Showing posts with label hubungan. Show all posts
Showing posts with label hubungan. Show all posts

December 4, 2010

Paralelisasi Kristen – Islam Sebuah Perspektif dari Kekristenan Timur Tengah

Oleh: Henney Sumali


Dalam menggali akar bersama yang dapat mempererat persaudaraan, kekerabatan dan persahabatan antara agama Kristen dan Islam, Sayyed Hosein Nassr dan Prof. Mukti Ali pernah mengusulkan metode paralelisasiuntuk mencari titik-titik temu (meeting points) antara kedua agama tersebut.[1] Metode paralelisasi mencoba mendalami bahasa theologis suatu agama berdasarkan presuposisi agama-agama yang bersangkutan, dan bukan lagi menilai agama orang lain dari kaca mata agama kita sendiri. Dengan meminjam istilah Dr. Said Aqiel Siradj, kedua agama tersebut harus dilihat dalam "satu trah dari nabi Ibrahim a.s."[2] Harapan mulia tersebut diungkapkan pula dalamDeklarasi Jakarta 2 September 1998 lalu yang merupakan pernyataan tulus sekaligus protes keras yang dilancarkan oleh negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam terhadap Orientalisme.

Oleh sebab itu, bagi kita haruslah meletakkan suatu arti yang orisinal bagi perbandingan agama yang diambil dari sumbernya yang jernih yang tidak ada kebatilan di hadapan dan di belakangnya, dan yang menguatkan bahwa agama-agama samawi sumbernya adalah satu (Pasal 4, VII f).

Kecurigaan Islam maupun Kristen Oriental (Timur Tengah) terhadap Orientalisme memang beralasan karena dianggap sebagai babak baru dari wujud penjajahan yang dilancarkan oleh "kaum Salibi" (baca : Kekristenan Barat) terhadap dunia Timur Tengah.[3] Jadi, yang tercermin di sini bukanlah konflik keagamaan antara Kristen dan Islam, tetapi lebih merupakan konflik peradaban Barat dan Timur Tengah.[4] "Cultural gap" yang dalam dan makin lebar akibat sejarah silam yang suram itulah yang menyebabkan sulitnya diperoleh titik-titik temu yang dapat "mendamaikan" ketegangan kedua agama. Karena itu, Idris Shah menekankan pentingnya inventarisasi istilah-istilah keagamaan bahasa Arab yang dipakai dalam komunitas Kristen Timur Tengah dengan bahasa Arab Islam sebagai salah satu cara mengatasi kesenjangan itu.[5] Dalam kaitan ini, banyak ahli studi kekristenan Timur Tengah berpendapat bahwa Kekristenan Orthodoks Syria-lah yang paling banyak memiliki kesamaan istilah keagamaan dan titik temu dengan Islam.[6]


Paralelisasi Literatur Kristen Syria dan Kandungan Isi Qur'an


Sejarah membuktikan bahwa Alkitab yang kanonik atau tulisan-tulisan Kristen yang lain belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebelum timbulnya agama Islam.[7] Maka yang lebih memungkinkan untuk ditangkap dan dicerna oleh Muhammad dan masyarakat sejamannya di Arabia adalah pengetahuan secara tidak langsung terhadap sumber-sumber kekristenan yang berasal dari budaya lisan atau terjemahan sementara daripada sumber-sumber yang bersifat resmi. Sumber-sumber dari kekristenan Syria nampaknya lebih banyak diserap dalam Qur'an ketimbang dari sumber-sumber lain karena terbukti banyak nama dalam Alkitab yang dipakai Qur'an ternyata berasal dari kekristenan Syria.[8]Nama 'Isa, misalnya, berasal dari 'Isho atau 'Isha sebagai nama untuk Yesus di kalangan gereja Syria, ketimbang berasal dari nama Esau seperti yang diduga oleh para polemikus Barat.[9]

Ada kesamaan antara khotbah-khotbah para bapak gereja Syria yang sering diulang-ulang dalam Qur'an berkenaan dengan ancaman api neraka dan pahala di taman Firdaus serta bukti-bukti kuasa Allah dalam membangkitkan orang-orang mati.[10] Yang menarik adalah ditemukannya beberapa nama tokoh Alkitab yang dipakai Qur'an dengan penggambaran seperti yang biasa dipakai oleh gereja ini melalui penafsiran typologis mereka. Misalnya, Maria dalam Qur'an dikatakan sebagai "saudara Harun" (Maryam (19):28), yang oleh para polemikus dianggap sebagai suatu kemustahilan, sebenarnya tidak terasa aneh bagi gereja Syria yang dalam tafsiran typologis mereka mengangap Maria seolah-olah dihadirkan di gunung Horeb ketika semak belukar yang menyala oleh api tetapi tidak terbakar.[11]Demikian juga, 'Isa mengajak para muridNya untuk menjadi "para penolong agama Allah" (Ash Shaff (61): 14), yang terdengar seperti panggilan jihad, terasa tidak mengherankan karena anggapan secara typologis bahwa Yesus pernah hadir pada jaman Perjanjian Lama sebagai Yoshua (nama keduanya dalam bahasa Ibrani dan Syria sama : Yoshu'a), yang memimpin bangsa Israel untuk menaklukkan Tanah Perjanjian.[12]

Peleburan secara typologis Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama juga menjadi kunci untuk menjawab kisah hidangan yang disediakan 'Isa (Al-Maa'idah (5): 112-115). Qur'an mengisahkan adanya hidangan khusus yang diberikan 'Isa kepada para muridNya, yang bagi mereka adalah suatu perayaan, yang karenanya maka wajar bila kita teringat akan kisah Perjamuan Malam. Dalam Qur'an, para murid (baca: Hawariyin) memohon hidangan agar hati mereka sentosa dan yakin bahwa perkataan 'Isa itu benar. Ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus dalam Injil Yohanes, "Jangan hatimu gelisah. Percayalah kepada Allah dan percayalah kepadaKu" (Yohanes 14: 1). Dalam Qur'an , dikatakan bahwa Allah mengancam akan menghukum mereka yang tidak taat. Pernyataan ini tidak jauh menggemakan kembali peringatan Paulus bahwa jemaat Kristus akan mendapat hukuman bila tidak layak mengikuti Perjamuan Kudus (1 Korintus 11: 27-30) atau mungkin saja berasal dari kisah di Perjanjian Lama tentang bagaimana Allah menghukum bangsa Israel setelah mereka makan manna. Dua penjelasan inilah yang dipakai dalam tafsiran-tafsiran typologis Paulus (1 Korintus 10: 1-10). Akhirnya, kisah Al-Maa'idah bisa jadi didasarkan pada penafsiran kisah dalam Perjanjian Lama, sebab menurut Pemazmur, bangsa Israel itu berdosa karena mengatakan, "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun ?" (Mazmur 78: 19).[13]

Pengaruh literatur Kristen Syria yang berikut adalah sumbangsih Diatessaronyang ditulis Tatian sebagai harmoni keempat Injil menjadi satu buku. Ini berkaitan dengan pernyataan Qur'an bahwa Injil adalah sebuah buku yang diberikan Allah kepada 'Isa dan bukannya beberapa versi penuturan Injil oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Perlu dicatat bagaimana redaksional Lukas 1: 34 yang mengatakan bahwa Maria belum pernah "mengenal" seorang laki-laki, sementara Tatian menulis bahwa "tidak seorang laki-laki pun yang pernah mengenalnya". Perubahan kecil ini yang mencatat adanya seorang pria sebagai partner aktif yang kemudian justru diambil oleh Qur'an ketika dikisahkan bahwa Maryam bersikeras bahwa belum ada seorang laki-laki pun yang pernah menyentuhnya (Ali Imraan (3): 47 dan Maryam (19): 20).[14]

Selain itu, ada banyak kisah dalam Qur'an yang tidak ditemukan dalam Injil kanonik atau Diatessaron, tetapi dapat dijumpai dalam dongeng-dongeng beberapa Injil apokrip. Protoevangelium Jacobi menyebutkan bahwa Maria menerima makanan dari seorang malaikat ketika ia masih kanak-kanak dan ketika ia berusia 12 tahun, dipilihlah seorang wali untuk mengasuhnya dengan membuang undi dan segera sebelum ia menerima berita dari malaikat Jibril, ia tinggal di mihrab rumah sembahyang.[15]

Injil berbahasa Latin yang dalam bahasa Inggris disebut Gospel of Pseudo-Matthew, menyebutkan mujizat pohon kurma dan aliran air dalam konteks kisah pengungsian di Mesir. Kisah 'Isa berbicara ketika masih dalam buaian yang terdapat dalam The Gospel of Infancy dalam bahasa Arab sering jadi masalah bagi para polemikus. Akhirnya, mujizat penciptaan burung dari tanah liat dapat kita jumpai dalam Infancy Story of Thomas.[16] Terjemahan dalam bahasa SyriaProtoevangelium Jacobi dan Infancy Story of Thomas sudah ada pada jaman pra-Islam. The Gospel of Infancy dalam bahasa Arab dan Injil Pseudo-Matius merupakan karya sastra berikutnya tetapi ada kemungkinan berasal dari sumber-sumber bahan berbahasa Syria masa pra-Islam.


Soal Gelar 'Ibnu Maryam' bagi 'Isa Almasih


Yang lebih menarik lagi, sebutan Yesus sebagai Ibnu Maryam (Putera Maryam) yang kurang populer dalam Injil-Injil kanonik, karena hanya disebut sekali dalam Markus 6:3, justru lebih akrab jadi sebutan untuk tokoh 'Isa dalam Qur'an. Bahkan, Qur'an memberipenghormatan khusus bagi Maryam dengan kata-kata 'dan ibunya adalah seorang yang sangat benar' (Al-Maa'idah (5): 75), 'Maryam yang memelihara kehormatan' (Al Anbiyaa (21):91, At-Tahrim (66): 12), 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih engkau, mensucikan dan melebihkan engkau atas sekalian perempuan yang ada di dalam alam' (Ali 'Imraan (3): 42). Kisah masa kecil dan peranan Maryam di kemudian hati diceritakan lebih panjang lagi dalam Surat Maryam.

Dalam Qur'an, gelar Ibnu Maryam bagi 'Isa Almasih, menurut beberapa ahli, diberikan dengan beberapa tujuan. Pertama, gelar itu menurut Muhammad 'Ali, menyatakan bahwa Ia adalah seorang manusia sama seperti nabi-nabi yang lain. Sebutan ini menyatakan status Almasih sebagai seorang anak yang dilahirkan tanpa seorang ayah, sebab seorang anak diberi nama menurut garis ketutunan ayahnya, dan bukan dari ibunya, kecuali bila ayahnya tidak diketahui. Qur'an sendiri tidak menyebut Yusuf sebagai bapak atau bapak tiri bagi Almasih seperti yang digunakan dalam Injil kanonik (Matius 1: 19f; tapi dalam Lukas 2: 33 -- 'ayahnya').[17]

Menurut R.H. Lightfoot, gelar Ibnu Maryam yang disandang 'Isa Almasih dianggap tidak lazim dan bahkan untuk jaman 'Isa sendiri dianggap sebagai pelecehan. Sebab tak sorangpun di Timur, entah ayahnya hidup atau mati, akan disebut dengan nama ibunya kecuali dengan maksud untuk menghina.[18] Keterangan Lightfoot ini mengingatkan kita tentang bagaimana Yesus di mata orang Yahudi pernah dijuluki 'Bar Parthenon' (artinya: Anak Perawan) yang kemudian dipelesetkan menjadi 'Bar Panthera" dengan maksud untuk menghujat Dia yang dalam Toledot Yesu dikisahkan sebagai ' anak haram dari serdadu Romawi yang bernama Panthera'.[19]

Bagi E.F.F. Bishop, gelar Ibnu Maryam sangat mungkin berasal dari Abyssinia karena umat Islam paling awal pernah hijrah ke negara Kristen itu sebelum akhirnya kembali lagi ke Mekkah. Pemakaian gelar Ibnu Maryam dalam Qur'an memang berbarengan dengan peristiwa ini.[20] Pendapat ini dianggap kurang kuat karena di antara gereja Coptik Mesir maupun Abyssinia, tidak terdapat gelar 'Putera Maryam' bagi Yesus dalam kontroversi Kristologis mapun dalam lityrgi mereka, sehingga Dr. Murad Kamil dari gereja Coptik sendiri menganggap alasan Rev. Bishop itu tidak mungkin terjadi.[21]

Yang lebih memungkinkan, menurut Geofferey Parrinder, gelar Ibnu Maryam sangat mungkin karena pengaruh dari gereja Syria, karena hampir tujuh puluh lima persen istilah-istilah asing dalam Qur'an berasal dari bahasa Syria sementara yang dari ethiopia hanya lima persen saja. Alasan ini dibuktikan oleh sebutan Ibnu Maryam yang berkali-kali disebut dalam The Gospel of Infancy dalam versi bahasa Arab dan Syria. Ini menunjukkan bahwa orang-orang kristen Syria memiliki kontak lebih erat dengan Islam mula-mula. Dalam Arabic Infancy Gospel, gelar Ibnu Maryam disebut lima kali, sedangkan dalam Syriac Infancy Gospel, gelar itu muncul lima belas kali, khususnya dalam kisah kanak-kanak 'Isa.[22]


Paralelisasi Maria dan Muhammad : Pentingnya JembatanMaryamiah dalam Dialog


Mengapa peranan Maria dalam Qur'an begitu penting sementara dari pihak gereja, khususnya di kalangan Protestan, tema tentang Maria kurang mendapat perhatian khusus ? Menurut Sayyed Hosein Nassrkeperawanan Maria dalam Alkitab paralel nilainya dengan kebutahurufan Muhammad dlam misteri pewahyuan. Keduanya sama-sama mendapat penghargaan salawat. Ummat Islam memberi salam, 'Assalamu 'alaika ayyuhan Nabiy' (Salam bagimu, wahai Nabi), demikianpula salam sepanjang abad bagi Bunda Maria berdasarkan Lukas 1: 28 dan 42, "Assalamu 'alaiki, ya Maryam al-Adzra'i, al-mumtali'atan ni'mati, Ar-Rabbu ma'aki, Mubarakati anti fin nisaa'i wa mubarakat tsamaratu bathniki 'Isa”(Salam bagimu, ya Maryam Sang Perawan, yang penuh kasih karunia, Tuhan besertamu, Terpujilah engkau di antara segala wanita. Terpujilah buah rahimmu, Yesus). Karena keduanya berperan penting dalam misteri pewahyuan Ilahi, maka ada teolog tertentu yang mengusulkan jembatan Marial dalam dialog Kristen-Islam. Tentu, maksudnya bukan untuk mengkultuskan individu Maria atau Muhammad, tetapi untuk lebih mendalami misteri pewahyuan yang disampakan kepada keduanya.[23]

Berbeda dengan budaya di Barat, teologia Kristen Timur Tengah sangat menekankan soal keperawanan Maria, sebab kesucian dan keperawanannya menentukan nilai keilahian Kristus. Tanpa itu, Kristus hanyalah manusia biasa, anak Yusuf dan Maria atau bahkan membuka kritik serta pelecehan seperti kisah dalam Toledot Yeshu versi Yahudi. Sebagai apresiasi atas kesucian, peranan dan keteladanan Maria Bunda Yesus, umat Kristen Timur Tengah melakukan ritual puasa selama 15 hari di bulan Agustus.


Paralelisasi 'Isa Almasih dan Muhammad


Bila pribadi Muhammad memiliki peranan yang sejajar dengan Maria Bunda Yesus dalam misteri pewahyuan, ia pun memiliki banyak kesamaan dengan 'Isa Almasih dalam segi kenabian. Kurangnya ditekankan segi kenabian Yesus dalam teologia Kristen, dan hanya menekankan segi KeilahianNya dalam dialog dengan Islam, dialog kedua pihak sering terputus karena ketidak-seimbangan doktrin dalam gereja Kristen sendiri, seperti dikritik MacDonald dalam Jurnal Seedbed:
Christian have generally neglected the Biblical doctrine of the prophethood of Christ. Some traditions do assert Christ's fulfillment of the three Old Testament themes of Prophets, Priest and King. However, while his priestly and kingly roles have been treated extensively, relatively little attention seems to have been given to this prophetic role, leaving us theologically ill-equipped to deal with Muslim teaching on prophets. Faced with Muhammad's claim to prophethood, Christians have tended to overlook the relevance of biblical teaching on the prophethood of Christ and have stressed instead his Deity. This article attempts to redressed the balance ....[24]

Qur'an menyatakan bahwa 'Isa sebagai salah seorang dari serangkaian para nabi yang diutus Allah, berawal dari Adam dan berakhir dalam diri Muhammad yang menerima mujizat Al-Qur'an. Tidak mengherankan bila Qur'an mengangkat Muhammad dan 'Isa sebagai dua pribadi yang memiliki kesamaan, tetapi seberapa besar daya tarik kesamaan mereka pada umumnya lolos dari perhatian umum.

Seperti halnya Muhammad, 'Isa dalam versi Qur'an disebut sebagi nabi, rasul danabdi Allah. Seperti dirinya sendiri, 'Isa diutus sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh dunia). Ia menerima sebuah wahyu yang disebut Injil sama seperti Muhammad menerima Qur'an. Ajaran 'Isa dan ajaran Injil dikatakan sebagai hikmat, jalan yang lurus, petunjuk, terang dan peringatan -- istilah-istilah yang diberikan juga bagi Qur'an. 'Isa melepaskan beberapa larangan yang dikenakan kepada umat Yahudi (Ali 'Imraan (3): 50) seperti dilakukan Muhammad terhadap beberapa hukum pengharaman makanan yang dikenakan bagi umat Yahudi karena ketidaktaatan dan karenanya dibebaskan untuk umat Islam (Al An'aam (6): 146f). Tetapi Injil, seperti halnya Qur'an, dikatakan sebagai penegasan atau membenarkan (mushadiqaan) Kitab-Kitab Suci sebelumnya (Ali 'Imraan (3): 3). Tekanan ajarannya juga identik dengan Qur'an, yaitu ajakan untuk beribadah dan menyembah Allah. 'Isa dikatakan pernah mengancam para penyembah berhala dengan siksaan api neraka (Al Maa'idah (5): 72) dan menjanjikan surga kepada mereka yang mati sahid di jalan Allah (At Taubah (9): 111) -- ancaman dan janji yang sama yang biasa dilakukan Muhammad dalam Qur'an. Selanjutnya, 'Isa dikatakan melakukan juga salat dan zakat (Maryam (19): 31), dua kewajiban agamawi yang pokok dalam rukun Islam. Dalam memandang semua kesamaan ini, tidak mengherankan bila Qur'an juga menyatakan bahwa wahyu yang diterima oleh murid-muridNya mendorong mereka untuk percaya kepada Allah dan rasulNya dan mereka menyatakan diri sebagai muslimin (artinya: orang-orang yang berserah diri kepada Allah) dalam Al Maa'idah (5): 111 dan mereka ingin dimasukkan dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (ma'asy syahidiin) dalam Ali 'Imraan (3): 53.

Dari semua penjelasan di atas, jelas bahwa Qur'an berusaha menggambarkan bahwa Muhammad hanya melakukan apa yang sebelumnya pernah dilakukan oleh 'Isa Almasih, sebagaimana dinyatakan dalam Ash Shaff (61): 14 :
Yaa ayyuhal ladzina aamanu kuunuu ansharallahi ka maa qaala 'Isabnu Maryama lil Hawariyuuna man anshaari ilallahi qaalal hawariyyuna nahnu ansharullah fa aamanat thaa-ifatum min banii Israa-iila wa kafarat thaa-ifatun fa ayyadnal ladziina aamanuu 'alaa 'aduwwihim fa ashbahuu zhaahirin.
(Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana 'Isa putra Maryam berkata kepada para pengikutnya yang setia, "Siapa yang akan menjadi penolongku ke jalan Allah ?" Para pengikutnya yang setia itu berkata, "Kamilah penolong (agama) Allah." Maka berimanlah segolongan Bani Israil dan kufur segolongan yang lain, Maka kami bentu orang-orang yang beriman menghadapi musuh mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang)
Sekalipun ayat ini sangat singkat tetapi maksudnya cukup jelas. Orang-orang beriman (mu'miniin) diajak berperang di pihak Muhammad berdasarkan alasan bahwa dengan melakukan jihad itu mereka berbuat yang sama sebagaimana pernah dilakukan murid-murid Yesus dan seperti halnya para muridNya, mereka akan dijanjikan kemenangan. Kata 'para penolong" (anshar) memang penuh arti karena merupakan gelar resmi yang disandang penduduk kota Madinah yang berjuang membela Muhammad (At Taubah (9): 100, 107). Para pengikut Almasih pun disebut Nashara (dari akar kata yang sama : anshar -- menolong) dalam Qur'an.[25]

Dari banyak kesamaan di atas antara 'Isa Almasih dan Muhammad, makin jelas bagi kita bahwa dalam segi kenabian, Muhammad nampaknya memakai prototip kenabian 'Isa Almasih untuk melegitimasi misi kenabiannya sendiri. Tidak mengherankan kita bila Qur'an begitu banyak merujuk pada pribadi dan misi 'Isa Almasih yang menurut Annis Shorosh disebut dalam sembilan puluh ayat sementara untuk Muhammad hanya disebut duapuluh lima kali saja.[26] Motif apakah yang tercermin dalam pernyataan yang dianggap berasal dari Muhammad dalam Hadits bahwa di antara semua nabi, 'Isa Almasih-lah yang paling dekat dengan dirinya ?

Yang perlu dipikirkan lebih lanjut dan perlu didiskusikan dalam dialog Kristen-Islam adalah sifat dan tujuan dari narasi-narasi yang digunakan oleh Qur'an. Apakah narasi-narasi yang dipakai Qur'an selalu bersifat sejarah ataukah hanya bersifat sastra dalam meriwayatkan tokoh-tokoh yang diangkat ke permukaan sebagai bahan pelajaran? Apakah tokoh-tokoh nabi dalam Qur'an semuanya bersifat historis ? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin menjadi kunci atas masalah-masalah yang sering jadi tema-tema dalam polemik antara Kristen dan Islam.


Antara Lailatul Quddus dan Lailatul Qadar


Ketika Ikatan Putra-Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama Surabaya mengadakan Dialog tentang puasa dalam konteks kerukunan antar umat beragama di Indonesia awal bulan Desember 1999 lalu, saya menyatakan bahwa saat itu umat gereja Orthodoks Syria dan gereja-gereja Timur Tengah lainnya juga sedang berpuasa 40 hari di masa Advent menjelang peringatan 'Idul Milad (Hari Natal) yang diperingati tiap tanggal 6 Januari. Umat Kristen di seluruh dunia mengharapkan berkat istimewa dari Allah pada peringatan Lailatul Quddus (Malam Kudus), yaitu malam yang penuh kemuliaan dan kedamaian dengan bertaburan bintang seperti dinyanyikan oleh para malaikat, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya." (Lukas 2:14). Saat itulah Kalimatullah (Firman Allah) itu, menurut Kanun Al-Iman, dikatakan "Alladzi min ajlina nahnu basyar wa min ajlina kholashina nazala minas sama'i" (yang oleh karena kita menjadi manusia dan demi keselamatan kita turun dari surga) (Yohanes 1: 1, 14).

Bandingkanlah peristiwa Miladiyah Sayidina 'Isa Almasih itu dengan peristiwaLailatul Qadr dengan redaksi Surat Al-Qadr (Kemuliaan) berikut:
Innaa anzalnaahu fii lailatil qadr. Wa maa adraaka maa lailatul qadr ? Lailatul qadri khairum min alfi syahr. Tanazzalul malaa-ikatu war ruuhu fihaa bi idzni rabbihim min kulli amr. Sallamun hiya hattaa mathla'il fajr.
(Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada lailatul qadar. Dan tahukah engkau apakah lailatul qadar itu ? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Malaikat dan Ruh (Jibril( turun padanya dengan izin Tuhannya membawa segala perintah. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar).

Nampak dari narasi kedua kisah Lailatul Quddus dan Lailatul Qadr ada banyak kesamaan, di mana posisi Yesus Kristus dan Al-Qur'an dipahami kedua agama sebagai Sabda Ilahi. Banyak terminologi yang satu sama lain saling berdekatan, misalnya penggunaan istilah 'nuzul' (turun) dalam Kanun Al-Iman (Shahadat Kristen) yang menggambarkan Firman Allah itu menjelma menjadi manusia (Al-Kalimat al-Mutajasad). Firman itu telah "nazala minas sama'i wa tahhasada bir-Ruhil Quddusi wa mim Maryam al-Adzra' wa shara insanan" (nuzul dari surga dan menjelma oleh kuasa Roh Kudus (Hayat Allah). Perumusan itu dapat dibandingkan dengan pengertian mereka tentang Nuzulul Qur'an (turunnya Al-Qur'an).[27]

Suasana yang menyertai turunnya wahyu itu dalam pandangan kedua iman : antara nuzulul Qur'an itu terjadi pada malam penuh kemuliaan (Lailatul Qadr), yang melebihi seribu bulan dan nuzulul Kalimatu al-mutajjasat (turunnya Firman menjadi manusia) pada Malam Kudus (Lailatul Quddus), satu malam dengan taburan ribuan bintang disertai kehadiran malaikat-malaikat. Walhasil, dalam iman Kristiani Firman itu nuzul menjadi manusia Yesus Kristus sedangkan dalam Islam Firman itu nuzul menjadi Al-Qur'an. Baik Maria maupun Muhammad sama-sama dipandang sebagai penerima wahyu sehingga layaklah bila keduanya diberisalawat, sebagaimana dijelaskan di atas.

Dengan nuzulnya Kalimatullah menjadi manusia, maka Sayidina 'Isa Almasih sekaligus memiliki sekaligus sifat keilahian yang sempurna dan kemanusiaan yang sempurna, yang dalam bahasa Konsili Efesus (431) sebagai "uqnuman wahidan, min uqnumain, wa thabi'atan wahidan murakkabat min thabi'atain" (artinya: satu pribadi yang berasal dari dua pribadi, dan satu tabiat ganda yang berasal dari dua tabiat)[28] Pengertian demikian sejalan dengan rumusan Mar Kyrillos, </\i>"an Sayid Almasih kamala bin an-Nasut wa kamala bi al-Lahut, wa lahu thabi'atu wahidah min thabi'atain, bi dunu akhtalatha wa la amtazaj, wa la astahalat" (artinya: Junjungan kita Almasih adalah benar-nemar insani dan benar-benar Ilahi, dan Ia mempunyai satu tabiat yang berasal dari dua tabiat yang dipersatukan, secara demikian rupa hingga tanpa bercampur dan tanpa berubah).[29]

Tabiat ganda Almasih sebagai yang Ilahi sekaligus Insani ini bisa diparalelkan dengan pandangan kaum Asy'ariah bahwa Qur'an adalah Kalimatullah dan bersifat kekal (qadim) karena berfirman adalah termasuk sifat Allah yang kekal. Dalam arti huruf, ayat dan surat yang ditulis atau dibaca, Qur'an bersifat baru atau diciptakan (mahluq) dan bukan Sabda Tuhan. Jadi, Qur'an memiliki dua sifat sekaligus, yaitu bersifat Ilahi sebagai Kalimatullah dan bersifat mahluq sebagai buku.[30] Pandangan Ilmu Kalam kaum Asy'ariah ini merupakan penyelesaian dari dua ekstrim pandangan. Kubu tradisionalis atau Ahlu Sunnah wal Jama'ahberpendapat Qur'an itu Ilahi dan tidak diciptakan karena berfirman adalah sifat Allah yang kekal, sedangkan kubu rasionalis Mu'tazilah beranggapan bahwa berfirman itu adalah perbuatan Allah dan bukan sifatNya, sehingga Qur'an adalah hasil dari perbuatan Tuhan atau diciptakan (mahluq).



Paralelisasi dalam Ibadah


Kristen Orthodoks Syria memiliki banyak meeting point dengan Islam dalam segi ibadah. Umat Islam diwajibkan melakukan Rukun Islam, yaitu kewajiban-kewajiban ritual seperti membaca dua kalimat shahadat, melakukan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhajji ke Mekkah.

Dua kalimat shahadat Islam yang wajib diucapkan adalah : Laa ilaha illallah wa Muhammadar Rasulullah. Dua pengakuan inilah yang didengungkan tiap kali kita mendengar adzan. Pengkalimatan Laa ilaha illallah mengingatkan kita pada redaksional 1 Korintus 8:4 dari bahasa Arami (Peshita) : Lait Allaha ella d'Allahayang dalam bahasa Arab berbunyi: Laa ilaha illallahul ahad.

Ibadah shalat tujuh waktu dalam gereja Orthodoks Syria merupakan ibadah harian non-sakramental sesuai dengan teladan dari nabi Daud, Al-Malikut Thohir (Mazmur 119: 164).[31] Identitas shalat ini disebut dalam Qur'an (Ali 'Imraan (3): 113), "Laisu sawaa'am min ahlil kitaabi ummatun qaaimatuy yatluuna aayatillaahi aanaa-al laili wa hum yasjuduun” (Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada segolongan orang yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah waktu tengah malam sedang mereka bersujud).

Ayat ini secara tradisional sering diartikan orang-orang Kristen atau Yahudi yang masuk Islam. Tetapi sujud dan membaca (baca: tilawah -- "mengaji") di waktu tengah malam adalah khas identitas gereja Arab (Timur Tengah), karena berbarengan dengan saat mereka melakukan shalat sa'atul lail (shalat di tengah malam), yang dalam Islam tidak lazim karena hanya disunnahkan (tidak diwajibkan).

Ritualitas shalat Yahudi biasanya hanya tiga kali: erev (petang), wa boker (pagi) we tsahorayim (dan tengah hari) sesuai dengan Mazmur 55: 18-19, tetapi tidak ada ritual di waktu tengah malam.[32] Ritual shalat sa'atu lalil dipahami umat Kristen Arab sebagai wujud dari kesiapan hati mereka menyongsong kedatangan 'Isa Almasih yang kedua (1 Tesalonika 5:1-2), dengan menghadap ke Timur sebagai arah kiblat sesuai dengan Matius 24:27. Karena itu, dikatakan dalam Matius 26:41, "Shalu likai laa tadkhulu fii tajribah " (Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh dalam pencobaan).

Ibadah puasa (shaum) Islam sebenarnya hanya merupakan suatu kesinambungan dari ritual ibadah umat sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen, seperti dikatakan dalam Surat Al-Baqarah (2):183, "Yaa ayyuhal ladziina 'amanu, kutiba 'alaikumush shiyam kamaa kutib 'alal laldziina min qablikum lia'alakum tataquun" (Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sama seperti diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa).

Selain puasa 40 hari menjelang Idul Milad, umat Orthodoks Syria juga berpuasa 49 hari menjelang peringatan Idul Faskhah (Paskah) dan puasa 50 hari lagi setelah Hari Pentakosta. Masih tiga hari puasa Niniwe yang dimulai dari hari Senin, seminggu sebelum peringatan 'Idul Faskhah peringatan Paskah dan puasa 15 hari di bulan Agustus yang disebut Shaum Maryam Al-Adzra'i (Puasa Maria Sang Perawan). Puasa sepanjang tahun dilakukan pula setiap hari Rabu dan Jumat, sesuai dengan ajaran Didache. Kemudian, dilakukan puasa tiga hari setiap ada hari-hari suci untuk mengenang para martir.[33] Jadi bila dijumlahkan harinya, puasa umat Orthodoks Syria lebih dari setengah tahun !

Tetapi, gereja menghayati puasa itu bukan dalam arti syari'ah sebagaimana dilakukan umat Islam, tetapi sebagai ucapan syukur dan karena kasih kepada Allah (habibah) atas karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus bagi seluruh manusia. Mengapa puasa Kristen tidak bermakna syari'ah ? Saya katakan kepada putra-putri Nahdlatul 'Ulama di Surabaya bahwa umat Kristen memiliki Juruselamat untuk menebus dan membayar lunas hutang dosa-dosa mereka (Kolose 2: 13-14), tetapi umat Islam harus menebus dosa mereka sendiri antara lain dengan ibadah karena dosa dalam Islam adalah hutang yang harus mereka bayar sendiri.

Sedangkan praktek ibadah hajji dalam Islam paralel dengan ibadah ziarah ke Yerusalem, mengikuti tradisi Yahudi yang melakukan hagg (Arab: hajj) atau 'aliyah(naik) -- artinya naik ke Bukit Moriah, Yerusalem -- tiga kali setahun menurut Imamat 23: 33-34 dan Mazmur 122, yang kemudian ditafsirkan secara Kristen sebagai Penapak-tilasan Jalan Salib Kristus atau dalam bahasa Arab disebutThariqul "alalam. Sebab, seluruh hukum Taurat telah digenapi dalam diri Sayidina 'Isa Almasih, Mukhalishul ‘Alam , seperti dinubuatkan sendiri oleh Almasih dalam Yohanse 4: 21,
Kata Yesus kepadanya, "Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.” sehingga berhajji ke Yerusalem tidak lagi merupakan syari'ah tetapi dimaknai sebagai sikap kesalehan karena kasih (habibah) kepada Allah.


<span>catatan kaki</span>


  1. H. A. Mukti Ali, " Hubungan Antar Agama dan Masalah-Masalahnya," dalam Eka Dharmaputra, Konteks Berteologi di Indonesia (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1991), h. 126.
  2. Said Aqiel Siradj, Prospek Persahabatan Kristen-Islam di Indonesia(Ciganjur: 4 September 1998), h.1. Makalah ini disajikan dalam acara Pengukuhan Pengurus Yayasan Kanisah Orthodoks Syria Cabang Surabaya, 5 September 1998 di Heritage Club Surabaya.
  3. Edward Said, Orientalism (New York: Pantheon Books, 1969). Terjemahan dari pengarang yang sama dalam bahasa Indonesia, Penjungkirbalikan Dunia Islam (Bandung: Penerbit Pustaka, 1986). Reaksi yang tajam terhadap Orientalisme di Timur Tengah misalnya dalam tulisan Sa'duddin As-Sayyid Shalih, Al-Muaamaratu Dhiddal Islami (Cairo: Al-Qahirah, 1990) yang diterjemahkan oleh Muhammad Thalib, Jaringan Konspirasi Menentang Islam (Yogyakarta: Wihdah Press, 1999), h. 120.
  4. Muhammad 'Imarah, Perang Terminologi Islam versus Barat (Jakarta: Robbani Press, 1998), h. 90-91. Dalam meriwayatkan ihwal Kristenisasi di Mesir, misalnya, upaya kaum misionaris Barat bukan saja berarti menggiring umat Islam menjadi Kristen Barat, melainkan juga membawa banyak umat Orthodoks Coptik Mesir untuk "ditaklukkan" dalam budaya dan sinode gereja-gereja Barat. Maka tidak ayal bila kemudian umat Islam maupun masyarakat Coptik di sana bersatu mengusir aksi kristenisasi dari Barat tersebut.
  5. Idries Sah, Meraba Gajah dalam Gelap: Sebuah Upaya Dialog Kristen-Islam(Jakarta: Grafiti Press, 1986), h. 42.
  6. Arthur Jeffery, The Foreign Vocabulary of the Qur'an (Lahore: Al-Biruni, 1977), h. 19. Lihat juga: Alphonsus Mingana, "Syrian Influence on the Style of the Kur'an," Bulletin of the John Rylands Library, Manchester 11, (1927), h. 83 dan J. Spencer Trimingham, Christianity among the Arabs in Pre-Islamic Times (London: Longman Group Ltd., 1979), h. 267.
  7. Alkitab dalam bahasa Arab paling awal untuk Perjanjian Baru baru ada tahun 900 Masehi, merupakan terjemahan yang dilakukan Sa'adya Ga'on atau disebut Sa'adya ben Yosef (892-942), seorang rabbi Yahudi. Sedangkan Perjanjian Baru versi bahasa Arab ditulis seorang uskup Coptik pada tahun 1271 Masehi dan diterbitkan pada tahun 1861 Masehi. Masyarakat Kristen Arabia memakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, tetapi dalam ibadah, kitab suci mereka masih dalam bahasa non-Arab, yaitu dalam bahasa Ibrani, Syria, Coptik atau Ethiopia. Kondisi ini yang menyebabkan Muhammad hanya dapat memperoleh informasi secara tidak langsung dari sumber aslinya sehingga sumber-sumber lisan-lah yang lebih menonjol. Lihat Abdiyah Akbar Abdul-Haqq, Sharing Your Faith with a Muslim (Minnesota : Bethany Fellowship Inc., 1980), h. 13.
  8. Arthur Jeffery, op.cit., h.12-20. Juga A. Minggana, op.cit., 83.
  9. Ibid, h. 218-220.
  10. Lihat bagian tentang kesalehan Muhammad secara eskatologis dalam Tor Andrea, Les Origines de l'Islam et le Christianisme (Paris: Andrien-Maisonneuve, 1955), h. 67-200. Penulis buku ini selalu mengatakan bahwa dalam hal pahala di surga, nyanyian Mar Efraim dari Syria menyebut tentang anggur dan pohon buah-buahan tetapi bukan para bidadari -- lihat juga E. Beck, "Les Houris de Coran et Ephraem le Syrien," MIDEO VI (1959-60), h. 405-408.
  11. Menurut E. Graf, Zu den christlichens Einflusen in Koran, J. Henninger Festchrift al-bahit (Bonn: St. Agustin, 1976), h. 118, identifikasi Maria dengan semak belukar yang menyala tapi tak terbakar itu terdapat dalam sebuah nyanyian pujian yang ditulis oleh Patriarkh Rabbula.
  12. Dalam bahasa Syria (Arami) dan Ibrani, nama Yesus dan Yoshua adalah identik. Lihat dalam: J. Bowman, "The Debt of Islam to Monophysite Syrian Christianity, Netherlands Theologisch Tijdschrift, XIX (1964-1965), h. 200.
  13. Neal Robinson, Christ in Islam and Christianity (Albany: State University of New York Press, 1991), h. 18.
  14. K. Luke, "The Koranic Recension of Luke 1:34," Indian Theological Studies, XXII (1985), h. 381-399.
  15. E. Hennecke, New Testament Apocrypha vol. 1 (London: SCM, 1973), h. 378-380. Perlu dicatat, parelel itu tidak tepat persis. Misalnya, menurut Protoevangelium Jacobi, Yusuflah yang dipilih sebagai pemelihara Maryam dan bukan Zakaria.
  16. Ibid.
  17. Geoffery Parrinder, Jesus in the Qur'an (New York: Oxford University Press, 1971), h. 23.
  18. Ibid., h. 24.
  19. Kisah sebutan 'Bar Parthenos' bagi Yesus ini dikisahkan dalam Anton Wessel, Memandang Yesus (jakarta: BPK Gunung Mulia, 19 ..), h. … Simak juga asal muasal sebutan 'Isa menuurut versi Yahudi Arabia dalamEncyclopaedia of Islam, 1913, artikel 'Isa. Dalam versi Yahudi Arabia, nama 'Isa dikatakan berasal dari nama Esau dengan anggapan bahwa jiwa Esau yang buruk itu diberikan kepada Yesus dengan maksud melecehkan Dia.
  20. E.F.F. Bishop, "The Son of Mary", dalam The Moslem World, Juli 1934.
  21. Geofferey Parrinder, op.cit., h. 25-26.
  22. Ibid., h. 26-29
  23. Rev. Nico Geagea, Mary of the Quran: A Meeting Point Between Christianity and Islam (New York: Philosophical Library, 1984).
  24. MacDonald, "The Prophethood of Christ," Seedbed 1911 dalam J. dudley Woodbery (editor), Muslims and Christians on the emmaus Road(Monrovia: MARC Publications, 1989), h.109-110.
  25. Neal Robinson, op.cit., h. 36-37.
  26. Anis Shorosh, Islam Revealed, h.
  27. Bambang Noorsena, Al-Masih Juruselamatku, Muslim Sahabatku(Surabaya: Yayasan Kanisah Orthodoks Syria, 1998), h. 12-13. Makalah untuk Orasi Ilmiah disampaikan dalam rangka pengukuhan pengurus Yayasan Kanisah Orthodoks Syria Cabang Surabaya di Heritage Club Surabaya.
  28. Mar Ighnatius Ya'qub III, Al-Kaniisat As-Suryaaniyat Al-Anthakiiyat Al-Urtsudzuksiayat (Damascus:Alif Ba' Al-Adib, 1980), h.. 16
  29. Ibid., h. 20.
  30. Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-Aliran, Sejarah dan Analisa Perbandingan (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986), h. 143-144.
  31. Satu-satunya sumber informasi yang sangat komprehensif dalam bahasa Indonesia saat ini dapat mengacu pada: Bambang Noorsena, Shalat Tujuh Waktu dalam Kristen Orthodoks Syria (Jakarta: Studia Syriaca Orthodoxia, 1999).
  32. Rabbi Hayim Halevy Donin, To Be a Jew: A Guide to Jewish Observance in Contemporary Life (USA: Basic Books, 1972), h. 160.
  33. Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Notre Dame, Indiana: University of Notre Dame Press, tt), h. 230.

Sumber: Henney Sumali


July 15, 2008

Mengapa Kitab Suci Katolik Mempunyai Jumlah Kitab Lebih Banyak daripada Kitab Suci Protestan?

Oleh P. Richard Lonsdale


Kitab Suci Katolik terdiri dari 72 kitab (45 kitab PL + 27 kitab PB), sementara kebanyakan Kitab Suci Protestan hanya terdiri dari 66 kitab. Kitab yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik semuanya merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Selain itu terdapat juga beberapa ayat dalam kitab-kitab tertentu yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Katolik. Mengapa terjadi perbedaan demikian? Jawabannya amat rumit, tetapi secara sederhana dapat dijelaskan seperti berikut ini.

 

Orang-orang Yahudi menulis Perjanjian Lama, tetapi mereka tidak secara "resmi" menuliskan daftar atau kanon dari kitab-kitab tersebut sampai akhir abad kedua. Sekelompok orang Yahudi khawatir kalau-kalau pada akhirnya tulisan-tulisan Kristen juga akan dimasukkan orang ke dalam kanon mereka. Untuk mencegah hal tersebut, setelah melalui debat yang panjang, mereka memutuskan untuk mencantumkan hanya kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani saja yang termasuk dalam kanon mereka. Dengan demikian mereka dapat mengeluarkan kitab-kitab Kristen yang semuanya ditulis dalam bahasa Yunani. Namun demikian, ada pula beberapa bagian dari kitab Perjanjian Lama yang hanya tersedia salinannya dalam bahasa Yunani, sedangkan kitab aslinya yang ditulis dalam bahasa Ibrani telah hilang. Dengan demikian kitab-kitab tersebut, yang dulunya juga mereka terima, ikut dikeluarkan dari kanon Yahudi.

 

Gereja Katolik tidak mengikuti keputusan mereka. Terutama karena beberapa kitab yang ditulis dalam bahasa Yunani mendukung doktrin (doktrin = ajaran) Katolik, misalnya tentang Roh Kudus. Gereja Katolik tidak membuat daftar atau kanon resmi sampai beberapa abad kemudian. Sejak awal mula Gereja Katolik menerima semua kitab yang sekarang ada dalam Kitab Suci kita.

 

Pada abad ke-16, Gereja Protestan mulai mempergunakan Kitab Suci sebagai dasar ajaran mereka. Martin Luther menolak semua kitab yang tidak terdapat dalam kanon Perjanjian Lama Yahudi. Alasan penolakannya adalah karena beberapa bagian dari kitab-kitab tersebut tidak mendukung ajarannya. Seperti misalnya, Luther tidak setuju dengan ajaran Gereja Katolik mengenai Api Penyucian. Padahal gagasan tentang api penyucian terdapat dalam Kitab Makabe II. Selanjutnya Luther juga mencoba mengeluarkan beberapa kitab Perjanjian Baru, misalnya Surat Yakobus. Beberapa gagasan dalam surat Yakobus tidak sesuai dengan ajaran Luther, misalnya tentang ajaran Luther yang menyatakan bahwa perbuatan baik tidak diperlukan dalam memperoleh keselamatan, melainkan hanya iman. Tetapi, pada akhirnya, ia harus memasukkan juga Surat Yakobus dalam kanonnya.

 

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja Protestan disebut Protokanonika (protokanonika: kanon yang pertama). Kitab-kitab Perjanjian Lama yang diakui oleh Gereja Katolik tetapi tidak diakui oleh Gereja Protestan di tempatkan di bagian antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian ini oleh Gereja Katolik disebut Deuterokanonika (deuterokanonika: kanon yang kedua), sedang oleh Gereja Protestan disebut Apokrip (apokrip : buku-buku keagamaan yang baik untuk dibaca tetapi tidak diilhami Roh Kudus).

 

Hingga kini Gereja Katolik terus mempertahankan serta menghormati kitab-kitab seperti yang telah diterima oleh Gereja Kristen Purba. Jika Kitab Suci yang mereka wariskan itu baik bagi mereka, tentu baik pula bagi kita. Coba bacalah kisah menarik tentang Tobit, dan coba baca juga nasehat-nasehat berharga dalam Kitab Kebijaksanaan di Kitab Suci Katolik-mu.

 

sumber: P. Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

tambahan: P. Dr. H. Pidyarto O.Carm; “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik buku kesatu”

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”

May 21, 2008

Tinggalkan Telepon Genggam di Rumah

oleh: Romo William P. Saunders *





Baru-baru ini saya ikut ambil bagian dalam Misa; tiba-tiba terdengar dering telepon genggam yang segera dimatikan. Hal ini terjadi dan terjadi lagi. Dering tersebut mengganggu orang banyak dan membuyarkan konsentrasi saya. Adakah peraturan mengenai penggunaan telepon genggam di gereja? ~ seorang pembaca

 

Telepon genggam merupakan trend baru. Semakin banyak saja orang yang memiliki telepon genggam dan terlihat mempergunakannya sementara mereka mengendarai mobil, berjalan kaki, menyusuri lorong-lorong supermarket, atau sekedar berdiri di suatu tempat. Lebih payah lagi, seorang imam teman saya di keuskupan lain, yang adalah imam paroki sebuah gereja yang berbentuk bundar, melihat para remaja di satu sisi gereja menelepon teman-teman mereka yang duduk di seberang, di sisi gereja yang lain. Kita mendengar telepon genggam berdering di pertokoan, di restoran, dan yang menyedihkan dalam perayaan Misa - betapa menjengkelkan. Bagi sebagian orang, telepon genggam yang diselipkan di ikat pinggang atau dalam dompet, atau bahkan dikalungkan di leher, memberikan gengsi tersendiri, teristimewa di kalangan para remaja; namun saya selalu bertanya-tanya, “Siapakah yang membayar pulsa mereka?” Walau telepon genggam sungguh memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam banyak hal, terutama dalam keadaan darurat, orang tidak boleh diperbudak oleh telepon genggam. Mengapakah orang harus selalu terus-menerus dapat dikontak? Seperti segala hal lainnya, ada masa dan saat yang tepat bagi segala sesuatu; dering telepon genggam yang mengganggu, sama sekali tidak dapat dibenarkan membuyarkan kekhidmadan perayaan Misa.

 

Memang tidak ada peraturan khusus mengenai telepon genggam, namun demikian rasa hormat terhadap Misa akan membantu kita memahami bagaimana menanggapi pertanyaan di atas. Konsili Vatikan Kedua, dalam “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” mengajarkan, “Sebab melalui Liturgilah dalam Korban Ilahi Ekaristi, `terlaksanalah karya penebusan kita'. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati” (No. 2).

 

Jangan pernah lupa bahwa kita berkumpul bersama sebagai Gereja untuk merayakan Misa agar dapat bersama dengan Tuhan kita, dan bahwa Ia sungguh hadir di antara kita (bdk “Konstitusi tentang Liturgi Kudus” No. 7). Kristus hadir dalam Sabda Kitab Suci, “sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja.” Setiap orang wajib mendengarkan Sabda dengan seksama dan mencamkannya dalam hati.

 

Kristus hadir pula dalam imamat kudus yang Ia percayakan kepada para rasul-Nya, yang senantiasa diteruskan hingga hari ini melalui Sakramen Imamat kepada para imam-Nya. Seorang imam bertindak atas nama pribadi Kristus, jadi apabila imam melayani sakramen, Kristus Sendiri yang sesungguhnya melayani sakramen.

 

Kristus hadir dalam Ekaristi Kudus. Kurban berdarah Kalvari dihadirkan dalam kurban tak berdarah Misa Kudus. Roti dan anggur yang dipersembahkan sungguh diubah, di“transsubstansiasi” menjadi Tubuh dan Darah-Nya, Jiwa dan Ke-Allahan-Nya. Kristus hadir secara istimewa bagi kita dalam Ekaristi Kudus; Ia mengundang setiap orang yang menerima Komuni Kudus untuk masuk ke dalam persatuan kudus dengan-Nya.

 

Kristus hadir dalam diri setiap orang beriman. Namun demikian, kehadiran-Nya ini paling sulit disadari. Kita harus memiliki kehendak untuk memilih Kristus di atas segalanya, dan mengasihi Kristus di atas segalanya. Setiap orang wajib berjuang untuk ikut ambil bagian sepenuhnya dalam perayaan Misa; menjadikan Misa sebagai suatu sembah sujud sejati kepada Allah. Dengan segala beban dan tanggung jawab yang harus dihadapinya tiap-tiap hari, umat beriman wajib memberikan satu jam saja selama seminggu dan mempersembahkan sepenuhnya bagi Allah, demi keselamatan jiwanya sendiri. Benar bahwa setiap orang harus bergulat melawan distraksi-distraksi yang mengganggu konsentrasinya dalam Misa, namun demikian setiap orang wajib melakukan yang terbaik guna melenyapkan sebanyak mungkin distraksi yang mungkin, dan memusatkan perhatian pada Misa Kudus.

 

Sebab itu, matikanlah telepon genggam. Dalam abad di mana komunikasi dapat dilakukan tanpa kabel, setiap umat beriman hendaknya mempergunakan bentuknya yang pertama, yaitu doa yang khusuk. Bukannya diinterupsi oleh dering telepon genggam, malahan setiap orang perlu menginterupsi hidupnya sehari-hari bagi Tuhan. Kita menjawab panggilan telepon seseorang yang mungkin sifatnya penting, tetapi menjawab panggilan Tuhan dalam Misa Kudus, baik sebagai anggota komunitas Gereja maupun sebagai pribadi, jauh terlebih penting. Jaringan telepon genggam kita dapat menjangkau hubungan internasional, tetapi jaringan ibadah sembah sujud kita dalam Misa Kudus bahkan menjangkau hubungan persekutuan dengan para kudus - yaitu persekutuan kita dengan semua santa dan santo serta para malaikat di surga, jiwa-jiwa di api penyucian dan segenap umat beriman di dunia ini - dan tanpa dibebani biaya roaming! Sebab itu, matikanlah telepon genggam dan biarkan baterainya diisi; dengan demikian baterai jiwa kita juga akan diisi. Marilah kita menjalin komunikasi sejati dengan Tuhan dalam Misa, daripada berkomunikasi dengan sesama, sebab tersedia banyak waktu untuk itu di luar Misa.

 

Dering telepon genggam yang berbunyi pada waktu Misa, mengganggu orang banyak yang berusaha mengarahkan diri dan memusatkan perhatian pada Tuhan. Dalam beberapa kesempatan, dering telepon yang berbunyi pada saat homili dan saat Doa Syukur Agung sungguh membuyarkan konsentrasi saya. Sebab itu, demi rasa hormat kepada Tuhan dan sesama, telepon genggam wajib dimatikan pada waktu Misa, dan bahkan jauh lebih baik jika ditinggalkan di rumah. Bagi sebagian orang, para dokter misalnya, yang mungkin sedang “dinas jaga”, nada getar sama efektifnya dengan nada dering. Marilah kita mempersembahkan kepada Tuhan perhatian yang penuh tak terbagi; tak ada seorang pun atau suatupun yang pantas mengganggu saat-saat kita yang berharga bersama Tuhan.

 

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

http://yesaya.indocell.net/1x1.gif

sumber : “Straight Answers: Leave Cell Phones at Home” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

http://yesaya.indocell.net/1x1.gif

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

 

May 12, 2008

Konsili Khalsedon

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


Konsili Khalsedon adalah sebuah konsili ekumenis yang berlangsung dari tanggal 8 Oktober sampai 1 November tahun 451 di Khalsedon (sebuah kota di Bithinia di Asia Kecil) yang kini merupakan bagian kota Istanbul di sisi Asia dari selat Bosforus dan dikenal sebagai distrik Kadıköy. Konsili ini adalah yang ke-4 dari tujuh Konsili Ekumenis dalam agama Kristen, dan oleh karena itu dianggap infalibel (tak bercela)dalam definisi dogmatisnya oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Konsili ini menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus, dan menetapkan Pengakuan Iman Khalsedon, yang menggambarkan kemanusiaan penuh dan keilahian penuh dari Yesus, pribadi kedua dari Tritunggal Kudus.

Daftar isi

Latar belakang sejarah

Sisa-sisa Nestorianisme

Setelah Konsili Efesus mengutuk Nestorianisme, masih tersisa konflik antara Patriark Yohanes dari Antiokhia dan Kiril dari Alexandria. Kiril menuduh Yohanes masih tetap berpandangan Nestorian, sebaliknya Yohanes menuduh Kiril berpegang pada bidaah Apolinaris. Keduanya menyelesaikan perselisihan dengan mediasi Akasius, Uskup Berea, pada tanggal 12 April 433. Pada tahun berikutnya, Teodoret dari Sirus ikut menyetujui pula kesepakatan mereka, dan dengan demikian tampaknya masalah Nestorianisme telah dilupakan untuk selama-lamanya.
Namun meskipun demikian, karya dari kedua teolog Antiokhia yang telah lama wafat, yakni Diodorus dari Tarsus dan Teodorus dari Mopsuestia pada masa itu diterjemahkan ke dalam bahasa Syria. Berkat campur tangan Uskup Agung Proklus dari Konstantinopel, kedua teolog itu dikutuk di seluruh dunia Timur, namun situasi ini justru kelak menjadi pokok bahasan dalam Konsili Konstantinopel II beberapa ratus tahun kemudian.

Kontroversi Eutikus

Sekitar dua tahun setelah wafatnya Kiril dari Alexandria pada tahun 444, seorang biarawan tua dari Konstantinopel bernama Eutikus mulai mengajarkan suatu variasi halus dari Kristologi tradisional sebagai suatu upaya (sebagaimana yang dijelaskannya dalam sepucuk surat kepada Paus Leo I pada tahun 448) untuk menghentikan merebaknya kembali Nestorianisme. Ia mengklaim dirinya sebagai pengikut setia ajaran Kiril, yang dinyatakan ortodoks pada Persatuan tahun 432.
Kiril mengajarkan bahwa "Hanya ada satu fusis, sebab itulah Inkarnasi (penjelmaan) dari Allah Sang Firman." Tampaknya Kiril mengartikan kata Yunani dalam arti yang kira-kira sama dengan arti kata Latin persona (pribadi), sementara kebanyakan teolog Yunani akan menerjemahkan physis ke dalam Bahasa Latin sebagai natura (hakikat). Jadi, banyak orang merasa Eutikus mengajarkan semacam kebalikan dari Arianisme -- bila Arius menyangkal hakikat ilahi Yesus, maka Eutikus tampaknya menyangkal hakikat insani-Nya. (Ortodoksi Kiril tidaklah dipertanyakan, karena Persatuan tahun 433 dengan jelas berbicara mengenai dua fusis dalam konteks tersebut)
Paus Leo I, dari Roma, menulis bahwa kesalahan Eutikus tampaknya hanya timbul karena kurang cakapnya dia dalam masalah ini, dan bukan karena dia berniat buruk. Lebih jauh lagi, dalam pertikaian ini, pihak Eutikus cenderung untuk tidak mendebat para penentangnya, sehingga kesalahpahaman ini tidak terungkap. Namun karena tingginya kedudukan Eutikius (kedua setelah Patriarkh Konstantinopel di Timur), ajarannya dengan cepat tersebar ke seluruh dunia timur.
Pada bulan November 447, selama berlangsungnya suatu sinode lokal di Konstantinopel, Eutikus ditolak karena dianggap bidaah oleh Eusebius, Uskup Dorileum, disertai tuntutan agar ia diturunkan dari jabatannya. Flavianus dari Konstantinopel tidak berniat membahas masalah ini, karena besarnya pengaruh Eutikus, namun akhirnya menyerah, dan demikianlah akhirnya Eutikus dikutuk sebagai bidaah oleh sinode itu. Meskipun demikian, Kaisar Teodosius II dan Paus Alexandria, Dioskorus, tidak menerima keputusan sinode tersebut karena Eutikus telah bertobat dan menyatakan ortodoksitasnya. Dioskorus mengadakan sinodenya sendiri yang memutuskan untuk mengembalikan Eutikus ke jabatannya, sementara kaisar mencanangkan diselenggarakannya suatu konsili di Efesus pada tahun 449, serta mengundang Paus Leo I, yang setuju untuk diwakili oleh tiga orang utusannya.

"Latrocinium" dari Efesus

Pada waktu itu, Paus telah mendapat pemberitahuan dari Flavianus, dan ia sendiri telah menetapkan bahwa Eutikus keliru dan bahwa pencopotannya pada tahun 447 sudah benar. Ia menulis kepada konsili, memberitahukan mereka bahwa mereka harus menerima keputusannya tentang masalah ini, namun ia membiarkan hukuman terhadap Eutikus terbuka untuk pembahasan. Tampaknya Paus Leo I tidak tahu mengenai pengakuan yang dilakukan Eutikus kepada Paus Dioskorus dari Alexandria.
Konsili yang diselenggarakan Teodosius bersidang pada tanggal 8 Agustus 449, dihadiri kurang-lebih 130 uskup. Dioskorus memimpin konsili berdasarkan perintah kaisar. Kaisar menolak pemberian hak suara kepada uskup manapun yang dua tahun sebelumnya telah setuju untuk menggulingkan Eutikus. Akibatnya justru dukungan untuk Eutikus hampir mutlak, dan Flavianus sendiri digulingkan dan diasingkan. Ia meninggal dunia tak lama kemudian. Utusan paus pulang dengan surat untuk paus dari Flavianus, dan dalam sesi kedua, tanpa kehadiran perwakilan paus, beberapa uskup lainnya juga disingkirkan, termasuk Ibas dari Edesa, Ireneus dari Tirus (seorang sahabat pribadi Nestorius), Domnus dari Antiokhia, dan Teodoret.
Keputusan-keputusan konsili ini menimnulkan kekhawatiran akan timbulnya skisma antara Timur dan Barat, karena semuanya jelas-jelas berlawanan dengan pernyataan paus, meskipun pernyataan itu sendiri tidak pernah dibacakan. Paus menyebut konsili ini sebagai "Sinode para penyamun" — Latrocinium — dan menolak menerima keputusan-keputusannya. Suratnya sama sekali tidak dibacakan dalam konsili dan para utusan paus juga pulang bersama surat itu, sebab itulah Paus menyebutnya Sinode penyamun.

Penyelenggaraan Konsili dan sesi-sesi

Keadaan terus memburuk, paus menuntut diselenggarakannya suatu konsili baru, sementara kaisar menolak untuk takluk, dan pada saat yang sama mengangkat uskup-uskup yang sehaluan dengan Dioskorus. Semua ini berubah secara dramatis dengan kematian Teodosius II dan penobatan Markianus sebagai kaisar baru, karena Markianus adalah pembela doktrin Flavianus dan Leo.
Markianus setuju untuk menyelenggarakan suatu konsili baru, tapi bukan di Italia, sebagaimana permintaan paus, melainkan di Timur. Namun ia mengundang paus untuk memimpin secara pribadi. Ia mengusahakan agar para uskup yang tersingkir dikembalikan ke keuskupan-keuskupan mereka dan memerintahkan agar jenazah Flavianus dibawa ke ibu kota untuk dimakamkan secara terhormat.
Konsili diundang untuk bersidang di Nicea, namun pada detik-detik terakhir dipindahkan ke Khalsedon, dan di situ konsili dibuka pada tanggal 8 Oktober 451. Utusan Paus, Paskanius diutus untuk memimpin jalannya konsili. Leo sendiri mengirim sepucuk surat kepada Konsili, mengutuk hasil karya "latrocinium" dan menunjukkan bahwa doktrin Inkarnasi yang benar dapat dibaca dalam surat sebelumnya kepada Flavianus.
Peserta konsili ini sangat banyak, sekitar 500 uskup. Paskanius menolak untuk memberi kursi dewan bagi Dioskorus (yang sebelumnya dikucilkan paus dalam rentang waktu sebelum konsili), akibatnya, ia dipindahkan ke tengah-tengah gereja. Selanjutnya Paskanius memerintahkan pemulihan jabatan Teodoret, dan agar ia diberi kursi, namun langkah ini menimbulkan kehebohan di antara para Bapa Konsili, sehingga Teodoret juga duduk di tengah gereja, meskipun ia diberi hak suara dalam proses persidangan, yang dimulai dengan peradilan atas Dioskorus.
Markianus ingin agar konsili lebih cepat selesai, dan meminta dewan membuat pernyataan tentang doktrin Inkarnasi sebelum melanjutkan peradilan. Namun para Bapa Konsili merasa bahwa tidak diperlukan suatu kredo, dan bahwa doktrin telah diuraikan dengan jelas dalam surat Leo kepada Flavianus, yang sejak itu disebut "Tome"[1]. Hari kedua konsili berakhir dengan seruan lantang para uskup, "Petrus sendiri yang mengatakan hal ini melalui Leo. Inilah yang kami sekalian yakini. Inilah iman para Rasul. Leo dan Kiril mengajarkan hal yang sama."
Konsili berlanjut dengan peradilan atas Dioskorus, namun ia menolak tampil di hadapan dewan. Akibatnya, ia dikutuk secara mutlak (meskipun para uskup Mesir tampaknya terintimidasi dalam hal ini), dan semua dekrit yang dikeluarkannya dinyatakan batal. Markianus menanggapi dengan mengasingkan Dioskorus. Semua uskup kemudian diminta menandatangani kesepakatan mereka atas Tome tadi, namun suatu kelompok yang terdiri dari 13 uskup Mesir menolak, dengan alasan bahwa mereka hanya setuju pada "iman yang tradisional". Akibatnya, para komisioner kaisar memutuskan bahwa memang perlu ada suatu kredo lalu mengajukan sebuah naskah kepada para Bapa Konsili. Tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai, dan memang naskah itu sendiri lenyap hingga saat ini.
Paskanius mengancam untuk kembali ke Roma untuk menghimpun kembali dewan di Italia. Markianus setuju dan berkata bahwa jika suatu klausa tidak ditambahkan kepada kredo yang mendukung doktrin Leo, maka sidang harus beralih lokasi. Para uskup menyerah lalu menambahkan sebuah klausa, yang isinya adalah, "menurut keputusan Leo, di dalam Kristus terdapat dua hakikat yang bersatu, yaitu tidak dapat diubah-ubah, dan tidak dapat dipisah-pisah."
Karya konsili ini terangkum dalam 30 [2] kanon disiplin.
  1. menyatakan, semua kanon dari konsili-konsili sebelumnya tetap berlaku, konsili-konsili yang dimaksud diklarifikasikan oleh kanon 2 Konsili Quinisext (Konsili Kelima-Keenam),
  2. menyatakan, bagi mereka yang membeli jabatannya, anatema,
  3. melarang para uskup untuk terlibat dalam bisnis,
  4. memberikan, wewenang bagi para uskup atas para biarawan dalam keuskupannya, dengan hak untuk mengizinkan atau melarang pendirian biara-biara baru,
  5. mengharuskan, para uskup keliling tunduk pada hukum kanon,
  6. melarang, kaum klerus untuk berpindah keuskupan atau
  7. menjadi anggota militer
  8. tempat-tempat pelayanan bagi kaum papa ditempatkan di bawah yurisdiksi uskup,
  9. membatasi kemungkinan untuk menuduh seorang uskup melakukan penyelewengan,
  10. melarang kaum klerus menjadi anggota dari lebih dari satu gereja,
  11. memperhatikan surat-surat perjalanan bagi orang miskin,
  12. provinsi tidak akan dibagi-bagi dengan maksud menciptakan gereja lain,
  13. tak seorangpun dari kaum klerus yang boleh diterima oleh pihak lain tanpa surat rekomendasi,
  14. memperhatikan istri dan anak-anak para kantor (penyanyi dalam liturgi) and lektor (pembaca dalam liturgi),
  15. diakones (diakon wanita) harus berusia paling kurang 40 tahun,
  16. melarang para biarawan dan biarawati untuk menikah dengan ancaman ekskomunikasi,
  17. gereja-gereja pedesaan tidak dapat mengganti uskup,
  18. melarang persekongkolan,
  19. mengharuskan para uskup untuk menyelenggarakan sinode dua kali dalam setahun,
  20. mendaftarkan pengecualian-pengecualian bagi mereka yang telah diusir ke kota lain,
  21. menyatakan, penuduh seorang uskup harus lebih dahulu dicurigai sebelum uskup yang bersangkutan,
  22. menyatakan ilegal, menyita barang-barang milik seorang uskup yang telah meninggal dunia,
  23. mengizinkan, pengusiran orang luar yang menyulut huru-hara di Konstantinopel,
  24. biara-biara bersifat permanen,
  25. mengharuskan seorang uskup baru diangkat dalam waktu 3 bulan,
  26. mengharuskan gereja-gereja memiliki seorang penatalayan (kepala urusan rumah tangga / steward) untuk memantau urusan gereja,
  27. melarang, membawa lari wanita dengan pernikahan pura-pura (kawin lari)
  28. memberikan kepada Konstantinopel hak-hak istimewa yang setara (isa presbeia) dengan Roma karena Konstantinopel adalah Roma Baru sebagaimana diperbaharui oleh kanon 36 dari Konsili Quinisext (para utusan paus tidak hadir untuk memberikan suaranya untuk kanon ini, dan kemudian mengajukan protes),
  29. menyatakan bahwa seorang uskup tidak dapat diturunkan statusnya, melainkan hanya disingkirkan,
  30. memberikan waktu kepada pihak Ortodoks Koptik untuk mempertimbangkan penolakan mereka atas Tome Leo.

Akibat-akibat Konsili

Akibat langsung dari Konsili ini adalah sebuah skisma besar. Para uskup peserta Konsili yang meresahkan bahasa dalam Tome dari Sri Paus Leo, menolak hasil Konsili dengan alasan bahwa pengakuan atas dua fusis itu artinya sama saja dengan mengakui Nestorianisme. Inilah asal-muasal terpisahnya kaum Ortodoks Oriental sebagai suatu persekutuan tersendiri, yang hingga kini menolak hasil konsili ini.
Pada tahun-tahun belakangan telah terjadi sejumlah dialog antara umat Kristiani lainnya dengan Gereja Ortodoks Oriental. Beberapa uskup Ortodoks Oriental telah menyatakan bahwa perbedaan dalam doktrin tersebut tidak lebih daripada suatu kesalahpahaman dan semenjak itu telah bersatu kembali dengan Gereja Katolik atau Gereja Ortodoks Timur. Gereja-gereja Katolik ritus timur yang berasal dari kaum Ortodoks Oriental yang kembali bersatu dengan Roma mencakup unsur-unsur dari Gereja Alexandria, Gereja Suriah, dan Gereja Armenia. Sekali waktu, Gereja Ortodoks dan Apostolik Georgia pernah menjadi bagian dari persekutuan Ortodoks Oriental, namun kini Ortodoks Timur. Selain itu, sebahagian Gereja Apostolik Armenia untuk sementara waktu pernah menjalin persekutuan dengan Ortodoksi Timur via Gereja Ortodoks Rusia.

Pengakuan Khalsedon

Pengakuan terlengkap mengenai Pribadi Kristus terjadi dalam Konsili Khalsedon pada tahun 451:
   
Dengan meneladani para Bapa suci, kami sepenuhnya mengajarkan dan mengakui sang Putera yang satu dan sama, Tuhan kita Yesus Kristus: yang sempurna dalam keilahian dan sempurna dalam kemanusiaan yang sama, yang adalah Allah sejati dan manusia sejati yang sama, yang terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional; yang sehakikat (konsubstansial) dengan Sang Bapa dalam keilahian-Nya dan sehakikat dengan kita dalam kemanusiaan-Nya; "sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa." Ia keluar dari Sang Bapa sebelum segala zaman dan pada hari-hari terakhir ini, demi kita dan demi keselamatan kita, dilahirkan dalam kemanusiaan-Nya dari Perawan Maria, Bunda Allah.
Kami mengakui bahwa Kristus, Tuhan, dan Putera tunggal yang satu dan sama itu, dikenal dalam dua hakikat tanpa kekacauan, perubahan, pemilah-milahan, atau pemisahan. Perbedaan antar hakikat tidak dihilangkan oleh kebersatuannya, akan tetapi karakter masing-masing dari kedua hakikat itu terlestarikan karena keduanya berada dalam satu pribadi (prosopon) dan satu hypostasis.
   

Pranala luar