Showing posts with label katolik. Show all posts
Showing posts with label katolik. Show all posts

December 2, 2013

Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya

oleh: P. Francis J. Peffley
Lingkaran Adven
Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang belum diketahui banyak orang.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun evergreen. Dahan-dahan evergreen, sama seperti namanya “ever green” - senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Empat batang lilin diletakkan sekeliling Lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan yang lain berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, yaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan Liturgi Perjanjian Lama dikisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara dalam Perjanjian Baru mulai diperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam Kisah Natal. Pada awal Masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain mulai dinyalakan. Seiring dengan bertambah terangnya Lingkaran Adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Semoga jiwa kita juga semakin menyala dalam kasih kepada Bayi Yesus.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih - masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar.

Pada kaki setiap lilin, atau pada kaki Lingkaran Adven, ditempatkan sebuah mangkuk berwarna biru. Warna biru mengingatkan kita pada Bunda Maria, Bunda Allah, yang mengandung-Nya di dalam rahimnya serta melahirkan-Nya ke dunia pada hari Natal.

Lingkaran Adven diletakkan di tempat yang menyolok di gereja. Para keluarga memasang Lingkaran Adven yang lebih kecil di rumah mereka. Lingkaran Adven kecil ini mengingatkan mereka akan Lingkaran Adven di Gereja dan dengan demikian mengingatkan hubungan antara mereka dengan Gereja. Lilin dinyalakan pada saat makan bersama. Berdoa bersama sekeliling meja makan mengingatkan mereka akan meja perjamuan Tuhan di mana mereka berkumpul bersama setiap minggu untuk merayakan perjamuan Ekaristi - santapan dari Tuhan bagi jiwa kita.

Jadi, nanti jika kalian melihat atau memasang Lingkaran Adven, jangan menganggapnya sebagai hiasan yang indah saja. Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil bagian dalam sukacita besar Kelahiran Kristus, Putera Allah, yang telah memberikan Diri-Nya bagi kita agar kita beroleh hidup yang kekal.

sumber : "The Symbolism of the Advent Wreath by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

January 8, 2012

Gereja Katolik bukanlah Katolik Roma Saja (Penjelasan singkat mengenai Katolik Timur)

disadur dari https://www.facebook.com/notes/katolik-timur/gereja-katolik-bukanlah-katolik-roma-saja-penjelasan-singkat-mengenai-katolik-ti/10150599090560258




Persatuan Gereja-gereja Katolik dan ritus asalnya

Roma dan 22 Katolik Timur dengan Paus Roma sebagai pemimpin persekutuan ini. Ke-23 Gereja ini adalah Gereja Partikular yang otonom/mandiri. Hal ini berarti setiap Gereja partikular yang lain tidak bisa mencampuri urusan gerejawi dari Gereja partikular lainnya. Namun demikian, Paus Roma tetap memiliki karunia infallibilitas dalam mengajarkan ajaran Iman dan Moral yang mengikat seluruh Gereja (termasuk seluruh Gereja partikular yang otonom) dalam kapasitasnya sebagai Pengganti Petrus.

Tentang fakta bahwa ada 23 Gereja partikular yang otonom tidak menjadikan Gereja Katolik terdiri dari banyak aliran atau denominasi layaknya yang terjadi di saudara-saudari terpisah Protestan. Mengapa? Hal ini karena ke-23 Gereja ini memiliki persatuan yang penuh dan mengakui ajaran IMAN YANG SAMA, meski berbeda dalam mengekspresi IMAN YANG SAMA ini sesuai tradisi masing-masing.

Berikut ini ada sedikit penjelasan mengenai Katolik Timur.

APA DAN SIAPAKAH KATOLIK TIMUR?

Katolik Timur adalah sebutan bagi Gereja-Gereja Timur yang bersekutu/bersatu penuh dengan Paus Roma. Bersama dengan Gereja Katolik Latin (yang populer dengan sebutan Gereja Katolik Roma), membentuk "Gereja Katolik yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik" dengan Paus Roma sebagai pemimpinnya.

Gereja-Gereja Katolik Timur memiliki tradisi-tradisi liturgi, teologi, devosi, tata tertib gerejawi, doa-doa tradisional dan hukum kanon tersendiri yang berbeda dengan Gereja Katolik Romawi. Namun demikian, Gereja-gereja Katolik, baik Barat (Romawi) maupun Timur, sama derajatnya. (Dekrit Konsili Vatikan II - Orientalium Ecclesiarum No.3)

Gereja-Gereja Katolik Timur, sama seperti Gereja Katolik Roma, meyakini dan mengakui Primat Paus Roma atas Gereja Universal sebagai penerus Takhta St. Petrus; sebagaimana telah dinyatakan oleh Tuhan kita dalam Matius 16:15. (Dekrit Konsili Vatikan II - Orientalium Ecclesiarum No.3)

BAGAIMANAKAH SEHINGGA TERBENTUK "KATOLIK TIMUR"?

Pada perjalanan sejarah gereja, pembicaraan dan perbedaan pendapat mengenai hal-hal tertentu dalam iman menyebabkan perselisihan dalam Gereja Katolik yang universal. Gereja-gereja yang tidak bersepakat saling memisahkan diri, memisahkan diri dari persekutuan/persatuan dengan Paus Roma. Berbagai alasan melatar belakangi perpisahan ini.

Saat ini, ada 3 kelompok gereja oriental dan timur yang terpisah dari persatuan dengan Paus Roma, yaitu Gereja Timur Assiria (Assyrian Church of East) (perpisahan pada tahun 431), Gereja Ortodoks Oriental (perpisahan pada tahun 451), dan Gereja Ortodoks Timur (perpisahan pada tahun 1054 – disebut peristiwa Skisma Besar).

Namun pada perkembangan selanjutnya, sebagian dari masing-masing gereja timur yang memisahkan diri itu kembali bersatu dengan Roma, maka disebut sebagai "Katolik Timur".

Oleh karenanya, setiap gereja-gereja Ortodoks ada counterpartnya pada Gereja Katolik Timur. Misalnya: Katolik Koptik dengan Ortodoks Koptik, Katolik Rusia dengan Ortodoks Rusia, Katolik Rumania dengan Ortodoks Rumania dsb.

Tapi, ada 4 Gereja Timur yang mengaku selalu bersatu dengan Roma dalam artian mereka tidak pernah secara sengaja memutuskan persekutuan dengan Roma. Mereka adalah : Katolik Maronit, Katolik Syro-Malabar, Katolik Italo-Albania dan Katolik Yunani-Ukraina. Dari 22 Gereja Katolik Timur, ada dua Gereja yang tidak memiliki counterpart di Ortodoks yaitu Katolik Maronit dan Katolik Italo-Albania.

TERDIRI DARI GEREJA APA SAJAKAH "KATOLIK TIMUR"?

Berikut ini adalah daftar Gereja-Gereja Katolik Timur beserta lokasi tempat mereka berpusat, sebagaimana yang tercantum dalam Annuario Pontificio dari Tahta Suci (tanggal persatuan atau pendirian di dalam tanda kurung):

+ Tradisi liturgi Aleksandria:
1. Gereja Katolik Koptik : Kairo Mesir (1741)
2. Gereja Katolik Ethiopia : Addis Ababa, Ethiopia, Eritrea (1846)

+ Ritus liturgi Antiokhia atau Siria-Barat:
1. Gereja Maronit : Bkerke Libanon (persatuan dikukuhkan kembali pada 1182)
2. Gereja Katolik Suryani : Beirut (1781)
3. Gereja Katolik Siro-Malankara : Trivandrum, India (1930)

+ Tradisi liturgi Armenia:
1. Gereja Katolik Armenia : Beirut, Libanon(1742)

+ Tradisi liturgi Kaldea atau Siria-Timur:
1. Gereja Katolik Kaldea : Baghdad, Irak (1692)
2. Gereja Siro-Malabar : Ernakulam, India (tanggal persatuan masih diperdebatkan)

+ Tradisi liturgi Bizantium atau Konstantinopolitan:
1. Gereja Katolik Yunani Albania : Albania (1628)
2. Gereja Katolik Yunani Belarusia : Belarusia (1596)
3. Gereja Katolik Yunani Bulgaria : Sofia, Bulgaria (1861)
4. Gereja Bizantium Eparki Križevci : Križevci, Ruski Krstur Kroasia (1611)
5. Gereja Katolik Bizantium Yunani : Athena, Yunani, Turki (1829)
6. Gereja Katolik Yunani Hungaria : Nyiregyháza, Hungaria (1646)
7. Gereja Katolik Italo-Albania : Italia (Tidak pernah berpisah dari Gereja Katolik)
8. Gereja Katolik Yunani Makedonia : Skopje, Republik Makedonia (1918)
9. Gereja Katolik Yunani Melkit : Damaskus, Siria (1726)
10. Gereja Rumania Bersatu dengan Roma, Katolik-Yunani : Blaj Rumania (1697)
11. Gereja Katolik Rusia : Rusia (1905)
12. Gereja Katolik Ruthenia : Uzhhorod (1646)
13. Gereja Katolik Yunani Slowakia : Prešov Republik Slowakia (1646)
14. Gereja Katolik Yunani Ukraina : Kiev Ukraina (1595)

Catatan: Umat Katolik Bizantium-Georgia belum diakui sebagai sebuah Gereja partikular (sesuai dengan kanon 27 dari Hukum Kanon Gereja-Gereja Timur). Mayoritas umat Kristen Katolik Timur di Republik Georgia beribadat dengan menggunakan ritus liturgi Armenia.

(dari http://katolisitas.org/2009/05/22/apa-saja-yang-termasuk-gereja-timur-katolik/)

Apakah Gereja Katolik Timur sudah ada di Indonesia?

Sampai saat ini, Gereja Katolik Timur belum ada di Indonesia. Semua Gereja Katolik di Indonesia adalah Gereja Katolik Roma. Meskipun begitu, sudah ada orang Indonesia yang menjadi Katolik Melkit dan Katolik Yunani-Ukraina, dan kelompok Studi Katolik Timur sudah ada.

Apa perbedaan Katolik Timur dengan Ortodoks?

Perbedaan mendasar antara Katolik Timur dengan Ortodoks adalah Persatuan penuh dengan Roma. Gereja Ortodoks, walau memiliki suksesi apostolik yang jelas, tidak berada dalam persatuan penuh dengan Roma. Sedangkan Katolik Timur berada dalam persatuan penuh dengan Roma. Perbedaan ini kemudian berdampak pada penerimaan Dogma-dogma Katolik. Misalnya, Katolik Timur, meski mengekspresikannya dengan berbeda dari Katolik Roma,  menerima Dogma Maria Yang dikandung tanpa noda (Immaculata) dan Infallibilitas Paus. Sedangkan Ortodoks menolak keduanya. Katolik Timur juga mengakui Primat Universal Paus, Uskup Roma. Sebagian besar Katolik Timur adalah Gereja-gereja Timur yang bersatu kembali dengan Roma, kecuali Katolik Maronit, Katolik Syro-Malabar, dan Katolik Italo-Albania.

Bagaimana tentang 4 Gereja Timur yang mengaku tetap berada dalam persatuan dengan Roma?

Gereja Katolik Italo-Albania tidak pernah terpisah karena meskipun ritusnya Byzantine namun mereka selalu menjadi bagian Kepatriarkhan Roma. Selain itu dulu memang ada beberapa keuskupan Byzantine yang berada di bawah yurisdiksi Roma sebagai Patriarkhnya. Yurisdiksi kepatriarkhan saat itu murni berkaitan dengan geografi.

Gereja Syro-Malabar dan Maronite mengklaim tidak pernah berpisah dari Roma, dalam arti mereka tidak pernah secara sengaja memutuskan persekutuan dengan Roma, namun hal ini tidak berarti bahwa selalu ada komunikasi dan hubungan persekutuan yang nyata antara kedua Gereja ini dengan Roma.

Bagi Gereja Maronite komunikasi yang nyata antara pihak Maronite dan Roma baru dimulai sejak Perang Salib (kecuali jika kita ingin menghitung surat-menyurat antara para biarawan dari biara St. Maro dan Paus Hormisdas yang berlangsung jauh lebih awal, tetapi pada masa itu kelompok St. Maron belum menjadi suatu Gereja yang otonom) dan kemudian secara jelas menjadi semakin erat.

Dalam kasus Gereja Syro-Malabar, mereka lama sekali menjalin hubungan erat dengan Gereja Assyria Timur (Nestorian), namun mereka tidak pernah secara terbuka menyatakan putus hubungan persekutuan dengan Roma. Namun, kontak yang nyata dengan pihak Roma baru dimulai pada saat misionaris Portugis datang ke India. Umat Kristen Malabar menunjukkan kedekatan yang luar biasa dengan para misionaris Portugis, bahkan kedekatan ini memungkinkan diangkatnya seorang Latin berkebangsaan Portugis menjadi Uskup bagi umat Syro-Malabar. Kemungkinan terjadinya hal-hal semacam ini kemudian dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa Gereja Syro-Malabar tidak pernah berpisah dari persekutuan Katolik.

Gereja Katolik Yunani-Ukraina adalah Gereja Katolik Timur terbesar. Gereja Katolik Yunani Ukraina adalah Gereja dengan ritus Bizantium yang berada dalam persekutuan penuh dengan Paus Roma.

Nama lain untuk Gereja ini: Gereja Katolik Yunani; Gereja Katolik Ukraina; Gereja Katolik Ukraina ritus Bizantium; Gereja Katolik Kyivan. Nama Gereja Katolik Yunani diperkenalkan oleh Kaisar Maria-Theresa pada tahun 1774 untuk membedakan Gereja ini dari Gereja Katolik Roma dan Gereja Katolik Armenia. Dalam dokumen resmi Gereja, istilah Ecclesia Ruthena unita digunakan. Pada tahun 1960, nama Gereja Katolik Ukraina mulai digunakan dalam dokumen resmi untuk merujuk pada umat Katolik Ukraina di diaspora dan Gereja bawah tanah di Soviet Ukraina. Di dalam dokumen statistik tahunan kepausan, Annuario Pontificio, nama Gereja Katolik Ukraina ritus Bizantium digunakan. Pada Sinode Uskup-uskup UGCC (September 1999), nama Gereja Katolik Kyivan diajukan untuk menekankan identitas Gereja ini. Pada tahun 988, Pangeran Volodymyr Agung menjadikan Kekristenan dalam Ritus Byzantine-Slavic sebagai agama nasional dari negara ini, Kyivan-Rus. Hal ini terjadi sebelum Skisma Timur  pada tahun 1054 yang memisahkan Kristen Timur dari Barat. Gereja Kyivan menerima warisan tradisi Bizantium Timur dan merupakan bagian dari Kepatriarkhan Konstantinopel. Sekalipun begitu, Gereja ini juga tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Katolik Latin dan Patriarkhnya, Paus Roma. Meskipun Konstantinople dan Roma memiliki perselisihan, Hierarki Kyivan mencoba mengusahakan persatuan Kristen. Wakil dari Rus berpartisipasi dalam Konsili Lyon (1245) dan Konstans (1418) di Barat. Isidorus, Uskup Agung Kyiv sendiri adalah seorang dari para kreator Persatuan Florence (1439).

Berapa Sakramen yang ada di Katolik Timur?
Katolik Timur mengakui 7 sakramen yang sama dengan Katolik Roma.

Bolehkah Umat Katolik Roma menerima Komuni di Gereja Katolik Timur?
Diperbolehkan. Tidak hanya Umat Katolik Roma saja, Umat Katolik Timur juga diperbolehkan menerima Komuni di Gereja Katolik Roma. Umat Katolik Timur juga diperbolehkan menerima Komuni di Gereja Katolik Timur lainnya. Hal ini karena ke-23 Gereja ini memiliki persatuan yang penuh dan mengakui ajaran IMAN YANG SAMA, meski berbeda dalam mengekspresi IMAN YANG SAMA ini sesuai tradisi masing-masing.

Apakah Katolik Timur mengakui semua ajaran Katolik tentang Bunda Maria?
Seperti yang sudah dikatakan, Katolik Timur mengakui ajaran IMAN YANG SAMA termasuk ajaran-ajaran mengenai Bunda Maria.

Imam Katolik Timur ada yang tidak selibat, benarkah demikian ?
Benar. Disiplin Selibat sebenarnya hanya berlaku bagi Para Imam Diosesan Latin, tidak secara universal. Selibat bagi Imam Diosesan Latin sendiri hanyalah JANJI bukan KAUL.

Gereja-gereja Katolik Timur menahbiskan Pria yang TELAH berkeluarga sebagai Imam, namun seorang Uskup Katolik Timur selalu dipilih dari kalangan Imam Selibat (biasanya Para Imam Biarawam). Seorang laki-laki yang telah ditahbiskan terlebih dahulu menjadi Imam Katolik Timur sebelum sempat menikah, tidak dapat menikah setelah ditahbiskan. Imam berkeluarga yang istrinya telah meninggal, juga tidak diperkenankan menikah lagi.

Imam Biarawan Katolik Timur sendiri sama dengan Imam Biarawan Latin, sama-sama memiliki Kaul Kemurnian. Jadi Imam Biarawan Katolik Timur juga tidak menikah.

Tradisi menahbiskan Pria berkeluarga pada dasarnya sama tuanya dengan tradisi Selibat. Baik Latin maupun Timur saling menghormati tradisi dan disiplin gerejani satu sama lain.

PAX ET BONUM

Diambil dari: http://www.facebook.com/notes/gereja-katolik/gereja-katolik-bukanlah-katolik-roma-saja-penjelasan-singkat-mengenai-katolik-ti/10150191573052440

Artikel ini diarsipkan di:
http://indonesian-papist.blogspot.com/2010/07/penjelasan-singkat-mengenai-katolik.html

December 22, 2011

Gereja Katolik Bebas

disadur dari http://hurek.blogspot.com/2007/04/gereja-katolik-bebas.html


Di Surabaya ada Gereja Katolik Bebas. Lokasinya di Jalan Serayu Nomor 11, dekat Taman Bungkul. Di depan gereja ada papan nama ‘Gereja Katolik Bebas St. Bonifacius’. Bangunan tua warisan Belanda itu terkesan kumuh, tidak terurus. Tapi tetap antik dan punya kharisma.

Belum lama ini saya mampir ke sana. 

“Kok tidak direnovasi? Kelihatan sudah tua banget.”

“Bagaimana mau renovasi? Jemaatnya sedikit, nggak sampai 20 orang. Jadi, mungkin uang yang terkumpul sedikit,” kata Ahmad Budi, penjaga gereja, kepada saya. Arek Surabaya asli ini sudah bertahun-tahun menjaga Gereja Katolik Bebas.

Sebagai orang Katolik, yang ‘tidak bebas’, Katolik Roma, sejak lama saya penasaran dengan Gereja Katolik Bebas. Apanya yang bebas? Tata liturginya seperti apa? Hierarki? Jemaatnya? Dan sebagainya. 

Maka, pada sebuah Ahad pagi, pukul 08.00 WIB, saya bertamu di Gereja Katolik Bebas. Umatnya memang kurang dari 20 orang. Rata-rata sudah ‘berumur’ alias 50 tahun ke atas. Kedatangan muka baru tentu saja menarik perhatian jemaat. Saya pun memperkenalkan diri. 

“Oh, silakan ikut misa. Kami senang sekali Anda mengikuti liturgi di gereja kami. Siapa saja boleh ikut karena Tuhan Yesus sayang sama semua orang,” ujar Ibu Lisa, salah satu pemuka umat, ramah. 

“Oh, ya, di sini banyak juga orang Katolik [Roma] yang pernah misa di sini. Sama saja kok,” tambah wanita setengah baya ini. 

Suasana di dalam gereja ini hening. Cocok untuk refleksi atau meditasi. Beda dengan gereja-gereja karismatik yang meriah, hiruk-pikuk, mirip konser musik rock. Juga beda dengan suasana misa di Katolik Roma yang ramai umat. Umat Katolik Bebas, rata-rata sepuh, tampaknya cocok dengan suasana hening macam ini. 

Lalu, imam [semacam pastor atau romo] keluar dari sakristi. Pakai jubah, kasula, mitra, ala uskup di Katolik Roma. Imam alias pastor ini memimpin misa dengan membelakangi jemaat. Tidak menghadap jemaat macam di Katolik Roma.

“Kok mirip uskup, ya?” bisik saya.

“Iya. Memang beliau itu uskup,” ujar Bu Lisa. “Tapi uskup di gereja kami boleh menikah, boleh berkeluarga. Beda dengan di gereja Anda.”

Misa pun dimulai. Sebagai orang Katolik, apalagi asal Flores Timur, saya tidak kagok dengan liturgi Katolik Bebas. Mirip misa di Katolik Roma. Saudara-saudara di Katolik Bebas, Surabaya, banyak menggunakan plain songs alias lagu-lagu sederhana untuk mendaraskan mazmur. Lagu-lagu tanpa irama karena mengabdi ke syair mazmur. 

Ayat-ayat mazmur didaraskan sampai selesai, kemudian masuk antifon. Sama dengan sebagian lagu di buku ‘Syukur Kepada Bapa’ yang dulu dipakai di Flores. Pola lagu macam ini menghadirkan ketenangan, suasana meditatif. Tidak ada iringan musik. Musiknya, ya, suara manusia ala lagu-lagu gregorian.

Jemaat Gereja Katolik Bebas Surabaya, meski sedikit, menyanyi dengan penuh semangat. Tak peduli suara fals, mereka berusaha memuji Tuhan dengan suaranya. 

Khotbah tidak panjang, mungkin, karena sang uskup tidak suka bicara. Lalu, liturgi ekaristi. Sekali lagi mirip Katolik Roma, hanya beda susunan kalimat. Doa syukur agung juga ada. Ekaristi diakhiri dengan komuni. Semua jemaat diberi kesempatan untuk menyambut Kristus dalam simbol hosti dan anggur. Upacara penutup, lagi-lagi, pakai pendarasan mazmur.

Karena sudah pernah ikut misa di Gereja Katolik Bebas, saya pun bisa memahami kata ‘bebas’ di gereja ini. Mereka ‘bebas’ karena tak mau terikat dengan Takhta Suci di Vatikan. Tapi, di sisi lain, mereka tetap mengikuti tata liturgi Katolik dengan segala pernak-perniknya. Karena itu, umat Katolik Bebas tidak mau disebut orang Kristen Protestan, apalagi Pentakosta atau Karismatik. 

"Kami ini Katolik, tapi Gereja Katolik bebas. Bukan Gereja Katolik Roma,” tegas Lisa. Saya pun mengangguk. 

Di Indonesia, Gereja Katolik Bebas dimasukkan dalam rumpun gereja-gereja Protestan. Ikut Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan, Departemen Agama Republik Indonesia. Ikut Pembinmas Kristen Protestan kalau di Jawa Timur. 

Ironisnya, orang-orang Protestan [Pentakosta, Karismatik, Baptis, Reformed...] tidak menganggap Gereja Katolik Bebas sebagai salah satu denominasi Kristen Protestan di tanah air. 

Gereja Katolik [Roma] jelas tidak mengakui gereja-gereja yang ‘menyempal’ dari Takhta Suci, Vatikan, termasuk Katolik Bebas. Toh, urusan tetek-bengek admisitrasi macam ini tidak menyurutkan semangat jemaat Gereja Katolik Bebas untuk beribadah.

MORE INFORMATION:

http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_Catholic_Church

http://nl.wikipedia.org/wiki/Vrij-katholieke_Kerk

October 27, 2011

Santa Perawan Maria Bunda Allah


oleh: P. William P. Saunders *

Guna memahami gelar “Bunda Allah,” pertama-tama kita harus mengerti dengan jelas peran Maria sebagai Bunda Juruselamat kita, Yesus Kristus. Sebagai orang Katolik, kita sungguh-sungguh yakin akan inkarnasi Kristus: Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus (bdk. Luk 1:26-38 dan Mat 1:18-25). Melalui Maria, Yesus Kristus - pribadi kedua dari Tritunggal Mahakudus, sehakikat dengan Bapa, dan Allah yang benar dari Allah yang benar - memasuki dunia ini dengan mengenakan daging manusia dan jiwa manusia. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Dalam pribadi ilahi-Nya terdapat sekaligus kodrat ilahi dan kodrat manusiawi. Bunda Maria tidak menjadikan pribadi ilahi Yesus, yang telah ada bersama Bapa dan Roh Kudus dari kekekalan, “Ia, yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Puteranya menurut daging, sungguh benar Putera Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhnya Bunda Allah [Theotokos, yang melahirkan Allah].” (Katekismus Gereja Katolik, no. 495). Seperti dicatat oleh St. Yohanes, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. ” (Yoh 1:14).

Oleh karena alasan ini, pada masa awal sejarah Gereja, Bunda Maria digelari “Bunda Allah.” St. Yohanes Krisostomus (wafat thn 407), misalnya, menggubah dalam Doa Syukur Agung Misanya, suatu madah untuk menghormati Bunda Maria: “Sungguh, semata-mata guna memaklumkan bahwa engkau terberkati, ya Bunda Allah, yang paling terberkati, yang sepenuhnya murni dan Bunda Allah kami. Kami mengagungkan engkau yang lebih terhormat daripada kerubim dan lebih mulia secara tak bertara daripada serafim. Engkau, yang tanpa kehilangan keperawananmu, melahirkan Sabda Tuhan. Engkau yang adalah sungguh Bunda Allah.”

Namun demikian, keberatan atas gelar “Bunda Allah” muncul pada abad kelima akibat adanya kebingungan mengenai misteri inkarnasi. Nestorius, Uskup Konstantinopel (thn 428-431), mengajukan keberatan yang utama. Ia mengatakan bahwa Bunda Maria melahirkan Yesus Kristus, seorang manusia biasa, titik. Kepada manusia ini dipersatukan pribadi Sabda Allah (Yesus Ilahi). Persatuan dua pribadi ini - Kristus yang manusia dan Sabda Ilahi - merupakan sesuatu yang “luhur dan unik”, tetapi hanya suatu kebetulan belaka. Pribadi ilahi tinggal dalam pribadi manusia “sebagai bait”. Melanjutkan jalan pikirannya, Nestorius menegaskan bahwa Yesus manusia wafat di salib, tetapi tidak demikian dengan Yesus ilahi. Jadi, Bunda Maria bukanlah “Bunda Allah,” melainkan sekedar “Bunda Kristus” - Yesus manusia. Apakah membingungkan? Memang, akibat dari pemikiran tersebut adalah membagi Kristus menjadi dua pribadi dan menyangkal inkarnasi.

St. Sirilus, Uskup Alexandria (wafat thn 440) menyangkal pendapat Nestorius dengan mengatakan, “Bukannya seorang manusia biasa pertama-tama dilahirkan oleh Santa Perawan, dan kemudian sesudahnya Sabda turun atasnya; melainkan, bersatu dengan daging dalam rahim, [Sabda] mengalami kelahiran dalam daging, kelahiran dalam daging adalah kelahiran-Nya sendiri…” Pernyataan ini menegaskan keyakinan yang dikemukakan dalam paragraf pertama - Bunda Maria adalah sungguh Bunda Allah.

Pada tanggal 22 Juni 431, Konsili Efesus bersidang guna menyelesaikan perdebatan ini. Konsili memaklumkan, “Barangsiapa tidak mengakui bahwa Imanuel adalah sungguh Allah dan karenanya Santa Perawan adalah Bunda Allah [Theotokos] (sebab ia melahirkan menurut daging Sabda Allah yang menjadi daging), dikutuk Gereja.” Oleh sebab itu, Konsili secara resmi memaklumkan bahwa Yesus adalah satu pribadi ilahi, dengan dua kodrat - manusiawi dan ilahi - dipersatukan dalam persekutuan yang sempurna. Kedua, Efesus menegaskan bahwa Bunda Maria dapat secara tepat digelari Bunda Allah: Maria bukanlah Bunda Allah Bapa, atau Bunda Allah Roh Kudus; melainkan ia adalah Bunda Allah Putra - Yesus Kristus, sungguh Allah sejak kekekalan, yang masuk ke dalam dunia ini dengan menjadi sungguh manusia. Konsili Efesus memaklumkan Nestorius sebagai bidaah sesat dan Kaisar Theodosius memerintahkan agar ia diusir dan dibuang. (Menariknya, suatu Gereja Nestorian kecil masih ada hingga sekarang di Irak, Iran dan Siria.)

Peristiwa inkarnasi sungguh merupakan suatu misteri yang tak terpahami. Gereja menggunakan bahasa yang sangat tepat - sekalipun filosofis - guna mencegah kebingungan dan kesalahpahaman. Karena kita baru saja merayakan Hari Raya Natal dan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, baiklah kita merenungkan misteri agung ini secara lebih mendalam tentang bagaimana Juruselamat Ilahi kita masuk ke dalam dunia ini dengan mengambil rupa manusia kita, demi membebaskan kita dari dosa. Patutlah kita senantiasa merenungkan serta berusaha mengikuti teladan mulia Bunda Maria, yang mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Hendaknya kita tidak pernah melupakan bahwa Bunda Maria adalah sungguh “bunda”.  Bunda Maria bukanlah sekedar sarana fisik belaka dengan mana Kristus masuk ke dalam dunia ini, melainkan ia juga seorang bunda dalam arti sepenuhnya. Sebagai seorang bunda, ia senantiasa ingin menghadirkan Putranya kepada yang lain dan menghantar mereka kepada Putra Ilahinya. Dalam Injil, ia menghadirkan Yesus kepada para gembala, para majus, Nabi Simeon dan Hana, dan juga dalam perjamuan nikah di Kana. Ia rindu melakukan hal yang sama bagi tiap-tiap kita. Ketika Kristus wafat di salib, berdiri di sana Bunda-Nya, Maria, dan St. Yohanes Rasul; Yesus berkata kepada Maria,“Ibu, inilah, anakmu!” mempercayakan bunda-Nya yang janda ke dalam pemeliharaan St. Yohanes; dan kepada St. Yohanes, “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27). Sesuai tradisi, kita senantiasa yakin bahwa dengan itu Yesus memberikan Bunda Maria sebagai Bunda kepada Gereja seluruhnya dan kepada kita masing-masing.

Keyakinan ini dengan sangat indah dijelaskan melalui pesan Bunda Maria di Guadalupe, di mana Santa Perawan menampakkan diri kepada St. Juan Diego pada tahun 1531. Pada tanggal 9 Desember, Bunda Maria mengatakan, “Ketahuilah dengan pasti, engkau yang terkecil dari antara anak-anakku, bahwa akulah Santa Perawan Maria yang tak bercela, Bunda Yesus, Allah yang benar, yang melalui-Nya segala sesuatu beroleh hidup, Tuhan atas segala yang dekat maupun yang jauh, Tuan atas surga dan bumi. Merupakan kerinduanku yang terdalam bahwa sebuah kapel dibangun di sini untuk menghormatiku. Di sini aku akan menunjukkan, aku akan menyatakan, aku akan melimpahkan segenap cintaku, kasih sayangku, pertolonganku dan perlindunganku kepada segenap manusia. Akulah bundamu yang berbelas kasih, bunda yang berbelas kasih dari kalian semua yang hidup rukun di negeri ini, dan dari segenap umat manusia, dari segenap mereka yang mengasihiku, dari mereka yang berseru kepadaku, dari mereka yang mencariku, dan dari mereka yang menaruh harapannya padaku. Di sini aku akan mendengar isak-tangis mereka, keluh-kesah mereka, dan aku akan menyembuhkan serta meringankan segala beban derita, kesulitan-kesulitan dan kemalangan-kemalangan mereka.”

Kemudian pada tanggal 12 Desember, Bunda Maria mengatakan, “Dengarkanlah dan camkanlah dalam hatimu, putera kecilku terkasih: janganlah kiranya sesuatu pun mengecilkan hatimu, melemahkan semangatmu. Janganlah kiranya sesuatu pun membimbangkan hatimu ataupun tekadmu. Juga, janganlah takut akan segala penyakit ataupun pencobaan, kekhawatiran ataupun penderitaan. Bukankah aku di sini, aku yang adalah bundamu? Bukankah engkau ada dalam naungan dan perlindunganku? Bukankah aku ini sumber hidupmu? Bukankah engkau ada dalam naungan mantolku, dalam dekapan pelukanku? Adakah sesuatu lain yang engkau butuhkan?” Pesan-pesan indah ini menegaskan peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda kita.

Sementara kita mengawali tahun yang baru, marilah kita berpegang pada teladan Bunda Maria dan mempercayakan diri pada doa-doanya bagi kita. Kiranya kita senantiasa datang kepadanya sebagai Bunda kita sendiri, sambil memohon, “Bunda Maria yang Tersuci, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.”

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Mary: True Mother of God” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

July 7, 2011

Gereja Katolik Timur: Katolik Maronit

Libanon adalah kota dengan warisan biblis yang kaya. Cedar/Kayu Aras dari Libanon adalah sumber kayu untuk Kuil Salomo (1 Raja-raja 5:5-7) dan Aras sendiri disebut di sepanjang Perjanjian Lama. Libanon digambarkan dalam asal muasal Kekristenan, karena Yesus Kristus mengunjungi Tirus bersama IbuNya, Maria, dan membuat mukjizat kepada Puteri wanita Siro-Fenisia, seperti yang dicatat dalam Matius 15:21-28 dan Markus 7:24-30. Libanon adalah rumah Gereja Katolik Maronit.

Maron, seorang kontemporer dan teman St. Yohanes Krisostomus, adalah seorang biarawan pada abad keempat yang meninggalkan Antiokia menuju Sungai Orontes untuk memasuki kehidupan asketik, mengikuti tradisi St. Antonius dari Gurun dan St. Pachomius dari Mesir. Dia kemudian memiliki banyak pengikut yang mengadopsi kehidupan monastiknya. Setelah kematian St. Maron pada tahun 410, murid-muridnya mendirikan biara untuk mengenangnya dan membentuk nukleus dari Gereja Maronit.

Gereja Maronit segera menerima ajaran Iman dari Konsili Kalsedon pada tahun 451. Ketika 350 biarawan dibunuh oleh Kaum Monofisit Antiokia, Para Maronit mengungsi ke pegunungan Libanon. Surat menyurat mengenai kejadian ini membawa hasil pada pengakuan Kepausan terhadap Maronit oleh Paus Hormidas pada 10 Februari  518.

 

Kemartiran Patriark Antiokia pada tahun 602 meninggalkan Maronit tanpa seorang pemimpin, dan peristiwa ini menuntun mereka untuk memilih Patriark Maronit pertama mereka, St. Yohanes Maron pada tahun 685.

Sedikit informasi terdengar dari Maronit selama  400 tahun karena mereka diam-diam melarikan diri dari Invasi Islam ke pegunungan Libanon, sampai pada masa Perang Salib ketika Raymond dari Toulouse menemukan Maronit di pegunungan dekat Tripoli, Libanon dalam perjalanannya untuk menaklukan Yerusalem. Gereja Maronit sekali lagi mengkonfirmasi kesetiaan mereka kepada Paus pada tahun 1181. Patriark Maronit, Yeremia, menghadiri Konsili Lateran IV pada tahun 1215, dan Universitas Maronit di Roma diresmikan pada tahun 1584. Gereja Maronit selalu tetap setia  kepada Roma.  

Gereja Maronit, karena asal-usul kehidupan monastik mereka, berhasil bertahan terhadap tekanan dan bahkan penganiayaan dalam usaha mereka memelihara Gereja mereka, tidak hanya dari Islam, tapi juga dari saudara terpisah mereka seperti Ortodoks dan Gereja-gereja Timur. Demikian juga halnya pada saat mereka menghadapi Latinisasi oleh oknum dari Roma.  Libanon adalah satu-satunya negara di Asia dengan Kebudayaan Kristen, terutama karena Maronit. Bahkan sampai hari ini, kata-kata Konsekrasi pada Misa diucapkan dalam bahasa Aram, Bahasa yang digunakan oleh Tuhan Kita Yesus Kristus.

Gereja Maronit di Libanon sampai saat ini mengizinkan pria berkeluarga menjadi Imam. Mereka menerima karunia seksualitas manusia dari Allah, yang berkata, ”Tidaklah baik jika manusia itu sendiri” (Kejadian 2:18). St. Petrus sendiri, Paus pertama kita, adalah seorang yang berkeluarga, seperti yang kita ketahui dari penyembuhan mertuanya pada Injil (Matius 8:14-15, Markus 1:29-31, Lukas 4:38-39). Paus terakhir yang merupakan pria berkeluarga adalah Paus Adrianus II pada abad ke-9.   

Gereja Katolik Maronit tumbuh subur terutama sejak Konsili Vatikan kedua, dan sekarang menjadi Gereja Katolik Timur terbesar ketiga setelah Gereja Katolik Yunani-Ukraina dan Gereja Katolik Syro-Malabar. Gereja Katolik Maronit memiliki sekitar 3,100,000 umat di Lebanon dan seluruh dunia, termasuk paroki-paroki di Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Siprus, Meksiko, dan Amerika Serikat. Kita sungguh terberkati karena boleh memiliki Seminari Maronit Ratu Kita dari Libanon di Washington D.C., yang didirikan pada tahun 1961. 

Kepala Gereja Katolik Maronit sekarang adalah Patriark Antiokia untuk Maronit, Patriarkh Bechara Pierre Rai (25 Maret 2011)