Showing posts with label natal. Show all posts
Showing posts with label natal. Show all posts

December 2, 2013

Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya

oleh: P. Francis J. Peffley
Lingkaran Adven
Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang belum diketahui banyak orang.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih - masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat yang menyolok di gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi - santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.

Jadi, nanti jika kalian melihat atau memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

sumber : "The Symbolism of the Advent Wreath by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

Mengapa Pesta Natal dirayakan 25 Desember?

oleh: P. Victor Hoagland, C.P.
Kelahiran Yesus

Tidaklah mudah untuk menentukan dengan tepat asal-mula Pesta Natal, yang sekarang menjadi perayaan yang paling penting dalam masa Natal di sebagian besar Gereja-gereja Ritus Barat. Kita hanya dapat mengatakan dengan pasti bahwa kelahiran Yesus Kristus mulai dirayakan di Roma sekitar tahun 336 A.D. (Anno Domini = Tahun Masehi); kemudian Pesta Natal dirayakan juga di gereja-gereja Kristiani lainnya di seluruh dunia.

Mengapa Pesta Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember? Tidak ada catatan mengenai tanggal kelahiran Yesus yang dapat kita temukan dalam Perjanjian Baru. Kitab Suci jauh lebih mementingkan “Siapakah Yesus?” daripada tanggal kelahiran-Nya. Perkiraan Gereja Perdana akan tanggal kelahiran-Nya dipengaruhi oleh tanda-tanda perubahan musim, yang kemudian diterima dalam pemikiran religius, yang dengan seksama memperhatikan equinox (di mana waktu siang dan malam sama lamanya) dan titik balik matahari. Para ilmuwan Kristiani memperkirakan bahwa Yesus dikandung pada equinox musim semi (25 Maret) dan oleh karenanya dilahirkan pada tanggal 25 Desember, tanggal titik balik musim dingin.

Di banyak gereja Kristiani, tanggal 25 Maret masih tetap dirayakan sebagai Hari Raya Kabar Sukacita, yaitu ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kabar kepada Maria bahwa ia akan menjadi bunda Yesus.

Pesta Natal mungkin juga berasal dari perayaan kafir “Dewa Matahari yang tak terkalahkan” yang ditetapkan oleh Kaisar Aurelius pada tahun 274 A.D. dan dirayakan pada tanggal 25 Desember, yaitu pada hari terjadinya titik balik musim dingin, di Roma dan di seluruh wilayah kekaisaran. Umat Kristiani mengambil alih perayaan tersebut untuk merayakan pesta “Surya Kebenaran” (Maleakhi 4:2), yaitu Yesus Kristus, yang menyebut Diri-Nya “Terang Dunia” (Yohanes 8:12).

sumber : “The Feast of Christmas” by Fr Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1996, 1997, 2000 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”

January 5, 2012

NATAL LIBUR RESMI IRAK, SEDIKIT TENTANG GEREJA UNIAT KATOLIK KHALDEA

dari https://www.facebook.com/groups/iscs.surabaya/doc/10150427718917100/



Baghdad – Warga Kristen Irak, minoritas sangat kecil di negara yang mayoritas penduduknya Muslim itu, mendapat kado istimewa Natal kali tahun 2008. Untuk pertama kalinya Pemerintah Irak menjadikan Natal sebagai hari libur.
Secara umum perayaan Natal di Irak kali ini berlangsung relatif aman. Penjagaan keamanan terlihat di mana-mana. Hanya bom mobil di Baghdad yang terjadi Kamis (25/12) pagi yang membuat Natal di Irak masih memgkhawatirkan. Ledakan di sebuah restoran yang sering dikunjungi polisi itu menewaskan 4 orang dan melukai 25 lainnya di Pemukiman Shula yang mayoritas dihuni warga Syiah. Belum ada informasi pelaku dan motif serangan, namun diyakini tidak terkait Natal.
Sementara Karnimal Kaldea, Katolikos-Patriarkh Babylon dari Gereja Katolik Khaldean, Mar Emmanuel III Karim-Delly (2003- sekarang), memuji langkah Pemerintah Irak yang menjadikan Natal sebagai hari libur. "Saya berterima kasih atas hal itu dan berharap hal ini membuat kita lebih teguh dalam mempercayai satu dengan lainnya sebagai saudara,” katanya.
Seorang ulama Syiah, Ammar al-Hakim hadir dalam misa yang dipimpin Kardinal Emmanuel sebagai simbol toleransi dan kerja sama. ap, spd
Gereja Katolik Khaldea adalah salah satu Gereja Roma Katolik yang menggunakan Ritus dari Gereja Orthodox Timur, dikenal sebagai “Gereja Katolik ritus Timur”. Mereka adalah umat Orthodox yang memilih masuk dalam persatuan dengan Roma. Karena di dalam Gereja Roma Katolik, persatuan berarti pertobatan dan pulang ke Gereja Roma Katolik (Conversio ad Ecclesiam). Mereka boleh menggunakan cara ibadah dan tradisi Orthodox, namun hierarkhinya dan ajarannya sama sekali harus tunduk pada Gereja Latin di Roma. Uniat dari Gereja Roma Katolik ini memiliki beberapa bentuk: Uniat model Orthodox Yunani disebut “Katolik Yunani”, Uniat model Orthodox Rusia, Slavia atau Yunani disebut “Byzantin Katolik”, Uniat model Nestorian disebut “Khaldea Katolik”, ada Uniat model Koptik, ada Uniat model Gereja Ethiopia, Uniat di-India, Uniat di Syria, dan Uniat model Armenia. Orang barangkali boleh menduga-duga apakah kira-kira “Gerakan Kharismatik Katolik” itu bukan “Uniat model Protestan”? Adanya kelompok-kelompok Uniat yang diciptakan oleh Gereja Roma Katolik ini salah satu yang mempersulit dialog Orthodox-Katolik Roma.
Gereja Katolik Khaldea sendiri terpisah dari Gereja Orthodox Assyria Timur dan dibentuk oleh Roma tahun 1551 dengan Katolikos-Patriarkh pertamanya Mar Yohanan Soulaqa (Mar Shimun VIII Sulaqa) (1552-1555). Sedang Katolikos-Patriarkh Gereja Orthodox Assyria Timur saat ini adalah Katholikos-Patriarkh Mar Dinkha IV Khanania (Bhs. Syriac: ܡܪܝ ܕܢܚܐ ܪܒܝܥܝܐ) (1976-sekarang), pengganti ke-107 Rasul Mar Thoma Shilkha, (St. Thomas Sang Rasul – th. 33-77) dan Mar Addai, (St. Thaddeus Sang Rasul, salah satu dari ketujuh puluh Utusan - th. 33-66).

Referensi:

1. Episkop Timothy Ware (Penterjemah : Arkhimandrit Daniel Bambang PhD). Mari Mengenal Kekristenan Timur. Sejarah Gereja Orthodox. Satya Widya Graha. 2001.

2. From Wikipedia, the free encyclopedia: Mar Dinkha_IV: http://en.wikipedia.org/wiki/Mar_Dinkha_IV

3. From Wikipedia, the free encyclopedia: Catholic Chaldean Patriarchs of Babylon:http://en.wikipedia.org/wiki/Catholic_Chaldean_Patriarchs_of_Babylon.

4. Harian Surabaya Pos, Jumat, 26 Desember 2008 | 08:36 WIB:

Diedit oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA St. Jonah dari Mancuria Surabaya, (dalam Yuridiksi Moscow Rusia)
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

December 24, 2010

XMAS ATAU CHRISTMAS?

YANG MANAKAH YANG BENAR: XMAS ATAU CHRISTMAS?

Kedua versi tersebut sama benarnya. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. “Xristos” adalah kata Yunani untuk Kristus atau Christos dalam alfabet Romawi. "Kristus" sendiri artinya "Mesias" atau "Yang Diurapi". Jadi, X adalah singkatan yang tepat bagi Kristus. Gereja Perdana seringkali menggunakan X Yunani sebab X merupakan sandi rahasia yang mereka gunakan untuk mencegah orang luar mengenali identitas mereka.

Pada masa sekarang, sebagian orang menggunakan kata “Xmas” untuk mengurangi kesan religius, namun demikian asal kata tersebut sangat Kristiani.

“Christmas” adalah kata yang amat mengagumkan. Artinya “Christ's Mass” atau “Misa Kristus”. Pada abad pertengahan gereja-gereja akan memasang sebuah penanggalan di pintu masuk gereja. Penanggalan tersebut menunjukkan perayaan-perayaan serta pesta-pesta wajib gereja - yaitu hari di mana umat wajib menghadiri Misa seperti pada hari Minggu. Huruf-huruf “mas” (“misa”) seringkali ditambahkan pada akhir nama perayaan atau nama santo/santa yang pestanya sedang dirayakan. Sebagai contoh: perayaan St. Mikhael (29 September) disebut Michaelmas (Misa St. Mikhael). Perayaan kelahiran Yesus disebut Christmas atau Misa Kristus.

“Mass” atau misa berarti “misi”, jadi kita diutus untuk mewartakan kabar sukacita tentang kedatangan Sang Juruselamat. Kita sama seperti para gembala yang mewartakan kabar sukacita ke seluruh penjuru negeri. Ingatlah: don't just keep Christ in Christmas - KEEP THE MASS IN CHRISTMAS!

sumber : P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

St. Fransiskus dan Gua Natal

oleh: P. William Saunders *

Fransiskus & Gua Natal
Cerita tentang asal mula gua Natal berawal dari kisah seorang yang sangat kudus, St. Fransiskus dari Asisi.

Pada tahun 1223, St. Fransiskus - seorang diakon - mengunjungi kota Grecio untuk merayakan Natal. Grecio adalah sebuah kota kecil di lereng gunung dengan lembah yang indah terhampar di hadapannya. Masyarakat sekitar menanami daerah yang subur itu dengan pohon-pohon anggur. St. Fransiskus menyadari bahwa Kapel Pertapaan Fransiskan akan terlalu kecil untuk dapat menampung umat yang akan hadir pada Misa Natal tengah malam. Jadi, ia mendapatkan sebuah gua di bukit karang dekat alun-alun kota dan mendirikan altar di sana. Tetapi, Misa Natal kali ini akan sangat istimewa, tidak seperti Misa-misa Natal sebelumnya.

St. Bonaventura (wafat tahun 1274) dalam bukunya “Riwayat St. Fransiskus dari Asisi” menceritakannya dengan sangat baik:

“Hal itu terjadi tiga tahun sebelum wafatnya. Guna membangkitkan gairah penduduk Grecio dalam mengenangkan kelahiran Bayi Yesus dengan devosi yang mendalam, St. Fransiskus memutuskan untuk merayakan Natal dengan sekhidmat mungkin. Agar tidak didakwa merayakan Natal dengan tidak sepatutnya, ia minta dan memperoleh ijin dari Bapa Uskup. Kemudian St. Fransiskus mempersiapkan sebuah palungan, mengangkut jerami, juga menggiring seekor lembu jantan dan keledai ke tempat yang telah ditentukannya. Para biarawan berkumpul, penduduk berhimpun, alam dipenuhi gema suara mereka, dan malam yang kudus itu dimeriahkan dengan cahaya benderang dan merdunya nyanyian puji-pujian. St. Fransiskus berada di depan palungan, bersembah sujud dalam segala kesalehan, dengan bercucuran air mata dan berseri-seri penuh sukacita; Kitab Suci dikidungkan oleh Fransiskus, Utusan Tuhan. Kemudian ia menyampaikan khotbah kepada umat di sekeliling tempat kelahiran sang Raja miskin; tak sanggup menyebutkan nama-Nya oleh karena kelembutan kasih-Nya, ia menyebut-Nya sang Bayi dari Betlehem. Seorang prajurit yang gagah berani lagi saleh, Yohanes dari Grecio, yang karena kasihnya kepada Kristus telah meninggalkan kemapanan dunia ini dan menjadi sahabat orang kudus kita, menegaskan bahwa ia melihat Bayi yang sungguh menawan luar biasa, sedang tidur dalam palungan. Dengan sangat hati-hati, St. Fransiskus menggendong-Nya dalam pelukannya, seolah-olah takut membangunkan sang Bayi dari tidur-Nya. Penglihatan prajurit yang saleh ini dapat dipercaya, tidak saja karena kesalehan ia yang melihatnya, tetapi juga karena mukjizat-mukjizat yang terjadi sesudahnya meneguhkan kebenaran itu. Sebagai contoh St. Fransiskus, jika dianggap oleh dunia cukup meyakinkan, dapat menggairahkan segenap hati yang tak peduli akan iman kepada Kristus, dan jerami dari palungan, yang disimpan oleh penduduk, secara ajaib menyembuhkan segala macam penyakit ternak, dan juga wabah-wabah lainnya. Dengan demikian, Tuhan dalam segala hal memuliakan hamba-Nya dan meneguhkan kemanjuran doa-doa kudusnya yang luar biasa dengan mengadakan keajaiban-keajaiban serta mukjizat-mukjizat.”

Meskipun kisah di atas cukup kuno, pesannya bagi kita jelas. Gua Natal yang kita tempatkan di bawah pohon Natal merupakan tanda pengingat yang kelihatan akan malam itu ketika Juruselamat kita dilahirkan. Semoga kita senantiasa ingat untuk melihat dalam hati kita, sang Bayi mungil dari Betlehem yang datang untuk membebaskan kita dari dosa. Semoga kita senantiasa ingat bahwa kayu palungan yang membuai-Nya dengan nyaman dan aman, suatu hari kelak akan menyediakan kayu salib bagi-Nya. Semoga kita juga senantiasa memeluk Dia dengan segala cinta dan kasih sayang seperti yang dilakukan St. Fransiskus. Kepada segenap pembaca, saya mengucapkan Selamat Hari Natal yang kudus.   

* Fr. Saunders is president of Notre Dame Institute and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

sumber : “Straight Answers from Fr. William Saunders: St. Francis and the Christmas Creche”; Copyright (c) 1996 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Asal-mula Lagu Malam Kudus

oleh: P. William P. Saunders


Kisah lagu “Malam Kudus” berawal dari sebuah kota yang indah bernama Salzburg di Austria. Di tengah semarak dan megahnya kota yang dipimpin oleh Prince Archbishop, tinggallah seorang penenun sederhana bernama Anna. Anna, sebatang kara di dunia ini, hidup sangat sederhana, hampir tak ada harapan untuk meningkatkan taraf hidupnya atau bahkan untuk menikah. Suatu ketika, ia jatuh cinta kepada seorang prajurit yang ditempatkan di Salzburg. Dari prajurit itu ia mengandung seorang bayi yang dilahirkannya pada tanggal 11 Desember 1792. Malangnya, sang prajurit tak hendak bertanggung-jawab atas puteranya dan meninggalkan Anna serta sang bayi untuk memperjuangkan hidup mereka sendiri. Walau demikian, Anna menambahkan nama keluarga sang prajurit kepada nama bayinya, yang ia namakan Joseph Mohr. Menjadi seorang ibu tanpa pernah menikah, dengan seorang anak haram, Anna harus menghadapi cemoohan dan penolakan masyarakat. Pada akhirnya, ia minta kepada algojo kota untuk menjadi wali baptis bagi bayinya Joseph.

Anna memberikan yang terbaik yang mampu ia berikan bagi Joseph. Ia sadar bahwa pendidikan yang baik akan memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi puteranya. Imam paroki setempat mengetahui kecemerlangan Joseph dan juga bakatnya menyanyi. Ia mengatur agar Joseph dapat bersekolah di sekolah biara yang terkenal di Kremsmunster. Di sana, Joseph muda menonjol dalam pelajaran-pelajarannya. Di kemudian hari ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang imam dan masuk seminari pada usia 16 tahun. Akhirnya, ketika siap untuk ditahbiskan pada usia 22 tahun, Joseph membutuhkan dispensasi khusus sebab ia tak mempunyai seorang ayah.

Joseph Mohr ditugaskan sebagai pastor pembantu di Gereja St. Nikolaus di Oberndorf, sekitar 10 mil baratlaut kota Salzburg, di tepi Sungai Salzach. (Gereja St. Nikolaus dihancurkan banjir pada tahun 1899, tetapi sebuah kapel peringatan berdiri di sana hingga sekarang.) Paroki di mana ia ditempatkan sangat sederhana, imam parokinya keras dan hemat, begitulah halusnya.

Di sini, Pastor Mohr bersahabat dengan Franz Gruber. Gruber adalah putera seorang penenun yang kurang menghargai musik. Franz diharapkan untuk melanjutkan usaha dagang ayahnya. Meskipun ditentang sang ayah, Franz mulai belajar bermain gitar dan organ. Pastor paroki bahkan mengijinkan Franz untuk berlatih di gereja. Bakatnya pun segera dikenali, dan ia dikirim untuk belajar musik secara resmi. Pada akhirnya ia menetap di kota Oberndorf dengan bekerja sebagai seorang guru musik dan membina hidup berkeluarga dengan duabelas anak. Mohr dan Gruber saling berbagi dalam kecintaan mereka akan musik, mereka berdua bermain gitar.  

Pada tanggal 23 Desember 1818, saat Natal hampir tiba, Mohr mengunjungi seorang ibu dengan bayinya yang baru lahir. Dalam perjalanan pulang ke Pastoran, ia berhenti di tepi sungai dan merenungkan peristiwa Natal yang pertama. Ia menulis sebuah puisi yang menggambarkan intisari peristiwa iman yang agung itu dan memberinya judul Stille Nacht, beilige Nacht; Malam Sunyi, Malam Kudus. Dalam komposisinya, ia berhasil menangkap misteri inkarnasi dan kelahiran Kristus yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata: Bayi Yesus yang Kudus, yang adalah Kristus Sang Juruselamat, Putra Allah, dan Terang Sejati Allah, dilahirkan oleh Santa Perawan Maria dan memenuhi dunia dengan rahmat penebusan dari surga.

Sekembalinya ke paroki, ia dikecewakan dengan berita bahwa organ gereja rusak. Tikus-tikus yang rakus telah menggerogotinya melalui pengembus, melumpuhkan sistem embusan yang dibutuhkan pipa-pipa untuk menghasilkan musik. Karena Natal sudah di ambang pintu dan tanpa dana yang cukup untuk memperbaiki organ, umat khawatir Misa Natal tengah malam tidak akan meriah. Pastor Mohr bergegas menuju rumah sahabatnya, Franz Gruber, dan menceritakan kesedihannya. Ia menyerahkan puisinya kepada Gruber dan memintanya untuk menuliskan melodi atas puisi tersebut agar dapat dimainkan dengan gitar. Franz Gruber menyelesaikan tugas pada waktunya. Dalam Misa Natal tengah malam pada tahun 1818, dunia mendengarkan untuk pertama kalinya lagu yang sederhana namun agung, yang kita kenal sebagai lagu Malam Kudus.

Lagu Malam Kudus mendapat sambutan yang sangat baik dan dengan cepat menyebar ke seluruh Austria, seringkali secara gampang disebut sebagai A Tyrolean Carol. Frederick Wilhelmus IV, Raja Prusia, mendengarkan Malam Kudus dinyanyikan di Gereja Berlin Imperial dan memerintahkannya agar dinyanyikan di segenap penjuru kerajaan pada pesta-pesta dan perayaan Natal. Ironisnya, lagu tersebut menjadi terkenal tanpa penghargaan kepada para penggubahnya. Sebagian orang berpikir bahwa Michael Haydn, saudara dari komposer terkenal Franz Joseph Haydn, yang menuliskannya. Oleh sebab itu, Raja Frederick Wilhelmus, memerintahkan agar dicari penggubah yang sebenarnya.

Suatu hari, para utusan raja tiba di biara St. Petrus di Salzburg untuk menanyakan perihal penggubah lagu Malam Kudus. Felix, putera Franz Gruber, yang menjadi murid di sana, menemui mereka dan menceritakan kisah di balik lagu Malam Kudus serta mengantar mereka kepada ayahnya, yang sekarang menjadi pemimpin paduan suara di suatu paroki lain. Sejak saat itulah, keduanya, Mohr dan Gruber, diakui sebagai penggubah lagu Malam Kudus.

Pastor Joseph Mohr wafat dalam usia 56 tahun pada tanggal 4 Desember 1848 karena tuberculosis. Gruber wafat dalam usia 76 tahun.

Terjemahan lagu Malam Kudus dalam bahasa Inggris dilakukan oleh Jane Campbell pada tahun 1863 dan dibawa ke Amerika pada tahun 1871, muncul dalam Buku Nyanyian Sekolah Minggu Charles Hutchins. Sementara terjemahan dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh Yamuger / Seksi Musik Komlit KWI pada tahun 1992.

Sementara kita mempersiapkan datangnya Natal, kiranya kita sungguh mencamkan dalam hati kata-kata yang terdapat dalam lagu Malam Kudus dan semoga pesan yang disampaikannya kita amalkan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan-perbuatan kita. Kepada segenap pembaca, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Natal!

Fr. Saunders is pastor of Queen of Apostles Church in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: What Can You Tell Me about the Song 'Silent Night'?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

December 22, 2010

Siapakah Para Majus?


oleh: Romo William P. Saunders *

Injil Matius menyebut tentang para majus yang datang dari Timur untuk menyembah bayi Kristus yang baru dilahirkan (bdk. Mat 2:1-12). Tetapi, tepatnya siapakah para majus tersebut tetap merupakan suatu misteri.

Seringkali para majus disebut juga sebagai ahli perbintangan. Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Injil, kata “magos” (magoi, jamak) mempunyai empat arti: (1) seorang dari golongan imam Persia kuno, di mana astrologi dan astronomi berperan penting pada masa Kitab Suci; (2) seorang yang memiliki pengetahuan dan kuasa gaib (= okultisme), dan mahir dalam menafsirkan mimpi, perbintangan, ramal, hal-hal klenik, dan perantara roh; (3) seorang ahli nujum; atau (4) seorang dukun, yang memeras orang dengan mempergunakan praktek-praktek di atas. Dari definisi yang mungkin di atas dan dari gambaran dalam Injil, para majus kemungkinan adalah para imam Persia ahli perbintangan yang dapat membaca bintang-bintang, teristimewa makna bintang yang mewartakan kelahiran Mesias. (Bahkan ahli sejarah kuno Herodotus (wafat abad ke-5 SM) menegaskan keahlian kaum imam Persia dalam perbintangan).            

Yang terpenting, kunjungan para majus menggenapi nubuat Perjanjian Lama: Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai dengan sebuah bintang: “Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bil 24:17). Mazmur 72 berbicara mengenai bagaimana bangsa kafir akan datang untuk menyembah Mesias:“kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan, kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” (Mzm 72:10-11). Yesaya juga menubuatkan persembahan-persembahan: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yes 60:6).

St. Matius mencatat bahwa para majus membawa tiga persembahan; masing-masing persembahan memiliki makna nubuat: emas, persembahan bagi seorang raja; kemenyan, persembahan bagi seorang imam; dan mur - balsam penguburan, persembahan bagi seorang yang akan meninggal. St. Ireneus (wafat 202) dalam tulisannya Adversus haereses menyampaikan tafsiran atas persembahan emas, kemenyan dan mur sebagai berikut: Raja, Tuhan dan Penebus yang Menderita, juga menafsirkannya sebagai keutamaan, doa dan penderitaan.

Pada umumnya, kita berpikiran bahwa ketiga majus tersebut adalah tiga orang raja. Kita biasa menempatkan patung tiga raja di gua natal kita. Kita bahkan menyanyikan, “Kami tiga raja dari Timur….” Di sini, ketiga persembahan, Mazmur 72 dan bintang yang terbit di Timur secara bersama-sama menggambarkan para majus sebagai tiga raja yang datang dari Timur.

Sebenarnya, tradisi awali tidak konsisten mengenai jumlah para majus. Tradisi Timur menyebutkan ada duabelas orang majus. Di Barat, beberapa Bapa Gereja perdana - termasuk Origen, St. Leo Agung, dan St. Maximus dari Turin - setuju ada tiga orang majus. Lukisan Kristen Perdana di Roma yang diketemukan dalam makam St. Petrus dan St. Marcellinus menggambarkan dua orang majus dan di makam St. Domitilla, empat orang.

Sejak abad ketujuh di Gereja Barat, para majus diidentifikasikan sebagai Kaspar, Melkior dan Baltasar. Dalam suatu karya tulis berjudul Excerpta et Collectanea yang ditulis St. Beda (wafat 735) tercatat demikian, “Para majus adalah mereka yang membawa persembahan bagi Tuhan. Yang pertama dikatakan bernama Melkior, seorang tua berambut putih dan berjenggot panjang… yang mempersembahkan emas kepada Kristus bagai kepada seorang raja. Yang kedua bernama Kaspar, seorang muda tanpa jenggot dan kulitnya kemerah-merahan… menyembah-Nya sebagai Tuhan dengan persembahan kemenyan, suatu persembahan yang layak bagi yang ilahi. Yang ketiga, berkulit hitam dan berjenggot lebat, namanya Baltasar… dengan persembahan murnya memberikan kesaksian pada Putra Manusia bahwa ia akan wafat.” Suatu kutipan dari penanggalan para kudus abad pertengahan yang dicetak di Cologne berbunyi, “Setelah mengalami banyak pencobaan dan kelelahan demi Injil, ketiga orang bijaksana tersebut bertemu di Sewa (Sebaste di Armenia) pada tahun 54 untuk merayakan Natal. Kemudian, setelah Perayaan Misa, mereka wafat: St. Melkior pada tanggal 1 Januari, dalam usia 116 tahun; St. Baltasar pada tanggal 6 Januari, dalam usia 112 tahun; dan St. Kaspar pada tanggal 11 Januari, dalam usia 109 tahun.” Martirologi Romawi juga mencatat tanggal-tanggal di atas sebagai pesta masing-masing majus.

Kaisar Zeno membawa reliqui para majus dari Persia ke Konstantinopel pada tahun 490. Reliqui (entah sama atau serupa) muncul di Milano bertahun-tahun kemudian dan disimpan di Basilika St. Eustorgius. Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, yang menjarah Italia, membawa reliqui ke Cologne pada tahun 1162, di mana reliqui aman tersimpan hingga saat ini dalam sebuah rumah reliqui yang indah di katedral.

Meskipun sebagian misteri tetap tak terungkap mengenai identitas para majus, Gereja menghormati sembah sujud mereka: Konsili Trente, ketika menekankan penghormatan yang patut diberikan kepada Ekaristi Kudus memaklumkan, “Umat beriman Kristus menghormati Sakramen Mahakudus ini dengan penyembahan latria yang diperuntukkan bagi Allah yang benar…. Sebab dalam sakramen ini kita percaya bahwa Allah yang sama hadir, yang diutus Bapa yang kekal ke dalam dunia dengan mengatakan, `Biarlah segenap malaikat Allah menyembah-Nya.' Dialah Allah yang sama yang para Majus sujud menyembah, dan akhirnya, Allah yang sama yang dipuja para Rasul di Galilea seperti dicatat dalam Kitab Suci” (Dekrit tentang Sakramen Mahakudus, 5).

Dengan merayakan Hari Raya Natal dan Epifani (sekarang Hari Raya Penampakan Tuhan), kita pun patut sadar akan kewajiban kita untuk bersembah sujud kepada Kristus melalui doa, sembah bakti, dan perbuatan-perbuatan baik serta kurban. St. Gregorius Nazianze (wafat 389) menyampaikan khotbahnya, “Marilah kita tinggal dalam sembah sujud; dan kepada Dia, yang, guna menyelamatkan kita, merendahkan Diri hingga ke tingkat kemiskinan yang begitu rupa dengan menerima tubuh kita, marilah kita mempersembahkan tidak hanya kemenyan, emas dan mur…, melainkan juga persembahan-persembahan rohani, yang lebih luhur daripada yang dapat dilihat dengan mata” (Oratio, 19).


Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight AnswersWho Were the Magi?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
                                                                                                                                                                                                                                                                      

December 16, 2010

Apakah Sinterklas Sungguh Ada?

oleh: P. William P. Saunders *

Apakah Sinterklas sungguh ada?
~ seorang siswa kelas tiga di Arlington

Ya, Sinterklas sungguh ada. Tetapi, kita lebih mengenalnya sebagai St Nikolaus. Sayangnya, kita hanya mempunyai sedikit saja bukti sejarah mengenai santo yang populer ini. Menurut tradisi, St Nikolaus dilahirkan di Patara di Lycia, sebuah propinsi di Asia Kecil, dalam sebuah keluarga Kristiani yang kaya raya; ia beruntung mendapatkan pendidikan Kristiani yang kuat. Sebagian mengatakan bahwa pada usia lima tahun ia mulai belajar ajaran-ajaran Gereja. Ia senantiasa berusaha mengamalkan kebajikan dan belas kasihan.

Kedua orangtua St Nikolaus meninggal dunia ketika ia masih muda dan meninggalkan harta warisan yang besar, yang dipergunakannya untuk melakukan banyak perbuatan baik. Suatu kisahnya yang terkenal bercerita mengenai seorang duda yang mempunyai tiga anak gadis. Sang ayah hendak menjual anak-anak perempuannya itu ke pelacuran sebab ia tak mampu menyediakan mas kawin yang dibutuhkan bagi perkawinan mereka. St Nikolaus mendengar nasib buruk yang menimpa ketiga anak gadis ini dan memutuskan untuk menolong. Dalam kegelapan malam, ia pergi ke rumah mereka dan melemparkan sekantong emas melalui sebuah jendela yang terbuka di rumah sang duda, dengan demikian menyediakan uang yang diperlukan untuk mas kawin yang layak bagi anak gadis tertua. Berturut-turut dua malam berikutnya, St Nikolaus melakukan hal yang sama; kemurahan hatinya menyelamatkan ketiga gadis tersebut dari nasib malang.

Reputasi St Nikolaus sebagai seorang yang kudus tersebar luas. Ketika Bapa Uskup wafat, St Nikolaus dipilih untuk menggantikannya sebagai Uskup Myra. Beberapa catatan sependapat bahwa St Nikolaus menderita dipenjarakan dan dianiaya demi iman dalam masa penganiayaan Kaisar Diocletian sekitar tahun 300. Beberapa sumber menegaskan bahwa setelah disahkannya kekristenan, ia hadir dalam Konsili Nicea (tahun 325) dan ikut serta dalam mengutuk bidaah Arianisme yang menyangkal keallahan Kristus. Kisah selanjutnya menceritakan bagaimana St Nikolaus ikut campur tangan demi membebaskan tiga orang tak bersalah yang dijatuhi hukuman mati oleh seorang gubernur yang korup bernama Eustathius, yang ditentang oleh St Nikolaus dan digerakkan pada pertobatan. St Nikolaus wafat pada abad keempat antara tahun 345 dan 352 pada tanggal 6 Desember, dan dimakamkan di katedralnya.

St Nikolaus telah senantiasa dihormati sebagai seorang santo besar. Pada abad keenam, Kaisar Yustinian I mendirikan sebuah gereja demi menghormati St Nikolaus di Konstantinopel, dan St Yohanes Krisostomus memasukkan namanya dalam liturgi. Pada abad kesepuluh, seorang penulis anonim Yunani menulis, “Baik Barat maupun Timur memuji dan memuliakan dia. Di manapun orang berada, di desa dan di kota, di dusun dan di pulau-pulau, di belahan-belahan bumi yang paling jauh sekalipun, namanya dihormati dan gereja-gereja didirikan demi menghormatinya. Segenap umat Kristiani, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, pula anak-anak, menghormati kenangan akan dia dan berseru mohon perlindungannya.”

Setelah Seljuk Moslem yang fanatik menyerbu Asia Kecil dan dengan keji menganiaya kekristenan, tubuh St Nikolaus diselamatkan oleh para saudagar Italia dari pencemaran pada tahun 1087 dan dimakamkan kembali di sebuah gereja baru di Bari, Italia. Paus Urbanus II, seorang pembela iman yang gigih dan seorang penganjur perang salib, memberkati makam baru tersebut dengan upacara meriah. Sejak saat itu, devosi kepada St Nikolaus meningkat di seluruh wilayah Barat. Sebagai misal, lebih dari 400 gereja di Inggris didedikasikan kepadanya. Beberapa waktu lamanya dalam Abad Pertengahan, makamnya menjadi tempat ziarah yang paling banyak dikunjungi para peziarah dari seluruh Eropa. Yang menarik, karena aroma dupa yang tercium di sekitar makamnya, segera saja ia dikenal sebagai santo pelindung dari para pengusaha wangi-wangian.

Menurut tradisi, St Nikolaus dihubungkan dengan pemberian hadiah-hadiah pada masa Natal, karena kisahnya mengenai duda dengan tiga anak gadisnya itu. Di Belanda, di mana tampaknya kebiasaan ini berasal, St Nikolaus (atau Sint Klaas atau Santa Claus) akan datang pada malam menjelang pestanya (6 Desember) dengan membawa berbagai macam hadiah untuk anak-anak yang manis; seringkali dengan mengisikannya pada sepatu-sepatu kayu mereka. Banyak hiasan-hiasan Natal dari Belanda maupun Jerman menggambarkan St Nikolaus mengenakan pakaian uskup dengan mitra dan tongkat uskup di tangannya, dengan disertai seorang malaikat penolong yang membawa daftar nama anak-anak yang baik.

Devosi kepada St Nikolaus diselewengkan oleh kaum Protestan Belanda, yang ingin menghapus “ke-Katolik-an” St Nikolaus. Mereka menanggalkan tanda wewenang uskupnya, dan menjadikannya lebih menyerupai seorang Bapa Natal dari Eropa berbaju merah. Mereka juga mengaitkannya dengan beberapa legenda seputar dewa Thor yang mengendarai sebuah kereta dan yang datang mengunjungi rumah melalui cerobong asap.

Pada abad ke-19, para penulis Amerika juga berperan serta dalam menghapuskan gambaran St Nikolaus sebagai seorang uskup. Pada tahun 1820, Washington Irving menulis sebuah kisah mengenai Santa Claus yang terbang dalam sebuah kereta untuk membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak. Tiga tahun kemudian, Clement Moore menulis Sebuah Kunjungan dari St Nikolaus (yang lebih dikenal sebagai Malam Sebelum Natal, menggambarkan Santa Claus sebagai seorang “kurcaci tua jenaka” dengan perut gendut bagai tong, pipi merah bagai mawar, dan hidung bagai buah ceri. Pada tahun 1882, Thomas Nast melukis gambar Santa Claus berdasarkan gambaran yang diberikan Moore dan bahkan menambahkan North Pole sebagai tempat kediamannya. Dan akhirnya, Haddom Sundblom, seorang seniman iklan dari Coca-Cola mengubah sosok Santa Claus menjadi seorang tokoh berpakaian merah, berbadan besar, dan bahkan gemar minum cola, seperti yang dengan mudah kita bayangkan dalam pikiran kita sekarang ini.        

Jadi, apakah Sinterklas atau Santa Claus sungguh ada? Saya ingat suatu ketika saya membaca tanggapan editor The New York Sun pada tahun 1897 atas pertanyaan yang sama yang diajukan seorang anak perempuan berumur 8 tahun bernama Virginia. Sebagian dari jawaban tersebut, yang masih relevan hingga kini, adalah, “Ya, Virginia, Santa Claus sungguh ada. Ia ada, senyata cinta kasih dan kemurahan hati dan devosi ada, dan kau tahu bahwa semuanya itu ada dengan berlimpah-limpah dan mengisi hidupmu dengan kebahagiaan dan sukacita yang paling luar biasa. Sungguh malang! Betapa suramnya dunia ini andai tidak ada Santa Claus! Pastilah akan sesuram andai tidak ada Virginia-Virginia. Sebab, jika demikian tidak akan ada iman yang kekanak-kanakan, tidak akan ada gubahan sajak, tidak akan ada romantisme yang membuat hidup ini tertahankan. Kita tidak akan menikmati kegembiraan, kecuali dalam apa yang dipikir dan dilihat. Cahaya abadi dengan mana masa kanak-kanak mengisi dunia akan lenyap. ... Tak seorang pun pernah melihat Santa Claus, tetapi itu bukan berarti bahwa Santa Claus tidak ada. Hal-hal yang paling nyata di dunia adalah hal-hal yang tak dapat dilihat baik oleh anak-anak maupun orang-orang dewasa. ... Terima kasih Tuhan! Santa Claus ada, dan ia akan ada untuk selama-lamanya.”

Bagi saya, pernyataan di atas merupakan suatu kesaksian yang cukup bagus mengenai St Nikolaus dan sukacita yang ia datangkan ke dalam perayaan Natal kita. Kiranya St Nikolaus mengilhami kita dengan doa-doanya dan teladan hidupnya agar kita dapat merayakan Natal dengan penuh iman.

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Is There a Santa Claus?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

December 12, 2010

Perlukah Merayakan Natal?

 “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamukesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2 : 10 – 14, TB-LAI, warna merah adalah tambahan penulis)

Dalam minggu ini, penulis menerima undangan untuk hadir pada ‘Perayaan Natal’ keluarga besar Lembaga Alkitab Indonesia pada tanggal 16 Desember 2009 di Jakarta, sebuah kesempatan yang indah untuk berbagi kesukacitaan dengan keluarga besar pencinta LAI. … Dibalik itu mungkin ada yang mempertanyakan: “Mengapa tidak diadakan pada tanggal 25 Desember?” namun sebaliknya orang juga bisa mempertanyakan: “Mengapa harus tanggal 25 Desember?” Jawabannya: “Dalam hubungan dengan ‘hari Natal,’ umat kristen tidak merayakan ‘hari’nya tetapi ‘Natal’nya.” (Natal [latin: lahir] artinya berhubungan dengan kelahiran dan ‘Hari Lahir’ dalam bahasa latin disebut ‘Dies Natalis, dan dalam dalam hubungan dengan Natal Yesus maksudnya ‘kenangan akan kelahiran Yesus, Juruselamat, Kristus Tuhan’)
Pernah seorang teolog bernama Bruno Baur menolak bahwa Yesus pernah hidup di dunia, dan kelompok teolog modern dan Jesus Seminar menolak ke’Tuhan’annya, namun umat Kristen danorang-orang pada umumnya mengakui bahwa memang benar bahwa ‘Yesus pernah hidup di Yudeapada abad pertama dan lahir di Betlehem, namun kapan kelahiran itu terjadi?’
Peristiwa Natal pertama tercatat jelas dalam Kitab Injil Matius (1:18-2:11) dan Lukas(2:1-20), peristiwa mana terjadi ketika kaisar Romawi Agustus mengeluarkan perintah sensus dimana penduduk harus mendaftar ulang di tempat asal kelahiran mereka. Dari sejarah kita mengetahui bahwa kaisar Agustus memerintah sekitar tahun 30SM – 14M. Namun, kapan waktunya ia mengadakan sensus itu?
Dari data Alkitab tersirat bahwa pada waktu Yesus dilahirkan, Yudea diperintah oleh rajaHerodes Agung (37 – 4SM) yang kejam bahkan kita melihat kekejaman itu pada waktu ia membunuh bayi-bayi di Betlehem (Mat.2:16-18). Dari data ini kita dapat mengetahui bahwa waktunya tidak lebih lambat dari tahun 4SM, dan karena Herodes meninggal tidak lama setelah kelahiran Yesus, maka kemungkinan Yesus lahir antara tahun 6 – 4SM. (Menarik mengetahui bahwa pada dasawarsa pertama SM komit Haley diperkirakan melintas di Palestina. Menurut catatan Josephus, komit Haley yang bersiklus 7o-an tahun sekali itu pada tahun 64M melintas diatas Jerusalem).
Sekarang, pada bulan apa Yesus dilahirkan? Benarkah seperti yang dikatakan tradisi gereja yang menyebut tanggal 25 Desember? Kelihatannya bulan dan tanggal itu tidak tepat, soalnya pada bulan Desember – Januari, di Palestina, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju, sehingga agaknya tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Luk.2:8), demikian juga tentunya kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil tua mesti melakukannya.
Ada pendapat selain bulan Desember itu yang mengemukakan bahwa kemungkinan Yesus dilahirkan pada bulan Juni karena iklimnya menunjangada juga yang mengemukakan bahwa Yesus dilahirkan di bulan Tishri (September – Oktober) yaitu pada hari Raya Pondok Daun, dimana iklimnya masih menunjang. Argumentasi ini didasarkan waktu penugasan Zakharia masuk ke Bait Allah adalah sekitar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun. Lalu mengapa diadakan pada tanggal 25 Desember?
Umat Kristen abad pertama tidak merayakan hari Natal, bagi mereka kekristenan berpusat pada rangkaian hari kematian, didahului dengan perjamuan malam dengan puncak kebangkitan Tuhan Yesus Kristus pada hari yang ketiga yang dikenal sebagai hari Paskah, dan ini dikenang dengan pertemuan perjamuan dengan makan roti dan anggur bahkan tiap hari terutama pada hari pertama dalam minggu dimana para-murid biasa berkumpul. Sejak abad-3 gereja Timur (Orthodox) merayakan hari ‘Epifani’ (manisfestasi) pada tanggal 6 Januari untuk merayakan hari pembaptisan Yesus di sungai Yordan yang sekaligus mencakup peringatan akan kelahiran-Nya. Perayaan Epifani masih dirayakan gereja Timur hingga kini dengan memberkati air baptisan dan sungai Yordan. Di gereja Barat, hari Epifani juga dirayakan untuk mengingat kunjungan para Majus, dan sejak abad-4 untuk mengenang peristiwa  sekitar manifestasi kelahiran Yesus di Betlehem.
Pada tahun 274, di Roma dimulai perayaan hari kelahiran Matahari pada tanggal 25 Desember sebagai penutup festival saturnalia (17-24 Desember) karena diakhir musim salju Matahari mulai menampakkan sinarnya pada hari itu. Menghadapi perayaan kafir itu, umat Kristen umumnya meninggalkannya dan tidak lagi mengikuti upacara itu, namun dengan adanya kristenisasi masal di masa Konstantin, banyak orang Kristen Roma masih merayakannya sekalipun sudah mengikuti agama Kristen. Kenyataan ini mendorong pimpinan gereja di Roma mengganti hari perayaan ‘kelahiran Matahari’ itu menjadi perayaan ‘kelahiran Matahari Kebenaran’ dengan maksud mengalihkan umat Kristen dari ibadat kafir pada tanggal itu dan kemudian menggantinya menjadi perayaan ‘Natal, mengenang kelahiran Yesus.’ Pada tahun 336, perayaan Natal mulai dirayakan tanggal 25 Desember sebagai pengganti tanggal 6 Januari. Ketentuan ini diresmikan kaisar Konstantin yang saat itu dijadikan lambang raja Kristen. Perayaan Natal pada tanggal 25 Desemberkemudian dirayakan di Anthiokia (375), Konstantinopel (380), Alexandria (430), dan menyebar ke tempat-tempat lain.
Dari kenyataan sejarah tersebut kita mengetahui bahwa Natal bagi umat Kristen bukanlah perayaan hari Matahari tetapi pengganti perayaan Hari Matahari,’ yaitu usaha pimpinan gereja untuk mengalihkan umat kristen Roma dari hari Matahari kepada Tuhan Yesus Kristus dengan cara menggeser tanggal 6 Januari menjadi 25 Desember, dengan maksud agar umat Kristen tidak lagi mengikuti upacara kekafiran. Masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari Matahari, dan tanggal 25 Desember pun tidak mengikat, sebab setidaknya umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman seperti perayaan Natal LAI yang diadakan tanggal 16 Desember itu.
Memang harus diakui, bahwa ada pengaruh tradisi budaya kafir atas ‘perayaan’ Natal di gereja Barat (yang kemudian menjadi Roma Katolik) yaitu misalnya perayaan Natal dicampur-baurkan dengan perayaan figur ‘Santo Nicholas’ seorang uskup yang saleh pada abad XI yang senang membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak. Santo Nocholas di negeri Belanda dirayakan sebagai ‘Sinterklaas’ (yang naik kuda dengan pelayannya yang berkulit hitam) pada tanggal 5 Desember, sedangkan di Amerika dirayakan sebagai ‘Santa Claus’ pada tanggal 25 Desember. Figur Santa Claus kemudian dicampur-adukkan dengan ‘dewa ‘Odin’ Norwegia’ yang menaiki kereta salju ditarik oleh rusa kutub (reindeer) yang bisa terbang.
Pada abad XIII Franciscus dari Azisi memperkenalkan ‘creche’ yaitu replika kandang dan ternak yang dihiasi pula dengan figur Yusuf dan Maria dengan palungan tempat bayi Yesus diletakkan dan dihadiri para gembala dan orang Majus, ini kemudian menjadi hiasan Natal yang diletakkan dibawah pohon Natal. Penggunaan Pohon Natal (sejak abad XVI) melambangkan ‘kekekalan’ mengingat pohon den (cemara) tahan menghadapi empat cuaca, pohon ini biasa dihiasi lilin/lampu mengenang indahnya pemandangan dimusim salju dimana orang melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah penduduk dibalik dahan/ranting pohon yang tetap hijau dipadang bersalju.
Yang harus di’demitologisasikan dari perayaan Natal’ bukanlah ‘kenangan Natal Yesus’ melainkan ornamen kafir yang mengiringi perayaannya seperti ‘prasangka hari matahari’ dan ‘ilustrasi Santa Claus dengan kereta salju terbangnya,’ dengan demikian kita tidak mengorbankan tubuh perayaan kenangan kelahiran Yesus yang begitu luhur hanya karena kita berprasangka dengan baju perayaan Natal yang sobek yang ada tambalannya. Tidak ada upacara agama manapun yang sama sekali steril dari pengaruh tradisi budaya/agama.
Setiap orang secara pribadi dapat merayakan Natal pada ‘hari’ yang disukainya (idealnya setiap hari merayakannya!), hanya bila ingin merayakan secara kelompok (di gereja/persekutuan) tentu perlu konsensus mengenai tanggal yang dipilih bersama agar seragam, sebab bila masing-masing merayakan pada tanggal kesukaannya sendiri misalnya pada bulan Juni atau bulan Tishri, siapa ikut menghadirinya? Justru dengan mencari-cari tanggal yang tepat seseorang terjebak tradisi kafir yang menentukan satu hari lebih dari hari lainnya (Gal.4:9-11). Bagi seorang yang dewasa dalam iman, hari yang mana bukan syarat karena itu hanyalah kulit/permukaan ritual saja, tetapi yang penting adalah ‘hakekat’ sukacita Natal ‘Kelahiran Tuhan Yesus Kristus,’ karena itulah inti Natal yang seharusnya kita kenang dalam persekutuan kasih Natal. Biasanya umat kristen merayakan di gereja pada salah satu hari di bulan Desember sedangkan persekutuan kristen biasanya pada hari-hari di bulan Januari, namun kalau sesudah bulan itu rasanya kadaluwarsa bukan?
Ibu mertua penulis lahir pada tahun 1917 dan masih hidup sampai sekarang dan tinggal bersama kami. Mengenai tanggal dan bulan kelahirannya sudah terlupakan, tetapi kami mengambil hari pernikahannya yaitu bulan Februari yang catatan surat nikahnya masih ada untuk mengenang hari kelahirannya, dan si’ibu’ setiap tahun bisa bersukacita merayakan pertambahan umurnya bersama anak, cucu, dan buyut dengan makan bersama di rumah. Betapa indahnya pertemuan keluarga empat generasi demikian!
Akhirnya, . . .
“Merayakan ‘Natal’ adalah baik dan perlu, dimana ada saat diakhir tahun dimana kita bersyukur mengenang kelahiran ‘Yesus Kristus, sang Juruselamat dunia’ yang telah lahir 20 abad silam, dimana kita sekaligus dapat ‘memuji dan memuliakan Allah’ yang telah mendatangkan ‘kesukaan besar bagi seluruh bangsa’ dan ‘damai sejahtera di bumi’ bersama dengan umat di gereja/persekutuan. Kabar baik (evangelion) yang seharusnya kita beritakan ke seluruh penjuru dunia.”
Salam kasih dari Sekertariat www.yabina.org

December 5, 2010

THE ARAB JESUS : Citra ‘Isa menurut Orang Arab Awam

Oleh : Bambang Noorsena


*) Disajikan dalam Pengajian Injil yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanisah Orthodox Syria (YKOS), di Gedung Keuskupan Katolik - Surabaya, 3 Agustus 2001. 


Setelah wafatnya Muhammad terjadilah keajaiban di dunia, bahwa Islam hanya dalam waktu 8 tahun saja sudah menguasai wilayah yang amat luas, dari Mesir sampai Persia Tengah. "Laksana gunung berapi yang tiba-tiba meletus, menimbulkan gempa di sekelilingnya dengan batu-batu besar yang menghancurkan segala yang ditimpanya", demikian Hendrick Kreamer menggambarkan penaklukan Islam yang begitu cepat tersebut.

Apakah faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan cepat itu? Sekurang-kurangnya ada 3 alasan sebagai berikut :

  1. Alasan Politik dan Militer. Adanya pertentangan 2 imperium besar habis-habisan antara Romawi/Byzantium dan Sasanid Persia selama hampir 24 tahun (606-630), sehingga keduanya kehilangan tenaga sama sekali, dan serangan Islam dirasakan begitu tiba-tiba. Mula-mula Persia merebut Syria, Mesopotamia, Antiokhia, Yerusalem dan Mesir dari tangan Romawi tahun 606-622. Lalu tahun 622-630, Kaisar Romawi Heraklitos membalas merebut wilayah di atas. Dalam konflik politik itu, umat Kristen terdesak di antara 2 pengaruh besar itu.
  2. Alasan Pertikaian teologis yang berlarut-larut. Gagalnya konsili Kalsedon tahun 451, minimal telah melahirkan kelompok-kelompok Kristen: (a) Kelompok Nestorian di Mesopotamia dan Persia; (b) Pihak Kalsedon, Gereja Ortodoks Yunani dan kelompok-kelompok kecil yang ditaklukkan Kaisar Byzantium, yaitu kaum Melkit di Siria, Palestina dan Mesir; (c) Kelompok non-Kalsedonia, yaitu Gereja Ortodoks Siria dan Gereja Ortodoks Koptik di Mesir; (d) Kelompok Monofisit pengikut Julian Halicarnasus yang diikuti beberapa orang Koptik di Mesir.
  3. Penindasan Politik Kaisar Byzantium atas orang-orang Kristen Syria dan Mesir. Kaisar Heraklitos, misalnya, menuntut pajak yang sangat berat dirasakan orang Kristen pribumi di Syria dan Mesir yang umumnya menolak konsili Kalsedon. Penindasan itu menyebabkan timbulnya nasionalisme di kalangan orang Kristen tertindas yang kemudian bergabung dengan Islam


Penilaian Kristen terhadap Penaklukan Islam 
Ironisnya, ketiga (bahkan keempat) kelompok Kristen yang bertikai memandang bahwa kedatangan Islam dianggap sebagai "pembalasan Tuhan" atas kelompok yang tidak disukainya :

  • Kelompok Melkit. Diwakili oleh Uskup Sofronius di Yerusalem (tahun 634). Ia menganggap bahwa Islam datang sebagai wujud penghukuman Tuhan karena dosa-dosa orang Kristen sendiri. Karena itu, ia berseru agar orang Kristen bertobat agar ia menang atas tentara Arab Islam, agar dapat merayakan Natal di kota suci dengan sukacita.
  • Dari kelompok non-Kalsedonia, antara lain dapat dibaca komentar Patriarkh Mikhail al-Kabir yang meyakini bahwa Allah telah membangkitkan kaum Ismail dari selatan untuk membalaskan penindasan orang Kristen Byzantium "karena mereka telah merampok gereja-gereja dan biara-biara kita". Bahkan tokoh Uskup Yakobus pada bulan Juli 634 melandaskan komentar atas alasan teologis, bahwa karena ajaran bidat kaum Kalsedon yang menyebabkan hukuman Allah itu melalui tangan orang-orang Islam.
  • Kelompok Nestorian diwakili oleh ucapan rahib Yahya dari Panek, yang menetap di tepi sungai Tigris, dekat Jazirah Mesopotamia/Syria, bahwa karena dosa-dosa "orang monofisit" yang mengatakan Allah dapat menderita dan mati di kayu salib, murka Allah itu turun atas orang-orang Kristen. Tentu saja, komentarnya ini merupakan kesalahfahaman terhadap kristologi non-Kalsedonia yang dianut Gereja Ortodoks Syria dan Gereja Ortodoks Koptik.

Inilah factor yang melatarbelakangi kejayaan Islam, salah satunya justru karena sokongan orang-orang Kristen sendiri. Padahal, pada masa-masa kemudian pemerintahan Islam juga membatasi kebebasan orang-orang Kristen. Mereka hanya menjamin kebebasan bagi orang-orang Kristen yang sudah ada, tetapi tidak memperbolehkannya secara leluasa untuk berkembang. Kebijakan ini telah menyebabkan orang-orang awam Islam, yang mempunyai simpati kepada Yesus menjadi tertekan. Di satu pihak mereka tidak puas dengan gambaran Yesus versi al-Qur’an, tetapi pada pihak lain mereka dilarang secara leluasa membaca Injil. Akibatnya, pandangan-pandangan mereka berkembang menjadi apa yang disebutThe Arab Jesus (Yesus menurut orang awam Arab). 


Citra Diri Mesiah dalam The Arab Jesus
Salah satu gambaran yang menarik dari citra Yesus yang dikembangkan di atas, antara lain sebagai berikut :

  • Citra seorang Pengelana fakir. Gambaran sebagai seorang petapa kelana peziarah di dunia, tanpa memiliki apa-apa, bahkan tidak sebongkah batu pun di dunia ini yang dimilikinya. Ia tampil sebagai seorang yang ber-belarasa atas penderitaan sesama, malah digambarkan sampai pingsan karena solidaritasnya atas sesama manusia. Gambaran ini juga dijumpai dalam hadits, bahkan dikembangkan menjadi legenda tersendiri dalam sekte Ahmadiyah. Disebutkan dalam sebuah riwayat Abdullah bin Umar dalam Kanzul Ummal, seperti dikutip oleh Mirza Ghulam Ahmad: Qala Ahannu syai’in ilallahi al-ghuraba’u. Qila Ayyu syai’in al-ghuraba’u? Qala Alladzina yafiruna bidinihin wa yajtami’una ila ‘Isa bnu Maryam (Sabda Muhammad: "yang paling dicintai Allah adalah orang yang miskin (gharib)". Ditanyakan kepada Rasulullah, "Apakah yang dimaksudkan dengan katagharib? Apakah ia adalah ‘Isa anak Maryam yang selalu mengembara dari negerinya dengan membawa agama?. Juga, dalam Hadits Abu Hurairah:Uuhayillahu ta’ala ‘Isa ‘an Ya ‘Isa, antaqil min makanin ila makanin, li alla tu’rafa faatuuda (Allah ta’ala mewahyukan kepada ‘Isa: Ya ‘Isa, pergilah dari satu tempat ke tempat lain, agar orang tidak mengenali engkau untuk menyiksamu).
  • Citra orang Suci terbebas dari Setan. Gambaran bahwa’Isa terbebas dari godaan Setan pada saat kelahirannya (The Arab Jesus, wacana 12). Mungkin ini pengaruh dari al-Qur’an, surah Ali Imran 36 dan kitab –kitab apokrifa sebelum al-Qur’an. Dalam Hadits Riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah disebutkan: Maa min nabi Adam min mauludin ila nakhasahusy syaithanu laa sharikhan min nakhsihi ayyahu ila Maryam wabnaha (Tidak ada seorang bayi dari keturunan Adam kecuali ia pasti mendapat tusukan dari Setan sehingga bayi itu menangis kecuali Maryam dan putranya). Juga, dalam Hadits Riwayat Bukhari: Kullu bani Adama yuth’inusy syaithanu fi ainaihi bishbu’ihi hina yuladu ila ‘Isa bnu Maryam (Semua anak Adam kedua matanya ketika lahir pasti ditusuk Setan dengan ujung jarinya, kecuali ‘Isa anak Maryam). Karena itu, Abu Hurairah juga berkata bahwa apabila seorang anak lahir hendaknya dibacakan ayat 36 surat Ali Imran yang berbunyi: Wa inni u’idzuhabika wa dzurriyataha minasy syaithanirajim (Dan aku mohon perlindunganmu agar dia dan keturunannya terpelihara dari Setan yang terkutuk).
  • Citra Yesus dan Misteri Salib. Bahwa penyangkalan historisitas penyaliban Yesus merupakan problem tersendiri dalam tafsir al-Qur’an. Versi penggantian di kayu salib juga tidak memuaskan para mutafsir sejak awal, seperti tampak pada Ibn Jarir ath-Thabari, dalam Jami’ al-Bayan fi at-Tafsir al-Qur’an. Ketidakpuasan atas penyangkalan penyaliban ‘Isa ini juga tampak pada wacana ke-16. Dikisahkan seseorang bermimpi bertemu ‘Isa, lalu ia bertanya kepada ‘Isa: "Apakah engkau disalibkan?" Jawab Yesus, "Ya". Lalu orang yang bermimpi itu bertanya kepada seorang penafsir al-Qur’an, yang dijawab bahwa mimpi itu tidak benar. Alasannya, surah an-Nisa’ 157: Maa qataluhu wa ma shalabuhu wa lakin syubiha lahum (Padahal mereka tidak membunuh atau menyalibkan ‘Isa, melainkan yang disamarkan bagi mereka). Tetapi ucapannya yang terakhir kembali menyiratkan keragu-raguan bagi penafsir itu sendiri: "Mimpi itu tidak ada gunanya, kecuali bagi orang yang melihatnya".



Lihat pada lembar berikutnya: "The Arab Jesus" dalam Near East School of Theology Theological Review, 10 (1989) oleh Dr. Tarif Khalidi. 


Judul asli "THE ARAB JESUS" dalam Near East School of Theology Theological Review, 10 (1989) oleh Dr. Tarif Khalidi. Sebuah ceramah yang disampaikan pada The Near East School of Theology, di Beirut, Libanon pada tanggal 9 Juni 1988. Dr. Tarif Khalidi adalah seorang Kristen yang berkebangsaan Arab. 

Apa yang saya maksudkan dengan "Yesus dipandang oleh masyarakat awam Arab" adalah pepatah-pepatah dan cerita-cerita tentang Yesus dalam kesusasteraan Arab pada masa klasik; lebih kurang dari abad ke 7 sampai abad ke 16 AD. Tulisan ini tidak mencakup pepatah-pepatah dan cerita-cerita Yesus dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad. Ia tidak mencakup pula kesusasteraan Kristen Arab pada masa itu. Apa yang ditulis merupakan sebuah penggabungan dari perkataan-perkataan dan cerita-cerita dalam kesusasteraan Islam Arab yang tersiar dari Spanyol sampai ke Cina, yang sebagian besar dari pepatah dan cerita tersebut masih belum kita ketahui secara tepat.

Darimanakah pepatah dan cerita ini berasal? Apakah tujuannya? Apakah artinya dari semuanya itu untuk kita sekarang ini? Hal ini merupakan beberapa pertanyaan yang akan saya coba untuk hadapi dalam ceramah ini. Ijinkanlah saya membuat beberapa penjelasan pendahuluan tentang kumpulan cerita ini. Dalam beberapa terjemahan saya, bahasa Inggris saya tidak seindah bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Ada beberapa cerita dari kumpulan karangan itu yang panjangnya mencapai sampai pada 2 halaman. Tetapi cerita-cerita yang panjang itu tidak dimuat di bawah ini.

Kebanyakan pepatah dan cerita ini ditemukan dalam bentuk-bentuk kesusasteraan, hasil karya dari aliran Sufi atau mistik Islam, hasil karya dari Etika dan keagamaan populer, bunga rampai dari pepatah hikmat, dan sejarah para Nabi dan orang-orang suci. Jumlahnya mereka merupakan suatu hal yang sangat sulit untuk ditentukan karena kesusasteraan Arab klasik begitu luas skopnya dan jumlah naskah Arab kuno yang belum dibaca atau belum ditemukan juga amat banyak. Oleh karena itu banyak tahun akan dilalui sebelum kita dapat menentukan jumlahnya pepatah dan cerita dari "Arab Jesus" ini secara pasti. Pada hemat saya, jumlah pepatah dan cerita dari kumpulan-kumpulan ini antara 500 sampai 1000.

Cukup penjelasan statistik saya itu. Sekarang ijinkanlah saya menjelaskan sedikit mengenai asal dan cirri-ciri dari pepatah-pepatah dan cerita-cerita tersebut. Keseluruhan dari cerita-cerita yang telah saya sebutkan, "Yesus dipandang oleh masyarakat awam Arab" (Arab Jesus), menempati suatu tempat khusus. "Arab Jesus" ini tidak mengacu kepada Qur’an dan Hadits dalam satu sisi, dan tidak kepada keempat Injil pada sisi lainnya. Hal ini akan menjadi jelas ketika seseorang membaca sedikit dari pepatah dan cerita di bawah nanti.

Tentang "Arab Jesus" dan Yesus dari keempat Injil, tidak begitu banyak yang perlu dijelaskan di sini. Dalam "Yesus versi Arab" tersebut, terdapat pepatah-pepatah tertentu yang merupakan terjemahan langsung dari Injil ke dalam bahasa Arab dari masa sebelum Islam. Jika seandainya kaum Muslim ingin mengetahui tentang Yesus dalam Injil, mereka secara mudah dapat menemukannya -- dan tentu saja beberapa dari mereka yang menemukannya dalam keempat Injil. Tetapi pertanyaan yang masih tertinggal, mengapa kita menjumpai suatu "Arab Jesus" atau "Yesus versi Arab" yang bukan merupakan pandangan Qur’an/Hadits dan juga bukan merupakan pandangan Yesus dari Injil? Di sini penjelasan saya menjadi sedikit rumit.

Seringkali kita cenderung mendewakan tokoh-tokoh agama dari masa lampau. Akibatnya, tokoh-tokoh itu diselimuti oleh tradisi-tradisi dan cerita-cerita, sehingga bukanlah tokoh sejarah yang nyata yang kita baca, melainkan suatu karikatur saja yang jauh berbeda dari kehidupan kita. Dengan demikian tokoh itu menjadi obyek kekaguman kita, tetapi akhirnya kita merasa terasing dari tokoh rohani itu, yaitu tokoh yang menjadi karikatur atau mitos, akibat dari ideologi atau theologi yang sah yang "menciptakannya".

Usaha untuk menentang karikatur dari tokoh rohani masa lampau itu, yakni Nabi ‘Isa, merupakan suatu perjuangan oleh beberapa aliran dalam agama Islam. Perjuangan ini dapat disebut sebagai "pietisme populer". Aliran ini ingin menyatakan dan melihat Nabi ‘Isa sebagaimana ia berada dan siapa dia sebenarnya (tentu saja menurut ukur persepsinya sendiri). Dalam sejarah kebudayaan Islam, perjuangan ini mencapai klimaksnya kira-kira 150 tahun sesudah wafatnya Muhammad, pada akhir abad ke 8 AD. Dan tepat pada masa inilah, saya kira, "Arab Jesus" ini telah muncul, yaitu persepsi akan Yesus oleh masyarakat awam dari agama Islam.

Bagi banyak orang Islam di waktu itu, Yesus dalam Qur’an dan Hadits tidak sepenuhnya memuaskan. Tetapi Yesus yang ditulis dalam Injil dilarang bagi orang Muslim untuk dibaca. Oleh karena itu timbullah "Arab Jesus", yaitu Yesus yang dipandang oleh masyarakat awam Arab. Yesus seperti ini dapat memenuhi kebutuhan keagamaannya tertentu, yaitu suatu versi Yesus yang bukan merupakan gambaran theologi secara abstrak tetapi suatu kekuasaan moral yang hidup. Sejenis Yesus seperti ini dapat memelihara suatu keseimbangan yang dicarikan masyarakat Arab di waktu itu, yaitu keseimbangan antara hukum dan roh.

Tetapi darimanakah sebenarnya pepatah-pepatah dari "Arab Jesus" itu berasal? Ini merupakan suatu pertanyaan yang menarik tetapi saya tidak bermaksud untuk menjelaskannya secara rinci. Saya pikir, beberapa di antaranya dapat dikatakan mirip dengan yang di Injil, sekalipun sebenarnya tidak terdapat dalam Injil. Masing-masing kita dapat menentukan sendiri hal ini, bergantung kepada pengetahuan kita tentang Injil. Beberapa di antaranya sebagian berasal dari Injil dan sebagian lagi tidak. Beberapa mungkin berasal dari karangan-karangan palsu dari kalangan Gereja kuno yang disebut Injil Apokrifa, sebagai contoh Injil Thomas, Kisah Yohanes, Protevangelium Yakobus dan tulisan lain semacam itu. Pepatah-pepatah yang lain diambil dari cerita dan pepatah Bapa-bapa Gereja terdahulu. Pada hemat saya banyak lain lagi, diambil dari perbendaharaan hikmat kuno yang dimiliki oleh kekayaan tradisi dari kebudayaan Timur Tengah.

Sekarang kita akan menganalisa secara singkat cerita dan pepatah ini. Pertama-tama, beberapa di antaranya menggambarkan Yesus sebagai pembangkit orang-orang mati. Ciri yang lain dari "Arab Jesus" adalah sejenis Yesus yang hidup sebagai seorang pertapa yang tidak memiliki apa-apa bahkan tidak sebongkah batupun dari dunia ini dimilikinya. Namun Yesus sang pertapa ini, bisa juga menunjukkan belas kasihan, bahkan dia menangis sampai ia pingsan atas mereka yang mengalami kemalangan seperti misalnya dalam nomor 15 di bawah ini. Ada juga Yesus sang peziarah, seorang tokoh yang menempuh jalan sengsara, yaitu dunia ini di mana saja ia berada.

Tentu saja gambaran dari "Arab Jesus" tersebut, merupakan suatu gambaran yang dibuat-buat. Namun ia merupakan suatu contoh di mana satu agama memperalat tokoh-tokoh rohani dari agama lain dan menggunakannya untuk tujuannya sendiri.


Pepatah-pepatah dan cerita Yesus menurut pandangan masyarakat Arab awam dari abad pertengahan : 

  1. "Dunia ini adalah jembatan. Seberangilah jembatan ini, tetapi jangan membangun di atasnya".
  2. "Berdamai dengan orang-orang lain, tetapi jangan berdamai dengan dirinya sendiri".
  3. "Berhati-hatilah dia yang berpikir bahwa Allah itu lambat menyampaikan kelimpahannya! Karena mungkin Allah akan marah terhadapnya dan memberikan kepadanya kelimpahan duniawi"
  4. "Sesungguhnya aku berkata kepadamu, mereka di antara kamu yang paling banyak berduka jika menghadapi nasib buruk, termasuk golongan yang paling mencintai dunia ini"
  5. "Dosa yang paling besar adalah orang yang mengatakan ‘Allah tahu aku menyatakan apa yang benar’, dan Allah tahu bahwa orang itu berdusta".
  6. Yesus berkata: "Berbicaralah banyak dengan Allah, berbicaralah sedikit kepada manusia". Dia ditanya: "Bagaimana kita berbicara banyak kepada Allah?" Yesus menjawab: "Bercakap-cakaplah dengan Dia dalam kesunyian, berdoalah kepada Dia dalam kesunyian".
  7. "Seseorang yang memperoleh pengetahuan tetapi tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan itu, bagaikan seorang wanita yang berzinah secara rahasia, kemudian menjadi hamil dan rasa malunya diketahui semua orang. Demikian juga dia yang tidak bertindak sesuai dengan pengetahuannya akan dipermalukan oleh Allah di hadapan semua manusia pada hari kebangkitan".
  8. Yesus berkata pada murid-muridnya, "Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menemukan saudaramu dalam keadaan tidur, kemudian tiupan angin menyingkapkan ketelanjangannya?" Mereka menjawab, "Kami akan menutupi ketelanjangannya". Yesus berkata, "Tidak, tetapi sebaliknya kamu membukakan ketelanjangannya". "Sekali-kali tidak", mereka menjawab, "Siapa yang akan melakukan hal semacam itu?" "Kamu", jawab Yesus, "Ketika salah seorang dari antaramu mendengar perkataan jelek tentang saudaranya dan kemudian menambahkan atau membesar-besarkan perkataan itu dan menyebarkannya ke segala tempat".
  9. "Jika kamu sungguh-sungguh saudara dan temanku, jauhkanlah dirimu dari permusuhan dan kebencian manusia. Karena kamu tidak akan memperoleh apa yang kamu cari kecuali dengan meninggalkan hawa nafsumu".
  10. "Aku menyembuhkan orang yang sakit lepra dan orang buta keduanya. Aku memperlakukan orang bebal dan dia membuat aku putus asa. Diam adalah cara yang terbaik untuk menjawab orang bebal".
  11. Yesus ditanya, "Mengapa kamu tidak menikah?" Dia menjawab, "Hanya dalam Firdaus merupakan hal yang terpuji untuk beranak cucu".
  12. Ketika Yesus lahir, setan-setan datang kepada Iblis dan berkata, "Berhala-berhala sekarang telah menundukkan kepalanya". Iblis berkata, "Sesuatu telah terjadi dalam duniamu". Iblis kemudian melayang ke seluruh dunia tetapi tidak menemukan apa-apa. Akhirnya dia menemukan bayi Yesus dikelilingi oleh para malaikat. Dia kembali kepada setan-setan dan berkata, "Seorang Nabi telah lahir kemarin. Tidak pernah seorangpun wanita hamil atau melahirkan tanpa kehadiranku kecuali yang ini. Oleh karena itu, untuk menyesatkan manusia kita menggunakan kesibukan dan kedangkalan mereka".
  13. Yesus berdoa untuk bani Israel. Mereka menangis dan mulai mengoyakkan pakaian mereka. Yesus berkata, "Dosa apa yang telah diperbuat oleh bajumu? Lihatlah ke dalam hatimu dan meremukkan dia".
  14. Seekor babi melewati Yesus. Yesus berkata, "Lewatlah dengan damai". Dia ditanya, "Roh Allah, bagaimana kamu dapat mengatakan hal seperti itu pada seekor babi?" Yesus menjawab, "Aku tidak senang mengutarakan perkataan kasar".
  15. Ketika dalam perjalanannya, Yesus melewati sebuah tengkorak manusia. Dia meminta kepada Allah untuk membuat tengkorak itu berbicara. Allah melakukannya dan tengkorak itu berkata: "Nabi Allah, nama saya Balwan ibn Hafs, raja dari Yaman. Saya hidup seribu tahun, memperoleh seribu anak, merayu seribu anak dara, mengalahkan seribu tentara, dan mengalahkan seribu kota. Dan kesemuanya ini hanyalah mimpi orang yang tidur. Biarlah dia yang mendengar ceritaku tidak dicobai oleh dunia". Yesus menangis sedemikian keras sehingga dia jatuh pingsan.
  16. Dilaporkan bahwa ada seorang laki-laki melihat Yesus dalam mimpinya. "Nabi Allah" dia berkata, "Apakah benar engkau disalibkan?" "Ya", jawab Yesus. Laki-laki itu menceritakan mimpinya kepada seorang penafsir yang berkata, "Mimpimu itu salah karena Allah berkata: ‘Mereka tidak membunuh dia dan tidak menyalibkannya, tetapi hal itu nampak kepada mereka’. Mimpi ini tidak ada maknaya kecuali bagi dia yang melihatnya".
  17. "Kamu tidak akan memperoleh kelimpahan Allah kecuali kamu dengan sukacita bersedia berpakaian dari wool yang kasar, memakan gandum dan menjadikan tanah untuk tempat tidurmu".
  18. "Kamu murid-murid adalah takut akan dosa. Tetapi kami dari golongan Nabi adalah takut akan ketidakpercayaan (kufr)".
  19. "Yesus bertemu dengan seseorang dan bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan?", orang itu menjawab, "Saya mengabdikan diri kepada Allah". Kemudian Yesus bertanya, "Siapa yang memelihara kamu?", "Saudara saya", jawab orang itu. Yesus berkata, "Saudaramu lebih mengabdi kepada Allah daripadamu".
  20. "Sesungguhnya aku berkata kepadamu, sama seperti seorang sakit memandang makanan dan tidak dapat menikmatinya oleh karena kesakitannya, demikian juga seorang pecinta dunia ini tidak dapat menikmati penyembahan atau menghargai kebahagiaan di dalamnya oleh karena cintanya pada dunia ini. Sesungguhnya aku berkata kepadamu, jika seekor kuda beban tidak ditunggangi, ia menjadi keras kepala, dan wataknya berubah. Demikian juga hati manusia akan menjadi keras dan tidak peka, jika tidak dilunakkan oleh percakapan tentang kematian dan melakukan penyembahan yang tetap. Sesungguhnya aku berkata kepadamu, jika suatu kantung air tidak bocor atau usang, ia bisa menampung madu. Demikian juga jika hati manusia bisa menjadi bejana hikmat jika tidak dirusak oleh hawa nafsu, dicemarkan oleh keinginan atau didegilkan oleh kemewahan".