Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

November 15, 2011

HARI RAYA IDUL ADHA dalam perspektif Kristen


“Pada tanggal 6 November 2011, dunia Islam merayakan hari raya Idul Adha untuk mengenang karya iman nabi Ibrahim yang dipercaya menunjukkan penyerahan diri yang luar biasa dengan merelakan anaknya sebagai korban ujian Allah. Menarik untuk dilihat bahwa peristiwa ini tercatat dalam ketiga kitab suci agama semitik yang ketiganya mengaku Abraham/Ibrahim sebagai Bapa Monotheisme yang menyembah Elohim/Allah yang sama (perhatikan bahwa Al-Quran menyebut sesembahan Abraham/Ibrahim itu ‘Allah’ dan  Arabic Bible menyebut nama sesembahan Abraham/Ibrahim itu ‘Allah’ juga. Kalau dalam Tanakh disebut Abraham menyembah ‘Elohim,’ dalam Al’Quran dalam bahasa Ibrani ‘Al-Quran Tirgem Avrit’ Allahditerjemahkan dengan ‘Elohim. Nama Allah sudah digunakan orang Arab sejak berkembangnya bahasa Arab termasuk bangsa Arab yang beragama Hanif, Yahudi dan Kristen lama sebelum agama Islam lahir).
Dalam agama Yahudi yang tercatat dalam Tanakh (menjadi PL bagi Kristen),Abraham mempersembahkan Ishak (Kej.22:1-19) dimana peristiwa ini merupakan ujian bagi iman Abraham sehingga ia kemudian dijuluki ‘Bapa Orang Beriman’ (Gal.3:6-7). Peristiwa pengorbanan anak Abraham juga diakui dan tercatat dalam Perjanjian Baru Kristen (Ibr.11:17-19). Keduanya mengaminkan bahwa peristiwa itu sekaligus menunjuk pada perjanjian Tuhan melalui Ishak dan keturunannya (Kej.21:12; Ibr.11:18), dan bagi umat Kristen, pengorbanan Ishak menunjuk kepada pengorbanan Yesus Kristus (Rm.4; Gal.3).
Berbeda dengan pendapat sebagian orang yang menganggap bahwa ‘Allah’ adalah nama dewa, Idul Adha adalah perayaan menyembah Tuhan yang bernama ‘Allah’ yang sudah dikenal bangsa Arab sejak lama setidaknya dalam peristiwa ujian bagi Abraham. Perlu disadari bahwa kaum ‘hunafa’ (tunggal hanif) bangsa Arab (terutama suku Ibrahimiyyah dan Ismaeliyyah) secara turun-temurun mengenal dan mempertahankan iman kepada ‘Allah’ Abraham itu yang diperkuat melalui perayaan Idul Adha yang merupakan ritual Islam yang meneruskan tradisi orang Hanif.
Orang Arab juga mewarisi pengetahuan mengenai Elohiml/Allah itu sebelum Abraham melalui keturunan Sem (melalui anaknya Aram) dan Eber (melalui anaknya Yoktan). Hanya, berbeda dengan kitab suci agama Yahudi dan Kristen, Al-Quran (QS.37:99-113) tidak menyebutkan siapa yang dikorbankan, namun tradisi Islam menyebut Ismael yang dikorbankan. Dari sini kita melihat bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam mengenalElohim/Allah yang sama dan Abraham/Ibrahim yang sama, namun berbeda dalam pengajaran/aqidah mengenai nama yang sama itu yang berkembang dalam kitab suci dan tradisi yang dipercayai oleh masing-masing.
Tidak perlu disangkal bahwa ketika agama semitik itu menjadikan Abraham/Ibrahim sebagai bapa umat beriman dan bagi umat Islam peristiwa itu dikenang terus sebagai ‘Idul Adha,’ jadi kesamaan nama sesembahan yaitu Elohim/Allah sebenarnya mengikat ketiganya dalam satu iman kepada agama monotheisme. Namun sekalipun demikian, kesamaan itu tidak berarti bahwa segala-galanya juga sama, sebab dalam hal ajaran/aqidah mengenai nama yang sama itu dijumpai perbedaan-perbedaan.
Baik umat Yahudi maupun Kristen menyembah Elohim/Theos yang sama seperti yang dipercaya Abraham sesuai dengan Kitab Perjanjian Lama, namun bagi umat Yahudi, Elohim itu bersifat monotheisme tunggal dimana Yesus tidak diakui sebagai Tuhan melainkan hanya sebagai guru Yahudi saja. Umat Kristen menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Guru dan Tuhan dan Juruselamat manusia sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Kitab Perjanjian Baru (Yoh.3:16; Mat.13:13). Demikian juga dengan tradisi keturunan Ismael yang diteruskan dalam agama Islam diikuti terus dengan menjadikan Abraham bapa orang beriman namun mengajarkan aqidah yang menolak penebusan Tuhan Yesus Kristus dikayu salib sehingga meneriskan tradisi Idul Adha yang bersifat kurban dan amal baik.
Tradisi Idul Adha sekaligus mengingatkan kita bahwa baik agama Yahudi maupun Islam masih menggunakan ‘kurban, dan amal baik’ sebagai jalan keselamatan. Mereka belum mengenai jalan anugerah keselamatan melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus yang adalah ‘Allah yang menyertai kita’ (Imanuel)Nama Yesus Kristus dan Injil keselamatan yang dibawa-Nya inilah yang perlu disampaikan kepada umat Yahudi maupun Islam dengan kasih sebagai kesaksian. ***
salam kasih dari yabina ministry

April 17, 2011

Perjumpaan Kristen-Islam: Konflik dan Kerjasama

Entah kapan tepatnya, Kristen, terutama Protestan, masuk ke Indonesia. Tetapi bahwa yang paling nyata tercatat dalam sejarah adalah ketika kekuasaan VOC menancapkan kakinya di beberapa wilayah di Nusantara pada abad ke-17. Kedatangan kekristenan bersama dengan penjajah Belanda itu sedikit membuka pemikiran orang-orang pribumi tentang Protestantisme. Orang-orang Maluku dan Sulawesi Utara yang pada abad ke-16 dikonversi ke Katolik oleh orang-orang Portugis dan Spanyol, dipaksa oleh Belanda pindah ke Protestan.
Tetapi secara umum, tujuan VOC bukanlah menyebarkan agama, melainkan berdagang dan mencari keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya. Karena itu, dalam sejarahnya, pemerintah kolonial Belanda tidak sepenuhnya mendukung kegiatan-kegiatan missi Kristen, bahkan wilayah-wilayah tertentu dianggap sensitif, dilarang untuk operasi kegiatan missi. Baru setelah paroh kedua abad ke-19, seturut dengan dimulainya politik etis terhadap Hindia Belanda pemerintah kolonial Belanda mendukung kegiatan-kegiatan missi, bahkan menggaji para pendeta dan memberikan dana untuk lembaga-lembaga sosial Kristen.
Dukungan pemerintah kolonial terhadap missi Kristen semakin menimbulkan pandangan negatif di kalangan Muslim bahwa Kristen adalah agama para penjajah. Lebih-lebih ketika diketahui bahwa bantuan pemerintah kolonial terhadap gereja dan lembaga-lembaga Kristen lainnya sangat jauh lebih besar daripada yang diberikan kepada kaum Muslim.
Di sisi lain, di kalangan Muslim muncul reaksi yang berbeda dalam menghadapi pihak asing ini. Kalangan ulama tradisional memutuskan untuk tidak menjalin hubungan yang dekat dengan pemerintah kolonial dan memusatkan perhatian mereka pada dakwah Islam melalui pesantren-pesantren.
Sebaliknya, kalangan reformis–yang menonjol di antaranya adalah pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dachlan–mencoba mengadopsi lembaga-lembaga sosial seperti rumah sakit dan panti yang dikembangkan oleh para missionaris, dan sistem sekolah yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial. Karena sikapnya ini, lembaga-lembaga Muhammadiyah menerima subsidi pemerintah, meskipun jumlahnya tetap lebih minim dibandingkan dengan yang diterima lembaga-lembaga Kristen.
Konon Dachlan semasa hidupnya menjalin hubungan dekat dengan para missionaris di Yogyakarta (mungkin untuk mencari tahu bagaimana cara mengelola lembaga-lembaga sosial), tetapi sepeninggalnya, hubungan pemimpin Muhammmadiyah dengan tokoh-tokoh Kristen memburuk karena konflik soal bantuan pemerintah kolonial yang dianggap menganakemaskan Kristen. Jadi, titik konflik antara Kristen dan Islam pada saat ini ada pada dua hal. Pertama, Kristen sebagai agama penjajah. Kedua, soal “UUD” (ujung-ujungmya duit), yaitu sokongan Belanda yang tidak adil.
Politik etis yang dimulai 1901 berhasil membuka wawasan bagi orang-orang pribumi, terutama dengan adanya kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan modern a la Belanda. Sejarah juga mencatat bahwa kesadaran nasionalisme justru tumbuh dari generasi yang mendapatkan keuntungan dari ‘politik etis’ tersebut.
Pada tiga dekade awal abad ke-20, mulai bermunculanlah tokoh-tokoh nasional yang dipengaruhi oleh ideologi-ideologi Barat seperti sosialisme, marxisme dan nasionalisme. Di pihak lain, kelompok Muslim santri ada juga yang mengenyam pendidikan Barat dan kemudian secara berangsur percaya bahwa Islam dapat dijadikan ideologi alternatif untuk masa depan Indonesia.
Bersamaan dengan kesadaran ini mulai muncul polemik keras melalui tulisan-tulisan teologis dari kalangan Kristen terhadap Islam dan sebaliknya. Muhammad Natsir, misalnya, adalah tokoh yang paling menonjol pada saat itu, di mana ia pernah menuntut seorang tokoh Katolik asal Belanda, Ten Berg, untuk diadili karena dianggap telah menghina Islam dalam sebuah tulisannya.
Masa Jepang
Kedatangan bangsa Jepang pada tahun 1942 telah membuka harapan baru bagi kaum santri untuk lebih berperan dalam politik nasional. Didorong oleh keinginan untuk memobilisasi massa rakyat demi kejayaan Asia Timur Raya, pemerintah kolonial Jepang mencoba mendekati pemimpin-pemimpin Muslim santri, baik melalui pendirian organisasi seperti Masyumi, ataupun melalui latihan-latihan militer. Sebagian dari tokoh-tokoh nasionalis Muslim juga mau bekerjasama dengan Jepang.
Di sisi lain, di masa Jepang ini, banyak di antara missionaris Kristen yang dibunuh atau ditangkap, dan hubungan gereja-gereja lokal dengan ‘ibu kandungnya’ di Eropa sempat terputus. Peristiwa ini nampaknya begitu berat dirasakan oleh orang-orang Kristen. Orang Kristen mulai menyadari bahwa kekristenan tidak dapat lagi bersandar pada kekuasaan hegemoni dan kolonialisme manapun.
Situasi ini menimbulkan akibat positif, yaitu munculnya kemandirian gereja dan semangat nasionalisme di kalangan Kristen. Umat Kristen mulai menyadari bahwa kekristenan harus berada di dalam keindonesiaannya. Sejak saat itu pula pertemuan-pertemuan pemahaman Alkitab sering diwarnai dengan issu-issu sosial seperti nasionalisme dan kemerdekaan.
Pada tahun 1945, Jepang akhirnya menyetujui pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan (BPUPK) yang anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia dan juga orang Jepang. Pada Mei hingga Juli 1945, BPUPK bersidang, membahas rancangan konstitusi dan dasar Negara Indonesia. Pada saat itulah dua sudut pandang bertarung, yakni antara golongan nasionalis yang menginginkan kebangsaan sebagai dasar Negara dan golongan agama yang menginginkan Islam sebagai dasar Negara. Kompromi akhirnya dibuat dengan rumusan yang kemudian dikenal sebagai ciri khas Piagam Jakarta: ‘Ketuhanan dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja.’
Namun pada 7 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk, yang anggota-anggotanya didominasi golongan nasionalis dan tidak ada orang Jepang seperti di BPUPK sebelumnya. Setelah peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang segera disusul oleh proklamasi kemerdekaan kita tanggal 17 Agustus 1945, PPKI pun bersidang. Maka sejarah mencatat bahwa dikarenakan keberatan dari orang-orang Kristen di Indonesia Timur, maka dibuatlah kompromi lagi tanggal 18 Agustus 1945, yaitu ‘pencoretan tujuh kata’ dan menggantikannya dengan ‘yang maha esa’ sehingga rumusannya menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa.’
Dalam pandangan sebagian golongan Islam, pencoretan tujuh kata di atas merupakan pengkhianatan golongan kebangsaan atas sesama teman seperjuangan. Apalagi, ketika diusulkan dalam sidang PPKI itu agar didirikan Departemen Agama, sidang menolaknya.
Tetapi rupanya kompromi dengan golongan agama Islam tidak bisa dihindari, terutama ketika kemerdekaan Indonesia diancam oleh kekuatan Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Konon di antaranya karena ingin mengambil hati golongan Islam dan menjaga persatuan dan kesatuan, maka Sutan Sjahrir selaku perdana menteri memutuskan untuk mendirikan Departemen Agama pada bulan Januari 1946. Jadi, eksistensi Depag dapat dianggap sebagai wujud nyata dari kompromi ideologis. Terlepas dari itu, kerjasama yang sudah terjalin baik dalam upaya mewujudkan kemerdekaan Indonesia telah tergores oleh persoalan politik menyangkut dasar negara.
Masa Orde Lama
Dalam perjalanan sejarah bangsa kita, memang pendulum kadang bergerak ke arah sekuler dan kadang ke arah Islam, tetapi tidak pernah yang satu ditinggalkan secara total oleh yang lain. Kompromi-kompromi terus dibuat, dan nampaknya bangsa ini bisa bertahan, salah satunya adalah karena kompromi-kompromi itu.
Setelah pemilu yang demokratis tahun 1955, partai-partai Islam kembali berusaha memperjuangkan Islam sebagai dasar Negara, terutama sidang Konstituante tahun 1957. Sidang ini akhirnya berujung pada jalan buntu karena baik pendukung Islam maupun Pancasila tidak ada yang memperoleh mayoritas dua pertiga suara. Kemudian atas dukungan militer, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945. Tetapi lagi-lagi dalam Dekrit tersebut Soekarno pun membuat kompromi di mana disebutkan: “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”
Soekarno kemudian menerapkan idenya tentang Demokrasi Terpimpin dengan ideologi ‘sintetis’ NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Sebagai bentuk kompromi dengan golongan Islam, khususnya NU yang mau bergabung dalam gerbong Demokrasi Terpimpin, Soekarno tetap mempertahankan Departemen Agama.
Ketika ketegangan antara PKI dan NU semakin meningkat di akhir paruh pertama tahun 1960-an, Menteri Agama yang juga tokoh NU, Saifuddin Zuhri, berhasil mendesak Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden No.1 Tahun 1965 mengenai ‘Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.’ Pasal 1 Tap Presiden ini menyatakan; Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
Larangan ini merefleksikan keinginan NU membendung kekuatan PKI yang pada saat itu aktif memobilisasi kelompok-kelompok kebatinan di Jawa untuk melawan Islam santri. Tap Presiden ini menjadi salah satu sumber hukum dalam penggusuran terhadap kelompok-kelompok seperti Al Qiyadah Al Islamiyah dan Islam lokal lainnya.
Ada sisi lain dari Tap Presiden No.1 Tahun 1965 ini. Dalam penjelasan Tap ini disebutkan bahwa agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, dan pada saat yang sama ditegaskan pula bahwa agama-agama lain misalnya Yahudi, Zoroaster dan Shinto tidaklah dilarang kehadirannya di Indonesia. Meskipun demikian, nampaknya penjelasan Tap inilah yang kemudian menggiring kepada kebijakan tentang ‘agama yang diakui dan tidak diakui’ di Indonesia.
Kudeta 30 September 1965 yang gagal telah mengubah arah politik bangsa Indonesia. Dalam perlawanan terhadap PKI yang dilakukan setelah kudeta, kaum Muslim dan Kristen bekerjasama bahu-membahu dengan tentara. Pada sidang MPRS tahun 1966 diputuskan bahwa pendidikan agama wajib dilaksanakan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan asumsi bahwa PKI itu atheis dan anti agama, maka untuk melawannya, generasi muda perlu diberikan pendidikan agama. Tidak hanya itu, asumsi bahwa orang tidak beragama (baca; masuk agama resmi) akan cenderung dituduh PKI telah membawa akibat lain, yaitu berbondong-bondongnya orang konversi ke agama resmi.
Konversi besar yang terjadi karena banyaknya orang yang masuk Kristen (meski yang masuk Islam dan agama lain juga banyak) yang kemudian dibesar-besarkan oleh media Barat dan missionaris asing, membuat kalangan Muslim (dan dalam batas tertentu juga kalangan Hindu Bali) merasa ketakutan dan merasa terancam. Inilah pangkal dari wacana mengenai ancaman kristenisasi di kalangan Islam yang berujung pada tuntutan untuk:
  1. Membatasi penyiaran agama hanya kepada yang belum beragama;
  2. Agar pembangunan tempat ibadah mendapat persetujuan penduduk setempat;
  3. Agar bantuan luar negeri kepada lembaga-lembaga keagamaan dikontrol pemerintah;
  4. Larangan kawin antar agama;
  5. Tuntutan agar pengajaran agama diberikan oleh guru yang seagama. Soal kristenisasi mulai menjadi akar konflik.
Masa Orde Baru
Setelah PKI dan Soekarno berhasil disingkirkan, tentara menganggap bahwa kekuatan Islam merupakan rival politik yang paling berbahaya dan karena itu harus disingkirkan. Dalam kondisi seperti ini, orang-orang Kristen dan minoritas lainnya tentu memilih beraliansi dengan ‘hijaunya’ tentara yang sedang naik panggung kekuasaan dan mengusung ideologi nasionalis ketimbang tunduk pada ‘hijaunya’ Islam. Karena itu, pada sidang MPRS 1967, usaha-usaha partai-partai Islam untuk memperjuangkan Piagam Jakarta mengalami kegagalan karena dibendung oleh tentara, kaum Muslim sekuler dan minoritas Kristen.
Setelah kegagalan ini, di beberapa daerah tertentu sempat ada usaha-usaha menerapkan syariah secara lokal, namun Mendagri memerintahkan pemerintah daerah yang bersangkutan untuk mencabutnya. Selain itu, rehabilitasi partai Masyumi juga tidak disetujui oleh pemerintah, dan Parmusi yang diharapkan mengganti Masyumi juga tidak boleh dipimpin oleh mantan tokoh Masyumi.
Pemerintah Orde Baru menekankan pentingnya ‘pembangunan ekonomi’ dan untuk itu, debat ideologis harus dihentikan. Pancasila kemudian dijadikan ideologi satu-satunya yang absah dan harus ditafsirkan sesuai dengan apa yang telah dibuat oleh pemerintah. Kondisi yang cukup menekan ini kemudian melahirkan satu gerakan pemikiran di kalangan muda Islam yang mencoba menawarkan suatu teologi politik yang non-ideologis. Slogan ketua HMI, Nurcholis Madjid: ‘Islam Yes, Partai Islam No?’ adalah arah baru pemikiran Islam saat itu. Munculnya gerakan Islam non-ideologis ini di satu pihak membuka jalan bagi terciptanya hubungan yang lebih terbuka dengan golongan nasionalis Muslim ataupun non-Muslim.
Tak perlu diragukan lagi bahwa pemerintah Orde Baru menyukai pandangan Islam non-idelogis ini. Kalangan Kristen yang dimotori oleh TB Simatupang, yang merasa terancam oleh ambisi ideologis gerakan-gerakan Islam, merasa mendapatkan teman sejalan. Langkah meninggalkan Islam sebagai ideologi ini kemudian diikuti oleh NU di awal tahun 1980-an, sesuai dengan kebijakan Orde Baru mengenai keharusan orpol dan ormas berasas tunggal Pancasila.
Ketika Mukti Ali terpilih sebagai Menteri Agama di tahun 1972, dia mencoba meretas dialog antar agama di Indonesia. Meskipun sebagai menteri Orba, Mukti Ali tak bisa lepas dari wacana pesanan, yakni ‘pembangunan,’ yang mendasari proyek kerukunan yang dijalankannya, ia bagaimanapun juga adalah tokoh Muslim pertama di Indonesia yang mempromosikan pentingnya dialog. Sejak saat itu dialog antar-agama di Indonesia baik yang disponsori oleh pemerintah ataupun oleh lembaga-lembaga swasta. Melalui dialog inilah para tokoh agama mencoba mencari titik temu dan kemungkinan kerjasama antar agama. Alhasil, munculnya kubu non-ideologis di kalangan Islam telah membuka jalan bagi dialog antar agama di Indonesia.
Di sisi lain, kelompok Islam ideologis atau Islam politik tetap tumbuh dan berkembang, baik secara terbuka atau sembunyi-sembunyi. Kelompok inilah yang biasanya bersuara sangat tajam mengkritik pandangan-pandangan teologis kalangan Muslim non-ideologis. Selama masa Orde Baru kelompok ini cukup lama tertekan dan menderita. Ada sebagian mereka yang dipenjarakan bahkan ada pula yang dibunuh. Satu dua dari organisasi kepemudaan mereka juga dilarang pemerintah karena menolak asas tunggal. Ketika Soeharto memilih beraliansi dengan tokoh-tokoh Islam, terutama yang di ICMI di tahun 1990-an, sebagian tokoh Islam ideologis tersebut agak mendapat angin, meskipun sudah cukup terlambat karena tidak lama kemudian Soeharto tergusur.
Masa Reformasi
Kejatuhan Soeharto di tahun 1998 dan lahirnya era Reformasi telah membuka kembali berbagai gerakan Islam ideologis yang selama ini tertekan atau bergerak secara sembunyi-sembunyi. Angin kebebasan dalam demokrasi Indonesia era reformasi, telah memberikan suasana baru bagi kelompok-kelompok ini untuk tampil kembali di ruang publik. Sebagian dari mereka berasal dari gerakan-gerakan dakwah kampus seperti KAMMI dan PKS, sebagian lagi berasal dari gerakan Islam luar negeri seperti Hizbut Tahrir, dan sebagian lagi adalah gerakan teroris a la Imam Samudera dan Amrozi. Mungkin banyak lagi kelompok-kelompok Islam garis keras yang bermunculan saat ini dengan agenda dan strategi yang berbeda-beda.
Di awal era reformasi, sejarah mencatat betapa ribuan nyawa melayang dalam konflik bersenjata dengan menggunakan simbol-simbol agama Islam dan Kristen di Poso dan Maluku. Tragedi di dua tempat ini seolah mengingatkan kita bahwa konflik atas nama agama dapat menimbulkan akibat yang begitu mengerikan, dan bahwa masalah hubungan antar agama harus dilihat dari konteks lokal ketimbang sekadar pandangan umum di tingkat nasional (Jakarta atau Jawa). Bukankah sejarah menunjukkan bahwa pada mulanya kita ini adalah suku-suku yang hidup dalam berbagai kerajaan dengan pengalaman historis, termasuk pengalaman hidup beragama yang berbeda-beda?
Masa reformasi juga ditandai dengan munculnya perdebatan isu-isu lama berkaitan dengan masalah kebebasan beragama dan kerukunan. Perdebatan seputar RUU Sisdiknas beberapa tahun yang silam, munculnya perda-perda syariah di berbagai tempat yang mayoritas penduduknya beragama Islam hingga heboh soal RUU KUB dan SKB No. 8 dan No. 9 tahun 2006 yang berkaitan dengan masalah pendirian rumah ibadah baru dan Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB), semua ini merupakan masalah-masalah yang berakar sejarah panjang. Persoalan politik dan hukum pun mulai menjadi arena perdebatan dan konflik antara kelompok nasionalis, termasuk Kristen, dan kelompok Islam ideologis.
Selain itu, peristiwa 11 September di New York dan kebijakan politik Amerika sesudahnya di Afghanistan dan Irak tentu sedikit banyak memberikan alasan yang kuat bagi sikap anti Barat dan anti Kristen di kalangan kelompok-kelompok Islam tertentu. Isu adanya konspirasi Kristen dan Yahudi untuk menaklukkan Islam semakin sering dihembuskan. Di sisi lain, ‘perang terhadap teror’ yang dikumandangkan Amerika dan telah pula mendorong munculnya gerakan pemikiran Islam non-ideologis dan sekuler di kalangan muda Muslim Indonesia, yang salah satunya adalah barangkali Jaringan Islam Liberal (JIL). Perkembangan dua kutub ini kadang muncul dalam bentuk polemik yang saling mengancam bahkan aksi kekerasan. Banyak kalangan non-Muslim gembira dengan munculnya kelompok liberal ini, tetapi di kalangan Islam sendiri telah terjadi perkembangan yang agak lain. Tidak jarang label ‘liberal’ digunakan masyarakat Muslim untuk ‘stigmatisasi’ terhadap pemikiran apa pun yang tidak disukai mereka.
Penutup
Pertemuan antara Kristen dan Islam di Indonesia mengalami pasang-surut. Ada banyak titik singgung negatif yang muncul baik oleh karena persoalan politik, ekonomi, hukum atau pun masalah teologi seperti missi. Tetapi, ada juga relasi yang positif terutama ketika kedua kelompok ini sama-sama berjuang demi kemerdekaan bangsa dan dalam upaya menyingkirkan PKI. Yang pasti, pertemuan antara kedua kelompok keagamaan ini pasti akan terus terjadi dalam berbagai bidang kehidupan.
Saya tertarik untuk mengutip teori seorang ahli sosiologi agama asal Amerika, Peter L. Berger. Menurutnya, tantangan modernitas terhadap agama ada dua, yaitu sekularisasi dan keagamaan. Dalam kenyataannya, masyarakat modern tidak selalu mengalami sekularisasi jika yang dimaksud dengan term ini adalah bahwa agama hanya menjadi persoalan pribadi. Di banyak tempat, termasuk Amerika, kata Berger, agama adalah persoalan publik. Tantangan yang lebih berat terhadap agama justru keragaman agama. Menurutnya, dalam menghadapi tentangan keragaman, para penganut agama bisa memilih salah satu dari tiga sikap:
  1. Reconquista atau penaklukan keragaman kepada kesatuan;
  2. Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk keragaman;
  3. Atau membuka diri untuk berdialog. Semua pilihan mengandung risiko, tetapi dialog nampaknya adalah pilihan yang tepat dan realistis.
Sistem politik demokratis yang kita pilih saat ini tentu telah membuka pintu dialog itu selebar-lebarnya. Dapatkah kiranya dialog melahirkan sikap yang positif terhadap keragaman dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengelola keragaman itu demi tercapainya bangsa yang damai dan berkeadilan?
*) Disampaikan dalam Program PTJ di GKI Pondok Indah pada tgl 12 Nopember 2007 yang lalu oleh Pdt. Dr. Albertus Patty dari GKI Maulana Yusuf, Bandung.
Kepustakaan:
Adolf Heuken, “Be my Witness to the Ends of the Earth!” The Catholic Church in Indonesia Before the 19th Century (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2002).
Alwi Shihab, The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia (PhD Thesis, Temple University, 1995).
Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985).
Alfian, Islamic Modernism in Indonesian Politics: The Kaum Muda Movement during the Dutch Colonial Period, 1912-1942 (University of Wisconsin, 1969).
Kasus Ten Berg telah dibahas dalam Karel A. Steenbrink, Ducth Colonialism and Indonesian Islam: Contacts and Conflicts 1596-1950 (Amsterdam: Rodopi, 1993).
Harry J. Benda, The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation: 1942-1945 (The Hague: W. van Hoeve, 1958).
Bagi Romo Manguwijaya, kehidupan gereja di era penjajahan Jepang merupakan contoh ideal. Lihat Mujiburrahman, “The Diaspora Church in Indonesia: Mangunwijaya on Nationalism, Humanism and Catholic Praxis” Journal of Ecumenical Studies, Vol. 38 No. 4 (Fall, 2001).
Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Sebuah Konsensus Nasional tentang Dasar Negara Republik Indonesia (Jakarta, Gema Insani Press, 1997)..
Deliar Noer, The Administration of Islam in Indonesia (Ithaca: Cornel Modern Indonesian Project, 1978).
Untuk kajian mengenai siding Konstituante, lihat Adnan Buyung Nasution, The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia: a Socio-Legal Study of the Indonesian Konstituante 1956-1959 (Jakarta: Sinar Harapan, 1992, dan Ahmad Syafi’i Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi tentang Percaturan dalam Konstituante (Jakarta: LP3ES, 1985).
Teks lengkap Tap President No. 1 Tahun 1965 dapat dibaca dalam Weinata Sairin, Himpunan Peraturan di Bidang Keagamaan (Jakarta, BPK, 1994)
Mujiburrahman, Feeling Threatened: Muslim-Christian Relations in Indonesia’s New Order (Amsterdam: ISIM/Amsterdam University Press, 2006).
Peter L. Berger, “The Desecularization of the World: a Global Overview” dalam Peter L. Berger (ed), The Desecularization of the World: Resurgent Religion and World Politics (Michigan: William B. Eerdmand Publishing Company, 1999).

January 23, 2011

Vatikan dan Paus Berbicara Tentang Ketegangan Kristen-Islam di Timur Tengah

Diterjemahkan oleh:
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA 
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH) 

Nikosia, Siprus (AP) - Vatikan mengatakan pada hari Minggu bahwa komunitas internasional mengabaikan nasib orang Kristen di Timur Tengah, dan bahwa konflik Israel-Palestina, perang di Irak dan ketidakstabilan politik di Lebanon telah memaksa ribuan orang melarikan diri dari wilayah-wilayah itu .

Sebuah makalah yang dikeluarkan selama ziarah Paus Benediktus XVI ke Siprus untuk mempersiapkan pertemuan puncak krisis para uskup Timur Tengah di Roma pada bulan Oktober juga menyebutkan “ekstrimis saat ini" yang dipicu oleh munculnya "politik Islam" sebagai ancaman bagi orang Kristen.

Dalam missa terakhirnya di Siprus pada hari Minggu, Benediktus mengatakan ia berdoa agar pertemuan Oktober akan memusatkan perhatian dari masyarakat internasional "pada nasib orang-orang Kristen di Timur Tengah yang menderita karena keyakinan mereka."

Dia menyerukan supaya "dunia internasional mendesak dan terpadu untuk menyelesaikan ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah, terutama di Tanah Suci, sebelum konflik tersebut mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih besar."

Vatikan menganggap kebanyakan Siprus Orthodox Yunani sebagai jembatan antara Eropa dan Timur Tengah dan mengundang para uskup untuk datang ke pulau Mediterania untuk menerima kertas kerja untuk menjawab masalah eksodus dari ribuan orang Kristen dalam beberapa tahun terakhir karena perang dan kondisi ekonomi yang sulit.

Sebuah kelompok demonstran sekitar 100 orang Kristen Orthodox melakukan protes damai menentang kunjungan Benediktus di luar stadion olahraga Nikosia di mana Paus memimpin misa, memegang tinggi-tinggi spanduk menyebut Paus "yang sesat."

"Kami tidak menerima kunjungan Paus di sini," kata Telemachos Telemachou, 51, kepada Associated Press. "Paus seharusnya tidak datang ... Kami tidak punya apa-apa untuk menentang Benediktus sebagai seorang individu, tetapi dengan ajaran sesat itu."

Vatikan memperkirakan ada sekitar 17 juta orang Kristen dari Iran sampai Mesir, dan bahwa sementara banyak orang Kristen telah melarikan diri, imigran Katolik baru - kebanyakan dari Filipina, India dan Pakistan - telah tiba dalam beberapa tahun terakhir di negara-negara Arab untuk bekerja sebagai buruh domestik atau pekerja kasar.

Dokumen 46-halaman mengatakan masukan dari ulama di kawasan itu menyalahkan pendudukan Israel atas wilayah Palestina untuk menghambat gerakan kebebasan, ekonomi dan kehidupan beragama, menyatakan bahwa akses ke tempat-tempat suci tergantung pada izin militer yang kadang-kadang ditolak dengan alasan keamanan.

Ia juga mengeluhkan bahwa beberapa fundamentalis Kristen menggunakan teks alkitab untuk membenarkan pendudukan Israel "membuat posisi kaum Kristen Arab bahkan lebih menjadi masalah sensitif."

Dikatakan "emigrasi sangat lazim" karena konflik Israel-Palestina, tetapi juga menyalahkan “situasi ancaman sosial " di Irak dan ketidakstabilan politik pada saat kaum Kristen Libanon sangat kuat.

Sebuah eksodus lebih lanjut kaum Kristen dari Tanah Suci akan menjadi kehilangan besar untuk gereja di "tempat di mana Kekristenan lahir," katanya.

"Politik internasional seringkali tidak memperhatikan adanya kaum Kristen dan fakta bahwa mereka adalah korban, pada kali pertama yang menderita, pergi tanpa diketahui," kata dokumen tersebut.

Dikatakan kebangkitan "politik Islam" di masyarakat Arab, Turki dan Iran dan arus ekstrimis adalah "jelas merupakan ancaman bagi semua orang, baik Kristen dan Muslim."

Dengan kebangkitan fundamentalisme Islam "serangan terhadap orang Kristen meningkat hampir di mana-mana," katanya.

Dikeluhkan bahwa umat Islam sering tidak membeda-bedakan antara agama dan politik "dengan cara demikian menurunkan orang Kristen untuk posisi genting dianggap bukan warga negara, meskipun fakta bahwa mereka warga negara dari Negara mereka jauh sebelum munculnya Islam."

Dan dikeluhkan bahwa negara-negara Timur Tengah seringkali menyamakan Kekristenan dengan Barat.

"Sejarah telah membuat kita sedikit kawanan," kata dokumen tersebut. "Namun, melalui apa yang kita lakukan, kita masih bisa menjadi kehadiran yang memiliki nilai besar."

Vatikan mengharapkan sekitar 150 uskup untuk menghadiri pertemuan 10-24 Oktober di Roma.

Perjalanan dimulai dibawah awan-mendung dari seorang uskup yang dibunuh di Turki. Tapi Benediktus menerima bahwa motif itu bersifat pribadi dan bukan politik atau agama, dan polisi telah menangkap sopir sang uskup itu.

Pada hari Minggu, Paus memberikan penghormatan kepada Uskup Luigi Padovese, mengatakan klerus memiliki komitmen untuk pemahaman antaragama dan budaya. Benediktus mengatakan kematian itu "mengagetkan dan mengejutkan kita semua."


Pemuka Mistik sufi Sheikh Nazim, di samping ulama muslim lain, pembicaraan dengan Paus Benediktus XVI sebelum missa yang dipimpin oleh Paus di gereja Salib Suci di kompleks biara Fransiskan dari Salib Suci, di Nicosia, Siprus, Sabtu, 5 Juni , 2010.

Sehari sebelumnya, Benediktus bertemu dengan pemimpin Muslim dengan singkat selama ia dalam prosesi untuk missa di gereja dekat Garis Hijau yang memisahkan kedua sisi terpisah Siprus utara dari Siprus selatan yang Kristen. Juru bicara Vatikan Rev Federico Lombardi mengatakan Benediktus berhenti untuk menyambut Sheik Nazim yang berumur 88 tahun dan bahwa pertemuan itu "pendek tapi sangat menyenangkan."

Lombardi mengatakan pemimpin Muslim dan Benediktus yang berumur 83 tahun bergurau tentang usia mereka.

Sumber

___________. Vatican and pope address Christian-Muslim tension in Mideast. By Osservatore Romano, Associated Press: USA Today: http://www.usatoday.com

January 20, 2011

Serial Tweet Dokumen #Aelia / Perjanjian Yerusalem

Ditweet oleh @incoharper pada 15 Januari 2011




Ada yg prnah tau tentang Dokumen  atau Mitsaq Ailiya. Dikenal jg dgn Perjanjian Yerusalem.


 trnyata adlh nama lain dr Yerusalem. Lengkapnya Aelia Capitolina. Diambil dr nama kuil Dewi Aelia yg ada bks Kuil Solomo.


Stlh Yerusalem dihancurkan oleh Kaisar Titus pd th 70M, krn bencinya ia kpd kaum Yahudi, mk dibuatlah kuil pnyembahan Dewi.


Kuil pnyembahan Dewi  itu didirikan di bekas Kuil Solomon. Stlh kota itu dikuasai Kristen Byzantium, Aelia dikenal utk sbtn kota itu.


Ketika tentara Arab Muslim yg dipimpin oleh Khalifah Umar mnguasai , hal itu sbnrnya adlh pembebasan utk umat Kristen di sana.


Sblmnya umat kristen di  sring ditekan & ditindas oleh penguasa Kristen Byzantium krn dianggap tidak sesuai dgn dogma2 mrk.


Kristen di  kbanyakan tidak mngakui hasil Konsili Kalsedon, yg dihasilkan oleh Kristen Byzantium & Roma.


Ketika Khalifah Umar mnrima kunci kota  dr Patriakh Sophronius maka dibuatlah kesepakatan damai dgn nama Perjanjian Aelia.


Khalifah Umar mnganggap perlunya Perjanjian  ini guna mngatasi prmusuhan kristen dgn Yahudi di kota itu.


Umat Kristen di  membenci Yahudi. Bhkan bukit Moria tmpt bekas kuil Solomon dijadikan velbak/tmpt sampah sbg lmbang kebencian mrk.


Dengan Perjanjian , Khalifah Umar mbagi Yerusalem mjadi 3 bagian. Islam, Kristen & Yahudi. Hal yg tak prnah trjadi sblmnya.


Smblm adanya Perjanjian , Yahudi tidak diperbolehkan masuk oleh pihak Kristen yg brkuasa.


Mlalui Perjanjian  itulah era kebebasan beribadah trjadi di Yerusalem. Smua pihak bs mjalankan sesuai agamanya masing2.


Pd saat Khalifah Umar mlihat tumpukan sampah di bekas Kuil Solomon, ia mngajak patriakh & smua orang utk mbrsihkannya.


Isi Perjanjian  a.l: mbri keamanan jiwa & harta smua golongan trmasuk Kristen & Yahudi.


Perjanjian : mjaga greja2 & salib2 yg ada di kota itu; greja tdk akan dirusak & diduduki, jg bngunan disekelilingnya.


Perjanjian : tdk akan memaksa umat Kristen utk mninggalkan iman mrk; tdk akan mganggu & mngintimidasi mrk.


Perjanjian : Umat Kristen & Yahudi akan dipisahkan utk mnghindari sisa prmusuhan di antara keduanya.


Karena politik Khalifah Umar yg amat "liberal" di jaman itu, kaum Kristen & Yahudi sangat senang di bawah kekuasaan Islam. 


Islam dianggap mbawa kedamaian & kebebasan di  yg sbelumnya tak ada di bawah kekuasaan Kristen Byzantium.


Ada kisah unik stlh disepakatinya Perjanjian , Patriakh Sophronius mprsilakan Khalifah Umar utk shalat di greja Holy Sepulcher.


Khalifah mnolak & shalat di tangga luar gerbang timur greja itu. Hal itu bkn krn ia tk mnghormati, namun utk kselamatan greja itu. 


Khalifah Umar brkata: "aku tk mau kaum muslim mngambil greja ini stlh aku tak ada krn mrk brkata 'di sinilah Umar dulu shalat." 


Krn itulah greja Holy Sepulcher msh utuh smpai skrng & brdampingan dgn masjid Umar. 


Dr menaranya yg indah, suara muazzin brcampur dgn nyanyian pr pendeta Kristen di bawahnya. 


Kebaikan Khalifah Umar saat itu, sangat kontras skrng dibalas oleh politik zionis Israel. 


Byangkan, kalo Khalifah Umar mau, bs saja ia dulu mngusir semua orang Kristen & Yahudi. Namun itu tk dilakukannya. 


Beda sekali dgn di Indonesia saat ini yg pemerintahnya seakan2 mbiarkan diskriminasi trjadi. Contohlah Perjanjian .


Itulah sekilas tentang Perjanjian  yg dibuat oleh Khalifah Umar trhadap umat kristen di Yerusalem. Bukti Islam itu brsahabat!

December 5, 2010

Al-Masih Juruselamatku, Muslim Sahabatku

Oleh : Bambang Noorsena






*) Orasi ilmiah ini disampaikan dalam rangka peresmian Yayasan Kanisah Orthodox Syria cabang Surabaya, di "Heritage Club" Wisma Bhumi Bapindo, lantai 11, Surabaya, 5 September 1998.


Bukan tanpa alasan, bila Islam maupun kristen oriental (Timur Tengah), khususnya gereja-gereja yang tersebar di negara-negara Arab, memiliki kecurigaan terhadap orientalisme bukan hanya terjadi pada dunia Islam, melainkan juga pada orang kristen oriental, antara lain dibuktikan dari kritik pedas seorang kristen Palestina terhadap Barat, melalui bukunya : Orientalisme,1) sebuah karya yang cukup laris dikutip oleh penulis-penulis Islam di Indonesia . Dari buku ini dibuktikan, bahwa orang kristen tidak selalu identik dengan Barat, dan Islam juga tidak selalu identik dengan Arab.

Dr. Nurcholis Madjid (Cak Nur), dalam "Islam Agama Peradaban", mencoba melacak akar prasangka Barat terhadap Islam yang memantul dalam karya-karya orientalis terhadap Islam yang serba negatif dengan mengemukakan 3 tingkat konfrontasi :
  1. Tingkat paham keagamaan. Meskipun Islam menurut Al-Qur’an mengajarkan tentang dirinya sendiri sebagai kelanjutan dan perkembangan agama kristen, namun kristen sendiri tidak dapat menerimanya dan memandangnya sebagai tantangan kristen.
  2. Tingkat Sosial Politik. Hampir seluruh kawasan Islam di Timur Tengah sekarang ini, kecuali jazirah Arabia dan Iran, adalah bekas kawasan Kristen, bahkan pusat perkembangan agama itu pada masa-masanya yang paling menentukan.
  3. Tingkat Budaya. Budaya Barat adalah kelanjutan budaya Yunani - Romawi. Meskipun orang barat sekarang ini beragama kristen, namun kekristenan mereka sering disebut "Kekristenan Barat" yang sering dipertentangkan dengan Kristen Timur".( maksudnya kristen sebelah Timur Laut Tengah.). Kristen Barat adalah Kristen yang telah banyak kehilangan keaslian akar budaya semitiknya. Sebab telah di-"barat"kan ( menurut ungkapan Simon Van den Berg. Budaya kristen Barat adalah Maria Sopra Minerva - artinya agama kristen sematik dari Timur, dilambangkan dalam ketokohan Maria bunda Isa, yang disesuaikan dengan dan dibangun di atas mitologi Romawi, dilambangkan dengan ketokohan dewi Minerva, jadi konfrontasi Islam dengan Barat ditafsirkan sebagai konfrontasi antara dua pola budaya.2)

Melalui makalah singkat ini, saya ingin menawarkan kekristenan Timur (oriental), khususnya Orthodox Syria, sebagai alternatif bagi dialog Kristen-Islam di Indonesia masa depan, dengan beberapa pertimbangan. Bukan hanya dari sudut pandang budaya, seperti dicatat Cak Nur, bahwa " sementara hubungan Islam dengan Kristen Timur sepanjang sejarah berlangsung cukup aman dan lancar( karena berasal dari budaya yang relatif sama), tidaklah demikian hubungan Islam dengan Kristen Barat: penuh rasa permusuhan dan kebencian".3) bahkan lebih dari sekedar persamaan faktor budaya, bila diterima dalil bahwa terbentuknya bahasa keagamaan (the religious language) dilatar belakangi oleh ekspresi kebudayaannya, maka tentu dapat juga diharapkan adanya beberapa "meeting point" dalam perjumpaan teologis antara keduanya. Juga pada tingkat sosial-politik, tentu ada semacam naluri politik pihak kristen Barat abad-abad lalu untuk mengembalikan kontrol mereka atas daerah-daerah yang sekarang dikuasai Islam (motif Perang Salib, salah satu aspeknya dapat dilihat disini).Tetapi justru bagi Kekristenan oriental, dengan penaklukan Arab-Islam mereka tidak pernah kehilangan apa-apa, sebab justru sebelum orang orang Romawi/Byzantium itulah yang dahulu menindasnya, dan like and dislike harus diakui bahwa, justru Islamlah yang telah membebaskan mereka dari penindasan sesama kristen itu. Jadi, dari ke -3 tingkat konfrontasi itu, hanya tinggal perbedaan teologis saja.


Akar Sosial/Politik: Bangkitnya Sebuah Nasionalisme Semitik/Arab Melawan Hegemoni Yunani (Hellenisasi )

Eksistensi gereja-gereja oriental (Coptic, Syria dan Abisinia/Etiopia) yang kemudian melepaskan diri dari dominasi kebudayaan Yunani, dimulai dari penolakan mereka atas Majma' (konsili) Kalsedonia tahun 451. Banyak sejarahwan barat sekarang sepakat, termasuk Prof. W. Montgomery Watt.4) bahwa penolakan mereka atas konsili tersebut, ternyata lebih didorong oleh faktor politik/budaya melawan hegemoni Yunani yang menyangga gereja arus utama, ketimbang menolak secara seksama formula kristologinya.

Pihak Byzantium, untuk secara politis terus mengontrol wilayah gereja-gereja di Timur Tengah itu, lalu menempatkan "patriarkh-patriarkh boneka" mereka setelah menaniaya secara kejam gereja-gereja tersebut. Dalam kasus Gereja Syria, melalui tangan besi Kaisar Yustinus I setelah mengasingkan Patriarkh Severus Al-Kabir ke Mesir dan 40 Uskup Syria, yang juga diusir dari wilayah yurisdiksinya, telah ditempatkan berturut - turut : Paulus, yang dijuluki si Yahudi (yang kemudian dipecat tahun 504), lalu digantikan Aphrodius bin Malah (wafat 529 dalam suatu kebakaran kota Anthiokia). Selanjutnya Kaisar mengangkat Efraim, mantan Gubernur Syria, menggantikannnya sebagai Patriarkh. Bersamaan dengan perebutan tahta suci Anthiokia, sejumlah gereja dan biara-biara Syria telah dirampoknya paksa.5) Baru tahun 543 setelah Mar Ya’qub Bar Addai ditahbiskan menjadi uskup agung Al Raha (Eddesa) oleh Patriakh Theodosius dari Alexandria yang sedang mengalami pembuangan di Konstantinopel, gereja Syria diorganisir kembali dengan susah payah setelah diporakporandakan oleh kekuatan Kristen Yunani. Menurut Montgomery Watt, perlawanan Kristen Semitik terhadap imperium penjajah Byzantium itu, tidak sungguh-sungguh mengalami keberhasilan,sampai datangnya pasukan Arab Muslim dari selatan.6).

Dalam hal ini sikap Gereja Syria justru mendukung pasukan Arab-Muslim dalam melawan penguasa asing Byzantium, kendati seagama dengan mereka. Fakta sejarah mencatat, dalam peperangan melawan pasukan Byzantium, ketika pasukan Arab-Muslim memasuki lembah yordania di bawah pimpinan Abu Ubaidah, penduduk Arab Kristen menulis surat kepadanya : "Saudara-saudara kami umat Islam, kami lebih bersimpati kepada saudara ketimbang orang-orang Roma/Byzantium, meskipun mereka seagama dengan kami. Karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih berbelas kasih kepada kami dengan menjauhkan diri dari tindakan-tindakan tidak adil. Pemerintah Islam lebih baik ketimbang pemerintah Byzantium, karena orang-orang Byzantiun itu telah merampok harta-harta dan rumah kami".7) Juga dalam perang Jembatan (tahun 13 Hijrah) melawan pasukan Byzantium di bawah Kaisar Heraklitus, ketika pasukan Islam dibawah pimpinan Mussanah terjebak diantara sungai Efrat dan daerah Persia, tanpa diduga-duga seorang pemimpin Arab Kristen dari suku Tayy menggabungkan diri dan memberikan bantuannya dengan cara mempertahankan jembatan perahu, satu-satunya jalan mundur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Dan ketika pasukan Byzantium melancarkan serangan lagi, maka datanglah bantuan kepada pasukan Islam dari suku Arab Kristen Bani Namir, yang mendiami daerah perbatasan Byzantium. Demikian juga dalam pertempuran Buwayib yang berakhir dengan kemenangan Islam, Mussanah tampil ke depan dan berbicara kepada suku Arab Kristen : "Kalian satu darah dengan kami, karena itu marilah kita maju bersama, memenangkan pertempuran ini."8) dalam kasus yang serupa, sekarang dapat dibandingkan dengan dukungan orang-orang Arab Kristen, seperti George Habash dan Hanan Asrawi, terhadap perjuangan Palestina di bawah Jesser Arafat, menghadapi Israel.

Kembali dalam kasus posisi gereja-gereja oriental (Syria dan Kupti) : antara pasukan Arab-Islam dan imperium Kristen Byzantium, dari sudut sosial/ politik justru mereka memilih berjuang bersama-sama Islam. Jadi, tidak ada sesuatupun secara politis hilang dari mereka, malah Islamiah yang justru membebaskan mereka dari penindasan Kristen Byzantium ketika itu. Jadi berbeda dengan Gereja Barat (Roma/Byzantium) yang salah satu faktor yang melatarbelakangi sikapnya yang konfontatif dengan Islam karena akar politik ini, maka tidaklah demikian dengan Gereja-gereja Arab, yang sampai sekarangpun eksistensi mereka berada di bawah pemerintahan Islam. Justru di kalangan Kristen Orthodox Syria, dikenal sebuah slogan :" Segala Puji bagi Allah (Al-Hamdu li’l-Lah) yang telah membebaskan kami dari kekuasaan Kristen Yunani yang menindas kami, kemudian menempatkan kami dibawah penguasa Arab Muslim.9) Sebab harus diakui, penguasa Arab-Muslim memang menjamin keselamatan jiwa, harta, gereja, dan salib-salib mereka seperti dijamin dalam piagam yang dibuat Nabi Muhhamad dan sahabat-sahabatnya.10) sayang sekali, jatuhnya dinasti Abbasiyah ke tangan berbagai sulthan Muslim non- Arab, khususnya pada masa kekuasaan Ottoman, gereja-gereja Arab mengalami masa-masa serba tidak pasti dan mereka kehilangan banyak sekali anggotanya, akibat diberangusnya kebebasan beragama dan tidak diindahkannya lagi piagam Nabi Muhammad dan perlindungannya terhadap Ahl Ad Dimmiy (kaum minoritas yang dilindungi).Jaminan dan perlindungan Nabi Muhammad terhadap orang-orang kristen : harta, nyawa, gereja-gereja dan salib-salib mereka antara lain diakui sumber-sumber Islam maupun Kristen sendiri, seperti ditulis oleh Philip de Tarazi dalam bukunya berjudul : The Golden Era of Syrian.11)


Upaya Kembali Menemukan Akar : Mengatasi Kesenjangan Budaya Kristen Islam di Indonesia

Harus ditekankan, bahwa dari sudut pandang budaya, gereja-gereja oriental (di Timur Tengah) justru lebih dekat dengan Islam, ketimbang gereja-gereja Barat yang selama lebih dari seribu tahun telah mengalami proses Westernisasi. Fakta sejarah menunjukkan, bahwa sejarahnya yang paling dini, bahasa Arab sudah dipakai dalam gereja Syria di kalangan suku-suku Arab dari wilayah Teluk yang bermigrasi di daerah-daerah pedesaan Syria sebelum Zaman Islam. Inskripsi-inskripsi Arab pra-Islam, seperti Namarah (328), Zabad (512) dan Harran (568) semua ditemukan disekitar wilayah Syria, dan semua terkait dengan konteks Syria : latarbelakang Arami dan menunjukkan ciri Kekristenan Syria. Inskripsi Zabad menyebutkan nama-nama Kristen Syria, yang diawali dengan ucapan Bism al-llah(bentuk pendeknya," Bism-i'l-lah"), sedang inskripsi Harran berisi pendirian sebuah gereja yang dibaktikan kepada Mar Yuhanna al-Ma’mudan (St. Yohanes Pembabtis).12). A. Baumastrark mencatat, bahwa liturgi Mar Ya’Qub saudara Almasih yang sampai hari ini masih dirayakan tiap-tiap Minggu di gereja Syria, telah dirayakan diperkemahan-perkemahan Badui pada parohan abad ke-6 Masehi.13). Karena itu, selain masih dipertahankan bahasa Arami (Suryani) hingga hari ini, bahasa Arab adalah bagian yang terpisahkan dari gereja Syria. Kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa Liturgi adalah sebanding dengan kedudukan bahasa Latin dalam Gereja Katholik. Selain itu gereja-gereja oriental melestarikan tradisi Rasuli, yang tidak menyangkut aspek 'aqidah tetapi juga aspek 'ibadah-nya: seperti sholat dan tilawat Alkitab ( pembacaan ayat-ayat suci dengan dingajikan). Keterputusan Gereja Barat secara kultural dengan tradisi semitiknya (baik bahasa maupun budaya) membuat gereja-gereja di Indonesia agak tersentak mendengar pola ibadah gereja-gereja Oriental. Pertama kali, kami menghadirkan pelayanan pusat studi kami di Jakarta, seorang pastor membaca iklan kegiatan kami di SUARA PEMBAHARUAN, menelepon ke sekretariat mengenai sholat, dan ia baru mengerti setelah saya tunjukkan padanannya dalam bahasa latin "brevir"(atau liturgia horanum,"liturgi jam-jam tertentu"). Selanjutnya saya juga menerangkan asal-usul istilah Arab Sholat, yang dijumpai padanannya dalam bahasa Arami (bahasa yang dipakai Almasih sendiri): Shelota.14) Tradisi gereja purba juga mengenal ‘iddana shelota (Arab Sa’atush Shalat, "Waktu sembahyang") yang di dasarkan atas via dolorosa ("jam-jam sengsara") Almasih (Arab: thariqul alalam), yang kurang lebih sama dengan jam-jam shalat islam.15) Sebab lain, karena tidak menjemaatnya dalam gereja selama ini dengan original text of the Bible. Seorang rekan kristen saya cukup kaget ketika saya menunjukkan banyaknya paralel istilah keagamaan Islam dengan term-term Alkitab dalam bahasa Ibrani/Arami. Mengenai pararel istilah Shalat, saya mencontohkan Mazmur 122:6, "Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem" (Ibrani : "Shalu Shalom Yerusalem"). Perhatikan kata "Shalu", demikian juga tentang waktu-waktu shalat Mazmur 55 : 18 menyebut dengan istilah Ibrani tsohorayim(tengah hari), yang sejajar dengan istilah dhuhr dan ‘erev (atau dalam doa Yahudi disebut dalam bahasa Ibrani Ma’ariv) yang sejajar dengan Maghrib. Lebih menarik lagi, dalam forum-forum kajian Islam yang pernah mengundang saya, saya tunjukkan beberapa istilah teknis Alkitab bahasa Arab dan term-term liturgis Gereja-gereja Arab yang sangat berdekatan dengan Islam. Misalnya, kata IbraniSyir ha-Ma’alot (nyanian kenaikan/ziarah ke Yerusalem) yang menjadi judul Mazmur-mazmur 120-134, diterjemahkan Nasid-u 'I Hajj (Nyanyian orang-orang yang ber-hajji). Demikian juga, kedua hari raya Kristen dikenal dalam bahasa Arab sebagai Idul Milad (Natal) dan Idul Fashha (Paskah). Belum lagi term-term gereja Syria, yang bahkan memiliki paralel lebih dekat lagi dibanding dengan gereja-gereja Arab lainnya. Ungkapan Al-Hamd-u li ‘l-Lah (Segala puji bagi Allah) danSubhana 'l-lah (Mahasuci Allah) kurang populer di liturgi koptik misalnya, tetapi sangat populer di Gereja Syria, karena istilah itu hanya trasliteransi harfiah dari term Arami : Hemda Allaha dan Subha Allaha.16). Di gereja-gereja Arab lainnya seperti Kupti(Coptic) lebih dikenal istilah Al-Majd-u li’l-Lah (Segala kemuliaan bagi Allah) dan Nasykur Rabbina (Syukur kepada Tuhan kita). Melihat fakta-fakta kedekatan kultural ini, tidak mengherankan apabila evaluasi kehadiran kami selama kurang lebih satu tahun, menunjukkan bahwa ummat Islam lebih bisa menerimanya ketimbang umat Kristen, seperti ditunjukkan dari tanggapan Cak Nur (Dr. Nurcholis Madjid) dan Kang Jalal (Dr. Jalaluddin Rakhmat).17) dan tokoh- tokoh Islam lainnya, dibandingkan dengan misalnya Jan Kawatu, mantan Binmas Kristen Protestan, yang belum-belum sudah menunjukkan sikap apriorinya.18) Barangkali bentuk Kekristenan yang oriental seperti ini justru tidak asing bagi ummat Islam, sebab Al-Qur’an sendiri menyaksikan adanya orang-orang Kristen tertentu pada zaman Nabi yang mempunyai tradisi ibadah : men-"tilawat"-kan ayat-ayat Allah di tengah malam dan mereka juga bersujud ("yatluna ayaat-i 'l-Lahi ana’alayli wahum yasjudun"). 19) Semua fakta ini menunjukkan bahwa antara Islam dan Kristen Timur, seperti dikemukakan Cak Nur di depan ternyata lebih banyak memiliki latar belakang budaya yang sama. Tentu melaluinya, kita dapat lebih membangun kesaling-pengertian, karena berangkat dari tradisi dan warisan budya serta sejarah yang sama.


Tinggal Masalah Teologis : Bagaimana Membangun kesalingfahaman berdasarkan sikap "agree in disagrement".

Jadi, jika secara sosial /politik dan kultural tidak ada masalah lagi, berarti tinggal masalah teologis saja. Tetapi dengan sikap keagamaan yang inklusif dan lapang, maka perbedaan ‘aqidah bukanlah menjadi penghalang bagi terciptanya kerukunan. Sejarah Gereja Syria sendiri menunjukkan hal itu, seperti terbukti dari 2 fakta ini :

Pertama, hubungan yang baik antara penguasa Arab dengan putra-putra Gereja Syria membuktikan bahwa berpegang teguh kepada iman kristiani tidak berarti menghilangkan rasa kebanggaan nasional seorang kristen dan pengabdian kepada bangsa dan negaranya.20) kendatipun ia dipimpin oleh suatu penguasa yang berbeda agama dengan mereka.

Kedua, adanya perbedaan teologis bukan hanya terjadi antara suatu agama dengan agama lain, tetapi juga akibat persepsi yang berbeda dalam agama itu sendiri. Pengalaman gereja-gereja Timur Tengah yang justru menyambut pasukan Arab-Islam sebagai pembebasan mereka, menunjukkan perbenturan pandangan-pandangan(kristologis) dlam Kekristenan sendiri menunjukkan tingkat ke"fanatik-buta-an" sesama kristen, yang menghalalkan segala cara untuk memaksakan pendapat dan memusnahkan semua pihak yang bertentangan dengan pandangan kristologisnya (kasus penindasan kristen Byzantium terhadap orang-orang Kristen Oriental, khususnya Syria dan Mesir, yang membenarkan penindasan itu dengan menuduh orang mereka sebagai pengikut aliran bid’ah Monophisit, 21) atauJacobite.22). sebaliknya justru tingkat toleransi yang lebih tinggi, bisa terjadi pada pihak agama lain (kasus sikap daulah Islam terhadap minoritas Kristen di Timur Tengah, segera setelah penaklukan Islam).

Dikemukan catatan di atas, tidak berarti antara Kristen dan Islam di Timur Tengah tidak ada benturan sama sekali. Pada awal perjumpaannya dengan Kekristenan Syria, adanya benturan teologis kecil pernah saja terjadi. Misalnya dikisahkan pada waktu Pathriakh Mar Yuhanna Abu Sedra II (wafat 648) menerjemahkan injil Muqaddas dari bahasa Arami/Suryani ke dalam bahasa Arab dengan bantuan para sarjana Kristen Arab dari suku Tanukh, Aqula dan tayy, atas permintaan ‘Umair Ibn Sa’ad Ibn Abi Waqqas Al-Anshariy, ‘emir al jazirat waktu itu. Pemimpin islan itu meminta agar ayat-ayat yang berkaitan dengan keilahian ‘Isa sebagai Kalimatullah(Firman Allah) dihapus saja, Pathriakh Yuhanna menjawab : " Saya tidak akan mengabaikan satu hurufpun dalam Injil dari junjungan kami, meskipun seluruh anak panah tentara tuan menembus kami". Selanjutnya, sang emir yang sangat menghormati keteguhan iman sang Patriarkh berkata,"Silahkan anda teruskan, sesuai dengan yang anda ketahui."23)

Dialog teologis yang terus menerus dapat diupayakan, walaupun mustahil menghasilkan suatu kesamaan, tetapi minimal dapat menghasilkan suatu kebersamaan, khususnya sedikit mencairkan kesalahpahaman kendala"bahasa teologis" antara kedua iman. Dengan warisan historisnya yang sangat berharga, khususnya dalam keberdampingan perkenbangannya yang panjang di tengah-tengah mayoritas masyarakat Islam, kita mengharapkan pelaui penghadirannya di Indonesia dari kristen Syria ini dapat digali beberapa "meeting point" dalam perjumpaan teologis Kristen-Islam. Seperti Seyyed Hosein Nassr dan Prof. Mukti Ali.24) dengan pendekatan "paralelisasi"-nya yang mencoba mendalami bahasa teologis suatu agama berdasarkan persuposisi agama yang bersangkutan (dan tidak menilai agama berdasarkan presuposisi agama kita), Kekristenan Semitik ini dapat dijadikan alternatif, untuk menjembatani dialog teologis Kristen Barat (Katholik dan Protestan) yang acap kali macet. Salah satu contoh saya ingin meminjam paralelisasi Nassr dan Mukti Ali yang membandingkan posisi Yesus dan Al-Qur’an, dimana kedua-duanya dipahami sebagai Sabda Ilahi dalam kedua agama. Dalam hal ini ditemukan banyak sekali kategori-kategori terminologis yang ternyata berdekatan satu sama lain, misalnya : penggunaan istilah "nuzul" (turun) dalam Kanun Al-Iman (Syahadat Kristen) untuk menggambarkan firman Allah yang menjadi manusia ( Al-Kalimat al-Mutajjasat). Dikatakan bahwa firman Allah itu telah "nazala minas sama’I wa tajjasada bi-ruhil quddusi wa min Maryam al-adza’wa shara insanan" (nuzul dari surga dan menjelma oleh kuasa Roh Kudus (Hayat Allah), sehingga umat Islam dapat membandingkan pengertian nuzul Qur’an. Juga suasana kedua iman : antara nuzul-u Al-Qur’an (turunnya Al-Qur’an) pada malan yang penuh dengan kebesaran (Laylat-u il-Qadar) satu malam yamh lebih mulia dari seribu bulan, dengan nuzul-u ‘I-kalimat-u ‘l-Mutajjasat (turunnya firman menjadi manusia) pada malam yang kudus (laylat-u ‘l-Quddus), satu malam dengan taburan seribu bintang. Demikian juga medium yang dipakai untuk pewahyuan itu dimana kebuta-hurufan nabi Muhammad yang sejajar dengan keperawanan Maryam, sma -sama menggambarkan kemurnian Firman itu tanpa campur tangan manusia. Di sinipun penghargaan kedua ummat terhadap sang medium itu, menunjukkan kesejajaran pula: kedua ummat memberi salam dan penghormatan yang pantas bagiNya. Sebagaimana Shalat Islam menyapa Muhhamad dengan "Salam-u ‘alaika ayyuha ‘n-Nabiy" (Salam bagimu, wahai Nabi ), demikian juga salam yang disampaikan gereja sepanjang abad kepada Maryam Bunda Gereja, berdasarkan Injil Lukas 1:28 dan 42 : "Salam-u alaiki, ya Maryam-a ‘l-adzra’I, al-Mumtali’at-an ni’mat-I wa’r Rabb-u ma’aki mubarakati anti fi ‘n-nisa’I wa mubarakat tsamarat-I bathniki, ‘Isa" (Salam bagi mu, ya Maryam sang Perawan, yang penuh kasih karunia, Tuhan besertamu, Terpujilah engakau dari antara segala wanita, terpujilah pula buah rahimmu,Yesus.25)" Keduanya menggambarkan misteri yang dalam dari pernyataan", kata Hoseein Nassr.26) Karena itu ada teolog tertentu mengusulakn jembatan Marial dalam dialog teologis Kristen-Islam, bukan berhenti pada pengkultusan Kepada Maria atau Muhhamad, tetapi untuk lebih mendalami misteri pewahyuan yang disampaikan kepada keduanya.27) sedangkan sikap kedua medium itu hendaknya menjadi teladan kita untuk menanggapi panggilan dan pernyataan Ilahi kepada kita.

Masih terkait dengan tema ini, ummat kristen di Timur Tengah juga mengenal sebuah ungkapan teologis dalam bahasa Arab yang berasal dari Majma’(konsili) Efesus(431): "Kalimat-u lladzi wulida min-a’l-Ab dunuumm,’an yuladu min umm dunu ab"(Firman Allah telah lahir dari Bapa tanpa seorang ibu, dan (dalam wujud nuzulnya sebagi manusia) telah lahir dari ibu tanpa seorang bapa". Bahwa kelahiran ‘Isa dari perawan (virgin birth) tanpa seoarng bapa, juga ditekankan Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an menolak kelahiran kekal almasih. Sebaliknya perlu ditekankan pula, bahwa dengan frasa : Lahir dari bapa tanpa seorang ibu, memaksudkan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan secara fisik/biologis. (Iman kristen bisa menerima ayat Al-Qur’an yang berbunyi :"Lam yalid wa lam Yulad". Jadi, kendati Islam tidak bisa menerima kelahiran kekalnya, tetapi ummat Islam dapat membandingkan paralel maknanya dengan kekadiman Al-Qur’an sendiri. Karena dalam Iman Kristen ditekankan bahwa sebagai Firman Allah , Yesus itu "Al-Maulud-u ghayr-u ‘l-makhluq"(dilahir-kan, tidak diciptakan), mak khususnya kaum Ahl As-Sunnah wa al-Jama’ah juga menekankan ke-‘ghayr al-Makhluq’-an Al-Qur’an sebagai kalam Allah. Kendati tentang nuzulnya dalam ruang dan waktu, ada aspek Kalam Ladzi (kalam tertulis yang temporal), disamping Kalam Nafsiy (kalam kekal) yang tersimpan di Lauh al-mahfudz. Justru sebaliknya, ummat Kristen mengerti makna Qur’an seperti bagi ummat Islam, karena paralel pemahamannya sendiri tentang kesatuan kodrat ganda Almasih yang berasal dari dua kodrat " kemanusiaannya yang terikat ruang dan waktudan keilahiannya sebagi Firman Allah yang selalu satu dengan Allah dalan kekadiman. Melalui pemahaman yang baik atas bahsa teologis masing-masing, kedua ummat bisa datang pada sikap "agree in disagrement" (setuju dalam ketidaksetujuan), sehingga diharapkan terciptanya salaing pengertian antara keduanya.

Dalam konteks pemahaman seperti inilah, sikap ummat Kristen Orthodox terhadap Islam, yang dpat dikalimatkan dalam semboyan : "Al-Masih adalah Juruselamatku, Muslim Sahabatku". Dengan tetap mempertahankan jatidiri kita, sma sekali tidak ada halangan untuk kehup rukun dalam suasara proexisttence hidup rukun dengan semua orang, mengatasi batas-batas perbedaan agama dan keyakinan : hinneh matov u-mana’im syevet ahim gam-yahad (Zabur/Mazmur 133:1,"Alangkah baik dan indahnya apabila semua orang hidup bersaudara dan rukun bersama.")