Showing posts with label reformasi. Show all posts
Showing posts with label reformasi. Show all posts

September 9, 2008

Ulrich Zwingli

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Huldrych (atau Ulrich) Zwingli (1 Januari, 148411 Oktober 1531) adalah pemimpin Reformasi Swiss, dan pendiri Gereja Reformasi Swiss. Zwingli adalah seorang doctor biblicus (pakar Alkitab) yang independen dari Luther. Ia tiba pada kesimpulan-kesimpulan yang sama setelah meneliti Kitab Suci dari sudut pandangan seorang sarjana humanis.

Zwingli dilahirkan di Wildhaus, St. Gall, Swiss dari sebuah keluarga kelas menengah terkemuka. Ia adalah anak ke-3 dari delapan anak lelaki. Ayahnya, Ulrich, adalah hakim kepala di kotanya, dan pamannya, Bartolomeus seorang pendeta.

Reformasi Zwingli didukung oleh pemerintah dan penduduk Zürich, dan menyebabkan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan masyarakat, dan urusan-urusan negara di Zürich. Gerakan ini, khususnya, dikenal karena tanpa mengenal kasihan menganiaya kaum Anabaptis dan para pengikut Kristus lainnya yang mengambil sikap tidak melawan. Reformasi menyebar dari Zürich ke lima kanton Swiss lainnya, sementara yang lima lainnya berpegang kuat pada pandangan iman Gereja Katolik.

Zwingli terbunuh di Kappel am Albis, dalam sebuah pertempuran melawan kanton-kanton Katolik.


Sumbangan Zwingli bagi Reformasi

Latar belakang

Sementara orang dapat menemukan banyak sekali informasi mengenai teologi Martin Luther, Yohanes Calvin, dan lainnya, relatif sedikit sekali yang dapat ditemukan tentang Ulrich Zwingli. Karena masa hidup Zwingli berbarengan dengan masa hidup Luther, dan karena Zwingli menolak tahbisan imam Katolik Roma hanya beberapa tahun setelah Luther, tampaknya Zwingli telah dibayang-bayangi oleh sumbangan Luther dan Calvin terhadap Reformasi.

Alasan lain yang membuat karier Zwingli kurang kelihatan mungkin adalah perbedaan-perbedaan teologinya sendiri dibandingkan dengan Luther. Sebagian orang percaya bahwa karena perbedaan-perbedaan ini para penulis sejarah dan aktivis agama, yang lebih bersimpati dengan pandangan-pandangan doktriner Luther, mungkin ikut menekan pandangan-pandangan doktriner Zwinglin. Mereka berpendapat, "pihak yang menang dalam sejarah itulah yang menulis sejarah", karena itu "sisi lain dari ceritanya" terlupakan atau disingkirkan.

Teologi: sakramen dan perjanjian (Zwingli versus Luther)

Menurut E. Brooks Holifield, "Ketika Luther menyebut sakramen sebagai meterai perjanjian, yang ia maksudkan ialah bahwa baptisan secara kelihatan mengesahkan dan menjamin janji-janji Allah, sebagaimana sebuah meterai kerajaan mengesahkan dokumen pemerintah yang tertulis di dalamnya. Hanya secara sekunder baptisan itu dipahami sebagai janji ketaatan oleh manusia. Namun bagi Zwingli, sakramen terutama adalah 'suatu tanda perjanjian yang menunjukkan bahwa semua yang menerimanya rela memperbaiki hidupnya untuk mengikut Kristus." (Holifield, "The Covenant Sealed: The Development of Puritan Sacramental Theology in Old and New Testaments" (1570-1720, New Haven, Conn.: Yale University press, 1974, 6).

Zwingli juga percaya bahwa sakramen Kristen itu serupa dengan janji atau sumpah seorang militer untuk membuktikan kerelaan dirinya untuk mendengarkan dan menaati firman Allah.

Lihat Memorialisme.

Musik di Gereja

Zwingli adalah orang Protestan pertama yang membuang penggunaan alat musik dalam kebaktian. Malahan Zwingli begitu kuatir akan penyalahgunaan musik sehingga, demikian pandangannya, sebagian dari kebaktian yang dipimpinnya sama sekali tidak menggunakan musik. Ia merasa bahwa alat musik itu suatu pelanggaran, sambil mengutip bapak-bapak gereja kuno untuk mendukung pernyataannya. Zwingli berusaha kembali ke praktek yang diikuti oleh kebanyakan gereja Ortodoks Timur bahkan hingga di masa kini. Namun lebih dari mereka, ia menganggap musik dapat mengalihkan perhatian orang dari pemberitaan firman Allah. Banyak pengikut gerakan Reformasi ini setuju dengan pelarangan alat-alat musik di Gereja, namun tidak ada seorangpun yang setuju bahwa musik harus dihapuskan sama sekali. Orgel, khususnya, dikecam oleh para pemimpin Gereja Reformasi, karena dianggap sebagai contoh yang paling jelas dari apa yang mereka maskudkan dengan kerusakan yang dibiarkan masuk oleh Gereja Katolik Roma ke dalam ibadah. Zwingli menganjurkan agar alat musik itu dijual saja serta hasilnya diberikan kepada kaum miskin. Kebencian terhadap alat-alat musik oleh kelompok Reformasi ini, yang pertama-tama dianut oleh Zwingli, kadang-kadang menjadi batu ganjalan yang menghalangi kerjasama dengan kaum Lutheran yang kaya dengan musik.

Nyanyian di gereja yang tidak disertai musik hingga kini menjadi ciri khas dari sejumlah cabang dari Gereja Presbyterian, dan beberapa Gereja Reformasi. Kaum Baptis Primitif juga melakukan praktik ini. Mereka percaya bahwa penggunaan alat musik berkaitan dengan ibadah Perjanjian Lama di Bait Suci Yerusalem, sebuah bentuk ibadah yang ditetapkan oleh Allah, tetapi kini telah dihapuskan setelah Allah membangkitkan Kristus dari kematian, dan mendirikan Gereja dengan mengutus Roh Kudus-Nya.

Kehidupan Zwingli

Masa muda

Zwingli mendapatkan pendidikan awalnya di Weesen di bawah bimbingan pamannya Bartolomeus, yang pindah dari Wildhaus. Sebelum masuk ke Universitas Wina Zwingli menyelesaikan studinya di Bern. Ia mendaftarkan diri di Wina pada 1498, dan setelah dikeluarkan selama setahun, Zwingli melanjutkan studinya di sana hingga 1502. Saat itu ia pindah ke Universitas Basel, untuk mengambil gelar sarjananya 1504, dan kemudian Sarjana Teologinya pada 1506.

Menjadi imam

Tepat sebelum ia mendapatkan gelar teologinya, Zwingli menjadi pastur di Glarus, dan tinggal di sana selama sepuluh tahun. Pada waktu itulah Zwingli menyempurnakan kemampuan bahasa Yunaninya, dan mengambil bahasa Ibrani. Selain mempelajari bahasa-bahasa Alkitab, ia juga membaca karya Erasmus, yang memberikannya perspektif humanis.

Penggunaan tentara bayaran Swiss adalah sesuatu yang lazim terjadi di Eropa pada abad ke-16 dan hal ini sangat ditentang Zwingli, kecuali bila hal itu diperintahkan oleh paus. Kendati demikian, Zwingli menerima pekerjaan pendeta tentara pada beberapa kesempatan, ketika para pemuda dari jemaatnya pergi ke Italia sebagai tentara bayaran. Meskipun demikian, perlawanan Zwingli terhadap tugas militer di luar negeri dan reputasinya yang kian berkembang sebagai seorang pengkhobah yang baik dan sarjana yang cerdas membuat ia terpilih pada 1518 menjadi imam di Gereja Grossmünster di Zürich. Saat itu ia telah menjadi pastur di Einsiedeln selama dua tahun.

Kesediaan Zwingli untuk meninggalkan Glarus semakin meningkat dengan berkembangnya semangat pro-Prancis di sana, apalagi pada waktu itu Zwingli sangat memihak kepada Paus. Tulisan-tulisan Zwingli sewaktu tinggal di Glarus menjadikan kardinal Swiss Mattias Schinner sahabatnya, dan memberikannya tunjangan tahunan dari Roma.

Terasing dari Gereja

Baru pada saat ia menjadi pastur di Gereja Grossmünster, Zwingli mulai secara terbuka mempertanyakan dogma Gereja Katolik Roma. Ia sendiri mengaku bahwa ia sudah mempertanyakannya sebelumnya, namun tidak ada fakta-fakta yang mendukungnya. Zwingli selalu mengaku tidak tahu-menahu tentang apa yang ditulis Luther, dan bahwa ia ikut serta dalam memulai Reformasi di Swiss terpisah dari Luther. Ketika seorang pengkhotbah tentang indulgensia muncul di Zürich pada 1519, Zwingli melawannya. Ini terjadi dua tahun setelah Luther menentang praktik indulgensia ini dengan 95 dalilnya.

Gereja Grossmünster di Zürich

Gereja Grossmünster di Zürich

Baru pada tahun 1520 Zwingli menolak tunjangannya dari paus. Kemudian ia menyerang sistem tentara bayaran, dan meyakinkan Zürich, satu-satunya dari semua kanton di Swiss, untuk menolak aliansi dengan Prancis pada 5 Mei 1521. Pada 11 Januari 1522, semua pengiriman tentara ke luar negeri dan tunjangan asing dilarang di Zürich.

Dengan keberhasilan Zwingli sebagai seorang politikus, yang didorong oleh upaya-upaya sosialnya pada masa wabah tahun 1520, gengsi dan kedudukannya makin meningkat. Sejak 1522 ia mulai melakukan pembaruan Gereja dan iman Kristen. Tulisan reformasinya yang pertama, "Vom Erkiesen und Fryheit der Spysen", diterbitkan di tengah-tengah pertikaian mengenai hukum gereja tentang puasa. Zwingli menegaskan bahwa perintah berpuasa hanyalah aturan-aturan manusia, tidak sejalan dengan Kitab Suci, dan kini Zwingli yakin bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber bagi iman. Ia menyatakan hal ini dalam "Archeteles."

Pernikahan

Kapan hubungan intim mereka melampaui batas tidak diketahui, tetapi pada musim semi 1522 Zwingli dan Anna Reinhard hidup bersama dalam apa yang disebut "pernikahan klerus." Hubungan pergundikan seperti itu cukup lazim saat itu, karena ada anggapan bahwa tanpa dukungan karunia ilahi yang luar biasa tidak mungkin seorang imam hidup dalam kesucian mutlak. Pada kenyataannya memang sedikit sekali yang melakukannya. Zwingli pada akhirnya menikahi Anna pada 2 April 1524. Antara 1526 dan 1530 pasangan ini mempunyai empat orang anak.

Reformasi di Zürich

Setelah tiga tahun berkhotbah, Zwingli mempersiapkan 67 dalil ("Schlussreden"), yang dimaksudkan untuk khalayak umum dibandingkan dengan dalil Luther dan mencakup semua pokok tentang "Injil", sebagaimana yang disebutnya. Sesuai dengan kebijakan agama di Swiss pada waktu itu, harus diadakan perdebatan publik sebelum langkah-langkah radikal diambil menyangkut masalah-masalah agama. Diadakanlah sebuah pertemuan di Zürich 29 Januari 1523, yang dipimpin oleh walikota. Semua pastor diundang. Perdebatan yang sungguh-sungguh tidak terjadi, hanya dialog antara Zwingli dan vikaris jenderal dari Konstanz. Dewan Kota memutuskan bahwa doktrin-doktrin yang telah diajarkan Zwingli itu harus diberlakukan di kanton Zürich.

Para pengikut Zwingli yang radikal memanfaatkan situasinya. Mereka membuang semua patung dan gambar dari gereja-gereja, mengubah bahasa liturgis dari kebaktian-kebaktian, dan membuang segala tambahan yang ada pada misa, dan berusaha sejauh mungkin untuk mengembalikannya kepada yang paling dasar. Pada akhir 1524 biara bagi laki-laki maupun perempuan dihapuskan, dan musik dibungkam di gereja. Namun masyarakat tidak berubah, karena Zwingli enggan mengubah sesuatu yang sudah begitu lama terpaut dengan kehidupan orang banyak, sebelulm mereka sepenuhnya siap untuk menerima gantinya.

Setidak-tidaknya dinaytakan bahwa pada hari Kamis pada Minggu Suci, 13 April 1525, di Gereja Grossmunster, Perjamuan Kudus untuk pertama kalinya akan diselenggarakan mengikuti liturgi yang telah disusun Zwingli. Pada hari yang bersejarah itu, laki-laki dan perempuan duduk berseberangan dengan sebuah meja memanjang di antara keduanya dan dilayani dengan roti di piring-piring kayu serta anggur dari cawan kayu. Kontras dengan kebiasaan sebelumnya sangat mengejutkan banyak oarng, namun cara yang baru itu diterima. Dengan pemutusan yang radikal dengan masa lalu ini Reformasi di Zürich pun selesai. Dalam tahun yang sama, Zwingli disapa dengan gelar kehormatan Antistes.

Tahap politik

Doktrin-doktrin baru diperkenalkan dan menghadapi perlawanan. Lawan-lawan pertama yang dihadapi para Reformator ini datang dari pihak mereka sendiri. Para petani tidak dapat menemukan alasan di dalam Alkitab, prinsip iman mereka satu-satunya, mengeapa mereka harus membayar kepada para tuan mereka pajak, persepuluhan dan uang sewa. Mereka menolaknya. Masyarakat menjadi gelisah di mana-mana, dan baru menjadi tenang kembali setelah perundingan yang lama dan dengan konsesi dari Pemerintah.

Kaum Anabaptis tidak begitu mudah ditenangkan. Dari penafsiran Alkitab mereka, yang telah diberikan Zwingli ke tangan mereka, mereka menentang baptisan anak dan menolak bergabung dengan gereja negara Zwingli. Karena itu Zwingli mengganjar mereka tanpa kasihan dengan penjara, siksaan, pembuangan dan bahkan hukuman mati. Salah seorang pemimpin mereka Felix Manz ditenggelamkan. Perang melawan kaum Anabaptis jauh lebih serius bagi Zwingli daripada melawan Roma.

Di St. Gallen walikota Vadian (Joachim von Watt) berhasil memenuhi keinginan Zwingli -- di Schaffhausen, Dr. Sebastian Hofmeister melakukan hal yang sama; di Basel Johann Oecolampadius. Zwingli sendiri datang ke Bern, pada Januari 1528. Doktrin-doktrin yang baru kemudian diperkenalkan dengan cepat ke Bern, seperti yang terjadi di Zürich, dan banyak tempat dan kecamatan yang sebelumnya ragu-ragu kini mengikuti teladan ini. Zwingli juga dapat menunjuk kepada keberhasilan cemerlang pada 1528 dan 1529. Ia meyakinkan bahwa pembaruannya akan menang melalui "Hak-hak Sipil Kristen", yang disetujui antara Zürich dan kota-kota Konstanz (1527), Bern dan St. Gall (1528), Biel, Mulhausen, dan Schaffhausen (1529).

[sunting] Reaksi

Patung Zwingli di Zürich
Patung Zwingli di Zürich

Reformasi menyapu di seluruh Swiss. Namun kanton-kanton Uri, Schwyz, Unterwalden, Lucerne, Zug, dan Fribourg tetap setia kepada Iman yang lama, dan memberikan perlawanan gigih terhadap Zwingli. Ini tidak berarti bahwa kanton-kanton Katolik sepenuhnya puas dengan kondisi-kondisi yang berlaku di Gereja Katolik. Mereka berusaha menghapuskan penyelewengan, menerbitkan Konkordat Iman pada 1525 yang menuntut pembaruan-pembaruan penting. Namun semua ini tidak digubris. Dari 21 Mei hingga 8 Juni 1526, mereka mengadakan perdebatan terbuka di Baden, dan di situ mereka mengundang Dr. Johann Eck dari Ingolstadt. Zwingli tidak muncul.

Di Baden, sebuah tempat terkenal, hanya 18 km di barat laut Zürich, terjadi pertikaian antara wakil-wakil Gereja Lama dengan kelompok Zwingli dari 21 Mei hingga 8 Juni 1526. Meskipun tidak hadir secara pribadi, Zwingli mempunyai hubungan yang akrab dengan mereka yang berasal dari Zürich yang berbicara atas nama dirinya, dan memberikan kepada mereka instruksi harian. Sudah tentu masing-masing pihak mengklaim dirinya menang.

Untuk memaksa kanton-kanton Katolik menerima doktrin-doktrin yang baru, Zwingli bahkan menganjurkan perang saudara, menyusun rencana peperangan, dan berhasil membujuk Zürich untuk menyatakan perang dan maju ke wilayah-wilayah Katolik. Distrik-distrik Katolik pada saat itu telah memperkuat posisi mereka dengan membangun aliansi pertahanan dengan Austria (1529), "Persatuan Kristen". Namun pada titik ini mereka tidak memperoleh bantuan. Bern membuktikan dirinya lebih moderat daripada Zürich, dan perjanjian perdamaian pun disusun, namun isinya sangat tidak menguntungkan pihak Katolik.

Diktator Zürich

Di Zürich, Zwingli adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam masalah gereja maupun politik. Dia merangkap "walikota, sekretaris, dan dewan kota" sekaligus. Rasa percaya dirinya yang terus bertumbuh menghalangi suatu persetujuan dengan Luther menyangkut doktrin tentang Perjamuan Kudus ketika direncanakan perdebatan antara kedua pemimpin Protestan ini di Marburg pada Oktober 1529.

Sebagai negarawan, Zwingli terjun ke politik sekular dengan rencana yang ambisius, "Dalam tiga tahun," tulisnya, "Italia, Spanyol dan Jerman akan mengambil pandangan kita." Dengan melarang kompromi apapun dengan kanton-kanton Katolik Zwingli tampaknya telah mendorong mereka untuk mengangkat senjata. Pada 9 Oktober 1531, mereka menyatakan perang melawan Zürich, dan maju ke perbatasan Kappel. Hari itu ternyata adalah hari yang sangat menentukan bagi Zwingli.

Perang saudara dan kematian Zwingli di medan tempur

Lihat Perang Kappel, Reformasi di Swiss.

Konfederasi Swiss bukanlah sebuah negara yang tersentralisasi, tetapi banyak negara atau kanton yang hanya dipersatukan dalam beberapa masalah saja, terutama keinginan mereka untuk merdeka dari Jerman. Ketika kanton-kanton Katolik mengambil langkah untuk membangun aliansi dengan Karl V, Zwingli menganjurkan agar agar kanton-kanton Protestan mulai mengambil inisiatif militer sebelum terlambat. Zwingli mempersiapkan perang, tetapi keyakinannya tidak diikuti oleh semua kanton Protestan lainnya. Sebaliknya, kaum Protestan lainnya mengambil langkah-langkah ekonomi terhadap kanton-kanton Katolik. Pada Oktober 1531, lima kanton Katolik bergabung dalam sebuah serangan dadakan atas Zürich. Kaum Protestan hampir tidak bisa mempertahankan diri karena tidak ada peringatan lebih awal, tetapi ketika pasukan mereka akhirnya berkumpul, Zwingli maju dengan pasukan-pasukan yang pertama, dan terbunuh di medan tempur. Di Kappel, pasukan Zürich dikalahkan dan sebulan kemudian, Perdamaian Kappel ditandatangani.

Pengganti Zwingli

Pengganti Zwingli, Heinrich Bullinger, dipilih pada 9 Desember 1531, untuk pendeta Gereja Grossmünster di Zürich, sebuah posisi yang dijabatnya hingga akhir hayatnya (1575). Ia tidak menggantikan Zwingli sebagai pemimpin politik kanton itu. Pendeta Grossmünster tetap memiliki pengaruh politik, tetapi masa teokrasi untuk Zürich sudah berlalu.

Tokoh-tokoh Reformasi Swiss lainnya

Karya tulis

  • Rhymed fables of the ox, c. 1510
  • De Gestis inter Gallos et Helvetios relatio, 1512
  • The Labyrinth, c. 1516
  • Vom Erkiesen und Fryheit der Spysen
  • Archeteles
  • Vermahnung an die zu Schwyz, dass sie sich vor fremden Herren hutend, 1522
  • De vere et falsa Religione, 1525
  • Opera D.H. Zwingli (Title in full: ''Opera D.H. Zwingli vigilantissimi Tigurinae ecclesiae Antistitis, partim quidem ab ipso Latine conscripta, partim vero e vernaculo sermone in Latinum translata: omnia novissime recognita, et multis adiectis, quae hactenus visa non sunt, published by Zwingli's son-in-law Rudolf Gwalter)
  • Zwingli's collected works, (edited by Melchior Schuler and Johannes Schulthess, 8 vols., Zürich, 1828-1842)
  • New critical edition of Zwingli's Collected Works (In progress, University of Zürich)
  • Zwingli and Today's Christian

June 15, 2008

Gereja Lutheran

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

(Dialihkan dari Lutheranisme)

Gereja-gereja Lutheran adalah gereja-gereja yang berasaskan ajaran Martin Luther, tokoh Reformasi gereja pada abad ke-16 yang mengkritik ajaran dan praktek Gereja pada waktu itu.

Daftar isi

//

Ajaran

Segel Luther
Segel Luther

Ajaran khas Martin Luther yang seringkali juga diakui sebagai ciri khas ajaran Reformasi disimpulkan dalam tiga sola, yaitu sola fide, sola gratia, dan sola scriptura, yang berarti "hanya iman", "hanya anugerah", dan "hanya Kitab Suci". Maksudnya, Luther menyatakan bahwa keselamatan manusia hanya diperoleh karena imannya kepada karya anugerah Allah yang dikerjakannya melalui Yesus Kristus, sebagaimana yang disaksikan oleh Kitab Suci. (Efesus 2:8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.).


Dengan demikian, Luther menolak ajaran Gereja saat itu yang menjanjikan keselamatan melalui penjualan surat-surat pengampunan dosa (indulgensia). Luther menyatakan bahwa manusia diselamatkan bukan karena amal atau perbuatannya yang baik, melainkan semata-mata oleh karena anugerah Allah. Hal ini didasarkan pada perkataan Paulus dalam Surat Roma: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8)

Sakramen

Gereja Lutheran mengakui dua sakramen: Pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Katekismus Lutheran mengajarkan bahwa pembaptisan adalah karya Allah, berlandaskan perkataan dan janji Kristus; sehingga dilayankan baik bagi bayi maupun orang dewasa. Gereja Lutheran percaya bahwa roti dan anggur dalam perjamuan kudus adalah sungguh-sungguh tubuh dan darah Kristus yang dianugerahkan kepada umat Kristiani untuk dimakan dan diminum, yang diperintahkan oleh Kristus sendiri.

Banyak Kaum Lutheran yang melestarikan pendekatan liturgis terhadap Ekaristi. Komuni Kudus (atau Perjamuan Tuhan) dipandang sebagai tindakan sentral dari pemujaan Kristiani. Gereja Lutheran percaya bahwa roti dan anggur dalam perjamuan kudus hadir bersama dengan tubuh dan darah Yesus, bukannya menggantikan atau melambangkan tubuh dan darah-Nya belaka. Mereka mengaku dalam Apologi dari Pengakuan Augsburg:

   
Gereja Lutheran
"...kami tidak menghapuskan Misa namun secara rohaniah mempertahankan dan membelanya. Di kalangan kami Misa dirayakan setiap Hari Tuhan dan pada hari-hari raya lainnya, bilamana Sakramen itu disediakan bagi orang-orang yang hendak mengambil bagian darinya, setelah mereka diperiksa dan diampuni. Kami juga mempertahankan bentuk-bentuk liturgis tradisional, seperti urut-urutan dalam pembacaan Alkitab, doa-doa, busana liturgi, dan hal-hal serupa lainnya." (Apologi dari Pengakuan Augsburg, Artikel XXIV.1)
   
Gereja Lutheran

Ikonoklasme

Beberapa tokoh reformasi Protestan, khususnya Andreas Karlstadt, Huldrych Zwingli dan Yohanes Calvin mendukung penyingkiran citra-citra religius dengan mendasarkan pendapat mereka pada larangan penyembahan berhala dan pembuatan citra pahatan dari Allah dalam Dekalog (Sepuluh Perintah Allah). Hasilnya, patung-patung dan gambar-gambar dirusak dalam serangan spontan individual maupun huru-hara ikonoklastis yang tidak sah. Meskipun demikian, dalam banyak kasus citra-citra religius disingkirkan secara baik-baik oleh otoritas sipil di kota-kota dan daerah-daerah teritorial Eropa yang baru saja direformasi.

Tidak seperti Gereja-Gereja Protestan lainnya, Gereja-Gereja Lutheran pada umumnya tidak begitu anti terhadap penggunaan citra-citra religius. Ini disebabkan oleh pernyataan Martin Luther sendiri bahwa orang-orang Kristen harus bebas untuk menggunakan citra-citra selama mereka tidak menyembahnya sebagai ganti Allah.

Gereja-gereja Lutheran di Indonesia

Selain HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), gereja-gereja Lutheran di Indonesia umumnya menyebar di Sumatera Utara, yakni wilayah pelayanan misi RMG (Rheinische Missions-Gesselschaft) dulu. Gereja-gereja tersebut adalah GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola), GKPPD (Gereja Kristen Protestan Pakpak-Dairi), HKI (Huria Kristen Indonesia), GPKB (Gereja Punguan Kristen Batak), GKLI (Gereja Kristen Luther Indonesia), GPP (Gereja Protestan Persekutuan).

Gereja-gereja di Nias dan Kepulauan Mentawai juga tergolong gereja-gereja Lutheran, yaitu BNKP (Banua Niha Keriso Protestan), AMIN (Angowulua Masehi Indonesia Nias), ONKP (Ora Niha Keriso Protestan), BKPN (Banua Keriso Protestan Nias), dan GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai).

Selain menjadi anggota Federasi Lutheran se-Dunia (LWF), banyak dari gereja-gereja di atas yang juga menjadi anggota PGI

Pranala luar


Protestan

Protestan adalah sebuah mazhab dalam agama Kristen. Mazhab atau denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalil nya.

Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik.

Pada kenyataannya, gerakan Reformasi (Pembaruan) yang dilakukan Martin Luther bukanlah yang pertama kali terjadi di kalangan Gereja Katolik, sebab sebelumnya sudah ada gerakan-gerakan serupa seperti yang terjadi di Prancis yang dipimpin oleh Peter Waldo (dan kini para pengikutnya tergabung dalam Gereja Waldensis) pada pertengahan abad ke-12, dan di Bohemia (kini termasuk Ceko) di bawah pimpinan Yohanes Hus (1369-1415). Gereja Waldensis banyak terdapat di Italia dan negara-negara yang mempunyai banyak imigran dari Italia, seperti Uruguay. Sementara para pengikut Yohanes Hus di Bohemia kemudian bergabung dengan Gereja Calvinis.

Pada 2005, sekitar 5,9%–14.276.459 dari 241.973.879 penduduk Indonesia, beragama Protestan1. Karena pengaruh para misionaris dari Belanda, kebanyakan gereja Protestan di Indonesia sangat diwarnai oleh ajaran Calvin, dan sebagian lagi mempunyai corak Lutheran.

Aras Gereja Protestan

Gereja Protestan di Indonesia terdiri dari beberapa aras, yakni:

Catatan

1 Sumber-sumber: International Religious Freedom Report 2004 (US State Department) [1], Adherents.com [2], CIA Factbook [3] dan census.gov[4].

Lihat pula

May 14, 2008

Perawan Maria Menurut Martin Luther


Dari http://ourunity.blogspot.com


Perawan Maria Menurut Martin Luther
Maria adalah tokoh penting di dalam Kitab Suci yang dalam sejarah menjadi figur yang kontroversial. Ia dipuji, dicerca, dihormati, dibenci, dicintai dan ditelaah disepanjang segala zaman. Begitu banyak puisi, lagu, karya seni Gereja yang didedikasikan kepadanya, tetapi lebih dari pada itu Maria adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana, seorang ibu yang melahirkan Allah. Gereja menempatkan Maria pada posisi yang khusus karena peranannya di dalam sejarah keselamatan. Walaupun ia dipilih Allah seba gai bundaNya, penghormatan kepada Maria selalu berakar pada ketaatannya.
Dua ribu tahun yang lalu, dengan taat Maria mengatakan "Ya!" kepada rencana Allah. Ketaatan ini telah mereformasi dunia yang dijajah oleh dosa, keserakahan, serta nafsu kesombongan. Ketaatan ini bukanlah suatu panggilan yang ringan bahkan hampir mustahil dilakukan tanpa rahmat serta kerahiman ilahi. Maria telah memberikan kemanusiaannya kepada Allah untuk menebus dunia dari kutuk dosa; dengan demikian Sabda menjadi "Anak Manusia". Berikut ini petikan dari Martin Luther tentang Bunda Maria, petikan-petikan ini diambil dari tulisannya setelah memulai gerakan Reformasi Gereja.
“Apakah persamaan dari para dayang istana, bangsawan, raja, ratu, pangeran dan Kaisar dunia bila dibandingkan dengan Perawan Maria, Putri Daud. Ia adalah Bunda dari Allah kita, Pribadi yang amat agung di bumi ini. Setelah Kristus, dialah permata terindah dalam kekristenan. Sang Ratu yang ditinggikan di atas segala kebijaksanaan, kesucian dan ke agungan ini tak akan pernah cukup dipuji”.
“Sungguh pantas apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber seru: "Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia" tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.
“Melalu perkataannya sendiri dalam Magnificat (Lukas 1:46-55), dan melalui pengala mannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah... Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam sebuah kalimat: "Bunda Allah". Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di Pohon, rumput di padang, bintang di langit atau pasir di lautan, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria. Perlu direnungkan dalam hati apakah artinya menjadi seorang Bunda Allah”.
Dalam rumusan katekismus yang biasa disebut sebagai Formula atau Buku Concord, Martin Luther juga menulis sedikit mengenai Bunda Maria sebagai berikut : “OIeh sebab itu kami percaya, mengajar dan mengaku bahwa Maria secara sejati adalah Bunda Allah...Maria Iayak menerima penghormatan yang paling tinggi”.
Sumber : Synaxis GOI Edisi November tahun 2007

May 12, 2008

Vulgata

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Alkitab Vulgata adalah sebuah versi awal abad ke-5 dari Alkitab dalam Bahasa Latin yang sebahagiannya adalah hasil revisi dan sebahagiannya lagi adalah hasil terjemahan Hieronimus atas perintah Paus Damasus I pada tahun 382. Alkitab ini disebut vulgata dari frase versio vulgata, yakni "terjemahan untuk umum", dan ditulis dalam gaya sastra Latin yang umum pada abad ke-4 yang berbeda dengan Bahasa Latin Cicero yang lebih elegan. Vulgata merupakan perbaikan dari beberapa terjemahan yang digunakan saat itu, dan menjadi versi Alkitab definitif dan resmi dari Gereja Katolik Roma. Sebagaimana halnya Alkitab Peshitta (Alkitab Syria) yang lebih tua, Perjanjian Lama Vulgata diterjemahkan langsung dari Alkitab Masoretika (Alkitab Ibrani), bukan dari Alkitab Septuaginta (Alkitab Yunani). Pada tahun 405 Masehi, Hieronimus menyelesaikan terjemahan kitab-kitab protokanonika Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani, dan kitab-kitab deuterokanonika Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram. Kitab-kitab lain dan kitab Mazmur diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Dalam Alkitab Vulgata edisi Clementina terdapat 76 kitab, 46 kitab Perjanjian Lama, 46 kitab Perjanjian Baru, dan 3 kitab Apokripa.
Daftar isi
Hubungan dengan Alkitab Latin kuno
Pasa masa Hieronimus, kata Vulgata digunakan untuk menyebut Septuaginta (Alkitab berbahasa Yunani). Alkitab berbahasa Latin yang digunakan sebelum Vulgata biasanya disebut Vetus Latina, atau "Alkitab Latin kuno", atau kadang-kadang "Vulgata Latin kuno".
Naskah tersebut tidak diterjemahkan oleh satu orang atau lembaga saja, bahkan tidak disunting secara seragam. Masing-masing kitab berbeda-beda kualitas terjemahan dan gaya bahasanya. Kitab-kitab Perjanjian Lamanya diterjemahkan dari Septuaginta, bukan dari Bahasa Ibrani.
Versi Latin kuno masih digunakan di lingkungan tertentu bahkan sesudah Vulgata Hieronimus menjadi Alkitab standar yang berterima di seluruh Gereja Barat. Beberapa komunitas Gallia terus mempergunakan versi Latin kuno selama berabad-abad.
Terjemahan Hieronimus
Santo Hieronimus dalam studinya, fresko karya Domenico Ghirlandaio, 1480 (Ognissanti, Florence)
http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Santo Hieronimus dalam studinya, fresko karya Domenico Ghirlandaio, 1480 (Ognissanti, Florence)
Hieronimus tidak terjun dalam pekerjaan ini dengan maksud untuk menciptakan sebuah versi baru dari keseluruhan Alkitab, tetapi hakikat perubahan dari program kerjanya dapat dilacak dalam korespondensinya yang panjang lebar itu (walaupun Hieronimus sendiri bukanlah seorang saksi mata yang dapat diandalkan). Dia telah ditugaskan oleh Paus Damasus pada tahun 382 untuk merevisi naskah Latin Kuno dari keempat Injil hasil terjemahan dari naskah-naskah Yunani terbaik; dan pada saat mangkatnya Paus Damasus pada tahun 384 dia telah sepenuhnya menunaikan tugas itu, bersama dengan sebuah revisi umum dari Septuaginta Yunani atas naskah Latin kuno untuk kitab Mazmur. Seberapa banyak keseluruhan Perjanjian Baru direvisi Hieronimus sulit untuk diketahui saat ini; dan jika demikian maka hanya sedikit dari karyanya yang masih ada dalam naskah Vulgata. Pada tahun 385 Hieronimus diusir dari Roma, lalu pergi menetap di Betlehem. Di sana dia menghasilkan sebuah versi baru dari kitab Mazmur, yang diterjemahkannya dari naskah Yunani Hexapla. Dia juga tampaknya telah menerjemahkan kitab-kitab Septuaginta lainnya ke dalam Bahasa latin; namun lagi-lagi, semuanya itu tidak ditemukan dalam naskah Vulgata. Tetapi sejak tahun 390 sampai 405 Hieronimus beralih menerjemahkan langsung dari Bahasa Ibrani - dan menerjemahkan ulang seluruh 39 kitab dalam Alkitab Ibrani; termasuk suatu versi lanjut, yakni yang ketiga, dari kitab Mazmur yang masih dapat ditemukan dalam sejumlah kecil manuskrip Vulgata.
Dalam prolognya, Hieronimus menganggap kitab-kitab yang termasuk dalam Septuaginta namun tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani, sebagai non-kanonik; kitab-kitab itu disebutnya apokripa.[1] Meskipun demikian, Septuaginta adalah, dan tetap merupakan, Alkitab Perjanjian Lama standar bagi umat Kristiani berbahasa Yunani; dan serta-merta hal yang sama terjadi dengan padanannya Latinnya yakni Alkitab Perjanjian Lama Vulgata. Dari naskah-naskah Perjanjian Lama di luar kanon Ibrani, Hieronimus membuat terjemahan baru untuk kitab Tobit dan Yudit dari Bahasa Aram; namun dari Bahasa Yunani, hanya tambahan-tambahan pada kitab Ester dari Septuaginta, dan tambahan-tambahan pada kitab Daniel dari Theodotion. Kitab-kitab lainnya; Barukh, Kebijaksanaan, Yesus Bin Sirakh, kitab-kitab Makabe, 3 dan 4 Ezra dan Doa Manasye masih dipertahankan terjemahan Latin Kunonya dalam manuskrip-manuskrip Vulgata. Gaya bahasanya masih dapat dibedakan dari gaya bahasa Hieronimus. Dalam naskah Vulgata, terjemahan Hieronimus dari Bahasa Yunani untuk tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel, digabungkan dengan terjemahan-terjemahan kitab Ester dan Daniel dari Bahasa Ibrani.
Mazmur
Mazmur Roma yang disebut Versio Romana atau Psalterium Romanum dari tahun 384 adalah revisi pertama Hieronimus atas kitab Mazmur. Mazmur Roma berasal dari kitab Mazmur Versio Vetus Latina, dan dikoreksi agar lebih sejalan dengan Septuaginta. Versio Romana ini kemudian tergantikan oleh terjemahan Hieronimus yang berikutnya kecuali di Inggris Anglo-Saxon, di mana versi tadi terus digunakan sampai era penaklukan bangsa Normandia (1066). Mazmur Roma masih digunakan saat ini di Basilika Santo Petrus, Vatikan, dan Katedral Santo Markus di Venesia. Versi ini mirip dengan versi yang digunakan dalam Ritus Ambrosiana.[2]
Meskipun beberapa manuskrip Vulgata awal memuat terjemahan kitab Mazmur oleh Hieronimus dari Bahasa Ibrani, versi Mazmur yang termuat dalam semua manuskrip dan edisi di kemudian hari adalah Versio Gallicana hasil terjemahan dari naskah Yunani Hexapla.
Mazmur baru
Pada abad ke-20 terbit dua Mazmur baru untuk digunakan bersama Vulgata yakni Versio Piana tahun 1945 dan Versio Nova Vulgata tahun 1969. Versi 1969 digunakan dalam Alkitab edisi Nova Vulgata.
Manuskrip-manuskrip dan edisi-edisi awal
Sejumlah manuskrip awal yang memuat Vulgata awal masih ada sampai sekarang. Codex Amiatinus, berpenanggalan abad ke-8 adalah manuskrip Alkitab Vulgata lengkap tertua yang masih ada. Codex Fuldensis, berpenanggalan sekitar tahun 545, berisikan sebahagian besar Perjanjian baru dalam versi Vulgata; tetapi ke-4 injil Vulgata dalam manuskrip tersebut diselaraskan menjadi sebuah narasi bersambung yang berasal dari Diatessaron.
Selama Abad Pertengahan, Vulgata tidak luput dari kesalahan penyalinan yang dilakukan para penyalin naskah dalam biara-biara di seluruh Eropa. Sejak permulaannya, bacaan-bacaan dari Vetus Latina diperkenalkan. Catatan-catatan pinggir secara keliru dimasukkan menjadi bagian dari naskah. Tak satu pun salinan yang sama dengan salinan lain karena si penyalin menambah, mengurangi, keliru mengeja, atau keliru memperbaiki ayat-ayat dalam Alkitab Latin.
Sekitar tahun 550, Cassiodorus (Flavius Magnus Aurelius Cassiodorus Senator, negarawan dan penulis Romawi) berupaya memulihkan kemurnian Vulgata menjadi seperti semula. Alcuin (Flaccus Albinus Alcuinus atau Ealhwine, pujangga Inggris) dari York menyelia upaya perbaikan Vulgata, yang dipersembahkannya kepada Charlemagne pada tahun 801. Upaya-upaya serupa dilakukan pula oleh Santo Theodulfus Uskup Orleans (787?- 821), Lanfranc Uskup Agung Canterbury (1070-1089), Stephen Harding Abbas (kepala biara) dari Cîteaux (1109-1134), dan Diakon Nicolaus Maniacoria (sekitar permulaan abad ke-13). Universitas Paris menghimpun daftar "correctoria" - bacaan-bacaan resmi yang perbedaan-perbedaan sudah diketahui. Sayang sekali, banyak dari bacaan-bacaan yang direkomendasikan tersebut kini diketahui merupakan interpolasi.
Meskipun hadirnya percetakan sangat memperkecil potensi kesalahn yang diperbuat manusia dan meningkatkan konsistensi dan keseragaman naskah, edisi-edisi cetak awal dari Vulgata hanya mereproduksi manuskrip-manuskrip yang tersedia bagi penerbit. Dari ratusan edisi awal, yang paling menonjol saat ini adalah edisi Mazarin yang diterbitkan oleh Johann Gutenberg pada tahun 1455, terkenal karena keindahan dan keantikannya. Pada tahun 1504 Vulgata pertama dengan variasi-variasi bacaan diterbitkan di Paris. Salah satu naskah dari naskah-naskah Complutensian Polyglot merupakan suatu edisi Vulgata yang disusun dari manuskrip-manuskrip kuno dan dikoreksi agar sesuai dengan naskah Yunaninya. Erasmus menerbitkan sebuah edisi yang dikoreksi agar lebih sesuai dengan Alkitab Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani pada tahun 1516. Edisi-edisi koreksi lainnya diterbitkan oleh Pagninus pada tahun 1518, kardinal Kayetanus, Steuchius pada tahun 1529, Clarius pda tahun 1542, dan lain-lain. Pada tahun 1528, Robertus Stephanus menerbitkan edisi kritis pertama yang menjadi dasar edisi-edisi Sistina dan Clementina di kemudian hari. Edisi kritis Yohanes Hentenius dari Louvain menyusul pada tahun [3]. Pada tahun 1550, Stephanus lari ke Jenewa tempat dia menerbitkan, pada tahun 1555, edisi kritis Vulgata terakhirnya, yang berupa Alkitab lengkap pertama yang terbagi-bagi dalam bab-bab dan ayat-ayat - dan yang menjadi naskah referensi Alkitab standar dalam Reformasi teologi pada akhir abad ke-16.
Edisi-edisi di kemudian hari
Judul "Vulgata" kini diberikan kepada tiga naskah yang berbeda, semuanya dipergunakan secara luas di internet. Pembaca dengan cepat dapat mengetahui naskah yang mana yang dibacanya dengan cara mencermati ejaan nama Hawa dalam 'Kejadian 3:20'.
  • Vulgata Clementina; Alkitab Latin resmi Gereja Katolik Roma sejak tahun 1592 sampai 1979. Meskipun edisi terakhir merupakan reproduksi dari Alkitab Vulgata Clementina terbitan tahun 1592, naskahnya telah mengalami perubahan ejaan dan tanda baca; serta memuat pembagian-pembagian ayat seperti Vulgata Jenewa tahun 1555. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Heva".
  • Edisi-edisi kritis moderen dari Vulgata (Stuttgart, Wordsworth, dan White). Edisi-edisi tersebut mencoba sedapat mungkin memperbaiki naskah agar kembali seperti naskah asli dari Heronimus, khususnya dalam hal mengeluarkan bacaan-bacaan yang telah terinterpolasi ke dalam Vulgata Clementina. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Hava".
  • Nova Vulgata; Alkitab Latin resmi Gereja Katolik Roma sejak tahun 1979. Merupakan Vulgata Clementina yang telah diperbaiki dan dimodifikasi. Dalam Kitab Kejadian 3:20, nama "Hawa" dieja "Eva".
Vulgata Clementina
Prolog Injil Yohanes, Alkitab Vulgata Clementina, edisi 1922
http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Prolog Injil Yohanes, Alkitab Vulgata Clementina, edisi 1922
Vulgata Clementina (Biblia Sacra Vulgatae Editionis Sixti Quinti Pontificis Maximi iussu recognita atque edita) merupakan edisi yang paling dikenal umat Katolik yang hidup pada masa sebelum adanya reformasi liturgis sesudah Konsili Vatikan II (salah satu konsekuensi dari reformasi tersebut adalah makin jarangnya Bahasa Latin dipergunakan dalam liturgi).
Sesudah Reformasi Protestan, tatkala Gereja Katolik berjuang menghadapi doktrin-doktrin Protestantisme, Vulgata diteguhkan kembali dalam Konsili Trente sebagai satu-satunya Alkitab berbahasa Latin yang diizinkan untuk digunakan.[4] Untuk memperkuat deklarasi itu, dewan Konsili menugaskan Sri Paus untuk membuat sebuah naskah standar dari Vulgata di luar dari edisi-edisi produksi masa renaissance dan manuskrip-manuskrip produksi Abad Pertengahan yang begitu banyak jumlahnya. Wujud nyata pertama dari naskah resmi ini baru muncul pada tahun 1590. Naskah ini disponsori oleh Paus Sixtus V (1585-1590) dan dikenal sebagai Vulgata Sistina. Naskah ini didasarkan atas edisi Robertus Stephanus yang dikoreksi agar sesuai dengan naskah Yunani, akan tetapi karena buru-buru dicetak maka nahkah ini mengalami banyak kesalahan cetak. Vulgata Sistina dengan segera digantikan oleh sebuah edisi baru setelah terpilihnya paus yang baru, Klemens VIII (1592-1605) yang segera memerintahkan agar dilakukan koreksi dan revisi. Versi baru itu lebih banyak didasarkan atas edisi Hentenius, dan dikenal sebagai Vulgata Sixto-Clementina, atau singkatnya Vulgata Clementina, meskipun nama 'Sixtus' yang tampak pada halaman judul. Klemens menerbitkan 3 cetakan edisi ini pada tahun 1592, 1593, dan 1598.
Vulgata Clementina berbeda dari manuskrip-manuskrip yang menjadi dasarnya karena di dalamnya berbagai kata pengantar dari St. Heronimus dikelompokkan menjadi satu di bagian permulaan, dan menempatkan Kitab 3 dan 4 Ezra serta Doa Manasye ke dalam sebuah lampiran.
Kitab Mazmur Vulgata Clementina, seperti halnya dalam hampir semua edisi di kemudian hari, adalah Gallicanum.
Vulgata Clementina 1592 menjadi Alkitab standar Gereja Katolik Ritus Roma sampai tahun 1979, tahun diperkenalkannya Nova Vulgata.
Cetakan-cetakan di kemudian hari
Setelah cetakan Vulgata 1598 dari Paus Klemens, Tahta Suci tidak lagi mengeluarkan cetakan resmi lain, tugas tersebut ditinggalkan bagi pencetak-pencetak lain. Meskipun percetakan-percetakan Vulgata Clementina lainnya dengan setia mereproduksi kata-kata dari edisi resmi, mereka sering bebas dalam hal ejaan, tanda baca, penggunaan huruf Kapital, dan batas paragraf. Pada tahun 1906, P. Michael Hetzenauer memproduksi suatu edisi yang kembali ke versi asli Vulgata Clementina dengan memperhatikan variasi-variasi tiga edisi yang diterbitkan Paus Klemens serta correctoria resmi yang dikeluarkan Vatikan.
Pada tahun 1986, Biblioteca de Autores Cristianos menerbitkan cetak ulang Vulgata Clementina (ISBN 84-7914-021-6), mengeluarkan Kitab-Kitab Apokripa, tetapi memuat berbagai dokumen magisterium dan Mazmur Latin Versio Piana selain Mazmur Latin Versio Gallicana.
Edisi-edisi kritis yang lebih baru
Sesudah penerbitan Vulgata Clementina, diterbitkan beberapa edisi kritis. Pada tahun 1734, Vallarsi menerbitkan sebuah edisi Vulgata yang sudah dikoreksi. Sebahagian besar dari edisi-edisi di kemudian hari terbatas pada Perjanjian Baru saja, teristimewa edisi Fleck[5] tahun 1840, Edisi Tischendorf tahun 1864, dan Edisi Oxford oleh Uskup J. Wordsworth dan H.J. White pada tahun 1889.
Pada tahun 1907, Paus Pius X menugaskan para rahib Biara Benediktin St. Hieronimus di Roma untuk menyusun sebuah edisi kritis dari Vulgata Hieronimus sebagai dasar bagi revisi atas edisi Clementina.[6][7] Hanya Perjanjian Lama yang dapat diselesaikan, namun edisi kritis tersebut menjadi pelengkap bagi edisi Wordsworth dan White. Edisi buah karya para rahib benediktin ini mendorong terciptanya Nova Vulgata. Edisi tersebut digunakan sebagai dasar bagi banyak bagian Perjanjian Lama Vulgata Stuttgart.[8]
Edisi Stuttgart
Vulgata edisi Stuttgart pertama kali diterbitkan pada tahun 1969 (edisi ke-4, tahun 1994) oleh Lembaga Alkitab Jerman (Deutsche Bibelgesellschaft), yang bertempat di Stuttgart. Edisi ini, yang secara alternatif dijuduli Biblia Sacra Vulgata atau Biblia Sacra iuxta vulgatam versionem (ISBN 3-438-05303-9), merupakan suatu "edisi manual" karena edisi ini meringkas banyak informasi dalam edisi-edisi kritis yang berbab-bab tebalnya menjadi satu bab yang padat. Edisi ini merusaha merekonstruksi naskah Vulgata awal yang lebih dekat dengan naskah yang dihasilkan Hieronimus 1.600 tahun yang lalu. Edisi ini didasarkan atas edisi-edisi kritis Vulgata yang telah terbit sebelumnya, edisi Benediktin dan Perjanjian Baru Latin karya Wordsworth dan White, yang menyediakan beragam bacaan dari berbagai manuskrip dan edisi-edisi cetak Vulgata serta perbandingan penggunaan kata yang berbeda dalam catatan-catatan kakinya. Vulgata Stuttgart mencoba, melalui perbandingan kritis manuskrip-manuskrip Vulgata historis yang penting, untuk menciptakan kembali sebuah naskah awal yang bersih dari kesalahan-kesalahan penyalinan naskah selama satu milenium. Salah satu sumber kritis penting bagi Vulgata Stuttgart adalah Codex Amiatinus, satu-gulungan utuh manuskrip abad ke-8 yang sangat dihargai, berisi keseluruhan Alkitab Latin yang dibuat di Inggris, dan dianggap sebagai bukti terbaik Abad Pertengahan dari naskah asli karya Hieronimus.
Bagi mereka yang mempelajari Vulgata, edisi Stuttgart cukup penting karena memuat semua prolog Hieronimus untuk Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kitab-kitab utama dan bagian-bagian Alkitab (Pentateukh, Injil-Injil, Nabi-Nabi Minor, dst.). Dalam hal ini Vulgata Stuttgart meneladani gaya edisi-edisi Vulgata Abad Pertengahan yang tidak pernah terbit tanpa prolog-prolog Hieronimus. Dalam ejaannya, Edisi Stuttgart juga mempertahankan ortografi Latin abad pertengahan melebihi Edisi Clementina, kadang-kadang menggunakan oe bukannya ae, dan berisi lebih banyak nomina berawalan huruf H yang tepat (misalnya, Helimelech bukannya Elimelech), akan tetapi ejaan tersebut tidak konsisten digunakan secara menyeluruh, seperti dalam manuskrip-manuskrip tersebut. Vulgata Stuttgart juga mengikuti manuskrip-manuskrip abad pertengahan dalam hal menggunakan cara penggal kalimat, bukannya sistem tanda baca moderen, untuk menunjukkan struktur tiap ayat. Karena hal-hal inilah maka mula-mula Vulgata Stuttgart terasa asing bagi para pembaca yang sudah terbiasa dengan Vulgata Clementina.
Edisi ini memuat dua versi Mazmur, yakni Versio Gallicana dan Versio juxta Hebraicum, yang dicetak bersebelahan halamannya agar mudah membandingkannya satu sama lain. Edisi ini juga memuat beberapa kitab Apokripa, selain bab 3 dan 4 dari kitab Ezra, dan kitab Doa Manasye, ada pula Mazmur 151, dan Surat kepada Jemaat di Laodikia.
Selain itu, kata-kata pengantarnya yang moderen merupakan sumber informasi yang berharga mengenai sejarah Vulgata.
Vulgata elektronik
Salah satu alasan mengapa edisi Stuttgart memiliki arti penting adalah kenyataan bahwa edisi tersebut merupakan edisi yang paling banyak dipergunakan di Internet. Versi Elektronik tersebut biasanya terpenggal-penggal, tidak terformat secara keseluruhan, tanpa catatan-catatan, kata pengantar dan alat-bantu (apparatus), tanpa Kitab Mazmur Gallia, Apokripa, dan Deuterokanonika, dan bahkan kerap hanya memuat tiga bab pertama Kitab Daniel (berakhir pada bagian di mana naskah deuterokanika Nyanyian Tiga Anak Suci berawal)
Nova Vulgata
Nova Vulgata (Bibliorum Sacrorum nova vulgata editio, ISBN 88-209-2163-4) adalah edisi Latin yang diterbitkan oleh Gereja Katolik Roma dan disetujui untuk dipergunakan dalam liturgi. Pada tahun 1965, menjelang penutupan Konsili Vatikan II, Paus Paulus VI membentuk sebuah komisi untuk merevisi Vulgata yang ada saat itu agar sesuai dengan studi linguistik dan tekstual moderen dengan tetap melestarikan atau memulihkan kembali kemurnian gaya Latin Kristianinya. Komisi tersebut menerbitkan karyanya dalam delapan bagian bersama catatan-catatan penjelasan masing-masing, yang mengundang kritikan dari para sarjana Katolik tiap kali masing-masing bagian diterbitkan. Mazmur Latin diterbitkan pada tahun 1969 dan keseluruhan Nova Vulgata pada tahun 1979.[9]
Naskah dasar dari kebanyakan bagian Nova Vulgata adalah edisi kritis karya para rahib Benediktin dari biara St. Hieronimus atas perintah Paus Pius X. Naskah dasar kitab Tobit dan kitab Yudit adalah manuskrip-manuskrip Vetus Latina, bukannya Vulgata. Semua naskah dasar tersebut direvisi agar sesuai dengan edisi-edisi kristis moderen dalam bahasa Yunani, Ibrani, dan Aram. Terdapat pula sejumlah perubahan pada bagian-bagian di mana para sarjana moderen merasa bahwa Hieronimus telah gagal dalam menyerap makna dari bahasa-bahasa aslinya.
Nova Vulgata tidak memuat kitab-kitab apokripa yang termuat dalam Edisi Clementina serta edisi-edisi lain, misalnya Kitab Doa Manasye serta bab 3 dan 4 dari Kitab Ezra.
Pada tahun 1979, setelah melalui persiapan beberapa dasawarsa lamanya, Nova Vulgata diterbitkan dan dinyatakan sebagai Alkitab versi Latin resmi dari Gereja Katolik dalam Konstitusi Apostolik Scripturarum Thesaurus[10] dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Nova Vulgata tidaklah disambut hangat oleh umat Katolik konservatif, yang umumnya memandangnya sebagai salah satu dari beberapa versi terjemahan baru dari Kitab Perjanjian Lama, ketimbang sebagai suatu revisi atas karya Hieronimus. Lagi pula, beberapa bacaan di dalamnya kurang akrab di telinga mereka yang sudah terbiasa dengan Vulgata Clementina.
Pada tahun 2001, Vatikan mengeluarkan instruksi Liturgiam Authenticam,[11] yang menetapkan Nova Vulgata sumber utama bagi semua terjemahan liturgi dari bahasa aslinya ke dalam bahasa setempat, "dengan maksud mempertahankan tradisi penafsiran yang sesuai dengan Liturgi Latin".
Novum Testamentum Latine
Pada tahun 1984 dan 1992, Kurt dan Barbara Aland menerbitkan Novum Testamentum Latine (ISBN 1-59856-175-8). Naskahnya merupakan cetak ulang dari Perjanjian Baru Nova Vulgata yang diberi apparatus kritis yang menyajikan variasi-variasi bacaan dari edisi-edisi sebelumnya. Edisi-edisi yang tersaji dalam apparatus adalah Alkitab Gutenberg, naskah Latin dari Complutensian Polyglot, edisi Wittenberg yang disukai Luther, edisi Robertus Stephanus, edisi Christophorus Plantinus, edisi Paus Sixtus V, edisi Paus Clemens VIII, edisi Wordsworth dan White, serta edisi Stuttgart.
Sumber-sumber terjemahan
Kitab-kitab Perjanjian Baru, Mazmur, sebagian besar kitab deuterokanonika, dan apokripa dalam Perjanjian Lama dari Vulgata merupakan hasil terjemahan dari naskah Yunani[8].
Untuk menerjemahkan ke-36 kitab dalam Alkitab Ibrani, Hieronimus relatif bebas dalam mengalihbahasakan naskahnya ke Bahasa Latin; namun dapat dipastikan bahwa manuskrip-manuskrip tertua yang masih ada sampai sekarang dari Naskah Masoretik - dihasilkan hampir 600 tahun sesudah Hieronimus - bagaimanapun juga mewarisi naskah Ibrani konsonantal (hanya berupa huruf-huruf konsonan) yang sangat dekat dengan naskah yang digunakan oleh Hieronimus. Konsekuensinya, ke-36 kitab Vulgata tersebut - meskipun tinggi kualitas sastranya - hanya sedikit yang dapat dibahas mengenai independensi naskahnya. Hieronimus menerjemahkan kitab Tobit dan kitab Yudit dengan susah payah, ia menggunakan jasa seorang penerjemah Yahudi untuk mengalihbahasakan naskah Bahasa Aram ke dalam Bahasa Ibrani secara lisan, barulah kemudian diterjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Naskah-naskah tersebut kecil nilai tekstualnya. Akan tetapi naskah-naskah Perjanjian Lama Vulgata yang diterjemahkan dari bahasa Yunani - baik oleh Hieronimus sendiri maupun versi-versi Latin-Kuno yang tetap dipertahankan - merupakan saksi-saksi awal dan penting sekunder bagi Septuaginta.
Paus Damasus menginstruksikan Hieronimus agar bersikap konservatif dalam merevisi Injil-Injil naskah Latin-Kuno, dan ketaatan Hieronimus dapat dilihat dari dipertahankannya beragam kosa kata Latin dalam Vulgata untuk istilah-istilah Yunani yang sama. Hasilnya, kata "imam besar" diterjemahkannya sebagai "princeps sacerdotum" dalam Injil Matius; sebagai "summus sacerdos" dalam Injil Markus; dan sebagai "pontifex" dalam Injil Yohanes Vulgata. Perbandingan naskah-naskah Injil terjemahan Hieronimus dengan naskah-naskah Injil Latin Kuno membuktikan bahwa revisi yang dilakukannya secara substansial berkaitan dengan penyuntingan karakteristik fraseologi yang meluas dalam tipe-naskah Barat, sejalan dengan naskah-naskah Aleksandria, atau mungkin naskah-naskah Byzantium awal. Karena metode-metode Hieronimus yang konservatif, dan karena jarangnya bukti-bukti manuskrip dari luar Mesir pada masa itu; maka bacaan-bacaan Vulgata tersebut lumayan memiliki daya tarik kritis. Yang masih tetap paling menarik - karena secara efektif tidak tersentuh oleh Hieronimus - adalah kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya dalam Vulgata; yang justru lebih memperlihatkan ekspansi-ekspansi "Barat" yang dimaksud, dan yang justru merupakan warisan dari naskah Latin Kuno yang paling awal. Yang paling berharga di atas semuanya, dari sudut pandang kritis sebuah naskah, adalah naskah kitab Wahyu dalam Vulgata, karena naskah-naskah kitab tersebut dalam Bahasa Yunani sangatlah sedikit dan sangat bervariasi.
Bagaimanapun juga, seluruh evaluasi di atas mengacu pada naskah Vulgata kritis yang direka-ulang sejak akhir abad ke-19 dan selanjutnya - menyusun kembali susunan naskah yang beredar di Italia pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Naskah Clementina yang standar memiliki perbedaan dalam banyak bacaan-bacaan penting - misalnya Comma Johanneum (1 Yohanes 5: 7-8), kata-kata dari Mazmur 22 (Matius 27:35), serta Malaikat di Bethesda (Yohanes 5: 4) - dan kurang bernilai bagi studi tekstual.
Prolog-prolog
Selain ayat-ayat Alkitab, Vulgata juga memuat tujuh belas prolog, enam belas di antaranya ditulis oleh Hieronimus. Prolog-prolog Hieronimus dari segi tertentu tidaklah tepat disebut sebagai prolog karena ditulis tidak seperti lazimnya prolog melainkan sebagai surat pengantar kepada individu-individu tertentu yang menyertai salinan terjemahan-terjemahannya. Karena prolog-prolog itu tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh umum, maka beberapa komentar Hieronimus di dalamnya tidak dapat difahami dengan jelas. Prolog-prolog yang dimaksud adalah prolog untuk Pentateukh (5 Kitab Musa)[12], Yosua,[13] Raja-Raja, yang juga disebut Prologus Galeatus.[14] Selanjutnya adalah prolog-prolog untuk Tawarikh,[15] Ezra,[16] Tobit,[17] Yudit,[18] Ester,[19] Ayub,[20] Mazmur,[21] Kebijaksanaan Salomo,[22] Yesaya,[23] Yeremia,[24] Yehezkiel,[25] Daniel,[26] Nabi-Nabi Minor,[27] Injil-Injil,[28], serta prolog terakhirnya yakni prolog untuk Surat-Surat Paulus dan yang lebih dikenal sebagai Primum quaeritur.[29] Masih terkait dengan itu adalah tulisan Hieronimus berupa Catatan-catatan mengenai Tambahan pada Kitab Ester[30] serta Prolog untuk Mazmur Ibrani.[31]
Sebuah tema dari Perjanjian Lama yang berulang-ulang muncul dalam prolog-prolog tersebut adalah kecenderungan Hieronimus untuk lebih menyukai Hebraica veritas (Kebenaran Ibrani) dari pada Septuaginta, kecenderungan lebih-suka yang dipertahankannya dengan gigih dari para penentangnya. Dia menyatakan bahwa naskah Ibrani lebih jelas dari pada naskah Yunani dalam hal meramalkan figur Kristus. Salah satu dari prolog-prolog yang paling istimewa adalah Prologus Galeatus, yang di dalamnya Hieronimus memaparkan kanon 22 kitab Perjanjian Lama, yang menurutnya terwakilkan dalam 22-huruf dari abjad Ibrani. Sebagai alternatif, dia memberi jumlah 24 kitab, yang menurutnya menggambarkan 24 tua-tua dalam Kitab Wahyu yang melemparkan mahkota mereka ke hadapan Anak Domba.
Yang juga patut dicermati adalah Primum quaeritur, yang membela pendapat bahwa Paulus adalah penulis dari Surat Ibrani, dan membandingkan sepuluh surat Paulus kepada Gereja-Gereja dengan 10 Perintah Allah. Tidak diketahui siapa penulis Primum quaeritur. Para editor Vulgata Stuttgart memberi keterangan bahwa versi dari surat-surat tersebut mula-mula populer di kalangan kaum Pelagian.
Selain Primum quaeritur, banyak manuskrip memuat catatan-catatan singkat untuk tiap surat yang berisi keterangan mengenai dimana surat itu ditulis, serta di mana penerima surat tersebut tinggal. Adolf von Harnack,[32] berpendapat bahwa catatan-catatan tersebut ditulis oleh Marcion dari Sinope atau salah seorang pengikutnya. Harnack menulis: "Kita sesungguhnya sudah lama mengetahui bahwa bacaan-bacaan Marcionit berhasil menyusup ke dalam naskah gerejawi dari surat-surat Paulus, namun kini selama tujuh tahun telah kita ketahui bahwa Gereja-Gereja sebenarnya menerima prefasi-prefasi Marcionit atas surat-surat Paulus! De Bruyne telah menghasilkan salah satu penemuan terbaik di kemudian hari yang membuktikan bahwa prefasi-prefasi tersebut, yang mula-mula kita baca dalam Codex Fuldensis dan kemudian dalam sejumlah manuskrip-manuskrip yang dibuat sesudahnya, bersifat Marcionit, dan bahwa Gereja-Gereja tidak sadar akan kehadiran si iblis."
Pengaruh terhadap Budaya Barat
Dalam hal memiliki arti penting bagi budaya, seni, dan kehidupan Abad Pertengahan, Vulgatalah yang paling unggul. Selama abad-abad kegelapan dan berlanjut pada masa Renaissance dan Reformasi, karya agung Santo Hieronimus itu tegak laksana pilar terakhir kejayaan Romawi dan batu karang Gereja Latin karena Vulgata berjuang mempersatukan Eropa yang terpecah-pecah melalui iman Katolik. Karena Versi Alkitab ini dikenal baik dan dibaca oleh umat beriman selama seribu tahun (antara tahun 400–1530 Masehi), Vulgata menjadi sangat berpengaruh, terutama atas seni dan musik, sebab Vulgata menjadi sumber ilham bagi lukisan-lukisan, kidung-kidung dan drama-drama rohani populer yang tak terbilang banyaknya. Bahkan tatkala tradisi Reformasi Jenewa berusaha menggantikan Vulgata Latin dengan versi bahasa setempat yang diterjemahkan dari bahasa aslinya, Vulgata tetap mereka pertahankan dan gunakan dalam debat teologis. Baik dalam kumpulan khotbah-khotbah Yohanes Calvin dalam Bahasa latin, maupun dalam edisi Perjanjian Baru Bahasa Yunani karya Theodorus Beza, teks referensi Latin pendamping yang digunakan adalah Vulgata; dan di tempat-tempat gereja-gereja Protestan meneladani Jenewa melakukan upaya yang sama - seperti di Inggris dan Skotlandia - justru timbul apresiasi yang lebih luas atas terjemahan Hieronimus karena gaya bahasanya yang agung dan prosanya yang luwes. Padanan Vulgata yang paling dekat dalam Bahasa Inggris, yakni Alkitab Raja Yakobus (Alkitab King James Version), atau Authorised Version, memperlihatkan tanda-tanda pengaruh Vulgata, teristimewa jika dibandingkan dengan versi bahasa setempat yang lebih awal karya William Tyndale; dalam hal cara Hieronimus memadukan secara teknis kosa kata religius Latin yang tepat dengan gaya prosa yang agung dan ritme-ritme puitis yang kuat.
Terjemahan-terjemahan yang didasarkan pada Vulgata
Sebelum Divino Afflante Spiritu, ensiklik Paus Pius XII, dipublikasikan, Vulgata merupakan naskah sumber bagi berbagai terjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat. Dalam Bahasa Inggris, terjemahan kata per kata Injil-Injil Lindisfarne (Lindisfarne Gospels) dan terjemahan-terjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Inggris Kuno lainnya, Alkitab terjemahan John Wycliffe, Alkitab Douay Rheims, Alkitab Confraternity (Confraternity Bible), serta Alkitab terjemahan Ronald Knox semuanya diterjemahkan dari Vulgata.
Pengaruh terhadap Bahasa Inggris
Vulgata berpengaruh besar terhadap perkembangan Bahasa Inggris, khususnya dalam bidang keagamaan dan Kitab Suci. Banyak kata Latin yang diambil dari Vulgata ke dalam Bahasa Inggris nyaris tanpa perubahan arti atau ejaan: creation dari creatio (Kejadian 1:1, Ibrani 9:11), salvation dari salvatio (Yesaya 37:32, Efesus 2:5), justification dari justificatio (Roma 4:25, Ibrani 9:1), testament dari testamentum (Matius 26:28), sanctify dari sanctificatio (1 Petrus 1:2, 1 Korintus 1:30), regenerate dari regeneratio (Matius 19:28), dan rapture dari raptura (dari bentuk nomina untuk verba rapiemur dalam 1 Tesalonika 4:17). Kata "publican" berasal dari kata Latin publicanus (Matius 10:3), dan frase "far be it" adalah terjemahan dari ungkapan Latin absit (misalnya dalam Matius 16:22 pada Alkitab King James). Contoh-contoh lainnya adalah apostle dari apostolus, church dari ecclesia, gospel dari evangelium, Passover dari Pascha, dan angel dari angelus.
Lihat pula
Referensi
  1. ^ Prolog-prolog Santo Hieronimus, naskah Latin
  2. ^ Artikel mengenai Santo Hieronimus, Catholic Online
  3. ^ Article, International Standard Bible Encyclopedia, 1915
  4. ^ Kanon-kanon dan dekrit-dekrit Konsili Trente, Sesi Ke-4, 8 April 1546.
  5. ^ Novum Testamentum Vulgatae Editionis, Ferdinandus Florens Fleck, 1840. Suatu perbandingan edisi Clementina dengan Codex Amiatinus
  6. ^ Catholic Encyclopedia, Vulgata, Revisi atas, 1917
  7. ^ Biblia Sacra iuxta latinam vulgatam versionem ad codicum fidem, iussu Pii PP. XI, Pii PP. XII, Ioannis XXIII, Pauli VI, Ioannis Pauli PP. II, cura et studio monachorum Abbatiae Pontificiae Sancti Hieronymi in Urbe Ordinis Sancti Benedicti edita. Textus ex interpretatione Sancti Hieronymi. Romae: Libreria Editrice Vaticana, 1926-1995. 18 vols.
  8. ^ a b Kata Pengantar Biblia Sacra Vulgata, American Bible Society, ISBN 3-438-05303-9
  9. ^ Otoritas Nova Vulgata, Richard J. Clifford, 2001
  10. ^ Scripturarum Thesaurus, Terjemahan Bahasa Inggris, 1979
  11. ^ Liturgiam Authenticam, Terjemahan Bahasa Inggris, 2001
  12. ^ ,Prolog Hieronimus untuk kitab Kejadian
  13. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Yosua
  14. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Raja-Raja
  15. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Tawarikh
  16. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Ezra
  17. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Tobit
  18. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Yudit
  19. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Ester
  20. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Ayub
  21. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Maxmur (LXX)
  22. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Kebijaksanaan Salomo
  23. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Yesaya
  24. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Yeremia
  25. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Yehezkiel
  26. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab Daniel
  27. ^ Prolog Hieronimus untuk ke-12 kitab Nabi-Nabi
  28. ^ Prolog Hieronimus untuk kitab-kitab Injil
  29. ^ Prolog Vulgata untuk Surat-Surat Paulus
  30. ^ Jerome’s Catatan-catatan Hieronimus untuk Tambahan pada Kitab Ester
  31. ^ Prolog Hieronimus untuk Kitab Mazmur (Ibrani)
  32. ^ Origin of the New Testament, Adolf von Harnack, 1914
Pranala luar