Oleh : Bambang Noorsena
Saya ingin jadi martyr di Tanah Suci. Jika saya kalah suatu hari nanti seorang anak Palestina akan mengibarkan bendera di atas gereja dan masjid
(Presiden Yasser Arafat).
Gambar Warga Kota Kristen Arab, Nazareth Melempari Zionis pada tahun 2000
Sumpah Yasser Arafat ini diucapkan ketika Israel menyekapnya di Ramallah, menyusul pelarangannya untuk menghadiri khidmad Miladiyah (misa hari Natal) lalu, sebuah ritual semi-resmi kenegaraan Palestina setiap akhir tahun.) Pidato Arafat di atas, menunjukkan bagaimana posisi sebenarnya umat Kristen Arab dalam masalah Israel-Palestina, yang selalu bahu membahu dalam menghadapi zionisme Israel. Masalah ini penting dikemukakan sebagai imbangan informasi yang apriori dan serba satu sisi mengenai masalah Timur Tengah selam ini, khususnya Israel-Palestina, yang selama ini dianggap konflik antara Islam dan Kristen.
GEREJA-GEREJA ARAB MENOLAK ZIONISME ISRAEL
Ibu-ibu Kristen Berjilbab di tanah Palestina. Demo di atas menunjukkan bagaimana ibu- ibu Kristen Arab pun berjihad menentang pendudukan rasis zionis di Bethlehem. Bagaimana dengan anda ????
Sejak solidaritas Arab Palestina dibentuk, yang pada gilirannya diarahkan untuk menentang zionisme Israel, bahkan pada saat-saat paling krisis, orang-orang Kristen ada di tengah-tengah perjuangan itu sejak semula. “Pada masa-masa krisis melawan Israel”, kata uskup Najib Quba’in, salah seorang pemimpin gerakan ekumene gereja-gereja di Timur Tengah, “secara naluriah, orang-orang Palestina, baik Muslim maupun Kristen, menjadikan gereja sebagai tempat berlindung dan bertahan”.) Najib Quba’in sudah mengatakan hal itu kira-kira tahun 1986, dan itulah yang kini terjadi kembali di Kanisah al-Mahd (Gereja Kelahiran Kristus), sehingga tentara Israel mengepung bangunan suci Kristen tersebut.
Mengapa orang-orang Arab Kristen, bersama-sama saudara Muslim mereka, menolak zionisme Israel sejak semula? Penolakan itu, bukan hanya didasarkan atas alasan politis, melainkan juga atas klaim teologis Yahudi di atas tanah yang mereka sebut Erets Yisrael (Tanah Israel) itu. “Janji akan bangsa terpilih itu”, tulis Mar George Khodre, seorang Uskup yang menggeluti dialog antariman di Lebanon, “telah digenapi dalam diri Kristusm keturunan Nabi Ibrahim”) Tanah Israel, dalam perspektif Perjanjian Baru, kini diwujudkan dalam warisan rohani oleh Roh Kudus. Karena itu umat pilihan, tidak hanya dinyatakan dalam satu bangsa, melainkan sebagai kesaksian Allah kepada segala bangsa. Pandangan teologis ini, tidak dapat diartikan sebagai sikap anti-Semistisme, seperti dipahami orang Yahudi zionis.
“Hati nurani Kristen”, tulis Khodre lagi, “akan terhindar dari sikap anti-semitisme, hanya apabila dibedakan tegas antara umat Yahudi dan Negara Israel”. Karena itu, orang Arab Kristen menolak zionisme sebagai ideologi, karena zionisme menggagahi hak-hak orang Palestina yang hidup di Tanah Suci, lalu mereka mengembangkan kebudayaannya sendir, aspirasi-aspirasi, senti-mensentimen dan keyakinan-keyakinan politik mereka dalam kerangka nasional Yahudi. Sebaliknya, umat Arab Kristen , memaklumkan sebuah universalisme mengatasi konflik, dan menginginkan kebersamaan diantara umat Yahudi, Kristen dan Islam di Palestina berdasarkan keikhlasan dan pengakuan atas pluralisme etnik, sosial dan agama.)
Pemahaman seperti ini, juga menjadi garis perjuangan Yasser Arafat yang memandang perjuangan Palestina bukan didasarkan Islam. Dalam kunjungannya ke Indonesia tahun 1984, Arafat malah mengakui bahwa umat Yahudi, bersama Kristen dan Muslim, adalah bagian dari tradisi Palestina yang hidup berdampingan secara damai dengan hak-hak kewarganegaraan yang sama. Juga, klaim Kristen bahwa umat pilihan Tuhan tidak identik dengan sebuah negara Israel, malahan diakui oleh orang-orang Yahudi di Eropa yang menggelar demo anti-Zionisme akhir-akhir ini. “Zionisme tidak akan sukses”, kata mereka. “Umat Yahudi tidak membutuhkan negara, sebelum kedatangan Mesiah”.) Perlu dicatat, sampai hari orang Yahudi masih menantikan kedatangan Mesiah, karena menolak Yesus sebagaimana dipahami dalam iman Kristen.
ORANG-ORANG KRISTEN DI PENTAS PERJUANGAN PALESTINA
Natal pun Tiada damai karena Zionist. Sekali lagi penjajah rasis Zionist israel membuat ulah. Pada hari natal 2005 mereka menghalangi para pendeta Lutheran bangsa Arab palestina dan jemaatnya yang hendak merayakan Natal kudus di tanah kelahiran Yesus di Bethlehem. Pendeta Munib Younan, pemimpin utama gereja Lutheran Palestina berasal dari Yerusalem, sedangkan istrinya Souad Yacoub dari Kfar Bir’im, satu wilayah yang desanya rata dengan tanah karena dihancurkan penjajah rasis zionis. kapan perayaan Natal damai di tanah merdeka Palestina, tanpa moncong senjata arogan zionist ?????
Garis pemikiran Arab Kristen, sebagaimana disuarakan oleh tokoh-tokoh gereja di Timur Tengah itu, dilanjutkan oleh para pejuang Kristen Palestina sekarang. Faktanya, diantara para pejuang Palestina yang rata-rata tangguh itu, didalamnya terdapat peran penting orang-orang Kristen. Dr.Hanan Ashrawi, yang sangat berperan sebagai negosiator Palestina dalam Perjanjian Oslo tahun 1993, yang juga pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Riset Otoritas Palestina, adalah juga seorang Kristen. Selain Ashrawi, kita juga mengenal George Habash dari The Populer Front for the Liberation of Palestine (PFLP), Nayef Hawatme dari The Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP) dan Wali Hadad dari kelompok militan “Black September”. Sekalipun orang-orang Kristen juga turut dalam gerakanIntifadah melawan Israel, tetapi mereka tidak menjadikan Kristen sebagai landasan perjuangan, melainkan nasionalisme yang terbukti lebih mampu menyatukan rakyat Palestina.
PFLP dan DFLP ini, bersama dengan faksi-faksi nasionalis lain, seperti Al-Fatah, The Arab Liberation Front (ALF). The Palestine Liberation Front (PLF), dan The Palestine Comunist Party (PCP), bergabung dalam The Palestine Liberation Organization (PLO) yang dipimpin Yasser Arafat. Disamping Arafat, George Habash dan Hawatma adalah orang-orang yang berperan dalam terselenggaranya The Palestine National Council (PNC), yang mengangkat masalah Palestina sebagai bagian solidaritas bangsa-bangsa Arab. Selain mengangkat semboyan al-Wahda al-Wathaniyya (kesatuan Tanah Air), eksistensi Palestina, khususnya di bawah PLO, tegak berdiri ‘ala azas mustaqill wa mutakafi’ ma’a al-atraf al-ma’aniyya al-ukhra (menurut dasar kemerdekaan yang berlandaskan kesamaan dengan kekuatan politik lain). Selain itu masih disebut nama Uskup Ilyas al-Khouri, yang menjadi anggota eksekutif comitte (EC) PNC. Perlu dicatat PNC yang merupakan rintisan politik awal menuju terbentuknya negara Palestina ini, mengangkat 15 anggota EC yang mewakili faksi-faksi politik dan kelompok independen masyarakat.)
Setelah perjanjian Oslo 1993 menghasilkan pengakuan berdirinya Palestina, di kalangan Knesset (Parlemen) Israel masih berdiri partai-partai Arab. Partai-partai Arab ini, sekalipun tidak pernah memperoleh suara yang signifikan dalam pemilihan umum, didirikan untuk menampung aspirasi orang-orang Arab yang menjadi warga negara Israel. Disini, kita juga mengenal Dr.Azmi Bishara, seorang Kristen dari Partai Arab Hadash Balad, yang sangat vokal menentang kebijaksanaan partai garis keras Yahudi yang anti Israel. Dr.Azmi Bishara ini, saking vokalnya, pernah mencalonkan diri jadi PM Israel tahun 2000 yang lalu. Langkah tidak populer Bishara ini, tentu saja sangat menjengkelkan partai-partai kanan Yahudi, sampai-sampai Dr.Kteiner dari partai Gesher Likud, mengajukan RUU yang melarang orang Arab menjadi PM Israel.
Pada saat Israel membombarbir Ramallah, Jenin dan wilayah-wilayah Palestina sekarang, Hadash Balad ini, melalui juru bicaranya Issam Makhaol, bersama-sama dengan Yigal Bibi dari National Religion Party (NRP) dan Talab A.Safa dari United Arab Party (UAP), berusaha keras menentang kebijaksanaan Ariel Sharon, hingga mereka diusir keluar dari ruang sidang Knesset. Partai-partai Arab di Knesset Israel ini, juga menjadi salah satu kekuatan lobi politik Arafat. Dalam konfilk Isarel-Palestina sekarang, yang setelah pembebasan Arafat dari sekapan tentara Israel masih menyisakan “krisis al-Mahd Nativity”,--karena Israel yang dikonsentrasikan pada gereja kelahiran Kristus di Bethlehem,-- sikap para pemimpin gereja di Palestina sangat tegas. Lihat saja, misalnya, bagaimana komentar Patriakh Latin Michel Sabah yang tidak henti-hentinya menyerukan kebersamaan Kristen-Islam dalam melawan agresi Yahudi. Patriakh Theodosious Hanna dari Orthodoks Yunani, yang mengatakan bahwa politik “ethnic cleaning” Sharon lebih buruk ketimbang “apartheid” Afrika Selatan dahulu. Sedangkan uskup Riah Abu al-Essal dari gereja Anglikan, ketika Israel mengutuk trend bom bunuh diri warga Palestina, ia menangkisnya dengan argumen bahwa tindakan itu hanya ekses dari pelanggaran Israel terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Mengenai penilaian “sayap kanan” islamis Palestina terhadap kebijaksanaan penyelesaian damai dengan Israel. “Fatamorgana perdamaian, atau perdamaian fatamorgana?” tanya Yusuf al-Qaradhawi skeptis, dalam al-Quds. Qadhiyyat Kulli Muslim. Karena itu, bagi Qardhawi, solusi masalah Palestina bukan pena tetapi pedang. Sikap inipun, terlepas menyetujuinya atau tidak, juga tidak bisa dikatakan mewakili “solusi islami” atas masalah Palestina, lalu vis a vis dihadapkan dengan faksi-faksi nasionalis yang mayoritas didukung Kristen. Sebab Edward Said, penulis buku Orientalism yang terkenal itu, juga menolak semua hasil perundingan Oslo tahun 1993 yang menghasilkan perdamaian Palestina-Israel. Bagi intelektual Kristen keturunan Palestina ini, perdamaian dengan Israel akan dijadikan Palestina sebagai pihak yang selalu dikalahkan dan dirugikan.
Begitu pula, dari antara korban-korban gerakan Intifadah Palestina melawan Israel beberapa tahun lalu, banyak ditemukan mereka yang tewas dengan kalung salib di dada mereka. Salah seorang Kristen Palestina yang menjadi pemimpin gerakan Intifadah adalah Mubarak Awwad, yang juga pendiri The Palestinia Center for Study of Non-violence, di Yerusalem.) Ahmad al-‘Alami, dalam bukunyaYaumiyyat al-Intifadhah, yang memuat laporan lengkap mengenai peristiwa dan korban-korban Intifadhah itu, juga menyebutkan peranan lembaga-lembaga Kristen di Bethlehem bekerjasama dengan pemerintah Palestina membantu para pejuang Palestina.)
TEOLOGI PEMBEBASAN PALESTINA
Posisi Kristen dalam gerakan Intifadha dan perjuangan Palestina pada umumnya, juga ditulis oleh teolog Pembebasan Palestina, Naim S.Ateek dalam bukunya,Justice, and Only Justice. A Palestinian Theology of Liberation,) dan Faith and The Intifadha: Palestinian Christian Voices. ) Perlu ditambahkan di sini, teologi Pembebasan Palestina adalah refleksi teologis Kristen Palestina terhadap situasi yang dialami oleh rakyat Palestina, khususnya dalam menghadapi ketidakadilan Barat dan Israel.
Tokoh-tokoh teologi Pembebasan Palestina, antara lain: Abba Mitri Raheb dari Bethlehem, Uskup Munib A.Younan dari Ramallah, dan Abba H.Shehadeh dari Shabaram, Galilea. Berbeda dengan teologi Pembebasan di Amerika Latin yang menggunakan “pisau analisa” Marxis, teologi Pembebasan Palestina sepenuhnya adalah refleksi Kristen setempat, yang berangkat dari kondisi riil rakyat Palestina. Pokok-pokok pemikiran teologi Pembebasan Palestina hendak menjawab pergumulan ini:
- Cara pendekatan terhadap Alkitab yang melulu dipandang dari sudut Israel, tentu telah melahirkan sikap “menghalalkan segala cara” asal untuk kepentingan Israel, dan itu berarti mengorbankan orang Palestina. Maksudnya, Alkitab ditarik untuk kepentingan kelompok tertentu dengan mengorbankan manusia yang lain yang juga sama-sama umat Allah. Akibatnya, Kitab Suci yang satu dan sama itu menjadi “berkat bagi Israel, dan kutuk bagi Arab-Palestina”.
- Bagaimana menjawab klaim kelompok Yahudi (yang didukung kelompok Kristen Injili Amerika) tentang penguasaan terhadap “Tanah Suci”, khususnya Yerusalem, yang dikaitkan dengan kembalinya umat Yahudi diaspora pada tahun 1948. Padahal realitanya sekarang tanah Palestina telah menjadi “wathan” (tanah air) bersama Israel dan Palestina, dengan tetap memelihara identitas Yahudi, Kristen dan Islam. Tidak bisa menghapuskan salah satu identitas ketiga iman rumpun Ibrahim tersebut.
- Menghadapi klaim-klaim teologis, baik Yahudi ataupun Islam, umat Kristen merefleksikan bagaimana keadilan Allah dalam kasus yang tak kunjung selesai. Dalam Kristus, Allah tidak hanya mengasihi umat Israel, tetapi juga seluruh dunia (cf. Yohanes 3:16, Liannahu hakadza ahaba Ilahu ‘alam), termasuk bangsa Palestina juga.
- Berdasarkan hal itu semua, bagaimanakah sekarang tugas orang beriman dalam menciptakan perdamaian di Palestina. Berdasarkan bunyi Manifesto Nazaret, bahwa Yesus diutus untuk “… menyampaikan kabar baik untuk orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang, tawanan, penglihatan kepada orang buta, membebaskan orang-orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19). Mengacu pada sabda Yesus, Thuba lishaani’is salaami, liannahum abbna’a Ilahu yud’uun (Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah), para teolog pembebasan mengajak semua orang Kristen memberlakukan sabda Yesus tersebut dalam konteks Palestina-Israel sekarang.
Catatan Kaki :
- Presiden Arafat selalu berpidato di Gereja al-Ma’had setiap Natal (‘Idul Milad), suatu peristiwa yang justru tidak pernah terjadi di negara Israel yang Yahudi. Ketika pemerintah Israel melarang Arafat berpidato di Gereja, ia tetap menyelenggarakan Natalan di istana Ramallah yang dihadiri 19 denominasi gereja di Tanah Suci (Al-Ru’ya, 26 Desember 2001).
- Larry Ekin, “Palestinians and the Response of the Oriental Churches” dalam WSCF Journal, May 1986, p.55.
- Metropolitan George Khodre, “Christian of the Orient: Witness and Future. The Case of Lebanon”, dalam WSCF Journal, May 1986, p.39-40.
- Ibid,h. 40.
- Demontrasi Yahudi Orthodoks ini dilancarkan di Gedung Komite Urusan Publik Israel-AS, di Washington, Senin 22 April 2002 (Surabaya Post, 23 April 2002). Di Tel Aviv, Sabtu, 10 Mei 2002 demonstrasi 60.000 (bahkan ada yang menaksir 100.000) warga Israel juga memprotes pendudukan kota-kota Palestina oleh tentara Israel (Media Indonesia, 13 Mei 2002).
- Joshua Teitelbaum, “The Paletine Liberation Organization” dalam Itamar Rabinovich-Haim Shaked (ed.), Middle East Contemporary Survey (San Fransisco-London : Westview Press 1986), p.205-210.
- Dr.Yusuf al-Qaradhawi, Palestina Masalah Kita Semua. Alih bahasa: ICMI Orsat Kairo (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999)
- Daniel L.Vuttry, Christian Peacemaking: From Heritage to Hope (Valley Forge, PA: Judson Press, 1994), pp.89-90.
- Ahmad al-‘Alami, Yaumiyyat al-Intifadhah (Al-Quds: Mansyurat wal Jaraat al-‘Alam al-Falisthin, 1995)
- Naim S.Ateek, Justice, And Only Justice. A Palestinian Theology of Liberation (New York: Orbis Books, 1990)
- Mark H.Elias dan Rosemery Radford Reuther (ed), Faith dan the Intifada: Palestinian Christian Voices (New York: Orbis Books, 1992)
Oleh: Leonard C. Epafras
[1] Disajikan dalam diskusi di Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), Surabaya, 14 April 2009
Pada bulan Mei 1919, di gedung bioskop Zohar di kota Jaffa, Asosiasi Muslim-Kristen Arab mengadakan sebuah pertemuan terbuka. Undangan diedarkan secara luas dan isinya menekankan pentingnya persoalan bangsa Arab yang akan dibicarakan. Pertemuan dimulai pada hari Minggu pukul 10 pagi dan berakhir lebih dari dua jam kemudian. Lebih dari lima ratus penduduk Jaffa dan desa-desa sekitarnya hadir. Pembicara utama, yang juga adalah ketua Asosiasi ini, adalah seorang Arab Kristen, sedangkan tiga orang pembicara lainnya dari kalangan Muslim. Salah seorang darinya adalah Syaikh buta dari kota Ramle. Semua berbicara dalam satu semangat, bahwa penduduk Palestina telah mengalami penindasan yang berat di masa kekuasaan Turki [Usmani] dan sekarang tiba waktunya bagi kemerdekaan. Para pembicara memuji pemerintah Inggris dan membayangkan masa depan gemilang bangsa Arab yang sama gemilangnya dengan masa lalu mereka. Toh, menurut mereka, bangsa Arablah yang membawa pencerahan akal budi bagi Eropa. Jadi, logis adanya jika mereka akhirnya mendapatkan kemerdekaan nasional. Muslim dan Kristen akan bersatu dalam satu agama, yaitu agama bumi pertiwi, yang akan memberi hak yang sama bagi semua penduduknya.
Pertemuan ini juga menjanjikan persamaan hak bagi penduduk Yahudi setempat tetapi tidak menyetujui tambahan imigran Yahudi. “Kami sama sekali tidak menentang Yahudi,” kata salah seorang pembicara. “Kami hanya menentang Zionisme. Itu bukan hal yang sama. Zionisme sama sekali tidak berakar pada Hukum Musa (Taurat). Ia hanya ciptaannya Herzl.” Ia juga menyebutkan dengan bersemangat bahwa banyak orang Yahudi sendiri yang menentang Zionisme, dan bagi orang-orang Yahudi yang menentang Zionisme tidak ditolak untuk tinggal di Palestina. Pembicara lain menekankan bahwa bangsa Arab harus menunjukkan keramahan mereka kepada bangsa Yahudi, selama mereka tidak menunjukkan kecenderungan separatis. …
Pada penghujung pertemuan para peserta menyetujui sebuah resolusi yang berbunyi Palestina adalah bagian dari Syria, yaitu sifat otonominya berada dalam kerangka Siria Raya (Greater Syria) di bawah kekuasaan Pangeran Faisal. Tidak akan ada negara tersendiri bagi bangsa Yahudi. Seseorang lalu menyarankan agar setiap orang menandatangani sebuah deklarasi untuk menjadi dasar bagi perwujudan resolusi tersebut. Segera timbul reaksi keras atas saran ini. Peserta lain tak ingin membubuhkan tanda tangan mereka karena mereka tidak diberi tahu sebelumnya. Terdengar teriakan-teriakan dan keributan. Salah seorang peserta yang marah melompat ke atas panggung dan berteriak ke arah kerumunan, “Kalian semua tak punya rasa nasionalisme! Kalian kawanan belaka! Kalian tidak mengerti bahwa apa yang kita lakukan hari ini adalah demi bangsa kita! Pada momen ini nasib bangsa akan ditetapkan bagi generasi mendatang! Kita tak akan membiarkan diri seperti domba dituntun ke pejagalan!” Keributan akhirnya mereda, tetapi kemudian gubernur militer [Inggris] muncul dan memerintahkan agar pertemuan dibubarkan.
(dikutip dari Tom Segev, One Palestine, Complete, h. 105-106)
Konflik Palestina-Israel saat ini semakin menyerap perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Konflik ini sudah sangat lama, bahkan dari perspektif agama-agama Ibrahimi (Yahudi, Kristen dan Islam) sering akarnya ditarik jauh hingga ke zaman leluhur bangsa Semit, yang tertuang dalam kisah keagamaan konflik antara Ishak (Iskak) dan Ishmael (Ismail), serta Yakub dan Esau. Banyak pihak yang menganggap konflik ini tidak mungkin diselesaikan kecuali dengan mengalahkan salah satu secara total, entah itu pihak Palestina atau Israel. Ada juga yang meyakini dan memegang harapan pasti ada jalan bagi perdamaian keduanya. Ada pula yang mengambil perspektif eskatologis yang memandang konflik ini “harus” ada sebagai bagian dari skenario akhir zaman, di mana akan terjadi perang dunia terakhir yang disebut Armageddon di tanah Palestina/Israel. Apapun perspektifnya dampak yang terjadi jelas di mana banyak sekali tragedi kemanusiaan, ketidak adilan, rasa tidak aman dan ketakutan seharusnya membuat kita memikirkan dengan mendalam konflik ini.
Diskusi kita pada hari ini bertujuan untuk melihat secara terbatas konflik ini dari perspektif sejarah. Pentingnya melihat dari perspektif sejarah adalah untuk melihat dinamika interaksi di antara dua bangsa ini, yang dalam keriuhan publik saat ini sering diabaikan. Melalui media massa, tergantung perspektif yang kita ambil, kita cenderung mencari alasan sederhana dan kambing hitam tunggal dalam konflik yang rumit ini. Paling sedikit perspektif sejarah membantu serba sedikit memahami persoalannya. Makalah sederhana ini sama sekali tidak membuat pretensi akan menemukan solusi atas konflik.
Pertemuan Jaffa yang dikutip di atas hanyalah salah satu pertemuan awal dari serangkaian pertemuan yang diselenggarakan di kalangan bangsa Arab yang tinggal di Palestina dalam rangka mencegah imigrasi Yahudi dan membangun negara merdeka Arab. Kita hanya bisa berandai-andai jika pertemuan di Jaffa berakhir dengan penanda tanganan deklarasi prinsip tentang nasib bangsa Arab. Apakah itu berarti tidak akan pernah ada negara Israel modern? Apakah itu berarti juga tidak akan ada negara bagi bangsa Arab di Palestina? Apakah itu berarti yang ada adalah negara Siria Raya? Dan seterusnya. Kita tidak akan pernah tahu sebab kenyataannya adalah “kegagalan” tercapainya deklarasi ini hanyalah salah satu dari “kegagalan” yang beruntun pada upaya-upaya bangsa Arab (Palestina) selanjutnya untuk mencapai cita-cita hak penentuan nasib sendiri. Hampir setengah abad kemudian muncul adalah negara Israel modern sedangkan bangsa Arab Palestina masih harus berjuang untuk memiliki negara sendiri. Namun demikian, ada beberapa hal yang penting dari kisah di atas untuk dicermati dalam membuka diskusi kita.
Konteks pertemuan di atas adalah saat di mana Timur Tengah secara umum dan daerah Palestina khususnya belum lama terlepas dari kekuasaan Turki Usmani (Ottoman). Perang Dunia Pertama baru saja berakhir setahun yang lalu dengan kemenangan Sekutu, yang dimotori oleh Inggris dan Perancis atas kelompok Poros, yang dimotori oleh Jerman. Turki Usmani karena berbagai pilihan politis berada di kubu Jerman dan karena itu Inggris dan Perancis memeranginya. Kemenangan Inggris tidak lepas dari dukungan bangsa Arab yang berharap imbal balik Inggris untuk mendukung berdirinya negara(-negara) Arab yang independen. Kita salah mengira jika menganggap persekutuan Inggris dengan bangsa Arab dan permusuhannya dengan Turki bersifat kekal. Sebelum Perang Dunia Pertama, justru Turki adalah sekutu Inggris dalam berperang melawan Perancis dan sempat pula menjadi sekutu Inggris maupun Perancis dalam melawan Rusia. Timur Tengah pada abad kesembilan belas dan awal abad dua puluh sudah mencerminkan ketegangan politik kontemporer.
Turki Usmani adalah kekuatan Islam yang menguasai Timur Tengah sejak abad 15 dan kekuasaannya pada masa puncak mencapai Afrika Utara. Praktis Turki Usmani adalah kekuatan Islam di wilayah Arab yang menggantikan kekuatan-kekuatan Islam sebelumnya seperti Dinasti Ummayah, Abbasiyah, dan Mamluk. Karena itu, berbeda dengan kekuasaan Islam di luar Timur Tengah, misalnya seperti di Asia Tengah dan Selatan, kesultanan Usmani dipandang menjadi pelindung agama Islam dan sultannya adalah Kalifah di dunia Islam. Banyak pemimpin Islam di tempat lain membutuhkan dukungan politis Sultan Usmani untuk meneguhkan kekuasaan mereka. Contohnya kesultanan Aceh yang meminta bantuan Sultan Usmani untuk melawan kehadiran bangsa Portugis di Selat Malaka pada abad 16.
Kesultanan Turki Usmani adalah salah satu masa keemasan Islam yang menghasilkan banyak produk budaya Islam yang berkualitas tinggi. Karena kesultanan ini bukanlah berasal dari bangsa Arab, sedangkan wilayah yang dikuasainya sebagian besar (paling sedikit) berbudaya Arab maka kesultanan ini harus menghadapi penentangan dalam negeri, baik secara sporadis maupun skala besar. Di samping itu dalam era kekuasaannya pula gagasan modernitas Eropa menyusup masuk dan memengaruhi politik dalam negerinya. Kesultanan ini adalah kekuasaan Islam pertama yang mengadopsi gagasan emansipasi bagi kelompok-kelompok sosial budaya dalam wilayahnya. Kota suci tiga agama besar, Yerusalem (atau al-Quds)di bawah kekuasaan Turki adalah contoh bagaimana kesultanan harus mengatur dengan ketat hak-hak masing-masing kelompok agama untuk beribadah. Sebab, setiap pertengkaran intra kelompok, misalnya antar berbagai aliran Kristen, maupun antar kelompok, misalnya antara kelompok Kristen, Islam dan Yahudi akan dapat berdampak pada kestabilan wilayah. Meskipun dalam kasus kota suci Yerusalem, pertentangan antar kelompok itu sudah ada sejak lama, bahkan telah menyebabkan sembilan Perang Salib, tetapi dalam kekuasaan Turki lah secara perlahan pertentangan itu mencapai dimensi internasionalnya setelah berbagai aliran gereja (Barat dan Timur) hadir di sana.
Sekitar tahun 1880an Turki mulai menyaksikan gelombang besar imigran Yahudi ke wilayah Palestina. Tentu saja kehadiran orang Yahudi di Palestina ini bukan pertama kali. Sejak kekalahan bangsa Yahudi melawan pemerintahan Romawi dalam dua kali usaha pemberontakan pada abad pertama, mereka terusir dari wilayah Palestina. Usaha pemberontakan ini tidak saja mengusir bangsa Yahudi dari sebagian wilayah Palestina, terutama Yerusalem, tetapi juga menghancurkan pusat ibadah agama Yahudi, yaitu Bait Suci mereka. Titik Bait Suci itu saat ini menjadi tempat tersuci ketiga bagi umat Islam, yaitu Haram al-Sharif dengan Mesjid al-Aqsa dan Qubat al-Sakhra (Dome of the Rock). Sedangkan sisa-sisa temboknya menjadi tempat tersuci kelompok Yahudi. Sejak terusir itulah maka bangsa Yahudi membangun kultur diaspora dan model keagamaan baru yang berpusat pada ajaran para Rabi dan sering disebut Yudaisme Rabinis. Kultur diaspora yang dihasilkan orang Yahudi di perantauan tidak melupakan aspirasi untuk kembali ke negeri Palestina, paling sedikit dalam harapan keagamaan mereka. Tanda yang paling kuat dalam hal ini adalah dalam liturgi perayaan Paskah yang selalu ada formula “Tahun depan (merayakan Paskah) di Yerusalem” (le shana ha-ba’a be Yerushalayim). Meskipun demikian secara fisik mereka tidak benar-benar pergi dari tanah itu. Selalu ada orang Yahudi di Palestina meskipun Palestina bukan tempat yang “menarik” selain karena alasan keagamaan. Sepanjang sejarah sesudah kekalahan bangsa Romawi hingga kekuasaan Islam selama kurang lebih 13 abad, Yerusalem tidak pernah menjadi perhatian besar. Hanya masa ketika bangsa Eropa datang dan melakukan Perang Salib, Yerusalem menjadi titik pertarungan. Namun itupun masih karena alasan keagamaan. Hingga masa kekuasaan Turki komunitas Yahudi yang terbesar ada di tiga kota Palestina, yaitu Yerusalem, Hebron dan Safed. Pada tahun 1800an penduduk Yahudi di Palestina sekitar dua puluh ribu, Kristen Arab enam puluh ribu, di tengah sekitar lima ratus ribu lebih Arab Muslim dari aliran Sunni.
Jadi gelombang imigrasi yang disaksikan pemerintah Turki adalah orang-orang Yahudi Eropa yang didorong oleh semangat untuk membangun koloni Yahudi di Palestina. Sebagian besar dari mereka berasal dari Eropa Timur (Rusia, Polandia, Romania, Ukraina) yang mengalami penganiayaan besar (pogrom) oleh semangat antisemitisme. Kepergian mereka ke Palestina berdasarkan berbagai motif, baik ekonomi maupun keagamaan. Mereka tidak berbahasa Arab melainkan Yiddish (campuran Ibrani dan Jerman). Kehadiran mereka sebagian dibiayai oleh orang-orang kaya dan terpandang Eropa, terutama dari keluarga Rothschild. Gelombang pertama ini dikenal dalam sejarah Israel sebagai Aliyah yang pertama. Aliyah (“mendaki”) dalam Yudaisme (agama Yahudi) bermakna naik ke tempat tinggi di sinagoge yang di sebut bimah untuk membaca Taurat atau memimpin ibadah. Arti kedua, yaitu kepergian ke Palestina/Israel untuk merayakan hari raya atau memenuhi kewajiban agama. Gagasan yang sama seperti di kalangan Muslim adalah “naik haji.” Dalam pengertian sekuler, Aliyah berarti bermigrasi ke Israel. Kelompok ini membeli tanah dan membangun pertanian dan industri.
Para pengelolanya adalah orang-orang Yahudi sedangkan para pekerjanya sebagian besar orang Arab setempat. Sekalipun sejak dini sekali sudah ada kekuatiran di kalangan Arab akan kehadiran sejumlah besar orang Yahudi di Palestina, namun belum ada ketegangan yang luas. Memang terjadi beberapa kali konflik besar dan kecil di antara mereka. Ketegangan dalam skala lebih kecil juga terjadi di antara orang Yahudi Eropa dan Yahudi setempat yang berbahasa Arab. Namun secara umum kehadiran mereka dapat diterima oleh pemerintah Turki karena saat itu negara sudah hampir bangkrut dan membutuhkan dana segar. Yang kedua, hubungan “bisnis” yang “saling menguntungkan” antara pemilik modal Yahudi dan pekerja Arab menyebabkan ketegangan tidak terlalu kentara.
Kondisi ini berubah setelah hadir gelombang kedua Aliyah sejak 1904 yang sebagian besar masih berasal dari Eropa Timur. Kelompok ini sangat dipengaruhi oleh gerakan Zionisme sekular yang dicanangkan oleh Theodor Herzl pada tahun 1896. Meskipun Herzl yang dianggap sebagai Bapak Zionisme, namun aspirasi ini sudah mengemuka sejak awal abad 19 di kalangan Yahudi Eropa Timur. Herzl, yang adalah seorang wartawan menyaksikan sendiri melalui kasus Alfred Dreyfus di Paris bagaimana parahnya antisemitisme di Eropa pada masa itu. Antisemitisme (sering ditulis juga “anti-Semitisme”) adalah sikap antagonisme terhadap Yahudi dan/atau segala sesuatu yang merujuk pada “Yahudi” karena berbagai alasan dan motif. Eropa mempunyai sejarah panjang dalam sikap antisemitisme ini yang dimulai sejak zaman Yunani klasik. Sebagian alasannya adalah karena monotheisme Yahudi yang berbeda dengan agama-agama masa itu. Selanjutnya penentangan ajaran Gereja terhadap ajaran Yahudi memberi dorongan pada sikap-sikap antisemitisme. Kebencian terhadap Yahudi lahir dari berbagai konteks di setiap zaman. Tetapi di abad 19 ketika bangsa Eropa mulai bergeser dari masyarakat feodal ke masyarakat modern, antisemitisme muncul dalam karakter yang sekuler yaitu tidak lagi bersandar pada asumsi keagamaan tentang Yahudi.
Yahudi mulai dipandang sebagai ras yang berbeda dari ras manusia umumnya. Demikianlah Zionisme sekuler yang dicanangkan oleh Herzl adalah respon langsung terhadap antisemitisme masa itu. Kelompok imigran Aliyah yang kedua dipengaruhi oleh gagasan sosialisme tentang bentuk masyarakat Yahudi yang ideal di Palestina, dan pembentukan ras Ibrani baru (New Hebrew) dengan bahasa Ibrani baru. Ras Ibrani baru ini disubstansikan pada nama Sabra. Kata Sabra berakar pada nama sejenis kaktus. Jadi ras Ibrani baru itu diidealkan seperti pohon kaktus yang keras dan mampu membela diri di luar, tetapi lembut dan manis di dalam. Ras ini adalah ras pekerja keras yang tidak takut bahaya apapun. Idealisasi ini oleh kelompok Zionis dikontraskan dengan kenyataan setempat, yaitu orang-orang Arab yang tradisional dan “primitif.” Inilah makna moto Zionisme tentang negeri Palestina, “land without a people for the people without land” (negeri tanpa penduduk bagi bangsa tanpa negeri). Jadi yang dimaksud bukanlah suatu negeri yang kosong, melainkan bagi visi Zionisme, Palestina hanya dihuni oleh orang-orang yang lemah yang membiarkan negeri itu tak terpelihara. Maka kedatangan Zionisme adalah mengembalikan harkat negeri itu melalui pembangunan manusia dan pembentukan negara Israel. Negara Israel dipandang sebagai jalan “menebus” negeri yang tersia-sia. Tetapi bukan saja orang Arab yang menjadi “korban” idealisasi ini, melainkan juga orang-orang Yahudi setempat. Dan setelah negara Israel berdiri tahun 1948, orang-orang Yahudi Arab dari berbagai negeri Islam (disebut Mizrahim) juga diharuskan menyesuaikan diri dengan ideal ini.
Sejak Aliyah yang kedua, bisa dibayangkan bahwa konflik antar kelompok menjadi sangat keras, karena bukan saja ada keinginan kuat untuk membentuk negara Israel bagi bangsa Yahudi tetapi juga kedatangan mereka benar-benar seperti unsur asing (kultur dan bahasa) yang ditanamkan pada kultur Arab yang telah lama ada. Meskipun demikian kita akan salah melihat jika mengira gerakan Zionisme adalah gerakan yang monolitis. Terjadi banyak sekali pertentangan internal di kalangan Zionis. Ada pertentangan antara kelompok sekuler dan religius. Ada pula kelompok moderat yang prihatin dengan buruknya hubungan dengan orang Arab, tetapi ada Zionis garis keras yang bergerak dengan sangat agresif. Kelompok “militan” ini dimotori oleh Chaim Weizmann, bergerak mengorganisir berbagai aktifitas termasuk lobi dengan pemerintahan Inggris.
Karena kekalahan Turki di Perang Dunia Pertama, Inggris dan Perancis menjadi “pelindung” wilayah Syria Raya. Para pemenang perang ini berbagi kekuasaan di Timur Tengah. Perancis mendapat wilayah Syria dan Libanon, Inggris mendapat Palestina, Transjordan (sekarang Jordania) dan Mesir. Mereka berdua sepakat untuk mengangkat Pangeran Faisal sebagai raja di Syria sebagai hadiah bagi dukungan dirinya dan bangsa Arab dalam mengalahkan Turki. Selama perang, Inggris memberi janji bagi semua pihak yang bermusuhan dengan Turki untuk mendapatkan hak penentuan nasib sendiri sesudah perang. Pada waktu itu Inggris membentuk Legiun Arab dan Yahudi yang bekerja bahu membahu mengalahkan tentara Turki. Ini yang menjadi dasar dari kisah awal yang menunjukkan penghargaan bangsa Arab terhadap Inggris yang telah mengusir Turki. Tetapi sesudah perang, hanya janji kepada bangsa Yahudi, yang berujung pada deklarasi Balfour (1917) yang dipenuhi. Deklarasi ini menjadi dasar bagi pembentukan negara Yahudi dan dapat diduga mendapat tentangan sangat keras dari pihak Arab. Berkali-kali bangsa Arab menagih janji tetapi gagal sebab tampaknya Inggris (dan Perancis) lebih condong kepada bangsa Yahudi yang tampak lebih “Barat” dan karena itu lebih berpeluang membentuk pemerintahan demokratis di Palestina. Sekalipun ada motif keagamaan yang berasal dari tradisi Kristen, kecondongan Inggris kepada Yahudi bukanlah lahir karena kecocokan ideologis, namun justru sebagian karena semangat antisemitisme di kalangan pejabat sipil dan militer Inggris. Bagi mereka cara mengatasi “ketidak sukaan” mereka terhadap Yahudi adalah dengan memberikan apa yang mereka mau. Tentunya tanpa menghiraukan aspirasi bangsa Arab.
Era terakhir kekuasaan Turki di Palestina tidak saja menyaksikan kehadiran sejumlah besar imigran Yahudi, tetapi juga ia harus menghadapi kesadaran nasionalisme Arab. Lahirnya kesadaran ini tidaklah mudah karena struktur sosial Arab yang tidak berbasis individu seperti di dunia Barat. Nasionalisme Barat itu berbasiskan individu-individu yang otonom yang sepakat untuk melakukan kontrak sosial dalam lembaga yang disebut Negara. Sedangkan struktur sosial bangsa Arab berbasiskan keluarga, trah, suku, dan kampung. Sehingga terjadi ambiguitas dalam penerapannya, seperti tercermin dalam konflik internal dalam kisah di atas. Kontras dengan kelompok Zionis yang terorganisir dengan baik, kelompok nasionalis Arab harus berkali-kali bertengkar di kalangan sendiri karena terjadi persaingan antar keluarga. Yang paling terkenal adalah persaingan di antara keluarga al-Husseini dan al-Nashashibi di Yerusalem. Konflik internal ini menyebabkan cita-cita kemerdekaan Palestina sulit diwujudkan.
Masalah kedua adalah ambiguitas dalam memandang bangsa Arab Palestina dalam hubungannya dengan bangsa Arab yang lain. Sejak semula identitas Arab Palestina ambigu dan menjadi wilayah yang diperdebatkan. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak dimiliki oleh orang Yahudi Israel, seperti apakah yang disebut Palestina? Siapa orang Palestina? Hanya setelah kehadiran PLO tahun 1964, definisi Palestina dan orang Palestina menjadi lebih jelas meskipun masih ambigu. Di era awal pertarungan antara Yahudi dan Arab, ambiguitas ini memengaruhi perjuangan Arab sendiri. Orang Arab yang tinggal di Palestina waktu itu dipandang satu dengan orang Arab di tempat lain, namun ketika negara Israel berdiri dan mereka terusir dari tanahnya, bangsa-bangsa Arab lain menempatkan diri “berbeda” dengan Arab Palestina. Situasi ini menyumbang pada rumitnya pemecahan konflik Palestina-Israel sebab di kalangan garis keras Yahudi, bangsa Palestina tidak dibedakan dengan bangsa Arab lainnya. Akibatnya argumennya selalu bahwa dunia Arab mempunyai tanah yang amat luas, mengapa tidak memindahkan bangsa Palestina ke tempat-tempat yang masih lowong tersebut?
Semoga cuplikan analisa sejarah ini bisa membantu kita mengerti sedikit tentang rumitnya konflik kedua bangsa ini dan bisa mengawali diskusi yang lebih mendalam.