah-masalah doktrin dan praktik. Di masa kini, Patriarkh Konstantinopel ( Istanbul, Turki di masa kini) dikenal sebagai Patriarkh Ekumenis, dan memegang gelar kehormatan di antara para uskup lainnya (lihat primus inter pares, atau yang pertama di antara semua yang sederajat). Selain keempat Gereja kuno ada kira-kira 10 lagi Gereja lainnya yang diorganisasi lebih kurang mengikuti batas-batas nasional (ada sejumlah pertikaian tentang apakah Gereja Ortodoks di Amerika bersifat atau semestinya bersifat otosefalus). Yang terbesar dari semua ini, dan Gereja Ortodoks secara keseluruhan, adalah Gereja Ortodoks Rusia. Banyak dari kelompok-kelompok ini diwakili sebagai lembaga-lembaga gerejawi yang independen di Amerika yang, pada umumnya, masih berada dalam persekutuan penuh satu sama lainnya. Selain itu, komunitas-komunitas Ortodoks yang lebih kecil mempunyai tanggung jawab internal yang besar, yang dikenal sebagai otonomi, tetapi berada di bawah otoritas Gereja regional lainnya. Skisma-skisma kecil terjadi di masa kini dengan kelompok "Kalender Lama" dan gereja-gereja nasional yang tidak bersekutu dengan Gereja-gereja Ortodoks lainnya (seperti misalnya Gereja Ortodoks Makedonia dan Gereja Ortodoks Montenegro).
Kaum Ortodoks Oriental menata Gerejanya dalam cara yang sama dengan enam kelompok otosefalus (pemerintahan dengan satu kepala atau pemimpin) dan dua badan otonom. Meskipun wilayah Ethiopia dan Eritrea sekarang ini mempunyai sejumlah besar pengikut sejak lahirnya agama Kristen, kedua wilayah ini baru mendapatkan status otosefalusnya masing-masing pada 1963 dan 1994. Karena kedua kelompok ini relatif tidak dikenal di Barat, literatur tentang mereka pun kadang-kadang mencakup Gereja Asiria di Timur sebagai bagian dari Persekutuan Ortodoks Oriental, tetapi Gereja Asiria telah mempertahankan kemandirian teologis, budaya dan gerejawi dari semua organisasi gerejawi Kristen lainnya sejak 431. Gereja ini diadministrasikan dalam model hierarkhis yang tidak sepenuhnya berbeda dengan Gereja Katolik. Pemimpin Gereja ini adalah Patriarkh Katolikos dari Babilonia, yang saat ini adalah Mar Dinkha IV. Karena penganiayaan, pusat Gereja ini terletak di Chicago, Illinois, dan bukan di Asiria (Irak utara dan sebagian dari Iran). Namun, sebagian pengikutnya tetap tinggal di Timur Tengah, dan sebuah jemaat kecil masih ada di Tiongkok sebagai hasil misi pada abad ke-7 dan ke-8 Dalam kelompok kecil ini pun terdapat persaingan, yaitu seorang Katolikos (Patriarkh) di California.

Agama Kristen di luar arus utama

Sementara definisi yang ketat tentang apa yang menjadi cirri dari agama Kristen arus utama sulit diberikan, ada sejumlah kelompok yang berada di luar dari apa yang secara popular dipahami sebagai kelompok Kristen, namun memiliki sejumlah hubungan historis dengan komunitas Kristen yang lebih luas.
Mengingat kepelbagaian ini, tidaklah mungkin kita mendefinisikan apakah agama Kristen itu tanpa menolak semua definisi, atau menerima suatu definisi tertentu dan menganggapnya berwibawa dan dengan demikian menyisihkan yang lain-lainnya. Dalam pengertian tujuan modern definisi yang ilmiah dan obyektif, kedua pilihan itu dianggap bermasalah.
Agama Kristen, bahkan pada tahap awalnya sebagai sebuah sekte Yahudi, menolak definisi etnis. Agama ini dilahirkan dan berkembang sebagai suatu agama internasional dengan ambisi-ambisi global, dan berkembang dengan cepat dari Yudea kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia. Doktrin, dan bukan etnisitas yang mendefinisikan dasar-dasar agama Kristen – bahkan ketika kelompok-kelompok etnis telah menjadi Kristen selama beberapa generasi. Banyaknya komunitas iman mungkin merupakan sebagian penjelasan bagi definisi agama Kristen menurut pokok-pokok yang spesifik dari doktrin yang mau tidak mau harus ada. Penyangkalan pokok-pokok doktrin itu yang memisahkan para penyesat, atau orang-orang murtad dan menempatkan mereka di luar "Gereja". Dalam dan itu mungkin ia akan diterima oleh "Gereja" lain yang memegang doktrin yang cocok dengan imannya.
Pokok-pokok doktrin yang berbeda mungkin sedikit jumlahnya dalam bentuk proposisi-proposisi kecil, atau sangat banyak dan sulit dijelaskan, tergantung pada kelompoknya. Sebagian kelompok didefinisikan relatif statis, dan yang lain-lainnya telah mengubah definisinya secara dramatis setelah beberapa lama. Sebagai contoh, sebagai Pencerahan, para guru Kristen yang menyangkal doktrin Tritunggal yang kudus (sebuah doktrin yang dipegang luas mengenai hakikat Allah Bapa, Yesus Anak, dan Roh Kudus yang dirumuskan dari nas-nas Perjanjian Baru pada 325), akan dikeluarkan dari gereja-gereja mereka, dan kadang-kadang dibuang atau kehilangan perlindungan hukumnya. Di kemudian hari, beberapa butir dari doktrin tradisional tentang Tritunggal dianggap sebagai doktrin keliru menurut kelompok-kelompok seperti misalnya Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Akhir Zaman, Iglesia ni Cristo, dan Saksi Yehuwa (yang keseluruhan pengikutnya mencapai puluhan juta). Misalnya, Gereja Mormon mengajarkan bahwa Allah Bapa, Anak-Nya, Yesus Kristus, dan Roh Kudus tiga pribadi yang terpisah.
Gerakan-gerakan lain yang bersatu untuk membentuk apa yang kini dikenal sebagai Unitarian Universalisme, yang jemaat-jemaat anggotanya mengakui dalam tingkat yang berbeda-beda dan cara yang berlainan asal-usul Kristen mereka. Kaum Unitarian dan Universalis secara historis tidak mempunyai kredo dan jemaat-jemaatnya mempunyai pemerintahan sendiri, sehingga ketika denominasi itu dikonsolidasikan pada 1961, beberapa jemaat dan pribadi Unitarian Universalis tetap mengidentifikasikan diri mereka secara luas sebagai Kristen, bahkan lebih sebagai "pengikut-pengikut Yesus."

Kelompok-kelompok Kristen dengan akar Yahudi

Sebuah kelompok yang mempertahankan identitas Yahudinya bersama-sama dengan penerimaan Yesus sebagai Mesias dan mengakui kewibawaan Perjanjian Baru adalah orang-orang Yahudi Mesianik, yang juga disebut sebagai orang-orang Kristen Ibrani. Sejak didirikannya Gereja, telah ada unsur-unsur keyahudian yang dipertahankan oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin mempertahankan warisan nasional mereka bersama-sama dengan berita Injil. Malah, konsili pertama diselenggarakan di Yerusalem justru untuk membahas masalah-masalah ini, dan pandangan yang menentukan ditulis oleh saudara Kristus Yakobus yang Adil, uskup pertama Yerusalem dan tokoh yang penting dalam gerakan Kristen. Kelompok yang paling terkenal dari orang-orang Yahudi Mesianik di Amerika sekarang adalah Yahudi untuk Yesus, dan karena sejarah yang sama sekali berbeda dari gerakan-gerakan dan kelompok-kelompok lain, mereka sama sekali tidak dapat dimasukkan ke dalam skema klasifikasi yang sederhana.

Tidak terkategori

Beberapa denominasi yang muncul bersamaan dengan munculnya tradisi Kristen Barat menganggap diri mereka Kristen, tetapi bukan Katolik ataupun sepenuhnya Protestan, seperti misalnya Perhimpunan Keagamaan para Sahabat, atau Quaker. Quakerisme dimulai sebagai sebuah gerakan mistis dan Injili Kristen pada abad ke-17 di Inggris. Mereka menolak para pendeta dan semua sakramen resmi Anglikan atau Katolik dalam ibadah mereka, termasuk banyak praktik yang masih bertahan dalam kelompok-kelompok yang jelas-jelas Protestan Puritan seperti misalnya baptisan air. Seperti kaum Mennonit, Quaker biasanya tidak mau terlibat di dalam perang.

Gerakan-gerakan Mesianik

Tradisi-tradisi iman lainnya mengklaim dirinya bukan sebagai turunan dari kelompok-kelompok manapun yang disebutkan di atas. Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, misalnya, seringkali dikelompokkan bersama gereja-gereja Protestan, tetapi mereka tidak menyebut dirinya sebagai Protestan. Gereja ini muncul pada masa Kebangunan Besar Kedua sejajar dengan pendirian berbagai agama pribumi Amerika lainnya, khususnya di distrik yang Terbakar di negara bagian New York sebelah barat, dan di wilayah-wilayah barat Amerika Serikat, termasuk gerakan Adventis dan Gerakan Restorasi (kadang-kadang disebut "Campbellis" atau " gereja-gereja Stone-Campbell", yang termasuk Gereja Kristen (Murid-murid Kristus) dan Gereja Kristus). Masing-masing dari kelompok ini, yang didirikan dalam selingan waktu lima puluh tahun dari yang lainnya, mula-mula mengklaim dirinya sebagai gerakan yang sama sekali baru, dan belakangan sebagai pemulihan (restorasi) dari Gereja Kristen primitif.

Pemikiran baru

Lihat artikel terkait: Agama Kristen esoterik
Sebuah keluarga gereja-gereja (semi-)Kristen dikelompokkan bersama-sama di bawah nama gereja-gereja "Pemikiran Baru". Meskipun istilahnya tidak akurat, gereja-gereja ini sama-sama memiliki kecenderungan metafisis atau mistis dan pemahaman tentang Alkitab. Salah satu dari kelompok metafisis Kristen yang tertua adalah kaum Swedenborgian, yang didirikan berdasarkan ajaran-ajaran Emanuel Swedenborg pada 1787. Pada akhir abad ke-19 didirikan pula Spiritisme oleh Allan Kardec. Akhirnya, unsur-unsur mistis dari Yoruba, sebuah tradisi animistis Afrika digabungkan dengan ajaran Katolik Roma melalui para budak Afro-Kuba, membentuk Lukumí (yang dikenal di Amerika melalui cabangnya, Santeria).

Mandean

Sebuah kelompok merupakan kelompok Gnostik terakhir yang ada. Kaum Mandean ditemukan tersembunyi di pantai Irak dan Iran modern oleh para misionaris Portugis pada abad ke-14. Para misionaris itu menyebut mereka sebagai "orang-orang Kristen pengikut Yohanes Pembaptis", tetapi sama sekali menolak Yesus Kristus dan menganggapnya sebagai seorang nabi palsu. Mereka mengikuti ajaran-ajaran esoterik yang mereka klaim berasal dari Yohanes Pembaptis sendiri. Sebuah kelompok Gnostik kecil lainnya yang menyebut dirinya sebagai cabang "Buddhis dari agama Kristen yang asli" adalah orang-orang Essene. Kelompok sinkretis ini sama sekali tidak terkait dengan sekte Yahudi kuno dengan nama yang sama.

Gerakan-gerakan yang terkait dengan kekristenan

Dua gerakan yang sama sekali tidak terkait pendiriannya memiliki suatu unsure bersama dari Mesias tambahan atau penjelmaan Kristus: Gereja Unifikasi dan Gerakan Rastafari. Kedua kelompok ini juga berada di luar taksonomi tradisional dari kelompok Kristen.
Ada pula sejumlah orang Kristen yang menolak agama yang terorganisasi sama sekali. Anarkis Kristen percaya bahwa ajaran-ajaran mula-mula Yesus telah dirusakkan oleh Yudaisme dan pemerintahan Romawi, dan bahwa otoritas duniawi seperti misalnya pemerintahan, atau bahkan gereja yang mapan, tidak dan tidak boleh memilki kuasa atas mereka. Dengan mengikuti "Aturan Emas", mereka menentang penggunaan kekerasan fisik dalam keadaan apapun, dan menganjurkan anti kekerasan. Pangeran Leo Tolstoy dari Rusia, yang menulis Kerajaan Allah ada di dalam Dirimu, [1] adalah seorang anarkis Kristen.
Komunitas Kristen (bahasa Jerman: Die Christengemeinschaft) adalah sebuah gerakan di seluruh dunia untuk pembaharuan keagamaan. Gerakan ini didirikan pada 1922 di Swiss oleh teolog dan pendeta Lutheran Rittlemeyer, yang diilhami oleh Rudolf Steiner, seorang mistikus Austria dan pendiri Antroposofi.

Agama independen terkait

Selain itu, agama Kristen dalam batas tertentu telah dianggap mengilhami agama-agama lain, seperti, Islam awal dan belakangan Bahá'í, yang pemeluknya tidak menganggap diri mereka Kristen tetapi toh menganggap Yesus sebagai seorang nabi dan Mesias (Yang Diurapi) yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, dan, dalam kasus Bahá'í, Anak Allah.

Lihat pula

Pranala luar

Sekilas Pandang tentang Gereja Katolik Ritus Timur

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur adalah Gereja-Gereja partikular otonom dalam persekutuan penuh dengan Sri Paus di Roma. Berbeda dari Gereja Latin atau Barat, Gereja-Gereja ini beribadah menurut ritus-ritus liturgis Kristiani Timur. Secara historis, Gereja-Gereja ini berlokasi di Eropa Timur, Asia Timur Tengah, Afrika Utara dan India, namun kini juga dapat dijumpai di berbagai belahan dunia. Banyak di antaranya memiliki struktur eklesiastikal, berdampingan dengan keuskupan-keuskupan Ritus Latin, di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Australia.
Istilah-istilah seperti "Umat Katolik Byzantium" dan "Umat Katolik Yunani" digunakan untuk menyebut mereka yang termasuk anggota Gereja-Gereja yang menggunakan Ritus liturgis Byzantium. Istilah-istilah "Umat Katolik Oriental" dan "Umat Katolik Timur" tidak terbatas digunakan untuk menyebut mereka yang termasuk anggota Gereja-Gereja pengguna Ritus Byzantium saja, melainkan juga mencakup umat Katolik yang mengikuti Tradisi Liturgis Alexandria, Antiokhia, Armenia, dan Kaldea. Sebahagian besar Gereja Katolik Timur memiliki padanan dalam Gereja-Gereja Timur lainnya yakni Gereja Assyria, Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental.
Meskipun umat Katolik Timur berada dalam persekutuan atau komuni dengan Sri Paus, mereka bukanlah umat Katolik Roma, karena mereka berasal dari tradisi liturgis Timur bukannya tradisi liturgis Barat (Roma, Gallia, Mozarabia), dan mereka tidak menyebut diri mereka sebagai umat Katolik Roma. Sekalipun demikian, mereka merupakan bagian dari Gereja Katolik yang sama, tidak kurang dari pada umat Katolik Latin adanya.[1]
Daftar isi
Status Yuridis
Istilah Gereja-Gereja Katolik Timur digunakan untuk menyebut 22 dari ke-23 Gereja partikular otonom yang berada dalam persekutuan dengan Paus Roma. Gereja-Gereja ini menganut tradisi-tradisi liturgis Kristiani Timur yang berbeda-beda yakni tradisi liturgis Alexandria, Antiokhia, Armenia, Byzantium, dan Kaldea [2]. Secara kanonik, tiap Gereja katolik Timur adalah sui iuris (dengan hukum sendiri) atau otonom dalam hubungannya dengan Gereja-Gereja Katolik lainnya, baik Timur maunpun Latin, semuanya menerima otoritas spiritual dan yuridis Sri Paus. Jadi seorang umat Katolik Maronit normalnya tunduk hanya pada seorang uskup Maronit, bukannya pada seorang uskup Katolik Ukraina atau Latin misalnya. Akan tetapi, jikalau dalam suatu negara jumlah anggota dari beberapa Gereja partikular sangat sedikit sehingga belum didirikan hirarki mereka sendiri di negara itu, maka pemeliharaan spiritual mereka dipercayakan kepada seorang uskup dari ritus lain. Hal ini juga berlaku bagi bagi umat Katolik Ritus Latin di Eritrea, mereka ditempatkan dibawah bimbingan para uskup dari Gereja Katolik Ethiopia. Secara teologis, semua Gereja partikular dapat dipandang sebagai "Gereja-Gereja Bersaudari" (sister churches)."[3] Menurut Konsili Vatikan II Gereja-Gereja Timur ini, beserta Gereja Latin yang lebih besar sama-sama memiliki "kehormatan yang setara, sehingga tak satu pun di antaranya yang lebih superior dari yang lain dalam hal ritus, serta semuanya memiliki hak-hak yang sama dan mengemban kewajiban-kewajiban yang sama, juga dalam hal memberitakan Injil ke seluruh dunia (lih. Markus 16:15) di bawah bimbingan Uskup Roma."[4]
Gereja-Gereja Katolik Timur yang menjalin persekutuan penuh dalam iman dan penerimaan otoritas tahta keuskupan Roma, tetap mempertahankan ritus-ritus, hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan liturgis, serta devosi-devosi tradisional tersendiri, dan memiliki penekanan-penekanan teologis sendiri. Terminologi yang digunakan boleh saja berbeda-beda: sebagai contoh, diosis dan eparki, vikaris jenderal dan protosinselus, Penguatan dan Krisma berturut-turut adalah istilah-istilah Gereja Barat dan Gereja Timur untuk realita-realita yang sama. Menurut tradisi kuno Gereja Katolik yang sampai sekarang masih dipelihara dalam Gereja-Gereja Timur, Sakramen ("Misteri") Pembaptisan dan Krisma umumnya dilayankan bersamaan, yang satu segera sesudah yang lainnya. Setelah dibaptis dan diberi sakramen krisma, bayi-bayi juga diberi sakramen Ekaristi.[5]
Terminologi
Istilah "ritus"
Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur mendefinisikan istilah Gereja otonom dan ritus sebagai berikut: "Suatu kelompok umat beriman Kristiani yang dihubungkan menurut hukum oleh suatu hirarki dan bersamaan dengan itu atau sekaligus mengakui otoritas tertinggi Gereja sebagai otonom dalam Kitab Hukum ini disebut Gereja otonom" (kanon 27);[6] dan "1. Sebuah ritus adalah patrimoni liturgis, teologis, spiritual dan disipliner, budaya dan ruang lingkup sejarah dari suatu masyarakat tertentu, yang dengan itu tata caranya sendiri untuk hidup sesuai dengan iman dimanifestasikan dalam tiap Gereja otonom [sui iuris]. 2. Ritus-ritus yang dimaksud dalam Kitab Hukum ini, kecuali dinyatakan sebaliknya, adalah ritus-ritus yang tumbuh dari tradisi-tradisi Aleksandria, Antiokhia, Armenia, Kaldea dan Konstantinopolis" (kanon 28)[7] Di masa lampau, Gereja-Gereja Katolik Timur kadang kala disebut dengan ungkapan "Ritus-Ritus Timur." Konsili Vatikan II menyebut mereka sebagai "Gereja-Gereja atau ritus-ritus partikular."[8] Kitab hukum kanonik Latin yang lebih tua, bilamana membahas mengenai Gereja-Gereja Timur, menggunakan istilah-istilah "Gereja ritual" atau "Gereja ritual sui iuris" (kanon 111 dan 112), dan juga membahas tentang "subyek dari sebuah ritus Timur"(kanon 1015 §2), "Para petugas dari ritus lain" (kanon 450 §1), "umat beriman dari suatu ritus tertentu" (kanon 476), dst. Meskipun demikian penggunaan istilah "ritus" untuk menyebut Gereja-Gereja Timur, dan Gereja Barat, kini sudah jarang dijumpai. Sebuah publikasi dari Dewan Waligereja Katolik Nasional Di Amerika Serikat (NCCB: National Council Of Catholic Bishops) menjelaskan sebagai berikut: "Kita telah terbiasa untuk berbicara tentang Ritus Latin (Roma atau Barat) atau Ritus-Ritus Timur dalam pengertian Gereja-Gereja yang berbada-beda ini. Meskipun demikian, legislasi mutakhir dari Gereja sebagaimana yang termuat dalam Kitab Hukum Kanonik dan Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur memperjelas bahwasanya kita mesti berbicara, bukan tentang ritus-ritus, melainkan tentang Gereja-Gereja. Kanon 112 dari Kitab Hukum Kanonik menggunakan frase 'Gereja-Gereja ritual otonom' untuk menyebut Gereja-Gereja yang berbeda-beda." [9] Publikasi lainnya menjelaskan: "Gereja-Gereja Timur masih saja secara keliru disebut sebagai Gereja-Gereja 'ritus-Timur', yang menunjukkan berbagai sejarah liturgis mereka. Mereka paling tepat disebut Gereja-Gereja Timur, atau Gereja-Gereja Katolik Timur."[10]
Perlu kehati-hatian dalam membeda-bedakan makna dari kata "ritus." Di luar maknanya sebagai patrimoni dari suatu Gereja partikular, kata ritus telah dan kadang-kadang, bahkan sekalipun jarang, masih digunakan oleh Gereja partikular itu sendiri. Dengan demikian, istilah ritus Latin dapat berarti baik Gereja Latin ataupun satu atau lebih dari ritus-ritus liturgis Latin, yang mencakup Ritus Roma yang mayoritas itu, namun juga Ritus Ambrosiana serta Ritus Mozarabia, dan lain-lain.
Istilah "Uniat"
Istilah Uniat digunakan untuk menyebut umat Katolik Timur terutama oleh kaum Ortodoks Timur, yang kadang-kadang bernada menghina.[11] Istilah ini secara historis juga digunakan, kendati jarang, oleh umat Katolik Latin dan Timur, khususnya sebelum Konsili Vatikan II. [12] Dokumen-dokumen resmi Katolik tidak lagi mempergunakan istilah tersebut, karena nada negatif yang terkandung dalam maknanya.[13] Menurut Profesor Ortodoks Timur John Erickson dari Seminari Teologi St. Vladimir, "Istilah 'uniate' sendiri, yang dulu pernah digunakan dengan bangga dalam persekutuan Roma, sejak lama disadari sebagai penghinaan. 'Umat Katolik Ritus Timur' juga tidak lagi lazim digunakan karena dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa umat Katolik yang dimaksud berbeda dari umat Latin hanya dari tata cara peribadatan yang tampak belaka. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa umat Katolik Timur merupakan Gereja-Gereja, dan memiliki panggilan untuk membangun jembatan menuju Gereja-Gereja Timur yang terpisah…"[14]
Katolik Timur dan Katolik Barat (Latin)
Banyak Gereja-Gereja Katolik Timur yang tumbuh tatkala sekelompok orang dalam suatu Gereja Kristen Kuno yang tidak bersesuaian dengan tahta keuskupan Roma memutuskan untuk masuk dalam persekutuan penuh dengan Roma. Akan tetapi, Gereja Maronit berbangga bahwa mereka tidak pernah terpisah dari Roma, dan tidak memiliki kembaran Gereja Ortodoks yang berada di luar persekutuan dengan Sri Paus. Oleh karenanya tidaklah tepat bila menyebutnya sebagai sebuah Gereja "Uniat". Gereja Katolik Italo-Albania juga tidak pernah keluar dari persekutuan dengan Roma, tetapi, tidak seperti Gereja Maronit, Gereja ini menggunakan sebuah ritus liturgis, yakni Ritus Byzantium, yang berasal dari Konstantinopel dan digunakan oleh semua Gereja yang membentuk Gereja Ortodoks Timur. Gereja Katolik Siro-Malabar, yang berbasis di Kerala, India, juga mengklaim tidak pernah secara sadar keluar dari persekutuan dengan Roma. Umat Kristiani Kerala lainnya, yang awalnya berasal dari tradisi Syria-Timur yang sama, justru berpindah ke tradisi Syria-Barat dan kini merupakan bagian dari Ortodoksi Oriental.
Hukum Kanonik yang dimiliki bersama oleh Gereja-Gereja Katolik Timur dikodifikasi pada tahun 1990 yakni Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur, sedangkan Gereja partikular Latin atau Barat menggunakan Kitab Hukum Kanonik, edisi kedua yang dikeluarkan pada tahun 1983. Dalam Kuria Roma, departemen yang bekerja sama dengan Gereja-Gereja Katolik Timur adalah Kongregasi untuk Gereja-Gereja Timur, yang menurut hukum, beranggotakan semua patriark dan uskup agung mayor Katolik Timur.
Seluruh umat Katolik tunduk kepada uskup dari eparki atau keuskupan (Gereja partikular lokal) tempat mereka tinggal. Mereka juga tunduk secara langsung kepada Sri Paus, seperti yang dinyatakan dalam kanon 43 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur dan kanon 331 dari Kitab Hukum Kanonik. Sebahagian besar, namun tidak semua, umat Katolik Timur tunduk secara langsung kepada seorang patriark, uskup agung utama, atau uskup agung metropolitan yang memegang otoritas atas semua uskup dan umat beriman lainnya dari Ritus atau Gereja partikular otonomnya (kanon 56 dan 151 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur).
Perbedaan antara Gereja-Gereja partikular otonom (sui iuris) (lihat Konsili Vatikan II: Dekrit mengenai Gereja-Gereja Timur Katolik Orientalium Ecclesiarum, 2),[2] dan "Gereja-Gereja lokal atau partikular" non-otonom (lihat Konsili Vatikan II, Dekrit mengenai Jabatan Pastoral Para Uskup dalam Gereja Christus Dominus, 11)[3] dijelaskan lebih lanjut dalam artikel Gereja Partikular.
Para patriark dan uskup agung mayor Katolik mengambil gelarnya dari tahta-tahta keuskupan Aleksandria (Koptik), Antiokhia (Syria, Melkit, Maronit), Babilonia (Kaldea), Kilikia (Armenia), Kiev-Halych (Ukraina), Ernakulam-Anggamali (Siro-Malabar), Trivandrum (Siro-Malankara), dan Făgăraş-Alba Iulia (Rumania).
(Dalam Gereja Latin, ada pula gelar-gelar Patriark Latin Yerusalem, Patriark Lisbon, Patriark Venesia, Patriark Hindia Timur dan Patriark Hindia Barat. Semuanya kecuali yang pertama — Patriark Latin Yerusalem — adalah gelar kehormatan belaka, dan gelar yang terakhir sudah tidak lagi digunakan. Gelar-gelar tersebut tidak relevan untuk dibahas dalam artikel ini.)
Latar belakang sejarah
Persekutuan antar Gereja Kristen telah hancur karena masalah-masalah iman, ketika masing-masing pihak menuduh pihak lain telah sesat atau meninggalkan iman sejati (ortodoksi). Persekutuan juga hancur akibat pertikaian di luar masalah-masalah iman, seperti ketika terjadi ketidaksepakatan mengenai masalah otoritas atau keabsahan dalam pemilihan uskup tertentu. Di kemudian hari, masing-masing pihak menuduh pihak lain melakukan skisma, tetapi tidak lagi saling tuding sesat.
Perpecahan-perpecahan utama dari persekutuan Gereja:
  1. Gereja-Gereja yang menerima ajaran Konsili Efesus tahun 431, yang mengutuk pandangan-pandangan Nestorius, menggolongkan pihak yang menolak ajaran Konsili itu sebagai bidaah. Pihak yang menerima ajaran Konsili sebahagian besar hidup dalam wilayah Kekaisaran Romawi dan menyebut dirinya ortodoks; mereka menganggap pihak yang lain, yang sebahagian besar hidup dalam wilayah Kekaisaran Persia, sebagai bidaah Nestorian. Kaum yang dianggap bidaah Nestorian ini sekali waktu melakukan ekspansi besar di Asia. Monumen-monumen tanda kehadiran mereka masih ada sampai sekarang di negeri Tiongkok. Saat ini jumlah mereka relatif kecil dan terbagi-bagi dalam tiga Gereja, yakni Gereja Kaldea (bersatu dengan Roma) yang anggotanya paling banyak, Gereja Timur Asiria, dan Gereja Kuno Timur (pecahan dari Gereja Timur Asiria).
  2. Gereja-Gereja yang menerima ajaran Konsili Khalsedon tahun 451 dengan cara serupa menggolongkan pihak yang menolak ajaran Konsili itu sebagai bidaah Monofisit. Gereja-Gereja yang menolak untuk menerima hasil Konsili justru beranggapan bahwa merekalah yang ortodoks. Enam Gereja yang tidak menerima hasil Konsili Khalsedon tersebut saat ini menolak disebut Monofisit, dan lebih suka disebut Miafisit. Mereka kerap disebut Gereja Ortodoks Oriental agar dapat dibedakan dari Gereja-Gereja Ortodoks Timur. Kata Oriental dan Timur sebenarnya sama saja artinya, akan tetapi digunakan sebagai label untuk realita-realita yang berbeda, dalam banyak bahasa, perbedaan dua label itu sulit untuk diterjemahkan. Gereja-Gereja ini juga disebut Gereja-Gereja pra-Khalsedonia atau yang kini jarang digunakan, non-Khalsedonia atau anti-Khalsedonia.
  3. Skisma Timur-Barat antara Roma dan Roma Baru timbul akibat masalah-masalah otoritas, dan didorong oleh persaingan dan perbedaan-perbedaan budaya (Bahasa Yunani sudah jarang dikenal di Barat, demikian pula dengan Bahasa Latin di Timur), bukannya akibat masalah-masalah doktrin, meskipun di kemudian hari timbul kontroversi mengenai pokok-pokok tertentu seperti penyisipan klausa Filioque dalam Kredo Nicea oleh pihak Barat, penggunaan roti beragi atau tidak beragi dalam Ekaristi, serta aturan-aturan mengenai pernikahan/perceraian. Masing-masing pihak menganggap pihak yang lain bukan lagi bagian dari Gereja yang ortodoks dan katolik. Namun seiring perjalanan waktu, tumbuh kebiasaan untuk menyebut pihak Timur sebagai Gereja Ortodoks dan pihak Barat sebagai Gereja Katolik, tanpa masing-masing pihak mencabut klaimnya sebagai Gereja ortodoks yang sejati atau Gereja katolik yang sejati. Gereja-Gereja yang berpihak ke Konstantinopel kini secara kolektif dikenal sebagai Gereja Ortodoks Timur.
Dalam tiap Gereja yang persekutuannya dengan Gereja Roma telah hancur akibat tiga perpecahan di atas, dalam beberapa kesempatan, timbul sekelompok orang yang merasa penting untuk memulihkan persekutuan itu. Tahta keuskupan Roma menerima mereka sebagaimana mereka adanya yakni tanpa mengharuskan mereka mengadopsi adat-kebiasaan Gereja Latin.
Dalam suatu pertemuan di Balamand, Libanon pada bulan Juni 1993, Komisi Internasional Gabungan untuk Dialog Teologis antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks menyatakan bahwa inisiatif-inisiatif yang "mendorong terjadinya persatuan komunitas-komunitas tertentu dengan Tahta Roma dan yang bagi mereka, sebagai konsekuensinya, mengakibatkan retaknya persekutuan dengan Gereja-Gereja Timur Induk mereka ... terjadi tanpa melibatkan kepentingan-kepentingan luar-gerejawi" (bagian 8 dari dokumen Balamand); dan apa yang telah disebut sebagai "uniatisme" "tidak lagi dapat diterima sebagai suatu metode untuk diikuti, tidak pula sebagai suatu model dari persatuan yang diupayakan oleh Gereja-Gereja kita" (bagian 12).
Dalam kesempatan yang sama, Komisi tersebut menyatakan:
  • Sehubungan dengan Gereja-Gereja Katolik Timur, jelas bahwa mereka, sebagai bagian dari persekutuan Katolik, berhak untuk eksis dan untuk bertindak dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan spiritual umat mereka (bagian 3).
  • Gereja-Gereja Katolik Oriental yang telah berniat memulihkan kembali persekutuan-penuh dengan Tahta Roma dan telah tetap setia padanya, memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang terkait dengan persekutuan tersebut (bagian 16).
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, identitas Gereja Maronit dan Gereja Siro-Malabar tidak terkait dengan perpecahan serupa dalam suatu Gereja Timur.
Gereja-Gereja Katolik Timur merupakan 2% dari keanggotaan Gereja Katolik, dan kurang dari 10% dari keseluruhan umat Kristiani Timur.
Daftar Gereja-gereja Katolik Timur
Annuario Pontificio dari Tahta Suci memuat daftar Gereja-gereja Katolik Timur berikut ini beserta negara-negara (atau wilayah-wilayah politik lainnya) tempat mereka memiliki yurisdiksi gerejawi tingkat keuskupan (tanggal persatuan dalam tanda kurung):
Sebagaimana jelas tampak dalam daftar di atas, suatu Gereja Partikular otonom tertentu dapat memiliki yurisdiksi tersendiri (Gereja-Gereja partikular lokal) di beberapa negara.
Gereja Katolik Ruthenia diorganisir secara eksepsional karena status keanggotaan salah satu metropolianya yakni Gereja Metropolitan Katolik Byzantium di Pittsburgh, yang juga secara tidak resmi disebut sebagai Gereja Katolik Byzantium di Amerika. Hukum kanonik memperlakukannya seolah-olah Gereja ini berstatus sebuah Gereja partikular metropolitan otonom ("sui iuris") karena situasi dan kondisi seputar pendiriannya pada tahun 1969 sebagai sebuah provinsi gerejawi.
Pada masa itu, kondisi di tanah air bangsa Rusyn, yang dikenal sebagai Karpatho-Rus, tidak memungkinkan adanya solusi lain karena Gereja Katolik Byzantium telah ditutup secara paksa oleh pemerintah Soviet. Ketika pemerintahan Komunis berakhir, Eparki Mukacheve (didirikan tahun 1771) muncul kembali.
Jumlah umatnya sekitar 320,000 orang, lebih besar dari pada jumlah umat metropolia Pittsburgh. Selain itu, sebuah eksarkat apostolik didirikan pada tahun 1996 bagi umat Katolik dari ritus byzantium di Republik Ceko digolongkan sebagai salah satu bagian dari Gereja Katolik Ruthenia.
Dalam situs web EWTN Eksarkat Apostolik untuk umat Katolik ritus-Byzantium di Republik Ceko tertera dalam sebuah daftar Gereja-Gereja Timur, yang semuanya merupakan Gereja partikular otonom. Tampaknya hal ini adalah suatu kekeliruan, karena pengakuan status otonom dari suatu Gereja partikular dalam Gereja Katolik hanya dapat dikeluarkan oleh Tahta Suci (lihat kanon 27 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur), yang justru menggolongkan Gereja ini sebagai salah satu dari Gereja-Gereja partikular lokal yang merupakan bagian dari Gereja Katolik Ruthenia otonom (sui iuris).
Biritualisme
Klerus Katolik wajib merayakan sakramen-sakramen menurut Ritus mereka masing-masing.[15] Beberapa klerus dapat diizinkan merayakan liturgi menurut Ritus lain. Jadi seorang imam Ritus Timur tertentu dapat diotorisasi untuk mendoakan Misa dalam kesempatan tertentu atau pun untuk seterusnya menurut Ritus lain, baik Ritus Timur maupun Ritus Barat, sesuai dengan Ritus umat beriman yang dilayaninya, sebaliknya seorang imam Ritus Latin dapat pula diotorisasi untuk menggunakan Ritus Timur tertentu. Bilamana izin biritual diberikan, biasanya dibatasi pada satu Ritus tertentu sebagai tambahan pada Ritus asli dari imam yang bersangkutan.
Satu pengecualian adalah jikalau seorang imam ditahbiskan dalam suatu Ritus yang bukan Ritus di mana dia dibaptis, dan belum dilakukan pertukaran-Ritus atau penyesuaian, maka dia bebas menggunakan Ritus aslinya sekaligus Ritus adopsinya, karena seseorang senantiasa diperbolehkan menggunakan Ritus di mana dia dibaptis tanpa pengecualian serius.
Sri Paus, sebagai kepala semua Gereja, dapat dan memang mendoakan Misa menurut Ritus manapun; meskipun demikian, karena dia sekaligus adalah juga Uskup Roma, dan Keuskupan Roma adalah sebuah keuskupan Ritus Latin, maka lebih umum bagi Paus untuk merayakan Misa menurut ritus Gereja Roma, yakni Ritus Roma, salah satu dari Ritus-Ritus liturgis Latin. Dalam keadaan tertentu dan dengan izin dari uskup setempat, para imam dari Ritus-Ritus yang berbeda boleh bebas merayakan Misa bersama-sama (konselebrasi), dengan sepenuhnya mengikuti Ritus dari selebran utama dan bebas menggunakan vestimentum menurut Ritusnya masing-masing.[16]
Lihat pula
Referensi
  1. ^ Dalam ensiklik paus Divini illius Magistri dan Humani generis istilah "Gereja Katolik Roma" digunakan dalam pengertian keseluruhan Gereja yang berada dalam persekutuan dengan tahta keuskupan Roma, termasuk umat Katolik Timur. Istilah ini berulang kali digunakan dalam pengertian tersebut dalam dokumen-dokumen resmi berkaitan dengan dialog antara Gereja Katolik secara keseluruhan (tidak saja Gereja Katolik Barat) dengan kelompok-kelompok di luar ruang lingkup Gereja Katolik. Contoh-contoh dari dokumen semacam itu dapat dijumpai dalam link-link pada situs web Vatikan di bagian Pontifical Council for Promoting Christian Unity. Kenyataannya, Tahta Suci tidak pernah menggunakan istilah "Gereja Katolik Roma" dalam pengertian Gereja Barat atau Latin saja. Dalam Konstitusi dogmatis de fide catholica Konsili Vatikan Pertama, frase Gereja yang Kudus, Katolik, Apostolik, dan Romawi (dalam bahasa Latin, Sancta Catholica Apostolica Romana Ecclesia) tidak saja berarti Gereja Barat atau Ritus Latin, namun mencakup pula yang lainnya. Umat Katolik Timur dari Gereja Maronit pernah berkata bahwa, "di tengah-tengah umat Muslim, kaum skismatik, dan kaum bidaah, mereka bangga menyebut diri mereka umat Katolik Roma."[1]
  2. ^ The New York Times Guide To Essential Knowledge: A Desk Reference for the Curious Mind - halaman 499 oleh Times The New
  3. ^ "Nota mengenai Ungkapan Gereja-Gereja Bersaudari", Bagian 11. Tersedia online di: http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_20000630_chiese-sorelle_en.html
  4. ^ Dekrit mengenai Gereja-Gereja Katolik Timur, Bagian 3
  5. ^ Katekismus Gereja Katolik Bagian 1233
  6. ^ Kanon 27 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur Dalam bahasa Latin aslinya kata yang digunakan sebagai padanan kata otonom adalah "sui iuris": Coetus christifidelium hierarchia ad normam iuris iunctus, quem ut sui iuris expresse vel tacite agnoscit suprema Ecclesiae auctoritas, vocatur in hoc Codice Ecclesia sui iuris
  7. ^ Kanon 28 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur
  8. ^ Dekrit Konsili Vatikan II mengenai Gereja-Gereja Timur Katolik Orientalium Ecclesiarum, bagian 2
  9. ^ Umat Katolik Timur di Amerika Serikat tersedia dari NCCB pada: http://www.usccbpublishing.org/productdetails.cfm?sku=5-287&disccode=sum0625
  10. ^ Catholic Update: What All Catholics Should Know About Eastern Catholic Churches
  11. ^ Lihat "Kata 'Uniat'" from www.oca.org
  12. ^ Istilah Uniat digunakan oleh Tahta Suci (misalnya, dalam Ex Quo dari Paus Benediktus XIV). Tersedia online di: http://www.catholic-forum.com/saints/pope0247m.htm. [[Catholic Encyclopedia]] (1909) dengan konsisten menggunakan istilah "Uniat" untuk menyebut umat Katolik Timur, dengan menyatakan: "Gereja Uniat oleh karena itu sungguh-sungguh sinonim dengan Gereja-Gereja Timur yang bersatu dengan Roma, dan kaum Uniat sinonim dengan umat Kristiani Timur yang bersatu dengan Roma. Tersedia online di: http://www.newadvent.org/cathen/06752a.htm
  13. ^ "Haruslah disebutkan bahwa di masa lalu Gereja-Gereja Katolik Timur kerap disebut sebagai Gereja-Gereja 'Uniat'. Karena kini dianggap sebagai penghinaan, istilah tersebut tidak lagi dipergunakan." "Gereja-Gereja Timur Katolik" dari situs web CNEWA: Agensi Kepausan untuk Dukungan Kemanusiaan dan Pastoral
  14. ^ ”Ortodoksi dan Monolog-Monolog Paralel” dalam First Things edisi Maret 2002
  15. ^ kanon 40 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur
  16. ^ kanon 701 dari Kitab Hukum Kanonik Gereja-Gereja Timur
Pranala luar