January 23, 2011

Martin Luther menurut Gereja Orthodox

Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA 
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH) 

Gerakan Reformasi atau Gerakan Protestantisme adalah suatu gerakan untuk mengadakan pembaharuan dalam Kekristenan Barat yang dimulai sejak abad ke-14 hingga abad ke-17. Reformasi boleh dikatakan dimulai dari munculnya Golongan Loolard, Waldenses dan Hussit. Mereka menyerang struktur Gereja Barat Roma Katolik yang hirarkis dan legalistik serta keburukan-keburukan yang terdapat dalam Gereja Roma Katolik. Meskipun dalam tubuh Gereja Barat diadakan pembaharuan-pembaharuan Gereja, namun gerakan yang menuntut adanya pembaharuan yang lebih berarti tetap berjalan. 

Pelopor gerakan ini, Martin Luther (Eisleben, Jerman, 10 November 1483 - 18 Februari 1546 idem) adalah seorang pastor Jerman, teolog dan biarawan Ordo St. Agustinus (O.S.A). Ia mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja Roma Katolik seperti penyelewengan penjualan Surat Penghapusan Siksa (indulgensi), Kepausan, dsbnya. Dengan demikian upaya pembaharuan yang diadakan Luther bukan merupakan yang baru sama sekali. Reformasi menekankan untuk kembali kepada Gereja yang mula-mula. Studi Luther terhadap Agustinus membawanya kepada langkah mempersoalkan tekanan teologi Skolastik pada perbuatan baik. Hasil studi Luther terhadap L. Valla menyebabkan Luther meragukan keabsahan tuntutan supremasi kepausan. Luther menyerang ajaran Transsubstansiasi, selibat para klerus, dan ia menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman. Raja-raja Jerman banyak yang berpihak kepada Luther, seperti Raja Saksen, Hesse, Bradenburg, Brunswick, serta raja-raja di luar Jerman seperti Raja Denmark dan Swedia. Daerah-daerah ini segera menjadi daerah Lutheran dan Luther menyerahkan wewenang untuk mengatur gereja-gereja dalam wilayah tersebut kepada raja-rajanya.

Paus Leo X (Giovanni de'Medici) dari Florence (11 Maret 1513 – 1 Desember 1521) menghukum (ekskomunikasi) Martin Luther dengan bulla Exsurge Domine (”Bangkitkan ya Tuhan”) pada 15 Juni 1520. Bulla ini memuat 41 ajaran Luther yang dinyatakan sesat dan Luther dikutuk sebagai penyesat. Ajaran yang dinyatakan sesat itu antara lain pokok yang berhubungan dengan Indulgensi, pertobatan, api penyucian, sakramen, rahmat dan kuasa Paus. Luther membakar bulla ini di Wittenberg pada 10 Desember 1520. 

Sebelum Martin Luther yakin dengan kebenaran posisinya (di Dewan Worms, pada tahun 1520), ia pernah minta perlindungan kepada Patriarkh Ekumenis Gereja Orthodox di Istambul, Theoliptos I (1513-1522) akibat sedang dikejar-kejar tentara Paus. Saat itu Patriarkh Ekumenis hanya menasihatinya jangan memisahkan diri dari Gereja Roma Katolik, juga perlunya meminta maaf kepada Paus dan sebaiknya memperbaiki masalah-masalah Gereja dari dalam saja. Peringatan Patriarkh itu tidak diindahkan Luther, Reformasi melanda Gereja Roma dan seluruh Eropa Barat.

Iman Luther sendiri terus-menerus mengalami pergumulan melawan kesangsian dan takhyul. Pandangan Martin Luther mengenai agama dikutuk di banyak tempat bahkan pada masa hidupnya sehingga ia terkadang kehilangan keberaniannya. Ia pernah menimbang-nimbang apakah dirinya sudah sedemikian congkak sampai menolak segala yang ada dalam agama Kristen serta tradisi yang telah berabad-abad dan pernah bertanya pada diri sendiri: “Apakah menurut anggapanmu semua pengajar selama ini tidak tahu apa-apa … ? Apakah engkau sendiri saja yang menjadi andalan Roh Kudus pada masa-masa terakhir ini?”. 

Sehubungan usaha-usaha Reformasi yang menekankan untuk kembali kepada Gereja yang mula-mula, sejarah mencatat adanya kontak penting yang pertama kali antara Gereja Timur dan orang-orang Protestan mulai terjadi pada tahun 1573, ketika suatu utusan sarjana Lutheran dari Tubingen, dipimpin oleh Yakob Andrae dan Martin Crusius, mengunjungi Konstantinopel dan memberikan kepada Patriarkh Yeremia II, suatu duplikat dari Pengakuan Iman Augsburg dalam bahasa Yunani. Pada saat korespondensi ini Luther sudah meninggal dua tahun sebelumnya. Korespondensi dengan Patriarkh Yeremia ini sebenarnya diprakarsai oleh Luther sendiri menjelang akhir hayatnya. Ia yang meminta supaya “Pengakuan Iman Augsburg” diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani untuk dikirimkan kepada Patriarkh di Konstantinopel. Namun keinginan Luther itu tidak segera terlaksana, karena orang yang diminta untuk mengirimkan dokumen ini: Gerlach, tidak dapat langsung pergi ke Konstantinopel, karena saat itu antara Jerman dimana Luther tinggal dan Konstantinopel yang sudah dikuasai Turki sedang terjadi peperangan, sampai dua tahun kemudian. Sesaat setelah meninggalnya Martin Luther, posisi kaum Protestan akhirnya dimotori oleh madzhab Tubingen di Augsburg. Dari teolog-teolog madzhab ini pernah (1573-1581) saling berkirim surat dengan Patriarkh Ekumenis di Konstantinopel, Yeremia II. Isi surat-surat dari Jerman ini dikenal sebagai inti sari “Konfesi Augsburg” yang diakui sebagai keseluruhan ajaran dogmatika Gereja Protestan. Tokoh-tokohnya antara lain, Dr. Yakob Andrae dan Dr. Stephen Gerlach. Dalam setiap surat balasannya Patriarkh Ekumenis, dengan ucapan sopan dan sifat kebapaannya senantiasa mengajak mereka kembali ke Rumah Bapa dan jangan tertarik untuk membuat dogma-dogma baru. Sayang sekali bahwa ketika surat-menyurat ini Luther sendiri sudah tidak ada. Seandainya ia masih hidup pastilah surat-menyurat itu akan berbeda sifatnya dan sebagai akibatnya pastilah bentuk dunia Kristen saat ini akan berbeda, dan kemungkinan perpecahan-perpecahan yang terus-menerus ini tidak akan seperti yang kita jumpai sekarang ini. Sekarang setelah hampir 500 tahun setelah peristiwa Reformasi Protestan itu terjadi, berdasarkan The World Christian Encyclopedia, karangan David B. Barret, Gereja dan dunia telah melihat ke-33.800 aliran/ sekte/ denominasi dalam Protestantisme. Dokumen surat-menyurat antara Patriarkh Yeremia dan Teologiawan Lutheran ini sudah dibukukan oleh Gereja Orthodox Timur dengan judul “Between Constantinople and Tubingen”, George Mastrantonis, Holy Cross Orthodox Press, Mass. Usa, 1982. 

Dalam perjalanan sejarahnya Gereja Orthodox tidak pernah mengalami apa yg terjadi di kawasan Eropa Barat di lingkungan Gereja Barat Roma Katolik, yaitu Gerakan Reformasi oleh kaum Protestan, Pencerahan dan Renaissance. Sebab Gereja Orthodox dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah mengalami penyimpangan-penyimpangan Zaman Kegelapan yang ada di kawasan Gereja Barat sehingga Gereja memerlukan reformasi – Gerakan Protestantisme. Hal ini disebabkan Gereja Orthodox Timur yang dikenal sebagai Gereja Mula-mula atau Gereja Katolik Purba, sudah sejak mula selalu berpegang teguh pada pengajaran para Rasul sendiri (Gereja Yang Apostolik) yang sama menyeluruh / universal dan penuh (tidak dikurangi dan ditambah) dimanapun Gereja Orthodox itu berada (Katolik/ Am). Hal ini sesuai dg pesan Rasul Yudas, saudara Yakobus, Episkop/ Uskup pertama Yerusalem (ditulis 60-80 A.D.) sendiri: ”...supaya kamu tetap berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan iman yang sekali dan untuk selama-lamanya (Bhs.Yunani: “eph hapax”) yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3). 

Referensi

1. ____________. Booklet A Time Line of Church History. Tracing the birth and continuity of the Orthodox Church from Pentecost to the present. Published by Conciliar Press. P.O. Box 76. Ben Lomond, CA 95005-0076. 1989.

2. A.Sandiwan Suharto & Eddy Suhendro, Ziarah Sang Abdi. Bapa Suci Yohanes Paulus II. Panitia Penyambutan Sri Paus Jakarta, 1989.

3. Drs. F.D. Wellem, M.Th. Kamus Sejarah Gereja. PT BPK Gunung Mulia. Jakarta. 1994.

4. Edith Simon dan Para Editor Pustaka Time-Life. Zaman Reformasi. Abad Besar Manusia. Sejarah Kebudayaan Dunia. Tira Pustaka Jakarta. Jakarta. 1986.

5. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. 2001.

6. Fr. John Whiteford. Sola Scriptura (Hanya dengan Alkitab saja). Penerbit Eikon. Jakarta. 
2001.

7. Fr. Peter E. Gillquist (Project Director), Mr. Alan Wallerstedt (Managing Editor). The Orthodox Study Bible. New Testament And Psalms. New King James Version. Discovering Orthodox Christianity in the Pages of the NewTestament. Initial Draft Prepared by the Academic Community of St.Athanasius Orthodox Academy, Santa Barbara California, Tennessee. The Orthodox Study Bible 1993 by St. Athanasius Orthodox Academy. Special Helps 1997 by Conciliar Press. Thomas Nelson Publishers Nashville.

No comments:

Post a Comment