Showing posts with label yesus. Show all posts
Showing posts with label yesus. Show all posts

March 26, 2012

“The Passion of the Christ” dalam Terang Passio

disadur dari: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id371.htm



PENGANTAR


Aku merasa beruntung dapat menyaksikan film “The Passion of the Christ” dengan dipandu oleh Romo Gabriel Antonelli, CP dalam Retret Sengsara Yesus yang diadakan pada tanggal 20 - 22 Maret 2004 di Biara Passionis, Bandulan - Malang. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagiku pribadi. Penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh Rm Gabriel sebelum, selama maupun sesudah pemutaran film, sungguh membantuku dalam menikmati dan berusaha menangkap pesan yang hendak disampaikan lewat film karya Mel Gibson ini. Dengan segala kekurangan yang ada, aku berusaha membagikan pengalaman berharga tersebut, dengan harapan sebanyak mungkin orang dapat pula menikmati “The Passion of the Christ” dalam terang yang benar dan dengan demikian dibangkitkan serta dikobarkan dalam semangat cinta kepada Dia yang begitu mengasihi kita.




PASSIO YESUS


Sebelum pemutaran film, Romo Italia ini membekali kami dengan beberapa hal yang perlu kami ketahui sehubungan dengan Passio Yesus. Menurut beliau, 'Passio' (bhs Latin) diterjemahkan secara kurang tepat ke dalam bahasa Indonesia sebagai 'sengsara'. Padahal, sesungguhnya Passio mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar sengsara atau penderitaan.


Passio mengandung arti:
cinta yang sangat kuat, (yang mendorong orang untuk rela berkorban / menderita)
keinginan dan semangat yang amat besar
hasrat yang berkobar-kobar


Yesus merasakan passio ini bagi manusia. Passio ini yang menghantar-Nya untuk menderita hingga wafat disalib, passio ini yang menguasai seluruh hidup-Nya, sesungguhnya seluruh  Injil merupakan Pasio Yesus bagi manusia. Dalam terang Passio inilah, Rm Gabriel mengajak kami menyaksikan “The Passion of the Christ”.




TAMAN GETSEMANI


Adegan film di mulai di Taman Getsemani. Yesus, yang mengetahui bahwa saatnya sudah tiba, sesudah Perjamuan Malam terakhir, mengasingkan diri ke Taman Getsemani. Di sana, Ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada BapaNya di surga. Rm Gabriel mengajak kami untuk mengingat suatu taman yang lain, Taman Eden, di mana Adam dan Hawa tinggal berbahagia, hingga iblis yang menyamar sebagai ular membujuk mereka untuk makan buah dari POHON terlarang. Karena bujukan iblis, leluhur kita yang pertama itu melanggar perintah Tuhan dan dengan demikian jatuh ke dalam dosa. Dosa mengakibatkan 'rusaknya' hubungan Allah dengan manusia, sehingga pintu gerbang kerajaan surga tertutup untuk selamanya bagi manusia.


Sejak jatuhnya Adam ke dalam dosa, hidup manusia senantiasa dikuasai dosa. Yesus datang untuk menebus dosa manusia; Yesus datang untuk menjadi korban silih dosa. Dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus akan memulihkan kembali hubungan Allah dengan manusia. Melalui POHON Salib-Nya, pintu gerbang kerajaan surga akan dibuka kembali bagi manusia.


Iblis, musuh besar Allah, berusaha mati-matian agar hal itu tidak terjadi. Selanjutnya Rm Gabriel mengajak kami untuk mengingat kembali peristiwa sebelum Yesus menampilkan diri di hadapan orang banyak, di mana Ia mengasingkan diri di padang gurun dan dicobai iblis. Sesudah segala bujuk rayunya yang gagal, “Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4;13). Malam itu, di Taman Getsemani adalah waktu yang tepat, waktu yang telah lama dinanti-nantikan si iblis. Sama seperti ia mencobai manusia pertama hingga jatuh ke dalam dosa karena ketidaktaatan, demikian pula sekarang ia mencobai Yesus agar jatuh kedalam dosa yang sama.


Lewat Injil, dan dengan bagus digambarkan dalam film, kita mengetahui betapa Yesus sesungguhnya amat ngeri dan gentar menyongsong salib-Nya. Namun demikian, jika Adam jatuh ke dalam bujukan si iblis, sebaliknya Yesus justru menyatakan ketaatan-Nya kepada Bapa. “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39). Dengan Fiat-Nya itu, Yesus mengalahkan iblis. Lihat, Yesus meremukkan kepala si ular! “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15) Sebab itu, pantaslah jika Gereja menggelari Yesus sebagai Adam Baru. Adam pertama mendatangkan dosa, Adam Baru menebus dosa.




YUDAS


Yudas adalah salah seorang murid yang paling dikasihi Yesus, salah seorang dari dua belas rasul pilihan-Nya, yang tinggal bersama-Nya, yang menyertai kemana pun Ia pergi, yang kepada-Nya Yesus mengungkapkan rahasia-rahasia pengajaran yang tersembunyi bagi para murid yang lain. Iblis berhasil menanamkan rancangan keji di benak Yudas untuk mengkhianati Yesus. Dan Yudas, dengan kehendak bebasnya, memilih untuk menawarkan diri menjual Guru Ilahi-nya dengan harga tiga puluh keping perak, harga yang dibayarkan orang Israel pada waktu itu untuk membeli seorang hamba. Dan dengan ciuman, ia menyerahkan Yesus kepada orang-orang yang menghendaki nyawa-Nya.


Sesudah Yesus ditangkap oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, Yudas menyaksikan betapa Gurunya yang lemah lembut itu diperlakukan dengan kasar dan brutal. Timbullah rasa sesal dalam hati Yudas. Ia berupaya memperbaiki kesalahannya dengan berusaha membeli Gurunya kembali; suatu usaha yang sia-sia. Yudas pun dihantui perasaan bersalah, hati nuraninya, yang digambarkan sebagai anak-anak kecil dalam film, mengejar dan menuduhnya terus-menerus kemana pun ia pergi; bahkan setan ikut pula mengejeknya. Tak tahan dengan itu semua, Yudas memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya dengan mencabut nyawanya.




BUNDA MARIA


Sejak menyatakan Fiat-nya, Bunda Maria perlahan-lahan menyadari apa yang akan terjadi atas dirinya dan atas diri Putranya, yaitu bahwa Putranya harus melaksanakan kehendak BapaNya menyerahkan diri hingga wafat sebagai korban silih dosa bagi keselamatan umat manusia. Bunda Maria belum sepenuhnya paham akan rencana keselamatan Allah, tetapi ketika Yesus ditangkap di Taman Getzemani, nalurinya menyatakan bahwa saatnya sudah tiba. Maka Bunda Maria pun mengatakan, “Saatnya sudah tiba, ya Allah.” Kemudian, bukannya berdoa mohon belas kasihan Allah agar salib itu dijauhkan dari dirinya dan dari Putranya, Bunda Maria malahan menegaskan kembali Fiat-nya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”


Salib adalah bentuk hukuman mati yang paling keji, dan hanya diperuntukkan bagi penjahat-penjahat yang melakukan tindak kriminal yang paling berat dan serius. Si terhukum dianggap orang hina dan terbuang. Orangtua dan keluarga si terhukum pada umumnya tidak mau menyertai si terhukum dalam jalan salibnya, karena malu akan hinaan dan cemoohan orang banyak yang mau tak mau harus mereka terima juga. Bunda Maria bukannya menghindar, malahan ia minta agar dibawa lebih dekat dalam menyertai Putranya terkasih dalam jalan salib-Nya. “Bawalah aku dekat pada-Nya,” pintanya.


Bagi seorang ibu yang paling lemah lembut dari segala ibu, tentulah hatinya serasa disayat sembilu melihat bagaimana Putranya diperlakukan. Sebagai seorang ibu yang normal, harusnya Bunda Maria pingsan menyaksikan Putranya didera, menyaksikan tubuh Putranya terkasih dihancur-remukkan dengan kejam dan brutal, menyaksikan Putra-Nya yang sudah tidak seperti manusia lagi. Nyatanya, Bunda Maria tetap tegar menghadapi itu semua didorong oleh cinta yang teramat besar kepada Putranya dan kepada manusia serta penyerahan diri yang total kepada Allah-nya. Sepanjang film kita dapat menyaksikan bagaimana Bunda Maria menyertai Putranya; anggukan kecil, tatapan mata, kehadirannya walaupun tanpa kata, merupakan penghiburan dan peneguhan bagi Yesus untuk tetap bertahan hingga kesudahannya. Adegan cinta kasih Ibu dan Putranya yang paling menyentuh adalah ketika Yesus jatuh saat memanggul salib dan Bunda Maria segera berlari mendapatkan-Nya, “Ibu di sini, ibu di sini.” Kata-kata sederhana itu sungguh mengungkapkan banyak makna. Sementara Yesus Sendiri, di tengah sengsara-Nya, menghibur Sang Bunda yang dirundung duka dengan penuh cinta, "Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu baru."  


Setiap deraan, setiap pukulan dan tamparan, setiap kesakitan yang diderita Putranya, semuanya itu mengenai dan diderita juga oleh Bunda Maria secara batin seolah-olah nyata adanya. Sungguh mengharukan menyaksikan adegan di mana Bunda Maria, yang tak berdaya dan tak kuasa melindungi Putranya dari deraan cambuk yang keji, sesudah penderaan berakhir segera bersimpuh di lantai, di mana cabikan-cabikan daging Putranya tercecer dan darah Putranya menggenangi lantai; dan dengan mesra diselamatkannya semua itu dari nista.


Lihat juga, bagaimana tangan-tangan Bunda Maria dengan tegang menggenggam pasir untuk meredam segala gejolak jiwanya saat paku-paku runcing dipalukan menembusi tangan dan kaki Putranya. Cinta kasih Bunda Maria terhadap Putranya tidak berakhir di kayu salib. Saat salib dipancangkan dan ditegakkan dengan Putranya terkasih bergantung di atasnya, Bunda Maria menyatakan cinta kasihnya yang tulus mesra, cinta kasihnya yang tak terbatas, dengan mencium ujung kaki Putranya. Tak peduli apa kata orang, Yesus tetap senantiasa jantung hatinya. “Daging dari dagingku. Hati dari hatiku,”katanya.


Saat yang menusuk hati adalah ketika Maria memangku jenasah Putranya. Pikiranku tiba-tiba beralih ke peristiwa Natal, Allah yang menjadi manusia, yang lahir ke dunia dalam rupa bayi mungil, dibuai mesra dalam pelukan sang Bunda. Sekarang, di akhir hidup-Nya, tubuh yang sama, yang telah dihancurbinasakan karena dosa-dosa manusia, dikembalikan ke dalam pelukan bunda-Nya dalam keadaan tidak bernyawa. Betapa hati Bunda Maria pedih perih serasa disayat sembilu. Bunda Maria mengarahkan pandangannya kepada kita, seolah hendak berkata, “Ini yang engkau perbuat terhadap Putraku.” Namun demikian, tidak terpancar kemarahan, kekecewaan atau pun dendam di wajahnya, yang ada hanyalah wajah yang diliputi dukacita mendalam dan penyerahan diri total kepada Allah-nya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”




SIMON dari KIRENE


Kita tidak pernah tahu orang bagaimanakah sesungguhnya Simon dari Kirene ini. Yang kita tahu hanyalah bahwa ia dipaksa untuk membantu memikul salib Yesus dalam jalan salib-Nya. Digambarkan bagaimana Simon berusaha menolak perintah ini. Penolakannya dapat dimengerti; tidak ada orang yang mau berurusan dengan orang yang dieksekusi, bahkan orangtua ataupun kerabat si terhukum sendiri pun tidak. Di hadapan orang banyak dengan tegas Simon mengatakan, “Baik, aku membantu memanggul salib, tapi ingat bahwa aku tidak ada urusan dengan orang ini.”    


Berjalan bersama Yesus di jalan salib-Nya kiranya mengubah hati Simon yang keras menjadi seperti hati-Nya yang lembut dan rela menolong sesama dengan tulus hati. Sungguh indah menyaksikan bagaimana Yesus dan Simon, pada akhirnya, dengan tangan saling bertautan bahu-membahu memikul salib yang berat bersama.




IBLIS


Iblis terus membayangi sejak awal sengsara hingga wafat Kristus. Iblis berusaha membujuk Yesus di Taman Getsemani, iblis mengobarkan rasa iri, benci dan keinginan untuk membinasakan Yesus dalam diri imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi, iblis menghasut orang banyak dalam memutarbalikkan kebenaran dan menjatuhkan hukuman mati keji atas Yesus, iblis membuat para serdadu kesetanan hingga menyiksa dan menganiaya Yesus dengan keji dan brutal.


Sungguh ironis bahwa pada akhirnya, senjata yang ia gunakan untuk memusuhi dan membinasakan Yesus, justru merupakan bumerang bagi kebinasaannya sendiri. Iblis dikalahkan dan kekuasaannya digunduli.   




MISTERI SENGSARA YESUS


Sengsara Yesus tidak terbatas pada 12 jam terakhir hidup-Nya dan tidak terbatas pada aspek fisik saja. Ada empat tingkat sengsara / penderitaan yang perlu kita ketahui serta mengerti agar dapat memahami misteri sengsara dengan tepat. Itulah sebabnya mengapa Rm Gabriel menyebutnya Misteri Sengsara Yesus.


1. Sengsara Fisik
2. Sengsara Rohani / Spiritual
3. Sengsara Sakramental
4. Sengsara Aktual


1. Sengsara Fisik


Sengsara ini mudah dilihat dan dipahami. Banyak orang mengatakan bahwa film “The Passion of the Christ” terlalu mengeksploitasi kekejaman dan kebrutalan secara berlebihan. Mengenai hal ini, Rm Gabriel - yang memang ahli dalam hal Kain Kafan Turin - mengatakan bahwa sesuai dengan penyelidikan yang dilakukan terhadap kain kafan, memang begitulah yang sesungguhnya terjadi pada waktu itu. “Film yang apa adanya,” begitu komentar Bapa Suci. Selanjutnya Rm Gabriel mengingatkan kita untuk tidak sekedar memandang sengsara Yesus dari segi pietiesme belaka, melainkan kenyataan bahwa Yesus dengan sukarela menanggung sengsara demi passio-Nya terhadap manusia.


“Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.” (Yoh 10:17)


2. Sengsara Rohani / Spiritual


Inilah sengsara yang paling berat bagi Yesus. Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Sebagai manusia, Yesus juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dimiliki manusia. Yesus ngeri dan takut; Yesus mengalami tekanan serta guncangan jiwa yang hebat saat di Getsemani. Yesus merasa pilu dikhianati oleh salah seorang murid yang paling dikasihi-Nya, disangkal oleh murid yang lainnya, serta ditinggalkan seorang diri oleh para pengikut-Nya. Yesus merasakan kesedihan mendalam saat difitnah dan ajaran-ajaran-Nya diputarbalikkan serta dijadikan bahan olok-olok, saat dihinakan dan diludahi, saat dihujat, saat ditolak oleh orang-orang yang kepadanya Ia mencurahkan segala kasih sayang-Nya. Bagaimana perasaan Yesus saat Ia yang adalah raja segala raja, diejek sebagai raja cacing? Bagaimana perasaan Yesus saat Ia bahkan dianggap lebih rendah dan hina dari Barabas, penjahat paling mengerikan di negeri itu, dijatuhi hukuman mati dengan keji dan hina sebagai penyamun. Dalam film kita melihat air mata duka-Nya mengalir jatuh; bukan hendak digambarkan Yesus yang cengeng ataupun sentimentil, melainkan manusia Yesus yang menanggung sengsara batin yang luar biasa.


Terlebih dahsyat lagi sengsara-Nya di atas kayu salib, di mana Ia merasa ditinggalkan oleh Bapa, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mat 27:46). Namun demikian, Yesus tetap setia dan taat pada Bapa hingga kesudahannya.            


3. Sengsara Sakramental


Digambarkan dengan jelas dalam film bagaimana Kurban Tak Berdarah dalam Ekaristi sama dengan Kurban Berdarah di Kalvari.


“Dalam perjamuan malam terakhir, 'pada malam waktu Ia diserahkan' (1Kor 11:23), Ia meninggalkan bagi mempelai kekasih-Nya, Gereja, satu kurban yang kelihatan (seperti yang dibutuhkan kodrat manusia), yang olehnya, [kurban] berdarah itu, yang dibawakan di salib satu kali untuk selama-lamanya, dikenang sampai akhir zaman dan kekuatannya yang menyelamatkan dipergunakan untuk pengampunan dosa, yang kita lakukan setiap hari.” (Konsili Trente: DS 1740)


Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus menjadi kurban, Yesus menjadi makanan dan minuman bagi siapa saja. Yesus tidak pernah menolak untuk disantap siapa saja: orang yang rindu, orang yang suam-suam kuku atau pun orang yang dingin; orang sehat atau pun sakit. Yesus selalu dalam keadaan sebagai makanan.


“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:51)


Di atas salib, ketika seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, segera mengalirlah keluar darah dan air yang diyakini Gereja sebagai lambang sakramen-sakramen Gereja.


4. Sengsara Aktual


Sengsara Yesus berlangsung hingga akhir jaman:
dalam Gereja-Nya yang dikejar-kejar
dalam mereka yang sakit
dalam mereka yang menderita
dalam mereka yang mengalami ketidakadilan


“Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25:45)




KEBANGKITAN KRISTUS


Satu-satunya peristiwa yang menggembirakan dalam film ini adalah kebangkitan Kristus. Sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus adalah satu dan tak terpisahkan.“Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15:14)




KESIMPULAN


Bagaimana pun baiknya film “The Passion of the Christ,” Rm Gabriel berpendapat bahwa film ini tidak dapat dijadikan bahan pelajaran agama karena beberapa 'kejanggalan' di dalamnya, antara lain:


1. Tokoh Veronika sesungguhnya merupakan tokoh fiksi. Pada saat eksekusi berlangsung, tak seorang pun diperkenankan berada dekat si terhukum. Jadi, tidaklah mungkin ada seorang perempuan yang berhasil menerobos penjagaan para prajurit dan, terlebih lagi, menyeka wajah Yesus dengan saputangannya. Menurut tradisi nama perempuan itu ialah “Veronica”. Nama tersebut sesungguhnya berasal dari kata Latin 'vera', yang artinya 'benar' dan kata Yunani 'eikon', yang artinya 'gambar', menunjuk pada gambar Yesus yang tertera di Kain Kafan (Turin).


2. Sesuai penyelidikan dan ilmu kedokteran, Yesus dipaku pada pergelangan tangan-Nya, bukan pada telapak tangan-Nya.


3. Keseluruhan salib beratnya lebih dari 100 kg. Yesus memanggul 'hanya' bagian patibulum yang beratnya sekitar 50 kg.


4. Mahkota duri tidak lagi dikenakan Yesus sepanjang jalan salib dan penyaliban.


5. Peran Klaudia, isteri Pontius Pilatus dianggap berlebihan.


6. Maria Magdalena, menurut Rm Gabriel, bukan perempuan yang kedapatan berzinah dan hendak dijatuhi hukuman rajam. (pendapat lain lihat “Maria Magdalena” oleh Rm William P. Saunders)


Info tambahan lihat: “Passio Yesus Kristus” oleh Rm William P. Saunders
“Salib: Hukuman Mati yang Ngeri dan Keji” oleh Rm Kamilus Ndona Sopi, CP




PENUTUP


“The Passion of the Christ” membantu kita membuka mata hati akan Passio Yesus yang begitu dahsyat terhadap manusia. Passio Yesus, yang memberikan Diri-Nya sehabis-habisnya, dengan wafat di kayu salib demi keselamatan manusia. Mengenai passio-Nya, Yesus Sendiri menegaskan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13)


Mengalami cinta-Nya, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mzm 116:12). Dan ketika sedang asyik merenungkan hal ini, terlintas di benak kata-kata manis dari santa kesayanganku:


“Cinta hanya dapat dibalas dengan cinta.”
~ St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus




Surabaya, 18 April 2004
Hari Raya Kerahiman Ilahi

February 26, 2012

Passio Yesus Kristus

 oleh: P. William P. Saunders *
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Passio” Yesus Kristus?
~ seorang pembaca di Arlington




Passio berasal dari bahasa Latin “patior” yang artinya “sengsara”. Passio Yesus Kristus menunjuk pada sengsara yang diderita Kristus demi menebus umat manusia, berawal dari sakrat maut di Taman Getsemani hingga wafat-Nya di Kalvari. Kisah-kisah Sengsara dalam Injil menceritakan detail sengsara Kristus, dan setidaknya sampai batas tertentu, kisah-kisah tersebut sesuai dengan tulisan para ahli sejarah Romawi masa itu - Tacitus, Seutonius dan Pliny Muda. Penemuan-penemuan arkeologi yang dipadukan dengan penelitian-penelitian menggunakan ilmu kedokteran modern menghasilkan gambaran yang akurat akan apa yang diderita Kristus. Dalam abad di mana salib biasa digambarkan dengan Yesus “yang telah bangkit” dan “sengsara” serta “korban” telah menjadi istilah-istilah yang tidak disukai, hendaknya kita tidak kehilangan pandangan akan kenyataan passio.


Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus pergi ke Taman Getsemani di Bukit Zaitun. Kristus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk 22:42). Yesus sadar sepenuhnya akan penderitaan yang Ia hadapi. Ia berdoa demikian khusuk hingga“peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Luk 22:44). Ilmu kedokteran membuktikan bahwa orang dapat mengeluarkan keringat darah jika ia berada dalam keadaan emosional yang sangat tinggi (suatu kondisi yang disebut hematidrosis atau hemohidrosis), yang mengakibatkan pendarahan lewat kelenjar-kelenjar keringat. Tak heran jika Bapa mengutus seorang malaikat untuk menguatkan-Nya (Luk 22:43).


Kristus kemudian ditangkap dan diadili di hadapan Mahkamah Agama yang dipimpin oleh Imam Besar Kayafas. Menjawab pertanyaan mereka, Yesus memaklumkan, “Kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat 26:64). Karena pernyataan-Nya itu, Ia dijatuhi hukuman mati karena menghujat Allah, dan kemudian wajah-Nya diludahi, ditampar dan diolok-olok. Mahkamah Agama dapat menjatuhkan hukuman mati kepada Kristus, namun demikian mereka tidak memiliki wewenang untuk melaksanakannya; hanya Pontius Pilatus, Gubernur Romawi, yang berwenang untuk memerintahkan pelaksanaan hukuman mati.


Sebab itu, pemimpin-pemimpin Yahudi membawa Yesus kepada Pilatus. Perhatikan bagaimana dakwaan sekonyong-konyong berubah; para pemimpin Yahudi mengatakan kepada Pilatus, “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja.” (Luk 23:2). Bagaimana dengan dakwaan menghujat Allah? Pilatus tidak peduli apakah Yesus ingin menjadi seorang mesias, nabi, ataupun seorang pemimpin agama; tetapi, jika Yesus ingin menjadi seorang raja, Ia merupakan ancaman bagi kekuasaan Kaisar. Segala bentuk pemberontakan, pengkhianatan, atau subversi harus segera dijatuhi hukuman yang kejam. Jadi, Pilatus bertanya, “Engkaukah raja orang Yahudi?” (Luk 23:3)


Pilatus tidak menemukan bukti yang meyakinkan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Pilatus menantang para imam, tua-tua, dan rakyat, “Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.” (Luk 23:14). Ketika mencoba menawarkan untuk membebaskan seorang tahanan, Pilatus bertanya kepada orang banyak tentang Yesus, “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati.” (Luk 23:22). Bahkan isteri Pilatus memohon kepadanya untuk tidak mencampuri perkara “orang benar” itu (Mat 27:19).


Pilatus kemudian memerintahkan agar Yesus disesah (Yoh 19:1). Orang Romawi mempergunakan cambuk pendek (flagrum atau flagellum) dengan beberapa tali kulit tunggal atau tali kulit berjalin. Bola-bola besi atau kait-kait terbuat dari tulang atau kerang disisipkan dengan jarak bervariasi sepanjang tali kulit dan pada ujung-ujungnya. Korban dilucuti pakaiannya dan didera sepanjang punggung, pantat dan kaki-kakinya. Cambuk merobek kulit dan menghujam hingga otot-otot terdalam; daging terkoyak-koyak bersimbah darah. Korban berada di ambang batas shock; dari banyaknya darah yang tercurah dapat diperkirakan berapa lama korban akan sanggup bertahan di salib. Untuk memperhebat penyiksaan terhadap Kristus, para serdadu menambahkan bentuk aniaya yang lain: memahkotai-Nya dengan duri, mengenakan jubah ungu pada tubuh-Nya, menempatkan sebatang buluh di tangan kanan-Nya, meludahi wajah-Nya, dan mengolok-olok Dia, “Salam, hai Raja orang Yahudi!” (Mat 27:27-31).


Setelah Yesus disesah, Pilatus sekali lagi menampilkan Kristus ke hadapan orang banyak yang berteriak-teriak, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Takut akan timbul pemberontakan, Pilatus menyerah dan memberikan Yesus untuk disalibkan. Bangsa Romawi memiliki hukuman penyaliban yang telah dirancang begitu rupa, hukuman salib sendiri kemungkinan berasal dari Persia, agar mengakibatkan kematian secara perlahan-lahan dengan tingkat kesakitan paling dahsyat. Penyaliban diperuntukkan bagi penjahat-penjahat yang paling berbahaya. Hukuman penyaliban begitu ngeri dan keji hingga Cicero (wafat tahun 43 SM) menetapkan undang-undang dalam Dewan Romawi yang mengecualikan warga Romawi dari hukuman ini; itulah sebabnya mengapa St. Paulus dipenggal kepalanya dan bukannya disalibkan karena menjadi seorang Kristen.


Korban diwajibkan memanggul sendiri salibnya agar pertahanan tubuhnya semakin melemah. Karena keseluruhan salib beratnya sekitar 300 pounds (± 136 kg), biasanya ia memanggul hanya balok horisontalnya saja (patibulum) (75-125 pounds = ± 34-57 kg) ke tempat pelaksanaan hukuman mati di mana balok vertikal (stipes) telah dipersiapkan. Sepasukan pengawal militer yang dipimpin seorang kepala pasukan memimpin arak-arakan. Seorang prajurit membawa titulus di mana ditulis nama si terhukum dan kejahatan yang dilakukannya, titulus itu nantinya akan dipasang pada salib (Mat 27:37). Dalam kasus Yesus, jalan yang harus ditempuh dari praetorium menuju Golgota berjarak sekitar sepertiga mil (± 0,54 km). Yesus begitu lemah hingga Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu-Nya (Mat 27:32).


Setibanya di tempat pelaksanaan hukuman mati, hukum menetapkan agar korban diberi minum anggur pahit bercampur empedu untuk membantu menahan sakit (Mat 27:34). Korban kemudian dilucuti pakaiannya (kecuali jika hal ini telah terjadi sebelumnya). Tangan-tangan-Nya direntangkan di atas patibulum dan diikat atau dipaku, atau diikat dan dipaku. Bukti arkeologi mengungkapkan bahwa paku-paku yang dipergunakan berupa besi berujung runcing. Paku-paku tersebut panjangnya kurang lebih tujuh inci (± 18 cm) dengan gagang persegi kurang lebih 3/8 inci (± 95 mm). Paku-paku dipalukan menembusi pergelangan tangan antara tulang lengan dan tulang hasta agar dapat menyangga berat tubuh korban. Patibulum dipasangkan ke stipes, kemudian kaki korban diikat atau dipakukan langsung ke stipes atau ke tempat tumpuan kaki (suppedaneum).


Sementara korban tergantung di kayu salib, orang banyak biasa menyiksanya dengan olok-olok dan makian (bdk Mat 27:39-44). Para prajurit Romawi seringkali memaksa keluarga korban untuk menyaksikan untuk menambah penderitaan batin korban. Para prajurit membagi-bagikan pakaian korban sebagai bagian dari ganjaran mereka (Mat 27:35). Korban akan dibiarkan tergantung di kayu salib selama tiga jam bahkan hingga tiga hari. Sementara ia tergantung menderita kesakitan yang hebat, serangga-serangga akan hinggap pada luka-luka yang menganga, atau pada mata, hidung, dan telinga; burung-burung pada gilirannya akan menyambar dan menggerogoti tubuhnya sebagai mangsa mereka. Dengan berbagai macam siksa derita menyatu akibat banyaknya darah yang tercurah, trauma penderaan dan kekurangan cairan, beban tubuh tertarik ke bawah dengan bertumpu pada lengan-lengan yang  terentang dan kedua bahu, sehingga menyesakkan pernapasan. Korban akan mati perlahan-lahan akibat tercekik. Mungkin itulah sebabnya mengapa Yesus berbicara hanya singkat saja dari salib. Jika korban berusaha mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada kakinya untuk bernapas, rasa sakit yang luar biasa akan terasa pada luka-luka paku dan luka-luka punggung akibat penderaan. Guna mempercepat kematian, para prajurit akan mematahkan kaki korban (Yoh 19:32-33). Jika tampaknya korban sudah mati, para prajurit akan meyakinkan kematiannya dengan menikam lambungnya dengan tombak atau pedang; dan ketika hati Yesus ditikam, memancarlah darah dan air (cairan dari kantung sekeliling jantung) (Yoh 19:34). Biasanya, mayat dibiarkan di atas salib hingga membusuk atau dimangsa burung atau binatang liar; tetapi, hukum Romawi mengijinkan keluarga kurban mengambil jenasah untuk dimakamkan seijin Gubernur Romawi. Dalam kasus Yesus, Yusuf dari Arimatea meminta jenasah Kristus kepada Pilatus dan Ia kemudian dibaringkan dalam sebuah makam (Yoh 19:38).


Sementara kita merenungkan misteri Pekan Suci yang sakral, patutlah kita mencamkan dalam hati apa yang telah Kristus derita demi keselamatan kita. Ia menyerahkan Diri-Nya Sendiri sebagai korban silih dosa yang sempurna di altar salib dan membasuh dosa-dosa kita dengan Darah-Nya yang kudus. Demikianlah kita wajib menyadari tanggung jawab kita untuk menyesali dan bertobat dari dosa-dosa kita: Katekismus Gereja Katolik (no. 598), dengan mengutip Katekese Romawi kuno menegaskan, “Semua pendosa pun adalah 'penyebab dan pelaksana semua siksa yang [Kristus] derita.' dan “Oleh karena dosa-dosa kita menghantar Kristus Tuhan kita kepada kematian di kayu salib, maka sesungguhnya mereka yang bergelinding dalam dosa dan kebiasaan buruk, 'menyalibkan lagi Anak Allah dan menghina-Nya di muka umum.'” Kristus yang tersalib merupakan bukti nyata kasih-Nya bagi setiap kita. Merenungkan sengsara-Nya akan memperkuat kita dalam menghadapi pencobaan, menggerakkan kita untuk menerima Sakramen Tobat lebih sering, dan menjaga kita agar senantiasa ada di jalan keselamatan. Dengan memeluk Kristus yang tersalib dan salib-Nya, kita menyongsong kemuliaan kebangkitan.

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: What Is Meant by the 'Passion of Christ'?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

August 22, 2011

Apakah semua orang Kristen adalah murid Kristus?

disadur dari: http://gkipi.org/apakah-semua-orang-kristen-adalah-murid-kristus/



Kesalahpahaman seringkali terjadi saat orang mendengar kata “Pemuridan”, karena langsung mengasosiasikannya dengan istilah murid Sekolah Minggu. Padahal dalam Perjanjian Baru, kata “murid” khusus ditujukan untuk 12 murid Yesus. Itu berarti orang dewasa pun dapat disebut murid. Bahkan Yesus menjadikan perempuan, yang pada waktu itu tidak diperhitungkan dalam proses belajar mengajar, orang berdosa, yang disisihkan masyarakat, sebagai pengikut-Nya.
Kalau begitu, apakah setiap orang yang pernah bertemu Yesus, atau yang pernah disembuhkan oleh Yesus, atau yang pernah menikmati roti serta ikan saat murid-murid Yesus membagikannya secara berlimpah, otomatis juga disebut murid Yesus?
TERMINOLOGI DAN KONSEP TENTANG MURID
Secara umum kata murid dalam bahasa Yunani disebut Mathetes artinya pupil atau disciple atau pelajar. Kata pupil lebih menjelaskan tentang relasi antara guru dengan muridnya. Sedangkan kata disciple lebih menunjukkan proses yang dijalani oleh seorang murid. Itu sebabnya kata ini dihubungkan dengan beberapa kata lainnya, yaitu: manthano artinya belajar, katamanthano artinya menguji, mathetria artinya murid perempuan, matheteuo artinya menjadi murid atau membuat murid (To make disciples), matheteuein artinya menjadikan murid, dan akoulouthein artinya ‘mengikut’.
Dari beberapa kata di atas dapat disimpulkan bahwa seorang murid dari cara pandang orang Yunani adalah seorang yang senantiasa mengikuti gurunya dan mengalami proses pembelajaran sampai proses pengujian, sehingga akhirnya ia dapat memiliki murid yang belajar darinya.
Melalui kata disciple, ada 3 hal yang menarik dari konsep “belajar” orang Yunani. Pertama, “Belajar” merupakan elemen intelektual yang diserap dari teori pengetahuan (kognitif). Kedua, “Belajar” juga merupakan rekoleksi dari sesuatu yang tidak ada dalam hati nurani, akhirnya menjadi bagian dari hati nurani muridnya (afektif). Ketiga, “Belajar” merupakan penerapan dari pengembangan pemahaman moral manusia (psikomotorik). Menurut Socrates diperlukan berbagai cara untuk mencapai ketiga hal di atas yaitu melalui membaca, menulis, matematika, musik bahkan melalui pendidikan olah tubuh.
Sedangkan dari kata pupil, yang menarik adalah orang Yunani sangat menekankan pentingnya ikatan atau persekutuan antara murid dan gurunya. Itu terbukti saat guru-guru dari murid-muridnya meninggal dunia, mereka tetap melakukan proses belajar bahkan diharapkan munculah pemimpin atau future leader dari antara mereka. Itu sebabnya, proses belajar yang dilakukan oleh seorang murid tidak akan pernah berhenti dan tidak pernah ada batas waktunya.
Apa yang diharapkan dari proses belajar seorang mathatetes? Seorang yang menjalani proses belajar di satu sisi diharapkan menjalani proses itu terus menerus (bdk. Gal 4:19; Roma 8:29; 12:2) sehingga akhirnya terjadi proses dibentuk (formed) dan diubah (transformed). Belum cukup sampai disitu, seorang mathetes dibentuk dengan tujuan agar ia dapat membentuk orang lain lagi (formed to shape). Itulah sebabnya seorang murid harus terus menerus memiliki relasi yang intim dengan Gurunya guna mencapai formasi spiritualitasnya (spiritual formation). Itu berarti perubahan yang berasal dari dalam diri (inner life) terlebih dahulu dan bukan sekadar lahiriah belaka.
Perubahan seperti apa yang dapat terjadi dalam hidup seorang murid? Menurut Bill Hull, seorang yang menjadi murid Kristus akan mengalami Iman yang diwujudkan melalui keaktifan dalam menaati Firman Tuhan. Adapun kompetensi yang dimilikinya sebagai murid Kristus adalah:
  1. Seorang murid akan mengajukan pertanyaan terus menerus kepada gurunya bagaimana cara mengikut Yesus
  2. Seorang murid akan belajar dari perkataan-perkataan Yesus.
  3. Seorang murid akan mempelajari cara Yesus melayani.
  4. Seorang murid akan mengimitasikan hidup dan karakter Yesus.
  5. Seorang murid akan menemukan dan mengajar murid-murid yang lain demi Yesus.
PERJANJIAN LAMA
Dalam Perjanjian Lama, Kata Mathetes (Latin discipulus) muncul dalam 1 Taw 25:8; Yes 8:16; 50:4; 54:13. Musa (Yoh 9:28) memiliki murid-murid. Nabi Samuel juga memiliki banyak pengikut. Elia mementori Elisa (2Raj 4:38). Ezra dan Nehemia juga adalah guru-guru utama saat kepulangan Israel kembali dari pembuangan ke tanah perjanjian. Yesaya juga pernah menyebut bahwa umat Tuhan yang dilayaninya adalah muridnya (Yes 8:16 Limmuday–my disciples). Relasinya Yesaya dengan para muridnya digambarkan dengan 2 pekerjaan, yaitu berbicara dan mendengarkan. Yang menarik, dalam kitab Yesaya, kata my disciple dalam Yes 50:4 menggunakan kata limmudim. Kata limmudim sangat erat kaitannya dengan penyebutan “muridnya Yahweh”. Jika kita gabungkan antara ide kata limmuday dan limmudim, berarti seorang murid bukan hanya menjadi murid dari Yesaya sebagai guru yang hadir secara fisik dan sangat manusiawi, tetapi juga murid-murid menjadi murid-Nya Yahweh. Itu berarti murid-murid bukan hanya berbicara dan mendengarkan Yesaya, tetapi murid-murid juga berbicara dan mendengarkan Yahweh.
Tidak heran jika di dalam tradisi Yahudi, tidak ada murid yang tidak memiliki guru. Sebab belajar sendirian tidaklah cukup bagi para murid. Ada proses pengimitasian terhadap sang guru sekalipun masih dimungkinkan adanya diskusi dalam proses belajar tersebut. Namun memang akhirnya Hukum dan guru merekalah yang memiliki otoritas tertinggi.
Yang menarik dari konsep pemuridan, para filsuf Yunani dan para rabi Yahudi adalah orang kunci yang menentukan, bahkan yang mengumpulkan murid-murid mereka. Sangat berbeda dengan sekolah atau konsep murid di zaman kita di sini.
Agak berbeda dari sudut jumlah, orang Farisi memformalkan sekolahnya dengan sekolah rabiniknya. Dalam sekolah itu mereka memiliki banyak sekali murid dan mereka sangat terkenal. Bahkan di zaman Herodes, Josephus mencatat bahwa banyak murid yang sangat muda bersatu bagaikan sebuah bala tentara. Jumlah mereka mencapai ribuan menurut Gamaliel II dan lebih cenderung menganggapnya sebagai karier religius karena pekerjaan mereka menggarap dan mengkritisi Taurat.
PERJANJIAN BARU
Di dalam Perjanjian Baru, istilah mathetes ada sebanyak 73 kali dalam Matius, 46 kali dalam Markus dan 37 kali dalam Lukas. Mengapa di Kitab Matius paling banyak disebut-sebut? Besar kemungkinan karena konteks pembaca Injil Matius adalah orang-orang Yahudi yang memutuskan untuk meninggalkan ajaran keyahudiannya dan beralih mengikut Yesus.
Sejak pertama kali Yesus mempublikasikan pelayanan-Nya, Yesus sudah memiliki pengikut. Pengikut Yesus salah satunya adalah Yohanes Pembaptis. Sejak Yohanes Pembaptis membaptiskan Yesus, rupanya banyak pengikut Yohanes pun yang beralih menjadi pengikut Yesus. Kita memang tidak tahu siapa pengikut Yohanes yang berpindah ke Yesus, namun murid-murid Yesus sejak pertama kali Ia menyaksikan karya-Nya adalah sebagai berikut:
Mat 10:2-4Mar 3:16-19Luk 6:13-16Kis 1:13
Simon Petrus
Andreas saudara Petrus
Yakobus anak Zebedius
Yohanes saudara Yakobus
Filipus
Bartolomeus
Thomas
Matius Pemungut cukai
Yakobus anak Alpheus
Tadeus
Simon dari Kanaan
Yudas Iskariot
Simon Petrus
Yakobus anak zabedeus
Yohanes saudara Yakobus
Andreas
Filipus
Bartolomeus
Matius
Thomas
Yakobus anak Alpheus
Tadeus
Simon dari Kanaan
Yudas Iskariot
Simon Petrus
Andreas saudara Petrus
Yakobus
Yohanes
Filipus
Bartolomeus
Matius
Thomas
Yakobus anak Alfeus
Simon yg dis.org Zelot
Yudas anak Yakobus
Yudas Iskariot
Petrus
Yohanes
Yakobus
Andreas
Filipus
Thomas
Bartolomeus
Matius
Yakobus anak Alfeus
Simon orang Zelot
Yudas anak Yakobus
Mengapa terjadi pengulangan seperti di atas. Rupanya setiap Injil setidaknya memiliki penekanan yang berbeda saat menjelaskan mengenai konsep pemuridan.
Matius; Melalui Injil Matius, konsep pemuridan dikaitkan dengan Pengutusan. Setelah murid-murid memahami ajaran Yesus, Yesus mengutus mereka. Dalam Matius 28:19-20 kata mathenteusate atau “Jadikanlah murid-Ku” menggunakan aorist active imperative 2 plural. Itu berarti kata ini menunjukkan sebuah perintah, bukan himbauan dan bukan pilihan.
Markus; Konsep berbeda yang dilihat oleh Markus, seorang murid sekaligus merupakan pelayan yang ditebus. Sehingga Markus lebih menekankan pentingnya servanthood atau kerendahatian seorang murid.
Lukas; Jalan yang harus ditempuh oleh seorang murid rupanya bukanlah jalan yang mudah tetapi jalan yang penuh dengan pengorbanan (costly way). Seorang murid bukan hanya tahu apa yang dikatakan oleh gurunya, tetapi juga memilih berada di jalan gurunya, masuk ke dalam jalan itu, menjalani perjalanan yang sangat panjang yang dimulai dengan memasuki jalan keselamatan, sehingga akhirnya menghasilkan buah yang konsisten dengan jalan yang mereka pilih.
Yohanes; Murid-murid yang mengikut Yesus memiliki banyak kekurangan. Sebelum mengikut Yesus mereka terikat oleh dosa. Yohanes menekankan bahwa menjadi murid Kristus berarti mereka diberi kesempatan untuk bebas dari ikatan dosa.
Dari ke-4 Injil saja refleksi kita adalah tidak ada satu pemimpin gereja pun yang dapat berhasil meneladani Kristus jika ia tidak menjadi seorang murid atau tidak berproses secara terus menerus sampai mati, mengikuti pemuridan. Sebab hanya dengan memasuki proses: melepaskan diri dari ikatan dosa, memahami pentingnya harga yang harus dibayar, menjadi seorang hamba dan menjalankan hidup hanya karena diutus oleh Dia, seorang dapat sungguh-sungguh menjadi murid Kristus. Salah satu acuan ajaran Yesus adalah khotbah di bukit.
Kisah Para Rasul. Berbeda dari 4 Injil, dalam kitab Kisah Para Rasul, Yesus secara fisik tidak hadir dalam hidup para murid. Namun rupanya budaya memuridkan masih diteruskan, karena murid-murid Yesus pun juga memiliki banyak murid. Bahkan dalam tradisi para rasul, mereka ikut ambil bagian dalam penulisan surat maupun Injil yang kita baca. Karena apa yang mereka dengar dari guru mereka, itulah yang mereka saksikan juga kepada banyak orang.
Adapun definisi dari kata “murid” menurut Kisah Para Rasul adalah: orang-orang percaya yang memutuskan untuk mengaku Yesus sebagai Mesias (mathetria). Itu berarti sebuah keputusan yang penuh risiko karena meninggalkan kepercayaan yang lama, beralih pada kepercayaan kepada Yesus.
PEMURIDAN DALAM SEJARAH GEREJA
Konsep Pemuridan dalam sejarah gereja diawali dengan pemikiran para pengikut Kristus aliran anabaptis sekitar tahun 1538, melalui Zwingli dan Luther. Konsep ini muncul akibat mereka berpikir bahwa doktrin/ajaran Kristen yang dikhotbahkan tidak diemban oleh pendengarnya. Sehingga sekalipun ajaran Kristen tentang pertobatan dan ajaran tentang kasih Kristus diberitakan, namun itu semua tidaklah terjadi dalam hidup seorang pengikut Kristus.
Sejalan dengan itu Conrad Grebel, seorang teolog dan penulis, juga melihat pentingnya memperkenalkan ajaran Kristus melalui sisi kehidupan pengikut-Nya. Ia mengeluarkan sebuah istilah yaitu “Bussfertigkeit” (repentance evidenced by fruits), yang berarti pentingnya bukti pertobatan melalui banyak buah.
Berdasarkan pergumulan di atas, Zwingli dan Luther sepakat memiliki Visi dengan 3 penekanan utama, yang diterapkan juga oleh pengikut aliran Anabaptis yaitu Pentingnya kelahiran kembali sebagai murid Kristus yang terbukti melalui tingkah lakunya; Pentingnya kelahiran kembali dari gereja; Pentingnya etika dari kasih.
Berdasarkan 3 penekanan tersebut, sebenarnya ada 2 fokus dari pemuridan menurut Visi dari Aliran Anabaptis, yaitu di satu sisi bicara tentang orang Kristen sebagai pribadi di mana ia harus memiliki pengalaman iman di dalam dirinya, di sisi lain bicara tentang gereja sebagai persekutuan yang diikat oleh cinta kasih (brotherhood of love) di mana kehidupan Kristiani yang sesungguhnya dan ideal diekspresikan di dalamnya.
TOKOH PEMURIDAN
Ada banyak tokoh yang memperkenalkan pemuridan. Salah satunya adalah Dietrich Boenhoeffer (39 tahun) yang mati secara tragis di tangan Hitler. Dia adalah salah satu tokoh protestanisme di Jerman yang memperkenalkan dan memperjuangkan pentingnya pemuridan. Menurutnya dalam buku The Cost of Discipleship, kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus. Sebab tanpa mengaktifkan hidup kekristenan, maka iman kita mati (bdk. luk 9:23-24).
Selanjutnya, menurut Boenhoeffer, Pemuridan diawali dengan kesadaran bahwa anugerah keselamatan yang Tuhan beri bagi kita, sangat berharga. Bukti bahwa kita menghargai anugerah tersebut adalah melalui ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus. Dan karena Kristus adalah objek dari kesetiaan dan ketaatan itu maka diperlukan sebuah inisiatif untuk melakukan ketaatan yang personal dari pengikut-Nya. Ini harus dilakukan dalam hidup keseharian seorang Kristen karena kita bukan hanya diselamatkan karena iman, melainkan kita juga harus dilumpuhkan karena iman dalam melakukan hal-hal yang bertentangan dengan iman. Tidak heran Boenhoeffer sangat menekankan pentingnya meninggalkan segala sesuatu di belakang kita untuk mengikut Kristus. Karena itulah satu-satunya cara untuk tidak memandang anugerah sebagai hal yang murahan.
Alasan lain mengenai pentingnya pemuridan, menurutnya jika kekristenan tidak disertai dengan pemuridan, maka terjadi perkawinan antara kekristenan dengan budaya. Maksudnya, jika budaya memegang peran penting dalam hidup orang percaya maka pesan firman Tuhan tidak lagi menjadi fokus dalam pengajaran dan kehidupan para murid. Jadi sudah seharusnya pemuridan mengembalikan porsi firman Tuhan sebagai pemberi arah dalam hidup budaya, gereja dan keluarga.
Sesuai dengan apa yang dialami oleh Boenhoeffer, ternyata Policarpus yang menjadi martir di tahun 156 mengatakan bahwa seorang murid Kristus berarti seorang yang siap menjadi martir. Karena seorang martir mengikut Yesus sampai mati bahkan mengalami penderitaan yang juga dialami oleh Yesus. Policarpus (Polycarp) dikenal sebagai murid Yohanes dan menjadi Bishop di Smirna. Ia menjadi martir di zaman pemerintahan Marcion dan Valentinus di Roma. Saat Marcion bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengenal kami?” Policarpus menjawab, “Saya tahu, engkau adalah orang yang lahir dari iblis”. Karena keberaniannya menyatakan kebenaran dan menyaksikan Kristus, ia dibakar, setelah pemerintahan Kaisar Nero.
Seperti aliran Menonitte, menurut Bill Hull, John Wesley (1703-1791) juga memiliki konsep pemuridan. Bahkan tidak ada seorangpun dalam sejarah Pasca-Reformasi yang mengembangkan pemuridan lebih daripada Wesley. Menurutnya, disiplin spiritualitas harus dimulai dari rumah. Sejak Wesley berusia 9 tahun ibunya telah membimbing Wesley, bahkan menurut ibunya Susannah, pendidikan spiritualitas yang dilakukan secara informal di rumahlah yang membuat anggota gereja mereka bertambah banyak jumlahnya dari 25 orang menjadi lebih dari 200 orang. Setelah Wesley menyelesaikan studinya, mereka membuat sebuah kumpulan yang disebut holy club, yang selanjutnya diberi nama Godly Club, Bible Moth, The Reformers’ Club dan The Enthusiasts. Tetapi judul yang diingat oleh banyak orang adalah kaum Metodis. Kegiatan dari Holy Club adalah berdoa, membaca Alkitab, sharing pengalaman hidup keseharian dan saling mendorong satu dengan lainnya. Mereka memfokuskan diri pada 3 hal yaitu mengimitasikan Kristus, menginjili dan melakukan yang baik kepada mereka yang membutuhkan, khususnya mereka yang ada dalam penjara. Ini adalah gerakan pertama yang dilakukan oleh para pengikut aliran Metodis.
AJARAN PEMURIDAN
1.    TRANSFORMASI DAN PENYANGKALAN DIRI
Yohanes Pembaptis memproklamasikan bahwa pemuridannya difokuskan pada pertobatan, pencarian Allah dan pelayanan kepada Allah. Apa yang dilakukan Yohanes berbeda yang lainnya, ia rela berkorban dengan hidup di padang gurun.
Ada perubahan dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh Yohanes, termasuk penyangkalan diri ketika murid-muridnya sebagian besar akhirnya menjadi pengikut Yesus (Yoh 1:35-50; Kis 19:1-7). Proses penyangkalan diri sekaligus mengubah seorang murid dalam hal:
a.    Transformated mind (pikiran)
b.    Transformated character (karakter)
c.    Transformated relationship (relasi)
d.    Transformated habits (kebiasaan)
e.    Transformated service (pelayanan)
f.    Transformated Influence (pengaruh)
2.    BELAJAR DAN BERLATIH
Dalam buku “Jalan Menuju Kedewasaan Penuh dalam Kristus” pemuridan diartikan sebagai pelipatgandaan murid Kristus. Berdasarkan Kata Yunaninya mathetes, yang dipergunakan 269 kali dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul, buku ini menekankan pentingnya ”diajar” dan ”dilatih”, sebab mereka adalah tiruan sang guru. Proses pemuridan disebut juga proses pendewasaan rohani dari seseorang yang sudah ”lahir baru”, sehingga tercapai 3 hal, yaitu: Pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (Kolose 3:10); Menjadi seperti Kristus dalam karakter (2 Korintus 3:18; Filipi 2:5); Cakap dalam melayani (2 Timotius 2:2).
Menjadi Kristen tanpa menjadi murid, sama dengan ”bayi-bayi rohani” yang hanya mengkonsumsi “susu” dan tidak dapat mengkonsumsi makanan keras. ”Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa” (Ibrani 5:11-14;1 Korintus 3:2). Tidak heran jika banyak orang yang baru saja menerima Tuhan Yesus meninggalkan imannya dari Tuhan, karena mereka tidak segera dimuridkan.
3.    GAYA HIDUP SESUAI KRISTUS
Dalam Journal Discipleship Spirituality, menurut Lukas 9:23-25 Yesus mengajarkan pengikut-Nya, bahwa pemuridan bukanlah program atau sebuah peristiwa saja, melainkan sebuah proses mengikuti (follow) sehingga akhirnya sang murid memiliki gaya hidup (the way of life) yang sama dengan gurunya. Jadi pemuridan tidak hanya ditujukan bagi orang Kristen baru tetapi juga bagi seluruh orang Kristen.
Allah bukan hanya menghendaki pengikut-Nya berharap, bersemangat dan berniat hidup baik saja, tetapi Dia menghendaki kita mengalami transformasi sehingga dapat memiliki kebiasaan Ilahi sebagai wujud jawaban kita atas panggilan-Nya.
Menurut Bill Hull dalam bukunya The Complete book of Discipleship, Tuhan memerintahkan 212 hal yang disimpulkan dalam 3 hal: mengasihi Allah dengan segenap pikiran, jiwa dan kekuatan; mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri; serta mengasihi musuh. Itulah cara mengimitasikan kristus.
4. MENGAJARKAN BERULANG-ULANG KEPADA GENERASI SELANJUTNYA
Dalam Wasana Kata untuk bunga rampai Nilai-nilai Keluarga Mennonit dalam Kisaran Badai Zaman, identitas murid bagi aliran Mennonit dimulai dari rumah. Sejak kelahiran dari aliran ini, 482 tahun lalu, Mennonit memulai pertemuannya di rumah-rumah, dalam jemaat-jemaat yang kecil dan tersembunyi. Mereka tidak beribadah di gereja negara di Swiss, Belanda dan Jerman. Pertemuan ibadah rahasia, tidak tetap, dan mengambil tempat di rumah-rumah, di lumbung, di atas perahu, bahkan di gua-gua; di mana pun tempat yang mungkin untuk dipakai beribadah. Ibadah Mennonit dimulai dari keluarga! Dilaporkan, hanya sekitar 4% dari kaum Mennonit dan Brethren in Christ yang tidak memiliki kebiasaan ini.
Meskipun pengakuan-pengakuan Mennonit tidak mencantumkan mengenai ibadah keluarga, tetapi dalam Mennonite Confession of Faith (1963) bab 15 dinyatakan, “The Christian home ought regularly to have family worship, to seek faithfully to live according to the Word of God, and to support loyally the church in mission.” (“Rumah tangga Kristen haruslah memiliki ibadah keluarga yang rutin, berupaya untuk hidup dengan patuh kepada Firman Allah, dan untuk mendukung gereja dalam misi.”) Kemudian, para orangtua pun didorong untuk berjanji, mau menumbuh-kembangkan anak-anak mereka di dalam iman Kristen yang benar.
5.    BUKAN SEKADAR IKUT-IKUTAN
Di abad pertama, ada 5 karakteristik dalam pemuridan:
•    Pertama, Memutuskan untuk mengikuti seorang guru
•    Kedua, Mengingat apa yang dikatakan oleh gurunya
•    Ketiga, Belajar cara gurunya melayani
•    Keempat, Mengimitasikan hidup dan karakter gurunya
•    Kelima, Membesarkan murid-muridnya
PEMURIDAN YANG DILAKUKAN YESUS
Dalam buku klasik 1871, the Training of The Twelve, tulisan A. B. Bruce, Bill Hull mencatat bahwa Yesus juga memperlihatkan sebuah proses yang dialami para murid-Nya sehingga mereka dapat menjalankan misi Yesus. Ada 4 proses yang dijalani oleh murid-murid Yesus:
1.    Come and see
Teks: Yoh 1:35-4:46. Terjadi 4-5 bulan.
•    Ia memperkenalkan diri-Nya.
•    Ia memerkenalkan pelayanan-Nya.
2.    Come and follow me
Teks: Mat 4:19 dan Mrk 1:16-18. Terjadi 10-11 bulan.
•    Ia mengundang murid-murid-Nya.
•    Ia mengundang tanpa menyeleksi.
•    Ia menggunakan kalimat: “Follow me” sebuah undangan personal; “I will make you” mengandung tanggungjawab; “Fishers of men” Ia memberikan Visi.
3.    Come and and be with me
Teks: Mrk 3:13-14. Terjadi 20 bulan.
•    Hidup dalam keseharian bersama para murid.
•    Menunjukkan belas kasihan yang memotori misi-Nya.
•    Ia pergi dan berdoa semalaman.
•    Ia membina relasi dengan para murid.
4.    Remain in me
Teks: Yoh 15:5, 7. Di ruang atas dan selanjutnya seumur hidup para murid.
•    Yesus mengubah para murid dengan meninggalkan mereka sehingga mereka dapat menjalankan misi-Nya dengan penuh tanggungjawab dan dengan pertolongan Roh Kudus.
TRANSFORMASI DALAM DIRI KITA
Akhirnya, pertanyaan yang sederhana tetapi sangat penting bagi kita adalah: Apakah kita sudah menjadi murid Kristus? Sebab memiliki status dalam tanda pengenal kita sebagai “Kristen” atau mengikuti kegiatan gereja, bukanlah indikator bahwa kita sudah menjadi murid apalagi mengikuti pemuridan.
Dari penjelasan di atas, sampai sejauh mana kita telah menjadi murid Yesus? Atau apa yang mau kita lakukan agar kita dapat menjadi murid Yesus?
Pdt. Riani Josephine
Daftar Pustaka
Bender, Harold S. Journal: The Anabaptist Vision. CUP, Church History, Vol. 13, No. 1 (Mar., 1944).
Boenhoeffer, D. The Cost of Discipleship. London: B&S, 1959.
Bromiley, Geoffrey W. Theological Dictionary of The New Testament. Michigan: Grand Rapids, 1992.
Douglas, J. D. ed. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini II. Jakarta: OMF, 1982.
Frederick, Thomas V. Journal: Discipleship and Spirituality from A christian Perspective. Publ.ol, 2008.
Green, Joel B. eds. Dictionary of Jesus and The Gospels. Illinois: IVP, 1992.
Hull, Bill. The Complete Book of Discipleship. Singapore: Navmedia, 2006.
Suh, Eunsun. Journal: The complete book of discipleship: On being and making followers of Christ. 2008.

April 23, 2011

7 pesan terakhir Yesus di kayu salib yang mengantar manusia pada keselamatan


http://katolisitas.org/2011/04/19/7-pesan-terakhir-yesus-di-kayu-salib-yang-mengantar-manusia-pada-keselamatan/

Pesan terakhir yang penuh makna


Kalau seseorang yang kita kasihi meninggal, maka kita mencoba mengingat pengalaman-pengalaman bersama dengan orang tersebut, baik pengalaman suka maupun duka. Namun, terutama kita mencoba mengingat apa yang diucapkan pada saat-saat menjelang ajalnya, karena pesan pada saat-saat terakhir adalah penting dan penuh makna.
Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat tujuh pesan Yesus yang diucapkan-Nya pada saat Dia tergantung di kayu salib, saat-saat akhir hidup-Nya. Dari pesan terakhir ini, kita akan dapat menangkap hal-hal yang terpenting yang ingin disampaikan-Nya kepada kita. Tujuh pesan Yesus terdiri dari: (a) Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.“; (b) Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (c) Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!“; (d) Mar 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?“; (e) Yoh 19:28 “Aku haus!“; (f) Yoh 19:30 “Sudah selesai“; (g) Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.
Dari pesan ini, kita melihat bagaimana Yesus ingin membawa keselamatan bagi semua orang dengan memberikan pengampunan kepada umat manusia, sehingga manusia dapat bersatu dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, sama seperti Yesus membawa pencuri di sebelah kanan-Nya ke Firdaus. Bagaimana cara untuk mencapai Kerajaan Sorga? Yesus menunjukkan agar kita dapat menerima Maria sebagai bunda kita, senantiasa berharap pada Allah dalam kesulitan, haus akan jiwa-jiwa untuk diselamatkan, serta terus setia terhadap panggilan kita sampai akhir hayat kita, sampai tiba saatnya kita menyerahkan nyawa kita kepada Bapa dan kemudian memulai kehidupan baru di dalam Kerajaan Sorga.

1. Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Pada saat Yesus tergantung di kayu salib, di tahta-Nya yang dipandang hina oleh banyak orang, Dia melihat dengan jelas drama kehidupan kehidupan manusia, mulai dari serdadu yang kejam, murid-muridnya yang pengecut, kaum Farisi yang iri hati, orang-orang yang tidak melakukan apapun ketika mereka melihat ketidakadilan. Di kayu salib dan juga dalam permenungan-Nya di taman Getsemani, Kristus juga melihat dosa-dosa seluruh umat manusia, mulai dari Adam dan Hawa sampai manusia terakhir. Ini berarti Dia juga melihat semua dosa kita. Inilah yang menyebabkan Yesus meneteskan keringat darah.
Santo Tomas Aquinas menyatakan bahwa ada tiga pengetahuan di dalam Kristus dalam kodrat-Nya sebagai manusia, yaitu: 1) pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman/ pembelajaran (acquired knowledge), 2) pengetahuan yang ditanamkan dari Allah (infused knowledge); dan 3) pandangan kesempurnaan surgawi (beatific vision). Acquired knowledgeini adalah sama seperti pengetahuan yang kita dapatkan dari kita belajar kehidupan sehari-hari maupun mendapatkan pengetahuan tentang pengetahuan-pengetahuan yang lain. Hal ini dinyatakan di dalam Alkitab ketika dituliskan “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.“(Luk 2:52). Infused knowledge adalah pengetahuan seperti yang diperoleh oleh nabi-nabi maupun para malaikat. Allah sendiri memberikan inspirasi dan dengan akal budi mereka, para nabi mengekspresikannya dengan ungkapan dan kata-kata mereka sendiri. Bagaimana denganbeatific vision? Pengetahuan inilah yang dipunyai oleh Kristus sejak Dia dikandung dan sampai selama-lamanya. Pengetahuan ini memungkinkan Kristus senantisa berada dalam persatuan dengan Allah Bapa walaupun Dia mengambil kodrat manusia. Pada saat yang bersamaan, pengetahuan ini memungkinkan Kristus dapat memilih untuk membawa seluruh umat manusia dalam doaNya di taman Getsemani.
Bayangkan ketika orang tua merenungkan dosa-dosa yang diperbuat oleh anaknya. Dalam keterbatasan melihat dosa-dosa anaknya, hati mereka dapat menjerit dan merasakan kepedihan yang mendalam. Inilah yang dialami oleh Musa, ketika dia mengetahui bahwa bangsa Israel akan mengalami kehancuran karena telah menyembah berhala. Dia berkata “31 …”Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. 32  Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Kel 32:32)
Sekarang coba bayangkan, apa yang dialami oleh Yesus, ketika Dia melihat secara jelas seluruh dosa-dosa manusia, dari manusia pertama sampai manusia yang terakhir. Dan gambaran seluruh dosa-dosa manusia lebih jelas dibandingkan dengan kejelasan Musa melihat dosa-dosa umat Israel. Dengan beatific vision-Nya, Kristus melihat kesombongan manusia, orang-orang yang meninggalkan Gereja-Nya, orang-orang yang memecahkan diri dari Tubuh Mistik Kristus, orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka dan lupa akan Tuhan yang telah memberikan rejeki kepada mereka. Dia juga melihat dosa-dosa yang kita lakukan, yaitu saat kita lebih memilih kesenangan kita dibandingkan dengan mengikuti perintah Allah, atau saat kita egois, atau saat kita marah dan mengeluh ketika ada percobaan datang. Namun, pada saat yang bersamaan, selain dosa-dosa kita, Kristus juga melihat perbuatan kasih yang kita lakukan. Ini berarti pada saat kita melakukan perbuatan kasih, maka kita juga menghibur Kristus pada saat Dia berdoa di taman Getsemani. Pada waktu Kristus berdoa inilah, segala yang terjadi di masa lalu maupun masa depan, dihadirkan oleh Kristus. Dengan demikian, jika kita berdoa dan melakukan perbuatan kasih di masa kini, kita menemani dan menghibur Kristus pada saat Dia mengalami penderitaan di Taman Getsemani. Kita mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kristus sendiri, ketika Dia mengatakan “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” (Mat 26:38). Jangan biarkan kita lengah sehingga Kristus menegur kita dengan mengatakan “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Mat 26:40).
Bagaimana dengan pengetahuan manusia seperti kita? Kita dapat mempunyai pengetahuan eksperimental atau kalau Tuhan menghendaki, seseorang juga dapat mempunyai infused knowledge. Bahkan dengan seijin Tuhan, Rasul Paulus mungkin mengalami beatific visionketika dia mengatakan bahwa dia mengenal seseorang yang diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga (lih. 2Kor 12:2-4). Namun, menjadi kodrat dari manusia untuk belajar secara bertahap. Pengetahuan manusia akan Tuhan didapatkan secara bertahap. Hal ini berbeda dengan para malaikat yang mendapatkan pengetahuan secara lengkap secara langsung. Inilah sebabnya Tuhan dapat mengampuni dosa manusia dan memberikan kesempatan kepada manusia berulang-ulang untuk memperbaiki dosanya, namun kepada malaikat yang berdosa, Tuhan tidak dapat memberikan kesempatan kedua, mengingat kesempurnaan pengetahuan yang telah diberikan kepada mereka. Kita ketahui bahwa sebagian dari para malaikat memilih untuk menolak dan melawan Tuhan.
Dengan melihat kodrat manusia ini, Kristus berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Luk 23:34). Kristus tahu bahwa manusia memang berdosa karena dipengaruhi oleh kelemahan-kelemahannya akibat dosa asal. Dengan demikian, apa yang diperbuat oleh manusia bisa saja terjadi karena ketidaktahuannya. Namun tidak semua ketidaktahuan mengakibatkan orang terbebas dari dosa. Ketidakketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) membuat orang tidak berdosa, namun ketidaktahuan yang disebabkan oleh ketidakpedulian orang itu sendiri (culpable ignorance) menyebabkan seseorang tetap bersalah. Rasul Petrus mengerti bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus bertindak karena ketidaktahuan mereka, sehingga dia mengatakan “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu.” (Kis 3:17)
Bagaimana dengan kita yang telah menerima Kristus? Kita tidak mempunyai alasan lagi bahwa kita tidak tahu. Oleh karena itu, tanggung jawab kita lebih berat, karena barang siapa diberi banyak akan dituntut lebih banyak (lih. Luk 12:48). Menyadari bahwa manusia dengan kekuatannya sendiri tidak dapat menjalankan semua perintah Allah, Kristus menyediakan Diri-Nya sendiri untuk disalibkan, sehingga rahmat yang berlimpah dapat mengalir kepada kita umat Allah. Bahkan kesalahan-kesalahan yang dibuat umat Allah dapat dihapuskan dengan melakukan pengakuan dosa. Dan kalau seseorang tidak mensyukuri dan menggunakan semua kemudahan untuk mendapatkan pengampunan dosa, maka orang tersebut tidak lagi mempunyai alasan apapun kalau sampai dia kehilangan keselamatan kekal.

2. Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Keselamatan kekal bagi manusia adalah yang menjadi alasan bagi Kristus untuk turun ke dunia, rela menanggung sengsara, menerima semua kesengsaraan dan penderitaan, serta taat kepada Bapa untuk mati di kayu salib. Seluruh kehidupan-Nya ditujukan untuk mengemban misi ini, dan Kristus telah melaksanakannya dengan sempurna. Bahkan sampai pada menjelang akhir wafat-Nya, Dia tidak membuang kesempatan sedikitpun untuk menyelamatkan pencuri yang disalibkan bersama-Nya.
Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dalam peristiwa penyaliban, terjadilah suatu drama dari keinginan (wills) dari dua pencuri yang disalibkan bersama dengan Yesus.[1] Ada begitu banyak hal yang terjadi di luar diri kita, yang sering terjadi di luar kontrol kita. Namun, satu hal yang dapat kita kendalikan adalah keinginan kita. Di luar mungkin saja terjadi sesuatu yang begitu menyesakkan, membuat marah, namun kita tetap dapat memutuskan untuk tetap tenang. Bagi umat Katolik, ketenangan ini bersumber dari Kristus yang menderita, wafat dan bangkit. Oleh sebab Kristus telah mengatasi segalanya, maka kita dapat tetap tinggal tenang, sebab tak ada sesuatupun yang dapat terjadi di luar rencana Allah.
Menjadi sesuatu yang umum, bahwa pada saat seseorang disalibkan, maka dia akan menyumpahi orang yang menyalibkannya, bahwa menyumpahi dirinya, menyumpahi Tuhan dan hari kelahirannya. Namun, dua pencuri yang disalibkan mendengarkan seseorang yang disalib di tengah-tengah mereka mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Pengampunan ini mendatangkan rahmat. Paling tidak salah satu dari pencuri ini menyambut rahmat Allah. Bahkan ketika pencuri di sebelah kiri mengatakan “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Luk 23:39), maka pencuri di sebelah kanan Yesus menjawab “40 Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 41  Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” (Luk 23:40-41)
Percakapan ini mungkin terlihat sepele. Namun, kita jangan melupakan bahwa setiap kata yang keluar dari orang yang disalibkan adalah merupakan suatu penderitaan, karena setiap tarikan nafas menjadi suatu siksaan. Pencuri di sebelah kanan, yang menurut tradisi bernama Dimas, dalam keterbatasannya telah memberikan nyawanya untuk Kristus, dan dia juga menaruh pengharapan di dalam Kristus, sehingga dia memohon kepada Yesus “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42) Sungguh suatu ungkapan pengharapan dan iman yang begitu sederhana dan dalam. Terhadap ungkapan iman dan kasih ini, Yesus menjawab “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)
Mari, dalam Pekan Suci ini, kita bersama-sama merenungkan, bahwa kita yang telah menerima baptisan sakramental, seharusnya mempunyai sikap seperti yang ditunjukkan oleh Dimas, bahkan dituntut lebih. Mengapa? Karena kita telah menerima rahmat Allah yang begitu istimewa dalam Sakramen Baptis, seperti: (a) rahmat pengudusan, (b) menjadi anak-anak Allah dan dipersatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, (c) menerima tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan dan kasih), (d) menerima tujuh karunia Roh Kudus seperti yang disebutkan di dalam Yes 11:2-3 (kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan takut kepada Allah). Dengan rahmat-rahmat ini kita dimampukan untuk mengikuti perintah Kristus, yang menuntun kita kepada keselamatan kekal.

3. Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!”

Dengan penebusan-Nya di kayu salib, Kristus telah membuka jalan keselamatan bagi semua orang. Dia telah memberikan Diri-Nya dengan sehabis-habisnya. Dia telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya di kayu salib, yang telah diantisipasi dalam Perjamuan Suci (lih. Mat 26:26-29, Mar 14:22-25, Luk 22:19-20). Namun rupanya ini tidak cukup. Memandang dari kayu salib, Kristus melihat dua orang yang dikasihi-Nya, yaitu Ibu-Nya, Bunda Maria dan murid-Nya yang terkasih, rasul Yohanes. Dengan sisa-sisa nafas-Nya, Kristus memberikan pesan yang begitu penting kepada kita, yaitu pesan ketika Kristus memandang Ibu-Nya dan murid-Nya dan berkata “Ibu (RSV = Woman), inilah, anakmu!.. dan inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Dalam bukunya, uskup agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dengan menyebut woman(perempuan) dan bukan ibu, maka Kristus menginginkan bahwa Bunda Maria bukan hanya menjadi bunda Kristus saja, namun dia menjadi bunda seluruh umat beriman. Inilah sebabnya Kristus menyerahkan ibu-Nya kepada  kepada murid yang dikasihi-Nya – tanpa nama, untuk menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua murid Kristus.
Sebaliknya Kristus juga menyerahkan murid-Nya untuk menjadi putera Bunda Maria. Satu-satunya anak Maria memang tidak tergantikan, yaitu Kristus. Namun, Kristus ingin memberikan hubungan yang baru antara Maria dengan seluruh umat beriman. Kristus menginginkan agar Maria dapat menerima seluruh umat beriman sebagai anaknya, karena Kristus sendiri hadir dan bersatu dalam diri setiap umat beriman, sama seperti Kristus sendiri mengumpamakan DiriNya sebagai pokok anggur dan seluruh ranting-ranting bersatu dengan-Nya (lih. Jn 15:5). Ini berarti, Kristus menginginkan agar Bunda Maria turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus dan memperlakukan seluruh umat beriman sebagai anaknya. Suka atau tidak suka, Kristus menginginkan hal ini dan memberikan Maria sebagai bunda bagi seluruh umat beriman. Kalau Kristus tidak berkeberatan untuk dididik oleh Maria dan Maria dipandang baik oleh Kristus sebagai Bunda Allah, maka siapakah kita yang memandang bahwa kita tidak perlu menghormati Bunda Maria, bahkan ada yang menyingkirkan Bunda Maria dari kehidupannya? Apakah ada seorang pria yang merasa bahwa pacarnya terlalu berlebihan karena dia menghormati ibunya juga?

4. Mrk 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Disaksikan oleh Bapa-Nya di Sorga dan ibu-Nya di kaki kayu salib, Yesus berkata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kalimat yang berkesan keputusasaan. Mungkin jeritan yang sama, sering kita teriakkan dalam kesesakan dan penderitaan kita. Kita mengetahui bahwa Kristus adalah sungguh sama seperti kita, yang telah mengecap semua yang kita alami, termasuk penderitaan. Namun, di dalam penderitaan-Nya, Dia telah menunjukkan adanya suatu kepercayaan yang kokoh akan rencana Allah. Perkataan Eli, Eli Lamasabakthani, merupakan permulaan dari Mazmur 22, yang lengkapnya adalah sebagai berikut:
1  Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. (22-2)Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.
2 Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang.
3 Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
4 Kepada-Mu nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
5 Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.
6 Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak.
7 Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
8 “Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
9 Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.
10 Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
11 Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong.
12 Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;
13 mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum.
14 Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku;
15 kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
16 Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
17 Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
19 Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!
20 Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.
21 Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng. Engkau telah menjawab aku!
22 Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah:
23 kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!
24 Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
25 Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
26 Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! 
27 Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
28 Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
29 Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang turun ke dalam debu, dan orang yang tidak dapat menyambung hidup.
30 Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.
31 Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya.
Bagi umat Yahudi, kalau seseorang memulai kalimat pertama dari Mazmur, maka berarti orang bermaksud untuk menyelesaikannya. Dan dalam kondisi tersalib, sungguh tidak mungkin untuk menyelesaikan pengucapan keseluruhan Mazmur tersebut. Ini berarti, bahwa kalimat pertama dari Mazmur 22 harus dimengerti dalam konteks keseluruhan, yaitu untuk mempercayai dan menggantungkan segala sesuatunya ke dalam tangan Bapa, yang pada akhirnya akan membawa kemuliaan, di mana seluruh ujung bumi akan mengingat dan berbalik kepada Tuhan (lih. Mzm 22:27). Ini adalah suatu pengajaran dari Kristus yang harus diikuti oleh seluruh murid Kristus tentang bagaimana menaruh pengharapan di dalam Tuhan dalam kondisi apapun. Cara dan sikap dalam menghadapi penderitaan adalah salah satu perbedaan antara orang yang mengenal Kristus dan yang tidak mengenal Kristus. Bahkan rasul Paulus mengatakan “3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4  dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5  Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5:3-5)
Kalau seseorang menjadi murid Kristus, maka dia akan mengikuti apa yang dilakukan oleh Kristus, termasuk adalah cara menghadapi permasalahan dan penderitaan. Karena dengan penderitaan-Nya, Kristus dapat memenangkan belenggu dosa, maka dengan menyatukan segala penderitaan kita dengan Kristus, kita akan memperoleh kemenangan, yaitu kemenangan yang menyelamatkan, yang mengantar kita pada  kehidupan kekal. Kuncinya adalah menghadapi permasalahan dengan terus bertekun dalam doa yang didasarkan iman, pengharapan dan kasih, seperti yang dilakukan oleh Kristus.
Mungkin ada yang bertanya, kalau Yesus memang Tuhan, mengapa pada saat disalib, Dia berdoa? Sebenarnya, Yesus berdoa tidak hanya terbatas pada waktu Yesus disalib, namun Yesus berdoa dalam berbagai kesempatan (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). Santo Thomas Aquinas membahas tentang definisi doa, dimana dia mengatakan bahwa doa adalah membuka keinginan kita kepada Tuhan, sehingga Dia dapat memenuhinya.”[2] Karena di dalam Kristus (satu pribadi) ada dua kehendak, yaitu kehendak manusia dan kehendak Tuhan, maka menjadi hal yang wajar, kalau Yesus berdoa karena Dia mempunyai kodrat manusia. Sama seperti kita sebagai orang beriman, kita menyatakan keinginan/ kehendak kita di hadapan Allah.
Alasan kedua adalah Yesus berdoa untuk kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, namun Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya sebagai manusia kita berdoa, yaitu bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Allah Bapa, meskipun di dalam situasi yang paling sulit sekalipun.
Yesus berdoa tanpa henti, untuk mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam segala kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).
Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam doa yang terpenting adalah untukmengikuti kehendak Tuhan, seperti yang dikatakan-Nya dalam doa-Nya di Taman Getsemani, dimana Dia berkata “”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).
Yesus mengajarkan doa yang sempurna, yaitu doa Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).
Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, maka Tuhanlah yang menjadi kekuatan dalam doa, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam drama penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).
Yesus juga mengajarkan pentingnya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34).
Dan masih begitu banyak contoh yang lain, yang menyebabkan pengikut Kristus tahu bagaimana untuk berdoa, karena Tuhan sendiri – melalui Kristus – yang menunjukkan kepada manusia bagaimana seharusnya berdoa.
Dengan demikian, maka kita dapat melihat bahwa doa Yesus di atas kayu salib sungguh merupakan doa yang berpengharapan yang menyelamatkan dan memberikan contoh bagi seluruh umat beriman.

5. Yoh 19:28 “Aku haus!”

Contoh apalagi yang ingin diberikan oleh Kristus sebelum dia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir ketika Dia mengatakan “Aku haus!“? Dikatakan di ayat Yoh 19:28 bahwa perkataan Yesus “Aku Haus” adalah untuk memenuhi nubuat di dalam Kitab Suci. Ini adalah pemenuhan dari Mzm 69:21 yang mengatakan “… dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.” Dengan demikian, pernyataan Yesus merupakan penegasan bahwa Yesus yang tersaliblah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.
Memang dalam kodrat-Nya sebagai manusia, Yesus mengalami penderitaan dan kehausan yang begitu sangat. Namun, kehausan dalam kapasitas yang lebih dalam adalah kehausan untuk meyelamatkan jiwa-jiwa. Ini adalah drama pencarian Tuhan akan manusia. Drama di mana Tuhan yang dari Sorga turun ke dunia untuk menjangkau jiwa-jiwa yang tercerai berai. Kehausan ini mengingatkan kita akan permintaan Yesus kepada wanita Samaria “Berilah Aku minum” (Yoh 4:7). Dan percakapan ini pada akhirnya membawa keselamatan kepada wanita Samaria dan juga orang-orang di kota tersebut. Keselamatan wanita Samaria dan orang-orang di kota tersebut tidaklah cukup bagi Yesus, sehingga di atas kayu salib, Dia tetap merasa kehausan, karena Dia ingin menjangkau seluruh umat manusia, ingin menemukan dan mengantar seluruh umat manusia pada keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4)
Karena Tuhan senantiasa dalam pencarian akan manusia, maka sejak dari Perjanjian Lama dikatakan “13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14  Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yer 29:13-14) Inilah sebabnya ketika seseorang menyadari bahwa dia memerlukan Tuhan, ketika seseorang melihat penderitaan dalam kacamata iman, ketika seseorang menerima penderitaan dengan tabah, ketika seseorang mau menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Kristus, maka Tuhanlah yang sebenarnya menjadi penggerak utama dari semuanya itu. Dalam drama penyaliban, terutama perkataan Yesus bahwa Dia haus, kita menyaksikan akan drama tentang Tuhan yang sungguh mencintai manusia dengan sehabis-habisnya. Bagaimana tanggapan manusia? Bagaimana tanggapan kita?

6. Yoh 19:30 “Sudah selesai”

Setelah prajurit memberikan bunga karang yang telah dicelupkan pada anggur asam, lalu Yesus meminumnya dan berkata “sudah selesai” (lih. Yoh 19:30). Kita dapat melihat adanya tiga hal yang berkaitan dengan “sudah selesai”. Di dalam Kitab Kejadian, setelah Tuhan menyelesaikan penciptaan, maka pada hari ke tujuh, Dia mengatakan “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan (finished His work) yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. ” (Kej 2:2) Dan Kitab Wahyu menuliskan “Semuanya telah terjadi (it is done). Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.” Ini berarti, penciptan dunia dan kemenangan di Sorga hanya dapat terjadi kalau pekerjaan yang dilakukan Yesus telah selesai. Dan dalam konteks inilah Yesus mengatakan “sudah selesai” untuk menyatakan bahwa Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa dengan sempurna, bukan dengan keputusasaan dan kegetiran, namun dengan dasar kasih yang sempurna. Inilah yang membuat persembahan Kristus di kayu salib dapat menyenangkan hati Bapa – yaitu karena didasarkan kasih yang sempurna.
Ini juga yang seharusnya mendorong kita dalam perjalanan kehidupan kita. Sama seperti Rasul Paulus, kita juga ingin berlari ke tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan Sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (lih. Flp 3:14).

7. Luk 23:46 “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Kata yang terakhir dari Yesus setelah mengatakan “sudah selesai” adalah “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku“. Dalam satu kalimat ini, kita dapat melihat hubungan yang sungguh dalam dan tak terpisahkan antara Bapa dan Putera. Bapa begitu mencintai manusia, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia (lih. Yoh 3:16). Kristus datang ke dunia dan senantiasa melaksanakan kehendak Bapa. Dari umur duabelas tahun, Kristus telah mengatakan bahwa Dia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (Luk 2:49). Dalam seluruh karya-Nya, Kristus senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada Bapa (lih. Yoh 8:29). Sampai pada akhirnya, Kristus menyerahkan nyawaNya ke dalam tangan Bapa (lih. Luk 23:46). Dengan kebebasan-Nya, Kristus melakukan kehendak Bapa.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita menggunakan kebebasan kita? Orang sering salah dalam mengartikan kebebasan. Orang sering mengartikan kebebasan sebagai “kebebasan dari freedom from” dan bukan “kebebasan untuk / freedom for“. Kebebasan yang lebih menekankan “kebebasan dari” merupakan ekspresi akan keinginan yang terbebas dari hal-hal yang dianggap mengikatnya, termasuk tanggung jawab. Orang yang menginginkan kebebasan untuk minum minuman keras tanpa mau dibatasi jumlahnya, cepat atau lambat akan menemukan bahwa dirinya tidak lagi bebas. Dia akan terikat akan minuman keras, dan tidak lagi mempunyai kebebasan untuk mengatakan tidak terhadap minuman keras. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa mengumbar kebebasan tanpa adanya batasan yang jelas dapat membuat manusia menjadi tidak bebas lagi. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan kebebasan sebagai berikut:
KGK, 1731. Kebebasan adalah kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak, untuk bertindak atau tidak bertindak, untuk melakukan ini atau itu, supaya dari dirinya sendiri melakukan perbuatan dengan sadar. Dengan kehendak bebas, tiap orang dapat menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, manusia harus tumbuh dan menjadi matang dalam kebenaran dan kebaikanKebebasan itu baru mencapai kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Allah, kebahagiaan kita.
Dari definisi di atas, kita dapat melihat bahwa kebebasan seharusnya juga dibarengi dengan kebenaran (truth) dan kebaikan (good). Tanpa dibarengi dengan kebenaran dan kebaikan, maka kebenaran akan menjadi suatu tindakan yang tidak bertanggungjawab. Semakin tinggi kebenaran dan kebaikan itu, maka kebebasan itu akan semakin membebaskan. Karena tidak ada kebenaran dan kebaikan yang lebih tinggi dari Tuhan -  sebab Tuhan adalah kebaikan dan kebenaran itu sendiri – maka kebebasan sejati adalah kebebasan yang didasarkan atas ketentuan dari Tuhan. Kristus sendiri, sebagai jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6) telah mengatakan bahwa kebenaran akan membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dengan demikian, dalam kata yang terakhir di kayu salib, Kristus telah menunjukkan bahwa Dia secara bebas menjalankan kehendak Bapa dan secara bebas memberikan nyawa-Nya untuk Bapa. Inilah kebebasan yang sejati.
Paus Yohanes Paulus II dalam suratnya kepada kaum muda seluruh dunia pada tahun 1985 mengatakan “And in this sphere Christ’s words: “You will know the truth, and the truth will make you free”, become an essential programme. Young people, one might say, have an inborn “sense of truth”. And truth must be used for freedom: young people also have a spontaneous “desire for freedom”. And what does it mean to be free? It means to know how to use one’s freedom in truth-to be “truly” free. To be truly free does not at all mean doing everything that pleases me, or doing what I want to do. Freedom contains in itself the criterion of truth, the discipline of truth. To be truly free means to use one’s own freedom for what is a true good. Continuing therefore: to be truly free means to be a person of upright conscience, to be responsible, to be a person “for others”.[3]
Mari, dalam Pekan Suci ini, kita merenungkan sejauh mana kita telah menggunakan kebebasan kita. Apakah kita telah menggunakan kebebasan kita dengan bertanggungjawab berdasarkan kebenaran dan kebaikan, sehingga dapat mengarahkan kita kepada keselamatan diri kita maupun membantu keselamatan orang-orang di sekitar kita? Jika kita telah mati dari dosa kita – karena Sakramen Baptis – yang kita terima, dan membuat kita dapat bangkit bersama Kristus, maka kita juga harus mengikuti teladan Kristus. Kita dapat menyerahkan kebebasan kita kepada Tuhan sehingga kita dapat semakin bebas untuk melaksanakan seluruh perintah Tuhan.

Melaksanakan tujuh pesan terakhir Yesus mengantar kita kepada keselamatan

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa tujuh pesan terakhir Yesus sungguh penuh makna yang mendalam. Kalau kita terus merenungkan pesan-pesan ini sepanjang Pekan suci ini, maka kita akan semakin menghargai pengorbanan Yesus. Apapun kondisi kita, di Pekan suci ini, Kristus menawarkan pengampunan kepada kita semua. Bagi yang berdosa berat, segeralah mengaku dosa dan bagi yang berjuang dalam kekudusan, teruslah berfokus pada tujuan akhir. Yesus menginginkan agar semua manusia dapat sampai pada tujuan akhir, yaitu Sorga. Tidak ada kata terlambat. Sejauh kita masih hidup dan bertobat, sama seperti pencuri yang disalibkan di sisi kanan Yesus, maka Kristus akan memberikan janji yang sama, yaitu keselamatan kekal.
Demikian pula, Kristus menyerahkan Bunda-Nya menjadi Bunda segenap umat beriman, agar kita dapat memohon dukungan doanya agar dapat sampai kepada keselamatan. Tujuan akhir ini juga harus dihadapi dengan pengharapan akan Allah, sehingga pencobaan dan penderitaan tidak menjadikan kita perputus asa. Dalam perjalanan kita menuju Sorga, kita juga harus mempunyai semangat untuk membawa orang-orang di sekitar kita untuk memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Dan ini harus kita lakukan sampai akhir hidup kita, sampai tugas kita selesai dan sampai kita menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan Bapa. Dengan menjalankan pesan Kristus ini, maka kita dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat.
Semoga Trihari Suci membawa kita pada permenungan yang lebih mendalam akan misteri Paskah Kristus.
Catatan: Artikel ini dipakai untuk pendalaman Kitab Suci di Paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk, tanggal 20 April 2011.

CATATAN KAKI:
  1. Fulton J. Sheen, Seven Words of Jesus and Mary: Lessons on Cana and Calvary (Missouri: Triumph Books, 2001), p.32 []
  2. St. Thomas Aquinas, Summa Theology, q. II-II, 83, a.1-2 []
  3. Pope John Paul II, Dilecti Amici, 13 []