Showing posts with label maria. Show all posts
Showing posts with label maria. Show all posts

January 5, 2012

Maria Mater Ecclesiae



Dalam Rangka Diskusi Reflektif “Maria Mater Ecclesiae”

Hari Sabtu, 19-11-2011 di Aula STT, Jl. Proklamasi, Jakarta.

Oleh:  Arkhimandrit Rm Daniel.B.D.Byantoro Ph.D.

Hyper Aghia Theotoke, Presbebai Hyper Hymas,

Atas Nama Sang Bapa, dan Sang Putra, serta Sang Roh Kudus, Allah yang Esa. Amin.
 Salam dalam Nama  Sang Kristus Yesus. Juru Selamat.

  Bapak-bapak dan Ibu-Ibu serta saudara-saudari sekalian yang kekasih,
      Pertama-tama saya meminta maaf yang sebesar-besarnya bahwa saya tak dapat menghadiri acara yang penuh makna dan yang amat penting yang sedang diseleggarakan ini. Karena saya masih berada di Amerika Serikat, dan baru kembali nanti pada bulan Februari tahun 2012. Saya tidak tahu kalau acara pembahasan mengenai peranan dan fungsi Sang Theotokos dalam Gereja,  yang melibatkan unsur-unsur Kristen Roma Katolik, Kristen Protestan dan Kristen Orthodox Timur semacam ini pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Memang saya pernah diundang untuk membahas peranan Bunda Maria pada saat dirayakannya Bulan Maria di Gereja Katedral Jakarta beberapa tahun yang lalu, namun saat itu belum melibatkan kalangan saudara-saudari dari pihak Protestan.  Dan jika ini baru pertama kalinya di adakan. justru ini menambah makna pentingnya  acara semacam ini untuk didukung oleh segala kalangan tradisi  Gereja dan aliran-aliran Gereja yang ada di Indonesia.

     Ini disebabkan ditengah-tengah adanya polarisasi yang telah terjadi selama lima abad sejak munculnya Gerakan Reformasi Protestan pada tahun 1517, mengenai sosok Bunda Maria, antara Umat Kristen Roma Katolik dan Umat Kristen Protestan itu, adanya diskusi reflektif yang bertemakan peranan Sang Theotokos dalam Gereja yang melibatkan keduanya itu adalah merupakan suatu langkah yang berani dan yang maju dan patut di dukung. Saya sampaikan salut yang sebesar-besarnya untuk pencetus ide acara ini.

     Penyelenggaraan acara semacam ini saya lihat sebagai suatu sarana penyempitan jurang pemisah antara kelompok-kelompok Kristriani yang ada di Indonesia. Karena sosok  Sang Theotokos ini telah merupakan hal yang menimbulkan benturan theologis antara tradisi Protestan dan tradisi Roma Katolik, dan secara secara tidak langsung akan dapat melibatkan tradisi Orthodox Timur juga. Sebab posisi yang tinggi yang ditempatkan oleh Gereja Orthodox Timur terhadap Ibu Suci ini, meskipun dalam pemahaman yang agak sedikit berbeda dari posisi  resmi theologia Roma Katolik, akan juga menimbulkan pertanyaan dari saudara-saudari pihak Protestan.

    MARIA MATER ECCLESIA

Saudara-saudari yang terkasih, Jika Gereja Roma Katolik dalam mengekspresikan cinta-kasih nya terhadap Bunda Sang Kristus ini lebih banyak menggunakan istilah “Bunda Maria”, atau “the Blessed Virgin Mary”,  Gereja Orthodox lebih merasa kerasan dengan menggunakan istilah “Panaghia” (Pan = Seluruh, Semua, Aghia = Suci/Kudus, -à“ Yang Suci Sempurna”) atau Sang “Theotokos” (“Tokos” = “Sang Pemberi Kelahiran” – secara jasmani kepada, “Theos” = “Allah” –yaitu Firman Allah yang adalah Allah –Yohanes 1:1—saat Dia menjelma menjadi Manusia –Yohanes 1:14) . Inilah gelar yang diberikan kepada beliau dalam Konsili  Gereja Orthodox Purba di Efesus pada tahun 431 di dalam menentang Nestorianisme. Secara Alkitabiah gelar ini semakna dengan apa yang dikatakan oleh Elizabet kepada Maria, ketika dia menyebutnya sebagai “Ibu Tuhan” ( Lukas 1:43).

    Nestorius sebagai Patriarkh (Pimpinan Tertinggi dalam Gereja Orthodox) dari Konstantinopel mengajarkan bahwa Maria tak boleh disebut “Theotokos”, namun hanya “anthropotokos” (yang memberi kelahiran kepada manusia saja) atau paling tinggi “Khristotokos” (yang memberi kelahiran kepada Kristus). Larangan yang dilakukan Nestorius ini menunjukkan bahwa sebutan “Theotokos” ini telah digunakan Gereja Orthodox Purba jauh lebih lama dari masa Nestorius, bahkan sebelum masa Kaisar Konstantinus Agung yang menjadi Kristen sekitar tahun 312 Masehi, sehingga Nestoruis  mengadakan larangan itu. Dan juga bahwa istilah ini bukan dikarang pada tahun 431 dalam Konsili Ekumenis Ke III dari Gereja Orthodox Purba di Efesus yang menentang ajaran Nestorius itu.

     Dengan demikian pembahasan tentang Perawan Maria itu dalam Gereja Orthodox terkait erat dengan pembahasan mengenai  hubungan antara Maria dan Anak yang dilahirkannya: Yesus Kristus, yaitu dengan  makna karya  “Inkarnasi” yaitu karya Firman “Menjadi Daging” (Yohanes 1:14), bukannya sesuatu yang  berdiri sendiri terfokus pada diri Maria itu sendiri. Jika tidak ada Inkarnasi Firman Allah, maka Maria tak akan memiliki posisi theologis  apapun. Oleh karena itu Gereja Orthodox menolak untuk  mengikuti perkembangan theologia Roma Katolik di jaman kemudian  mengenai “Maria Terkandung Tanpa Dosa Asal “ (“Immaculata Conceptio”) dimana diyakni  bahwa Maria telah dibebaskan dari dosa asal ketika masih dalam kandungan ibunya: Santa Anna, dan tetap mempertahankan ajaran Purba dari Gereja Rasuliah, yang tadinya juga merupakan ajaran Gereja Barat di Roma, sebelum terjadinya perpecahan antara Gereja Barat (Roma Katolik) dan Gereja Timur (Orthodox) pada tahun 1054.

      Dalam kacamata Gereja Orthodox penolakan Nestorius atas gelar “Theotokos” bagi Bunda Sang Kristus ini sangat membahahayakan bagi pemahaman kita tentang Kristus, dengan demikian membahayakan pemahaman kita tentang keselamatan itu sendiri. Jika Maria itu hanya sekedar Anthropotokos, yaitu hanya melahirkan seorang bayi manusia saja seperti wanita-wniata me;lahirkan yang lain, sejak kapan Yesus jadi Allah?”  Apakah mungkin bayi manusia biasa pelan-pelan berkembang menjadi Allah? Pemikiran bahwa seorang manusia bisa berkembang jadi Allah ini  adalah suatu hujat, dan ini secara hakiki adalah ajaran keberhalaan. Ataukah bayi manusia biasa Anak Maria itu entah sejak kapan, kemudian di “rasuk” Firman Allah, sehingga Firman Allah diam di dalam diri Yesus Kristus seperti “burung tinggal dalam sangkar”, atau seperti manusia yang dirasuk roh jaha, dimana roh jahat itu ada dalam si manusia, namun  pribadi si manusia dan pribadi roh jahat itu terpisah dan berbeda? Jika demikian halnya di dalam Yesus jurang pemisah yang memisahkan antara Allah dan manusia belum tertutup, dan Yesus tak mungkin menjadi pengantara antara Allah dan manusia (I Timotius 2:5), sebab pribadi Yesus yang hanya manusia itu , tetap terpisah dengan Firman yang merasuk diriNya. Sehingga Allah dan Manusia tetap terpisah, dan di dalam diri Yesus ada dua pribadi yang terpisah-pisah, bukan penyatuan antara dua kodrat yang berbeda dalam, Satu Pribadi. Lahirnya Yesus Kristus jika demikian tak mengubah apapun dalam hal hubungan Allah dengan manusia. Manusia masih tetap terpisah dengan Allah, dan Allah masih tetap tak dapat dicapai manusia, maka manusia akan tetap binasa. Itulah sebabnya Gereja Orthodox Purba,  sampai kinipun,  menolak ajaran Nestorius itu dan dalam Konsili di Efesus tahun 431 itu menegaskan bahwa Maria adalah sungguh “Theotokos” sesuai dengan Lukas 1:43 tadi.  Ini berarti bahwa yang dikandung Maria dan tinggal dalam rahimnya itu adalah “Firman Allah” yang adalah “Allah” ( Yohanes 1:1) yang “menjadi manusia” (Yohanes 1:14). Karena Allah itu “tak berubah” ( Maleakhi 3:6), maka ke “Allah” an dari Firman Allah itupun tak berubah. Dia adalah Allah, sebelum dikandung oleh Perawsan Maria, Dia adalah Allah ketika berada dalam kandungan Perawan  Maria., dan Dia tetap Allah ketika mengenakan tubuh Jasmani yang diambil (Galatia 4:4) dari rahim Maria sehingga Ia disebut sebagai “buah rahim” Maria ( Lukas 1:42) , serta lahir berwujud manusia. Sehingga   di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” ( Kolose 2:9).  Dengan demikian melalui kelahiranNya oleh Maria ini “di dalam Yesus itu” (“berdiam” ) hanya ada “Satu Pribadi” (“dalam Dia”  bukan “dalam mereka”) namun yang memiliki “dua kodrat”, yaitu “Manusia” (“ secara jasmaniah”)  yang diambilnya dari Perawan maria melalui kelahiranNya. Sehingga Maria disebut “Tokos” = Yang Melahirkan/Yang Memberi Kelahiran;  dan “Ilahi”(“seluruh kepenuhan ke-Allahan”),  sehingga bukan saja Maria disebut sebagai “Tokos” namun dia dalah “Theos” /Allah  + Tokos, sebab ternyata dalam diri Anaknya yang berwujud manusia sempruna itu berdiam “seluruh kepenuhan ke-Allahan” yaitu memiliki kodrat Allah yang sepenuh-penuhnya. Jadi jelaslah bahwa Yesus Kristus itu adalah “Manusia” dan “Allah” sekaligus, oleh karena itu ibunya memang harus “Theotokos”. Ternyata gelar Theotokos itu justru untuk membentengi kesempurnaan kemanusiaan dan sekaligus kesempuranaan ke-Allah-an Yesus Kristus dalam Satu Pribadi. Dengan demikian manusia dan Allah telah “manunggal” dalam Satu Pribadi Sang Kristus, dan jurang pemisah antara Allah dan Manusia akibat dosa sudah tertutup, sehingga Sang Kristus memang menjadi Pengantara antara Allah dan Manusia, dan gelar Sang Theotokos adalah benteng kokoh yang melindungi kebenaran ke “Allah-Manusia”an Yesus Kristus dalam “Satu Pribadi” itu.  Ketika gelar Theotokos dibuang dan Maria dicampakkan dari pemahaman theologis, maka akan terjadi kacau-balau dalam pemahaman Kristologis, seperti yang kita lihat dalam kesiampang-siuran pemahaman Kristolologis yang muncul sejak abad kesembilan belas sampai kini ini dalam liberalism theologia di Eropa dan munculnya sekte-sekte di Amerika. Karena benteng yang melindungi keutuhan makna theologis mengenai Kristus, yaitu “Maria” dengan gelar “Theotokos”nya, itu dibuang, dinjak-injak, diabaikan dan digulingkan.

     Pentingnya Maria dalam spiritualitas Kristen itu dinyatakan oleh Sang Kristus pada saat Ia disalibkan, dimana :” dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas  dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yohanes 19:25-27). Maria Sang Theotokos bersama Maria Magdalena dan saudari dari Sang Theotokos itu (Maria, isteri Klopas), yang adalah ibu dari Yakobus dan Yoses/ Yusuf (Matius 27:56, Markus 15:40,47) yang mereka ini disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Matius 13: 55, Markus 6:3, Yohanes 7:3,5,10, Kisah Rasul 1: 14, I Korintus 9:5)  yaitu saudara-saudara sepupu Yesus ada didekat Salib Yesus. Karena fakta adanya Maria , isteri Klopas, saudari Theotokos, jadi bibiNya Sang Kristus yang dinyatakan sebagai ibu dari Yakobus dan Yusuf/Yosef yang disbut sebagai saudara-saudara Yesus inilah seluruh Gereja yang berasal dari jaman purba, Orthodox Timur (Yunani, Rusia, Antiokhia,Palestina, Libanon, Serbia, Bulgaria, Romania, dll.), Orthodox Oriental ( Koptik, Syriak, Armenia, Thomas-India, Ethiopia), juga Gereja Nestorian (Gereja Assyria dari Timur), maupun Gereja Roma Katolik, bahkan Yohanes Calvin dan Martin Luther meyakini bahwa Maria itu “Tetap Perawan” atau “Perawan Lestari”  yang dalam Gereja Orthodox disebut sebagai “Aei-Parthenos”, artinya dipulihkan keperawanannya oleh mukjizat Alah setelah melahirkan Anaknya yang hanya satu:Yesus Kristus itu. Jadi menurut Gereja Orthodox Maria mengalami tiga Mukjizat Besar dalam dirinya: mengandung dan melahirkan bayi tanpa benih laki-laki, setelah melahirkan anak satu-satunya itu oleh mukjizat Allah pula dipulihkanb keperawanannya, dan setelah wafat berdasarkan Tradisi Suci setelah tiga hari langsung dibangkitkan oleh Anaknya yang adalah juga Tuhannya sendiri itu, sebagai buah pertama dari karya penebusanNya. Tujuannya untuk membuktikan barangsiapa yang percaya kepadaNya akan dibangkitkan sebagaimana Maria juga dibangkitkan. Karena Tubuh yang dikenakan Yesus dalam PenjelmaanNya itu berasal dari “buah rahim “ Maria, maka Maria sebagai  sumber asal dari Tubuh KemanusiaanNya yang sekarang telah dibangkitkan dan dimuliakan itu, dibangkitkan lebih dulu, mendahului kebangkitan mereka yang lain yang percaya kepadaNya di akhir jaman nanti. 

     Sekarang Maria berada di Firdaus bersama para malaikat dan “roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna” ( Ibrani 12: 22) yaitu bersaama Gereja yang telah menang untuk mendoakan Gereja yang sedang berjuang di bumi ini, karena Ia telah ditetapkan oleh Kristus pada saat disalib diatas tadi sebagai Ibu bagi Gereja. Dimana Sang Kristus mengatakan diatas “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!".  Dalam 26bahasa aslinya kata “Ibu” ini adalah “Gynai” artinya “Wanita”. Namun ini bukan sapaan tidak sopan dari seorang anak terhadap IbuNya, ada makna theologis dari sapaan ini. Diatas Salib itu Yesus berfungsi sebagai Adam yang yang terakhir yang melenyapkan dosa Adam yang pertama. Maka sebagaimana Adam pertama jatuh ke dalam dosa akibat ketidak-taatan Hawa pertama (Kejadian 3:6), demikianlah Adam Terakhir masuk ke dalam dan menyelamatkan dunia melalui ketaatan Maria, ketika dia mengatakan kepada Malaikat “Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhanjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38). Meskipun dia tahu bahwa dengan mengatakan itu, ada kemungkinan dia mati dilempari batu karena akan melahirkan anak tanpa bapak. Namun dia tetap taat, dengan demikian Sang Kristus lahir ke dunia. Itulah sebabnya sejak jaman purba Gereja Orthodox melihat Maria sebagai Hawa Kedua. Dalam Kejadian 2: 23 dalam hubungan dengan dirinya Adam menyebut Hawa sebagai “perempuan/wanita”, demikianlah dalam hubungannya dengan DiriNya sebagai Adam terakhir Yesus menyebut Maria sebagai “Gynai” (“Wanita/Perempuan”) –Yohanes 2:4, Yohanes 19:6, yaitu Hawa Kedua, Hawa Terakhir. Sehingga semuanya jadi impas, Hawa pertama menyebabkan jatuhnya Adam sehingga kita semua ikut dalam dampak kejatuhan itu, maka Hawa Kedua menytebabkan lahirnya Adam Terakhir yang melakukan penebusan, sehingga kita semua menerima dampak penebusanNya itu.

      Dalam Kejadian 3:20, Hawa disebut sebagai “Ibu semua yang hidup”, jadi dalam hubungannya dengan manusia yang lain Hawa adalah ibu dari mereka semua yang hidup. Itulah sebabnya sementara untuk diriNya sendiri Yesus menyebut Maria, sebagai Hawa Kedua, dengan sapaan “Gynai = Wanita/Perempuan” namun kepada muridNya, yang diwakili Yohanes, murid yang dikasihiNya itu, Ia menyebutkan sebagai “"Ibu, inilah, anakmu!"  dan  "Inilah ibumu!". Jadi Sang Kristus menempatkan hubungan Maria dengan para muridNya, yaitu Gereja, dalam hubungan Ibu sebagai dan Anak-Anaknya. Jikalau Hawa adalah Ibu semua yang hidup, maka Maria adalah Ibu Semua Yang Hidup Baru dalam Kristus, yaitu Ibu dari Gereja. karena setelah ia dibangkitkan Kristus dari kematian, Ia sekarang hidup baru dengan tubuhnya yang baru dialam sorgawi sebagai pendoa kita yang amat berkuasa.   Kita sebagai anggota Gereja adalah anak-anak dari Ibu yang telah dimuliakan ini. Maka patut dan layak kita mengenal dia lebih jauh lagi, Dan patut dan layak kita mendalami misteri ke Ibu-an dari Sang Theotokos ini dalam tata-hidup keselematan kita di dalam Kristus.

   Saudara-saudari sekalian, sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan kepada saudara-saudari sekalian masalah Sang Theotokos ini, misalnya mengapa Gereja Orthodox tidak mempercayai “Maria terkandung Tanpa Dosa Asal”, “Mengapa Gereja Orthodox Menekankan Wafatnya Theototokos daripada Pengangkatannya ke Sorga, meskipun mempercayai Kebenaran ini”, “Mengapa Gereja Orthodox Tidak Mempraktekkan Doa Rosario, tetapi melakukan Kidung-Kidung Akathistos” dan lain-lain lagi, namun berhubung waktu yang ada saya cukupkan sampai disini. Selamat berdiskusi , selamat berkenalan dengan Sang Theotokos, selamat menemukan kebenaran Rasuliah yang sudah terlalu lama diabaikan ini. Saya doakan agar ini bukan merupakan pertemuan yang terakhir, namun semoga ada pertemuan-pertemuan berikutnya yang membahas segi-segi yang kaya tentang Bunda Gereja, Sang Theotokos ini. Saya dukung sepenuhnya usaha mulia ini. Kiranya Sang Tritunggal Maha Kudus menurunkan rahmat dan berkatNya, dan kiranya doa-doa Sang Theotokos menyertai jalannya pertemuan ini. Amin.

PESAN dari Rm Daniel
Karena adanya FB dengan nama PGOI dan Lembaga Gereja resmi "GOI" maka supaya tak membingungkan, karena sudah mulai ada yang bertanya masalah ini, maka dengan ini kami beritahukan , bahwa PGOI adalah suatu situs pribadi yang dkelola secara pribadi oleh salah satu pemuda dari Gereja Orthodox Indonesia. Lembaga resmi Gereja Orthodox adalah "Gereja Orthodox Indonesia" (GOI) dibawah pimpinan saya. S...ecara organisasi tidak ada hubungan resmi apapun antara GOI dan PGOI dan PGOI tidak mewakili GOI. Sehingga semua aktifitas dan pernyataan2 yang diungkapkan oleh pribadi pengelola PGOI itu di luar tanggung jawab dari GOI, dan tak mencerminkan pendapat resmi apapun dari GOI. Semua pertanyaan yang menyangkut kelembagaan Gereja Orthodox Indonesia seyogyanya ditujukan kepada GOI dan bukan kepada PGOI, kepada Romo Alexios di Solo, yang bisa dicari dalam FB ini dengan nama situs "Gereja Orthodox Solo Indonesia"

October 27, 2011

Santa Perawan Maria Bunda Allah


oleh: P. William P. Saunders *

Guna memahami gelar “Bunda Allah,” pertama-tama kita harus mengerti dengan jelas peran Maria sebagai Bunda Juruselamat kita, Yesus Kristus. Sebagai orang Katolik, kita sungguh-sungguh yakin akan inkarnasi Kristus: Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus (bdk. Luk 1:26-38 dan Mat 1:18-25). Melalui Maria, Yesus Kristus - pribadi kedua dari Tritunggal Mahakudus, sehakikat dengan Bapa, dan Allah yang benar dari Allah yang benar - memasuki dunia ini dengan mengenakan daging manusia dan jiwa manusia. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Dalam pribadi ilahi-Nya terdapat sekaligus kodrat ilahi dan kodrat manusiawi. Bunda Maria tidak menjadikan pribadi ilahi Yesus, yang telah ada bersama Bapa dan Roh Kudus dari kekekalan, “Ia, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhnya Bunda Allah [Theotokos, yang melahirkan Allah].” (Katekismus Gereja Katolik, no. 495). Seperti dicatat oleh St. Yohanes, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. ” (Yoh 1:14).

Oleh karena alasan ini, pada masa awal sejarah Gereja, Bunda Maria digelari “Bunda Allah.” St. Yohanes Krisostomus (wafat thn 407), misalnya, menggubah dalam Doa Syukur Agung Misanya, suatu madah untuk menghormati Bunda Maria: “Sungguh, semata-mata guna memaklumkan bahwa engkau terberkati, ya Bunda Allah, yang paling terberkati, yang sepenuhnya murni dan Bunda Allah kami. Kami mengagungkan engkau yang lebih terhormat daripada kerubim dan lebih mulia secara tak bertara daripada serafim. Engkau, yang tanpa kehilangan keperawananmu, melahirkan Sabda Tuhan. Engkau yang adalah sungguh Bunda Allah.”

Namun demikian, keberatan atas gelar “Bunda Allah” muncul pada abad kelima akibat adanya kebingungan mengenai misteri inkarnasi. Nestorius, Uskup Konstantinopel (thn 428-431), mengajukan keberatan yang utama. Ia mengatakan bahwa Bunda Maria melahirkan Yesus Kristus, seorang manusia biasa, titik. Kepada manusia ini dipersatukan pribadi Sabda Allah (Yesus Ilahi). Persatuan dua pribadi ini - Kristus yang manusia dan Sabda Ilahi - merupakan sesuatu yang “luhur dan unik”, tetapi hanya suatu kebetulan belaka. Pribadi ilahi tinggal dalam pribadi manusia “sebagai bait”. Melanjutkan jalan pikirannya, Nestorius menegaskan bahwa Yesus manusia wafat di salib, tetapi tidak demikian dengan Yesus ilahi. Jadi, Bunda Maria bukanlah “Bunda Allah,” melainkan sekedar “Bunda Kristus” - Yesus manusia. Apakah membingungkan? Memang, akibat dari pemikiran tersebut adalah membagi Kristus menjadi dua pribadi dan menyangkal inkarnasi.

St. Sirilus, Uskup Alexandria (wafat thn 440) menyangkal pendapat Nestorius dengan mengatakan, “Bukannya seorang manusia biasa pertama-tama dilahirkan oleh Santa Perawan, dan kemudian sesudahnya Sabda turun atasnya; melainkan, bersatu dengan daging dalam rahim, [Sabda] mengalami kelahiran dalam daging, kelahiran dalam daging adalah kelahiran-Nya sendiri…” Pernyataan ini menegaskan keyakinan yang dikemukakan dalam paragraf pertama - Bunda Maria adalah sungguh Bunda Allah.

Pada tanggal 22 Juni 431, Konsili Efesus bersidang guna menyelesaikan perdebatan ini. Konsili memaklumkan, “Barangsiapa tidak mengakui bahwa Imanuel adalah sungguh Allah dan karenanya Santa Perawan adalah Bunda Allah [Theotokos] (sebab ia melahirkan menurut daging Sabda Allah yang menjadi daging), dikutuk Gereja.” Oleh sebab itu, Konsili secara resmi memaklumkan bahwa Yesus adalah satu pribadi ilahi, dengan dua kodrat - manusiawi dan ilahi - dipersatukan dalam persekutuan yang sempurna. Kedua, Efesus menegaskan bahwa Bunda Maria dapat secara tepat digelari Bunda Allah: Maria bukanlah Bunda Allah Bapa, atau Bunda Allah Roh Kudus; melainkan ia adalah Bunda Allah Putra - Yesus Kristus, sungguh Allah sejak kekekalan, yang masuk ke dalam dunia ini dengan menjadi sungguh manusia. Konsili Efesus memaklumkan Nestorius sebagai bidaah sesat dan Kaisar Theodosius memerintahkan agar ia diusir dan dibuang. (Menariknya, suatu Gereja Nestorian kecil masih ada hingga sekarang di Irak, Iran dan Siria.)

Peristiwa inkarnasi sungguh merupakan suatu misteri yang tak terpahami. Gereja menggunakan bahasa yang sangat tepat - sekalipun filosofis - guna mencegah kebingungan dan kesalahpahaman. Karena kita baru saja merayakan Hari Raya Natal dan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, baiklah kita merenungkan misteri agung ini secara lebih mendalam tentang bagaimana Juruselamat Ilahi kita masuk ke dalam dunia ini dengan mengambil rupa manusia kita, demi membebaskan kita dari dosa. Patutlah kita senantiasa merenungkan serta berusaha mengikuti teladan mulia Bunda Maria, yang mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Hendaknya kita tidak pernah melupakan bahwa Bunda Maria adalah sungguh “bunda”.  Bunda Maria bukanlah sekedar sarana fisik belaka dengan mana Kristus masuk ke dalam dunia ini, melainkan ia juga seorang bunda dalam arti sepenuhnya. Sebagai seorang bunda, ia senantiasa ingin menghadirkan Putranya kepada yang lain dan menghantar mereka kepada Putra Ilahinya. Dalam Injil, ia menghadirkan Yesus kepada para gembala, para majus, Nabi Simeon dan Hana, dan juga dalam perjamuan nikah di Kana. Ia rindu melakukan hal yang sama bagi tiap-tiap kita. Ketika Kristus wafat di salib, berdiri di sana Bunda-Nya, Maria, dan St. Yohanes Rasul; Yesus berkata kepada Maria,“Ibu, inilah, anakmu!” mempercayakan bunda-Nya yang janda ke dalam pemeliharaan St. Yohanes; dan kepada St. Yohanes, “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27). Sesuai tradisi, kita senantiasa yakin bahwa dengan itu Yesus memberikan Bunda Maria sebagai Bunda kepada Gereja seluruhnya dan kepada kita masing-masing.

Keyakinan ini dengan sangat indah dijelaskan melalui pesan Bunda Maria di Guadalupe, di mana Santa Perawan menampakkan diri kepada St. Juan Diego pada tahun 1531. Pada tanggal 9 Desember, Bunda Maria mengatakan, “Ketahuilah dengan pasti, engkau yang terkecil dari antara anak-anakku, bahwa akulah Santa Perawan Maria yang tak bercela, Bunda Yesus, Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu beroleh hidup, Tuhan atas segala yang dekat maupun yang jauh, Tuan atas surga dan bumi. Merupakan kerinduanku yang terdalam bahwa sebuah kapel dibangun di sini untuk menghormatiku. Di sini aku akan menunjukkan, aku akan menyatakan, aku akan melimpahkan segenap cintaku, kasih sayangku, pertolonganku dan perlindunganku kepada segenap manusia. Akulah bundamu yang berbelas kasih, bunda yang berbelas kasih dari kalian semua yang hidup rukun di negeri ini, dan dari segenap umat manusia, dari segenap mereka yang mengasihiku, dari mereka yang berseru kepadaku, dari mereka yang mencariku, dan dari mereka yang menaruh harapannya padaku. Di sini aku akan mendengar isak-tangis mereka, keluh-kesah mereka, dan aku akan menyembuhkan serta meringankan segala beban derita, kesulitan-kesulitan dan kemalangan-kemalangan mereka.”

Kemudian pada tanggal 12 Desember, Bunda Maria mengatakan, “Dengarkanlah dan camkanlah dalam hatimu, putera kecilku terkasih: janganlah kiranya sesuatu pun mengecilkan hatimu, melemahkan semangatmu. Janganlah kiranya sesuatu pun membimbangkan hatimu ataupun tekadmu. Juga, janganlah takut akan segala penyakit ataupun pencobaan, kekhawatiran ataupun penderitaan. Bukankah aku di sini, aku yang adalah bundamu? Bukankah engkau ada dalam naungan dan perlindunganku? Bukankah aku ini sumber hidupmu? Bukankah engkau ada dalam naungan mantolku, dalam dekapan pelukanku? Adakah sesuatu lain yang engkau butuhkan?” Pesan-pesan indah ini menegaskan peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda kita.

Sementara kita mengawali tahun yang baru, marilah kita berpegang pada teladan Bunda Maria dan mempercayakan diri pada doa-doanya bagi kita. Kiranya kita senantiasa datang kepadanya sebagai Bunda kita sendiri, sambil memohon, “Bunda Maria yang Tersuci, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.”

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Mary: True Mother of God” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

February 19, 2011

Maria Bukan Lagi Monopoli Orang Katolik

http://luigi3665.wordpress.com/2010/05/04/maria-bukan-lagi-monopoli-orang-katolik/
Maria Bukan Lagi Monopoli Orang Katolik
4 Mei 2010 - Ludovikus
Oleh: Patricia Zapor (Catholic News Service, 8 Desember 2006)


Majalah Time yang mengangkat tema-tema mengenai Kekristenan Masa Kini telah menemukan bahwa Maria, Bunda Yesus, tidak lagi hanya bagi orang-orang Katolik.

Tulisan-tulisan mengenai Maria menjadi tema favorit banyak editor yang mencari tema agama menjelang Natal. Malahan dalam beberapa tahun belakangan ini banyak artikel yang memusatkan perhatian pada perkembangan positif popularitas Maria di kalangan kaum Protestan.

Seorang imam Marianis, Pater Thomas Thompson, editor Marian Library Newsletter di Universitas Dayton di Ohio, menunjukkan bahwa perkembangan penerimaan Maria di kalangan Protestan tetap lebih didasarkan pada pandangan Kitab Suci, bukan pada perubahan pandangan teologi Protestan.

Beberapa ajaran sah Gereja Katolik mengenai Maria, seperti Maria yang Dikandung Tanpa Noda Dosa - keyakinan yang menyatakan bahwa dia terkandung tanpa noda dosa - tetap menjadi soal kontroversial di kalangan Protestan. Namun, bersamaan dengan semangat anti-Kekatolik-an yang telah menurun di kalangan Protestan, halangan-halangan pada kaum Episkopalis, Baptis dan Evangelis untuk berpaling kepada Maria pun telah memudar.

"Kita sangat berbahagia menyaksikan sesama saudara yang lain mempunyai ketertarikan kepada Maria," demikian ujar Pater Thomson.

Timothy George, dekan Beeson Divinity School di Samford University, sebuah kolese gereja Baptis di Birmingham, baru-baru ini menulis bahwa "Inilah saatnya bagi kaum evangelicals untuk menemukan kembali suatu penghormatan yang sepenuhnya bersifat biblis kepada Santa Perawan Maria dan perannya di dalam sejarah keselamatan, dan bertindak sebagaimana mestinya orang-orang evangelis." Komentar George ini muncul di dalam jurnal Kekristenan Masa Kini (Christianity Today) edisi Desember 2003 dan di dalam kumpulan esai karangan pelbagai teolog pada 2004 dengan judul, "Maria: Bunda Allah".

"Kita mungkin tidak dapat mendaraskan doa Rosario atau berlutut di hadapan arcanya, tetapi kita tidak dapat melepaskan dia," demikian tulis George.

Di dalam majalah itu, dia mengutip ahli Perjanjian Lama gereja Baptis abad 20, A. T. Robertson, yang mengatakan Maria "belum menerima perlakuan yang adil baik dari kaum Protestan maupun orang-orang Katolik." Robertson berpendapat bahwa sementara orang-orang Katolik "mendewakan" Maria, kaum evangelis telah secara dingin mengabaikan dia.

"Kita telah menjadi takut untuk memuji dan menghargai Maria sepantasnya," ujar George, sambil mengutip Robertson, "agar tidak dituduh agak condong dan simpati kepada orang-orang Katolik."

Artikel George berlanjut dengan menjelaskan dasar historis, kitabiah dan teologis mengapa orang-orang Protestan seharusnya menerima Maria.

"Kita tidak perlu perlu untuk pergi kepada Maria supaya menjumpai Yesus," George menyimpulkan, "tetapi kita dapat bergabung dengan Maria dalam mengarahkan orang-orang lain kepada-Nya."

Sebuah buku terbaru, "Yang Terberkati," adalah sebuah kumpulan 11 esei mengenai Maria oleh para sarjana Protestan.

Di dalam pengantar mereka, editor Beverly Roberts Gaventa dan Cynthia L. Rigby, profesors di Seminari Theologis di Princeton, New Jersey, dan Seminari Theologis Presbiterian Austin di Texas, dengan penuh hormat, mengatakan bahwa tujuan buku itu adalah untuk membantu orang-orang Protestan berpikir dengan cara baru mengenai Maria, "dengan membekati [menyalami] dia dan diberkati/disalami oleh dia."

"Dia adalah manusia beriman yang tidak selalu mengerti tetapi yang berusaha untuk menaruh seluruh kepercayaannya kepada Allah," demikian mereka menulis.

Bagi kaum Muslim, di lain pihak, Maria selalu menjadi seorang teladan.

John Alden Williams, profesor emeritus di bidang sisi-sisi kemanusiaan dalam hidup beragama di Kolese William dan Maria di Virginia, adalah sejarawati Katolik yang telah mempelajari agama dan peradaban Islamik. Dia dan rekan-rekannya, William dan Maria, profesor James A. Bill telah menerbitkan "Katolik Roma dan orang-orang Muslim Syia" pada 2002.

Karya itu mencatat bahwa dua bagian Al Qur'an, Kitab Suci Islam, dipersembahkan kepada Maria, yang dikenal sebagai Maryam. Dia diakui sebagai perempuan murni yang dipilih untuk menjadi ibu Mesias yang telah dijanjikan. Islam menganggap Yesus seorang nabi penting, tetapi bukan sebagai penjelmaan Allah.

Williams menjelaskan di bahwa, seperti orang-orang Katolik, Muslim Syia, yang menjadi kelompok minoritas dibandingkan dengan jumlah besar Muslim Sunni, percaya akan bantuan kepengantaraan santo-santa dan orang-orang kudus lainnya. Termasuk di dalamnya Maria, yang begitu dipuja-puja sebagai seorang pengantara (mediatrix) antara umat manusia dengan Allah. Kaum Sufi, sekte lainnya di dalam agama Islam, juga percaya akan hal itu.

Di dalam Islam Sunni, "seluruh gagasan mengenai kepengantaraan diperdebatkan," demikian kata Williams, "persis seperti di kalangan kaum Protestan Kalvinis."

Di antara sekian banyak perbedaan yang dimiliki para pemimpin Reformasi Protestan terhadap Gereja Katolik adalah pertumbuhan devosi kepada Maria sepanjang Abad Pertengahan. Kaum Reformer beranggapan bahwa Yesus adalah satu-satunya Pengantara Allah dan umat manusia dan bahwa "devosi Marial yang begitu subur tampak bagi mereka mengancam kejernihan pesan Injil bahwa keselamatan itu hanya oleh rahmat, melalui iman saja, melalui Kristus saja," tulis Daniel L. Migliore, seorang professor teologi di Princeton Theological Seminary, di dalam tulisannya di dalam buku "Yang Terpuji [Blessed One]."

Kaum Muslim yang mencari bantuan Maria, di lain pihak, memandang dia hampir dengan seperti orang-orang Katolik, kata Williams.

Ketika tinggal di Timur Tengah, dia mengatakan bahwa dia menyaksikan sendiri beberapa contoh yang mencolok mengenai penghormatan orang-orang Muslim kepada Maria.

Di biara Bunda Maria, sebuah gereja Orthodoks di Sednaya, Syria, dia menyaksikan orang-orang Muslim dengan khidmat membentangkan sajadah mereka untuk bergabung dengan orang-orang Kristen mengormati sebuah ikon Maria yang dianggap/dipercayai telah dilukis oleh St. Lukas Pengarang Injil dan percaya mempunyai daya penyembuhan atas pelbagai penyakit.

Dan pada akhir 1960-an, banyak orang Muslim ada di antara jutaan orang yang berkumpul di sebuah gereja Koptik Ortodoks di Mesir, sambil berharap akan melihat biarpun cuma sekilas penampakan-penampakan Maria yang dilaporkan, demikian kata dia.

Selama lebih dari setahun mulai pada 1968, penampakan Maria dikatakan terjadi di atas kubah Gereja Santa Perawan Maria di Zeitoun wilayah Kairo.

Williams pergi ke gereja itu satu kali pada rentang waktu itu dan terheran-heran menyaksikan begitu banyak orang Muslim di antara orang banyak itu, katanya.

"Saya menanyakan beberapa orang, 'Bukankah agak lucu bagi anda untuk berada di sini di sebuah gereja orang Kristen?'" ujar Williams. Mereka mengatakan bahwa kehadiran mereka di situ sebenarnya karena Maria hendak menampakkan dirinya di dalam sebuah gereja yang dipersembahkan kepadanya, sembari menjelaskan bahwa mereka percaya dia berbicara kepada semua orang Mesir, bukan hanya kepada orang-orang Kristen.

"Mereka melihat peristiwa itu sebagai sebuah tanda penghiburan setelah perang dengan Israel (pada 1967) bahwa Allah tidak melupakan orang-orang Mesir," kata dia.

Sumber: MARY-INTERFAITH Dec-8-2006: "Mary not just for Catholics anymore" by Patricia Zapor /Washington/Catholic News Service
http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0607019.htm
disadur bebas oleh: LdN.

January 23, 2011

Jawa Pos Jelajah Sungai Nil; Sebuah Ekspedisi Spiritual: Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam

by Agus Mustofa 
on Saturday, August 21, 2010 at 8:09pm


Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil. 

Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.

Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.

Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.


Berbincang akrab dengan Abuna (Romo) Bishoi, di Biara Durunka

Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.

Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:

Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.

Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.

Quluubna bitikhibbik khubb

ma lausy matsil.

A'idzin nufadhdhol janbik wa

naquulu taraatil.

(Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.

Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.

Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.

Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)

Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.


jamaah berdoa di depan ruang Maryam, di dalam gua Jabbal Asyut

Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.

Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.


Di depan gua Maryam, menjelang pembaptisan anak

Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.

Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.

Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.

Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)." 

Sumber:

Jawa Pos, Minggu, 22 Agustus 2010 : http://www.jawapos.com

Sang Theotokos: Perawan Maryam Dalam Gereja Orthodox Timur

Oleh : 
Presbiter Rm. Kirill J.S.L. 
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
Paroki St Jonah dari Manchuria, Surabaya 
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

(Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah “Lumen Dei”, Media Informasi – Komunikasi dan Pengajaran Badan Pelayanan Keuskupan (BPK) – Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) Keuskupan Surabaya, Edisi Oktober – Desember 2009; dengan judul “Perawan Maria dalam Gereja Orthodox Timur”)

“Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari Sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam serta menjadi Manusia”.

[Kredo/Syahadat/ Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel tahun 325; point ke-3]

Posisi Maria dalam Gereja selalu mengundang kontroversi. Kedudukan Maria di dalam Gereja terus dipandang secara berbeda oleh Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Protestan. Pada satu sisi Gereja Roma Katolik memberikan penghormatan yang luar biasa terhadap Maria dengan Devosi Maria-Nya. Hingga oleh gereja-gereja Protestan dianggap suatu bentuk hiperdouleia terhadap Maria.

Perlu diketahui tentang perbedaan antara Douleia dan Latreia. Douleia ialah kebaktian/devosi/penghormatan yang tertuju kepada Allah melalui manusia yang menampakkan kebesaran serta kebaikan Allah atau penghormatan kepada seseorang yang diabdi demi Allah. Douleia merupakan perwujudan sikap hati orang beriman yang dengannya orang secara pribadi mengarahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang dihargai, dijunjung tinggi, dicintai dan dituju. Inilah penghormatan relatif yang sama sebagaimana ditunjukkan kepada simbol-simbol bendawi-jasmaniah lainnya, misalnya “Salib yang mulia dan memberi hidup” dan Kitab Suci Injil. Bila douleia bersangkutan dengan Allah, maka disebut devosi religius. Sedang Latreia adalah kebaktian dalam arti penyembahan yang hanya semata-mata ditujukan pada Allah. Inilah penyembahan mutlak dan wajib, yang hanya boleh ditujukan kepada Allah sebagai suatu ibadah dan penyembahan. Douleia yang dilakukan secara berlebih-lebihan dan tak terkendali yang disebut Hiperdouleia bisa mengancam kehidupan Latreia, bahkan bisa mengarah menuju musyrik (menyekutukan Allah atau ber-ilah lebih dari satu), yaitu keyakinan serta sikap hati dan ibadah yang membuat sekutu dan tandingan bagi Allah, sehingga dengan demikian keesaan Allah dalam keilahianNya (Tauhid Ilahiah), dalam kepenguasaanNya (Tauhid Rububiyah), dan dalam Ibadah kepadaNya (Tauhid Ubudiyah) mengalami pengrusakan dan perongrongan. 

Sebaliknya pada sisi yang lain, gereja-gereja Protestan telah menyingkirkan Maria dari ibadah gereja mereka. Beberapa pendeta Protestan bahkan memandang Maria hanya sekedar botol kecap saja dimana setelah kecapnya keluar, botolnya tidak diperlukan lagi atau Maria dianggap hanya sebagai saluran saja, dalam arti tak menyumbangkan apapun kepada kodrat kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma, seperti layaknya pipa kran yang dialiri air. Juga pada kenyataannya, hampir tidak ada gereja-gereja Protestan yang menggunakan nama diri Maria sebagai nama tempat gerejanya.

Dua buah sikap yang sangat jauh berbeda! Bagaimana mungkin hal ini terjadi, sementara kedua bentuk Kekristenan Barat tersebut mempunyai iman yang sama kepada puteraNya, Yesus sebagai (Putera) Allah? Adakah jalan tengah yang bisa disepakati bagi Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Protestan? Adakah pemikiran yang lain mengenai kedudukan Maria dalam Gereja? Sebuah pemikiran untuk menempatkan posisi Maria dalam Gereja sesuai dengan kehormatan dan tempatnya yang layak baginya. Tidak melebih-lebihkannya (hiperdouleia) atau menyingkirkannya sama sekali dalam Gereja, sehingga kita tidak bersalah dihadapan Allah dan PuteraNya, Isa ibn Maryam (Yesus, Putera Maria), Tuhan dan Juruselamat kita. Berikut ini adalah ajaran Gereja Orthodox atau yang dikenal juga sebagai Gereja Timur tentang Maria, Sang Theotokos, Bunda Allah Tersuci.

Dalam penjelmaanNya sebagai manusia Firman Allah yang turun dari sorga, menjelma “dari Sang Perawan Maryam”. Dan dengan menjelma “dari Sang Perawan Maryam” ini, Ia “menjadi manusia”. Dengan demikian maka “kemanusiaan” yang diambil dan dikenakan oleh Firman Allah “dalam penjelmaanNya” itu pastilah berasal dari “Sang Perawan Maryam” ini. Karena sebagai “Firman Allah” yang adalah “Anak Allah yang Tunggal” sejak “sebelum segala zaman” dan bersifat “Allah sejati” karena Ia itu “keluar dari Allah sejati” serta dalam wujud “Terang” - jadi bukan berwujud jasmani - karena Ia “keluar dari Terang” karena Allah memang bersifat terang, maka jelas Ia tak memiliki wujud kemanusiaan dan bukan manusia. Sebagai yang bukan manusia itu Ia “turun dari sorga”, dan setelah “menjelma … dari Sang Perawan Maryam” itu Ia “menjadi manusia”. Berarti Maryam telah ikut berpartisipasi dalam memberikan kemanusiaan kepada Firman Allah, agar Ia dapat “disalibkan, mati, dikuburkan serta bangkit dari antara orang mati”, dan tubuh yang telah diambil dari Maryam dan dibangkitkan itu akhirnya dibawa “naik ke sorga” serta “didudukkan di sebelah kanan Allah” dan dengan “tubuh yang telah dimuliakan” yang asalnya “dari Sang Perawan Maryam” itulah nantinya Kristus “akan datang lagi dalam kemuliaan”. Itulah sebabnya andil Maryam bagi keselamatan manusia itu besar sekali, meskipun yang menjalankan keselamatan dengan mengalahkan kematian itu bukan pribadi Maryam, namun pribadi Anak Allah yang telah mengambil kemanusiaan dari Maryam itu sendiri. 

Jadi Maryam itu bukan juruselamat, dan tak pula ikut ambil bagian sebagai penebus disamping Kristus, bukan pula ia itu pengantara keselamatan kepada Allah. Ia adalah yang mengandung “Anak Allah yang Tunggal…Terang…Allah Sejati…Satu Dzat Hakekat dengan Sang Bapa” ketika Ia menjelma “dari Sang Perawan Maryam”. Jadi yang tinggal dalam rahim Maryam saat Ia mengandung itu bukan manusia biasa namun “Allah sejati” yaitu “Anak Allah Yang Tunggal” yaitu “Firman Allah” sendiri yang sedang “menjelma”. Oleh karena itu “Pribadi” anak yang sedang dikandung oleh Maryam ini bukanlah hanya sekedar pribadi manusia biasa namun pribadi “Allah Sejati” yang sedang menjelma. 


Sang Theotokos” (”Bunda Allah”) tersuci, ”Sayidatina Siti Maryam Al ’Adzra” (”Bunda Maria Sang Perawan Tak Bernoda”)

Dengan demikian Maryam tidak sekedar menjadi Ibu seorang manusia biasa, namun Ibu dan Bunda dari “Allah Sejati” yang sedang menjelma dan menjadi manusia ini. Demikianlah maka Gereja menyebut Maryam sebagai “Theotokos” (Yunani: Θεοτόκος, Slavonik: Bogoroditsa, Arab: Wālidat Allah atau Wālidatulillah, Latin: Deipara, Dei genetrix, Jawa Kuno (Kawi): Sang Pamiyos Widhi) yaitu ia yang “Memberi Kelahiran - dalam penjelmaanNya secara jasmani - kepada Allah – Firman Allah – “ atau lebih dikenal dengan gelar ”Bunda Allah” (Yunani: Meter Theo), dengan bentuk singkatan dalam ikonografi Orthodox ”ΜΡ ΘΥ”; Slavonik: Bogamateri; Latin: Mater Dei. Dan kejadian bayi dari kemanusiaan Maryam ini adalah semata-mata mukjizat “dari Sang Roh Kudus” yang menjadikan “indung telur” dari rahim Maryam tanpa dibuahi pria “menjadi manusia”. Fungsi Roh Kudus kepada Maryam adalah untuk “menyucikan Maryam” agar layak menjadi sarana menjelmaNya Firman Allah di dalam dirinya. Itulah sebabnya Gereja Orthodox tidak mengajarkan bahwa: “Maryam Terkandung Tanpa Dosa Asal”. Maryam adalah orang berdosa sama seperti kita semua namun yang disucikan oleh Roh Kudus saat ia menerima panggilan menjadi Ibu Sang Penebus. Atas dasar semua alasan inilah Maryam memiliki tempat dalam Pengakuan Iman, dalam theologia Gereja, dalam ekspresi ibadah Gereja, dan dalam ikonografi Gereja. Jadi Maryamologi (Mariologi) dalam Iman Orthodox hanya perpanjangan dari Kristologi saja, bukan sesuatu pembahasan yang berdiri sendiri terlepas dari Kristus. 

Sebagian orang yang tak mengerti Iman Orthodox secara benar, atau karena mungkin sebagai reaksi terhadap Mariologi dari Gereja Roma Katolik, bahkan dikalangan ummat Kristen sendiri, serta tanpa merenungkan implikasi theologis dan landasan Alkitabiah mengenai gelar “Theotokos” bagi Maryam Sang Perawan ini sering mengejek gelar ini dengan mengatakan: ”Allah tidak punya Ibu. Allah tidak dilahirkan oleh siapapun. Maryam hanya melahirkan manusia biasa saja. Jadi dia itu bukan Bunda Allah, hanya Bunda Yesus saja”. Jadi Maryam tak boleh disebut ”Theotokos” namun ”Anthropotokos” (”Dia yang Melahirkan Manusia”) atau paling tinggi dengan sebutan ”Kristotokos” (”Dia Yang Melahirkan Kristus”), persis seperti yang dikatakan Patriarkh Konstantinopel, Nestorius (428 - 431) itu. St. Kyrillos I, Patriarkh Alexandria (412 - 444) menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”, karena Dia yang dilahirkan olehnya adalah “Firman” yang adalah “Allah”, yang “telah menjadi manusia” (Yoh. 1:1,14). Atas pernyataan semacam itu, kita bertanya:

 Betulkah orang-orang yang mengaku Kristen ini percaya pada ke-Allah-an Yesus sebagai “Firman Allah” atau tidak?

 Kalau memang percaya, apakah ke-Allah-an Yesus sebagai “Firman Allah” itu kekal atau tidak? 

 Jika memang kekal, ketika berada di dalam rahim Maryam, Dia masih memiliki ke-Allah-an, yaitu tetap sebagai “Firman Allah” atau tidak? 

 Jika masih memiliki, maka Maryam itu hanya sekedar melahirkan manusia biasa saja, ataukah melahirkan “Allah” yaitu “Firman Allah” yang menjadi manusia? 

 Jika dia melahirkan “Allah” yaitu “Firman Allah” yang menjadi manusia, maka kemanusiaan dari Anak yang dilahirkannya itu miliknya Allah yaitu “Firman Allah” ini atau bukan? 

 Jika kemanusiaan bayi yang dilahirkan Maryam memang milikNya Allah yang menjelma ini, berarti Maryam menjadi “IbuNya Allah” yang menjelma ini dalam kemanusiaanNya atau bukan? 

 Jika demikian, bukankah Maryam adalah “Bunda Allah” dalam penjelmaanNya sebagai manusia? “

Jadi memang Maryam bukan “Bunda Allah” Bapa (Allah yang Esa) yang tak pernah menjelma menjadi manusia, sebab Sang Bapa itu kekal tanpa awal maupun akhir, dan tak diperanakkan ataupun beranak. Bukan pula gelar “Bunda Allah” berarti Maryam itu “isterinya” Allah, sebagai pasangan dari Allah Sang Bapa. Sebab Allah yang bukan laki-laki, bukan perempuan, bukan banci serta tak berjenis kelamin itu bagaimana memiliki isteri? Lagipula Allah yang ghoib, tak bertubuh jasmani, bersifat Roh murni, bagaimana dapat memiliki pasangan yang kasat-mata, bertubuh jasmani, hanya sekedar makhluk saja? Itulah sebabnya Maryam bukan disebut sebagai “Allah Sang Ibu” karena dia bukan pasangan ataupun isteri “Allah Sang Bapa”. Namun Maryam adalah “Bunda Allah”, yaitu Bunda “Firman Allah” dalam penjelmaanNya sebagai manusia, karena “Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Yesus disebut Anak Allah bukan karena Dia lahir tanpa Bapa manusia, seolah-olah Allah itu menjadi suami Maryam dan melahirkan Anak Allah, dengan Maryam sebagai Bunda Allah Anak ini. Yesus disebut “Anak Allah” bukanlah dalam wujud kemanusiaanNya, namun dalam keberadaanNya sebagai Firman (Yohanes 1;14,18). Anak Allah yaitu Firman Allah sudah ada sebelum bayi Yesus lahir dari Perawan Maryam (Yohanes 17:5, 8:56-58). Firman Allah disebut “Anak Allah” karena sejak kekal Dia dikandung di dalam Diri Allah sendiri, sebagai Akal-Budi atau Ilmu Ilahi dan selalu bersama Allah (Yohanes 1:1) yaitu melekat satu dalam Hakekat (Dzat, Essensi) Allah itu. Jadi Allah “mengandung” FirmanNya sendiri. Dan dari kandungan Hakekat Allah inilah Firman itu “keluar” dari Allah (Yohanes 8:42) ketika diwahyukan dalam diri Allah sendiri dalam kekekalan sebagai “Gambar Allah” (“Cermin Allah” menurut bahasa Tassawuf), ketika diucapkan sebagai Sabda “Kun Faya kun” (“Jadilah maka jadi”, “yehi wa yehi”) saat penciptaan dunia, ketika diturunkan ke dunia menjadi manusia Yesus Kristus saat Inkarnasi. Jadi seolah-olah Firman yang dikandung Allah itu dikeluarkan atau “dilahirkan” oleh Allah di dalam DiriNya sendiri. Itulah sebabnya Firman Allah itu secara kata kias disebut sebagai “Anak Allah”. Demikianlah jelas bahwa Allah itu tak diperanakkan maupun beranak apalagi beristeri, sebab yang dimaksud “Anak Allah” adalah “Firman Allah” sendiri yang sejak kekal dikandung dan dikeluarkan oleh Allah sendiri, dan akhirnya diturunkan (“nuzul”) dalam wujud manusia Yesus Kristus. Dengan demikian bukan karena lahirnya tanpa bapa manusia itu, yang menyebabkan Yesus Kristus disebut “Anak Allah”. Kelahiran Yesus oleh Maryam itu bukan permulaan keberadaanNya, itu hanya permulaan nuzulNya di atas bumi ini saja. Itulah sebabnya jika Maryam hanya disebut Bunda Yesus saja, berarti Yesus itu hanya manusia biasa, dan tak memiliki ke-Allah-an sebagai Firman Allah yang kekal dan sekarang telah nuzul. 

Jika begitu sejak kapan Yesus menjadi Allah, sebab ketika lahir dari Maryam Dia bukan Allah, buktinya Maryam tak boleh disebut “Bunda Allah” untuk menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkannya itu adalah Allah dalam hakekat pribadi kekalNya? Jika hanya baru kemudian saja manusia Yesus anak Maryam ini menjadi Allah, apa bedanya dengan agama kafir yang membuat manusia biasa menjadi ilah? Bukankah kalau begitu orang sedemikian ini percaya pada kemungkinan manusia biasa Anak Maryam bisa berkembang menjadi Allah? Apakah bukan berhala dan kemusyrikan ajaran yang sedemikian ini? Dengan demikian Yesus bukan betul-betul Allah namun manusia yang baru kemudian jadi Dewa, karena waktu dalam kandungan Maryam dan waktu dilahirkan Dia bukan Allah, dan tak boleh disebut Allah, sebab Ibunya tak boleh disebut Bunda dari “Allah” yang sedang menjelma menjadi manusia Yesus ini? Atau jika bukan demikian, apakah ke-Allah-an Yesus itu terpisah-pisah dari kemanusiaanNya, dimana waktu Dia dikandung serta dilahirkan Maryam, ke-Allah-an itu dalam keadaan terpisah? Jika betul demikian justru inilah bidat “Nestorianisme” yang ditentang Gereja Orhodox di jaman purba, melalui Konsilinya yang ketiga di Efesus tahun 431 Masehi, dan justru gelar “Theotokos” ini yang setidak-tidaknya pada abad kedua dan ketiga sudah digunakan di dalam Gereja Purba, dan dalam Konsili itu disahkan secara resmi penggunaannya karena memang konsisten dengan ajaran Alkitab, untuk dijadikan pagar bagi menjaga ketak-terpisahan Dua-Kodrat Yesus di dalam satu Pribadi itu. Inilah implikasi yang sangat menyesatkan dari penolakan gelar Bunda Allah bagi Maryam itu. Jadi Gereja Orthodox tetap konsisten pada Tauhid, gelar ”Theotokos” bagi Maryam justru untuk menjaga Tauhid tadi, yaitu menjaga agar tak ada anggapan bahwa manusia dapat berkembang menjadi Allah, dan untuk menjaga agar tak ada anggapan bahwa Firman Allah dapat berubah dari keilahian dan kesatuanNya dengan Allah ketika Nuzul sebagai manusia. Gelar ini bukan untuk meninggikan Maryam sebagaimana kemudian yang disalah-artikan atau dibesar-besarkan dalam tradisi Roma Katolik, namun gelar ini untuk menjaga integritas ke-Dua-Kodrat-an dalam Kesatuan Pribadi dari Firman Allah yang menjelma: Yesus Kristus. “Theotokos” lebih bersifat Kristologis daripada Mariologis dalam ajaran Gereja Orthodox. Jika begitu marilah kita selidiki ajaran Alkitab, terutama Perjanjian Baru mengenai gelar ”Theotokos” (Bunda Allah) bagi Maryam Sang Perawan ini. 

Perjanjian Baru tidak banyak memuat kisah Maryam, karena Maryam memang bukan fokus pemberitaan Perjanjian Baru. Berita Perjanjian Baru adalah tentang Kristus, dan pembahasan kita tentang Maryam adalah sebagai “dampak” langsung dari Inkarnasi (Penjelmaan sebagai Manusia), dan bukan inti dari Inkarnasi itu sendiri. Maryam harus ada agar Inkarnasi Firman Allah ke dalam dunia ini terjadi. Jika tak ada Maryam Inkarnasi itu tak terjadi, sebab wanita yang harus menjadi sarana kelahiran Firman dalam penjelmaanNya sebagai manusia itu sosoknya sudah dinubuatkan (Kejadian 3:15), pribadinya sudah ditentukan (dari keturunan Abraham, dari jalur Daud, berasal dari Betlehem), dan semuanya itu hanya tergenapi dalam Maryam saja, bukan wanita yang lain. Itulah sebabnya sosok Maryam itu bukan suatu kebetulan, namun pribadi yang sudah direncanakan oleh kerelaan kehendak Allah dan ditetapkan oleh Allah di dalam ke-Maha-Berdaulatan dan ke-Maha-TahuanNya. Meskipun pembahasan tentang Maryam itu sebagai “dampak” dan bukan inti dari peristiwa Inkarnasi, namun ini merupakan suatu dampak yang sangat penting, karena ini akan merupakan pagar yang sangat penting dalam kita menjaga iman kita kepada Kristus agar tak terbelokkan kepada pengajaran yang salah. 

Dalam Matius 1:23, bayi yang dilahirkan oleh Maryam itu disebut sebagai “Immanuel” yang artinya “Allah menyertai kita”. Ini berarti bahwa yang berwujud manusia itu ternyata bersifat dan berhakekat Allah, sebab jika tidak demikian pastilah Dia tak disebut sebagai “Allah menyertai”. Serta ini bermakna pula bahwa dalam keadaan sebagai bayi manusia itupun Pribadi bayi ini adalah Pribadi Allah. Jadi ini menegaskan apa yang dikatakan oleh Yohanes bahwa “Firman” yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1) telah “menjadi manusia” (Yohanes 1:14) tanpa berubah dari sifat ke-Allah-anNya, sebab Allah itu tak mungkin berubah, sehingga setelah lahir dalam wujud manusiapun Dia tetap disebut “Allah” menyertai kita. Jadi “Subyek” yang menjadi Pribadi dari bayi manusia Anak Maryam ini adalah Firman Allah (“Anak Allah”) yang kekal dan pra-ada sebelum lahir jadi bayi. Hal ini dikatakan oleh Alkitab demikian: 

”…Allah mengutus AnakNya (yaitu: FirmanNya yang pra-ada itu) yang lahir (dalam nuzulNya ke bumi dalam pengutusan itu) dari seorang perempuan (Maryam)” 
Galatia 4:4

Jadi ke-ilahi-an yang pra-ada dari Firman Allah (Yohanes 1:1) atau Anak Allah (Galatia 4:4) itu tak hilang dan tak berubah ketika Dia nuzul sebagai bayi, karena Allah ataupun KalimatNya memang tak pernah berubah. Demikianlah Firman Allah itu tetap Allah sebelum turun, ketika dikandung, dan setelah dilahirkan oleh Maryam Sang Perawan dalam wujud baru yang dikenakanNya itu karena Dia “telah mengambil rupa…menjadi sama dengan manusia“ (Filipi 2:7). Karena manusia itu dikenal melalui hakekat pribadinya dan bukan hanya melalui bentuk-raganya, demikianlah Maryam itu tidak hanya mengandung raga seorang bayi manusia saja, namun mengandung bayi yang memiliki hakekat Pribadi Firman Allah yang bersifat Allah, yang mengenakan dan mengambil raga bayi dari ovum Maryam. Ovum ini tanpa sperma laki-laki telah diciptakan oleh Kuasa Allah sendiri menjadi bayi dan disatukan serta dimanunggalkan dengan kodrat ilahi Sang Sabda Allah sendiri serta diberi kehidupan manusiawi oleh Roh Kudus atau Roh Allah yang berada melekat satu di dalam Hakekat (Essensi, Dzat) Allah sendiri. Karena itulah Gereja-Gereja Orthodox berbahasa Arab di Timur-Tengah memberi gelar Maryam sebagai ”Sayidatina Maryam Al ’Adzra” (”Bunda Maria Sang Perawan Tak Bernoda”) atau ”Qiddisa Settena Maryam Al 'Adzra, Umm Al Maseeh” (”Santa Perawan Maryam, Ibu Kristus”), dan Gereja-Gereja Orthodox yang berbahasa Slavonika menyebutnya dengan gelar ”Bogoroditse Deva” (“Theotokos Sang Perawan”), sebuah gelar penghormatan kepada Sang Theotokos. Dengan demikian Firman Allah yang kekal dan yang sama itulah yang menjadi subyek Pribadi si bayi Anak Maryam itu. Sehingga Maryam memang betul-betul melahirkan seorang bayi manusia yang subyek PribadiNya adalah Allah yaitu Firman Allah sendiri. Demikianlah Maryam itu benar-benar “Theotokos” (Tokos = Sang Pemberi lahir secara jasmani karena nuzulNya; Theos = kepada Allah yaitu Firman Allah yang secara kekal tak berjasmani itu). Jadi sebutan “Theotokos” bagi Maryam itu justru menjelaskan keilahian Kristus yang tak pernah berubah sebagai Firman Allah itulah yang ditekankan, bukan diri Maryam sendiri. Itulah sebabnya ketika Maryam mengunjungi Elisabet, oleh ilham Roh Kudus dalam suatu nubuat wanita tua yang saleh ini menyapa Maryam dengan sebutan “Ibu Tuhan”-ku (Lukas 1:43). Kata “Tuhan” (“Kyrios”) yang digunakan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru itu mempunyai 3 latar-belakang, yaitu:

1. Kata ini menterjemahkan kata “YHWH” (sering dibaca Yehuwah atau Yahweh) sebagai Nama Allah sendiri dalam Alkitab Ibrani. Orang Yahudi menganggap kata ini sangat suci sekali sehingga takut untuk mengucapkannya, sebagai gantinya setiap ada kata “YHWH” ini mereka baca dengan bunyi “Adonay” (“Tuhanku”). Pada waktu Alkitab Ibrani diterjemahkan oleh ummat Yahudi ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), maka setiap kali ada kata “YHWH” bunyi bacaannya “Adonay” (Yunaninya: Kyrios) itulah yang ditulis dalam terjemahan. Maka “Kyrios” bermakna Nama Allah sendiri.

2. Kata Kyrios dalam makna harafiahnya menunjuk kepada sebutan penghormatan, kepenguasaan atau kepada sesuatu yang dipertuan. Pada saat Yesus hidup di atas dunia ini kata “Kyrios” yang digunakan orang-orang sezamanNya untuk menyapa Dia itu seyogyanya dimengerti sebagai sebutan penghormatan saja: ”Tuan, Pak, Mister, Sir”, dan memanglah demikian maknanya.

3. Namun ketika Yesus telah dimuliakan, sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) untuk Yesus ini mempunyai makna sebagai “Penguasa” atau “Yang Dipertuan”. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) di sini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”, “Sang Junjungan Yesus”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini: ”…Yesus adalah Tuhan…Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “Allah, yang membangkitkan Tuhan…” (I Kor.6:14), “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Ayat-ayat di atas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini. Sejak kapan Yesus menerima gelar “Tuhan” ini? Sejak kebangkitanNya. Karena sesudah bangkit dari antara orang mati Dia mengatakan kepada para muridNya: ”KepadaKu telah diberikan (berarti: ada yang “memberikan”, yaitu Allah sendiri) SEGALA KUASA (Kepenguasaan mutlak: Jabatan Tuhan) di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Dengan demikian karena Allah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36: ”Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”.

Yesus diangkat sebagai Penguasa Mutlak atau “Kyrios” (“Tuhan”) ini memiliki tiga tujuan: 

a. Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Adam yang terakhir yang telah memulihkan kepenguasaan Adam atas alam, yang hilang karena kejatuhan.

b. Untuk menunjukkan bahwa Yesus yang manusia itu sungguh-sungguh Sang Sabda yang menjelma sebagai manusia. Karena Allah selalu melaksanakan kepenguasaanNya atas alam melalui kalimatNya, sekarang kuasa yang sama atau ke-Tuhan-an Allah yang sama dan hanya satu itu, dilaksanakan melalui manusia Yesus Kristus, sehingga Yesus disebut Tuhan, dengan demikian Yesus tetaplah Sang Firman yang satu dan yang sama, karena melalui Sabda Allah itu Allah melaksanakan kuasa KetuhananNya sendiri. Dengan demikian baik Allah maupun KalimatNya tak berubah, baik dalam hakekatNya maupun dalam hubunganNya, meskipun Kalimat itu telah nuzul sebagai manusia.

c. Untuk tujuan keselamatan manusia, karena dengan kuasa mutlak sebagai “Penguasa” atau “Tuhan” ini Yesus Kristus akan mengubah tubuh manusia yang hina ini sehingga menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia pada Hari Kebangkitan nanti (Filipi 3:20-21).

Setelah mengerti makna kata “Tuhan” yang dikenakan kepada Yesus Kristus, maka jelas jika kita sekarang menyebut “Tuhan Yesus Kristus” maka makna ketiga itulah yang kita maksud. Sedangkan ketika para Malaikat (Lukas 2:11) menyebut Kristus sebagai Tuhan, dan terutama sekali ketika Elisabet menyebut Maryam sebagai “Ibu Tuhan” (Lukas 1:43), jelas yang dimaksud bukan makna ketiga ini, karena Yesus baru atau belum lahir, belum bangkit, dan belum dimuliakan. Bukan pula makna kedua, karena seorang bayi tak akan disebut “Pak” atau “Tuan”, namun itu menunjuk makna pertama “Kyrios” (“YHWH”), yaitu sebagai Nama Allah sendiri, untuk menunjuk bahwa bayi yang sedang lahir itu adalah “YHWH” yaitu “Firman YHWH” sendiri yang sedang menjelma sebagai manusia. Dengan demikian “Ibu Tuhan” bagi Maryam ini identik dengan “Bunda Allah” atau “Theotokos”. Jadi Maryam memang “Ibu dari Yang Ilahi” sendiri, yaitu “Bunda Allah” Sang Sabda dalam keberadaan nuzulNya, bukan dalam keadaan azali atau kekalNya. Karena keberadaan Sabda Allah yang azali dan kekal itu tak berbadan jasmani, tak beribu serta tak dilahirkan wanita, dan tanpa awal maupun akhir. Melalui gelar “Theotokos” bagi Maryam inilah justru keilahian Yesus Kristus sebagai Firman Allah dijaga dan dipagari. Maka kita tak akan lupa bahwa bayi yang dilahirkan Maryam itu ternyata tetap Allah yang sama, dan tak pernah berubah meskipun telah turun sebagai manusia, sehingga Ibu manusiaNya berhak disebut “Bunda Allah” (“Theotokos”). Sisi lain dari gelar “Theotokos” ini adalah untuk menegaskan kemanusiaan Yesus Kristus. Karena tanpa menegaskan kemanusiaanNya, kita akan jatuh pada ajaran bidat Monofisitisme yang hanya menekankan keilahian Yesus Kristus dan menghilangkan kemanusiaanNya serta dengan demikian mensifatkan wujud kemanusiaanNya itu sebagai Yang Ilahi sendiri. Jika yang demikian ini yang terjadi akhirnya kita bukan menyembah Allah yang benar dan ghaib, namun menyembah makhluk manusia Anak Maryam: “Dewa Yesus”.

Alkitab mengajarkan bahwa ketika Firman Allah “mengambil rupa…menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) atau “lahir dari seorang perempuan” (Galatia 4:4) yaitu “menjadi manusia” (Yohanes 1:14), dia mengambil ini dengan “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibrani 2:14) artinya “dalam segala hal (yaitu: termasuk tubuh, jiwa, roh, akal-budi, emosi, kehendak, dan segenap sifat-sifat kemanusiaan) Ia harus disamakan dengan ”manusia” (Ibrani 2:17). Ini berarti bahwa Yesus Kristus adalah manusia sempurna. Dalam segala hal Dia memiliki kodrat yang sama persis dengan segenap manusia lainnya. Karena kodrat kemanusiaan yang diambilNya itu tak berbeda dalam segala hal dari segenap manusia di alam ini, maka Dia betul-betul Anak Maryam (Markus 6:3). Karena Yesus dalam kemanusiaanNya itu disebut “Anak Abraham” dan “Anak Daud “ (Matius 1:1), maka haruslah dalam jasad daging kemanusiaanNya itu mengalir “gen” dari Abraham dan Daud, bapa-bapa leluhurNya secara manusia itu. Padahal “gen” tadi harus didapat dari manusia yang merupakan keturunan Abraham dan Daud, dan kita tahu satu-satunya manusia yang mempersembahkan kemanusiaan dengan cara melahirkan Firman Allah yang menjelma ini sebagai bayi adalah Maryam, berarti Yesus memang harus mengambil “gen” Abraham dan Daud itu melalui Maryam. Artinya Maryam harus sungguh-sungguh dalam arti literal adalah Ibu kemanusiaan dari Penjelmaan Firman Allah ini. Maryam tidak hanya sekedar dilalui atau dilewati oleh kelahiran Yesus saja, namun kemanusiaan Yesus itu berasal dari ovum kemanusiaan Maryam. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42). Ini berarti Maryam adalah pohon dari kemanusiaan Yesus, dan rahim atau ovum Maryam itu menjadi asal-usul dimana “BUAH” yaitu tubuh kemanusiaan bayi Yesus itu diproses. 

Jadi Maryam bukan hanya sebagai saluran saja, dalam arti tak menyumbangkan apapun kepada kodrat kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma, seperti layaknya pipa kran yang dialiri air. Analogi ini tak masuk akal, karena air dari pipa kran itu bukan “buah” dari pipa tadi, padahal Yesus adalah “buah rahim” Maryam. Jadi memanglah kemanusiaan Yesus itu semata-mata berasal dari ovum Maryam yang tanpa sperma laki-laki oleh Kuasa Firman Allah itu sendiri dijadikan bentuk Bayi dan oleh Roh Allah sendiri diberikan kehidupan. Dengan demikian Yesus itulah ”Keturunan Perempuan” (Kejadian 3:15) karena terjadi tanpa sperma pria sama sekali namun langsung oleh Kuasa Yang Maha Tinggi sebagai mukjizat luar biasa, dan sekaligus “keturunan Abraham dan Daud”, karena Maryam adalah keturunan mereka dan melalui ovumnya “gen” Abraham dan Daud menjadi kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma. Itulah sebabnya Galatia 4:4 mengatakan bahwa Anak Allah yang pra-ada itu ketika lahir menjadi manusia dikatakan “genomenon ek gunaikos” = ”lahir keluar dari” atau “berasal dari ”perempuan“. Jadi “berasal dari” atau “keluar dari” Maryam inilah kemanusiaan Yesus itu dilahirkan ke dunia. Maryam bukan hanya dilalui saja, namun betul-betul menjadi Ibu Yesus Sang Firman Allah itu, yang darinya Sabda Allah yang tak berjasad jasmani itu mendapatkan jasad-jasmani kemanusiaanNya. Itulah sebabnya Maryam disebut “Theo-“ yang menekankan ke-“Allah”-an si Bayi sebagai Firman Allah, dan “-tokos” yang menekankan sungguh-sungguh si Bayi itu terlahir dari Maryam, berarti Ia manusia sejati yang memiliki permulaan dari kelahiran. 

Jadi memang Maryam yang harus memiliki gelar ini, untuk menandaskan secara tegas bahwa kemanusiaan dari Bayi yang terlahir itu memang berasal dari Ibu yang melahirkan itu yang adalah betul-betul manusia. Sehingga si Bayi itu adalah manusia sejati dan sempurna, karena Ibu yang melahirkan adalah manusia sejati. Demikianlah gelar “Theotokos” bagi Maryam itu merupakan ringkasan theologis tentang makna Inkarnasi Kristus, serta menjadi pagar dan penjaga kokoh bagi “keilahian” dan “kemanusiaan” Kristus, yang tidak saling berbaur, tidak saling kacau, namun tak-terpisah-pisahkan dan tak terbagi-bagi dalam kesatuan Pribadi Firman Allah yang hanya satu itu. Gereja Orthodox pada tahun 431 di Efesus mengutuk “Nestorius” yang menolak gelar ini, karena penolakan itu berarti pemisah-misahan Pribadi Kristus yang satu itu menjadi dua. Jika Maryam hanya melahirkan kemanusiaanNya saja, berarti si Bayi yang lahir itu tak memiliki Pribadi Ilahi, dengan demikian sudahlah terpisah antara Pribadi Ilahi dan Pribadi Manusianya, sehingga ada dua Pribadi yang berbeda. Dengan demikian Yesus Kristus itu bukan Firman Allah yang menjelma, namun hanya manusia biasa Anak Maryam, yang baru kemudian kesurupan Firman Allah, seperti layaknya kalau orang kesurupan setan. Dalam pengertian semacam ini maka Pribadi Firman Allah dan Pribadi Anak Maryam memang beda, berarti ada dua pribadi dalam Yesus, dan bukan Satu Pribadi yang berkodrat dua secara tak terpisah. Jikalau begitu yang disalib itu hanya sekedar manusia biasa, bukan kematian dari kodrat kemanusiaan Firman Allah yang menjelma, sebab kodrat ilahiNya memang tak dapat disalib dan tak dapat mati. Jika yang mati itu hanya manusia biasa Anak Maryam saja, maka keselamatan tak akan terjadi oleh kematian semacam itu. Sampai sekarangpun Gereja Orthodox akan tetap menyangkal “Nestorius-Nestorius“ modern yang menolak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”. Jelaslah gelar Theotokos bukanlah untuk memberhalakan atau mendewakan Maryam seperti yang sering disalah-mengerti serta seperti yang telah dialih-maknakan dalam Gereja Roma Katolik. Namun gelar itu untuk menjaga keutuhan dan kesatuan “dua-kodrat” Kristus dalam “satu Pribadi”. Sedangkan Maryam sendiri sebagai pribadi sampai kapanpun dia adalah “hamba Tuhan” yang suci, saleh, serta taat (Lukas 1:38). 

Selain gelar ”Sang Theotokos” (”Bunda Allah”), Gereja sejak masa purba memberi gelar kepada Maryam sebagai ”Bunda Gereja”. Dalam Injil Yohanes 19:25-27, kita membaca pesan Yesus kepada murid-muridNya (Gereja).

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maryam, isteri Klopas dan Maryam Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu !" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” 
(Yoh. 19:25-27)

Maryam adalah Ibu dari murid Yesus yang terkasih, berarti menjadi ibu kita juga jika kita memang betul adalah murid Yesus. Murid Yesus yang terkasih adalah anak dari Maryam, berarti jika kitapun adalah murid Yesus, kita juga anak Maryam dalam keberadaan manusia baru kita. Murid Yesus menerima Maryam dalam rumahnya, maka kitapun jika memang murid Yesus harus menerima Maryam juga dalam rumah iman kita. Ummat percaya semua adalah Anak Maryam, berarti Maryam adalah “Ibu Kaum Beriman”. Dan kaum beriman adalah “Gereja” karena menyatu dalam Tubuh Kristus yang satu, maka Maryam adalah “Ibu/Bunda Gereja”, sekaligus lambang dan detak jantung Gereja, meskipun bukan ”Kepala Gereja”, karena Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Karena sebagaimana Gereja itu adalah ”Perawan Suci” (2 Korintus 11:2) dan sekaligus ”Ibu/Bunda” (Galatia 4:26), maka Maryam-pun adalah ”Perawan Suci” dan ”Ibu/Bunda”.Ini makin nampak jelas pada hari Pentakosta (turunnya Roh Kudus, yang merupakan terbentuknya Gereja yang pertama), Bunda Maria ada bersama-sama para Rasul (Kis.1:14; 2). Maryam sebagai Ibu Kaum Beriman selalu bersama dengan para Rasul yang adalah gambaran dari Gereja/jemaat/kaum beriman. Itulah sebabnya sejak masa awal Gereja Purba, Maryam diberi gelar sebagai “Bunda Gereja” yaitu “Bunda Kaum Beriman”. Gelar-gelar lain yang diberikan para Bapa Gereja dan Gereja Orthodox Timur maupun Gereja Katolik Timur (gereja-gereja Uniat) untuk menghormati Bunda Maria diantaranya:

 “Aeiparthenos Maria” – “Forever virgin Mary”, ”Tetap Perawan”, “Selalu Perawan”.
 “Panaghia” (Παναγία) – ”All Holy”, ”Suci Kudus”, ”Suci Sempurna”.
 “Panagia Evangelistria” – “Our Lady of the good Tidings”, “Bunda dari Kabar Baik”. 
 ”Hyperhaghia Theotokos” – “Most Holy Mother of God”, ”Amat Sangat Suci”.
 ”Panagia Despoina” - ”Our Lady and Queen”, “Sang Bunda dan Ratu”
 “Akhrantos” – ”Tak Bercacat”, Tanpa Cela”, “Immaculata Post-Natum” tetapi bukan ”Immaculata Conceptio” (”Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal”).
 ”Hypereulogheemenee” – ”Amat Sangat Terpuji”, ”Amat Sangat Terberkati”.
 “Axion Esti” - “it is worthy to bless Thee, the Virgin” , “Sungguhlah patut dan benar memberkatimu, ya Sang Perawan Theotokos”
 ”Platytera Toon Ouranoon” – ”Lebih luas dari Sorga” atau ”Sorga Kedua” (1 Raja 8:27). 
 “Rodon to Amaranton” – “the Unfading Rose”, “Bunga Mawar Yang Tak Pernah Pudar” 
 ”Panagia Myrtidiotissa” – “the Most Holy Theotokos "Of the Myrtle Tree (Myrtidiotissa)", “Bunda Tersuci dari Pohon Myrtle (Myrtidiotissa)”.
 Kemudian “Perantara”, “Pelindung”, “Ratu Sorga”, ”Bunda Surgawi”, ”Ratu Para Malaikat”, “Ibu Pengampun”, ”Sukacita Segenap Dunia”, dan lain-lain.

REFERENSI

1. Arkhimandrit Rm. Daniel Bambang Dwi Byantoro. Bahan-bahan Katekisasi Gereja Orthodox Indonesia: Gereja Orthodox dan Ajaran-ajarannya: Sang Perawan Maryam. Jakarta. (Tahun?).

2. Frans Harjawiyata OCSO. Kehidupan Devosional Dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama 1993. 

3. Romo Arkhimandrit Dr. Daniel Bambang D.B. Ph.D. Bunda Maria, Devosi Kepadanya di dalam Gereja Katolik-Apostolik Orthodox Timur. Haghia Sophia Foundation. Jakarta. Indonesia. (Tahun?).

4. Dan lain-lain.