Showing posts with label christian. Show all posts
Showing posts with label christian. Show all posts

January 18, 2011

Foto-Foto Kristen Arab

foto-foto diambil dari http://nationalgeographic.co.id/photography/91/kristen-arab

Sebagai penggembala kesepian pengasuh jemaat yang jumlahnya terus menyusut, Romo Artemios menyelenggarakan upacara pemakaman jemaat wanita berusia 95 tahun di Gereja St. Porphyrius. Gereja Ortodoks Yunani di Gaza City ini didirikan pada tahun 443. Umat Kristen di Jalur Gaza pernah sangat banyak jumlahnya, tetapi kini hanya sekitar 2.500 orang saja, kebanyakan sudah lanjut usia.

Eksodus umat Kristen terus berlangsung di Bethlehem, seperti Tony Rashmawi, istrinya Jeeda, dan putrinya Zeina, yang berkemas hendak ke Kanada. “Di bawah pendudukan Israel, mustahil kami bisa hidup normal,” kata Jeeda. “Kami harus memberikan masa depan untuk Zeina.”

Lama Salfity, 19, yang beragama Kristen, berpakaian konservatif ketika mengikuti kuliah di Community College of Applied Science and Technology, Gaza City. Perguruan tinggi ini adalah bagian dari Universitas Islam Gaza. Di universitas ini mahasiswi harus mengenakan jilbab dan abaya, padahal penganut Kristen hanya segelintir dari 20.600 mahasiswa yang terdaftar. Israel mengebom Universitas Hamas pada Desember 2008.

Lawan atau lari? Bagi para penganut Kristen Irak yang menjadi sasaran kelompok jihad untuk dibunuh atau diculik, jawabannya adalah lari ke Suriah atau Lebanon, dan di situlah Faraj Hermez asal Kirkuk mencari perlindungan bagi istri dan kesepuluh orang anaknya.

“Lindungilah ayahku,” begitulah doa Frank “Nunu” Yalda yang berusia empat tahun. Ayah Nunu, warga Irak beragama Kristen, diculik pada April 2006. Sejak itu tidak terdengar lagi kabarnya. Ketika paman Nunu juga diculik, seluruh keluarga menyelamatkan diri ke Damaskus, Suriah. Mereka tinggal di apartemen yang disubsidi PBB ini. Dari 1,4 juta pengungsi Irak yang saat ini tinggal di Suriah, mungkin 200.000 beragama Kristen, yang tersingkir akibat kekerasan dan diburu karena agama.

Pasukan Maronit mengelilingi politisi Kristen Lebanon dan para pendukungnya selama berlangsungnya pawai di Beirut timur untuk menghormati para pahlawan perang saudara Lebanon yang sudah gugur.

Di Beirut timur, Milad Assaf (kiri) adalah anggota Lebanese Forces, partai politik Kristen Maronit yang didukung oleh sukarelawan bersenjata lengkap.

Minggu Paskah adalah acara puncak dalam kalender musim semi bagi kaum muda dan yang suka bergaya di desa Saydnaya, Suriah. Di sini kehidupan masyarakat Kristen berlangsung di seputar gereja Bunda Kudus Saydnaya.

Sambil memainkan lagu pop dengan irama yang lain, para pandu Kristen ini berpawai di Desa Saydnaya pada Minggu Palem, mendaki bukit menuju gereja kuno, yaitu gereja Bunda Kudus dari Saydnaya, yang juga dihormati oleh kaum Muslimin.

Petapa Romo Yuhanna Kwawand membuka pintunya bagi para pengunjung, meskipun tidak sepanjang tahun. Jam untuk umum ini semakin membebani jadwal yang sudah padat yang antara lain diisi dengan menerjemahkan berjilid-jilid himne kuno Aramaik ke dalam bahasa Arab modern. Setelah pensiun sebagai guru Perjanjian Lama dalam Injil di Holy Spirit University of Kaslik, Romo Yuhanna masih tetap menyelenggarakan misa persembahan setiap hari, memanjatkan 10.000 doa sehari, dan hanya tidur beberapa jam di malam hari, di antara buku-bukunya. “Banyak orang yang terus saja membawa bahan untuk kutangani,” katanya sambil menarik napas panjang. “Mereka mengira petapa kekurangan kerja!”

Di gua-gua Lembah Qadicha, umat Kristen awal memimpikan wujud agama mereka kelak; berabad-abad kemudian, para rahib merantai mereka yang sakit jiwa, mencari penyembuhan Ilahi. Kini, umat Kristen Arab datang untuk meneguhkan iman.

Di gurun di utara Damaskus, biara Deir Mar Musa sudah ada sejak abad keenam ketika ratusan gereja dan biara bertebaran di wilayah itu. Dewasa ini para rahibnya mengatakan bahwa mereka adalah “saksi perdamaian” yang memupuk dialog Muslim-Kristen.

Tepi Barat Para petani Kristen kehilangan kebun zaitunnya ketika orang Israel memasang pagar yang membatasi daerah permukiman.

Satu-satunya komunitas di Tepi Barat yang masih seluruhnya Kristen adalah At Tayyibah, dan tiga gereja melayani 1.300 jemaatnya. Reruntuhan El Khader (atas), gereja berbentuk salib yang dibangun antara abad keempat dan ketujuh, dan dibangun kembali oleh para pejuang perang salib abad ke-12, berdiri tegak di pinggiran kota. Selama hampir seribu tahun setelah Masehi, pedesaan Kristen ini mendominasi puncak-puncak bukit berbatu di Palestina. Daerah ini dinyatakan sebagai tanah suci oleh Kaisar Konstantin setelah dia memeluk agama Kristen pada tahun 312.

Jemaat gereja menyemarakkan Daerah Kristen saat Paskah.

Sambil meratapi Kristus yang disalib dan menunggu mukjizat kebangkitan kembali, para peziarah di Gereja Katolik Juru Selamat mengikuti misa Sabtu Suci di Kota Tua Yerusalem.

Sambil memikul salib, warga Kristen Arab bergabung dengan kerumunan orang asing pada Jumat Agung. Mereka menyusuri rute Yesus melalui Kota Tua. Dulu, umat Kristen Arab adalah mayoritas, tetapi kini jumlahnya kalah banyak dan sering terabaikan.

Prajurit Kristen di Beirut timur yang menjadi pusat perang saudara di Lebanon memasang lambang keagamaan sebagai peringatan bagi milisi Syiah yang jadi tetangga mereka.












June 6, 2010

Rangkuman Seminar Sehari Peran dan Kedudukan Bunda Maria

          Pada Hari Minggu 30 Mei 2010 lalu, Komunitas Maria Bunda Pewarta dan Sie Kerasulan Kitab Suci Paroki St. Yoseph Matraman menyelenggarakan sebuah seminar sehari tentang Peran dan Kedudukan Bunda Maria dari 3 sudut pandang agama-agama semitik yaitu Katolik, Protestan dan Islam. Acara dilaksanakan di Aula Besar Gereja Katedral Jakarta mulai pukul 9.30 pagi dan diakhiri oleh Misa Kudus pukul 15.00 WIB. Acara ini terbilang sukses dari sisi partisipasi karena pada awalnya direncanakan cuma untuk 500 peserta saja namun yang datang pada hari H lebih dari 500 orang.
          Acara dibuka oleh moderator yaitu Mas Arswendo Atmowiloto dengan gaya bertuturnya yang khas dan penuh humor sehingga peserta menjadi tertarik untuk mengikuti acara ini. Nara sumber seminar ini adalah Romo Pidyarto Gunawan mewakili Katolik, Pendeta Yerry Tawalujan dan Bapak Bunyamin Sutandhi mewakili Protestan serta KH Jalaluddin Rakhmat mewakili Islam Syiah. Pada saat acara dimulai, KH Jalaludding RakhmatKang Jalal begitu sapaannya, terlambat datang dan baru tiba sekitar 15 menit setelah acara dimulai.
          Pembicara pertama adalah Bapak Bunyamin Sutandhi, seorang pria berumur 69 tahun yang merupakan seorang penginjil. Beliau mengatakan bahwa Maria adalah penggenapan nubuat dari Nabi Yesaya. Bahwa semua nubuat dalam Al Kitab telah digenapi oleh Allah kecuali bahwa Yesus datang lagi ke dunia untuk kedua kalinya pada akhir zaman untuk menjadi hakim bagi semua orang.
          Kang Jalal menjadi pembicara kedua dalam acara tersebut. Kang Jalal memulai materinya dengan mengatakan bahwa satu-satunya surat dalam Al Quran yang diberi judul dengan nama perempuan adalah Surah Maryam. Surah ini termasuk surah Makkiyah karena turun di Mekkah pada awal-awal tahun kenabian Muhammad SAW. Kang Jalal juga menceritakan sebuah kitab hadits tentang bagaimana keponakan Nabi―Ja’far bin Abi Thalib yang melakukan pelarian ke negri Habsyi (Ethiopia) yang memeluk agama Nasrani untuk meminta suaka politik karena mereka dikejar-kejar dan dimusuhi oleh orang-orang Quraisy di Mekkah.
Bahkan mereka mengutus 2 orang diplomat ulung kaum Quraisy yaitu Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabiah kepada Raja Habsyi yaitu Najasyi untuk meminta Ja’far dikembalikan/ekstradisi ke Mekkah. Mereka memfitnah Ja’far dan rombongannya adalah para penjahat yang melarikan diri karena telah keluar dari agama nenek moyang kaum Quraisy dan tidak juga masuk ke dalam agama Nasrani yang dianut negeri Habsyi.
Namun permintaan ekstradisi itu ditolak manakala Ja’far membacakan Surah Maryam 1-4 yang membuat Raja Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya. Najasyi mengatakan bahwa agama yang dibawa nabinya Ja’far dan agama yang dibawa oleh Isa Al Masih berasal dari satu sumber. Akhirnya Ja’far bin Abi Thalib beserta istri dan rombongan dapat tinggal dengan aman dan tenang dalam perlindungan Najasyi selama sepuluh tahun. Mereka juga diberikan kebebasan melaksakan ibadah mereka tanpa ada gangguan dan paksaan dari orang lain.
Kang Jalal menyambung dengan mengatakan bahwa Maryam disebut 34 kali dalam Al Quran, lebih banyak dari Maria disebutkan dalam Alkitab. Maryam juga termasuk dalam empat penghulu perempuan di seluruh alam yaitu Maryam, Asiyah bint Mazahim, Khadijah serta Fatimah bint Muhammad SAW. Kang Jalal juga mengatakan bahwa Allah telah memilih Maryam di antara perempuan-perempuan lain seperti yang tertulis pada Ali Imran 42.
Dalam sesi tanya jawab Kang Jalal juga menceritakan beberapa paralelisme tradisi Islam Syiah dengan tradisi Katolik seperti pemilihan Kalifah langsung oleh Nabi Muhammad SAW seperti ketika Yesus memilih Petrus sebagai penerusnya secara langsung untuk melanjutkan kepemimpinannya. Kang Jalal juga menceritakan bahwa pada Islam Syiah juga ada tradisi berdoa melalui perantara orang-orang suci dan di Mesir, mereka berdoa di tempat yang sama dengan umat Kristen Orthodox Koptik yang berdoa di depan patung Bunda Maria.
          Berikutnya, Pendeta Yerry Tawalujan tampil sebagai pembicara ketiga.  Sebelum membahas topik seminar, Pendeta Yerry menekan 4 hal yang diharapkan dapat menjadi pegangan bersama para peserta seminar yaitu:
-          Pemahaman tentang Peran dan Kedudukan Bunda Maria dari sudut pandang Katolik, Protestan dan Islam tentu tidak akan serupa, pasti berbeda (dan bahkan bisa bertentangan) dan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi serupa.
-          Namun pastilah juga ada persamaan-persamaan yang bisa diterima bersama guna membangun komunikasi dan mempererat ikatan kasih dengan menghargai dan menerima perbedaan-perbedaan pandangan itu.
-          Masing-masing pihak telah mempunyai pemahaman sendiri tentang Bunda Maria dan pembahasan dari Pendeta Yerry tidaklah bermaksud menyinggung apalagi mengoreksi pandangan dan kepercayaan umat Katolik terhadap Bunda Maria.
-          Seminar ini haruslah didasari kasih yang membangun kebersamaan di tengah perbedaan agar makin terciptanya kerukunan antar umat beragama menuju masyarakat yang harmonis.
Pendeta Yerry mengatakan, membicarakan Bunda Maria menurut sudut pandan Protestan tentunya harus berdasarkan dari sudut pandang Alkitab saja. Sehingga dikatakan bahwa menurut Pendeta Yerry bahwa penekanan ada pada kedaulatan dan kasih karunia Allah dan bukan pada Maria sendiri.
          Dikatakan bahwa Allah berdaulat untuk memilih dan memberi kasih karunia kepada siapa saja yang Allah kehendaki, bukan karena orang itu baik atau tidak berdosa. Sehingga dalam hal ini Maria hanyalah berperan sebagai penerima mukjizat dan bukanlah fokus utamanya. Dengan demikian, doktrin Maria Immacute dan Non Posse Peccare yang ditujukan kepada Maria bukanlah doktrin dari Protestan dan tidak ditunjang oleh kebenaran Alkitab.
          Dalam teologi Protestan tidak dikenal Maria Bunda Allah namun Maria dikenal dengan istilah-istilah umum seperti Perawan Maria, Anak Dara Maria dan Maria Ibu Yesus. Hal itu disebabkan karena Alkitab tidak memberikan penekanan khusus kepada Maria Ibu Yesus. Maria memanglah Ibu Yesus, namun ketika Ibu Yesus ditingkatkan menjadi Bunda Allah, itu tidak ada dalam teologia Protestan. Peran Maria adalah sebagai Ibu Yesus di bumi, perawan yang rahimnya dipakai sebagai alat Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus.
          Pendeta Yerry juga mengatakan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mereferensikan bahwa Maria adalah Bunda Gereja, yang membidani atau yang melahirkan gereja. Tidak terlihat bahwa Maria Ibu Yesus digambarkan sebagai pemimpin, baik secara formal atau informal dalam pertemuan jemaat mula-mula.
          Dari keterangan di atas dapat dilihat bahwa banyak hal dalam pandangan Katolik yang tidak dikenal dalam doktrin Protestan. Perbedaan-perbedaan itu adalah wajar dan harus diterima sebagai sebuah kenyataan tanpa perlu dipertentangkan. Namun demikian, pandangan mendasar mengenai Bunda Maria menurut teologi Protestan adalah:
-          Perawan Maria, Anak Dara Maria adalah perempuan, perawan yang mengandung dan melahirkan Yesus dari Roh Kudus.
-          Maria adalah orang yang dikaruniai, yang beroleh kasih karunia dihadapan Allah dan diberkati di antara semua perempuan.
-          Keteladanan Maria dalam hal ketaatannya sebagai hamba Tuhan perlu ditiru oleh semua umat manusia.
Sebagai penutup, Pendeta Yerry menegaskan bahwa umat Protestan sangat menghargai dan menghormati peran Maria, sebagaimana Pengakuan Iman Rasuli yang selalu diucapkan setiap hari Minggu dalam ibadah-ibadah gereja Protestan:
“Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus AnakNya yang tunggal, Tuhan kita. Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria...”
          Pembicara terakhir dalam seminar ini adalah Romo Pidyarto Gunawan, O.Carm yang merupakan guru besar STFR Widya Sasana Malang di bidang Kitab Perjanjian Baru. Romo yang memperoleh gelar doktor di bidang teologi Alkitabiahnya dari Universitas St. Thomas Roma ini membuka pembahasannya tentang Maria ini dengan mengatakan bahwa ajaran Katolik mengenai Bunda Maria tidak mudah dipahami oleh pihak luar, bahkan sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu dialog tidak perlu mencari kata sepakat, tetapi berusaha memahami posisi pihak lain guna menghindari kesalahpahaman tersebut.
          Ketika membicarakan tentang Maria menurut paham Gereja Katolik tentunya didasari oleh 3 hal yang menjadi dasar hukum Gereja Katolik itu sendiri yaitu Alkitab, Tradisi Suci dan dokumen-dokumen resmi, seperti konstitusi dogmatis Lumen Gentium (Konsili Vatikan II); himbauan apostolik Paus Paulus VI Marialis Cultus dan Redemptoris Mater (ensiklik Paus Yonahes Paulus II).
          Pertama-tama, Romo Pidrato ingin menekankan bahwa Gereja Katolik memandang Maria sebagai manusia biasa. Maria juga harus diselamatkan. Namun karena pahala Putranya, ia ditebus secara lebih unggul. Maria mendapatkan rahmat penebusan yang diberikan oleh Yesus Kristus jauh sebelum Dia wafat di kayu salib. Gereja Katolik meyakini bahwa Maria sejak awal kehidupannya dibebaskan Allah dari segala bentuk dosa. Keyakinann yang sama dianut oleh Gereja Ortodoks yang memberi gelar panhagia kepada Maria yang artinya Yang Kudus seluruhnya.
          Gereja Katolik memberi Maria banyak gelar seperti Pembela, Pembantu, Penolong dan Perantara. Gelar-gelar ini sering menimbulkan salah paham bagi orang-orang Protestan karena dalam arti tegas gelar-gelar tersebut sebenarnya hanya cocok untuk Yesus Kristus.
          Gelar Mitra Pengantara atau Pengantara Bersama (Co-Mediatrix) tidak bertentangan dan mengaburkan peranan Yesus sebagai satu-satunya Pengantara Allah dan manusia. Gelar tersebut tidak membuat Maria sejajar dan menjadi saingan Yesus. Peranan Maria adalah sebagai sub-ordinasi dari peranan Yesus Kristus dan Gereja Katolik meyakini bahwa peranan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak meniadakan aneka bentuk kerja sama dari pihak manusia. Dalam tradisi Katolik terkenal ucapan “Per Mariam ad Iesum” yang artinya melalui Maria sampai kepada Yesus.
          Mengenai gelar Bunda Allah, Romo Pidyarto mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak bermaksud meng-allah-kan Maria. Maria juga bukanlah ibu yang melahirkan Allah, juga bukan istri dari Allah Bapa dan bukan Allah ibu. Maria disebut Bunda Allah sejauh dia telah mengandung dan melahirkan Yesus yang merupakan benar-benar Allah dan benar-benar manusia pula. Penyebutan gelar ini juga berasal dari Lukas 1:43 tentang sebutan Elisabet ketika menerima kunjungan Maria dan berseru: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Istilah Tuhan yang dipakai berasal dari kata Yunani Kyrios, suatu gelar ilahi yang kelak oleh para rasul dikenakan pada Yesus ketika mereka sudah sampai oada iman akan Yesus sebagai Allah. Jadi jauh sebelum Yesus diakui sebagai Allah, Injil Lukas sudah meletakkan gelar itu pada mulut Elisabet.
          Gereja Katolik  menegaskan bahwa penghormatan kepada Maria secara hakiki berbeda dengan penyembahan yang ditujukan hanya kepada Allah. Hal itu juga dibedakan dari istilah yang dipakai. Gereja Katolik memakai istilah dulia untuk penghormatan kepada orang-orang kudus biasa. Sedangkan untuk penghormatan istimewa kepada Maria, Gereja Katolik memakai istilah hyperdulia. Penyembahan untuk Allah dikenal dengan istilah latria.
          Penghormatan kepada Maria yang direstui Gereja Katolik adalah kebaktian yang berada dalam batas-batas ajaran yang sehat dan benar. Selain itu Gereja Katolik menghimbau kepada para teolog dan pewarta sabda dalam memandang martabat Maria yang istimewa itu sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu.
          Dalam Gereja Katolik, Maria adalah manusia biasa namun Allah telah memilih dia untuk menjadi manusia yang sangat istimewa karena telah mengandung dan melahirkan Yesus, Anak Allah yang menjelma menjadi manusia (Gal 4:4). Jadi pembicaraan tentang Maria tidak bisa dilepaskan dari hubungan Maria dengan Yesus yang merupakan jalan keselamatan manusia.
          Menurut Gereja Katolik, benih-benih kehadiran Maria telah ada dalam kitab Perjanjian Lama. Pada kitab Kejadian 3:15 di mana Tuhan mengatakan bahwa antara ular tua (iblis) dengan wanita itu akan mengadakan permusuhan sampai keturunan-keturunannya. Wanita itu ditafsirkan sebagai Maria dan bukanlah Hawa. Nubuatan tentang Maria juga tertulis di Yesaya 7:14 bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan Anak yang disebut Imanuel. Kata partheos yang berarti perawan, dipakai oleh Septuaginta yang memperjelas bahwa wanita itu adalah Maria. Gereja Katolik juga menganggap bahwa Maria adalah seorang dari kaum anawim, yaitu kaum miskin dan saleh yang sangat merindukan keselamatan bagi bangsa Israel.
          Apa yang sudah dipersiapkan dalam Perjanjian Lama akhirnya mencapai kepenuhannya pada zaman Perjanjian Baru. “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Maka Allah mengutus malaikat Gabriel kepada perawan Maria. Gabriel menyapa Maria, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Gabriel tidak memanggil dia dengan nama pribadinya, Maria, tetapi dengan gelar “yang dikaruniai”. Memang Maria adalah seorang yang “beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:28) dan yang diberkati di antara semua perempuan (Luk 1:42). Sejak dahulu gelar “yang dikaruniai” (Yunaninya: kecharitomene) merupakan gelar luar biasa yang tidak pernah diberikan kepada manusia lain. Kecharitomene adalah suatu bentuk kata kerja Yunani charitóô, yang secara harafiah berarti: membuat seseorang menjadi karunia. Jadi, kecharitomene dapat diterjemahkan dengan “(Maria, engkau) yang telah diubah menjadi karunia”. Itu berarti, Maria itu sungguh-sungguh dilimpahi dengan karunia Allah sehingga menjadi indah dan berkenan di hati Allah dan penuh dengan karunia-Nya.
Dengan demikian, kita bisa mengerti mengapa Vulgata (versi Alkitab dalam bahasa latin) menerjemahkan kecharitomene dengan “gratia plena” (=penuh karunia). Dalam Ef 1:6-7 ini kita bisa menemukan dasar untuk tafsiran Gereja Katolik bahwa Maria itu dikaruniai Tuhan dalam arti ia telah disucikan dari segala bentuk dosa. Bedanya: kalau jemaat kristen dulu pernah berdosa lalu disucikan oleh Tuhan, maka Maria disucikan sejak awal kehidupannya.
Dalam kaitan dengan fungsi Maria sebagai Bunda Yesus atau Bunda Allah ini, Gereja Katolik yakin bahwa Maria telah dipersiapkan secara khusus. Untuk menyediakan tempat kediaman yang pantas bagi Anak Allah yang menjadi manusia melalui tubuh dan jiwa Maria, maka Maria sudah dibebaskan dari segala bentuk dosa sejak saat pertama kehidupannya. Berhubung ia bebas dari dosa warisan atau pun dosa pribadi, Maria dimampukan untuk bekerja sama secara sempurna dengan rencana Allah. Tanpa kehilangan kebebasan manusiawinya, dia menaati kehendak Bapa.
Gereja Katolik menerima tafsiran kuno bahwa perempuan dalam Why 12 adalah gambaran dari Maria, ibu Yesus, yang memang pada hakikatnya bermusuhan dengan Iblis. Mengikuti tradisi yang sudah sangat kuno, Gereja Katolik juga percaya bahwa Maria tetap perawan, baik sebelum hamil, selama hamil dan sesudah melahirkan. Keperawanan Maria ini tidak dilihat pertama-tama sebagai keperawanan fisik (dalam arti selaput daranya tetap utuh), melainkan lebih dalam arti rohani, yakni keperawanan sebagai tanda bahwa seluruh kepribadian Maria, jiwa dan raganya, adalah milik Allah dan secara total terarah kepada Allah.
          Tentunya Maria tidak berbeda dengan banyak ibu Yahudi lainnya yang secara luar biasa mendidik anaknya menjadi orang saleh. Misalnya, ia mengajak Yesus ke Yerusalem untuk beribadat (Luk 2:42). Dapat diandaikan, Maria selalu berada di samping Yesus selama di Nazaret hingga Yesus memulai karya-Nya pada usia sekitar 30 tahun.
          Berbeda dengan ibu para tokoh Alkitab lainnya, Maria adalah seorang ibu yang dikaitkan secara amat erat dengan kehidupan serta misi anaknya. Memang, ayat-ayat yang menyatakan bahwa Maria berada dekat dengan Yesus selama pelayanan-Nya di dunia sedikit saja. Akan tetapi jumlah ayat bukanlah segala-galanya. Lebih penting dari jumlah ayat adalah posisi yang diduduki ayat tentang Maria dalam suatu kitab. Dalam Injil Yohanes, “ibu Yesus” hanya muncul dua kali (Yoh 2:1-11dan 19:25-27). Akan tetapi, dia muncul pada awal dan akhir dari pelayanan Yesus di dunia. Dalam Alkitab, penyebutan dua ujung sering berarti keseluruhan yang ada di antara kedua ujung tersebut. Misalnya, kalau dikatakan dalam Kej 1:1, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” maka yang dimaksud adalah penciptaan langit dan bumi beserta segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Dengan demikian, Injil Yohanes rupanya bermaksud menyatakan bahwa Maria hadir pada seluruh pelayanan Yesus di dunia ini. Secara fisik Maria tidak mengikuti perjalanan Yesus, tetapi tentunya secara rohani dia mengikuti sepak terjang anaknya itu. Suatu saat, Maria harus menyaksikan sendiri bagaimana Yesus bergantung di kayu salib (Yoh 19:26-27). Pada saat yang amat penting bagi keselamatan umat manusia itu, Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasih-Nya sambil berkata, “Inilah, ibumu!” Gereja Katolik yakin, murid yang dikasihi Yesus itu mewakili semua murid yang dikasihi Yesus (Yoh 19:26-27). Tidak mungkin Yesus, pada saat yang begitu penting, hanya bermaksud menitipkan ibu-Nya secara fisik pada seorang murid-Nya. Tentunya tindakan-Nya itu memiliki makna lebih dalam: Maria dijadikan ibu rohani bagi umat-Nya. Maka, Gereja Katolik memberi Maria gelar Bunda Gereja.
          Setelah Yesus naik ke surga, Maria tidak putus hubungan dengan kelompok murid Yesus. Maria kedapatan tekun berdoa bersama dengan para murid Yesus untuk menantikan kedatangan Roh Kudus.
          Sampai sejauh ini, kita sudah melihat peranan Maria dalam sejarah keselamatan, mulai dari kerelaannya untuk menjadi Bunda Penebus hingga turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus kepada Gereja. Ia dikaitkan secara amat erat dengan karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Yesus. Oleh karena itu, Gereja Katolik percaya bahwa setelah mengalami kematian sejenak, Maria pun segera dibangkitkan dari kematian lalu dipersatukan secara erat dengan Yesus Kristus yang sudah mulia dengan badan dan jiwa-Nya di surga. Dengan demikian Maria semakin menyerupai Yesus Kristus (Lumen Gentium 59; Katekismus Gereja Katolik 965). Namun, apa yang kini sudah dialami oleh Maria kelak akan dialami juga oleh orang beriman lainnya. Maria hanya mendahului apa yang masih akan dialami orang lain. Keadaan Maria yang sekarang sudah mulia di surga menjadi cermin dari tujuan akhir hidup orang beriman. Dalam Ibadat untuk menghormati pengangkatan Maria ke surga, dibacakan Why 11:19; 12:1-6.10 yang melukiskan penampakan seorang perempuan mulia di langit. Perikop ini tidak hanya menerangkan kesucian Maria (sebagai musuh Iblis) tetapi juga sebagai suatu perikop yang melukiskan keadaan Maria yang sudah mulia di surga.
          Yesus Kristus tidak bisa dilepaskan dari Gereja yang didirikan-Nya. Maka dari itu, Konsili Vatikan II membahas Maria tidak hanya dalam kaitannya dengan Yesus tetapi juga dalam kaitannya dengan Gereja-Nya. Maria dipandang sebagai anggota Gereja Yesus tetapi anggota Gereja yang paling sempurna. Dalam dirinya sudah terpenuhi panggilan Gereja Yesus untuk menjadi “jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Oleh karena itu, Maria adalah teladan bagi semua anggota Gereja Yesus. Maria adalah teladan dalam banyak hal, tetapi terutama hal iman dan cinta kasih (Lumen Gentium 53; 65).
          Mengingat besarnya partisipasi Maria dalam karya penebusan Yesus, maka Gereja Katolik dalam ibadat resminya kerap sekali mengenang Maria dengan rasa hormat dan kasih keputeraan. Di luar ibadat resmi pun, yakni dalam doa-doa umat Katolik, Maria dikenang, dipuji, dan dihormati. Dengan demikian genaplah nubuatan yang diucapkan Maria sendiri, “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48).
          Akhirnya Romo Pidyarto mengatakan bahwa patut dicatat bahwa Gereja Katolik yakin bahwa Maria mempunyai sifat sosial yang besar. Ia mengunjungi Elisabet, saudarinya, yang sedang hamil tua (Luk 1:39). Ia menolong pengantin di Kana yang mengalami kesukaran karena dalam pesta pernikahannya, persediaan anggurnya habis (Yoh 2:1-11). Dalam kedua peristiwa tadi Maria sendiri yang mengambil inisiatif untuk menolong sesamanya. Menarik untuk dicatat bahwa dalam kisah perjamuan nikah di Kana (Yoh 2), Maria terbukti menjadi pengantara atau pendoa yang luar biasa. Meski Yesus pada awalnya memberi kesan menolak permohonan ibu-Nya, nyatanya, berkat permohonan Maria pada akhirnya Yesus membuat juga mukjizat untuk menolong pengantin itu. Bila selama hidup di dunia ini Maria sudah rajin menolong atau mendoakan sesamanya, tentunya kini, di surga, ia lebih rajin mendoakan anak-anaknya, entah diminta entah tidak, yang masih mengembara di dunia (bdk. Lumen Gentium 62). Kalau semasa hidup di dunia, doanya sudah mempunyai kuasa, apalagi kini ketika ia sudah mulia di surga. Seperti kebanyakan ibu lainnya, tentunya Maria mendoakan anak-anaknya, juga kalau anaknya itu tidak meminta kepadanya. Akan tetapi, tentu saja lebih baik kalau anak-anaknya rajin meminta pertolongan doanya.
          Setelah Romo Pidyarto mengakhiri bahasannya, seminar rehat untuk makan siang. Tepat pukul 13.00 WIB, seminar dimulai kembali dengan sesi tanya jawab. Tampaknya pada saat sesi tanya jawab tersebut, Kang Jalal menjadi bintang karena mendapat pertanyaan paling banyak yang melebar ke arah hubungan dan relasi antar umat beragama di Indonesia. Namun dengan sabar dan santai, Kang Jalal dapat menjawab semua pertanyaan dengan diselingi oleh sedikit canda di sana-sini.
          Akhirnya karena keterbatasan waktu, Mas Wendo menutup acara seminar tersebut walau masih banyak peserta yang ingin mengajukan pertanyan. Beliau mengatakan bahwa seminar tersebut tentu masih banyak kekurangan dan tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun kiranya melalui seminar semacam ini dapat dimulai dialog antar umat beragama secara lebih dewasa dan bisa menghormati perbedaan yang ada tanpa harus mempermasalahkannya.
          Menurut saya pribadi, seminar tersebut akan tampak lebih seru lagi jika ditambah satu pembicara dari sudut pandang Kristen Ortodoks. Karena secara dogmatis ada yang berbeda dengan pandangan Katolik, namun sama-sama melakukan penghormatan lebih kepada Bunda Maria.

May 13, 2008

Gereja Orthodox Oriental

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


'Gereja Ortodoks Oriental' adalah sebutan bagi komuni Gereja-Gereja Kristen Timur yang hanya mengakui ke-3 Konsili Ekumenis pertama — Konsili Nicea Pertama, Konsili Konstantinopel Pertama, dan Konsili Efesus — dan menolak keputusan Konsili Khalsedon. Karena itu komunitas ini juga disebut Gereja-Gereja Oriental Lama. Ortodoksi Oriental berbeda dari Ortodoksi Timur, meskipun sama-sama menggunakan kata ortodoks pada nama Gerejanya.

Skisma antara pihak Ortodoksi Oriental dengan pihak yang kelak disebut sebagai Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur terjadi pada abad ke-5. Perpecahan timbul akibat penolakan Gereja-Gereja Ortodoks oriental terhadap dogma Kristologis yang dikeluarkan oleh Konsili Khalsedon, yang menyatakan bahwa Yesus memiliki dua hakikat, ilahi dan insani, yang tidak terpisahkan dan hanya bertindak sebagai satu hypostasis. Bagi para Hierark (prelatus) Ortodoksi oriental, pernyataan itu sama saja artinya kembali menerima faham Nestorianisme. Sebaliknya mereka mengajukan suatu rumusan yang menitikberatkan kesatuan dari Inkarnasi di atas segala-galanya. Oleh karenanya Gereja-gereja Ortodoks Oriental kerap disebut gereja-gereja Monofisit (hakikat tunggal), meskipun mereka sendiri menolak sebutan yang berkaitan dengan Monofisitisme Eutychius itu, dan lebih menyukai istilah Gereja "non-Khalsedonia" atau Gereja "Miafisit". Gereja Ortodoks Oriental menolak faham Monofisitisme yang diajarkan Eutychius, menolak ajaran Nestorius, dan definisi Diofisit (dwihakikat) dari Konsili Khalsedon.

Pada abad ke-20, skisma Khalsedonia tidak lagi dianggap serelevan dulu, dan dari beberapa kali pertemuan antara Paus Gereja Katolik Roma dengan para patriark Gereja-Gereja Ortodoks Oriental, dihasilkanlah deklarasi-deklarasi rekonsiliasi.

Kekacauan dan skisma yang yang terjadi antara Gereja-Gereja mereka pada abad-abad kemudian, kini mereka sadari, sama sekali tidak mempengaruhi atau menyentuh substansi dari iman mereka, sebab timbul dari perbedaan-perbedaan dalam terminologi dan budaya dan dalam berbagai rumusan yang digunakan oleh sekolah-sekolah theologi yang berbeda guna mengungkapkan hal yang sama. Dengan demikian, kami kini menemukan bahwasanya tidak ada dasar yang kuat bagi skisma dan keterpisahan yang menyedihkan itu yang kemudian timbul di antara kami sehubungan dengan doktrin Inkarnasi. Dengan perkataan dan perbuatan, kami menyatakan doktrin yang benar tentang Kristus Tuhan kita, meskipun ada perbedaan-perbedaan dalam interpretasi mengenai doktrin tersebut yang timbul pada waktu Konsili Khalsedon.

Dari Deklarasi bersama oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan Yang Mulia Mar Ignatius Zakka I Iwas, 23 Juni 1984

Berdasarkan kanon-kanon Gereja Oriental, ke-4 uskup agung yakni dari Roma, Alexandria, Efesus (di kemudian hari dipindahkan ke Konstantinopel), dan Antiokhia diberi status sebagai patriark oleh Konsili Nicea Pertama (pra skisma). Masing-masing dari mereka berempat, bertanggung jawab atas para uskup dan gereja-gereja yang dibawahinya dalam wilayah dunia Kristiani yang menjadi bagiannya sendiri (dengan pengecualian bagi Uskup Agung atau Patriark Yerusalem, yang independen dari mereka). Jadi, Uskup Agung Roma (yakni Paus) senantiasa berada dalam persekutuan dengan yang lainnya, dan berwenang penuh dalam wilayahnya sendiri. Alasan teknis terjadinya skisma adalah karena Uskup Roma mengucilkan (ekskomunikasi) yang lainnya pada tahun 451 sebab menolak ketetapan beliau mengenai ajaran "hakikat yang terpisah" atas mereka, dengan menyatakan mereka keluar dari persekutuan dengan beliau, meskipun mereka terus mengakui beliau sebagai seorang yang setara dengan mereka. Dengan adanya deklarasi-deklarasi belakangan ini, masih belum jelas apakah Uskup Agung Roma tetap menganggap ke-3 yang lainnya dikucilkan, atau kini menganggap mereka sepenuhnya berada dalam persekutuan seperti dahulu.

Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa dirinyalah yang merupakan Gereja yang Satu, Kudus, katolik, dan Apostolik yang didirikan oleh Yesus; namun juga tidak menyangkal bahwa satu-satunya Gereja Kristus yang sejati eksis, meskipun tidak sepenuhnya, dalam gereja-gereja dan lembaga-lembaga gerejawi lainnya. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatisnya tentang Gereja (Lumen gentium, 1964, § 15), menyatakan: "dalam satu dan lain cara [umat Kristiani non-Katholik] bersama-sama dengan kita di dalam Roh Kudus, karena bagi mereka juga Ia memberikan anugerah dan rahmat-Nya, yang dengannya Ia berkarya di tengah-tengah mereka dengan kuasa-Nya yang menguduskan."

Komuni Ortodoks Oriental

Komuni Ortodoks Oriental merupakan suatu kelompok gereja dalam Ortotoksi Oriental yang menjalin komuni penuh satu sama lain. Yang termasuk di dalamnya adalah:

  • Gereja Apostolik Armenia
  • Gereja Ortodoks Koptik di Alexandria
    • Gereja-Tewahedo Ortodoks Ethiopia
    • Gereja-Tewahedo Ortodoks Eritrea
  • Gereja Ortodoks Britania
  • Gereja-Timur Ortodoks India
  • Gereja Ortodoks Suryani di Antiokhia (juga disebut Gereja Ortodoks Suriah)
    • Gereja Ortodoks Suryani Yakobit Malankara

Gereja Timur Asiria

Gereja Timur Asiria kadang kala, meskipun tidak tepat, dianggap sebagai sebuah Gereja Ortodoks Oriental. Karena sebahagian besar terpusat di wilayah Kekaisaran Persia, Gereja ini memisahkan diri secara administratif dari Gereja Besar di Kekaisaran Romawi sekitar tahun 400 Masehi, dan kemudian keluar dari persekutuan dengan Gereja Besar sebagai reaksi terhadap keputusan Konsili Efesus yang diselenggarakan pada tahun 431. Selain itu, Gereja Assyria menghormati orang-orang kudus yang di-anathema oleh Gereja Besar dan turunan-turunannya. Lagi pula Gereja Asiria menerima suatu bentuk Kristologi yang bersifat Nestorian atau mirip-Nestorian yang ditolak oleh Komuni Ortodoks Oriental.

Pranala luar


Gereja Orthodox Timur

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Gereja-Gereja Ortodoks, adalah nama sebuah kelompok denominasi gereja yang pengikutnya terutama berada di Eropa Timur dan daerah pesisir timur Laut Tengah. Selain itu, Gereja Ortodoks juga terdapat di India, Jepang, dan sekarang juga di Indonesia.
Umat gereja Ortodoks beribadat mengikuti Ritus Bizantin dan tata-tertib gerejawi Bizantium karena pengaruh Gereja Konstantinopel (Bizantium). Selama milenium (seribu tahun) pertama Kekristenan, lima wilayah yaitu Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia, Roma dan Konstantinopel berada dalam persekutuan dan mengaku sebagai Gereja yang Satu, Kudus (Suci), Katolik (Penuh/Universal) dan Apostolik (Rasuli). Perkembangan politik dan jatuhnya Romawi Barat ke tangan suku-suku Jerman mengakibatkan jarangnya komunikasi antara Gereja Barat (Roma) dan Gereja Timur (Jerusalem, Aleksandria, Antiokhia dan Konstantinopel). Pada tahun 1054 utusan Paus Roma ke Konstantinopel mengekskomunikasi Patriarkh Konstantinopel, yang membalas dengan tindakan serupa. Menurut pandangan Roma (satu-satunya wilayah patriarkhal Gereja Barat), Gereja Ortodoks yang memisahkan diri dari Gereja Yang Satu yaitu Gereja Katolik Roma. Tapi menurut pandangan Gereja Timur (empat wilayah patriarkhal), Roma lah yang jatuh dalam kesesatan (dengan memaksakan kekuasaan paus dan mengubah Pengakuan Iman Nicea) dan memisahkan diri dari Gereja Yang Satu. Perpecahan ini disebut skisma. Sampai sekarang Gereja Ortodoks tetap menganggap dirinya sebagai Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Gereja Katolik Roma juga mengklaim hal yang sama.
Daftar isi
Perbedaan dengan Gereja Barat
Ada perbedaan dengan Gereja Katolik Roma namun banyak pula persamaannya. Kalangan Kristen lainnya cenderung menganggap bahwa perbedaan utamanya ialah bahwa Gereja Ortodoks banyak menekankan ritus dan doa dalam bahasa tertentu, terutama dalam Bahasa Yunani Kuno atau Bahasa Slavonik Kuno Gerejawi (Old Church Slavonic). Sebenarnya Gereja Ortodoks menganut prinsip bahwa ibadah atau liturgi hendaknya dimengerti oleh umat. Oleh karena itu sejak permulaan, Gereja Ortodoks mendukung usaha penerjemahan Kitab Suci dan liturgi ke bahasa setempat. Bahasa Yunani Perjanjian Baru (Koine) adalah bahasa asli Kitab Suci Perjanjian Baru, jadi bahasa ini menduduki tempat khusus dalam kehidupan Gereja. Namun di Yunani sekarang ibadah dirayakan dalam bahasa Yunani yang dimengerti umat, bukan bahasa Yunani abad pertama.
Pemakaian bahasa Slavonik sebenarnya merupakan bukti prinsip penerjemahan tersebut. Santo Cyril dan Santo Methodius menyebarkan agama Kristen (Ortodoks) ke bangsa-bangsa Slavia (Eropa Timur) pada abad ke-10 dan menerjemahkan Kitab Suci dan liturgi ke bahasa mereka saat itu. Bahasa Slavonik yang dipakai mereka menjadi semacam bahasa klasik bagi bangsa-bangsa Slavia termasuk Rusia. Walau mungkin gereja-gereja di sana masih memakai bahasa Slavonik Kuno, secara prinsip Gereja Ortodoks menekankan bahwa bahasa liturgi hendaklah dimengerti oleh umat. Gereja-gereja Ortodoks di Eropa Barat, Amerika dan Asia biasanya memakai bahasa setempat.
Lalu teologi gereja Ortodoks lebih bersifat mistik. Gereja-gereja Ortodoks juga cenderung menjadi gereja nasional, misalkan Gereja Ortodoks Rusia, Yunani dan sebagainya.
Jumlah penganut
Bersasarkan jumlah penganut, Ortodoksi Timur adalah komuni Kristiani terbesar kedua di dunia sesudah Gereja Katolik Roma.[1] Estimasi paling umum mengenai jumlah umat Kristiani Ortodoks Timur di seluruh dunia berkisar antara 150-350 juta jiwa. [2] Ortodoksi Timur adalah agama tunggal terbesar di Belarusia (89%), Bulgaria (86%), Republik Siprus (88%), Georgia (89%), Yunani (98%), Republik Makedonia (70%), Moldova (98%), Montenegro (84%), Romania (89%), Rusia (88%), Serbia (88%), dan Ukraina (83%).[3] Ortodoksi Timur juga merupakan agama dominan di Republika Srpska (92%) entitas di Bosnia dan Herzegovina, serta agama dominan di Kazakhstan Utara (48% dari populasi Kazakhstan). Selain itu, ada pula sejumlah besar komunitas Ortodoks di Afrika, Asia, Australia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.
Ortodoksi-Timur dan Ortodoksi-Oriental
Gereja-Gereja Ortodoks mengklaim diri sebagai kelanjutan dari jemaah Kristiani perdana, yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri serta para Rasul-Nya. Namun perlu diperhatikan bahwa ada dua persekutuan Ortodoks yang berbeda. Persekutuan Ortodoks yang pertama dan yang terbesar adalah yang disebut Gereja Ortodoks Timur, yakni gereja-gereja Ortodoks yang menerima hasil ketujuh Konsili ekumenis seperti Gereja Katolik Roma. Komunitas Ortodoks yang lain dibedakan dari Ortodoksi Timur dengan menggunakan sebutan Gereja Ortodoks Oriental. Ortodoksi Oriental hanya menerima hasil dari 3 Konsili Ekumenis yang pertama, yaitu Konsili Nicea I, Konsili Konstantinopel I, dan Konsili Efesus. Komunitas ini terpisah setelah beberapa Uskup peserta Konsili Khalsedon memutuskan untuk tidak menerima hasil Konsili tersebut, dan dengan demikian memutuskan jalinan persekutuan dengan Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan Apostolik, yang pada masa itu meliputi baik Gereja-Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Katolik Roma.
Persamaan dengan Gereja Barat
Persamaan dengan Gereja Katolik Roma ialah Gereja Ortodoks mengakui semua keputusan-keputusan ke-7 Konsili Ekumenis sebelum tahun 1054. Misalkan Doa Syahadat Nicea juga dipakai tetapi tanpa kata filioque yang merupakan tambahan dari Katolik Roma tanpa persetujuan dari 4 Patriarkh di Timur. Imam Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik Ritus Timur diizinkan menikah, namun para uskupnya dipilih hanya dari mereka yang selibat (tidak menikah).
Pasca Skisma
Semenjak perpecahan Gereja Ortodoks sering bertikai dengan Gereja Barat. Bahkan ketika Konstantinopel direbut orang Turki pada tahun 1453, orang Barat tidak membantu.
Lalu semenjak tahun 1917 dengan Revolusi Oktober di Rusia, Gereja Ortodoks Rusia mulai ditindas dengan kejam oleh rezim komunis. Banyak rohaniwan dibunuh atau dideportasi ke Siberia. Gedung-gedung gereja banyak yang berubah fungsi menjadi tempat-tempat lain, bahkan kadang-kadang dipakai sebagai penjara. Mereka baru boleh bebas beribadah lagi pada awal dasawarsa terakhir abad ke-20.
Beberapa Gereja Ortodoks Penting
referensi
  1. ^ [1]
  2. ^ [2]
  3. ^ [3]

May 12, 2008

Konsili Khalsedon

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Konsili Khalsedon adalah sebuah konsili ekumenis yang berlangsung dari tanggal 8 Oktober sampai 1 November tahun 451 di Khalsedon (sebuah kota di Bithinia di Asia Kecil) yang kini merupakan bagian kota Istanbul di sisi Asia dari selat Bosforus dan dikenal sebagai distrik Kadıköy. Konsili ini adalah yang ke-4 dari tujuh Konsili Ekumenis dalam agama Kristen, dan oleh karena itu dianggap infalibel (tak bercela)dalam definisi dogmatisnya oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Konsili ini menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus, dan menetapkan Pengakuan Iman Khalsedon, yang menggambarkan kemanusiaan penuh dan keilahian penuh dari Yesus, pribadi kedua dari Tritunggal Kudus.

Daftar isi

Latar belakang sejarah

Sisa-sisa Nestorianisme

Setelah Konsili Efesus mengutuk Nestorianisme, masih tersisa konflik antara Patriark Yohanes dari Antiokhia dan Kiril dari Alexandria. Kiril menuduh Yohanes masih tetap berpandangan Nestorian, sebaliknya Yohanes menuduh Kiril berpegang pada bidaah Apolinaris. Keduanya menyelesaikan perselisihan dengan mediasi Akasius, Uskup Berea, pada tanggal 12 April 433. Pada tahun berikutnya, Teodoret dari Sirus ikut menyetujui pula kesepakatan mereka, dan dengan demikian tampaknya masalah Nestorianisme telah dilupakan untuk selama-lamanya.
Namun meskipun demikian, karya dari kedua teolog Antiokhia yang telah lama wafat, yakni Diodorus dari Tarsus dan Teodorus dari Mopsuestia pada masa itu diterjemahkan ke dalam bahasa Syria. Berkat campur tangan Uskup Agung Proklus dari Konstantinopel, kedua teolog itu dikutuk di seluruh dunia Timur, namun situasi ini justru kelak menjadi pokok bahasan dalam Konsili Konstantinopel II beberapa ratus tahun kemudian.

Kontroversi Eutikus

Sekitar dua tahun setelah wafatnya Kiril dari Alexandria pada tahun 444, seorang biarawan tua dari Konstantinopel bernama Eutikus mulai mengajarkan suatu variasi halus dari Kristologi tradisional sebagai suatu upaya (sebagaimana yang dijelaskannya dalam sepucuk surat kepada Paus Leo I pada tahun 448) untuk menghentikan merebaknya kembali Nestorianisme. Ia mengklaim dirinya sebagai pengikut setia ajaran Kiril, yang dinyatakan ortodoks pada Persatuan tahun 432.
Kiril mengajarkan bahwa "Hanya ada satu fusis, sebab itulah Inkarnasi (penjelmaan) dari Allah Sang Firman." Tampaknya Kiril mengartikan kata Yunani dalam arti yang kira-kira sama dengan arti kata Latin persona (pribadi), sementara kebanyakan teolog Yunani akan menerjemahkan physis ke dalam Bahasa Latin sebagai natura (hakikat). Jadi, banyak orang merasa Eutikus mengajarkan semacam kebalikan dari Arianisme -- bila Arius menyangkal hakikat ilahi Yesus, maka Eutikus tampaknya menyangkal hakikat insani-Nya. (Ortodoksi Kiril tidaklah dipertanyakan, karena Persatuan tahun 433 dengan jelas berbicara mengenai dua fusis dalam konteks tersebut)
Paus Leo I, dari Roma, menulis bahwa kesalahan Eutikus tampaknya hanya timbul karena kurang cakapnya dia dalam masalah ini, dan bukan karena dia berniat buruk. Lebih jauh lagi, dalam pertikaian ini, pihak Eutikus cenderung untuk tidak mendebat para penentangnya, sehingga kesalahpahaman ini tidak terungkap. Namun karena tingginya kedudukan Eutikius (kedua setelah Patriarkh Konstantinopel di Timur), ajarannya dengan cepat tersebar ke seluruh dunia timur.
Pada bulan November 447, selama berlangsungnya suatu sinode lokal di Konstantinopel, Eutikus ditolak karena dianggap bidaah oleh Eusebius, Uskup Dorileum, disertai tuntutan agar ia diturunkan dari jabatannya. Flavianus dari Konstantinopel tidak berniat membahas masalah ini, karena besarnya pengaruh Eutikus, namun akhirnya menyerah, dan demikianlah akhirnya Eutikus dikutuk sebagai bidaah oleh sinode itu. Meskipun demikian, Kaisar Teodosius II dan Paus Alexandria, Dioskorus, tidak menerima keputusan sinode tersebut karena Eutikus telah bertobat dan menyatakan ortodoksitasnya. Dioskorus mengadakan sinodenya sendiri yang memutuskan untuk mengembalikan Eutikus ke jabatannya, sementara kaisar mencanangkan diselenggarakannya suatu konsili di Efesus pada tahun 449, serta mengundang Paus Leo I, yang setuju untuk diwakili oleh tiga orang utusannya.

"Latrocinium" dari Efesus

Pada waktu itu, Paus telah mendapat pemberitahuan dari Flavianus, dan ia sendiri telah menetapkan bahwa Eutikus keliru dan bahwa pencopotannya pada tahun 447 sudah benar. Ia menulis kepada konsili, memberitahukan mereka bahwa mereka harus menerima keputusannya tentang masalah ini, namun ia membiarkan hukuman terhadap Eutikus terbuka untuk pembahasan. Tampaknya Paus Leo I tidak tahu mengenai pengakuan yang dilakukan Eutikus kepada Paus Dioskorus dari Alexandria.
Konsili yang diselenggarakan Teodosius bersidang pada tanggal 8 Agustus 449, dihadiri kurang-lebih 130 uskup. Dioskorus memimpin konsili berdasarkan perintah kaisar. Kaisar menolak pemberian hak suara kepada uskup manapun yang dua tahun sebelumnya telah setuju untuk menggulingkan Eutikus. Akibatnya justru dukungan untuk Eutikus hampir mutlak, dan Flavianus sendiri digulingkan dan diasingkan. Ia meninggal dunia tak lama kemudian. Utusan paus pulang dengan surat untuk paus dari Flavianus, dan dalam sesi kedua, tanpa kehadiran perwakilan paus, beberapa uskup lainnya juga disingkirkan, termasuk Ibas dari Edesa, Ireneus dari Tirus (seorang sahabat pribadi Nestorius), Domnus dari Antiokhia, dan Teodoret.
Keputusan-keputusan konsili ini menimnulkan kekhawatiran akan timbulnya skisma antara Timur dan Barat, karena semuanya jelas-jelas berlawanan dengan pernyataan paus, meskipun pernyataan itu sendiri tidak pernah dibacakan. Paus menyebut konsili ini sebagai "Sinode para penyamun" — Latrocinium — dan menolak menerima keputusan-keputusannya. Suratnya sama sekali tidak dibacakan dalam konsili dan para utusan paus juga pulang bersama surat itu, sebab itulah Paus menyebutnya Sinode penyamun.

Penyelenggaraan Konsili dan sesi-sesi

Keadaan terus memburuk, paus menuntut diselenggarakannya suatu konsili baru, sementara kaisar menolak untuk takluk, dan pada saat yang sama mengangkat uskup-uskup yang sehaluan dengan Dioskorus. Semua ini berubah secara dramatis dengan kematian Teodosius II dan penobatan Markianus sebagai kaisar baru, karena Markianus adalah pembela doktrin Flavianus dan Leo.
Markianus setuju untuk menyelenggarakan suatu konsili baru, tapi bukan di Italia, sebagaimana permintaan paus, melainkan di Timur. Namun ia mengundang paus untuk memimpin secara pribadi. Ia mengusahakan agar para uskup yang tersingkir dikembalikan ke keuskupan-keuskupan mereka dan memerintahkan agar jenazah Flavianus dibawa ke ibu kota untuk dimakamkan secara terhormat.
Konsili diundang untuk bersidang di Nicea, namun pada detik-detik terakhir dipindahkan ke Khalsedon, dan di situ konsili dibuka pada tanggal 8 Oktober 451. Utusan Paus, Paskanius diutus untuk memimpin jalannya konsili. Leo sendiri mengirim sepucuk surat kepada Konsili, mengutuk hasil karya "latrocinium" dan menunjukkan bahwa doktrin Inkarnasi yang benar dapat dibaca dalam surat sebelumnya kepada Flavianus.
Peserta konsili ini sangat banyak, sekitar 500 uskup. Paskanius menolak untuk memberi kursi dewan bagi Dioskorus (yang sebelumnya dikucilkan paus dalam rentang waktu sebelum konsili), akibatnya, ia dipindahkan ke tengah-tengah gereja. Selanjutnya Paskanius memerintahkan pemulihan jabatan Teodoret, dan agar ia diberi kursi, namun langkah ini menimbulkan kehebohan di antara para Bapa Konsili, sehingga Teodoret juga duduk di tengah gereja, meskipun ia diberi hak suara dalam proses persidangan, yang dimulai dengan peradilan atas Dioskorus.
Markianus ingin agar konsili lebih cepat selesai, dan meminta dewan membuat pernyataan tentang doktrin Inkarnasi sebelum melanjutkan peradilan. Namun para Bapa Konsili merasa bahwa tidak diperlukan suatu kredo, dan bahwa doktrin telah diuraikan dengan jelas dalam surat Leo kepada Flavianus, yang sejak itu disebut "Tome"[1]. Hari kedua konsili berakhir dengan seruan lantang para uskup, "Petrus sendiri yang mengatakan hal ini melalui Leo. Inilah yang kami sekalian yakini. Inilah iman para Rasul. Leo dan Kiril mengajarkan hal yang sama."
Konsili berlanjut dengan peradilan atas Dioskorus, namun ia menolak tampil di hadapan dewan. Akibatnya, ia dikutuk secara mutlak (meskipun para uskup Mesir tampaknya terintimidasi dalam hal ini), dan semua dekrit yang dikeluarkannya dinyatakan batal. Markianus menanggapi dengan mengasingkan Dioskorus. Semua uskup kemudian diminta menandatangani kesepakatan mereka atas Tome tadi, namun suatu kelompok yang terdiri dari 13 uskup Mesir menolak, dengan alasan bahwa mereka hanya setuju pada "iman yang tradisional". Akibatnya, para komisioner kaisar memutuskan bahwa memang perlu ada suatu kredo lalu mengajukan sebuah naskah kepada para Bapa Konsili. Tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai, dan memang naskah itu sendiri lenyap hingga saat ini.
Paskanius mengancam untuk kembali ke Roma untuk menghimpun kembali dewan di Italia. Markianus setuju dan berkata bahwa jika suatu klausa tidak ditambahkan kepada kredo yang mendukung doktrin Leo, maka sidang harus beralih lokasi. Para uskup menyerah lalu menambahkan sebuah klausa, yang isinya adalah, "menurut keputusan Leo, di dalam Kristus terdapat dua hakikat yang bersatu, yaitu tidak dapat diubah-ubah, dan tidak dapat dipisah-pisah."
Karya konsili ini terangkum dalam 30 [2] kanon disiplin.
  1. menyatakan, semua kanon dari konsili-konsili sebelumnya tetap berlaku, konsili-konsili yang dimaksud diklarifikasikan oleh kanon 2 Konsili Quinisext (Konsili Kelima-Keenam),
  2. menyatakan, bagi mereka yang membeli jabatannya, anatema,
  3. melarang para uskup untuk terlibat dalam bisnis,
  4. memberikan, wewenang bagi para uskup atas para biarawan dalam keuskupannya, dengan hak untuk mengizinkan atau melarang pendirian biara-biara baru,
  5. mengharuskan, para uskup keliling tunduk pada hukum kanon,
  6. melarang, kaum klerus untuk berpindah keuskupan atau
  7. menjadi anggota militer
  8. tempat-tempat pelayanan bagi kaum papa ditempatkan di bawah yurisdiksi uskup,
  9. membatasi kemungkinan untuk menuduh seorang uskup melakukan penyelewengan,
  10. melarang kaum klerus menjadi anggota dari lebih dari satu gereja,
  11. memperhatikan surat-surat perjalanan bagi orang miskin,
  12. provinsi tidak akan dibagi-bagi dengan maksud menciptakan gereja lain,
  13. tak seorangpun dari kaum klerus yang boleh diterima oleh pihak lain tanpa surat rekomendasi,
  14. memperhatikan istri dan anak-anak para kantor (penyanyi dalam liturgi) and lektor (pembaca dalam liturgi),
  15. diakones (diakon wanita) harus berusia paling kurang 40 tahun,
  16. melarang para biarawan dan biarawati untuk menikah dengan ancaman ekskomunikasi,
  17. gereja-gereja pedesaan tidak dapat mengganti uskup,
  18. melarang persekongkolan,
  19. mengharuskan para uskup untuk menyelenggarakan sinode dua kali dalam setahun,
  20. mendaftarkan pengecualian-pengecualian bagi mereka yang telah diusir ke kota lain,
  21. menyatakan, penuduh seorang uskup harus lebih dahulu dicurigai sebelum uskup yang bersangkutan,
  22. menyatakan ilegal, menyita barang-barang milik seorang uskup yang telah meninggal dunia,
  23. mengizinkan, pengusiran orang luar yang menyulut huru-hara di Konstantinopel,
  24. biara-biara bersifat permanen,
  25. mengharuskan seorang uskup baru diangkat dalam waktu 3 bulan,
  26. mengharuskan gereja-gereja memiliki seorang penatalayan (kepala urusan rumah tangga / steward) untuk memantau urusan gereja,
  27. melarang, membawa lari wanita dengan pernikahan pura-pura (kawin lari)
  28. memberikan kepada Konstantinopel hak-hak istimewa yang setara (isa presbeia) dengan Roma karena Konstantinopel adalah Roma Baru sebagaimana diperbaharui oleh kanon 36 dari Konsili Quinisext (para utusan paus tidak hadir untuk memberikan suaranya untuk kanon ini, dan kemudian mengajukan protes),
  29. menyatakan bahwa seorang uskup tidak dapat diturunkan statusnya, melainkan hanya disingkirkan,
  30. memberikan waktu kepada pihak Ortodoks Koptik untuk mempertimbangkan penolakan mereka atas Tome Leo.

Akibat-akibat Konsili

Akibat langsung dari Konsili ini adalah sebuah skisma besar. Para uskup peserta Konsili yang meresahkan bahasa dalam Tome dari Sri Paus Leo, menolak hasil Konsili dengan alasan bahwa pengakuan atas dua fusis itu artinya sama saja dengan mengakui Nestorianisme. Inilah asal-muasal terpisahnya kaum Ortodoks Oriental sebagai suatu persekutuan tersendiri, yang hingga kini menolak hasil konsili ini.
Pada tahun-tahun belakangan telah terjadi sejumlah dialog antara umat Kristiani lainnya dengan Gereja Ortodoks Oriental. Beberapa uskup Ortodoks Oriental telah menyatakan bahwa perbedaan dalam doktrin tersebut tidak lebih daripada suatu kesalahpahaman dan semenjak itu telah bersatu kembali dengan Gereja Katolik atau Gereja Ortodoks Timur. Gereja-gereja Katolik ritus timur yang berasal dari kaum Ortodoks Oriental yang kembali bersatu dengan Roma mencakup unsur-unsur dari Gereja Alexandria, Gereja Suriah, dan Gereja Armenia. Sekali waktu, Gereja Ortodoks dan Apostolik Georgia pernah menjadi bagian dari persekutuan Ortodoks Oriental, namun kini Ortodoks Timur. Selain itu, sebahagian Gereja Apostolik Armenia untuk sementara waktu pernah menjalin persekutuan dengan Ortodoksi Timur via Gereja Ortodoks Rusia.

Pengakuan Khalsedon

Pengakuan terlengkap mengenai Pribadi Kristus terjadi dalam Konsili Khalsedon pada tahun 451:
   
Dengan meneladani para Bapa suci, kami sepenuhnya mengajarkan dan mengakui sang Putera yang satu dan sama, Tuhan kita Yesus Kristus: yang sempurna dalam keilahian dan sempurna dalam kemanusiaan yang sama, yang adalah Allah sejati dan manusia sejati yang sama, yang terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional; yang sehakikat (konsubstansial) dengan Sang Bapa dalam keilahian-Nya dan sehakikat dengan kita dalam kemanusiaan-Nya; "sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa." Ia keluar dari Sang Bapa sebelum segala zaman dan pada hari-hari terakhir ini, demi kita dan demi keselamatan kita, dilahirkan dalam kemanusiaan-Nya dari Perawan Maria, Bunda Allah.
Kami mengakui bahwa Kristus, Tuhan, dan Putera tunggal yang satu dan sama itu, dikenal dalam dua hakikat tanpa kekacauan, perubahan, pemilah-milahan, atau pemisahan. Perbedaan antar hakikat tidak dihilangkan oleh kebersatuannya, akan tetapi karakter masing-masing dari kedua hakikat itu terlestarikan karena keduanya berada dalam satu pribadi (prosopon) dan satu hypostasis.
   

Pranala luar