Showing posts with label gereja. Show all posts
Showing posts with label gereja. Show all posts

January 18, 2011

Gereja Advent Hari Ketujuh

oleh: P. William P. Saunders *

William Miller
(1782-1849)
Ellen Gould Harmon White
(1827-1915)

The Washington Times mencetak sebuah iklan sebesar dua halaman penuh yang dikeluarkan Gereja Advent Hari Ketujuh menyerang Gereja Katolik Roma dan memaklumkan hari Sabtu, dan bukannya hari Minggu, sebagai Sabat yang sesungguhnya. Siapakah sebenarnya orang-orang ini?
~ seorang pembaca di Mount Vernon

Gereja Advent Hari Ketujuh didirikan oleh William Miller (1782-1849). Ia yang dilahirkan di Pittsfield, Mass. pada tanggal 15 Februari 1782 ini adalah seorang veteran perang 1812 dan seorang petani di pinggiran New York. Pada usia 34 tahun, ia meninggalkan Deisme untuk menggabungkan diri dalam Gereja Baptis. Setelah mentahbiskan dirinya sendiri, ia mulai berkhotbah pada tahun 1831. Terpikat oleh nubuat-nubuat Alkitab, ia yakin bahwa setiap nubuat yang belum digenapi Kristus sepanjang masa hidup-Nya di dunia akan digenapi dalam Kedatangan-Nya yang Kedua Kalinya. Tetapi, pengetahuan Miller tampaknya hanya sejauh kulit luarnya saja.

Tafsirannya atas Daniel dan Kitab Wahyu (Apokalips) menghantarnya untuk meramalkan Kedatangan Yesus yang Kedua Kalinya. Miller beranggapan bahwa nubuat-nubuat mengenai akhir dunia mengandung suatu kode numerik yang dapat diuraikan. Ia mengambil 2300 petang sebagaimana disebutkan dalam Daniel 8:14 mengenai dipulihkanmya tempat kudus, mengkonversikannya ke dalam tahun, dan kemudian menghitung dari tahun 457 SM (yang dipegangnya sebagai “70 minggu” sejak permulaan kedatangan pertama) guna meramalkan Kedatangan Yesus yang Kedua Kalinya pada tanggal 21 Maret 1843. Ia mendapat banyak pengikut melalui khotbahnya dan melalui publikasi The Midnight Cry. Ramalan ini mengakibatkan kegemparan besar, namun terbukti salah.

Tidak berkecil hati, ia merevisi hitungan dan meramalkan tanggal 21 Maret 1844 sebagai saat Kedatangan-Nya yang Kedua. Ketika ramalan itu juga meleset, ia meramalkan tanggal 22 Oktober 1844. Lagi-lagi Miller salah. Kegagalannya yang terakhir ini dikenal sebagai “Kekecewaan Besar,” dan menyebabkan sebagian besar pengikut meninggalkannya.

Para pengikutnya yang setia mengadakan pertemuan tahun berikutnya di Albany dan menyusun rencana untuk menjaga agar gerakan millennial ini tetap hidup. Terjadi perpecahan-perpecahan, tetapi satu kelompok yang kuat bertahan hidup. Pada tahun 1860, mereka secara resmi mendirikan Gereja Advent Hari Ketujuh. James White menjadi pemimpin Advent Hari Ketujuh setelah denominasi ini diorganisir di Battle Creek, Mich., pada tahun 1863.

Ny Ellen Gould Harmon White (1827-1915), seorang pengikut setia Miller yang adalah isteri James, memberikan pengaruh yang kuat pada sekte. Kemungkinan karena kesehatannya yang rapuh, ia mengalami penglihatan-penglihatan, dan mengklaim mendapatkan lebih dari 2000 penglihatan sepanjang hidupnya. Beberapa faktor mempengaruhi pandangan religiusnya: (1) Revivalisme Methodis, yang menghantar pada pertobatannya pada tahun 1841; (2) penyembuhan iman, yang diandalkannya untuk berbagai penyakit ringannya yang kerap menyerang; (3) penglihatan-penglihatan adikodrati; dan (4) ajaran Miller. Meski hanya bersekolah hingga kelas tiga sekolah dasar, ia menulis 45 buku utama dan lebih dari 4000 artikel. “Steps to Christ” telah diterjemahkan ke dalam 85 bahasa. Sebagian besar ajaran Ny White yang telah dijadikan doktrin resmi berasal dari berbagai penglihatannya yang dianggap sebagai ilham.

Ellen White dan rekannya, Hiram Edson, mempelajari kembali nubuat-nubuat Alkitab mengenai Kedatangan-Nya yang Kedua dan ajaran-ajaran Miller sendiri, serta menyimpulkan bahwa semuanya itu menyatakan awal dari penghakiman terakhir. Mereka sekarang mengajarkan bahwa Kedatangan-Nya yang Kedua akan segera datang, tetapi hari dan jamnya tak dapat diramalkan.

Ellen White juga percaya bahwa Sabtu, bukan Minggu, adalah hari Sabat yang diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Kejadian. Menurutnya, perubahan Sabat ke hari Minggu diperkenalkan oleh anti-Kristus atau kepausan. Tentu saja, tradisi Kristen sejak masa para rasul telah menganggap hari Minggu sebagai Hari Tuhan, sebab Tuhan kita bangkit dari antara orang mati pada hari Minggu Paskah. Kita mendapati bukti akan hal ini dalam Kisah Para Rasul, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ” (Kis 20:7), dan St Paulus dalam Surat Pertama kepada Korintus berbicara mengenai pertemuan umat beriman dan pengumpulan uang pada “hari pertama dari tiap-tiap minggu” (16:2). Seorang apologist besar, St Yustinus Martir (wafat tahun 165), menulis, “Hari Minggu, sungguh, adalah hari di mana kami semua berkumpul, karena itulah hari pertama, padanya Allah telah menarik zat perdana dari kegelapan dan telah menciptakan dunia, dan karena Yesus Kristus, Penebus kita telah bangkit dari antara orang mati pada hari ini” (ApologiƦ). Menariknya, Advent Hari Ketujuh mengubah tradisi yang berasal dari masa rasul dan secara konsisten diakui oleh umat Kristiani di sepanjang abad. Jelas, perubahan yang demikian menunjukkan betapa dahsyat daya suatu wahyu pribadi! (lebih lanjut lihat:Bilamanakah Tepatnya Hari Sabat itu?)

Sekedar tambahan “iseng”, Ellen White mendapatkan penglihatan pada tanggal 5 Juni 1863, di mana ia mengerti bahwa daging, alkohol dan tembakau dilarang, dokter dan obat-obatan hendaknya dihindari, dan bahwa para pengikut hendaknya memiliki pola hidup sehat dengan udara segar, sinar matahari, istirahat, olahraga dan diet. Ketidakmurnian seksual juga dikutuk. Yang menarik, ajaran-ajaran ini mengilhami Sylvester Graham untuk mengembangkan cracker bergizi demi mendukung kesehatan, yakni “Graham Cracker.”

Juga, John Kellogg dari Battle Creek, Mich., mengembangkan diet sehat dengan buah-buahan, biji-bijian dan sayuran, dan ya, sereal, yang tak hanya menjamin kesehatan melainkan juga mencegah ketidakmurnian seksual. (Saya pikir Count Chocula [monster logo sereal ini] tidak tahu bahwa ia mempunyai pengaruh yang demikian. Meski begitu, di wilayah Washington ini, sebagian orang terlalu banyak makan Fruit Loops sementara yang lain seharusnya makan lebih banyak Lucky Charms.)

Mengenai ajaran mereka sekarang, Advent Hari Ketujuh menegaskan kepenuhan keallahan Kristus. Gereja Advent Hari Ketujuh percaya bahwa manusia pada dasarnya adalah fana, bukan abadi. Kematian dianggap sebagai tidur. Kebangkitan orang benar yang telah mati akan terjadi pada waktu Kedatangan-Nya yang Kedua, ketika baik orang benar yang masih hidup maupun mati, akan dibawa ke surga, di mana bersama-sama mereka akan melewatkan millennium. Mereka yang masih hidup pada saat ini, yang menolak keselamatan, akan dibinasakan; mereka dan orang-orang jahat yang telah mati akan bangkit ketika Kristus kembali di akhir masa seribu tahun untuk membersihkan dunia. Pada waktu itu mereka akan dibinasakan untu selamanya oleh api. Kemudian bumi akan dipulihkan ke keadaan Taman Eden dan tersedialah firdaus bagi para kudus.

Advent Hari Ketujuh mempunyai dua ritus liturgis utama: Baptis selam diperuntukkan bagi mereka yang telah cukup dewasa untuk memahami maknanya. Kedua, seturut Perjamuan Malam Terakhir, suatu ibadat komuni diadakan empat kali dalam setahun dengan didahului oleh upacara pembasuhan kaki; namun demikian, roti dan anggur tak beragi yang dipergunakan dianggap hanya sebagai simbol tubuh dan darah Kristus.

Advent Hari Ketujuh menjalankan Sabat dari terbenamnya matahari pada hari Jumat hingga terbenamnya matahari pada hari Sabtu. Segala pekerjaan yang tidak perlu, termasuk memasak, dihindari pada waktu ini. Mereka hadir di gereja dan sekolah Sabat pada hari Jumat petang dan Sabtu pagi.

Mereka mempersembahkan perpuluhan dari pendapatan mereka. Sebagian besar jemaatnya mengikuti diet vegetarian; mereka yang tidak berdiet wajib berpantang makan-makanan yang dilarang dalam Perjanjian Lama, seperti daging babi, ham, dan udang. Demi alasan kesehatan, mereka berpantang minuman keras dan tembakau. Gereja juga menyelenggarakan suatu program kesehatan yang ekstensif dengan rumah-rumah sakit dan klinik-klinik di seluruh dunia.

Pemerintahan gereja adalah demokrasi. Tiap-tiap Gereja Setempat dipimpin secara kongregasionalis tetapi termasuk dalam suatu Konferens yang menunjuk pelayannya. Empat atau lebih konferens membentuk suatu Uni Konferens dan beberapa uni konferens membentuk suatu Divisi. Ada 10 divisi di 189 negara dengan kantor pusat di Washington, D.C. Pada tahun 1998, Advent Hari Ketujuh melaporkan memiliki lima juta jemaat di Amerika Serikat dan sembilan hingga sepuluh juta jemaat di seluruh dunia.

Karena artikel ini diilhami oleh suatu iklan di the Washington Times yang menyerang Gereja Katolik Roma, harap diingat dua point: Pertama, Gereja Katolik Roma adalah Gereja Kristen yang didirikan langsung oleh Kristus. Kedua, seseorang pastilah cukup putus asa dan tidak aman sehingga berupaya menarik pengikut dengan kefanatikan dan menyerang yang lain.


Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Our Lady of Hope Parish in Sterling, Virginia.

sumber : “Straight Answers: Seventh-Day Adventist Church: Who Are These People?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

January 6, 2011

Gereja Anglican

oleh: P. William P. Saunders *

Paus Leo XIII
Raja Henry VIII

Seorang teman Episcopalian* tengah berpikir untuk menggabungkan diri dengan Gereja Katolik, terutama karena pentahbisan Gene Robinson sebagai uskup. Ia mengatakan bahwa pastornya juga berpikiran sama. Apakah pastor tersebut dapat diterima sebagai seorang imam Katolik?

Sejak pertengahan 1970-an, Gereja Episcopalian di Amerika Serikat menghadapi beberapa kekacauan intern yang serius. Pada tahun 1976, para wanita ditahbiskan sebagai imam, dan belakangan para wanita ditahbiskan sebagai uskup. Pada tahun 1979, Gereja Episcopalian merevisi Buku Doa Umum dengan menggunakan bahasa kontemporer juga menambahkan beragam pilihan liturgis. Kedua peristiwa ini telah memicu perdebatan sengit dan bahkan skisma. Sekarang semakin meningkat kecenderungan untuk merayakan perkawinan homoseksual dan pentahbisan kaum homoseksual sebagaimana terbukti dengan pentahbisan Gene Robinson sebagai uskup. Mohon dicatat bahwa saya sekedar menyebutkan peristiwa-peristiwa; saya tidak bermaksud mengurusi masalah gereja lain ataupun bersorak atas persoalan-persoalan mereka, teristimewa ketika kita Katolik telah cukup dengan persoalan kita sendiri.

Masalah-masalah ini, dan mungkin masalah-masalah lainnya juga, telah menggerakkan sebagian klerus dan awam Episcopalian berpikiran untuk menggabungkan diri dengan Gereja Katolik Roma. Sebagian besar dari orang-orang ini menganggap diri sebagai “Anglo-Katolik” atau “Episcopalian Tinggi”, artinya bahwa keyakinan dan praktek-praktek liturgis mereka sangat “Roma” dengan pertentangan utama otoritas Bapa Suci. Sebagai contoh, ketika saya belajar di Seminari St Charles di Philadelphia, Gereja Episcopal St Klemens memasang pengumuman Misa, pengakuan dosa, pujian kepada Sakramen Mahakudus dan Vesper (= Ibadat Sore); menghadiri salah satu ibadat mereka - saya benci mengatakannya - setidaknya secara estetis lebih “Katolik” dan hormat dari beberapa paroki Katolik yang saya kunjungi.

Banyak permohonan mengenai kemungkinan diterimanya mereka masuk ke dalam Gereja Katolik disampaikan kepada para Uskup Katolik di Amerika Serikat, yang selanjutnya menghubungi Bapa Suci. Sebagai tanggapan, Paus Yohanes Paulus II melalui Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman menerbitkan sebuah pernyataan yang ringkas padat pada bulan Juni 1980. Pertama-tama, Tahta Suci mengijinkan suatu “ketentuan pastoral,” yang memberikan “suatu identitas umum yang mencerminkan unsur-unsur khas dari warisan mereka sendiri.” Di sini keseluruhan jemaat Episcopalian dapat masuk ke dalam Gereja Katolik dan diperkenankan untuk tinggal dalam paroki dan mempergunakan Misa Katolik gaya Anglican entah dengan Buku Doa Umum versi bahasa tradisional atau versi bahasa Inggris modern.

Kedua, warga perseorangan dari Gereja Episcopal dapat masuk ke dalam Gereja Katolik atas inisitatif mereka sendiri. Sesuai “Dekrit Ekumenisme” Konsili Vatican II, tindakan ini akan dipandang sebagai suatu “rekonsiliasi dari individu-individu tersebut yang menghendaki persatuan Katolik sepenuhnya.”

Yang terakhir, klerus Episcopalian dapat menjadi imam Katolik. Seorang pelayan tertahbis Episcopalian menyatakan pengakuan iman dan diterima dalam Gereja Katolik, untuk sesudahnya menyambut Sakramen Krisma. Selanjutnya ia mengikuti pendidikan yang memungkinkannya untuk melayani sebagai seorang imam Katolik. Setelah pengujian yang layak oleh uskup Katolik dan dengan ijin Bapa Suci, ia akan ditahbiskan pertama-tama sebagai seorang diakon transisi dan kemudian sebagai seorang imam Katolik.

Klerus Episcopalian perlu ditahbiskan sebab Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan tahbisan suci mereka, setidaknya dalam pemahaman Katolik mengenai tahbisan suci. Ingat bahwa pada tahun 1534 Raja Henry VIII memutuskan hubungan gereja di Inggris dari Gereja Katolik semesta dan menetapkan dirinya sebagai kepala gereja Inggris. Oleh karena alasan inilah, hingga hari ini, Ratu Elizabeth II adalah pemimpin resmi Gereja Inggris, dan dialah yang menetapkan semua uskup kerajaan dengan persetujuan parlemen. Setelah Henry VIII mangkat, Edward VI, putera dan penerusnya, menerbitkan suatu tata cara baru untuk ritus tahbisan. Tata cara Edwardian, yang disusun oleh Uskup Agung Cranmer, yang amat dipengaruhi oleh teolog Lutheran bernama Martin Bucer, mengubah ritus-ritus tahbisan dari Kepausan Katolik Roma. Tahbisan Gereja Inggris ini dimaklumkan sebagai tidak sah dari pemahaman Katolik mengenai Tahbisan Suci oleh Paus Yulius III dalam suatu surat kepada Kardinal Reginald Pole (1554) dan oleh Paus Paulus IV dalam dua surat beliau (1555).

Paus Leo XIII pada tahun 1896 memaklumkan keputusan definitif dalam bulla “Apostolicae Curae,” yang menyatakan bahwa “tahbisan yang dilaksanakan seturut ritus Anglican adalah dan mutlak tidak sah dan sama sekali tidak berlaku.” Keputusan ini didasarkan pada cacat forma maupun intensi dalam ritus Anglican. Ritus Anglican dengan sengaja menghilangkan keyakinan akan imamat sebagai kurban yang dilaksanakan dalam Misa dan Ekaristi Kudus. Mengenai cacat forma, artinya doa-doa yang dipergunakan untuk tahbisan, Paus Leo memaklumkan, “Kiranya satu argumentasi ini menjawab semuanya: yakni, doa-doa ini [doa-doa tahbisan] telah dengan sengaja dilucuti dari segala yang dalam ritus Katolik dengan jelas menyatakan martabat dan jabatan imamat. Jadi, adalah mustahil suatu forma layak dan pantas bagi suatu sakramen jika forma tersebut menindas apa yang seharusnya secara khusus dinyatakannya. Kasusnya sama dengan konsekrasi Episcopal. …  Oleh sebab Sakramen Tahbisan dan imamat sejati Kristus telah sama sekali dihapuskan dari ritus Anglican, dan karenanya imamat sama sekali tidak diberikan dalam konsekrasi Episcopal dari ritus yang sama, sama mustahilnya bagi episkopat sendiri untuk diberikan secara sungguh dan layak; terlebih lagi karena peran utama episkopat adalah mentahbiskan para pelayan untuk Ekaristi Kudus dan untuk kurban….”

Paus Leo menyimpulkan, “Dengan demikian, bukan saja di sana dalam keseluruhan tata tahbisan tidak ada penyebutan jelas mengenai kurban, konsekrasi, imamat, kuasa untuk mengkonsekrasikan dan mempersembahkan kurban, tetapi sebagaimana telah kami nyatakan, setiap pertalian darinya dan dari hal-hal serupa yang kita temukan dalam doa-doa dari ritus Katolik yang sama sekali tidak ditolak, secara sengaja disingkirkan dan dihapuskan.”

Paus Leo juga menyebutkan cacat intensi: “Jika ritus diubah dengan tujuan nyata untuk memperkenalkan suatu ritus lain yang tidak diterima oleh Gereja, dan untuk menyangkal apa yang sesungguhnya dilakukan Gereja dan dengan penetapan Kristus menjadi hakekat sakramen, maka itu merupakan bukti, bukan hanya ketiadaan intensi yang dibutuhkan suatu sakramen, tetapi malahan terdapat intensi yang tidak sesuai dan tidak selaras dengan sakramen.” Sebab itu, pelayan Episcopalian siapapun yang rindu untuk menjadi seorang imam Katolik haruslah ditahbiskan sebagai diakon dan imam seturut ritus Gereja Katolik.

Bagaimana dengan kaul selibat sebagaimana dikehendaki dari para imam Katolik? Jika ia yang tadinya pelayan Episcopalian itu seorang bujang pada saat pentahbisannya sebagai seorang diakon dan kemudian imam Katolik, ia wajib mengucapkan kaul selibat. Jika ia yang tadinya pelayan Episcopalian itu seorang yang terikat perkawinan pada saat pentahbisannya sebagai seorang diakon dan kemudian imam Katolik, ia akan dibebaskan dari kaul selibat dengan ijin khusus dari Bapa Suci; namun demikian jika di kemudian hari ia menjadi duda, maka ia akan terikat pada hidup selibat dan tak diperkenankan menikah lagi. Kaul selibat dilonggarkan sebagai kemurahan bagi para klerus yang telah menikah, dengan mempertimbangkan situasi khusus mereka dan kerinduan mereka untuk mempersatukan diri dengan Gereja Katolik. Namun demikian, Bapa Suci telah berulang kali menegaskan disiplin selibat bagi klerus Katolik Roma dari ritus Latin. (Ritus-ritus Timur tidak mewajibkan kaul selibat terkecuali bagi uskup.) Paus Paulus VI dalam ensikliknya “Sacerdotalis caelibatus” (1967) merefleksikan bahwa selibat merupakan suatu pengidentifikasian diri dengan Kristus, Ia Sendiri yang selibat; suatu tindakan kasih yang berkurban, di mana seorang imam memberikan dirinya secara penuh demi pelayanan kepada Tuhan dan Gereja-Nya; dan suatu pratanda akan kedatangan Kerajaan Allah, di mana Tuhan kita bersabda, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Matius 22:30).

Sementara informasi yang disajikan di sini memberikan “jawaban langsung” kepada pertanyaan yang diajukan, marilah kita berdoa bagi warga Gereja Episcopalian. Saya secara pribadi mengenal orang-orang Kristen yang tulus yang adalah warga Gereja Episcopalian yang sedang berduka atas situasi yang tengah terjadi atas gereja mereka. Realitanya adalah ini, sebagaimana dikemukakan Paus Leo XIII dalam tanggapan beliau mengenai keabsahan tahbisan Anglican: Ketika orang dengan sengaja mengabaikan kebenaran yang dinyatakan dalam Kitab Suci, ajaran iman yang konsisten dan rancangan yang Tuhan kita berikan kepada Gereja-Nya, orang tinggal hanya dengan sebuah kelompok sosial atau partai politik, bukan gereja. .     

* Warga Gereja yang dipimpin oleh para uskup, dan khususnya orang-orang Kristiani di Amerika Serikat yang berada dalam persekutuan dengan Uskup Agung Canterbury, Inggris. [Kamus Teologi: Gerald O'Collins, SJ & Edward G. Farrugia, SJ]

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Our Lady of Hope Parish in Sterling, Virginia.

sumber : “Straight Answers: The Anglican Church” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

December 9, 2010

INTROSPEKSI

Dalam dua bulan terakhir ini ada dua undangan pelayanan ceramah + kotbah dari dua gereja besar di kota Semarang, gereja ekumenikal dan gereja Kharismatik. Dari kesempatan itu terdengar kabar bahwa dengan dibangunnya gereja mega oleh salah satu denominasi Kristen di kota itu, gereja-gereja banyak yang kehilangan jemaatnya dan terseret ke ibadat selebriti di gereja besar itu, bahkan ada yang kehilangan sampai 25% anggotanya dan malah ada beberapa gereja kecil yang nyaris kehilangan semua anggotanya. Gejala apa ini, pertumbuhan gereja atau perpindahan jemaat?
Di balik puluhan gereja yang ditutup khususnya di Jawa Barat, yang tentu semua orang tahu dan umumnya menyalahkan sipenyerang, kita perlu juga melakukan introspeksi, apa salah di pihak Kristen sendiri sehingga ikut merangsang penutupan gereja-gereja tersebut?
Kasus dibangunnya gereja mega seperti contoh di atas memang salah satu penyakit orang Kristen dimana kalau dahulu orang memperbesar gereja untuk menampung pertumbuhan jemaat setidaknya mengantisipasi proyeksi beberapa tahun kedepan yang dilandaskan pertumbuhan karena kelahiran dan PI, ada beberapa gereja yang membangun peluasan gereja tidak tanggung-tanggung dengan motivasi menarik jemaat gereja lain. Pernah ketika melayani sebuah kota di Jawa Timur, diajak berkeliling oleh pendeta sebuah gereja dan ditunjukkan gerejanya yang baru dibangun, ceritanya bisa muat 2000 orang. Ketika ditanya berapa yang hadir sekarang? Jawabannya sekitar 200 orang. Ini bahaya ambisi arogan gereja kaya dimana jemaat yang sedikit membangun sarana ibadah yang 10 kali lebih besar. Alhasil, ada anggotanya yang dokter kemudian karena konflik bergabung dengan gereja Mega Surabaya dan membangun gedung besar pula tidak jauh di lokasi itu. Gereja itu kemudian distop pembangunannya oleh warga karena tak jauh dari situ ada pesantren.\, alasan mereka sudah ada gereja besar di dekat situ kok membangun lagi?
Lain lagi sejalan dengan dibukanya flyover panjang di kota Bandung, ada gereja dipinggir jalan itu yang kemudian dibangun dengan bentuk teatrikal menjulang ibarat ingin menyangi ketinggian dan kemegahan flyover tersebut, alasannya kita harus memberikan yang terbaik untuk Tuhan (ingat: Kis.17:24-25). Gereja itu pernah di demo, dan arogansi ini menutup mata bahwa tidak jauh dari lokasi gereja itu terbentang luas kawasan kumuh sekitar sungai cikapundung yang membelah kota.
Arogansi demikian disitir juga oleh Sumarthana almarhum yang ketika terjadi pembakaran gereja di Situbondo mengungkapkan bahwa ia pernah 7 tahun tinggal di kota itu dan disitu banyak pesantren kumuh dimana para santrinya hidup sangat minim. Ia mengkritik arogansi beberapa gereja yang membangun gedung ibadat besar di jalan protokol kota itu. Ucapannya yang terkenal adalah: “Bagaimana perasaan penduduk menghadapi gereja besar di jalan protokol itu? Bukankah itu ibarat ada orang asing mekakang (berdiri dengan kaki direnggangkan) dijalan masuk rumah kita?” Kurangnya kepekaan lingkungan itu juga disitir oleh dr. Paul Tahalele ketua FKKI yang kecewa mendengar pendeta sebuah gereja yang dibantu pasca kerusuhan yang merenovasi gerejanya lebih ‘wah’ dari sebelum dibakar, yang menjawab: “Kita bangun lebih bagus karena sumbangannya lebih!”
Pernah kalangan Islam mengatakan kalau gereja diizinkan bebas berdiri nanti akan dibangun banyak gereja dilokasi yang sama karena gereja punya ratusan denominasi yang masing-masing berlomba membangun gereja baru. Kritik ini perlu direnungkan sebab memang benar bahwa banyak gereja dalam membangun gedung bukan saja tidak peka lingkungan namun sering sengaja membangun gedung gereja bahkan ada yang disebelah gereja yang sudah ada. Semangat persaingan denominasi ini merupakan penyakit kekristenan masakini. Lihat saja rebutan ‘gedung Sarbini’ di kawasan semanggi Jakarta oleh beberapa denominasi!
Kita sudah lama mendengar kata ‘sheep stealing’ dilakukan oleh denominasi tertentu. Tidak jarang ada denominasi sengaja menunggu jemaat denominasi lain ketika pulang dari ibadat dengan mobil yang siap mengantar mereka secara gratis, alhasil ujung-ujungnya kemudian diajak bergabung dengan gereja denominasi mereka. Pernah penulis duduk sebangku dengan pembimas Kristen Jabar ketika naik KA ke Jakarta. Ia bercerita bahwa paling sulit adalah mendamaikan pertikaian antar gereja yang bersaing.
Pernah ada undangan kotbah di sebuah jemaat Pentakosta di kawasan perumahan kampung di kota Majalengka. Pendetanya cerita bahwa RT-nya pernah memberi tahu agar musik band gereja tidak dibunyikan keras-keras. Mendengar saran itu si pendeta tanggap dan kemudian mengubah interior gereja dan mengurangi kemungkinan suara keluar yang bisa mengganggu tetangga dan membimbing pemain band agar mengurangi kerasnya musik pujian mereka. Lain lagi dengan apa yang terjadi di Cimahi belum lama ini dimana ada pendetanya tidak bersikap bijak ketika RT-nya menasehati soal kebisingan musik gereja itu, pendeta itu bahkan mengancam balik agar tidak mengganggu ibadat (karena punya backing). Alhasil, gereja ini termasuk yang terkena sweeping baru-baru ini!
Fanatisme denominasionalisme juga melanda kalangan mahasiswa. Sebenarnya di kalangan mahasiswa sudah banyak bermunculan PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) yang seakan-akan memberi angin segar bagi lesunya GMKI dalam beribadat. Namun dibalik inter-denominasinya PMK yang bahkan menarik mereka yang beraliran RK maupun Advent, sejak awalnya sebelum ada PMK kecenderungan denominasionalisme juga melanda kalangan ini.
Ketika di tahun 1960-an hadir ‘Para Navigator’ dan ‘Campus Crusade for Christ’ yang kemudian menjadi LPMI, universitas dihangatkan dengan ibadat Kristen setelah lama dibiarkan lesu oleh GMKI yang telah lama berkiprah dan lebih menaruh perhatian pada dunia politik (harus diakui dalam segi ini mereka berhasil), namun sikap fanatisme golongan tak pelak menimbulkan banyak friksi baik di kampus maupun di luarnya. LPMI pernah menerima surat talak dari gereja di Papua dan di propinsi lain, soalnya para kadernya bukannya menjadi penyegar di gerejanya tetapi menjadi kanker di gereja itu yang lebih aktif di persekutuannya dan mengabaikan tugas gereja. Di awalnya di Bandung ada pembagian tak tertulis dimana satu kampus dikuasai Campus Crusade dan kampus lainnya oleh  Para Navigator. Di Yogya, Para Navigator pernah clash dengan Perkantas.
Berkembangnya PMK di nyaris semua kampus dan jurusan di Indonesia (Thank God for it!) harus diterima dengan syukur karena merupakan sarana oikumenis yang tidak bisa dilakukan gereja-gereja, namun belakangan PMK itu terbelah menjadi ‘Kharismatik’ dan ‘Injili’ (GMKI yang ekumenis tidak ikut bersaing), dan yang Injili sering terbentur aktivitas eksklusif dari berbagai ormas seperti ‘Para Navigator’, ‘LPMI’, ‘Perkantas’ atau persekutuan lainnya yang juga sering menyelenggarakan acara-acara eksklusif. Memang dibawah PMK semuanya masih bisa bekerja bersama sekalipun sering ada gesekan persaingan di kalangan mereka.
Akhir-akhir ini ada gejala baru dimana ada ‘Gereja masuk kampus.’ Di satu sisi gejala ini baik karena merupakan kesadaran gereja dimana kampus merupakan ladang yang luas dan menantang yang selama ini diabaikan (atau tidak mampu?) dilakukan gereja. Sebenarnya gereja yang mapan bisa menunjang PMK-PMK yang sudah ada dan bekerjasama dengan mereka, namun adanya denominasi yang eksklusif dengan teologi mereka bisa menjadi virus yang nanti akan ikut meramaikan fanatisme denominasionalisme di kampus. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau nanti ratusan denominasi yang ada sekarang sebagian kecil saja yang masuk kampus dan mendirikan persekutuan eksklusif?
Persaingan antar denominasi persekutuan mahasiswa ini lebih diramaikan dengan hadirnya persekutuan mahasiswa ‘Saksi-Saksi Yehuwa’ di beberapa kampus seperti di Trisakti yang mulai minta jatah sebagai unit mahasiswa tersendiri dibawah bidang kemahasiswaan kampus karena mereka menganggap berbeda dengan Kristen (tragisnye Pembimas Kristen Protestan Depag menerima dan merestui mereka sebagai ‘kristen’).
Denominasionalisme sudah menjadi nafas gereja dan mulai memasuki persekutuan kampus, dan sudah jelas akan ikut memanaskan dunia pluralitas agama di Indonesia. Bila keadaannya seperti sekarang, bisa dibayangkan di kawasan perumahan akan makin banyak dibangun gereja dan banyak ruangan kampus akan digunakan persekutuan-persekutuan mahasiswa yang berbeda yang makin banyak jumlahnya itu, dan kalau ini menimbulkan reaksi kalangan lain, hanya merekakah yang salah? Kita sendiri perlu introspeksi!
Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

December 6, 2010

Adakah Keselamatan di Luar Gereja?

oleh: Frater Georgius Paulus, CSE


Pernah suatu ketika, seorang pemuda dari suatu Gereja Kristen non-Katolik menyatakan keberatannya akan kepercayaan gerejanya sendiri yang menyatakan bahwa hanya orang Kristenlah yang akan diselamatkan, “Lalu ke mana perginya semua orang yang non-Kristen?” Ini merupakan pertanyaan besar dari abad ke abad. Apakah Allah mengaruniakan keselamatan hanya kepada orang Kristen saja?

Ini juga yang sebenarnya merupakan masalah rumit yang dihadapi Gereja sepanjang sejarah. Masalah ini antara lain menimbulkan kesulitan Gereja dalam menyampaikan Kabar Gembira, khususnya di dunia Timur yang penuh dengan spiritualitas-spiritualitas yang sangat mendalam dan mengakar. Suatu agama atau kepercayaan yang berani membuat pernyataan bahwa di luar apa yang mereka ajarkan tidak ada keselamatan akan segera dicap sombong dan gila. Cobalah menempatkan diri Anda saat ini dalam kalangan penganut agama asli di salah satu negara Asia (ini pasti tidak akan terlalu sulit bagi Anda), lalu suatu saat Anda pergi ke acara kebaktian agama 'baru' dan mendengarkan seorang penginjil yang dengan lantang mengatakan di atas mimbar bahwa semua orang yang tidak mau menerima ajarannya akan masuk ke dalam neraka! Apa yang akan Anda rasakan? Apa pikiran Anda tentang Allah agama 'baru' itu saat itu? Inilah Allah yang tidak adil dan kejam. Bagaimana mungkin para pendahulu Anda yang hidup sungguh-sungguh saleh dan suci menurut ajaran kepercayaan Anda tiba-tiba dicampakkan ke dalam api neraka? Bagaimana mungkin orang-orang yang Anda kenal, yang hidup dengan tatanan moral kebajikan yang begitu tinggi, harus masuk ke dalam kebinasaan kekal semata-mata hanya karena mereka tidak pernah mendengarkan ajaran agama 'baru' itu? Sungguh tidak masuk akal!

Karena masalah ini cukup rumit dan sepanjang sejarah telah banyak dipertentangkan, saya mengajak Anda untuk secara bertahap melihat permasalahan ini. Dan juga sebelum Anda membaca lebih lanjut, saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tidak membaca uraian saya sepotong-sepotong, melainkan membacanya secara keseluruhan. Keterbatasan saya telah membuat uraian berikut tidak jelas jika dibaca sebagian saja. Oleh karena itu, jika Anda tidak yakin dapat menyelesaikan artikel ini, baik secara langsung maupun bertahap, saya mohon dengan hormat untuk tidak meneruskan sebab dapat menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.


ARTI KESELAMATAN

Pertama-tama kita perlu mengerti apa arti keselamatan menurut ajaran Kristen. Allah mengasihi manusia sebab Ia telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Akan tetapi, karena kesombongan dan ketidaktaatannya, manusia jatuh ke dalam dosa dan akibatnya manusia terpisah dari Allah. Allah sendiri tidak pernah berhenti mengasihi manusia sebab Ia tidak dapat mengingkari Diri-Nya Sendiri yang adalah kasih. Ia tidak menghendaki kebinasaan manusia. Sehingga pada kepenuhan waktu Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, turun ke dunia untuk menebus dosa seluruh umat manusia, dari manusia pertama sampai manusia terakhir. Dengan inkarnasi, penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya, Yesus telah memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah. Atas jasa Yesus Kristus, manusia dapat kembali menikmati hidup bersatu dengan Allah dalam keabadian. Inilah arti keselamatan, ditebus dari keadaan dosa kepada kehidupan dalam kebahagiaan abadi di surga.

Akan tetapi, di balik semua karya keselamatan Allah ini, ada sebuah misteri besar yang hanya dapat dijawab oleh Allah sendiri, yakni: misteri kehendak bebas manusia. Walaupun mahakuasa, Allah seolah-olah membatasi diri-Nya sendiri dengan membiarkan manusia mengambil keputusannya sendiri secara bebas, menerima atau tidak menerima, percaya atau tidak percaya akan wahyu-Nya, dalam hal ini wahyu-Nya yang terbesar, Putera-Nya sendiri: Yesus Kristus. Apakah semua manusia bisa diselamatkan? Ya, jasa Yesus cukup untuk menebus semuanya. Lagipula, Allah sejak semula menghendaki agar semua manusia diselamatkan (bdk. 1 Tim 2:3-6). Akan tetapi, apakah semua manusia mau menerima keselamatan ini? Dengan sedih kita harus mendapati kenyataan bahwa justru dari antara umat manusia sendiri ada yang menolak keselamatan. Mengapa? Kita tidak tahu sebab, sekali lagi, ini adalah misteri kehendak bebas manusia. “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang ... Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya ... dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh 3:19.36; 5:29).

Tidak semua manusia mencapai keselamatan dan bagi mereka yang tidak berhasil mencapainya telah tersedia hukuman. Apakah hukumannya? Kebinasaan kekal atau yang biasa kita sebut dengan istilah neraka.


KESELAMATAN, MILIK SIAPA?

Yesus bersabda: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh14:6). Dan ini pulalah yang menjadi cetusan keyakinan para pengikut-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4: 12). Apakah ini berarti bahwa hanya orang Kristen - yang dari namanya berarri pengikut Kristus - saja yang berhak akan keselamatan atau kehidupan kekal?

Jika kita ingin menafsirkan arti kata-kata Yesus, seperti yang harus dilakukan setiap kali kita ingin menafsirkan kata-kata dalam Kitab Suci, kita harus melihat konteks keseluruhan lnjil. Yesus datang untuk semua orang. Ia turun ke dunia bukan hanya sebagai Anak Daud, tetapi juga sebagai Anak Manusia, Anak Adam. Jika hanya para pengikut Kristus, yang baru muncul setelah Yesus, saja yang diselamatkan, bagaimana nasib Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud, Elia, dan semua orang yang kita kenal sebagai orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama? Penebusan Kristus melingkupi seluruh dunia dan seluruh masa: dulu, sekarang, dan masa yang akan datang. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58). “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia ini dijadikan.” (Ef 1:4a). Kerahiman Allah tidak mengenal diskriminasi. Semua manusia adalah ciptaan-Nya, menurut gambar dan rupa-Nya. Inilah nilai universal karya penebusan Kristus. Apabila Yesus menebus Adam, Nuh, Abraham, dan semua orang kudus Perjanjian Lama, yang belum pernah mendengar tentang Dia, tentu rahmat penebusan-Nya ini akan menjangkau pula mereka, yang walaupun hidup setelah Dia, tidak pernah mendengar Kabar Gembira tentang Dia bukan karena kesalahan mereka sendiri.

Ada dua aspek penting dalam hal ini. Yang pertama, mereka bisa diselamatkan, tetapi tetap atas jasa Yesus Kristus dan melalui Dia-lah mereka akan mencapainya. Mereka yang bukan karena kesalahan mereka sendiri tidak pernah mendengar kabar akan Yesus Kristus, pada akhir zaman akan diadili oleh satu hakim yang sama, Yesus Kristus. Kedua, mereka akan diadili menurut ukuran kerahiman Allah berdasarkan hati nurani dan kebebasan kehendak masing-masing pribadi. Allah menciptakan manusia untuk Diri-Nya Sendiri. Oleh sebab itulah - seperti yang dikatakan oleh Blaise Pascal - di dalam diri manusia ada suatu kekosongan yang hanya dapat dipenuhi oleh Allah.Santo Agustinus mengerti akan hal ini saat ia berdoa: “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, dan jiwa kami tidak akan tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.”

Para kudus Perjanjian Lama, sekalipun belum pernah bertemu dengan Yesus secara fisik, sebenarnya telah mengenal Dia di dalam kekekalan sebagai jalan menuju kehidupan. Wahyu-wahyu yang mereka terima, ditanggapi mereka dengan sungguh-sungguh sehingga mereka juga oleh Yesus Kristus ditentukan menjadi anak-anak Allah di dalam kasih-Nya (bdk. Ef 1:5). Demikian juga misalnya: suku-suku terpencil di pedalaman Irian yang belum pernah menerima pewartaan Kabar Gembira secara langsung, juga menerima rahmat penebusan Kristus dan akan diselamatkan jika mereka mengikuti hati nurani mereka untuk mengabdi Allah yang esa dan melakukan kehendak-Nya. Sebagaimana diajarkan secara jelas oleh Gereja melalui Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Konsili Vatikan II, “Mereka dapat mencapai keselamatan jika tanpa kesalahan dari pihak mereka sendiri tidak mengenal Kabar Gembira Kristus atau Gereja-Nya, namun secara tulus mencari Allah dan, digerakkan oleh rahmat, berjuang dalam upaya-upaya mereka untuk melaksanakan kehendak-Nya sebagaimana yang dimengerti mereka melalui suara hati nurani.” (No.16). Manusia tidak akan dapat mengingkari kodratnya yang utama dan pertama-tama sebab ia telah dikaruniai akal budi dan hati nurani untuk mengerti. Dan “karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia ini diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” (Rm.1:19-21). Pada waktu penghakiman terakhir mereka yang hidup dengan hati nurani yang murni dan melaksanakan kehendak Allah atas diri mereka akan mengerti siapa yang telah menebus mereka, yakni Yesus Kristus, sedangkan bagi mereka yang hidup dalam kegelapan dan mengingkari hati nuraninya, Kristus akan menjadi hakim yang menjatuhkan hukuman sekali dan untuk selama-lamanya, yakni kebinasaan yang kekal. Saat itu mereka tidak akan mempunyai alasan untuk berdalih lagi.


GEREJA DAN KESELAMATAN

Di luar Kristus tidak ada keselamatan. Semua manusia, entah Kristen ataupun non-Kristen hanya dapat mencapai Allah melalui dan atas jasa Yesus Kristus. Lalu apa fungsi Gereja dalam hal ini? Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah realisasi Kerajaan Allah di dunia ini, bahtera yang mengangkut semua orang pilihan Allah kepada keselamatan. Oleh karena nilai esensialnya ini, Gereja tidak dapat menolerir adanya ajaran bahwa ada keselamatan di luar satu Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Seorang tokoh terkemuka dalam Gereja awali, Santo Siprianus mengungkapkan keyakinan Gereja ini dengan tegas dalam suratnya: “Bila Allah adalah Bapamu, maka Gereja adalah ibumu.” “Tidak seorang pun dapat diselamatkan kecuali di dalam Gereja.” “Di luar Gereja tidak ada keselamatan.” Dalam konteks Gereja awali, Gereja berarti hanya satu Gereja, yakni Gereja Kristus, Gereja Katolik. Santo Agustinus kemudian menambahkan: “Jika engkau tidak berada di dalam tubuh, engkau tidak berada di bawah kepala. Jika engkau memisahkan diri dari tubuh-Nya, itu tidak akan membuat Sang Kepala tubuh memisahkan diri dari tubuh-Nya. 'Dalam kesia-siaanlah engkau memuliakan Aku', Sang Kepala menangis untukmu dari Surga, 'Sia-sialah engkau memuliakan Aku'. Itu seperti jika seseorang ingin mencium wajahmu dan sekaligus menginjak kakimu. Dengan sepatunya yang berpaku ia menghancurkan kakimu saat ia mencoba memegang kepalamu dan menciumnya; tidakkah engkau akan menghalangi usaha penghormatan itu dan berseru: 'Hey, apa yang kau lakukan? Engkau menyakitiku!'” Jadi, jelas tidak mungkin bagi seseorang untuk tetap tinggal di bawah Sang Kepala, yaitu Kristus, dengan terus-menerus menghujat tubuh-Nya, yaitu Gereja. Keyakinan Gereja ini diteguhkan lagi dalam Konsili Lateran IV (tahun 1215): “Barangsiapa yang ingin diselamatkan, di atas segalanya ia perlu memegang iman Katolik. Dan jika seseorang tidak berpegang dalam iman ini secara teguh dan utuh, tak dapat diragukan lagi bahwa ia akan binasa.” Dengan kata lain, sebagaimana tidak ada keselamatan di luar Kristus, tidak ada pula keselamatan di luar Gereja. Extra ecclesiam nulla salus!

Jika demikian bukankah ini bertentangan dengan pengertian di awal tulisan ini bahwa orang kafir pun yang jelas-jelas bukan anggota Gereja bisa diselamatkan asalkan ia hidup sesuai dengan hati nuraninya yang murni dengan menyembah satu Allah yang benar? Dalam hal ini, kita harus mengerti sebagaimana Gereja telah mengerti saat ia (Gereja) dengan berani dan tegas mengatakan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Kita harus melihat doktrin ini dalam kacamata iman Gereja secara keseluruhan dan juga faktor sejarah yang melandasinya.

Pertama-tama, sangatlah penting untuk mengerti bahwa doktrin di luar Gereja tidak ada keselamatan ini tidak ditujukan bagi orang-perorangan atau pribadi-pribadi non-Katolik, melainkan bagi komunitas-komunitas atau golongan-golongan non-Katolik. Jika ini benar bahwa hanya ada satu Tubuh Kristus, pastilah juga hanya ada satu Gereja. Setiap kelompok yang memisahkan diri dari Gereja atau yang sejak semula memang sudah tidak ada di dalam Gereja tidak mungkin dapat menjadi perantara kepada keselamatan. Hanya ada satu Gereja yang memiliki seluruh kepenuhan rahmat dan karenanya menjadi satu-satunya sarana untuk mencapai keselamatan di dunia ini.

Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak ada satu pun kelompok-kelompok atau komunitas-komunitas non-Katolik yang sepenuhnya non-Katolik atau anti-Katolik. Dengan kata lain, nilai-nilai luhur yang membawa keselamatan, yang secara penuh terkandung dalam Gereja, secara tidak penuh juga ada di dalam mereka.


SAUDARA-SAUDARA YANG MEMISAHKAN DIRI

Kita lihat golongan pertama, yakni mereka - baik Gereja Orthodoks di Timur maupun Gereja Protestan di Barat - yang secara sadar mengambil langkah untuk memisahkan diri dari Gereja.

Pemisahan diri mereka dari Gereja tidak berarti penyangkalan akan seluruh iman dan rahmat dalam Gereja. Walaupun mereka menolak Gereja Katolik, saat pergi mereka membawa serta dan mempertahankan sejumlah besar keyakinan Gereja sebagai keyakinan mereka juga. Oleh karena itu, mereka, secara keseluruhan, tetap mewarisi kekayaan rahmat yang ada dalam Gereja, yang telah diturunkan oleh Kristus melalui para rasul sendiri, misalnya: Sakramen Pembaptisan, yang merupakan rahmat luar biasa yang disediakan Allah bagi penebusan dosa. Walaupun mereka menyangkal ke-Katolik-an mereka, dengan iman dan cara-cara penyembahan yang Katolik mereka tetap bisa memperoleh keselamatan. “Karena mereka ini, yang percaya kepada Kristus dan menerima pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna.” (Dekrit Konsili Vatikan II tentang Ekumene, Unitatis Redintegratio, no. 3). Sehingga benarlah sabda Kristus: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini.” (Yoh. 10:16) Di mana pun, apabila Injil Kristus sungguh-sungguh diberitakan dan pembaptisan dilakukan di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, rahmat Allah bekerja. Ketika Yohanes berkata kepada Yesus bahwa ia baru saja mencegah seorang yang bukan termasuk bilangan para murid Yesus mengusir setan dalam nama Yesus, Yesus menegurnya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk. 9:50).

Masalah perpecahan memang sudah ada sejak awal Gereja. Hal ini secara khusus sangat dicela oleh Rasul Paulus (bdk. 1 Kor 1:10-17; 11:17-22). Perpecahan harus dikutuk (anathema). Namun mereka, yang sekarang ini lahir dari persekutuan-persekutuan Kristen yang memisahkan diri dari Gereja dan yang diresapi oleh iman kepada Kristus, tidak dapat dipersalahkan karena dosa perpecahan (Unitatis Redintegratio, no. 3). Perpecahan-perpecahan yang terjadi terkadang timbul dari kesalahan tokoh-tokoh kedua belah pihak. Namun, berbicara mengenai rahmat dan keselamatan, Gereja mempunyai keyakinan teguh bahwa hanya melalui Tubuh Kristus sajalah, corong keselamatan satu-satunya, seseorang dapat mencapai tujuan keabadian, yakni Kristus sendiri, seperti yang ditegaskan oleh salah seorang teolog terkemuka abad ini: “Walaupun mungkin bukan Gereja Katolik yang memberikan kepada mereka roti kehidupan dan rahmat, namun roti Katoliklah yang mereka santap. Dan saat mereka memakannya, mereka, tanpa menyadari ataupun menginginkan, diikutsertakan dalam substansi adikodrati Gereja. Walaupun secara lahiriah mereka terpisah dari Gereja, mereka tetap ada di dalam jiwa Gereja.” (Karl Adam, The Spirit of Catholicism, hal 179).


SAUDARA-SAUDARA LAIN DI LUAR KRISTEN

Kelompok yang kedua adalah mereka yang sejak semula memang tidak berada di dalam Gereja. Apakah para penganut agama non-Kristen bisa diselamatkan? Sebagaimana di dalam diri saudara-saudara Kristen kita yang lain, para penganut agama non-Kristen juga memiliki nilai-nilai luhur atau, menurut istilah Konsili Vatikan Il, berkas-berkas kebenaran yang mempunyai daya penyelamatan.

Paus Paulus VI dalam ensikliknya, yang membahas tentang perwartaan Injil, berjudul Evangelii Nunciandi, yang diterbitkan tidak lama setelah penutupan Konsili Vatikan II, memberikan angin segar bagi evangelisasi dengan mengesampingkan semua prasangka dan tuduhan yang menyakitkan bagi agama-agama non-Kristen. Paus menegaskan, “Gereja menghormati dan menghargai agama-agama non-Kristen sebab mereka merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia. Agama-agama ini mengandung gema usaha mencari Allah selama ribuan tahun...” Akan tetapi, untuk tidak membuat orang berpikiran bahwa Gereja menyamakan semua agama, beliau dengan cepat menambahkan bahwa usaha mereka itu merupakan, “...suatu usaha mencari yang tidak pernah lengkap, tapi kerap kali dilakukan dengan ketulusan yang besar dan kelurusan hati.” Dan yang paling penting adalah pernyataan beliau mengenai hubungan mereka dengan Allah, “Agama-agama tadi telah mengajar generasi-generasi umat manusia untuk berdoa.” (Evangelii Nunciandi, no. 53).

Santo Thomas Aquinas, berabad-abad sebelumnya juga telah memberikan pernyataan yang sangat jelas dan cerdas akan penyelenggaraan Allah, “Allah akan memelihara mereka yang tidak terjangkau oleh kabar akan Kristus, entah dengan mengirimkan malaikat-Nya kepada mereka ataupun melalui inspirasi batin.” (De Veritate, XIV, 11, ad 1). Ini luar biasa! Allah memperhatikan semua manusia dengan segala kebijaksanaan-Nya. Kita mengerti sekarang bagaimana manusia, meskipun tidak menerima wahyu Allah sejelas wahyu-Nya kepada bangsa Yahudi dan yang disempurnakan secara penuh dalam diri Putera-Nya, Yesus Kristus, ternyata secara samar-samar dapat menangkap wahyu Allah kepada mereka, entah itu melalui penampakan malaikat Allah ataupun inspirasi di dalam diri mereka yang terdalam! Allah sungguh-sungguh hadir juga dalam diri mereka, meskipun tidak sama dengan kehadiran-Nya dalam diri mereka yang telah dibaptis dalam air dan roh, tetapi Ia hadir secara hakekat dan ya, bahkan - dalam kualitas tertentu - secara rahmat. Gereja sejak semula mengajarkan bahwa rahmat Allah juga bekerja di luar Gereja yang kelihatan. Di sini kita bisa melihat perbedaan yang mendasar antara rumusan 'extra ecclesiam nulla salus' dengan rumusan 'extra ecclesiam nulla conceditur gracia' (di luar Gereja tidak ada rahmat).

Ini menjelaskan banyak hal, tetapi di pihak lain juga membangkitkan satu pertanyaan besar, “Jika hanya di dalam Gereja ada keselamatan, apakah nilai-nilai luhur yang memberikan keselamatan diberikan kepada mereka melalui Gereja? Jika demikian, apakah nilai-nilai luhur itu semata-mata milik Gereja yang 'dipinjamkan' kepada yang lain?”


UNIVERSALITAS DAN EKSKLUSIFITAS GEREJA

Kardinal Newman, seorang eks-pastor Protestan yang akhirnya menjadi Katolik dan yang kemudian bahkan terpilih menjadi salah seorang uskup Gereja Katolik, pernah mengatakan bahwa seandainya Gereja Katolik itu salah, kesalahannya itu pasti tidak kurang daripada kesalahan diabolik (kerasukan setan). Sebaliknya jika ia (Gereja Katolik) benar, pastilah ia didirikan dan diselenggarakan secara ilahi. Klaim Gereja akan dirinya sendiri memang sangat tinggi. Ia mengklaim dirinya tidak kurang daripada Tubuh Kristus sendiri, pemenuhan Kerajaan Allah di dunia, Gereja Kemanusiaan (Church of Humanity) yang memiliki kepenuhan nilai-nilai religius, institusi eksklusif tempat semua orang dapat memperoleh keselamatan. Ia tidak dapat mengakui bahwa orang dapat diselamatkan dengan menjadi anggota kelompok lain di luar Gereja primer, Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri.

Sesungguhnya kita harus mengerti bahwa Gereja, dalam hal ini, melihat semuanya di dalam terang universalitas dan keabadian, bukan semata-mata paham 'kemungkinan'. Memang, seperti telah diterangkan di atas, Gereja selalu menghargai kepercayaan dari kelompok lain bahkan mengakui bahwa banyak nilai-nilai yang terkandung di dalam kelompok-kelompok itu sungguh-sungguh mengandung unsur pewahyuan ilahi, tetapi yang - sekali lagi - tidak pernah lengkap. Dari sini Gereja melihat adanya bahaya yang sangat besar dari sistem-sistem religius ini. Gereja mengingatkan bahwa tanpa pengenalan akan Kristus mereka akan cenderung lebih mudah ditipu dan disesatkan oleh iblis, misalnya melalui: takhyul, kepercayaan kepada barang-barang keramat (jimat, pembawa keberuntungan, dan lain-lain), sihir, perdukunan, dan sebagainya.

Di atas, saya telah memakai gambaran bahtera untuk Gereja dan sekarang saya akan melanjutkan pemakaian gambaran itu. Kita semua harus mengarungi samudera yang amat luas untuk mencapai keselamatan dan satu-satunya sarana yang memungkinkan kita sampai kepada tujuan adalah bahtera Gereja. Di saat kapal-kapal baru yang lebih baru dan canggih silih berganti terlihat mendahului bahtera ini, ia tetap bergerak dengan lambat. Akan tetapi, dalam perjalanannya selanjutnya ia mendapati bahwa semua kapal yang pernah mendahuluinya ternyata tidak pernah berhasil mencapai tujuan mereka. Badai samudera telah menelan mereka semua. Di samping itu, ada padanya penumpang-penumpang, tentu saja terbagi dalam kelas-kelas yang berbeda. Ada di antara mereka yang memilih bernaung di dalamnya dengan aman dan terlindung. Ada pula yang memilih menahan dingin dan menanggung risiko tercebur ke dalam laut dengan menumpang di atas geladaknya. Bahkan ada yang memilih hanya bergantung pada sisi-sisi badannya tanpa tempat untuk menginjakkan kaki-kaki mereka. Semuanya adalah penumpang bahtera ini, tetapi siapa yang akan lebih mudah bertahan di dalam badai?

Memang paham universalitas Gereja ini sering disalahtafsirkan sebagai suatu bentuk fanatisme sempit (seperti yang saya lukiskan pada awal tulisan ini), namun saya mengajak Anda dan siapa pun yang membaca tulisan saya ini untuk benar-benar mempelajari dan mendalami ajaran-ajaran Gereja Katolik yang sejati (dokumen-dokumen Gereja dan ajaran-ajaran para Bapa Gereja). Setelah itu Anda bisa memutuskan sendiri, apakah ini kebenaran atau hanya semata-mata bidaah terbesar yang pernah ada.

sumber : “Vacare Deo” edisi Agustus / Tahun V / 2003; Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus; Pertapaan Shanti Bhuana

December 4, 2010

Sekilas Pandang Tentang Sejarah Gereja Perdana Dan Permasalahannya

Oleh : Rm Yohanes Bambang



Berbicara tentang Gereja Perdana atau yang disebut dengan sebutan Gereja Orthodox, maka segera muncul pertanyaan : Gereja apakah itu dan aliran darimana ? Pertanyaan yang demikian ini muncul bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena keberadaan Gereja Orthodox ini, tidaklah dikenal dan terlintas dalam pemikiran orang-orang Indonesia. Sebab dalam buku-buku yang ditulis oleh Fihak Gereja Roma katolik maupun Denominasi-denominasi Protestan, segala sesuatu sebelum munculnya Protestanisme dan sesudah zamannya para rasul selalu dianggap Gereja Roma Katolik, dan itu semua termasuk zaman kegelapan , anggapan seperti ini terutama muncul dari fihak Protestan. Dalam Cara Pandang seperti ini, maka orang hanya akan melihat kekristenan hanya dua wajah yaitu jika tidak Roma Katolik ya Protestan apa itu bentuknya.

Itulah sebabnya banyak orang tak dapat meletakkan Gereja orthodox atau Gereja Perdana secara tepat dalam spektrum Roma Katolik atau Protestan. Sebab ternyata Gereja Orthodox itu bukanlah bagian dari Gereja Reformasi, dan jauh lebih tua dari Gerakan Reformasi, dengan demikian tidak termasuk denominasi Protestan. Juga Gereja Orthodox tak pernah merupakan bagian Sejarah dan pemikiran yang mempengaruhi benua Barat yang memunculkan pemahaman Iman Gereja Barat yang berpusat di Roma, jadi Gereja Orthodox bukan bagian Gererja Roma Katolik modern, namun Gereja Orthodox adalah berasal dari awal munculnya Kekristenan itu sendiri. 

Kalau Gereja Perdana atau Gereja Orthodox itu muncul dari awal Kekristenan itu sendiri, maka Gereja ini adalah Gereja seperti yang dinubuat- katakan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri bahwa : “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya” ( Mat 16:18).

Apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini yaitu bahwa Ia akan mendirikan “jemaatNya” atau “GerejaNya”, setelah Dia disalibkan, dikuburkan, bangkit dari antara orang mati, naik ke sorga dan duduk disebelah kanan Sang Bapa, serta Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, maka “Gereja” yang dikata-nubuatkan oleh Tuhan Yesus itu terwujudlah. Oleh karena itu tidaklah heran bahwa turunnya Roh kudus pada hari Pentakosta (Kis 2) pada tahun 33 Masehi itu disebut sebagai lahirnya Gereja. Dan dengan turunnya Roh kudus serta dikuasainya para Rasul oleh Roh Kudus tersebut, maka mulailah gerakan besar-besaran, dimana berita Injil atau kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati itu mulai dikobarkan oleh para rasul.

Pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para rasul ini, disamping sebagai kesetiaannya terhadap mandat yang diberikan oleh Tuhan Yesus pada mereka sebelum kenaikanNya (Matius 28:20), juga merupakan dorongan dari Roh Kudus pada mereka untuk melaksanakan tugas mulia tersebut. Dan inti berita atau Injil yang dikumandangkan oleh para rasul kepada mereka yang belum mengenal akan Allah adalah mengenai kesengsaraan sampai dengan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Berita ini semula diberitakan secara lisan, karena Kristus memang tak pernah menulis Kitab ataupun menerima Kitab dari Sorga, itu sebabnya Dia tak pernah meninggalkan Kitab apapun pada para rasul, karena Dia itu sendirilah Firman Allah yang menjadi manusia. Kerygma Rasuliah ini secara lisan itu mula-mula disebarkan hanya disekitar daerah Palestina, dan akhirnya menjadi ajaran lisan komunitas yang baru, yang disebut sebagai “Gereja” atau “Ekklesia”, dan dari kata “Ekklesia” inilah muncul dan timbullah kata “Gereja” yang berasal dari Portugis “Igreja” dan sepadan dengan kata Spanyol “Iglesia”. Para rasul itu akhirnya menyebarkan berita baik itu kemana-mana: mulai dari Yerusalem dan seluruh Palestina, kemudian keseluruh Siria, Asia Kecil (kini negara Turki), Yunani, Afrika Utara terutama di Alexandria (Mesir) dan Kartago (Libia). Inilah batas sebelah barat dunia timur pada saat itu. Sedangkan ke Timur lagi, Injil tersebar ke Edessa (pada akhirnya menjadi kerajaan Kristen pertama kali karena Raja Abgar tersembuhkan dari penyakit kustanya melalui Sapu tangan Yesus atau disebut “Mandilion”), Mesopotania (Irak, Babilon), Persia (daerah Siria Timur) sampai ke India sebelah selatan. Sedangkan ke Barat lagi Injil diterima di Benua Eropa Barat, mulai dari Roma/Itali, Spanyol, dan natinya akan berkembang ke Seluruh Eropa. Dengan demikian jelas bahwa Injil itu tersebar dari Timur ke Barat dan di seluruh benua : Asia, Afrika, Dan Eropa. Disini terlihatlah sudah bahwa Iman Kristen itu pada dasarnya Agama Timur (Timur Tengah).

Pada saat inilah dokumen-dokumen yang akhirnya menjadi Kitab Suci Perjanjian Baru, mulai dituliskan oleh para rasul yang berdiri sebagai para pemimpin Gereja, dan surat- surat yang ditulis itu ditujukan pada Gereja – Gereja yang berada : di Roma, Korintos, Galatia, Efesus dll. Dan Para Pemipin Gereja yang secara langsung sebagai murid para Rasul ini adalah Titus, Timotius, Filemon dll, yang telah mereka angkat dan pilih. Dengan demikian jelas bahwa Gereja itu telah ada lebih dahulu sebelum Kitab Suci Perjanjian Baru itu dikanonkan. Pada saat ini orang-orang Non- Yahudi mulai diterima sebagai anggota Umat Allah, setelah adanya penyelesaian masalah penerimaan mereka, dan penyelesaian masalah dogmatis mengenai kedudukan Taurat, dalam Rapat Agung atau disebut Konsili para Rasul pertama kali di Yerusalem ( Kis 15). Konsili segenap Gereja inilah yang menjadi landasan adanya konsili-konsili di sepanjang sejarah itu. 

Orang-orang yang bertobat itu hanya perlu beriman kepada Yesus Kristus tanpa harus menjadi Yahudi dengan mengikuti ritus-ritus Taurat, lalu dibaptiskan serta menjadi anggota Ekklesia yang dipimpin dan digembalakan oleh para Presbiter(Penatua) dan Episkop (Penilik Jemaat) – (Kis 20:17, 28), dimana mereka ini menerima pentabisan dari para rasul itu sendiri (Kis 4:23) sebagai mata rantai pelanjut dan pengganti pelayanan Rasuliah. Para Rasul sendiri tidak menjadi “Gembala” (Episkop/Presbiter) secara local dari Gereja local tertentu secara permanen dimanapun juga. Masing-masing kelompok Ekklesia itu mempunyai ciri khasnya dan masalah-masalahnya sendiri, sebagaimana hal itu dapat kita lihat dalam Kitab Perjanjian baru, namun seluruh Ekklesia dipanggil untuk memegang doktrin yang sama dan melaksanakan ahklak hidup dan Ibadah yang sama pula.

Sebagaimana telah kita singgung diatas, bahwa Kristus sendiri telah mengatakan bahwa: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya “ (Mat 16:18). Dari apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus Kristus ini yaitu “alam maut tidak akan menguasainya”, itu jelas menunjuk pada artian bahwa selama Gereja itu ada dan ada di jagat ini, maka tantangan dan problematik yang dihadapi oleh Gereja itu selalu ada dan tidak pernah berhenti, namun tantangan dan problematik itu tidaklah pernah menjadikan Gereja itu hancur dan musnah sama sekali. Dan untuk lebih jelasnya tantangan apakah yang dihadapi oleh Gereja Perdana itu.


I. Tantangan yang dihadapi Gereja pada abad 1 s/d 4

Pada abad-abad awal dalam Sejarah Gereja Perdana ini, banyak orang Kristen mengalami aniaya dan tidak sedikit orang percaya yang terbunuh karena Imannya. Suatu misal pada tahun 64 Masehi ketika zaman pemerintahan kaisar Nero yang pada zaman itu pula St. Petrus dan St. Paulus mati terbunuh, banyak orang Kristen yang dikejar-kejar dan dianiaya. Sifat penganiayaan itu bersifat sporadis, suatu misal di disebelah Timur Mesopotamia yaitu ketika berada dibawah kekaisaran Agung Persia, banyak orang Kristen yang dianiaya karena cemburu pendeta-pendeta Agama Zoroaster, yaitu agama resmi Persia terhadap orang percaya, sementara di Roma sendiri Agama Krtisten dianggap sebagai “agama yang tak resmi” atau “Religio Illicita”, serta orang-orang percaya dianggap sebagai :
  • Atheisme : karena mereka tak menyembah dewa kafir Romawi-Yunani, sehingga
    mereka dianggap tak berdewa atau tak ber- Tuhan.
  • Kanibalisme : karena kebiasaan orang Kristen dalam setiap pertemuan Ibadah selalu makan daging dan minum darah seorang bayi.
  • Imoralitas dalam Kebaktian : Karena orang Kristen dalam Setiap kali pertemuan Ibadah selalu mengatakan “Cium Kudus” , yang oleh orang kafir hal ini dianggap telah melakukan perzinahan sumbang yaitu perzinahan sesama saudara. Hal seperti ini tentu saja telah menimbulkan rasa takut dan benci di kalangan orang kafir terhadap orang Kristen.


Sementara dari pihak pemerintah, karena orang Kristen menolak memberikan kemenyan di depan patung kaisar sebagai tanda loyalitas terhadap Kaisar yang dianggap sebagai “Dominus et Deus”, penolakan orang percaya memberi kemenyan pada patung kaisar, karena dalam pemandangan orang percaya hanya Kristuslah sebagai “Dominus” itu. Dan karena penolakannya itulah maka orang Percaya dianggap sebagai Pembangkang politik yang membahayakan, karena mereka mempunyai loyalitas terhadap Raja lain yaitu Kristus “Sang Dominus” itu.

Para Bapa Gereja yang mati teraniaya dan sahid pada abad-abad ini adalah Ignatius dari Antiokia, pengganti ketiga dari Rasul Petrus di Antiokia, Syria sebagai Episkop (110 Masehi), Polikarpus Episkop dari Smirna mati teraniaya dibawah Kaisar Marcus (l66 Masehi) dan Yustinus Sang Suhada. 

Dan juga perlu ditandaskan disini, bahwa abad-abad awal ini banyak sekali bermunculan tulisan mengenai Kristus, yang mana tulisan ini disebut sebagai “Apokrifa” (jangan dikacaukan dengan “Anaginoskomena” dari Perjanjian Lama) serta tulisan-tulisan “Pseudopigrafa”. Biasanya tulisan-tulisan itu memakai nama salah satu dari para rasul dan memasukkan dongeng-dongeng aneh mengenai masa kecil Kristus, kehidupan Prawan Maria dan kegiatan-kegiatan karya para Rasul. Dan sebagian dari tulisan-tulisan ini, menjadi bagian kisah dalam Kitab Suci Al-Qur’an terutama mengenai kisah masa kecil Tuhan Kita Yesus Kristus, dan bersama dengan itu muncul pula aliran “Gnostikisme” yaitu suatu bidat yang mengubah ajaran Kristen seperti ajaran kebatinan. Dan dalam rangka melawan pengajaran ini, Gereja menyebut ajaran Rasuliah ini sebagai ajaran yang “Orthodox” yang berasal dari kata “Orthos” yang artinya benar atau lurus dan “Doxa” yang berarti penyembahan atau ajaran, jadi kata Orthodox ini bukan berarti kolot namun “penyembahan yang lurus atau pengajaran yang lurus benar”, dan sebagai lawan Orthodox adalam Heterodox. Dan akibat dengan banyaknya ajaran palsu dan Gnostik inilah, maka para Apologist dan Bapa Gereja menekankan pentingnya “suksesi Rasuliah” dan bersama itu pula tulisan-tulisan mana yang dianggap oleh Gereja bisa menjadi bahagian dalam kanon Kitab Suci. Tulisan-tulisan yang bisa dimasukkan dalam kanon itu harus :
  1. Berasal dari zaman rasul.
  2. Ditulis rasul sendiri atau teman/murid dekat mereka
  3. Sesuai ajaran rasuliah tanpa putus sebagai paradosis dalam Gereja
  4. Digunakan secara merata di seluruh Gereja awal
  5. Harus mengajarkan kesucian dan bukan dongeng-dongeng gnostik.

Dan berdasarkan seleksi yang dilandaskan atas persyaratan diatas, maka surat-surat yang dapat dimasukkan kedalam kanon Kitab Perjanjian Baru itu hanya ada 27 Surat atau kitab.

Menginjak pertengahan abad ketiga ini, penganiayaan besar-besarpun terhadap orang percaya juga terjadi, suatu misal pada tahun 249 ketika Kaisar Decius naik tahta, kaisar ini mengadakan penganiayaan terhadap orang Percaya secara universal, dan penganiayaan ini dilanjutkan oleh Kaisar Valerianus (253-260). Dalam penganiayaan ini, orang percaya dipaksa mempersembahkan korban kepada patung kaisar sebagai “Tuhan” dan Illah”, para rohaniwan harus dikejar dan dibunuh, harta benda Gereja harus disita. Dan baru setelah anak Valerianus naik tahta dan berdiri sebagai Kaisar, maka penganiayaan terhadap orang Kristen dihentikan. Dengan berhentinya penganiayaan ini Gereja berkembang secara luar biasa, namun akibat penganiayaan itu telah mengakibatkan krisis besar didalam Gereja.

Mengapa ? karena bagi mereka yang pada saat penganiayaan itu mau dengan rela mempersembahkan korban pada patung kaisar, selalu dipertanyakan. Ada yang memperbolehkan masuk Gereja kembali, dan ada yang tidak memperbolehkan serta orang-orang ini disebut sebagai kaum “Lapsi”

Disisi lain pada abad ini muncul lagi bidat “montanisme” yang didirikan oleh “Montanus”, dimana Montanus mengajarkan karunia lidah, nubuat-nubuatan dan Kerajaan Seribu tahun akan segera datang di pulau Frigia – Asia Kecil. Pembela Agung Gereja saat itu adalah “Js. Kiprianus” dari Karthago dan meninggal pada tahun 258. Dia meninggal sebagai Martir setelah membela Gereja Rasuliah yang orthodox dan Katolik dan melawan aliran garis keras yang memisahkan diri dari Gereja karena masalah “lapsi”. Aliran yang dilawan itu adalah aliran “Novatianisme” yang didirikan oleh “Novatianus” yang berada di Roma. Dan Novatianus ini menyebut alirannya sebagai “Gereja yang murni”. Kiprianus membela Gereja Rasuliah Orthodox dan katolik itu dengan menekankan perlunya “mata rantai rasuliah” dalam ajaran dan “mata rantai rasuliah” dalam pentahbisan para Episkop. Dan Kiprianuslah yang mengatakan “extra Ekklesia nulla salus est” artinya diluar Gereja yaitu diluar persekutuan kongkrit dari umat yang percaya secara pribadi pada Kristus dibawah pimpinan rohani Episkop yang berlandaskan suksesi rasuliah disekitar meja Perjamuan Kudus dan pemberitaan Firman oleh Presbyter, tidak ada keselamatan. Pada abad ketiga ini dapat kita saksikan adanya perkembangan yang luar biasa, karena adanya pendirian Sekolah Theologia di Alexandria – Mesir yang dipelopori oleh Pantaenus dan Klemen dari Alexandria ( yang meninggal kira-kira tahun 215), yang kemudian Sekolah Theologia ini di handle atau dipegang-kepalai oleh seorang penulis, sarjana dan theologia termasyur Origenes (meninggal pada tahun 253). Yang menjadi penekanan pada theologia Alexandria ini bahwa filsafat Yunani yang non-kristen itu dapat digunakan sebagai alat untuk menjelaskan Kitab Suci. Dan ciri khas pendekatan Alexandria ini adalah tafsiran secara alegoris terhadap Kitab Suci, sedangkan dalam Tradisi Syria Antiokia yang tak lama kemudian akan berkembang adalah pendekatan secara harafiah berdasarkan tata bahasa dan sejarah penulisan Kitab Suci. Kedua Pendekatan ini akhirnya akan bertemu dalam konflik pada abad-abad berikutnya. 

Karya Origenes ini sangat luar biasa dan tak terhitung jumlahnya. Dialah yang pertama kali mengadakan kajian Sistimatis dan sastrawi dari buku-buku dalam Alkitab. Dan Karya Origenes ini akan menjadi fondasi karya-karya theologia para bapa Yunani pada abad-abad berikutnya, namun demikian secara ajaran banyak pendapat Origenes yang ditolak oleh Gereja, karena tak Alkitabiah dan tak rasuliah, sehingga pada Konsili Ekumenis ke V (tahun 553), beberapa ajaran Origenes dinyatakan sesat oleh Gereja. Diantara pakar-pakar theologia abad ke 3 yang harus disebutkan bersama dengan, Kiprianus, klemen, dan Origenes adalah Dionysios dari Alexandria (wafat 265), Hippolytus dari Roma (wafat 235), Gregorius Pelaku Mujizat dari Kappadokia (wafat 270) dan Methodios dari Olympus (wafat 311). Orang-orang inilah yang memperekembangkan theologia Kristen terutama yang meletakkan dasar bagi pembahasan Tritunggal Mahakudus.

Pada abad ke 4 dimulai dengan penganiayaan yang paling besar yang diarahkan pada Gereja oleh kaisar Diokletianus. Daftar Syuhada atau Martyr yang paling panjang berasal dari abad ini. Setelah surutnya Diokletianus, terjadilah perebutan kekuasaan dalam kerajaan Romawi. Pada tahun 312, Konstantinus menghadapi peperangan melawan Maxentius dan sebelum terjadi peperangan di jembatan Milvianus di Roma, Konstantinus berdoa, serta mendapat penglihatan Salib bersinar di langit dengan tulisan “Dengan tanda ini , kalahkan”. Kemudian dia memerintahkan para prajuritnya untuk mengenakan tanda salib ini pada perisai dan jubah mereka dan akhirnya Konstantinus memenangkan pertempuran itu. Dengan menangnya Konstantinus pada pertempuran itu, maka dia memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen dan bahkan dia menunjukkan kecenderungannya kepada Iman Kristen itu.

Sebelum kematiannya Konstantinus membangun suatu kota di Byzantium bagi Ibu Kota yang baru dari kerajaannya dan kota itu disebut Konstantinopel ( kini disebut Istambul atau Turki) untuk menghormati dia. Konstantinus sendiri baru dibaptis diatas ranjang menjelang kematiannya pada tahun 337. Bersama dengan ibunya Maharatu Heleni,dia menemukan Salib asli Kristus di Yerusalem, serta keduanya diakui sebagai orang kudus Gereja Orthodox sampai sekarang ini. Iman Kristen diakui sebagai agama resmi kerajaan Byzantium pada tahun 380 oleh ketetapan Kaisar Theodosius. Sementara itu umat Kristen di Syria yang tinggal di kekaisaran Persia, makin mengalami aniaya karena dicurigai sebagai antek musuh kerajaan Persia, karena kerajaan Romawi yang menjadi musuh bebuyutannya sekarang telah menjadi kerajaan Kristen Byzantium.


II. Masa Konsili Agung Ekumenis Gereja Rasuliah yang Satu dan Orthodox : pada abad ke IV (tahun 325) sampai dengan abad ke VIII (tahun 787) 

Pada saat Pemerintahan Konstantinus ini, Gereja mendapatkan kembali harta miliknya, serta terbebas dari aniaya yang luar biasa, namun ketentraman Gereja ini segera diganggu oleh munculnya bidat-bidat yang berasal dari dalam. Pertama adalah munculnya aliran perpecahan “Donatisme” di Afrika utara yang dipimpin oleh Donatus, yang menolak Episkop terpilih di Karthago yang dianggap termasuk golongan “Lapsi” pada saat penganiayaan zaman Diokletianus. Bukannya Konstantianus membiarkan Gereja untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, namun dia menggunakan kekuatan militernya pada pertama kali untuk memihak, pihak Donatis, dalam memaksakan keputusan nya. Dan dalam perpecahan Donatisme ini menyebabkan lenyap dan punahnya Gereja Afrika Utara (Libia, Maroko, Aljazair) yang dulu pernah jaya.


1. Konsili Agung Pertama ( tahun 325 Masehi) 

Konsili yang pertama ini diadakan di Kota Nikea dengan dihadiri oleh 318 Episkop, dan tujuan diadakan konsili ini adalah untuk melawan ajaran Arianisme yang mengatakan bahwa : “Ada saatnya bahwa Sang Sabda itu tidak bersama-sama dengan Allah” atau “Bahwa Allah itu hanya Sang Bapa saja, Anak Allah yang akhirnya menjelma menjadi manusia itu, adalah mahluk pertama yang diciptakan oleh Allah dalam wujud roh, dan dibantu oleh mahluk yang pertama ini Allah menciptakan jagat dan manusia ( band Kol 1:15). Tentu saja ajaran ini tidak benar, oleh karena itu dalam sidang itu dirumuskan : “Bahwa Sang Firman yang juga disebut Anak Allah itu bukan diciptakan, karena Dia itu Allah” ( Band Yoh l:l-2, 10:30, 8:42, Yoh 6:41,38).


2. Konsili kedua (tahun 381 Masehi) 

Konsili ini diadakan di kota Konstantinopel guna melawan ajaran Makedonius bahwa : “Roh Kudus itu bukan Illahi, namun Dia itu hanyalah daya aktif Allah saja” karena itu dalam Sidang Konsili itu dirumuskan bahwa : “ Roh kudus itu adalah Allah, yang keluar dari Sang Bapa, yang bersama Sang Bapa dan Sang Putra disembah dan dimulyakan (Yoh 15:26, 1 Kor 2:2-l0, Yoh 14:26, Kej 1:1-3).
Dan pada saat konsili pertama dan kedua inilah baru diteguhkan kembali menjadi satu rumusan pengakuan Iman (syahadat), yang menjadi Pengakuan Iman Orthodox sampai sekarang dengan sebutan “Pengakuan Iman Nikea”.

Para tokoh spiritual (para bapa Gereja) yang sangat berjasa dalam membela Iman Rasuliah yang Orthodox, menentang Arianisme dan Makedonianisme pada saat itu adalah Bapa Suci Athanasios Agung Episkop dari Alexandria ( wafat tahun 373) yang banyak mengalami aniaya dari Pemerintah dan pengikut Arianisme, serta tiga Episkop dari Kappadokia(Asia Kecil) Bapa Suci Basilius Agung (wafat 379), saudara laki-lakinya Bapa suci Gregorius dari Nyssa (wafat 379) serta sahabat mereka berdua Bapa Suci Gregorius Naziansus Pakar Teologi (wafat 389). Mereka inilah yang banyak menderita aniaya dari Pemerintah dan pengikut Arianisme, namun mereka tidak takut untuk menjelaskan Iman Kristen tentang Ke- Illahian Kristus dan Roh Kudus didalam kesatuan hakekat dari Allah yang Esa, yang mana hal tersebut tetap dipegang teguh oleh umat Kristen sebagai standart Aqidah sampai sekarang.

3. Konsili ketiga (tahun 431 Masehi) 
Konsili ini diadakan di Kota kalkedonia yang dipimpin oleh Bapa Gereja Js. Kirilos Patriark Alexandria, guna melawan ajaran Episkop Nestorius dari Konstantinopel yang mengajarkan bahwa : “ Kristus itu manusia biasa anak Maria, yang dirasuk oleh Sang Firman, sehingga dalam Kristus itu ada dua Pribadi yaitu : Pribadi Kristus anak Maria dan Pribadi Sang Firman yang merasuki manusia Yesus, hingga demikian Nestorius menolak Maria sebagai “ Sang Theotokos” ( Yoh 1:1-2, 14:7, Luk 1:43)


Sinode Rampok


Suatu Muktamar terkenal sebagai Sinode Rampok diadakan di Efesus pada tahun 449 Masehi. Muktamar ini menjunjung tinggi pengajaran-pengajaran Mazhab Alexandria yang dinyatakan pada tahun 431 Masehi. Pertemuan ini tidak diterima Gereja secara menyeluruh karena tendensi Monofisitismenya ( Mono = satu, fisis = keberadaan) dimana dikatakan bahwa didalam Kristus hanya ada satu kodrat keberadaan saja, yaitu sifat keberadaan Illahi. Ini diakibatkan karena menafsir pengajaran Kirilos pada sisi yang sangat Ekstrem.

Pada tahun ini Leo Agung, Patriarkh Roma, juga mengeluarkan “tomos” (uraian pengajaran) Dogmatik, dimana dia dengan jalan membedakan dua sifat keberadaan Kristus. Kebijakan Leo adalah moderat, menggabungkan pemikiran Kirilos dari Alexandria dari Mazhab Antiokia. “Tomos”nya itu dijunjung tinggi dalam Muktamar di Kalkedonia (451)


4. Konsili ke empat (tahun 451 Masehi) : 

Sidang ini diadakan di kota kalkedonia, tujuannya adalah untuk menekankan hubungan Ke-Illahian dan kemanusiaan Kristus, serta menekankan kembali apa yang sudah ditetapkan pada sidang yang ketiga. Dalam Sidang ini , sekali lagi gelar Maria sebagai sang “theotokos” ditekankan, dan keesaan Pribadi Yesus Kristus serta keidentikannya Pribadi itu dengan sang Firman diproklamasikan (Yoh 10:30, 14:7). Dan dalam sidang itu dirumuskan bahwa :

Pribadi Yesus Kristus itu adalah sama dengan Pribadi Sang Firman, karena Firman itu telah menjadi daging (yoh 1:14). Dalam Diri Sang Firman yang menjadi manusia itu mempunyai dua tabiat dasar yaitu : tabiat dasar Sali (Yoh 10:30, 14:7, 6:42) dan tabiat dasar baru yaitu tabiat dasar manusia yang diambil dari darah dan daging Maria (Gal 4:4, Luk 2:40, 1 Yoh 1:1-2, Mat 4:2)

Tabiat dasar asali dan tabiat dasar baru itu manunggal dan tak bercampur baur, yang Illahi tetap Illahi dan yang manusiawi tetapi manusiawi. Keputusan ini tak disetujui oleh Filoksenius, Dioskoros dan Eutyches, serta mereka mengatakan bahwa tabiat dasar Kristus itu hanyalah satu ( Monofisit, Mono = satu, fisis = tabiat dasar). karena menurut mereka kemanusiaan Kristus itu telah ditelan Ke IllahianNya, sebagaimana setetes air ditengah – tengah samudra. Dan faham ketiga orang ini diikuti oleh sebagian besar Gereja Alexandria dan Ethiopia, Gereja Siria dan Gereja India, dan mereka terkenal dengan sebutan kaum Non-Kalkedonia atau kaum Monofisit. Namun pada tanggal 11- 15 – 19964 diketika diadakan pertemuan ( dialog antara Kaum Kalkedonia dan Monofisit) di Rhodos, Kaum Non-Kalkedonia (Oriental) tidak mempercayai apa yang diajarkan oleh Filoksonius, Dioskoros dan Eutyches, itu hanya berbeda dalam ungkapan, namun pengertian sama persis.

Dalam Konsili ini juga memberikan kedudukan “pertama dalam penghormatan “ kepada Roma diatas Konstantinopel (Roma Baru) sedangkan Konstantinopel menduduki urutan kedua sesudah Roma, kemudian diikuti oleh urutan sebagai berikut : Alexandria, Antiokia, Yerusalem. Roma menduduki urutan Pertama karena Roma adalah Ibukota kekaisaran sebelum dipindah ke Byzantium dan karena Petrus dan Paulus mati sahid ditempat itu. Jadi kedudukan Roma sebagai yang pertama itu, bukan karena alasan teologi maupun alasan “hak Illahi”, namun itu hanyalah alasan praktis saja, administrative dan politis saja.


5. Konsili kelima ( tahun 553 Masehi) 

Sidang ini diadakan di kota Kaisar Yustinianus di Konstantinopel. Dalam sidang ini Kaisar Yustinianus berusaha untuk mengembalikan kaum Monofisit kedalam Gereja Perdana atau Gereja Orthodox. Caranya adalah dengan mengutuki tulisan-tulisan Teodoret dari Siprus, Ibas dari Edessa dan Theodoros dari Mopsuestia, yang mana tulisan-tulisan itu disebut dengan sebutan “Tiga Naskah”. Namun usaha Yustinianus ini gagal, karena kaum Monofisit tak mau kembali dan malah menuduh bahwa Iman Kalkedonia ini mengikuti faham Nestorian. Tentu saja hal ini salah faham besar, karena dengan mengutuki pengajaran “Tiga Naskah” yang cenderung mengikuti faham Nestorian, justru untuk membuktikan pada kaum Monofisit bahwa Iman kalkedonia ini tidaklah sefaham dengan ajaran Nestorian. Dan bahkan ajaran penulis terkenal Origenes juga dikutuk, karena ajarannya sangat tidak Orthodox, misalnya : mereka mengajarkan bahwa Kristus adalah satu-satunya roh yang diciptakan Allah yang tidak menjadi benda jasmani (Yoh 1:1-2, 14 Kol 1:15-16), dan roh manusia itu ada dari kekal sebelum menjadi manusia (kej 1:26-27, 2: 7).


6. Konsili keenam (tahun 680-681 Masehi) 

Pribadi-pribadi yang penting dalam sidang ini adalah Bapa Gereja Maximos Sang Pengaku Dosa dan Bapa Gereja Martin Patriarkh Gereja Roma saat itu. Sidang ini diadakan di kota Konstantinopel. Tujuan diadakan sidang ini adalah untuk melawan ajaran “Monothelitisme” (Mono = satu, thelima = kehendak), dimana disana diajarkan bahwa “Kristus hanya mempunyai satu kehendak saja yaitu kehendak Illahi”. Dan para Bapa Gereja melihat ajaran ini sebagai ajaran “Monofitisme” tersembunyi (Yoh 6:38 band Mat 26:39).


7. Konsili ke tujuh (tahun 787 Masehi) 

Sidang ini diadakan di kota Nikea, yang menyatakan bahwa Ikon harus disimpan dan dihormati. Karena Ikon-ikon dalam Gereja itu adalah merupakan refleksi iman Gereja dan itu masih dipegang teguh sampai sekarang dalam Gereja Orthodox atau Rasuliah.

Perlu dicatat disini, bahwa pergolakan Ikonoklasme dimulai oleh Kaisar Leo III. Ikon adalah gambar-gambar simbolis mengenai Kristus, IbuNya dan orang-orang kudus milikNya. Asal-usul Ikon dapat ditemukan dalam peninggalan awal dari orang Kristen ketika masih hidup dalam katakombe-katakombe atau bahkan lebih dini lagi, dimana sukar bagi mereka untuk mengaku Iman mereka secara terang-terangan. Maka untuk untuk mengekspresikan Iman Kristen mereka, mereka menggunakan gambar-gambar dan lambang-lambang, dan gambar-gambar semacam inilah disebut Ikon. Gereja Orthodox sebagai kesinambungan Gereja mula-mula itu, memelihara kebiasaan menggambarkan Iman Kristen itu dalam wujud symbol-simbol ini, dalam bentuk ikon yang mempunyai arti teologis secara mendalam.

Dengan bangkitnya Islam yang oleh teologinya sangat anti gambar manusia (meskipun menggunakan kaligrafi) terutama pada waktu pemerintahan Kalifah Yazid di Syria yang sezaman Leo itu, juga oleh pengaruh orang-orang Yahudi, dan pengaruh Filsafat kafir Yunani yang mengatakan bahwa yang jasmani dan yang benda itu buruk, yang baik hanya yang abstrak dalam ide dan kata-kata saja, maka Leo III ini menyerang Ikon sebagai berhala. Periode ini terkenal sebagai periode pertama Ikonoklasme.

Terkait dengan bahasan mengenai Ikon ini, Yohanes dari Damaskus, seorang kudus, Bapa Gereja Yunani dan pengarang kidung-kidung Gereja kita dan pengarang buku teologia sistematika Gereja yang disebut “Eksposisi Iman Orthodox”, juga seorang pembela utama Ikon pada tahun 749 menegaskan, bahwa Ikon bukanlah berhala namun symbol. Dalam Perjanjian Lama memang “patung ukir-ukiran” dilarang (Kel 20:1-5), karena pada waktu itu Allah menampakkan Diri tanpa wujud yang nyata namun hanya dalam suara saja (Ul 4:12,15-19), sehingga menggambarkan sesuatu yang tanpa wujud adalah sesuatu yang mustahil dan dusta. Namun kalau yang digambar itu bukan Allah serta tak disembah sebagai Allah meskipun itu terletak dalam ruang tersuci dalam tempat Ibadah, yang dengan sendirinya orang akan sujud kalau masuk ke situ, bukan saja tak dilarang malahan diperintahkan ( Kel 25: 18-25, 1 Raj 6:23-28, 32-35, 8: 6-8).

Didalam Yesus , Allah telah menjadi manusia (Yoh 1:14), berarti nampak dan bisa dilihat oleh mata (1 Tim 3:16, l Yoh l :l), dengan demikian bisa digambar. Penampakkan sebagai manusia itulah yang digambar, dan bukan Ke-AllahanNya yang tak nampak. Jadi yang digambar bukanlah Allah yang Roh, karena itu mustahil , dusta dan dilarang, tetapi kemanusiaanNya, yang adalah mungkin, berguna dan tak dilarang. Jadi bukan berhala, sebagaimana kerubim dalam Perjanjian Lama itupun bukan berhala. Lagi pula secara ketat yang dilarang itu adalah “patung”. Ikon itu bukanlah patung tetapi gambar. Maka Ikon meskipun diletakkan pada tempat Ibadah, itu bukanlah berhala, sebagaimana Kerubim dalam bait Allah itupun bukan Berhala.

Kalau orang menunduk pada kerubim pada waktu mereka masuk ke Bait Allah, dan tak dianggap berhala, maka mengapa orang yang menghormati gambar Sang Juru Selamat dan orang-orang milikNya yang adalah saudara kita dalam Iman, dianggap menyembah berhala ? Berhala adalah menyembah sesuatu yang bukan Allah dan dianggap Allah, Ikon itu bukan gambar Allah, bukan pula disembah sebagai Allah, namun itu adalah gambar kemanusiaan Allah Sang Firman yang menjelma sebagai manusia, agar arti Inkarnasi Sang Sabda secara jasmani itu tak terlupakan. Yang ditekankan dalam teologi Ikon itu adalah realita inkarnasi yang betul-betul jasad jasmani. Jadi pergolakkan Ikonoklasme ini adalah pergolakan dari orang-orang yang tak mengerti implikasi Inkarnasi. Jadi itu bukan semata-mata pergolakan gambar, namun lebih menunjuk pada pergolakan kemanusiaan kristus dan Kristologis. Dan untuk mentaati larangan tak membuat patung dan ukir-ukiran dan untuk menekankan arti Inkarnasi itulah, Gereja Orthodox melarang sama sekali menggunakan Patung, tetapi menekankan membuat Ikon, karena Kristuslah Ikon(gambar) Allah itu ( Kol 1:15).

Pecahnya Gereja Barat : Roma dari Gereja Timur : Orthodox pada tahun l054 Kardinal Humbert dan dua utusan Paus yang lain menempatkan “Bulla” (Surat Keputusan Paus) pengucilan pada tanggal 16 Juli l054 di atas mezbah Gereja Hikmah Kudus (Aghia Sofia) di Konstantinopel terhadap Patriarkh Michael Kerularius, dan kutukan yang ditujukan oleh Gereja Roma pada Gereja Timur atau Orthodox adalah bahwa : Gereja Timur sudah mengurangi “Filioque” dari pengakuan Iman Nikea,mengijinkan Presbyternya menikah, dan kesalahan Liturgis karena tak menggunakan Liturgi yang dipraktekkan oleh Gereja Barat : Roma. Memang lucu pernyataan mereka ini lucu, mereka yang menambah, justru yang memegang aslinya dianggap mengurangi. Kejadian ini secara umum diambil sebagai garis batas permulaan dari “perpecahan besar-besaran” antara Gereja latin barat dari Gereja Orthodox Timur. Dan sebaliknya Gereja Timurpun mengadakan pengutukan pengucilan terhadap Gereja barat : Roma. Namun demikian bahkan sesudah tahun l054 hubungan persahbatan antara Timur dan Barat masih berlangsung.

Persoalan teologis utama pada konflik tersebut adalah : l). Pernyataan diri Paus, sebagai Penguasa Gereja dan wakil Kristus serta pengganti Petrus, satu-satunya, hal yang tak pernah dikenal di Gereja Timur maupun zaman Rasuliah.


Problem “Filioque”


1.Gereja Orthodox atau Perdana meyakini bahwa bahwa dalam hal-hal Iman keputusan akhir bukan tergantung pada Paus sendiri, tetapi pada Konsili Agung Eukumenis yang diwakili oleh seluruh Episkop Gereja dan kemudian diterima oleh “Hati Nurani” segenap Gereja, termasuk Paus juga, sehingga satu tak ada yang lebih atas dari yang lain. Maka segenap Gereja (Rohaniwan, dan bersama –sama kaum awam) yang harus memberikan keputusan semacam itu. Roh Kudus menuntun dan membimbing segenap Gereja untuk sampai kepada segenap kebenaran , jadi bukan hanya Paus saja yang dibimbing. Dan segenap Gereja itu diwakili oleh segenap Episkopos dan kemudian diterima oleh segenap warga Gereja.

2.Tidak jelas dimana pertama kali tambaham “Filioque” ini, diberikan oleh Gereja barat (yang kemudian setelah adanya Gereja-gereja Protestan yang keluar dari Gereja barat itu, juga mengikuti dogma ini) , tetapi itu nampaknya berasal dari Spanyol sebagai usaha untuk menjaga dari Arianisme, dan dengan pasti digunakan dalam Konsili Toledo (tahun 589). Filioque ini kemudian dianut oleh Bangsa Faranggis yang pertama kalinya membuat hal itu sebagai suatu bahan pertikaian, dan menuduh Gereja Timur sebagai bidat karena mengucapkan Pengakuan Iman Nikea dalam bentuk aslinya. Gereja Orthodox melihat penambahan “filioque” pada Pengakuan Iman Nikea itu, sebagai sesuatu yang tidak perlu dan itu sangat bahaya serta bidat. Alasannya adalah sebagai berikut:
  1. Karena Kristus adalah satu-satunya kepala Gereja, dan Gereja keseluruhan adalah tubuhNya, maka dalam perkara-perkara keputusan yang menyangkut Iman, segenap Gereja secara serentaklah yang dengan pimpinan Roh Kudus melalui suara bersama dalam Konsili Agung yang dapat menyuarakan kehendak Roh Kudus mengenai kebenaran (Kis 15:28). Sehingga keputusan konsili Eukumenis itu adalah suara segenap Gereja dan apa yang telah diputuskan itu tidaklah dapat diganggu gugat, baik ditambah maupun dikurangi oleh siapapun. Penambahan yang dilakukan oleh Gereja Roma dengan “Filioque” itu, dimata Gereja Timur adalah merupakan pengkhianatan secara langsung terhadap keesaan Gereja dan arti tubuh Kristus, serta pelanggaran terhadap prinsip yang olehnya Muktamar/Konsili Agung Eukumenis itu diadakan. Jadi penambahan Filioque yang dilakukan oleh Gereja Barat tanpa persetujuan bersama itu, telah melanggar akan dogma ekklesiologi.
  2. Dengan tambahan “filioque” (dan Sang Putra), maka mengakibatkan pengakuan iman Nikea itu menjadi “Dan Aku percaya pada Sang Roh Kudus, Tuhan, Sang Pemberi hidup yang keluar dari Sang Bapa “dan Sang Putra” (et filioque)..”. Gereja Timur melihat hal itu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab, karena dalam Yoh 15:26 dikatakan bahwa Roh Kudus itu meskipun dikirim oleh Sang Putra (sesudah Penjelmaan, kematian, kebangkitan dan kenaikanNya ke Sorga – Kis 2:33, Yoh 7:39) tetapi hanya keluar dari Sang Bapa saja (dari kekal sebelum adanya penciptaan, jadi sebelum penjelmaan Sang Putra kedunia). Roh Kudus disebut Roh Yesus, Roh Kristus, Roh Anak Allah atau Roh Yesus Kristus itu, bukan karena keluar dari Sang Putra, namun karena dikirim oleh Yesus Kristus ke dalam dunia, yaitu sesudah Ia menerima Roh dari Sang Bapa (Kis 2 :32-333)
  3. Kalau Roh Kudus itu keluar dari Sang Bapa dan sang Putra, maka itu berarti ada dua pokok didalam Diri Allah Tritunggal itu, yang dengan demikian menyebabkan adanya dua Allah, padahal Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa Allah itu Esa, Satu, karena hakekatNya satu dan pokok atau sumber ke-Allahan dalam Tritunggal itu adalah Satu, yaitu Sang Bapa saja (l Kor 8:6).
  4. Kalau Roh Kudus keluar dari “Sang Bapa dan sang Putra” dianggap seolah-olah keluar dari satu sumber saja, dengan demikian perbedaan kepribadian Sang Bapa dan Sang Putra dikaburkan, yang berarti jatuh pada semacam doktrin Sabelianisme yang dikutuk oleh Gereja, meskipun bukan Sabelianisme secara penuh, setidak-tidaknya semi Sabelianisme
  5. Kalau Roh Kudus itu keluar dari “Sang Bapa dan Sang Putra”berarti ada dua sumber ke-Allahan, kemudian dimana letak keesaan Allah? Kalau dikatakan bahwa letak keesaan Allah itu terletak pada hakekat (essensiNya) dan bukan pada salah satu Pribadi dalam Tritunggal itu, jelas itu bertentangan dengan Alkitab yang mengatakan bahwa bagi kita hanya ada “satu Allah saja, yaitu Sang Bapa (l Kor 8:6). Menurut Alkitab dan itu selalu diajarkan oleh Gereja Orthodox, keesaan Allah itu terletak pada Pribadi Sang Bapa yang satu, yang didalamnya hakekat Allah yang satu itu tinggal, dan didalam hakekat Allah yang satu dan sama itu, Sang Putra berada dan Sang Roh Kudus tinggal. Sang Putra berada disitu sebagai yang “diperanakkan, dan bukan diciptakan” sejak kekal. Sedang Sang Roh Kudus berada disitu sebagai yang “keluar dari Sang Bapa” sejak kekal pula. Sang Putra dan Sang Roh Kudus itu bukanlah mahluk, namun itu adalah Firman dan Roh Allah sendiri yang sejak kekal tanpa awal maupun akhir berada pada Allah. Dengan demikian keesaan Allah dijaga, realita dan keillahian Sang Putra dan Sang Roh Kudus ditekankan.
  6. Kalau keesaan Allah dipandang dari EsensiNya, berarti Allah yang Esa itu bukan lagi Pribadi (Sang Bapa), namun suatu Dzat atau esensi mutlak. Kalau demikian halnya apa bedanya Allah orang Kristen dengan Allah Filsafat Yunani maupun agama Hindu ?
  7. Kalau Allah yang Esa itu adalah Dzat mutlak yang tak berpribadi (The impersonal absolute), padahal orang Kristen diperintahkan untuk bersekutu dengan Allah yang Esa itu, maka dengan demikian jelas persekutuan itu berarti bersekutu dengan esensi mutlak tersebut. Dengan bersekutu dengan esensi berarti melebur kedalamnya, maka dengan demikian apakah bedanya Iman Kristen dengan keyakinan Hindu-Budha (bahkan untuk konteks Indonesia :Kebatinan), mengenai peleburan diri manusia ke dalam dzat Illahi, dalam ide semacam ini ? Jelas ini bukan Iman Alkitab, bukan pula pengajaran rasuliah, oleh karena itu ajaran semacam ini ditolak oleh Gereja rasuliah atau Orthodox.
  8. Karena Roh Kudus itu keluar pula dari Sang Putra, maka dengan demikian Roh Kudus dianggap lebih rendah dari Sang Putra. Karena itu Roh Kudus mundur kebelakang layar. Akibatnya, karena secara jasmani Sang Putra tak ada di dunia, Dia memerlukan seorang “Vikar” yang tak dapat salah didunia ini – Paus. Padahal “Vikar” Kristus dalam dunia ini adalah Roh Kudus sendiri yang berbicara melalui keserentakan dan keserempakan segenap Gereja, dan bukan berpusat pada individu-individu tunggal maupun jamak. Akibat “Filioque” ini adalah sentralisasi Paus “yang tak dapat salah” dan individualisme yang dimulai dari Paus yang merembet pada system protestanisme, sehingga terjadinya perpecahan-perpecahan Gereja yang tak ada kunjung hentinya. Padahal kita menghendaki Gereja yang Esa, kalau akar penyebabnya tidak kita buang yaitu “Filioque”, maka keesaan Gereja yang kita dambakan tak akan kunjung tiba. Jadi sebagaimana dengan pertikaian mengenai Ikon, pertikaian “filioque” ini bukan hanya sekedar mengenai hal sepele, tetapi menyangkut esensi Iman Kristen itu sendiri. Itulah beberapa dasar teologis dan praktis yang dilihat oleh Gereja Orthodox atas penolakannya terhadap tambahan “filioque” yang dilakukan oleh Gereja Barat : Roma, kemudian dianut Gereja Protestan di dalam segala alirannya. Sejak saat ini Gereja barat makin jauh terpisah dari segi teologis maupun dari segi praktis dari Gereja Orthodox atau Gereja rasuliah, yang mengakibatkan makin bertambah-tambahnya ketetapan- ketetapan dan doktrin-doktrin baru yang tak pernah dikenal oleh Gereja Timur sejak zaman kuno. Suatu misal doktrin-doktrin baru yang dimunculkan dan tak dikenal oleh Gereja Timur adalah : Dogma Maria terkandung tanpa noda asal dan dogma kenaikannya ke sorga, meskipun Maria juga dihormati dalam Gereja Timur, Dogma Paus yang tak dapat salah Ex Cathedra, Dogma kedudukan Paus sebagai Gembala Universal satu-satunya pewaris tahta Petrus, Dogma Api Penyucian, Dogma Transsubstansiasi dari Perjamuan Kudus, Dogma Rahmat Orang Kudus yang berlebih bagi keselamatan mereka sendiri dan rahmat yang berlebih ini disimpan dalam Gereja : Paus, berhak untuk membagikannya pada nyawa yang kekurangan rahmat dan berada dalam api penyucian, sehingga terjadilah penjualan surat pengampunan dosa pada abad ke 16 akibatnya Revolusi Reformasi yang dimulai oleh seorang Biarawan Martin Luther pada tahun 1517, dan lain-lain. Karena sejarah Reformasi tidak mempunyai kaitannya secara langsung dengan Sejarah Gereja Orthodox, serta dampaknya tak terasa sama sekali dalam Gereja Orthodox, maka kami tak membahas masalah ini pada pertemuan kita saat ini.