July 26, 2008

Berdoa Kepada Para Pembela Kita di Surga

oleh: P. William P. Saunders *


Teman-teman Protestan sering bertanya kepada saya, “Mengapa orang Katolik berdoa kepada santa santo?” Saya berusaha menjawab sebisa mungkin; mohon penjelasan yang lebih mendalam.

~ seorang pembaca di Gordonsville

 

Sejak masa awal Gereja, umat Katolik telah senantiasa menghormati para kudus, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah pergi mendahului kita dan sekarang bersama Tuhan di surga. Tidak seperti kebanyakan denominasi Protestan, Katolik memiliki pemahaman yang jelas bahwa kita, yang adalah bagian dari Gereja Pejuang yang masih berziarah di dunia, memiliki ikatan persatuan dengan Gereja Jaya di surga dan Gereja Menderita yang masih menjalani pemurnian di api penyucian; kita menyebut ikatan persatuan ini sebagai persekutuan para kudus (bdk. Katekismus Gereja Katolik, No. 957). Bersama-sama, Gereja di dunia, di surga dan di api penyucian membentuk satu Gereja, satu Tubuh Mistik Kristus.

 

Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja [Lumen Gentium] dari Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Kristus mendirikan Gereja, yaitu “serikat yang dilengkapi dengan jabatan hirarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi.” Sebab itu, Gereja di dunia dan Gereja di surga bukanlah dua hal yang terpisah, “melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (No. 8).

 

Namun demikian, persatuan ini bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Sama seperti kita, para anggota Gereja di dunia ini, saling tolong-menolong di jalan keselamatan melalui doa-doa, perbuatan-perbuatan baik dan teladan, demikian pula para kudus menolong kita. Lumen Gentium menyatakan, “Sebab karena para penghuni sorga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia dan dalam Dia tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui pengantara tunggal antara Allah dan manusia, yakni Kristus Yesus, sambil melayani Tuhan dalam segalanya, dan melengkapi Tubuh-Nya, yakni Gereja. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (No. 49).

 

Perlu dicatat bahwa Lumen Gentium menegaskan bahwa Kristus adalah PENGANTARA TUNGGAL. Terkadang kaum Protestan menolak devosi Gereja kepada para kudus, karena mereka menyalahartikan “berdoa kepada para kudus” sebagai mengaburkan peran Yesus. Sementara umat Katolik, dengan mengatakan, “Berdoa kepada para kudus,” sesungguhnya yang kita maksudkan adalah mohon para kudus untuk menjadi PERANTARA bagi kita, yaitu dengan berdoa bersama kita dan mendoakan kita kepada Tuhan, sumber segala rahmat. Guna menyanggah penolakan yang diajukan oleh para pemimpin Protestan yang pertama ini, Konsili Trente (1563) menekankan bahwa “kita dengan rendah hati berseru kepada mereka [para kudus], dan mempercayakan diri kepada doa-doa, bantuan serta pertolongan mereka, untuk memperoleh kurnia-kurnia Allah dengan perantaraan Putera-Nya Yesus Kristus Tuhan kita, satu-satunya Penebus dan Penyelamat kita.” Ya, kita tidak pernah boleh kehilangan fokus kita kepada Kristus. Namun demikian, para kudus yang telah hidup bersama Kristus dapat sungguh berdoa bagi kita dan, dengan teladan mereka yang berjaga-jaga dalam iman, para kudus membantu kita memfokuskan pandangan pada Kristus. Di atas segalanya, para kudus ini, yang mewartakan Kristus sebagai Penebus dan Juruselamat sepanjang hidup mereka, rindu untuk menghantar semua orang kepada-Nya, bukan malah mengalihkan fokus kita daripada-Nya.

 

Peran aktif para kudus dalam Gereja tampak hidup dan nyata dalam perayaan Liturgi. Kita ingat bahwa dalam Ritus Pembaptisan dan Pentahbisan, umat beriman memadahkan Litani Para Kudus, berseru memohon pertolongan para saksi iman. Setiap kali kita merayakan Kurban Kudus Misa, kita mengenangkan para kudus yang mulia ini, dengan menyerukan nama mereka, setidak-tidaknya Santa Perawan Maria, santa / santo pelindung paroki (jika ada), dan orang kudus yang pestanya kita rayakan pada hari itu.

 

Dalam Prefasi, imam mendorong umat beriman untuk mengangkat hati dan menggabungkan diri bersama segenap malaikat dan para kudus untuk memuliakan Tuhan. Dalam Doa Syukur Agung, kita mengenangkan perantaraan mereka yang tak kunjung henti bagi kita. Pada saat itu, sekali lagi surga menggabungkan diri dengan bumi sementara Tuhan kita hadir dan tinggal di antara kita dalam Ekaristi Kudus. Persatuan kita dengan Yesus dalam Sakramen Mahakudus mempersatukan kita semua dalam persekutuan dengan segenap malaikat dan para kudus. Sebab itu, kita mengagungkan Tuhan atas rombongan besar para saksi ini; sepatutnyalah kita tidak lupa memohon pertolongan mereka, dengan mengingat kata-kata ini, “Sebab pada hari ini kami Kau izinkan meluhurkan kota-Mu yang suci yaitu Yerusalem surgawi, bunda kami. Di sanalah barisan saudara-saudara kami memuliakan Dikau senantiasa. Ke sana pula kami, kaum musafir di dunia, melangkah maju dalam iman bergegas-gegas dengan hati gembira. Kami semua bersukaria menyaksikan kemuliaan anggota-anggota Gereja yang luhur, pelopor kami dan penyokong dalam kelemahan.” (Prefasi Hari Raya Semua Orang Kudus).

 

* Fr. Saunders is president of Notre Dame Institute and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

 

sumber : “Straight Answers: Praying to Our Advocates in Heaven” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1996 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

July 15, 2008

Bagaimana Para Kudus Mendalami Kitab Suci

oleh: Bert Ghezzi
St. Perawan Maria & Kitab Suci

Kitab Suci bukan sesuatu yang asing bagi para kudus. Renungan Alkitab merupakan salah satu kegiatan utama mereka seperti yang dapat kita lihat dalam perkataan dan tulisan mereka. Firman Allah mengalir seperti arus bawah pikiran mereka, memberi bentuk serta isi pada kata-kata mereka. Marilah kita melihat tulisan tujuh orang kudus untuk mengamati bagaimana Kitab Suci merasuk ke dalam kehidupan mereka.

 

Kita mulai dengan St. Vinsensius Ferrer (1350-1419). la adalah pengkhotbah ulung dan pembuat mujizat, yang bekerja keras untuk menghidupkan kembali iman Kristiani di Eropa pada permulaan abad 15. Vinsensius juga merupakan seorang penulis besar, seperti yang dapat kita lihat dari bukunya Treatise on the Spiritual Life (Risalat Kehidupan Rohani). Di bawah ini adalah renungannya tentang Lukas 17:2 "Kerajaan Allah ada dalam dirimu".

 

"Kamu harus membuka mata batinmu kepada terang, kepada surga di dalam dirimu, suatu horizon yang luas dan melampaui batas aktivitas manusia, suatu daerah yang belum dijelajahi oleh kebanyakan manusia. Pengamat biasa hanya melihat daerah yang berbadai dan tidak pernah menyangka bahwa beberapa kaki di bawah permukaan, air tenang selalu, dalam terang yang bergemilang terlihat tetumbuhan dan makhluk hidup yang indah dengan bermacam-macam bentuk, di kedalaman misterius di mana mutiara dibentuk. Demikian pula keadaan dalam jiwa di mana Allah berada dan menyatakan diri kepada kita. Dan bila jiwa telah memandang Allah, apa lagi yang dimintanya? (lihat Kel. 33:18; Maz. 42:2-3; Maz. 63:2-4). Bila jiwa telah memiliki Dia, mengapa dan untuk siapa ia dapat digerakkan untuk meninggalkanNya? Maka berusahalah sekuat tenaga, jagalah dirimu dalam ketenangan itu supaya jiwa dapat memandang surya abadi."

 

St. Klara dari Asisi (1193-1253) mendirikan komunitas gadis-gadis yang mau mengatur hidup mereka seturut peraturan St. Fransiskus. la juga sangat akrab dengan Kitab Suci sehingga teks- teks biblis seolah-olah mencetus keluar secara alami dalam tulisan- tulisannya. Dalam surat yang kita kutip di bawah ini, ia mendorong sahabatnya, Ratu Agnes dari Bohemia, yang memutuskan pertunangan dengan Kaisar Frederik II, supaya dapat menerima kepapaan injili. Perhatikan bagaimana St. Klara mencampur ayat-ayat dari Matius dengan pengamatannya sendiri:

 

"Seperti yang kau ketahui, saya sungguh percaya bahwa Kerajaan Surga dijanjikan dan diberikan Tuhan hanya kepada yang miskin: karena orang yang mencintai barang-barang yang lapuk oleh waktu akan kehilangan buah-buah cinta kasih. Saya percaya bahwa orang tidak dapat melayani Allah dan uang, karena jika yang satu dicintai maka yang lain dibenci, atau yang satu dilayani dan yang lain dihina (Mat. 6:24). Kamu juga mengetahui bahwa orang yang berpakaian tidak dapat berkelahi melawan orang yang telanjang, karena ia dengan cepat akan dijatuhkan ke tanah karena musuhnya dapat memegangnya; bahwa tak ada yang dapat hidup seperti penguasa di dunia dan berkuasa di sorga bersama Kristus; dan bahwa seekor unta dapat melalui lubang jarum lebih mudah daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 19:24). Karena itulah kamu meninggalkan pakaianmu -harta dunia- supaya kamu tidak dikalahkan oleh musuhmu, tetapi melalui jalan sempit dan pintu yang sempit kamu masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 7:14)."

 

Yang berikut adalah kutipan dari surat St. Raymond dari Penyafort (1175-1275) yang terkenal sebagai teolog dan ahli hukum kanon. Renungannya mengupas 2 Timotius 3:12 "Setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus akan menderita aniaya." Tetapi kita juga akan menemukan bahwa ia menyinggung teks lain berkenaan dengan disiplin rohani, misalnya Ibrani 12, Yakobus 1, dan 1 Petrus 1.

 

"Pewarta kebenaran Tuhan telah mengatakan kepada kita bahwa setiap orang yang mau hidup benar dalam Kristus akan menderita aniaya. Satu-satunya perkecualian dari pernyataan umum ini, saya kira, adalah orang yang lalai atau tidak tahu bagaimana harus hidup benar dan adil dalam dunia ini.

 

Semoga kamu tidak termasuk di antara mereka yang rumahnya selalu damai, tenang, dan tidak pernah mengalami kesusahan; mereka yang tidak pernah merasakan teguran Tuhan; mereka yang hidup dalam kemakmuran dan yang dalam sekejap akan turun ke neraka.

 

Kemurnian hidupmu, devosimu, pantas mendapatkan pahala; karena kamu diterima dan menyenangkan hati Tuhan maka kemurnian hidupmu harus semakin dimurnikan dengan pukulan-pukulan, sampai kamu mendapatkan ketulusan hati yang sempurna. Bila dari waktu ke waktu kamu merasakan pedang jatuh menimpamu dengan kekuatan yang dua kali atau tiga kali lipat, kamu juga harus memandangnya sebagai suatu suka cita dan tanda cinta kasih."

 

Pada abad ke-15 St. Fransiskus dari Paola (1416-1506) adalah pendiri Ordo Minims, suatu komunitas pembaruan yang berpola Fransiskan. Pada tahun 1481 paus mengutus Fransiskus untuk mewakilinya ke istana Raja Louis XI di Perancis, dan ia merasa bahwa ia tidak akan pernah kembali ke Italia. Surat perpisahannya kepada saudara-saudaranya bernada seperti surat Paulus kepada Timotius atau Titus, dan kita dapat mengenali inti surat-surat Paulus dalam nasihat-nasihat yang diberikan Fransiskus kepada saudara-saudaranya.

 

"Anak-anakku yang kukasihi dalam cinta kasih Yesus Kristus, aku meninggalkan kamu sekalian untuk pergi ke Perancis. Dengarkanlah nasihatku sebagai bapamu dalam Yesus Kristus. Kasihilah di atas segalanya Bapa kita di surga yang maha pengasih, dan layanilah Dia dengan segala kekuatan dan kemurnian hati.

 

Jagalah dan hukumlah anggota-anggotamu dengan penebusan dosa yang bermanfaat serta bijaksana supaya kamu tidak jatuh ke dalam godaan busuk iblis. la tidak dapat menang atasmu kecuali atas mereka yang malas dan lalai. Dalam cobaan dan godaan yang setiap hari kita hadapi, kamu harus saling membantu dan dengan menjaga kebaikan hati lakukanlah tugas-tugas dan komitmen rohanimu. Dengan cara itu kamu akan memenuhi hukum Yesus Kristus, seperti yang dikatakan Rasul.

 

Dengan kerendahan hati taatilah atasanmu, karena ketaatan adalah tulang punggung iman. Bersabarlah terhadap kelemahan dan kekurangan sesamamu. Bertekunlah dalam panggilanmu yang kudus, yang merupakan panggilan Tuhan kepadamu. Ingatlah selalu bahwa mahkota keselamatan hanya diperoleh mereka yang bertekun. Sia-sialah memulai suatu perbuatan baik jika kamu tidak menyelesaikannya. Jagalah dirimu untuk tetap berada pada jalan kebajikan yang selalu kukejar dengan penuh semangat, terutama perbuatan cinta kasih, kerendahan hati dan kesabaran.

Selamat tinggal, imam-imam dan saudara-saudaraku. Kita tidak akan berjumpa lagi di dunia ini! Semoga Tuhan mempersatukan kita di surga!"

 

St. Atanasius (297-373) diingat terutama karena ia menulis riwayat hidup St. Antonius dari Mesir, yang mengisahkan tentang monastikisme yang dimulai di padang gurun Afrika pada abad ke-4. Dalam seluruh buku, Atanasius menuliskan pengamatan pastoral tentang pertumbuhan rohani, seperti yang akan kita baca di bawah ini. Dalam kutipan ini St. Atanasius memandang ketekunan melalui lensa 1 Korintus 15:31 "Aku mati setiap hari -sesungguhnya, saudara- saudaraku- sama seperti aku bermegah atasmu dalam Yesus Kristus Tuhan kita."

 

"Marilah kita terus berusaha keras mengejar kebajikan. Jangan pernah merasa bosan mencarinya, karena Tuhan kita telah menjadi penunjuk jalan bagi kita dan bagi setiap orang yang menginginkan kebajikan. Supaya hal itu tidak terlalu membosankan bagi kita, St. Paulus menjadi teladan kita ketika ia berkata, "tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut." Nah, jika kita berpikir setiap hari bahwa kita akan mati hari itu, kita tidak akan berbuat dosa sama sekali. Inilah penjelasan bagi perkataan St. Paulus. Jika kita selalu mengingat kematian yang selalu sangat dekat, kita tidak akan pernah dikalahkan oleh dosa: nafsu yang berlalu cepat tidak akan menguasai kita; kita tidak akan menyimpan amarah terhadap sesama; kita tidak akan mencintai benda-benda yang akan binasa; dan kita akan mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita. Karena itu, saudara-saudaraku terkasih, marilah kita bergiat melaksanakan karya yang merupakan tugas kita, dan marilah kita berjalan menuju akhir perjalanan yang telah kita mulai."

 

Kita mengakhiri tinjauan kita dengan dua mistikus, yang satu sangat terkenal, Katarina dari Siena (1347-1380), dan yang satunya tidak begitu dikenal, Teresa Margaret dari Hati Kudus (1747-1770). Kedua wanita ini membuat keseimbangan antara doa dan karya, pengalaman mistik mereka yang luar biasa menghasilkan buah-buah pelayanan kepada sesama tanpa memikirkan diri sendiri. Mereka dikenal oleh orang-orang di sekitar mereka sebagai orang-orang yang mengasihi, dan keduanya berbicara tentang cinta-kasih praktis seperti yang akan kita baca di bawah ini.

 

St. Teresa Margaret meninggalkan beberapa pepatah. Contoh- contoh di bawah ini seakan-akan menjelaskan arti dari 1 Korintus 13:6-7, "Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. la menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

 

"Jika perbuatan sesama kita mempunyai beratus-ratus sisi, kita harus melihat sisi terbaiknya.

 

Jika suatu perbuatan patut dihukum, kita harus berusaha melihat maksud baik yang ada dibaliknya.

 

Marilah kita melakukan semua hal karena kasih, dengan mengingat bahwa kasih hanya menginginkan kasih, maka tak ada sesuatupun yang sulit bagi kita."

 

Di samping seorang mistik, pelaku mukjizat, dan seorang pekerja, Katarina adalah seorang penulis spiritual. Buku karangannya 'Dialog' sangat mendalam dan membuatnya diangkat sebagai Pujangga Gereja. Ketika ia menulis kutipan berikut ini di mana Tuhan sedang berbicara, ia rupanya memikirkan Matius 25:40 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

 

"Aku telah menempatkan kamu di tengah saudara-saudaramu supaya kamu dapat melakukan bagi mereka apa yang tidak dapat kamu lakukan bagiKu, itu berarti kamu mengasihi sesamamu dengan bebas tanpa mengharapkan balasan apapun darinya, dan apa yang kamu lakukan kepadanya aku perhitungkan sebagai apa yang kau lakukan kepadaKu."

 

Demikianlah para kudus memenuhi pikiran dan hati mereka dengan Kitab Suci. Hal itu sangat menolong mereka menjadi kudus, karena mereka menemukan Tuhan dalam Alkitab. Atau dengan kata lain, ketika para kudus menangkap kata-kata dalam Kitab Suci, Firman menangkap mereka.

 

sumber : “Mendalami Kitab Suci” oleh Bert Ghezzi - Sabda Allah bagi Anda edisi Desember 1998; diterjemahkan dengan izin dari God's Word Today, Ann Arbor, Michigan, USA; alih bahasa Ibu F.M. Tin Subekti, TOC; diterbitkan untuk kalangan sendiri oleh “PERTAPAAN KARMEL” Ngadireso - Malang

Mengapa Kitab Suci Katolik Mempunyai Jumlah Kitab Lebih Banyak daripada Kitab Suci Protestan?

Oleh P. Richard Lonsdale


Kitab Suci Katolik terdiri dari 72 kitab (45 kitab PL + 27 kitab PB), sementara kebanyakan Kitab Suci Protestan hanya terdiri dari 66 kitab. Kitab yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik semuanya merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Selain itu terdapat juga beberapa ayat dalam kitab-kitab tertentu yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik. Mengapa terjadi perbedaan demikian? Jawabannya amat rumit, tetapi secara sederhana dapat dijelaskan seperti berikut ini.

 

Orang-orang Yahudi menulis Perjanjian Lama, tetapi mereka tidak secara "resmi" menuliskan daftar atau kanon dari kitab-kitab tersebut sampai akhir abad kedua. Sekelompok orang Yahudi khawatir kalau-kalau pada akhirnya tulisan-tulisan Kristen juga akan dimasukkan orang ke dalam kanon mereka. Untuk mencegah hal tersebut, setelah melalui debat yang panjang, mereka memutuskan untuk mencantumkan hanya kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani saja yang termasuk dalam kanon mereka. Dengan demikian mereka dapat mengeluarkan kitab-kitab Kristen yang semuanya ditulis dalam bahasa Yunani. Namun demikian, ada pula beberapa bagian dari kitab Perjanjian Lama yang hanya tersedia salinannya dalam bahasa Yunani, sedangkan kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Ibrani telah hilang. Dengan demikian kitab-kitab tersebut, yang dulunya juga mereka terima, ikut dikeluarkan dari kanon Yahudi.

 

Gereja Katolik tidak mengikuti keputusan mereka. Terutama karena beberapa kitab yang ditulis dalam bahasa Yunani mendukung doktrin (doktrin = ajaran) Katolik, misalnya tentang Roh Kudus. Gereja Katolik tidak membuat daftar atau kanon resmi sampai beberapa abad kemudian. Sejak awal mula Gereja Katolik menerima semua kitab yang sekarang ada dalam Kitab Suci kita.

 

Pada abad ke-16, Gereja Protestan mulai mempergunakan Kitab Suci sebagai dasar ajaran mereka. Martin Luther menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Perjanjian Lama Yahudi. Alasan penolakannya adalah karena beberapa bagian dari kitab-kitab tersebut tidak mendukung ajarannya. Seperti misalnya, Luther tidak setuju dengan ajaran Gereja Katolik mengenai Api Penyucian. Padahal gagasan tentang api penyucian terdapat dalam Kitab Makabe II. Selanjutnya Luther juga mencoba mengeluarkan beberapa kitab Perjanjian Baru, misalnya Surat Yakobus. Beberapa gagasan dalam surat Yakobus tidak sesuai dengan ajaran Luther, misalnya tentang ajaran Luther yang menyatakan bahwa perbuatan baik tidak diperlukan dalam memperoleh keselamatan, melainkan hanya iman. Tetapi, pada akhirnya, ia harus memasukkan juga Surat Yakobus dalam kanonnya.

 

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja Protestan disebut Protokanonika (protokanonika: kanon yang pertama). Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui oleh Gereja Katolik tetapi tidak diakui oleh Gereja Protestan di tempatkan di bagian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian ini oleh Gereja Katolik disebut Deuterokanonika (deuterokanonika: kanon yang kedua), sedang oleh Gereja Protestan disebut Apokrip (apokrip : buku-buku keagamaan yang baik untuk dibaca tetapi tidak diilhami Roh Kudus).

 

Hingga kini Gereja Katolik terus mempertahankan serta menghormati kitab-kitab seperti yang telah diterima oleh Gereja Kristen Purba. Jika Kitab Suci yang mereka wariskan itu baik bagi mereka, tentu baik pula bagi kita. Coba bacalah kisah menarik tentang Tobit, dan coba baca juga nasehat-nasehat berharga dalam Kitab Kebijaksanaan di Kitab Suci Katolik-mu.

 

sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

tambahan: P. Dr. H. Pidyarto O.Carm; “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik buku kesatu”

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

Mengapa Umat Katolik tidak Membawa Kitab Suci ke Gereja?

oleh: P. John Noone
Kristus sang Guru

Gereja-gereja Protestan menyediakan Kitab Suci di bangku-bangku mereka serta mendorong umatnya untuk membawa Kitab Suci mereka sendiri.  Gereja-gereja Katolik menyediakan Lembaran Misa di bangku-bangku mereka yang berisi bacaan-bacaan dari Kitab Suci yang akan diwartakan pada hari itu. Setiap umat Katolik dianjurkan untuk membawa Kitab Suci pribadi mereka untuk digunakan pada waktu doa dan renungan sebelum dan sesudah Misa. Yang sering terjadi adalah umat Katolik ke gereja membawa Puji Syukur saja, tanpa Kitab Suci. Gejala ini menimbulkan kesan bahwa Gereja Katolik tidak akrab dengan Kitab Suci.

 

Sebagian besar orang non-Katolik tidak paham bahwa Gereja Katolik menyelenggarakan pelayanan liturgi setiap hari sepanjang tahun.  Mereka juga tidak paham bahwa Gereja Katolik mempunyai kalender liturgi yang menentukan bacaan-bacaan mana dari Kitab Suci yang harus diwartakan setiap hari sepanjang tahun. Bacaan-bacaan hari Minggu dibagi dalam tiga Lingkaran Tahun Gereja (Tahun A, Tahun B dan Tahun C). Setiap lingkaran tahunan dipusatkan pada salah satu dari ketiga Injil sinoptik (Tahun A : Matius, Tahun B : Markus atau Tahun C : Lukas). Injil Yohanes digunakan pada setiap lingkaran tahunan pada masa Paskah dan pada tahun B karena Injil Markus lebih pendek dibandingkan Injil sinoptik lainnya. Tahun Baru Gereja dimulai pada Minggu Pertama Masa Adven dan berakhir pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan dari Perjanjian Lama dan Mazmur Tanggapan dipilih yang sesuai dengan bacaan Injil. Bacaan kedua diambil dari Surat-surat para Rasul dari Perjanjian Baru dan diwartakan mulai dari awal hingga akhir. Selama Masa Paskah, bacaan dari Kisah Para Rasul menggantikan bacaan dari Perjanjian Lama. Kalender liturgi dan lingkaran tahun gereja telah dipergunakan, dengan sedikit perubahan, baik oleh gereja-gereja Lutheran maupun Episcopal.

 

Misa harian mempunyai satu lingkaran pewartaan Injil. Keempat Injil digunakan dalam Misa harian sepanjang tahun. Bacaan pertama dalam Misa harian menggunakan Tahun I (untuk tahun ganjil) atau Tahun II (untuk tahun genap). Bacaan Misa harian pada Masa Adven dan Masa Paskah selalu sama setiap tahun. Kapan saja kalian dapat pergi ke sebuah Gereja Katolik di mana saja di seluruh dunia dan kalian akan mendengarkan bacaan-bacaan yang sama diwartakan pada hari yang sama. Jika seseorang ambil bagian dalam Misa harian setiap hari selama tiga tahun, maka ia akan mendengarkan kurang lebih 98% Perjanjian Baru dan lebih dari 85% Perjanjian Lama diwartakan dari ambo (= tempat pewartaan).

 

Di samping itu, Perayaan Misa banyak sekali menggunakan kutipan-kutipan yang diambil dari Kitab Suci. Jika saja seseorang mempergunakan stopwatch untuk menghitung banyaknya waktu yang dipergunakan untuk mewartakan Kitab Suci selama Perayaan Ekaristi berlangsung, ia akan mendapati bahwa mulai dari Salam hingga Pengutusan, lebih dari 25% waktu yang dipergunakan untuk merayakan Misa dipergunakan untuk mewartakan Kitab Suci, bukan membicarakannya, tetapi mewartakannya. Tidak satu pun kebaktian Kristen non-Katolik yang bahkan mendekati banyaknya waktu tersebut dalam mewartakan Injil.

 

Beberapa contoh:

 

2 Kor 13:13

:

Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

Mzm 123:3, Yes 33:2

:

Tuhan, kasihanilah kami.

Mat 20:30-31, Luk 17:13

:

Kristus, kasihanilah kami.

Luk 2: 14

:

Kemuliaan kepada Allah di surga,

dan damai di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya.

Why 4:8

:

Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa.

Luk. 22:19

:

Inilah tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu.

Mat 26:28

:

Inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.

Mat 6:9-13

:

Bapa Kami yang ada di surga ....

1Pet 5:14

:

Damai Tuhan kita Yesus Kristus beserta kita.

Yoh 1:29

:

Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.

Why 19:9

:

Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.

Mat 8:8

:

Ya, Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.

2 Kor 9:15

:

Syukur kepada Allah.

 

 

sumber : "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; Copyright © 1999 by Fr. John Noone; www.scborromeo.org

tambahan info : 1. Warta Andreas No. 09 Th. XVI September 2002, Media Komunikasi Paroki Kedoya, Gereja St. Andreas, Jakarta Barat; 2. "Ask a Franciscan", by Father Pat McCloskey, O.F.M; www.americancatholic.org

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”