Showing posts with label alkitab. Show all posts
Showing posts with label alkitab. Show all posts

February 10, 2011

HANYA ALKITAB-KAH SUMBER IMAN KITA?

Romo Pidyarto OCarm

-Tradisi dan Alkitab -
Sering ditanyakan oleh orang-orang kristen fundamentalis: "Mengapa Gereja Katolik percaya kepada kenaikkan Maria ke surga, kepada Maria yang mengandung tanpa noda?", dan sebagainya. Kesukaran yang mereka ajukan ialah: "Bukanlah semuanya itu tidak tertulis dalam Alkitab?" Jadi, banyak hal yang menurut mereka tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab tidak dapat dibenarkan atau bahkan bertentangan dengan Alkitab. Bagaiman jawaban Gereja Katolik?

Hanya Alkitabkah sumber iman kita?

Kadang-kadang kaum fundamentalis mengutip dua ayat berikut ini sebagai "bukti" untuk menunjukkan kekeliruan Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa selain Alkitab ada juga tradisi yang dihormati sebagai sumber imannya:

a. Yoh 5 :39 yang berbunyi : "Kamu menyelidiki Kitab Suci ."
b. Kis 17:11 yang berbunyi: "Mereka itu orang-orang Yahudi di Berea menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."

Bagaimana jawaban kita?
Pertama, Yoh5:39 dikutip lepas dari konteksnya. Di situ Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang mau menyelidiki Kitab Suci untuk mendapatkan kehidupan, tetapi nyatanya mereka tidak mampu percaya kepada Yesus, yang adalah "Jalan, Kebenaran dan Kehidupan." Jadi ayat itu tidak bermaksud mengatakan bahwa segala ajaran kristen harus diselidiki kebenarannya dalam Alkitab. Sekali lagi, konteks Yoh 5:39 harus diperhatikan.

Kedua, Sepintas lalu ayat Kis 17:11 nampaknya segera membenarkan paham bahwa satu-satunya pedoman iman kita adalah Kitab Suci, sebab di situ dikatakan bahwa firman (atau kebenaran agama kristen) yang diterima oleh orang-orang Berea diteliti kebenarannya dengan menyelidiki Kitab Suci. Namun, benarkah bahwa ayat itu bermaksud mengatakan bahwa setiap dan semua pengajaran iman kristen harus dapat dibuktikan dari Kitab Suci? Seandainya memang demikian, itu berarti bahwa agama Yesus Kristus tidak mempunyai kelebihan apapun dibandingkan agama Israel lama. Mengapa kita dapat berkesimpulan demikian? Sebab kalau Perjanjian Baru sendiri berbicara tentang tulisan suci atau kitab suci, maka yang dimaksud di situ adalah kitab Perjanjian Lama (sebab tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri waktu itu praktis belum ada). Jadi kalau orang mengatakan bahwa Kis 17:11 merupakan bukti bahwa semua kebenaran kristen harus dapat dibuktikan dalam Kitab Suci (yang - perhatikan sekali lagi - sama dengan Perjanjian Lama saja), maka itu berarti bahwa semua ajaran Kristen harus dapat dikukuhkan oleh Perjanjian Lama. Jadi, Perjanjian Baru sendiri tidak perlu atau hanya penjabaran belaka dari Perjanjian Lama, tidak lebih dari itu. Jelas hal ini tidak dapat kita terima. Perjanjian Baru jelas mengandung ajaran-ajaran yang tidak termuat dalam Perjanjian Lama. Bukankah Perjanjian Baru juga mengkoreksi dan melengkapi Perjanjian Lama? (bdk Mat 6:21 dst). Dengan keberatan sangat serius ini maka Kis 17:11 tidak dapat kita pakai sebagai bukti bahwa sumber iman kita hanyalah Alkitab. Dari Kis 17:11 kita hanya dapat mengetahui bahwa kebenaran-kebenaran agama kristen yang diterima oleh orang-orang Yahudi di Berea terbukti sesuai dengan Perjanjian Lama, dan bukan bahwa semua kebenaran agama kristen harus dapat dibuktikan dalam Perjanjian Lama.

Ayat-ayat yang mengandung gagasan tradisi

Untuk mendukung ajaran Katolik megenai pentingnya Tradisi, biasanya di kemukakan ayat-ayat berikut ini:

a.. Kis 2:42 dimana dikatakan bahwa jemaah Kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman gereja tidak terbatas pada buku saja, tatapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.

b.. 1 Kor 15:3 dimana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan).

c.. 2 Tes 2:15 dimana Paulus menasehati umatnya:
"Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis."
Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut tradisi.

d.. Yoh 21:25 yang berbunyi: "masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau semua itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus di tulis itu." Ayat ini menunjukan bahwa tujuan penulisan injilnya bukanlah untuk mendaftar semua ajaran Kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal- hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab- kitab Perjanjian Baru lainnya.

Tradisi dan Alkitab

Salah satu hal yang menbedakan Gereja Katolik dari Gereja Protestan adalah paham mengenai wahyu Allah dissimpan dan diteruskan kepada umat manusia disegala tempat dan jaman. Menurut Gereja Katolik: melalui Tradisi dan Alkitab! Apakah Tradisi itu? Bagaimana hubungannya dengan Alkitab? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kita bahas ajaran Gereja Katolik mengenai terjadinya Alkitab.

Pertama-tama, ada Allah yang mewahyukan Diri-Nya melalui para nabi, utusan-Nya. Para nabi itulah yang mewartakan Sabda-sabda Allah. Tetapi Allah bersabda juga melalui karya-karya- Nya yang agung dan melalui peristiwa-peristiwa hidup. Jadi dengan kata dan perbuatan Allah mewahyukan Diri-Nya, artinya Ia memperkenalkan siapakah Diri-Nya dan apakah rencana-Nya untuk keselamatan manusia. Dengan wahyu illahi ini Allah menyapa kita sebagai sahabat-Nya (Konstitusi Dei Verbum paragrap 2), mengadakan kontak batin dengan kita dan ingin bersatu dengan kita. Wahyu Allah inilah yang diterima oleh sekelompok umat manusia yang kita sebut gereja (baik dalam bentuk permulannya, yakni bangsa Israel, maupun dalam bentuk yang sudah tetap, yakni Gereja Yesus Kristus). Wahyu Allah itu bergema dan dihayati oleh Gereja dalam ibarat, ajaran dan seluruh kehidupan mereka. Inilah yang disebut Tradisi. Tradisi adalah Sabda Allah sejauh diterima dan dihayati Gereja dalam hidupnya, ajarannya dan ibaratnya. Atau dapat dikatakan juga bahwa Tradisi adalah iman Gereja terhadap Wahyu Allah/Sabda Allah.

Lama kelamaan, ketika para rasul Yesus mulai wafat satu persatu, timbul kebutuhan untuk menuliskan ajaran-ajaran yang mereka wariskan secara lisan itu, agar Gereja mempunyai pegangan. Untuk tujuan ini Roh Allah mengilihami orang-orang tertentu dalam Gereja untuk menuliskan apa yang dihayati dalam Tradisi itu dalam Alkitab. Jadi, dalam arti tertentu, Alkitab itu adalah bagian dari Tradisi atau bentuk tertulis dari Tradisi. Tetapi berkat ilham Roh Kudus, Alkitab mempunyai nilai istimewa sebab Allah sungguh-sungguh berkenan bersabda melalui kata-kata manusia dalam Alkitab.

Dari uraian diatas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada dibawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja disegala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab.

Untuk sedikit mempermudah pemahaman kita tetang proses penulisan Alkitab dan kaitannya dengan Tradisi, baiklah kita ambil contoh kongkrit ini. Bagaimana garis besar terjadinya ayat-ayat Perjanjian Baru yang mewartakan bahwa Yesus Kristus adalah penyelamat dunia ? Pertama-tama Allah mewahyukan bahwa Yesus Kristus adalah juru selamat umat manusia; lalu Gereja menerima wahyu tersebut dalam iman dan menghayatinya dalam ibadat-ibadatnya, dalam ajaran-ajarannya dan dalam seluruh kehidupannya. Inilah Tradisi. Akhirnya, berkat ilham Roh Kudus iman itu dirumuskan secara tertulis dalam ayat-ayat Alkitab. Sebagai konsekuensinya, ayat-ayat semacam itu akan dapat dipahami sepenuhnya bila ditafsirkan dalam terang Tradisi.

Dengan uraian singkat diatas kita dapat memahami dengan lebih mudah apa yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II mengenai hubungan Tradisi dan Alkitab berikut ini:

"Jadi Tradisi Suci dan kitab Suci erat hubungannya satu sama lain dan saling berkomunikasi. Sebab keduanya, yang berasal dari sumber illahi yang sama, bagaimanapun bergabung menjadi satu dan mengarah ke tujuan yang sama. Karena kitab Suci adalah penuturan Allah sejauh dituangkan kedalam tulisan dengan ilham Roh Illahi; sedangkan Tradisi Suci, meneruskan secara utuh Sabda Allah, yang dipercayakan Kristus kepada para Rasul dan para pengganti mereka, agar dipelihara dengan setia, dijelaskan dan disebarluaskan didalam pewartaan mereka sampai diterangi Roh Kebenaran. Maka Gereja menimba kepastiannya mengenai segala sesuatu yang diwahyukan tidak hanya dari Kitab Suci. Oleh karena itu kedua-duanya harus diterima dan dijunjung tinggi dengan perasaan saleh dan hormat yang sama."

Tradisi (yang lisan itu) ada sebelum Alkitab. Kemudian Tradisi lisan itu dituangkan dalam bentuk tertulis oleh penulis-penulis suci yang adalah anggota Gereja. Kemudian Gereja (melalui pimpinan suci yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri) meneguhkan mana yang adalah bagian Alkitab dan mana yang bukan. Jadi, sejauh mengenai penulisan Alkitab sendiri, Gereja ada sebelum Alkitab. Dalam arti inilah Alkitab kita sebut juga buku Gereja. Namun ini bukan berarti bahwa Gereja mengatasi atau lebih tinggi daripada Alkitab. TIDAK! Gereja tetap harus mendengarkan dan menaati Sabda Allah dalam Alkitab. Akan tetapi, seperti sudah diterangkan didepan, Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar kita bahwa kitab-kitab tertentu adalah benar-benar Sabda Allah. Dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada ditangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni peringgati Petrus. Nah, Gereja yang sama itulah yang megajar kita juga bahwa Tradisi itu harus dihormati dengan "perasaan saleh dan hormat yang sama."

Auto-kritik

Akhir-akhir ini banyak disebarluaskan di Indonesia terjemahan buku atau artikel yang menyerang Gereja Katolik. Banyak kelompok fundamentalis yang tidak segan-segan menuduh Gereja Katolik sebagai Gereja Iblis, ilmu tenung, dan sebagainya. Mereka begitu yakin bahwa orang-orang Katolik pasti masuk neraka sebab Gereja Katolik itu begitu sesat.

Setelah kita melihat bagaimana terjadinya Alkitab dalam sejarah, dan bagaimana perasaan Gereja dalam penentuan kanon Alkitab, maka mengkritik Gereja Katolik sebagai Gereja yang begitu rapuh dan mudah sesat berarti mengkritik diri sendiri (auto-kritik) . Mengapa? Sebab Alkitab yang mereka pakai sebagai senjata untuk menyerang Gereja Katolik adalah Alkitab yang hampir seluruhnya sama dengan Alkitab yang dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik, yakni Gereja yang mempunyai struktur pimpinan yang sama dari dulu hingga sekarang. Bagaimanapun juga kaum fundamentalis yang merupakan sekte-sekte Kristen itu sudah mengambil-bagian dalam iman dasar Gereja Katolik, yakni bahwa minimum 39 kitab Perjanjian Lama dan ke-27 kitab Perjanjian Baru itu adalah Sabda Allah. Jadi kalau kaum fundamentalis itu percaya bahwa Gereja Katolik itu Gereja yang begitu rapuh, yang sesat dan sebagainya, maka bagaimana mungkin mereka menerima juga Alkitab yang diwariskan oleh Gereja yang begitu rapuh semacam itu? Tidakkah Alkitab yang diwariskan oleh Gereja semacam itu tidak bisa dipercaya juga? Pohon yang tidak baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. (Tetapi harap pepatah ini diartikan dengan tepat! Bukan berarti Alkitab adalah Sabda Gereja). Tidak bisa disangkal bahwa kanon Alkitab kaum fundamentalis sebelum ditetapkan oleh Gereja Reformasi sudah lebih dahulu ditetapkan sebagai Sabda Allah oleh Gereja Katolik.

Perbedaan antara Tradisi dan tradisi-tradisi:

Tradisi (dengan huruf T besar) harus dibedakan dari tradisi (dengan huruf t kecil) atau dari tradisi-tradisi. Kita percaya bahwa Tradisi itu berasal dari para rasul dan merupakan wahyu Tuhan. Sedangkan tradisi-tradisi berarti kebiasaan-kebiasaan Gereja yang manusiawi, dan karenanya tidaklah hakiki, artinya bisa diganti dengan kebiasaan lain yang sesuai dengan tuntutan jaman dan kebudayaan. Penggunaan organ dalam ibadat, penggunaan lonceng dan sebagainya adalah tradisi Gereja yang manusiawi, jadi boleh dihapuskan dan diganti dengan hal lain. Tetapi penggunaan roti dan anggur sebagai bahan untuk Misa, misalnya, adalah bagian dari Tradisi yang tidak bisa diubah.


oleh Romo Pidyarto OCarm
ditulis oleh Br. Yoanes FC (di Milis KAS)


December 20, 2010

Sejarah Alkitab di Indonesia

Terjemahan Bagian Alkitab berbahasa Melayu Pertama: Ruyl, Hasel, Heurnius (1651)
          Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu pertaa kali dikerjakan oleh seorang awam bernama Albert Cornelisc Ruyl. Ia menerjemahkan Injil Matius dan Markus. Terbitan ini merupakan terbitan dwibahasa (diglot): pada satu sisi dicetak teks berbahasa Melayu dan di sisi lainnya teks paralel dalam bahasa Belanda. Kemudian Jan van Hasel, seorang pegawai Kompeni (VOC) menerjemahkan Injil Lukas dan Yohanes. Sedangkan Kisah Para Rasul diterjemahkan oleh Justus Heurnius, seorang pendeta di Batavia (sekarang Jakarta).
          Keempat Injil dan Kisah Para Rasul kemudian diterbitkan dengan judul “Empat Injil dan Kisah Para Rasul-Rasul” pada tahun 1651 dalam bentuk dwibahasa Belanda dan Melayu. Selain menerjemahkan kitab-kitab tersebut, Jan van Hasel dan Justus Heurnius juga menerjemahkan kitab Mazmur.

Terjemahan Pertama Seluruh Perjanjian Baru: Brouwerious (1668)
          Damiel Brouwerious adalah seorang pendeta yang bertugas di Indonesia. Pada mulanya ia menerjemahkan kitab Kejadian. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke Perjanjian Baru, yang selesai diterjemahkan dan dicetak pada tahun 1668. Namun terjemahan ini memiliki banyak struktur kata dan istilah asing (Portugis).

Terjemahan Alkitab Pertama: Leijdecker (1733)
          Melchior Leijdecker menerjemahkan Alkitab dengan meneliti naskah-naskah Alkitab dalam bahasa aslinya. Ia dengan tekun mencari kata-kata dalam bahasa Melayu yang paling tepat untuk mengalihbahasakan naskah Alkitab. Terjemahan Alkitab ini tidak selesai dilakukan (sekitar 90%; sampai dengan Efesus 6:6), karena pada tanggal 16 Maret 1701, Leijdecker meninggal dunia. Terjemahan ini kemudian dilanjutkan oleh Pendeta Pieter van der Vorm (Efesus 6:7 – selesai).
          Karena terdapat berbagai masalah, terjemahan ini baru dicetak pada tahun 1733 (Alkitab lengkap), setelah edisi Perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1731. Selain edisi berhuruf Latin, turut juga dicetak edisi berbahasa Arab karena pada masa itu bahasa Melayu lazim ditulis dengan aksara Arab.
          Oleh karena Alkitab terjemahan Leijdecker memakai bahasa melayu tinggi dan banyak memakai kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan Persia, maka timbullah usaha-usaha untuk merevisinya dengan memakai bahasa Melayu rendah seperti yang lazim dipakai. Pendeta William Robinson misalnya, berusaha merevisi kitab Matius dan Yihanes. Kemudian usaha perevisian secara menyeluruh dilakukan oleh Pendeta Robert Hutchings dan McGinnis.

Alkitab Terjemahan Klinkert (1879)
          Hillebrandus Cornelius Klinkert adalah seorang misionaris gereja Mennonit. Bersama dua orang temannya yang pandai berbahasa Melayu, dia berusaha menerjemahkan Perjanjian Baru ke tingkat bahasa yang lebih mudah dipahami. Hasil terjemahan ini ternyata sangat mengena untuk kelompok pembaca tertentu karena memakai bahasa Melayu rendah, khususnya dialek yang lazim dipakai di daerah Semarang.
          Pada tahun 1879, Klinkert juga menyelesaikan penerjemahan Alkitab secara lengkap dengan dukungan dari Lembaga Alkitab Belanda (NBG).

Alkitab Terjemahan Shellabear (1912)
          Terjemahannya dilakukan oleh William Shellabear, seorang misionaris Metodis. Alkitab hasil terjemahannya biasa disebut Alkitab Shellabear. Keunikan Alkitab ini adalah pemakaian kata Isa Almasih untuk yesus. Dalam pemikiran Shellabear, Isa Almasih dianggap lebih mampu menjembatani isi berita dengan kelompok pembacanya.

Perjanjian Baru bahasa Melayu Baba (1907)
          Kelompok orang-orang hasil pernikahan campuran antara etnik China dengan penduduk setempat biasa disebut kelompok “baba dan nyonya”. Bahasa yang mereka gunakan juga campuran antara bahasa China dan bahasa Indonesia dan lazim disebut Melayu Baba. Menyadari kebutuhan penutur bahasa ini, McMahone (nama lengkapnya tidak diketahui), seorang misionaris wanita Presbiterian, menerjemahkan kitab Matius ke dalam bahasa Melayu Baba.
          Tahun 1907, Shellabear dengan dibantu oleh teman-temannya juga menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu Baba dengan dukungan dari Lembaga Alkitab Inggris.

Perjanjian Baru Terjemahan Bode (1938)
          Dengan bantuan tiga Lembaga Alkitab, yaitu Lembaga Alkitab Belanda (NBG), Inggris (BFBS) dan Skotlandia (NBSS), W.A. Bode seorang guru teologia, menerjemahkan Perjanjian Baru dengan memeriksa terjemahan Leijdecker, Klinkert dan Shellabear. Hasil terjemahan ini disebut Perjanjian Baru Terjemahan Bode, yang terbit tahun 1938.

Terjemahan Alkitab dalam Masa Peralihan (1958)
          Setelah Indonesia merdeka, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerbitkan Alkitab Terjemahan Lama, dengan menggabungkan Terjemahan Perjanjian Lama Klinkert dan Perjanjian Baru Bode. Alkitab ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1958. Alkitab terjemahan ini menjadi Alkitab yang umumnya dipakai di gereja-gereja sampai terbitnya Alkitab Terjemahan Baru.

Alkitab Terjemahan Baru (1974)
          Mengingat kebutuhan akan Alkitab dalam bahasa Indonesia, LAI bekerja sama dengan Gereja Katolik Roma, membentuk tim penerjemahan yang terdiri atas para ahli biblika dan bahasa. Tim ini diketuai oleh Dr. J.L. Abineno, yang berhasil menyelesaikan penerjemahan Perjanjian Baru yang diterbitkan pada tahun 1971. Sementara Perjanjian Lama, sekaligus Alkitab lengkap, diterbitkan tahun 1974. Inilah Alkitab bahasa Indonesia yang pertama dipakai oleh semua umat Kristiani di Nusantara, yang dikenal dengan nama Alkitab Terjemahan baru.
          Sesuai dengan perkembangan bahasa dan dunia biblika, sekarang ini Alkitab Terjemahan Baru sedang direvisi. Hasil perevisiannya disebut Alkitab Terjemahan Baru Revisi (TB2). Teks Perjanjian Baru telah selesai direvisi dan terbit pada tahun 1997, sementara teks Perjanjian Lama sedang disiapkan oleh suatu tim ahli biblika dan bahasa.

Alkitab Terjemahan Dinamis Fungsional (1985)
          LAI juga melakukan penerjemahan Alkitab dengan metode dinamis fungsional. Berbeda dengan jenis terjemahan sebelumnya yang lebih mementingkan terjemahan harafiah, terjemahan ini lebih mementingkan arti dan fungsi yang dimaksudkan dalam teks sumber dan menyampaikannya dalam bahasa sasaran yang umum dan wajar sesuai dengan pemakaian masa kini. Terjemahan dinamis fungsional seperti ini dapat kita temukan pada Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK), Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia Sederhana (BISD), Kabar Baik untuk Anak-Anak (KBUA), Kabar Baik Ceria (KBC), dan Pembaca Baru Alkitab (PBA).

          Selain itu, LAI juga menerjemahkan dan menerbitkan Alkitab dalam bahasa-bahasa daerah sebagai wujud misi LAI yaitu mengadakan Alkitab dalam bahasa yang mudah dimengerti.

disadur dari: MENYINGKAP ALKITAB ©LAI 2005”

December 11, 2010

Perjanjian Baru

Bagaimana dengan Perjanjian Baru umat Kristen, dalam bahasa apakah naskahnya ditulis? Untuk memahami hal itu ada baiknya kita melihat latar belakang bahasa yang dipergunakan di Palestina pada abad pertama dimana Perjanjian Baru ditulis.
Kita sudah mengetahui bahwa sejak abad-5sM (zaman Ezra, Neh.8:9), bahasa Ibrani yang terdiri hanya huruf-huruf konsonan sudah tidak dimengerti oleh umumnya orang Yahudi sehingga Ezra menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab, karena sebagai bahasa percakapan umum telah digantikan oleh bahasa Aram.
Alexander (abad-4sM) raja Yunani yang menguasai kawasan dari Yunani, Asyur, Media, Babilonia, sampai Mesir, menyebabkan pengaruh helenisasi menguasai Palestina pula, lebih-lebih dibawah wangsa Ptolomeus dan Seleucus pada abad-3-1sM helenisasi khususnya bahasa makin tertanam di Palestina sehingga kitab Tenakh Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi Septuaginta (LXX) di Aleksandria (abad-3-2sM). Masa itu sebagian umat Yahudi sudah tidak lagi bisa berbicara bahasa Ibrani kecuali mereka yang menjadi ahli kitab yang bertugas di Bait Allah dalam salin-menyalin kitab suci.
Sekalipun helenisasi sejenak tertunda pada masa pemberontakan Makabe (170-160sM), helenisasi bahasa berjalan lancar, bahkan Josephus, sejarahwan Yahudi yang pro Romawi juga menulis buku-bukunya dalam bahasa Yunani. Helenisasi telah berjalan 4 abad ketika abad-1M diisi dengan kehadiran Yesus dan ditulisnya Perjanjian Baru. Kala itu bahasa Yunani dan Aram menjadi bahasa percakapan umum di Palestina (bilingual).
“Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi. ... bahasa Aram menggantikan bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan di Palestina, dan Helenisme mendesak Yudaisme.“ (Merril C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, h.23-24, 29).
“Bahasa Yunani, secara meluas dimengerti di Palestina, terutama di ‘Galilea wilayah bangsa-bangsa lain’ seperti yang disebut dalam Mat.4:15. ... agar berhasil dalam perdagangan, penguasaan bilingual adalah keharusan. Bilingualisme memiliki akar historis pada abad-2sM ketika wangsa Seleukus melakukan kebijakan helenisasi penduduk Palestina. Sekalipun reaksi Makabe menunda sejenak proses helenisasi, tanpa bisa dicegah budaya dan bahasa Yunani meresapi Palestina.” (Bruce Metzger, The Language of the New Testament, dalam The Interpreter’s Bible, Vol.7, h.43).
Bahasa Aram sebagai bahasa ibu diiringi bahasa Yunani koine digunakan oleh Yesus dan para Rasul dalam pemberitaan Injilnya, dan bukan Tenakh Ibrani melainkan Septuaginta Yunanilah yang digunakan oleh umat pada saat awal kekristenan. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip dari Septuaginta, sisanya dari berbagai naskah Ibrani.
“Septuaginta ... Pada masa Kristus, kitab tersebut telah tersebar luas di antara para Perserakan di wilayah Timur Tengah dan menjadi Kitab Suci Jemaat Kristen yang mula-mula.” (Tenny, h.32).
“Septuaginta adalah Alkitab yang digunakan oleh Yesus dan para rasul. Sebagian besar kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru dikutip langsung dari Septuaginta, sekalipun itu berbeda dengan teks Masoret.” (Norman Geisler, A General Introduction to the Bible, h.254).
“Yesus berbicara juga bahasa Yunani ... tetapi bahasa ibu mereka saat itu adalah bahasa Aram.” (ME Duyverman, Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, h.16).
Di Sinagoga di Nazaret, Yesus membaca kitab Yesaya dari Septuaginta (Luk.4:18-19):
“Bagian terbesar kutipan ini berasal dari teks Yes.61:1-2 dari LXX. Merawat orang-orang yang remuk hati, adalah bagian dari sumber peninggalan naskah Lukas yang terbaik, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas berasal dari teks LXX dari Yes.58:6.” (The Interpreters’ Bible, Vol.8,90-91).
Memang bahasa Aram secara umum dan di Perjanjian Baru kala itu disebut sebagai bahasa Ibrani, itu maksudnya adalah bahasa Aram.Bruce Metzger, profesor Perjanjian Baru dari Princeton, mengatakan:
“Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. ... Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa “Ibrani.” ... Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus hidup adalah “Aram.” ... Secara umum sesuai angkatannya Palestina, Yesus tidak diragukan berkata-kata dalam bahasa Aram seperti bahasa ibunya, tetapi menjadi orang Galilea ia juga menggunakan bahasa Yunani.” (The Language of the New Testament, dalam The Interpreter’s Bible, Vol.7, h.43,52).
Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, dibawah bayang-bayang Septuaginta yang menerjemahkan Yahweh/Adonai menjadi ‘Kurios’ dan El/Elohim/Eloah dengan ‘Theos.’ Bahasa Yunani yang populer saat itu yang digunakan dalam penulisan Septuaginta dan Perjanjian Baru adalah bahasa Yunani Koine (umum) dan bukan bahasa Yunani tinggi (Attic) yang biasa digunakan dalam kesusasteraan Yunani klasik.
“Pada abad pertama, Yunani Koine, telah menjadi lingua franca di seluruh kerajaan Romawi.” (The Language of the New Testament, dalamThe Interpreter’s Bible, Vol.7, h.44).
Kitab-kitab Perjanjian Baru menggunakan bahasa Yunani Koine yang bervariasi sesuai dengan kemampuan bahasa penulisnya, misalnya kitab Lukas, Kisah dan Yakobus bahasa Yunaninya bagus tetapi bahasa Yunani kitab Wahyu kurang baik tatabahasanya.
Ada tradisi yang ditulis oleh Eusibius dalam bukunya ‘Sejarah Gereja’ bahwa Papias menulis bahwa “Matius menulis logia dalam bahasa Ibrani (Aramaik).” Beberapa teori diusahakan untuk menunjukkan bahwa ‘logia’ itu adalah ‘Injil,’ namun karena tidak ada bukti peninggalannya, umumnya ‘logia’ itu dimengerti sebagai ‘ucapan-ucapan Yesus’ (oracles). Bila diperhatikan bahwa Injil Matius banyak menggunakan sumber Injil Markus, maka kemungkinan besar Matius menulis Injilnya dalam bahasa Yunani sebagai saksi mata dengan menggabungkannya dengan ‘logia’ Aramnya dan Injil Markus yang berbahasa Yunani.
“Umumnya para ahli Perjanjian Baru percaya bahwa bukti-bukti internal menunjukkan bahwa ke-empat Injil ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi menggunakan bahan-bahan Aramaik, baik yang lisan maupun mungkin tulisan.” (The Language of the New Testament, dalam The Interpreter’s Bible, Vol.7, h.50).
Lalu bagaimana dengan adanya naskah-naskah dalam bahasa Aram yang ditemukan?
“Umumnya para ahli meragukan kalau pernah ada ‘Injil Aramaik’ yang asli. Manuskrip yang biasa dikemukakan hanya sekedar copy dari naskah Siria yang terkemudian, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani.” (Alfred M. Perry, The Growth of the Gospels, dalam The Interpreter’s Bible, Vol.7, h.68).
Ternyata menurut penyelidikan naskah Perjanjian Baru, naskah-naskah itu diketahui adalah fragmen Injil Siria (Peshita) dalam bahasa Aram. Kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani pada sekitar tengah kedua abad-1M, dan pada abad-2M diterjemahkan ke dalam bahasa Aram Siria (Old Syraic) yang dikenal sebagai Alkitab Peshitta, dan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin Kuno (Old Latin).
Amin.
Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org