Showing posts with label catholic. Show all posts
Showing posts with label catholic. Show all posts

December 6, 2010

Asal-Usul Rosario

oleh: P. William P. Saunders *
Dalam pelajaran agama anak saya diajarkan bahwa Oktober adalah bulan rosario. Karena saya baru menjadi Katolik, dapatkah kiranya dijelaskan lebih lanjut mengenai asal-usul rosario?
~ seorang pembaca di Leesburg

Rosario adalah salah satu doa yang paling disukai dalam Gereja Katolik kita. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan, “Rosario adalah kitab bagi mereka yang buta, di mana jiwa-jiwa melihat dan di sana ditampilkan drama kasih teragung yang pernah dikenal dunia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang sederhana, yang menghantar mereka masuk ke dalam misteri-misteri dan pengetahuan yang lebih memuaskan hati dari pendidikan manusia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang lanjut usia, yang matanya tertutup terhadap bayang-bayang dunia ini dan terbuka pada dunia mendatang. Kuasa rosario melampaui kata-kata.”

Diawali dengan Kredo, Bapa Kami, tiga Salam Maria dan Doksologi (Kemuliaan), serta diakhiri dengan Salve Regina (Salam ya Ratu), rosario merupakan pendarasan lima misteri; masing-masing misteri terdiri dari Bapa Kami, 10 Salam Maria dan Doksologi. Selama mendaraskan rosario, kita merenungkan misteri-misteri penyelamatan dalam hidup Tuhan kita dan kesaksian iman Bunda Maria. Melalui peristiwa-peristiwa Gembira, Cahaya, Sedih dan Mulia dalam rosario, kita dihantar pada kenangan akan inkarnasi Tuhan kita, pewartaan-Nya di hadapan publik, sengsara dan wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, rosario membantu kita untuk bertumbuh dalam penghayatan yang lebih mendalam atas misteri-misteri ini, dalam mempersatukan hidup kita dengan lebih akrab pada Tuhan kita dan dalam memohon bantuan rahmat-Nya untuk mengamalkan iman. Kita juga memohon bantuan doa Bunda Maria, teladan iman, yang menghantar semua orang percaya kepada Putranya.

Asal-usul rosario agak “kabur”. Penggunaan “manik-manik” dan pendarasan doa yang diulang-ulang untuk membantu orang dalam meditasi berasal dari masa-masa awal Gereja dan telah ada bahkan pada masa-masa sebelum kekristenan. Didapati bukti-bukti dari Abad Pertengahan bahwa untaian manik-manik dipergunakan untuk membantu orang menghitung jumlah Bapa Kami atau Salam Maria yang didaraskan. Sesungguhnya, untaian manik-manik ini kemudian dikenal sebagai “Paternosters,” bahasa Latin untuk “Bapa kami”. Sebagai contoh, pada abad ke-12, guna membantu agar mereka yang kurang terpelajar dapat berpartisipasi lebih baik dalam liturgi, pendarasan 150 Bapa Kami dipakai untuk menggantikan 150 Mazmur, dan dikenal sebagai “brevir orang-orang sederhana”.

Struktur rosario perlahan-lahan berkembang antara abad ke-12 dan abad ke-15. Pada akhirnya 50 Salam Maria (atau lebih) didaraskan dan dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur atau ayat-ayat lain mengenangkan “sukacita Maria” dalam hidup Yesus dan Maria. Dominikus dari Prussia, seorang biarawan Carthusian, pada tahun 1409 mempopulerkan praktek mempertalikan 50 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 50 Salam Maria. Pada masa ini, bentuk doa ini dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”), sesungguhnya suatu istilah umum, yang berarti bunga rampai, yang dipergunakan untuk menyebut suatu kumpulan bahan yang serupa, misalnya suatu bunga rampai kisah-kisah dengan subyek atau tema yang sama. Pada akhirnya, ditambahkan juga “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”, sehingga jumlah Salam Maria menjadi 150. Dan akhirnya, ke-150 Salam Maria digabungkan dengan ke-150 Bapa Kami; satu Salam Maria sesudah satu Bapa Kami.

Pada awal abad ke-15, Henry Kalkar (wafat 1408), seorang biarawan Carthusian lainnya, membagi ke-150 Salam Maria ke dalam kelompok-kelompok; satu kelompok berisi 10 Salam Maria dengan diawali satu Bapa Kami. Pada abad ke-16, struktur lima misteri rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa - Peristiwa GEMBIRA (1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel; 2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya; 3. Yesus dilahirkan di Betlehem; 4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah; 5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah), Peristiwa SEDIH (1. Yesus berdoa kepada BapaNya di surga dalam sakrat maut; 2. Yesus didera; 3. Yesus dimahkotai duri; 4. Yesus memanggul salib-Nya; 5. Yesus wafat disalib) dan Peristiwa MULIA (1. Yesus bangkit dari kematian; 2. Yesus naik ke surga; 3. Roh Kudus turun atas para Rasul; 4. Maria diangkat ke surga; 5. Maria dimahkotai di surga). Pada tahun 2002, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menetapkan peristiwa CAHAYA (1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan; 2. Yesus menyatakan DiriNya dalam perjamuan nikah di Kana; 3. Yesus mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan; 4. Yesus dipermuliakan; 5. Yesus menetapkan Ekaristi). Juga, setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak secara umum ditambahkan pada akhir setiap misteri, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”

Menurut tradisi, St Dominikus (wafat 1221) menyusun rosario seperti yang kita kenal sekarang. Tergerak oleh suatu penampakan Bunda Maria, ia mewartakan penggunaan rosario dalam karya misionarisnya di antara kaum Albigensia, suatu kelompok bidaah yang fanatik. Albigensia berasal dari nama kota Albi di Perancis selatan di mana mereka tinggal; mereka percaya bahwa semua yang jasmaniah adalah jahat dan semua yang rohaniah adalah baik. Karenanya, mereka menyangkal inkarnasi Tuhan kita; bagi mereka, Yesus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia dan mengenakan kodrat manusiawi kita, sungguh tidak masuk akal. Menurut ajaran Albigensia, jiwa orang dianggap terbelenggu dalam tubuh yang jahat. Sebab itu, mereka berpantang kasih perkawinan dan prokreasi, sebab dianggap jahat membelenggu suatu jiwa lain dalam suatu raga. Tindakan religius mereka yang paling “luhur” disebut “endura,” suatu tindakan bunuh diri yang membebaskan jiwa dari raga. Mereka juga menentang otoritas manapun yang mewakili suatu kerajaan dunia ini, sebab itu mereka membantai para pejabat kerajaan dan para pejabat Gereja. Gereja mengutuk bidaah ini, dan St Dominikus berusaha mempertobatkan mereka melalui khotbah-khotbah yang logis dan kasih Kristiani sejati. Sayangnya, otoritas kerajaan tidak cukup berbelaskasih. (Sekedar tambahan, suatu siaran traveling menyiarkan di televisi suatu program traveling di Perancis selatan, dan mengunjungi kota Albi, mengatakan bahwa orang-orang di sana “dianiaya oleh Gereja”; narator program tersebut tidak menyebutkan bahwa orang-orang ini adalah bidaah bunuh diri yang ajarannya membahayakan jiwa-jiwa umat beriman.) Namun demikian, St Dominikus mempergunakan rosario sebagai suatu sarana ampuh untuk mempertobatkan kaum Albigensia.

Sebagian ilmuwan mengesampingkan peran aktual St Dominikus dalam terbentuknya rosario sebab kisah-kisah riwayat hidupnya yang ditulis lebih awal tidak menyebutkan hal itu, konstitusi Dominikan tidak menghubungkannya dengan hal tersebut, dan pelukis-pelukis pada masa St Dominikus tidak memasukkan rosario sebagai lambang yang menjadi ciri khas St Dominikus. Pada tahun 1922, Dom Louis Gougaud menyatakan, “Berbagai unsur yang ada dalam komposisi devosi Katolik yang umum disebut rosario merupakan hasil dari suatu perkembangan yang panjang dan perlahan yang dimulai sebelum masa St Dominikus, dan yang terus berlanjut tanpa ia ikut ambil bagian di dalamnya, dan yang akhirnya mendapati bentuk akhirnya beberapa abad setelah kematiannya.” Namun demikian, sebagian ilmuwan lain menyanggah pendapat bahwa St Dominikus tidak begitu terlibat dalam “menciptakan” rosario, sebab ia mewartakan penggunaannya untuk mempertobatkan para pendosa dan mereka yang telah menyimpang dari iman. Di samping itu, sekurangnya ada selusin paus yang menyebutkan hubungan antara St Dominikus dengan rosario dalam berbagai pernyataan kepausan, mendukung perannya setidak-tidaknya sebagai seorang “beriman yang saleh”. Dari antaranya, yang pertama-tama dinyatakan oleh Paus Alexander VI pada tahun 1495.

Rosario menjadi semakin populer pada tahun 1500-an, teristimewa melalui upaya Paus St Pius V. Pada waktu itu, kaum Muslim Turki menyerang Eropa Timur. Pada tahun 1453 Konstantinopel telah jatuh ke tangan Muslim, sementara Balkan dan Hungaria nyaris ditaklukkan. Pada tahun 1521 kaum Muslim berhasil menaklukkan Belgrade, Hungaria, dan pada tahun 1526 mereka telah berada di perbatasan Vienna, Austria. Dengan kaum Muslim menyerbu bahkan pesisir Italia, maka penguasaan atas Mediterania sekarang di ujung tanduk.

Pada bulan Februari 1570, utusan Turki menyampaikan ultimatum kepada Republik Venisia: menyerahkan kepulauan Siprus secara damai atau menghadapi perang. Venisia menolak, dan setelah berperang selama sebelas bulan, Siprus takluk pada kekuasaan Muslim pada tanggal 1 Agustus 1571. Syarat-syarat penyerahan diri ditetapkan demi keselamatan pasukan Kristen yang kalah. Tetapi, begitu komandan Muslim mengambil alih kuasa kota, ia memerintahkan agar komandan Kristen, Marcantonio Bragadin, dikuliti hidup-hidup. Tubuhnya kemudian dibelah menjadi empat, dan sayatan kulitnya diisi jerami dan seragamnya dikenakan padanya, lalu diseret sepanjang kota. Sekarang kaum Kristen tahu benar musuh macam apa yang tengah mereka hadapi.

Pada tahun 1571, Paus St Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria, sanak Raja Philip II dari Spanyol. Bala tentara dari Spanyol, Venisia, Roma, Savoy, Genoa, Lucca, Tuscany, Manova, Parma, Urbino, dan Ferrara, juga Malta membentuk suatu aliansi melawan Turki. (Menariknya, Perancis yang Katolik menolak bersatu dan bahkan mendanai pasukan Muslim Turki demi melemahkan musuh bebuyutan mereka, Jerman-Austria). Sementara persiapan dilakukan, Bapa Suci meminta segenap umat beriman untuk mendaraskan rosario dan memohon bantuan doa Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan,” memohon Tuhan menganugerahkan kemenangan kepada umat Kristiani.

Meski armada Muslim jauh melampaui armada Kristiani, baik dalam jumlah kapal-kapal perang maupun pasukan, kedua armada siap bertempur. Kapal pemimpin Kristen mengibarkan bendera biru dengan lukisan Kristus Tersalib, sementara bendera Muslim mencantumkan ayat-ayat dari Al Quran menyerukan jihad dan membasmi “orang-orang kafir”. Pada hari Minggu, 7 Oktober 1571, pukul 11 pagi, Pertempuran di Lepanto dimulai, dan dalam tempo lima jam, kaum Muslim dikalahkan. Siang itu, sementara Paus St Pius V tengah berada dalam suatu rapat, sekonyong-konyong beliau berdiri, menuju jendela, menatap ke luar ke arah pertempuran berlangsung bermil-mil jauhnya, dan mengatakan, “Marilah kita berhenti menyibukkan diri dengan masalah-masalah ini dan marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan. Armada Kristen telah meraih kemenangan.”

Tahun berikutnya, Paus St Pius V sebagai ungkapan syukur menetapkan Pesta Rosario Suci pada tanggal 7 Oktober di mana umat beriman tidak hanya mengenangkan kemenangan ini, melainkan juga terus menyampaikan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya dan mengenangkan kuasa perantaraan Bunda Maria kita. Bapa Suci juga secara resmi menganugerahkan gelar, “Auxilium Christianorum” atau “Pertolongan Orang-orang Kristen” pada Bunda Maria. Mejelis Tinggi Venesia juga mencantumkan pada sebilah papan dalam ruang pertemuan mereka, “Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”

Mengenangkan tindakan Paus Pius V, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dalam sebuah amanat Angelus yang disampaikan pada bulan Oktober 1983 mengatakan, “Rosario juga mengambil perspektif baru dan dibebani dengan intensi-intensi yang terlebih dahsyat dan terlebih banyak dari masa lalu. Sekarang bukan masalah memohon kemenangan besar, seperti di Lepanto dan di Vienna, melainkan memohon Maria untuk menyediakan bagi kita pejuang-pejuang yang gagah berani melawan roh kejahatan dan kesesatan, dengan senjata-senjata Injil, yakni Salib dan Sabda Allah. Doa Rosario adalah doa manusia untuk manusia. Rosario adalah doa solidaritas kemanusian, doa bersama orang-orang yang ditebus, dengan merefleksikan roh dan intensi dari dia yang pertama-tama ditebus, yakni Maria, Bunda dan Citra Gereja. Rosario adalah doa bagi segenap manusia di dunia dan dari sepanjang sejarah, yang hidup dan yang mati, yang dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus bersama kita dan bersama-sama kita menjadi ahli waris bersama dengan Dia dalam kemuliaan Bapa.”

Di masa-masa belakangan ini, rosario telah dijunjung tinggi dan dianjurkan sebagai suatu sarana yang efektif bagi pertumbuhan rohani. Banyak para kudus mendorong didaraskannya rosario, termasuk St Petrus Kanisius, St Filipus Neri dan St Louis de Montfort. Paus Leo XIII, yang kerap disebut “Paus Rosario”, berupaya memelihara tradisi doa ini, yang ditegaskannya sebagai suatu senjata rohani yang ampuh melawan kejahatan (Supremi Apostolatus Officio, 1884). Paus Pius XI pada tahun 1938 memberikan indulgensi penuh kepada barangsiapa yang mendaraskan rosario di depan Sakramen Mahakudus. Paus Beato Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI keduanya juga dikenal sebagai penganjur rosario yang gigih. Buku Pedoman Indulgensi (1969), yang mendapatkan persetujuan Paus Paulus VI, memberikan indulgensi penuh “jika rosario didaraskan di sebuah gereja atau suatu tempat doa umum, atau dalam suatu kelompok keluarga, suatu komunitas religius atau perkumpulan saleh….” (No. 48).

Yang paling akhir, untuk menandai diawalinya 25 tahun masa pontifikatnya, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, dimana beliau menetapkan Peristiwa Cahaya dan lagi, mendorong umat beriman untuk menggunakan rosario untuk “bersama Maria, merenungkan wajah Kristus.” Dengan mengesampingkan adanya gagasan bahwa rosario mengalihkan perhatian orang dari liturgi atau gagasan bahwa rosario merupakan penghalang bagi ekumene, Bapa Suci menegaskan, “Alasan paling kuat untuk mendesakkan pelaksanaan doa rosario adalah karena doa rosario merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan di kalangan kaum beriman komitmen untuk berkontemplasi pada misteri Kristiani; ini sudah saya usulkan dalam Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte sebagai `latihan kekudusan' yang sejati. `Kita memerlukan kehidupan Kristiani yang menonjol dalam seni berdoa.'” (No 5).

Sebab itu, rosario meupakan bagian dari sejarah rohani Gereja yang patut dijunjung tinggi. Rosario memampukan umat beriman untuk berpartisipasi dalam sejarah keselamatan yang hidup, mempersatukan kita secara lebih akrab dengan Juruselamat dan BundaNya yang Tesuci, dan dengan segenap Gereja. Rosario perlu menjadi bagian dari sejarah tiap-tiap individu dan tiap-tiap keluarga, sebab melalui doa rosario ikatan kasih diperteguh.

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Origins of the Rosary” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Katolik Ritus Timur

oleh: P. William P. Saunders *
“Theotokos”, Icon painted by Jesuit Fr. William Hart Nichols


Seperti kebanyakan umat Katolik Ritus Latin, saya tidak seberapa tahu mengenai Gereja Ritus Timur. Apakah perbedaan di antara kedua ritus? Dapatkah umat Katolik Ritus Latin memenuhi kewajiban hari Minggu dengan ikut ambil bagian dalam perayaan Misa Ritus Timur? Dapatkah umat Katolik Ritus Latin menyambut Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi Katolik Ritus Timur? Apakah Gereja Katolik Ritus Timur sama dengan Gereja Orthodox?

Katolik Ritus Timur merupakan bagian dari Gereja Katolik Roma, bukan Gereja Orthodox. Sementara mayoritas umat Katolik Roma termasuk dalam Ritus Latin, Ritus Timur memberikan suatu dimensi istimewa pada warisan dan spiritualitas Katolik. Dekrit tentang Gereja-gereja Timur Katolik dari Konsili Vatican Kedua menekankan, “Gereja Katolik sangat menghargai lembaga-lembaga, upacara-upacara liturgi, tradisi-tradisi gerejawi dan tata-laksana hidup kristen dalam Gereja-gereja Timur. Sebab semuanya itu mempunyai keunggulan sebagai warisan zaman kuno yang terhormat, menampilkan tradisi yang melalui para Bapa Gereja berasal dari para Rasul dan merupakan sebagian dalam pusaka perwahyuan ilahi, yang utuh-utuh diserahkan kepada Gereja semesta” (No. 1).

Guna menghargai Gereja-gereja Timur dan ritus mereka, pertama-tama haruslah kita memeriksa sejarah Gereja perdana. Pada saat Kenaikan-Nya ke Surga, Yesus memberikan perintah kepada para rasul, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20). Setelah Pentakosta, para rasul, penuh dengan karunia Roh Kudus, menyampaikan pesan Injil ke segenap penjuru dunia ke negeri-negeri yang tak dikenal dan pada bangsa-bangsa asing. Tradisi meyakini para rasul menjelajah hingga ke Spanyol di Barat dan India di Timur. Dari dasar yang mereka bangun, Gereja terus berkembang luas kendati penganiayaan oleh Kekaisaran Romawi.

Patut dicamkan juga bahwa Kekaisaran Romawi pada waktu itu meliputi sebagian besar Eropa barat, sebagian Eropa timur, Asia Kecil, Palestina dan Afrika utara. Meski bangsa Romawi adalah penjajah yang kejam, namun mereka menghormati dan menoleransi budaya dan tradisi warga demi menjamin keadaan damai. Guna memimpin kekaisaran yang berkembang pesat ini dengan lebih efisien, Kaisar Diocletian (berkuasa antara tahun 285-305) pada tahun 292 membagi kekaisaran menjadi dua bagian besar: Roma and Byzantium [= nama kuno untuk Konstantinopel], dengan empat gubernuran. Ketika Kaisar Konstantin berkuasa, ia mensahkan kekristenan pada tahun 312 dengan Maklumat Milan, dan kemudian pada tahun 330 menetapkan kota Konstantinopel sebagai ibukota Kekaisaran Romawi bagian timur. Sejak saat itu, kekaisaran sungguh dipandang sebagai dua bagian - Barat dan Timur. Bagian Timur amat dipengaruhi oleh budaya Hellenistic yang diperkenalkan oleh Alexander Agung pada abad keempat sebelum Tuhan kita. Pada akhirnya, Konstantin menjadikan Konstantinopel sebagai tempat kediaman dan pusat pemerintahan, dan kota ini disebut “Roma Baru”.

Dalam kerangka inilah Gereja berkembang. Pusat-pusat dominan Kekristenan perlahan-lahan berkembang: Yerusalem, “tempat kelahiran” Kekristenan; Roma, Keuskupan St Petrus dan “rumah pusat” Gereja; Antiokhia, di Asia Kecil di mana umat Kristen pertama kalinya disebut “Kristen”; Alexandria, Mesir; dan Konstantinopel, masa sekarang disebut Istanbul, Turki. Masing-masing komunitas ini mengakui iman yang sama dan dipersatukan bersama sebagai satu Gereja. Sementara uskup-uskup dari pusat-pusat dominan ini ditetapkan dan mentahbiskan uskup-uskup lain untuk memimpin Gereja yang berkembang, hierarki tetap menjunjung tinggi otoritas Bapa Suci, Penerus St Petrus.

Teristimewa, ketika membandingkan Barat dengan Timur, perbedaan-perbedaan budaya dan bahasa mempengaruhi ungkapan iman meski unsur-unsur pentingnya tetap sama. Sebagai misal, Pembaptisan selalu menyangkut seruan kepada Tritunggal Mahakudus dan pencurahan atau pembenaman ke dalam air, namun, doa-doa partikular atau kebiasaan-kebiasaan liturgis yang berbeda diperkenalkan di wilayah-wilayah yang berbeda. Untuk Misa, Barat mempergunakan roti tak beragi sementara roti beragi lebih merupakan norma Timur. Misa disebut “Kurban Kudus Misa” atau singkatnya “Misa” di Barat dan “Liturgi Ilahi” atau singkatnya “Liturgi” di Timur. Di Barat, umat beriman genuflect (menekuk satu lutut) di hadapan Sakramen Mahakudus, sementara di Timur umat beriman membungkuk hormat. Di Timur, Sakramen-sakramen Baptis, Komuni Kudus dan Krisma diterimakan bersamaan, sementara di Barat, sakramen-sakramen ini perlahan-lahan dipisahkan dan diterimakan kepada seorang sementara ia tumbuh dewasa. Perbedaan lainnya dalam budaya religi adalah penggunaan patung-patung di Barat sebagai pengingat yang kelihatan guna mengilhami devosi kepada Tuhan, Bunda Maria atau para kudus, sementara penghormatan ikon berkembang di Timur. Tradisi-tradisi yang berbeda ini berkembang dan tetap ada hingga sekarang, namun semuanya itu merefleksikan keindahan kedalaman Katolik Roma.


Patriark

Dengan semakin stabilnya hierarki Gereja, diakui juga peran Patriark. Seorang Patriark memiliki martabat gerejani tertinggi sesudah Paus dan memiliki yurisdiksi atas suatu wilayah tertentu. Istilah Patriark berasal dari kata Yunani untuk para pemimpin keduabelas suku Israel. Tepatnya, “Yang disebut Patriark Timur ialah uskup, yang mempunyai yurisdiksi atas semua uskup, tidak terkecuali uskup metropolit, atas klerus dan umat wilayah atau ritusnya sendiri, menurut norma hukum dan tanpa mengurangi primat Paus di Roma. (“Dekrit tentang Gereja-gereja Timur Katolik,” No. 7). Sebab itu, seorang patriark (= batrik) adalah bapa dan kepala patriarkatnya.

Hukum kanon versi paling kuno dalam Gereja mengidentifikasi adanya tiga patriark: Uskup Roma, Alexandria dan Antiokhia. Masing-masing patriark memimpin suatu wilayah Gereja. Patriark Roma memimpin seluruh Gereja di Barat; Patriark Alexandria memimpin wilayah Mesir dan Palestina; dan Patriark Antiokhia memimpin wilayah Antiokhia, Siria, Asia Kecil, Yunani dan sisanya di Timur. Ketiga patriarkat ini diakui memiliki tempat tertinggi di kalangan para uskup menurut Konsili Nicea pada tahun 325.

Dengan semakin meningkatnya jumlah peziarah ke Tanah Suci, Uskup Yerusalem menerima kehormatan yang lebih besar. Konsili Kalsedon pada tahun 451 mengambil wilayah Palestina dan Arabia dari Antiokhia dan lalu membentuk Patriarkat Yerusalem.

Karena Konstantin telah menjadikan Konstantinopel sebagai ibukota Kekaisaran Romawi di Timur dan menyebutnya “Roma Baru”, maka Konsili Kalsedon (tahun 451) pada akhirnya mengangkatnya sebagai suatu patriarkat dengan yurisdiksi atas wilayah-wilayah Asia Kecil dan Thrace. Sehingga, Urutan Baru Patriark dari atas ke bawah menjadi: Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Patut diingat bahwa para patriark dianggap setara kedudukannya meski mereka mungkin memiliki kehormatan yang lebih tinggi. Di samping itu, sekedar untuk menggarisbawahi suatu point yang penting, meski Uskup Roma adalah seorang patriark, sebagai paus, ia memiliki otoritas tertinggi dan memimpin seluruh Gereja.

Berdasarkan sejarah di atas, perbedaan-perbedaan dalam budaya, bahasa dan praktek-praktek liturgis, dan hierarki yang ditetapkan di bawah patriark, muncul kehadiran jelas dari “ritus-ritus” yang ditetapkan. Ritus pada dasarnya menunjuk pada kelompok-kelompok umat beriman yang memiliki tata cara yang sama dalam melaksanakan ibadat sembah sujud kepada Tuhan dan pengudusan umat beriman. Kepala rohani dari ritus adalah patriark, yang berada di bawah yurisdiksi paus.

Pada abad kelima, serangan-serangan bangsa barbar melumpuhkan Kekaisaran Romawi bagian barat. Roma sendiri mengalami kemunduran dalam statusnya. Meski paus masih seorang Uskup Roma, konsili-konsili besar awali Gereja semuanya diadakan di kota-kota timur - Nicea, Konstantinopel, Efesus dan Kalsedon. Suatu persaingan atas kekuasaan, otoritas dan wibawa berkembang di antara paus, uskup Roma dan patriark Konstantinopel. Dari sudut pandang patriark, karena Roma telah merosot statusnya dan karena Konstantinopel sekarang adalah ibu kota yang berkembang dari Kekaisan Romawi (atau apa yang tinggal darinya), ia beranggapan bahwa dialah yang seharusnya diakui sebagai kepala Gereja - artinya, “Roma Baru” harusnya menjadi kediaman paus. Dari sudut pandang Paus, dialah penerus St Petrus, Uskup Roma, yang memegang kunci Kerajaan. Masalah-masalah teologis juga menjadi subyek perdebatan, teristimewa penambahan klausa filioque pada Kredo, yakni bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Singkat cerita, ketegangan-ketegangan yang memuncak ini akhirnya meledak pada tahun 1054 ketika keduanya, patriark dan paus, menerbitkan bulla ekskomunikasi satu sama lain.

Gereja Timur sekarang secara resmi ada dalam skisma dengan Gereja Barat. Meski mereka mengakui paus sebagai penerus St Petrus, mereka menolak otoritasnya yang mengikat atas seluruh Gereja dan menganggap paus sekedar sebagai “yang terutama di kalangan yang setara.” Menolak persatuan dengan Roma, Gereja-gereja ini mengidentifikasi diri sebagai Orthodox. Patriark Konstantinopel diakui sebagai pemimpin rohani Gereja-gereja Orthodox, namun demikian ia tidak memiliki otoritas yurisdiksi apapun atas mereka, tekecuali atas patriarkatnya sendiri. (Patut dicatat bahwa Gereja Katolik Ritus Maronit yang patriarknya tinggal di Lebanon tidak pernah memutus hubungan dengan Roma.) Seiring berjalannya waktu, Gereja Katolik Roma diidentifikasikan dengan Misa Latin dan setia kepada Bapa Suci; sementara Gereja-gereja Orthodox diidentifikasikan dengan Ritus-ritus Timur dan komunitas-komunitas etnik tertentu, misalnya Gereja Orthodox Yunani dan Gereja Orthodox Serbia.

Upaya-upaya dilakukan untuk mempersatukan kembali Gereja-gereja Orthodox ini dengan Gereja Katolik Roma. Dalam Konsili Florence (1438-1445) yang dihadiri baik oleh Kaisar Yohanes VIII dan Patriark Yosef II dari Konstantinopel, pertanyaan-pertanyaan teologis diperdebatkan. Gereja-gereja Orthodox Timur setuju untuk menerima ajaran bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra, meski mereka tidak diminta untuk menambahkan frasa ini dalam Kredo. Sementara perjanjian ditandatangani dan Gereja-gereja secara resmi bersatu kembali, suatu bagian besar dari klerus biarawan meremehkan tindakan ini. Di samping itu, ketika Muslim menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, Sultan Mohammed II menunjuk Gennadios II sebagai Patriark Konstantinopel, yang pada gilirannya menolak dekrit-dekrit Konsili Florence. Sekali lagi, kedua Gereja secara resmi ada dalam skisma. Dominasi Islam atas wilayah Timur menjadikan persatuan kembali di masa mendatang nyaris mustahil.

Pada tahun 1596, persatuan kembali yang gemilang pertama terjadi antara Orthodox Ruthenian dan Gereja Katolik Roma di Polandia dengan Union of Brest. Persatuan-persatuan kembali lainnya menyusul. Persatuan kembali yang paling akhir terjadi menyangkut Gereja Malankar, yang menelusuri asal-muasalnya dari Rasul St Tomas; pada tahun 1930, Uskup Ivanios, dua uskup lainnya, seorang imam, seorang diakon, dan seorang awam dipersatukan kembali dengan Gereja Katolik dan lahirlah Gereja Katolik Ritus Malankar. Gereja Katolik Ritus-ritus Timur yang dipersatukan kembali ini, terkecuali Ritus Maronit, semuanya memiliki padanannya yang masih tinggal dalam Gereja-gereja Orthodox.

Konsili Vatican Kedua dalam “Dekrit tentang Gereja-gereja Timur Katolik” memaklumkan, “Gereja Katolik yang kudus, Tubuh Mistik Kristus, ialah umat beriman yang dipersatukan secara laras-serasi karena iman yang sama, sakramen-sakramen yang sama, dan kepemimpinan yang sama dalam Roh Kudus. Umat itu merupakan perpaduan pelbagai golongan yang tergabung di bawah bimbingan hirarki, yang terhimpun sebagai Gereja-Gereja khusus atau Ritus-Ritus. Antara Gereja-gereja itu ada persekutuan yang mengagumkan, sehingga kemacam-ragaman dalam Gereja bukannya merugikan kesatuannya, melainkan justru mengungkapkannya. Gereja Katolik memang menghendaki, agar tradisi-tradisi masing-masing Gereja khusus atau Ritus tetap utuh dan lestari. Lagi pula Gereja hendak menyesuaikan peri-hidupnya dengan bermacam-macam kebutuhan setempat dan semasa” (No. 2). Meski Ritus-ritus Timur ini berbeda dari Ritus Barat atau Latin dalam “ritus” dan liturgi, disiplin gerejani dan Hukum Kanon dan tradisi-tradisi rohani, mereka sepenuhnya bagian dari Gereja Katolik Roma di bawah kepemimpinan dan pemeliharaan pastoral paus, penerus St Petrus.


Ritus-Ritus Timur Sekarang

Pada masa sekarang, beragam Ritus Timur diorganisir di bawah empat patriarkat timur. (Informasi berikut ini diperoleh dari Catholic Almanac.)

Ritus Alexandria yang secara resmi disebut Liturgi St Markus. (Seturut tradisi St Markus adalah uskup pertama Alexandria.) Liturgi mereka sekarang mengandung unsur-unsur Ritus Byzantium St Basilus dan liturgi-liturgi St Markus, St Cyrilus, dan St Gregorius Nazianzen. Ritus induk ini meliputi Ritus Koptik dan Ritus Ge'ez. Ritus Koptik, yang terutama ada di Mesir, dipersatukan kembali dengan Roma pada tahun 1741 dan mempergunakan bahasa Koptik and Arab dalam liturginya. Ritus Ge'ez, berpusat terutama di Ethiopia, Yerusalem, dan Somalia, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1846 dan mempergunakan bahasa Ge'ez dalam liturgi mereka.

Ritus Antiokhia adalah Liturgi St Yakobus dari Yerusalem. Ritus induknya meliputi ritus-ritus berikut: Ritus Malankar yang ada di India, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1930, dan mempergunakan bahasa Syria dan Malayalam dalam liturginya.

Ritus Maronit, terutama berada di Lebanon, Cyrpus, Mesir, dan Syria tetapi juga dengan populasi besar umat beriman di Amerika Serikat, Argentina, Brazil, Australia, dan Kanada, senantiasa bersatu dengan Roma sejak masa pendirinya St Maron, dan mempergunakan bahasa Syria dan Arab dalam liturginya.

Ritus Syria terutama ada di Lebanon, Irak, Mesir dan Syria, dengan komunitas yang subur di Asia, Afrika, Australia, dan Amerika Utara dan Selatan, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1781, mempergunakan bahasa Syria dan Arab dalam liturginya.

Ritus Armenia, secara teknis merupakan suatu ritus yang berbeda, berasal dari Ritus Antiokhia dan merupakan bentuk kuno dari Ritus Byzantium. Meski mempergunakan bahasa yang berbeda, ritus ini secara teknis disebut Liturgi Yunani St Basilus. Ritus ini memiliki yurisdiksi terutama di Lebanon, Iran, Irak, Mesir, Syria, Turki, Ukraine, Perancis, Yunani, Romania, Armenia, Argentina dan Amerika Serikat. Ritus Armenia bersatu kembali dengan Roma pada masa Perang Salib, dan bahasa liturgisnya adalah Armenia Klasik.

Ritus Khaldea, juga secara teknis merupakan suatu ritus yang berbeda, juga berasal dari Ritus Antiokhia. Ritus ini juga dibagi menjadi dua ritus: Ritus Khaldea, terutama ada di Irak, Iran, Lebanon, Mesir, Syria, Turki dan Amerika Serikat, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1692, dan mempergunakan bahasa Syria dan Arabi dalam liturginya. Ritus Syro-Malabar, ada di India, memaklumkan diri berasal dari St Thomas Rasul, dan mempergunakan bahasa Syria dan Malayalam dalam liturgi. Meski Ritus Syro-Malabar tidak pernah secara resmi berada dalam skisma, namun selama berabad-abad tidak terjalin komunikasi antara mereka dengan Roma hingga masa missionaris pada tahun 1500-an.

Ritus Byzantium, Ritus Timur yang terbesar, berdasarkan Ritus St Yakobus dari Yerusalem dengan pembaharuan di kemudian hari oleh St Basilus dan St Yohanes Krisostomus. Ritus-ritus ini menggunakan Liturgi St Yohanes Krisostomus. Ritus induk ini terdiri dari banyak ritus, yang amat berorientasi pada etnik. Ritus Albania, berpusat di Albania, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1628 dan mempergunakan bahasa Albania sebagai bahasa liturginya. Ritus Belarussia (sebelumnya bernama Byelorussia), berpusat di Belarussia dengan populasi besar di Eropa, Amerika Utara dan Selatan, dan Australia, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1600-an dan mempergunakan bahasa Slavonic kuno sebagai bahasa liturginya. Ritus Bulgaria, berpusat di Bulgaria, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1861 dan mempergunakan bahasa Slavonic kuno sebagai bahasa liturginya. Ritus Croatia, pusatnya terutama di Croatia dengan populasi besar di Amerika Serikat, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1611 dan mempergunakan bahasa Slavonic kuno sebagai bahasa liturginya. Ritus Yunani, yang berpusat di Yunani dan Turki dengan jemaat juga di Asia Kecil dan Eropa, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1829 dan mempergunakan bahasa Yunani dalam liturginya. Ritus Hungaria, berada di Hungaria dengan populasi besar tersebar di Eropa dan Amerika Utara dan Selatan, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1646 dan mempergunakan bahasa Yunani, Hungaria dan Inggris dalam liturginya. Ritus Italo-Albania, terutama di Italia dengan jemaat di Amerika Utara dan Selatan, tidak pernah terpisah dari Roma dan mempergunakan bahasa Yunani dan Italo-Albania dalam liturginya. Ritus Romania, berpusat di Romania dengan populasi besar di Amerika Serikat, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1697 dan mempergunakan bahasa Romania modern dalam liturginya; pada tahun 1948, mereka dipaksa bergabung dengan Gereja Orthodox Romania di Romania, tetapi sejak tumbangnya komunisme, Ritus Romania Katolik mendapatkan kembali kemerdekaannya. Ritus Russia, terutama ada di Russia dan Cina dengan jemaat di Eropa, Australia, dan Amerika Utara dan Selatan, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1905 dan mempergunakan bahasa Slavonic kuno sebagai bahasa liturginya. Ritus Georgia, berpusat di bekas Republik Georgia Soviet, bersatu kembali dengan Roma pada tahun 1329, memutuskan hubungan dengan Roma pada tahun 1507, dan kemudian pada tahun 1917 memutuskan hubungan dengan Gereja Orthodox Russia dan lagi bersatu kembali dengan Roma sebagai Ritus Byzantium Georgia, dan sejak itu berjuang untuk bertahan hidup, teristimewa selama penindasan Komunis; mempergunakan bahasa Georgia dalam liturginya. Ritus Slovak berpusat di Slovakia, Republik Czech dan Kanada, dan mempergunakan bahasa Slavonic kuno dalam liturginya.

Tiga yang terbesar dari Ritus Byzantium adalah Melkite, Ruthenia dan Ukrainia. Ritus Melkite memiliki jemaat yang kuat di Syria, Lebanon, Yordan, Israel, Amerika Serikat, Brazil, Venezuela, Kanada, Australia, dan Mexico. Ritus Melkite bersatu kembali dengan Roma pada masa Perang Salib tetapi karena hambatan dan rintangan akibat pendudukan Muslim, secara lebih resmi bersatu kembali pada awal 1700-an dan mempergunakan bahasa Yunani, Arab, Inggris, Portugis dan Spanyol dalam liturginya.

Ritus Ruthenia atau Carpatho-Russia berpusat di Ukraine dan di Amerika Serikat dengan jemaat yang kuat di Ukraine, Amerika Serikat, Hungaria, Slovakia, Republik Czech, Australia, dan Amerika Utara dan Selatan. Ruthenia bersatu kembali dengan Roma dalam Union of Brest-Litovsk pada tahun 1596 dan Union of Uzhorod pada tahun 1646. Mereka mempergunakan bahasa Slavonic kuno dan Inggris dalam liturginya.

Terakhir, Ritus Ukrainia memiliki jemaat besar di Ukraine, Polandia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, Jerman, Perancis, Brazil dan Argentina. Ukrainia bersatu kembali dengan Roma sekitar tahun 1595. Akan tetapi, Stalin memaksa Katolik Ritus Ukrainia bergabung dengan Gereja Orthodox Russia pada tahun 1943, namun sejak kemerdekaan Ukraine, mereka bersatu kembali dengan Roma. Ritus ini mempergunakan bahasa Slavonic kuno dan Ukrainia dalam liturginya.

Segenap umat Katolik Roma dipersilakan ikut ambil bagian dalam Liturgi Ilahi yang dirayakan Gereja-gereja Ritus Timur ini (dan sungguh menunaikan kewajiban hari Minggu) dan diperkenankan menyambut Komuni Kudus. Namun demikian, Hukum Kanon Partikular mengatur perkawinan antara seorang Katolik Ritus Latin dengan seorang Katolik Ritus Timur. Pada intinya, semua ritus ini mengingatkan kita akan universalitas Gereja Katolik Roma kita dan kekayaan tradisi liturgi yang kita miliki sebagai umat Katolik.


Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Eastern Rite Church” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2000 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

December 5, 2010

Jenazah yang Tak Rusak


oleh: P. William P. Saunders *

Jenazah Beato Paus Yohanes XXIII

Herald edisi 29 Maret 2001 melaporkan bahwa jenazah Paus Yohanes XXIII tidak mengalami kerusakan, tetapi kemudian timbul perdebatan mengenai apakah hal ini merupakan tanda kekudusannya atau hanya sekedar akibat metode pengawetan biasa. Dapatkah dijelaskan lebih lanjut mengenai hal ini?
~ seorang pembaca di Alexandria

Pada tanggal 16 Januari 2001, Kardinal Sodano, Sekretaris Negara Tahta Suci; Kardinal Noe, Imam Agung Basilika St Petrus; dan Leonardo Sandri, membuka makam Beato Paus Yohanes XXIII yang dibeatifikasi pada tanggal 3 September 2000. (Beliau wafat pada tanggal 3 Juni 1962.) Identifikasi jenazah merupakan bagian dari prosedur normal kanonisasi. Jenazah B Paus Yohanes XXIII hendak dipindahkan dari makam yang sekarang di ruang bawah tanah St Petrus ke suatu makam baru di atas, dalam basilika itu sendiri, di altar yang dipersembahkan demi menghormati St Hieronimus. Paus Yohanes Paulus II menginstruksikan pemindahan tersebut guna menegaskan kekudusan paus pendahulunya itu dan guna memungkinkan umat beriman dapat lebih mudah menghormatinya.

Ketika peti jenazah dibuka, Kardinal Noe mengatakan bahwa wajah B Paus Yohanes XXIII tampak “utuh dan damai”. Laporan resmi menyatakan, “Begitu kain selubung dibuka, wajah beato tampak utuh, dengan kedua mata tertutup dan mulut sedikit terbuka, dengan roman muka yang segera mengingatkan orang pada penampilan familiar paus yang dihormati itu.” Kedua tangan Bapa Suci, yang masih menggenggam sebuah rosario, juga masih utuh.

Pemeriksaan yang demikian merupakan langkah penting yang perlu dilakukan dalam proses kanonisasi. Kardinal Prospero Lambertini (yang dikemudian hari menjadi Paus Benediktus XIV, 1675-1758) menulis lima jilid buku berjudul De Beatificatione Servorum Dei et de Beatorum Canonizatione di mana ia menuliskan dua bab, De Cadaverum Incorruptione. Karya ini tetap merupakan referensi klasik dalam perkara demikian. Jenazah yang tak rusak merupakan sesuatu yang luar biasa dan karenanya jenazah yang tidak mengalami proses pengawetan, namun tetap mempertahankan rona, kesegaran dan kelenturan seolah hidup setelah bertahun-tahun kematian, merupakan suatu mukjizat. Secara spiritualitas, tanda demikian merupakan indikasi bahwa jenazah orang tersebut dipersiapkan untuk kebangkitan tubuh dengan mulia.

Bersamaan dengan incorruptibilitas (= keadaan jenazah yang tak rusak) adalah tanda “harum surgawi”, suatu fenomena di mana jenazah atau makam seorang kudus memancarkan bau harum semerbak. Dalam Perjanjian Lama, bau wangi-wangian dipergunakan untuk menyatakan bahwa seseorang berkenan kepada Allah dan kudus dalam pandangan-Nya. Biasanya, bau harum ini khas dan tak dapat diperbandingkan dengan wangi-wangian apapun. Kardinal Lambertini mengatakan bahwa dalam kasus tubuh yang mati, nyaris tak mungkin ia tidak memancarkan bau busuk, lebih tak masuk akal lagi jika jenazah memancarkan bau harum. Sebab itu, bau harum yang terpancar tersebut pastilah berasal dari suatu kuasa adikodrati dan karenanya dianggap sebagai mukjizat. Walau demikian, perlu dicatat, bahwa iblis pun dapat membuat “bau harum mewangi”; jadi tanda ini harus dipertalikan dan didukung dengan kekudusan hidup orang yang meninggal tersebut secara keseluruhan.

Dalam mempertimbangkan fenomena ini, faktor-faktor lain harus diperhitungkan juga. Sebagai contoh, jenazah Beato Paus Yohanes XXIII ditempatkan dalam suatu peti pualam yang terdiri dari tiga peti - satu dari kayu oak, satu dari timah dan satu dari cypress (semacam kayu cemara). Walau jenazahnya tidak diawetkan, namun jenazah telah disemprot dengan bahan-bahan kimia agar dapat dipertontonkan sebelum dimakamkan. Nazareno Gabrielli, seorang tenaga ahli dari Vatican Museums, mengatakan, “Ketika beliau wafat, diambil langkah-langkah agar jenazah dapat dipertontonkan untuk dihormati oleh umat beriman. Jangan dilupakan juga bahwa jenazah dimasukkan dalam tiga peti, di mana salah satunya disegel dengan timah.” Sebab itu, kemungkinan sedikit oksigen menembus ke dalam peti mati dan mempengaruhi jenazah. (Setelah jenazah diperiksa secara resmi, jenazah disemprot dengan bahan anti-bakteri, dan peti disegel kedap udara).

Pada pokoknya, jenazah yang tak rusak merupakan tanda kekudusan hidup seseorang. Jenazah St Bernadette Soubirous (1844-1879) danSt Katarina Laboure (1806-1876) juga tetap tak rusak hingga kini, walau jenazah mereka tidak diawetkan dan tidak terlindung dari berbagai macam unsur selama bertahun-tahun sebelum makam mereka digali kembali. Karenanya, orang dapat melihat dengan pasti bagaimana tangan Tuhan bekerja dalam memelihara jenazah Beato Paus Yohanes XXIII; juga yang mengagumkan adalah bagaimana beliau melewatkan masa hidupnya dengan hidup kudus.

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: The Debate Over Incorruptibility” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

St. Vinsentius de Paul  (1580-1660)
St. Anna Maria Taigi (1769-1837)
B. Stefanus Bellesini (1774-1840)
St. Paus Pius X (1835-1914)
B. Paus Yohanes XXIII (1958-1963)
St. Ignatius Laconi (1701-1781)
St. Klara Montefalco (1268-1308)
St. Veronica Guiliani (1660-1727)
Venerabilis Maria dari Agreda (1602-1665)

June 6, 2010

Rangkuman Seminar Sehari Peran dan Kedudukan Bunda Maria

          Pada Hari Minggu 30 Mei 2010 lalu, Komunitas Maria Bunda Pewarta dan Sie Kerasulan Kitab Suci Paroki St. Yoseph Matraman menyelenggarakan sebuah seminar sehari tentang Peran dan Kedudukan Bunda Maria dari 3 sudut pandang agama-agama semitik yaitu Katolik, Protestan dan Islam. Acara dilaksanakan di Aula Besar Gereja Katedral Jakarta mulai pukul 9.30 pagi dan diakhiri oleh Misa Kudus pukul 15.00 WIB. Acara ini terbilang sukses dari sisi partisipasi karena pada awalnya direncanakan cuma untuk 500 peserta saja namun yang datang pada hari H lebih dari 500 orang.
          Acara dibuka oleh moderator yaitu Mas Arswendo Atmowiloto dengan gaya bertuturnya yang khas dan penuh humor sehingga peserta menjadi tertarik untuk mengikuti acara ini. Nara sumber seminar ini adalah Romo Pidyarto Gunawan mewakili Katolik, Pendeta Yerry Tawalujan dan Bapak Bunyamin Sutandhi mewakili Protestan serta KH Jalaluddin Rakhmat mewakili Islam Syiah. Pada saat acara dimulai, KH Jalaludding RakhmatKang Jalal begitu sapaannya, terlambat datang dan baru tiba sekitar 15 menit setelah acara dimulai.
          Pembicara pertama adalah Bapak Bunyamin Sutandhi, seorang pria berumur 69 tahun yang merupakan seorang penginjil. Beliau mengatakan bahwa Maria adalah penggenapan nubuat dari Nabi Yesaya. Bahwa semua nubuat dalam Al Kitab telah digenapi oleh Allah kecuali bahwa Yesus datang lagi ke dunia untuk kedua kalinya pada akhir zaman untuk menjadi hakim bagi semua orang.
          Kang Jalal menjadi pembicara kedua dalam acara tersebut. Kang Jalal memulai materinya dengan mengatakan bahwa satu-satunya surat dalam Al Quran yang diberi judul dengan nama perempuan adalah Surah Maryam. Surah ini termasuk surah Makkiyah karena turun di Mekkah pada awal-awal tahun kenabian Muhammad SAW. Kang Jalal juga menceritakan sebuah kitab hadits tentang bagaimana keponakan Nabi―Ja’far bin Abi Thalib yang melakukan pelarian ke negri Habsyi (Ethiopia) yang memeluk agama Nasrani untuk meminta suaka politik karena mereka dikejar-kejar dan dimusuhi oleh orang-orang Quraisy di Mekkah.
Bahkan mereka mengutus 2 orang diplomat ulung kaum Quraisy yaitu Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah kepada Raja Habsyi yaitu Najasyi untuk meminta Ja’far dikembalikan/ekstradisi ke Mekkah. Mereka memfitnah Ja’far dan rombongannya adalah para penjahat yang melarikan diri karena telah keluar dari agama nenek moyang kaum Quraisy dan tidak juga masuk ke dalam agama Nasrani yang dianut negeri Habsyi.
Namun permintaan ekstradisi itu ditolak manakala Ja’far membacakan Surah Maryam 1-4 yang membuat Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya. Najasyi mengatakan bahwa agama yang dibawa nabinya Ja’far dan agama yang dibawa oleh Isa Al Masih berasal dari satu sumber. Akhirnya Ja’far bin Abi Thalib beserta istri dan rombongan dapat tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi selama sepuluh tahun. Mereka juga diberikan kebebasan melaksakan ibadah mereka tanpa ada gangguan dan paksaan dari orang lain.
Kang Jalal menyambung dengan mengatakan bahwa Maryam disebut 34 kali dalam Al Quran, lebih banyak dari Maria disebutkan dalam Alkitab. Maryam juga termasuk dalam empat penghulu perempuan di seluruh alam yaitu Maryam, Asiyah bint Mazahim, Khadijah serta Fatimah bint Muhammad SAW. Kang Jalal juga mengatakan bahwa Allah telah memilih Maryam di antara perempuan-perempuan lain seperti yang tertulis pada Ali Imran 42.
Dalam sesi tanya jawab Kang Jalal juga menceritakan beberapa paralelisme tradisi Islam Syiah dengan tradisi Katolik seperti pemilihan Kalifah langsung oleh Nabi Muhammad SAW seperti ketika Yesus memilih Petrus sebagai penerusnya secara langsung untuk melanjutkan kepemimpinannya. Kang Jalal juga menceritakan bahwa pada Islam Syiah juga ada tradisi berdoa melalui perantara orang-orang suci dan di Mesir, mereka berdoa di tempat yang sama dengan umat Kristen Orthodox Koptik yang berdoa di depan patung Bunda Maria.
          Berikutnya, Pendeta Yerry Tawalujan tampil sebagai pembicara ketiga.  Sebelum membahas topik seminar, Pendeta Yerry menekan 4 hal yang diharapkan dapat menjadi pegangan bersama para peserta seminar yaitu:
-          Pemahaman tentang Peran dan Kedudukan Bunda Maria dari sudut pandang Katolik, Protestan dan Islam tentu tidak akan serupa, pasti berbeda (dan bahkan bisa bertentangan) dan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi serupa.
-          Namun pastilah juga ada persamaan-persamaan yang bisa diterima bersama guna membangun komunikasi dan mempererat ikatan kasih dengan menghargai dan menerima perbedaan-perbedaan pandangan itu.
-          Masing-masing pihak telah mempunyai pemahaman sendiri tentang Bunda Maria dan pembahasan dari Pendeta Yerry tidaklah bermaksud menyinggung apalagi mengoreksi pandangan dan kepercayaan umat Katolik terhadap Bunda Maria.
-          Seminar ini haruslah didasari kasih yang membangun kebersamaan di tengah perbedaan agar makin terciptanya kerukunan antar umat beragama menuju masyarakat yang harmonis.
Pendeta Yerry mengatakan, membicarakan Bunda Maria menurut sudut pandan Protestan tentunya harus berdasarkan dari sudut pandang Alkitab saja. Sehingga dikatakan bahwa menurut Pendeta Yerry bahwa penekanan ada pada kedaulatan dan kasih karunia Allah dan bukan pada Maria sendiri.
          Dikatakan bahwa Allah berdaulat untuk memilih dan memberi kasih karunia kepada siapa saja yang Allah kehendaki, bukan karena orang itu baik atau tidak berdosa. Sehingga dalam hal ini Maria hanyalah berperan sebagai penerima mukjizat dan bukanlah fokus utamanya. Dengan demikian, doktrin Maria Immacute dan Non Posse Peccare yang ditujukan kepada Maria bukanlah doktrin dari Protestan dan tidak ditunjang oleh kebenaran Alkitab.
          Dalam teologi Protestan tidak dikenal Maria Bunda Allah namun Maria dikenal dengan istilah-istilah umum seperti Perawan Maria, Anak Dara Maria dan Maria Ibu Yesus. Hal itu disebabkan karena Alkitab tidak memberikan penekanan khusus kepada Maria Ibu Yesus. Maria memanglah Ibu Yesus, namun ketika Ibu Yesus ditingkatkan menjadi Bunda Allah, itu tidak ada dalam teologia Protestan. Peran Maria adalah sebagai Ibu Yesus di bumi, perawan yang rahimnya dipakai sebagai alat Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus.
          Pendeta Yerry juga mengatakan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mereferensikan bahwa Maria adalah Bunda Gereja, yang membidani atau yang melahirkan gereja. Tidak terlihat bahwa Maria Ibu Yesus digambarkan sebagai pemimpin, baik secara formal atau informal dalam pertemuan jemaat mula-mula.
          Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa banyak hal dalam pandangan Katolik yang tidak dikenal dalam doktrin Protestan. Perbedaan-perbedaan itu adalah wajar dan harus diterima sebagai sebuah kenyataan tanpa perlu dipertentangkan. Namun demikian, pandangan mendasar mengenai Bunda Maria menurut teologi Protestan adalah:
-          Perawan Maria, Anak Dara Maria adalah perempuan, perawan yang mengandung dan melahirkan Yesus dari Roh Kudus.
-          Maria adalah orang yang dikaruniai, yang beroleh kasih karunia dihadapan Allah dan diberkati di antara semua perempuan.
-          Keteladanan Maria dalam hal ketaatannya sebagai hamba Tuhan perlu ditiru oleh semua umat manusia.
Sebagai penutup, Pendeta Yerry menegaskan bahwa umat Protestan sangat menghargai dan menghormati peran Maria, sebagaimana Pengakuan Iman Rasuli yang selalu diucapkan setiap hari Minggu dalam ibadah-ibadah gereja Protestan:
“Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus AnakNya yang tunggal, Tuhan kita. Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria...”
          Pembicara terakhir dalam seminar ini adalah Romo Pidyarto Gunawan, O.Carm yang merupakan guru besar STFR Widya Sasana Malang di bidang Kitab Perjanjian Baru. Romo yang memperoleh gelar doktor di bidang teologi Alkitabiahnya dari Universitas St. Thomas Roma ini membuka pembahasannya tentang Maria ini dengan mengatakan bahwa ajaran Katolik mengenai Bunda Maria tidak mudah dipahami oleh pihak luar, bahkan sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu dialog tidak perlu mencari kata sepakat, tetapi berusaha memahami posisi pihak lain guna menghindari kesalahpahaman tersebut.
          Ketika membicarakan tentang Maria menurut paham Gereja Katolik tentunya didasari oleh 3 hal yang menjadi dasar hukum Gereja Katolik itu sendiri yaitu Alkitab, Tradisi Suci dan dokumen-dokumen resmi, seperti konstitusi dogmatis Lumen Gentium (Konsili Vatikan II); himbauan apostolik Paus Paulus VI Marialis Cultus dan Redemptoris Mater (ensiklik Paus Yonahes Paulus II).
          Pertama-tama, Romo Pidrato ingin menekankan bahwa Gereja Katolik memandang Maria sebagai manusia biasa. Maria juga harus diselamatkan. Namun karena pahala Putranya, ia ditebus secara lebih unggul. Maria mendapatkan rahmat penebusan yang diberikan oleh Yesus Kristus jauh sebelum Dia wafat di kayu salib. Gereja Katolik meyakini bahwa Maria sejak awal kehidupannya dibebaskan Allah dari segala bentuk dosa. Keyakinann yang sama dianut oleh Gereja Ortodoks yang memberi gelar panhagia kepada Maria yang artinya Yang Kudus seluruhnya.
          Gereja Katolik memberi Maria banyak gelar seperti Pembela, Pembantu, Penolong dan Perantara. Gelar-gelar ini sering menimbulkan salah paham bagi orang-orang Protestan karena dalam arti tegas gelar-gelar tersebut sebenarnya hanya cocok untuk Yesus Kristus.
          Gelar Mitra Pengantara atau Pengantara Bersama (Co-Mediatrix) tidak bertentangan dan mengaburkan peranan Yesus sebagai satu-satunya Pengantara Allah dan manusia. Gelar tersebut tidak membuat Maria sejajar dan menjadi saingan Yesus. Peranan Maria adalah sebagai sub-ordinasi dari peranan Yesus Kristus dan Gereja Katolik meyakini bahwa peranan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak meniadakan aneka bentuk kerja sama dari pihak manusia. Dalam tradisi Katolik terkenal ucapan “Per Mariam ad Iesum” yang artinya melalui Maria sampai kepada Yesus.
          Mengenai gelar Bunda Allah, Romo Pidyarto mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak bermaksud meng-allah-kan Maria. Maria juga bukanlah ibu yang melahirkan Allah, juga bukan istri dari Allah Bapa dan bukan Allah ibu. Maria disebut Bunda Allah sejauh dia telah mengandung dan melahirkan Yesus yang merupakan benar-benar Allah dan benar-benar manusia pula. Penyebutan gelar ini juga berasal dari Lukas 1:43 tentang sebutan Elisabet ketika menerima kunjungan Maria dan berseru: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Istilah Tuhan yang dipakai berasal dari kata Yunani Kyrios, suatu gelar ilahi yang kelak oleh para rasul dikenakan pada Yesus ketika mereka sudah sampai oada iman akan Yesus sebagai Allah. Jadi jauh sebelum Yesus diakui sebagai Allah, Injil Lukas sudah meletakkan gelar itu pada mulut Elisabet.
          Gereja Katolik  menegaskan bahwa penghormatan kepada Maria secara hakiki berbeda dengan penyembahan yang ditujukan hanya kepada Allah. Hal itu juga dibedakan dari istilah yang dipakai. Gereja Katolik memakai istilah dulia untuk penghormatan kepada orang-orang kudus biasa. Sedangkan untuk penghormatan istimewa kepada Maria, Gereja Katolik memakai istilah hyperdulia. Penyembahan untuk Allah dikenal dengan istilah latria.
          Penghormatan kepada Maria yang direstui Gereja Katolik adalah kebaktian yang berada dalam batas-batas ajaran yang sehat dan benar. Selain itu Gereja Katolik menghimbau kepada para teolog dan pewarta sabda dalam memandang martabat Maria yang istimewa itu sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu.
          Dalam Gereja Katolik, Maria adalah manusia biasa namun Allah telah memilih dia untuk menjadi manusia yang sangat istimewa karena telah mengandung dan melahirkan Yesus, Anak Allah yang menjelma menjadi manusia (Gal 4:4). Jadi pembicaraan tentang Maria tidak bisa dilepaskan dari hubungan Maria dengan Yesus yang merupakan jalan keselamatan manusia.
          Menurut Gereja Katolik, benih-benih kehadiran Maria telah ada dalam kitab Perjanjian Lama. Pada kitab Kejadian 3:15 di mana Tuhan mengatakan bahwa antara ular tua (iblis) dengan wanita itu akan mengadakan permusuhan sampai keturunan-keturunannya. Wanita itu ditafsirkan sebagai Maria dan bukanlah Hawa. Nubuatan tentang Maria juga tertulis di Yesaya 7:14 bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan Anak yang disebut Imanuel. Kata partheos yang berarti perawan, dipakai oleh Septuaginta yang memperjelas bahwa wanita itu adalah Maria. Gereja Katolik juga menganggap bahwa Maria adalah seorang dari kaum anawim, yaitu kaum miskin dan saleh yang sangat merindukan keselamatan bagi bangsa Israel.
          Apa yang sudah dipersiapkan dalam Perjanjian Lama akhirnya mencapai kepenuhannya pada zaman Perjanjian Baru. “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Maka Allah mengutus malaikat Gabriel kepada perawan Maria. Gabriel menyapa Maria, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Gabriel tidak memanggil dia dengan nama pribadinya, Maria, tetapi dengan gelar “yang dikaruniai”. Memang Maria adalah seorang yang “beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:28) dan yang diberkati di antara semua perempuan (Luk 1:42). Sejak dahulu gelar “yang dikaruniai” (Yunaninya: kecharitomene) merupakan gelar luar biasa yang tidak pernah diberikan kepada manusia lain. Kecharitomene adalah suatu bentuk kata kerja Yunani charitóô, yang secara harafiah berarti: membuat seseorang menjadi karunia. Jadi, kecharitomene dapat diterjemahkan dengan “(Maria, engkau) yang telah diubah menjadi karunia”. Itu berarti, Maria itu sungguh-sungguh dilimpahi dengan karunia Allah sehingga menjadi indah dan berkenan di hati Allah dan penuh dengan karunia-Nya.
Dengan demikian, kita bisa mengerti mengapa Vulgata (versi Alkitab dalam bahasa latin) menerjemahkan kecharitomene dengan “gratia plena” (=penuh karunia). Dalam Ef 1:6-7 ini kita bisa menemukan dasar untuk tafsiran Gereja Katolik bahwa Maria itu dikaruniai Tuhan dalam arti ia telah disucikan dari segala bentuk dosa. Bedanya: kalau jemaat kristen dulu pernah berdosa lalu disucikan oleh Tuhan, maka Maria disucikan sejak awal kehidupannya.
Dalam kaitan dengan fungsi Maria sebagai Bunda Yesus atau Bunda Allah ini, Gereja Katolik yakin bahwa Maria telah dipersiapkan secara khusus. Untuk menyediakan tempat kediaman yang pantas bagi Anak Allah yang menjadi manusia melalui tubuh dan jiwa Maria, maka Maria sudah dibebaskan dari segala bentuk dosa sejak saat pertama kehidupannya. Berhubung ia bebas dari dosa warisan atau pun dosa pribadi, Maria dimampukan untuk bekerja sama secara sempurna dengan rencana Allah. Tanpa kehilangan kebebasan manusiawinya, dia menaati kehendak Bapa.
Gereja Katolik menerima tafsiran kuno bahwa perempuan dalam Why 12 adalah gambaran dari Maria, ibu Yesus, yang memang pada hakikatnya bermusuhan dengan Iblis. Mengikuti tradisi yang sudah sangat kuno, Gereja Katolik juga percaya bahwa Maria tetap perawan, baik sebelum hamil, selama hamil dan sesudah melahirkan. Keperawanan Maria ini tidak dilihat pertama-tama sebagai keperawanan fisik (dalam arti selaput daranya tetap utuh), melainkan lebih dalam arti rohani, yakni keperawanan sebagai tanda bahwa seluruh kepribadian Maria, jiwa dan raganya, adalah milik Allah dan secara total terarah kepada Allah.
          Tentunya Maria tidak berbeda dengan banyak ibu Yahudi lainnya yang secara luar biasa mendidik anaknya menjadi orang saleh. Misalnya, ia mengajak Yesus ke Yerusalem untuk beribadat (Luk 2:42). Dapat diandaikan, Maria selalu berada di samping Yesus selama di Nazaret hingga Yesus memulai karya-Nya pada usia sekitar 30 tahun.
          Berbeda dengan ibu para tokoh Alkitab lainnya, Maria adalah seorang ibu yang dikaitkan secara amat erat dengan kehidupan serta misi anaknya. Memang, ayat-ayat yang menyatakan bahwa Maria berada dekat dengan Yesus selama pelayanan-Nya di dunia sedikit saja. Akan tetapi jumlah ayat bukanlah segala-galanya. Lebih penting dari jumlah ayat adalah posisi yang diduduki ayat tentang Maria dalam suatu kitab. Dalam Injil Yohanes, “ibu Yesus” hanya muncul dua kali (Yoh 2:1-11dan 19:25-27). Akan tetapi, dia muncul pada awal dan akhir dari pelayanan Yesus di dunia. Dalam Alkitab, penyebutan dua ujung sering berarti keseluruhan yang ada di antara kedua ujung tersebut. Misalnya, kalau dikatakan dalam Kej 1:1, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” maka yang dimaksud adalah penciptaan langit dan bumi beserta segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Dengan demikian, Injil Yohanes rupanya bermaksud menyatakan bahwa Maria hadir pada seluruh pelayanan Yesus di dunia ini. Secara fisik Maria tidak mengikuti perjalanan Yesus, tetapi tentunya secara rohani dia mengikuti sepak terjang anaknya itu. Suatu saat, Maria harus menyaksikan sendiri bagaimana Yesus bergantung di kayu salib (Yoh 19:26-27). Pada saat yang amat penting bagi keselamatan umat manusia itu, Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasih-Nya sambil berkata, “Inilah, ibumu!” Gereja Katolik yakin, murid yang dikasihi Yesus itu mewakili semua murid yang dikasihi Yesus (Yoh 19:26-27). Tidak mungkin Yesus, pada saat yang begitu penting, hanya bermaksud menitipkan ibu-Nya secara fisik pada seorang murid-Nya. Tentunya tindakan-Nya itu memiliki makna lebih dalam: Maria dijadikan ibu rohani bagi umat-Nya. Maka, Gereja Katolik memberi Maria gelar Bunda Gereja.
          Setelah Yesus naik ke surga, Maria tidak putus hubungan dengan kelompok murid Yesus. Maria kedapatan tekun berdoa bersama dengan para murid Yesus untuk menantikan kedatangan Roh Kudus.
          Sampai sejauh ini, kita sudah melihat peranan Maria dalam sejarah keselamatan, mulai dari kerelaannya untuk menjadi Bunda Penebus hingga turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus kepada Gereja. Ia dikaitkan secara amat erat dengan karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Yesus. Oleh karena itu, Gereja Katolik percaya bahwa setelah mengalami kematian sejenak, Maria pun segera dibangkitkan dari kematian lalu dipersatukan secara erat dengan Yesus Kristus yang sudah mulia dengan badan dan jiwa-Nya di surga. Dengan demikian Maria semakin menyerupai Yesus Kristus (Lumen Gentium 59; Katekismus Gereja Katolik 965). Namun, apa yang kini sudah dialami oleh Maria kelak akan dialami juga oleh orang beriman lainnya. Maria hanya mendahului apa yang masih akan dialami orang lain. Keadaan Maria yang sekarang sudah mulia di surga menjadi cermin dari tujuan akhir hidup orang beriman. Dalam Ibadat untuk menghormati pengangkatan Maria ke surga, dibacakan Why 11:19; 12:1-6.10 yang melukiskan penampakan seorang perempuan mulia di langit. Perikop ini tidak hanya menerangkan kesucian Maria (sebagai musuh Iblis) tetapi juga sebagai suatu perikop yang melukiskan keadaan Maria yang sudah mulia di surga.
          Yesus Kristus tidak bisa dilepaskan dari Gereja yang didirikan-Nya. Maka dari itu, Konsili Vatikan II membahas Maria tidak hanya dalam kaitannya dengan Yesus tetapi juga dalam kaitannya dengan Gereja-Nya. Maria dipandang sebagai anggota Gereja Yesus tetapi anggota Gereja yang paling sempurna. Dalam dirinya sudah terpenuhi panggilan Gereja Yesus untuk menjadi “jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Oleh karena itu, Maria adalah teladan bagi semua anggota Gereja Yesus. Maria adalah teladan dalam banyak hal, tetapi terutama hal iman dan cinta kasih (Lumen Gentium 53; 65).
          Mengingat besarnya partisipasi Maria dalam karya penebusan Yesus, maka Gereja Katolik dalam ibadat resminya kerap sekali mengenang Maria dengan rasa hormat dan kasih keputeraan. Di luar ibadat resmi pun, yakni dalam doa-doa umat Katolik, Maria dikenang, dipuji, dan dihormati. Dengan demikian genaplah nubuatan yang diucapkan Maria sendiri, “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48).
          Akhirnya Romo Pidyarto mengatakan bahwa patut dicatat bahwa Gereja Katolik yakin bahwa Maria mempunyai sifat sosial yang besar. Ia mengunjungi Elisabet, saudarinya, yang sedang hamil tua (Luk 1:39). Ia menolong pengantin di Kana yang mengalami kesukaran karena dalam pesta pernikahannya, persediaan anggurnya habis (Yoh 2:1-11). Dalam kedua peristiwa tadi Maria sendiri yang mengambil inisiatif untuk menolong sesamanya. Menarik untuk dicatat bahwa dalam kisah perjamuan nikah di Kana (Yoh 2), Maria terbukti menjadi pengantara atau pendoa yang luar biasa. Meski Yesus pada awalnya memberi kesan menolak permohonan ibu-Nya, nyatanya, berkat permohonan Maria pada akhirnya Yesus membuat juga mukjizat untuk menolong pengantin itu. Bila selama hidup di dunia ini Maria sudah rajin menolong atau mendoakan sesamanya, tentunya kini, di surga, ia lebih rajin mendoakan anak-anaknya, entah diminta entah tidak, yang masih mengembara di dunia (bdk. Lumen Gentium 62). Kalau semasa hidup di dunia, doanya sudah mempunyai kuasa, apalagi kini ketika ia sudah mulia di surga. Seperti kebanyakan ibu lainnya, tentunya Maria mendoakan anak-anaknya, juga kalau anaknya itu tidak meminta kepadanya. Akan tetapi, tentu saja lebih baik kalau anak-anaknya rajin meminta pertolongan doanya.
          Setelah Romo Pidyarto mengakhiri bahasannya, seminar rehat untuk makan siang. Tepat pukul 13.00 WIB, seminar dimulai kembali dengan sesi tanya jawab. Tampaknya pada saat sesi tanya jawab tersebut, Kang Jalal menjadi bintang karena mendapat pertanyaan paling banyak yang melebar ke arah hubungan dan relasi antar umat beragama di Indonesia. Namun dengan sabar dan santai, Kang Jalal dapat menjawab semua pertanyaan dengan diselingi oleh sedikit canda di sana-sini.
          Akhirnya karena keterbatasan waktu, Mas Wendo menutup acara seminar tersebut walau masih banyak peserta yang ingin mengajukan pertanyan. Beliau mengatakan bahwa seminar tersebut tentu masih banyak kekurangan dan tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun kiranya melalui seminar semacam ini dapat dimulai dialog antar umat beragama secara lebih dewasa dan bisa menghormati perbedaan yang ada tanpa harus mempermasalahkannya.
          Menurut saya pribadi, seminar tersebut akan tampak lebih seru lagi jika ditambah satu pembicara dari sudut pandang Kristen Ortodoks. Karena secara dogmatis ada yang berbeda dengan pandangan Katolik, namun sama-sama melakukan penghormatan lebih kepada Bunda Maria.