January 14, 2011

Konsili Vatikan II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



Konsili Ekumenis Vatikan Kedua atau Vatikan II (1962-1965), adalah sebuah Konsili Ekumene ke-21 dari Gereja Katolik Roma yang dibuka oleh Paus Yohanes XXIII pada 11 Oktober 1962 dan ditutup olehPaus Paulus VI pada 8 Desember 1965. Pembukaan Konsili ini dihadiri oleh hingga 2540 orang uskupGereja Katolik Roma sedunia (atau juga disebut para Bapa Konsili), 29 pengamat dari 17 Gereja lain, dan para undangan yang bukan Katolik.
Selama masa Konsili ini diadakan empat periode Sidang di mana jumlah Uskup yang hadir lebih banyak dan berasal dari lebih banyak negara daripada konsili-konsili sebelumnya. Jumlah dokumen yang dihasilkannya pun lebih banyak dan dampak pengaruhnya atas kehidupan Gereja Katolik lebih besar dari peristiwa manapun sesudah zaman reformasi pada abad XVI.

Daftar isi

 [sembunyikan]

[sunting]Latar Belakang

Selama tahun 1950an, studi teologi dan biblikal Roma Katolik mulai memasuki pembaharuan sejak setelah Konsili Vatikan Pertama hingga memasuki abad kedua puluh. Liberalisme ini muncul dari para teolog seperti Yves CongarKarl Rahner, dan John Courtney Murray yang mencari cara untuk mengintegrasikan pengalaman manusia modern dengan dogma Kristiani, tokoh lainnya adalah Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) dan Henri de Lubac yang juga menginginkan pengertian yang lebih akurat akan Injil dan menganggap para Bapa Gereja mula-mula sebagai sumber pembaharuan.
Pada waktu yang sama, para uskup sedunia menghadapi tantangan yang sangat besar dari perubahan politik, sosial, ekonomi, dan teknik. Beberapa uskup mengusulkan perubahan dalam struktur dan praktek gerejawi untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Di antara pengusul ini yang paling terorganisasi adalah kelompok uskup Belanda dan Jerman yang dikenal sebagai para Uskup Rhine.
Konsili Vatikan Pertama telah berakhir hampir satu abad sebelumnya secara prematur akibat pecahnya perang Perancis-Prussia. Dalam konsili ini, isu-isu mengenai pastoral dan dogma tidak dapat dibahas akibat perang tersebut, dan hanya sempat menghasilkan suatu dogma mengenai Infabilitas Paus.
Paus Yohanes XXIII kemudian secara tidak terduga memutuskan untuk menghimpunkan Konsili hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah pengangkatannya pada 1959. Dalam sebuah dialog mengenai konsili, ia diwawancarai mengapa konsili ini perlu dilakukan. Paus dilaporkan membuka sebuah jendela dan berkata, "Saya ingin membuka jendela dari Gereja sehingga kita bisa melihat keluar dan mereka yang ada di luar bisa melihat ke dalam." Ia mengundang pula gereja-gereja Kristen lainnya untuk mengirimkan pengamat ke Konsili tersebut. Undangan ini disambut baik oleh kedua gerejaProtestan dan OrtodoksGereja Ortodoks Rusia di bawah kekhawatiran akan Pemerintahan Komunis Soviet, menyambut undangan tersebut hanya ketika telah diyakinkan bahwa Konsili ini akan bersifat apolitik.

[sunting]Sidang-Sidang

Sebuah Sidang pada Konsili
Persiapan Konsili, yang memakan waktu lebih dari dua tahun, dilaksanakan oleh 10 Komisi Khusus, dibantu oleh orang-orang dari media massa dan Christian Unity, serta sebuah Komisi Sentral sebagai koordinator keseluruhan. Kelompok ini kebanyakan terdiri dari anggota Kuria Romawi. Komisi menghasilkan 987 proposal konstitusi dan dekrit (dikenal sebagai schemata atau Skema) yang ditujukan untuk dimintakan persetujuan Konsili. Pada awalnya diharapkan bahwa kelak pada saat Konsili terlaksana, akan dibentuk suatu Komisi baru yang akan melanjutkan pekerjaan Komisi Persiapan ini. Namun demikian, keseluruhan Skema yang telah dipersiapkan itu tidak disetujui sama sekali oleh anggota Konsili dan membuat sama sekali Skema yang baru.
Sidang-Sidang Umum Konsili dilaksanakan pada musim gugur selama empat tahun kemudian (dalam 4 sidang) pada1962 hingga 1965. Di luar masa sidang, Komisi-Komisi Khusus Konsili dibentuk untuk membicarakan dan memeriksa hasil-hasil kerja para uskup dan mempersiapkan sidang berikutnya. Sidang dilaksanakan dalam Bahasa Latin diBasilika Santo Petrus, di mana diskusi dan pendapat dinyatakan sebagai "rahasia". Hasil Konsili sesungguhnya dikerjakan dalam pertemuan-pertemuan komisi lainnya (mungkin dilaksanakan dalam bahasa lain), serta dalam pertemuan informal dan pertemuan sosial lainnya di luar Konsili yang sesungguhnya.
Sebanyak 2.908 pria (dianggap sebagai para Bapa Konsili) tercatat memiliki hak suara dalam Konsili tersebut. Mereka ini termasuk seluruh Uskup dan para Superior dari Ordo-Ordo Religius pria. Sebanyak 2.540 orang mengambil bagian dalam Sidang Pembukaan, sehingga menjadikannya sebagai pertemuan terbesar Konsili di sepanjang sejarah gereja. Jumlah yang hadir adalah bervariasi di setiap Sidangnya antara 2.100 hingga lebih dari 2.300 roang. Sebagai tambahan, sejumlah periti (Latin untuk para "ahli") juga hadir sebagai konsultan teologi. Kelompok periti ini kemudian memiliki pengaruh yang sangat besar seiring dengan perjalanan Konsili. Sebanyak 17 gereja-gereja Ortodoks dan denominasi Protestan juga mengirimkan pengamat-pengamat mereka.

[sunting]Sidang Pertama (Musim Gugur 1962)

Paus Yohanes membuka Konsili pada 11 Oktober 1962 dalam sebuah Sidang Umum yang dihadiri oleh para Bapa Konsili dan wakil-wakil dari 86 negara dan badan-badan internasional. Setelah Misa, Paus memberikan amanatnya kepada para Uskup yang berkumpul dengan judul Gaudet Mater Ecclesia (Latin untuk "Bunda Gereja Bersuka cita"). Dalam pidatonya, ia menolak pemikiran mengenai para "nabi-nabi akhir zaman yang selalu meramalkan akan bencana" di dunia dan pada masa depan Gereja tersebut. Paus juga menekankan bahwa sifat Konsili adalah Pastoral ("Penggembalaan"), bukan Doktrinal. Ia juga memperingatkan bahwa Gereja tidak perlu mengulang maupun merumuskan kembali doktrin-doktrin dan dogmata yang telah ada, tetapi Gereja harus mengajarkan pesan-pesan Kristus dalam tren dunia modern yang cepat berubah. Ia mendesak para Bapa Gereja untuk "menunjukan belas kasih, bukan kecaman" dalam dokumen-dokumen yang akan mereka buat.
Dalam lokakarya pertama mereka, dalam waktu kurang dari 15 menit, para uskup telah mengadakan pemungutan suara atas permintaan Para Uskup Rhine mengenai agenda Sidang, apakah akan mengikuti agenda yang telah dipersiapkan oleh Komisi Persiapan ataukah akan membuat sebuah agenda yang baru yang akan dibicarakan di antara para anggota Sidang terlebih dahulu, baik dalam kelompok-kelompok nasional dan regional, maupun dalam pertemuan informal. Usulan ini tampaknya cukup wajar, namun mayoritas delegasi tidak menyadari bahwa para Uskup Rhine telah mempersiapkan suatu rencana mengenai bagaimana mereka menginginkan jalannya Konsiil. Dalam struktur Komisi Konsili yang baru kemudian atas usulan para Uskup Rhine, prioritas dari isu-isu yang akan dibicarakan menjadi berubah.
Isu-isu yang dibicarakan selama sesi-sesi Sidang adalah termasuk mengenai liturgi, komunikasi misa, gereja-gereja Ritus Timur, serta sumber-sumber Wahyu Ilahi. Skema mengenai Wahyu Ilahi kemudian ditolak oleh sebagian besar uskup, dan Paus Yohanes terpaksa harus campur tangan untuk memerintahkan penulisan kembali mengenai skema ini.
Setelah penundaan sidang pada 8 Desember 1962, sidang berikutnya tahun 1963 mulai dipersiapkan. Namun demikian, persiapan-persiapan ini diwarnai dengan wafatnya Paus Yohanes XXIII pada 3 Juni 1963Paus Paulus VI yang terpilih pada 21 Juni 1963 segera mengumumkan bahwa Konsili harus berlanjut, dan dalam haluan yang telah ditetapkan pada Sidang sebelumnya oleh Paus Yohanes.

[sunting]Sidang Kedua (Musim Gugur 1963)

Dalam bulan-bulan sebelum Sidang Umum Kedua, Paus Paulus melakukan sejumlah perbaikan untuk memecahkan masalah organisasi dan prosedur yang telah ditemukan selama periode pertama. Hal ini termasuk mengundang pengamat tambahan dari kaum awam Katolik dan Non-Katolik, serta mengurangi jumlah skema yang diusulkan menjadi 17 saja; dengan demikian keseluruhan Skema menjadi lebih umum, sehingga dapat mempertahankan sifat Pastoral Konsili. Akhirnya, Paus juga menghapuskan ketentuan kerahasiaan Sidang Umum.
Amanat pembukaan Paus Paulus pada 29 September 1963 menekankan kembali sifat Pastoral Konsili, dan menetapkan empat tujuan Konsili:
  • untuk lebih mendefinisikan sifat dasar gereja dan tugas pelayanan para uskup;
  • untuk memperbaharui gereja;
  • untuk mengembalikan kesatuan di antara kaum Kristiani, termasuk meminta maaf akan kontribusi Gereja Katolik di masa lampau terhadap perpecahan itu; serta
  • untuk memulai dialog dengan dunia modern.
Selama masa Sidang ini, para uskup menyetujui konstitusi tentang liturgi suci (Sacrosanctum Concilium) dan dekrit tentang upaya-upaya komunikasi sosial (Inter Mirifica). Sidang dilanjutkan dengan skema mengenai GerejaUskup dan Keuskupan, serta Ekumenisme. Pada 8 November 1963Joseph Kardinal Frings mengkritik Kongregasi untuk Doktrin Iman (sebelum 1908 dikenal sebagai Holy Roman and Universal Inquisition), dan dengan segera dibalas oleh pembelaan diri yang berapi-api dari Sekretaris badan tersebut, Alfredo Kardinal Ottaviani. Silang pendapat ini dianggap sebagai kejadian paling dramatis selama Konsili. (Sebagai catatan, penasihat teologi Kardinal Frings adalah Joseph Ratzinger muda, sekarang Paus Benediktus XVI, yang kemudian menjadi Kardinal yang mengepalai Kongregasi tersebut di Tahta Suci). Sidang Kedua berakhir pada 4 Desember 1963.

[sunting]Sidang Ketiga (Musim Gugur 1964)

Di antara periode Sidang Kedua dan Ketiga, proposal Skema direvisi kembali berdasarkan komentar-komentar dari para Bapa Konsili. Sejumlah topik dikurangi menjadi usulan pernyataan fundamental untuk disetujui dalam Sidang Ketiga, dengan Komisi Paskakonsili yang akan menangani implementasi peraturan-peraturan tersebut. Delapan pengamat religius wanita dan tujuh wanita awam diundang dalam Sidang Ketiga, bersama-sama dengan undangan tambahan pria awam.
Selama Sidang yang dimulai pada 14 September 1964 ini, para Bapa Konsili mengerjakan sejumlah besar proposal. Skema mengenai Ekumenisma (Unitatis Redintegratio), gereja-gereja Katolik Ritus Timur (Orientalium Ecclesiarum), serta konstitusi tentang Gereja (Lumen Gentium) disetujui dan diumumkan secara resmi oleh Paus.
Sebuah votum atau pernyataan mengenai sakramen pernikahan dimunculkan sebagai pedoman bagi komisi untuk merevisi Hukum Kanonik tentang isu-isu beragam akan yurisdiksi, seremonial, dan pastoral. Para uskup mengusulkan skema ini dan meminta persetujuan yang cepat, namun tidak segera diputuskan oleh Paus pada Konsili tersebut. Paus Paulus memerintahkan para Uskup untuk menunda topik kontrasepsi artifisial (keluarga berencana) yang akan dibahas sebuah komisi ahli kepastoran dan awam yang telah ditunjuknya.
Skema mengenai tugas dan pelayanan para pastor serta tugas misi Gereja ditolak dan dikembalikan kepada komisi-komisi untuk ditulis ulang sama sekali. Pekerjaan dilanjutkan untuk sisa Skema lainnya, terutama sekali untuk masalah Gereja di dunia masa kini dan kebebasan beragama. Terjadi kontroversi mengenai revisi dekrit kebebasan beragama dan mengakibatkan kegagalan pengambilan suara akan dekrit ini pada Sidang Ketiga. Paus Paulus menjanjikan untuk segera meninjau skema ini pada masa Sidang berikutnya.
Paus Paulus menutup Sidang Ketiga pada 21 November dengan mengumumkan perubahan tata cara Ekaristi dan secara resmi mengumumkan Maria sebagai "Bunda Gereja" seperti yang telah sering diajarkan.

[sunting]Sidang Keempat (Musim Gugur 1965)

Sebelas Skema masih belum selesai pada akhir Sidang Ketiga dan komisi-komisi bekerja untuk melakukan finalisasi. Skema 13, mengenai Gereja di Dunia Modern (Gereja di Dunia Dewasa Ini) direvisi oleh sebuah komisi yang dengan dibantu oleh orang-orang awam.
Paus Paulus membuka Sidang terakhir ini pada 14 September 1965 dengan mendirikan sebuah Konferensi Para Uskup. Struktur yang lebih permanen ini ditujukan untuk mempertahankan kerja sama yang erat antara para uskup dengan Paus setelah Konsili berakhir.
Urusan pertama dalam Sidang Keempat adalah pertimbangan mengenai dekrit kebebasan beragama, merupakan yang paling kontroversial di antara semua dokumen konsili. Hasil pemungutan suara dalah 1.997 yang menyetujui dan 224 menolak (selisihnya kemudian semakin melebar ketika para uskup menyetujui dekrit kebebasan beragama Dignitatis Humanae tersebut). Pekerjaan utama selama sisa periode Sidang adalah untuk 3 dokumen, yang seluruhnya disetujui oleh para Bapa Konsili. Dokumen Konstitusi Gereja di Dunia Dewasa Ini (Gaudium et Spes) dengan revisi-revisi pastoral dan menghasilkan dokumen lebih meluas, diikuti oleh Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja (Ad Gentes) dan Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan para Imam (Presbyterorum Ordinis).
Konsili juga menyetujui dokumen-dokumen lainnya yang telah dibicarakan dalam Sidang-Sidang sebelumnya; termasuk Dekrit tentang Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja (Christus Dominus), Dekrit tentang Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius (Perfectae Caritatis), Dekrit tentang Pembinaan Imam (Optatam Totius), Pernyataan Pendidikan Kristen (Gravissimum Educationis), serta Dekrit Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem).
Salah satu dokumen yang paling kontroversial adalah Nostra Ætate, yang menegaskan kembali dokumen Konsili Trente abad keenambelas, bahwa para Yahudi masa Kristus (tanpa pandang bulu) dan para Yahudi masa kini tidak memikul tanggung jawab akan pembunuhan Kristus lebih besar daripada kaum Kristen (lihat Catechism of the Council of Trent, Article IV).
Petikan terkenal dari Nostra Ætate[1]:
"Meskipun para pemuka bangsa Yahudi pada masa itu beserta para penganut mereka mendesakkan kematian Kristus, namun penderitaanNya tidak dapat begitu saja dibebankan sebagai kesalahan semua orang Yahudi pada masa itu tanpa pandang bulu, maupun orang Yahudi zaman sekarang.
Sekalipun Gereja adalah umat Allah yang baru, namun jangan sekali-kali menyimpulkan bahwa Kitab Suci menggambarkan bahwa orang Yahudi itu dibuang atau dikutuk oleh Allah.
Gereja mendorong agar semua berusaha supaya dalam berkatakese dan mewartakan Sabda Allah jangan mengajarkan apa pun yang tidak selaras dengan kebenaran Injil dan semangat Kristus.
Selain itu, Gereja juga menolak setiap penganiayaan terhadap siapapun juga. Gereja mengingat pusaka warisannya bersama-sama dengan bangsa Yahudi, dan tergerak bukan oleh alasan-alasan politik melainkan tergerak oleh cinta kasih Injil, Gereja menyatakan menentang segala kebencian, penganiayaan, sikap anti-Semit, yang dilakukan terhadap bangsa Yahudi, kapan pun dan oleh siapa pun."
Lebih lanjut mengenai topik ini dapat ditemukan di artikel Rekonsiliasi Kristen-Yahudi.
Peristiwa penting pada hari-hari terakhir Konsili adalah tindakan Paus Paulus dan Patriark Athenagoras dari Ortodoks yang mengekspresikan penyesalan akan hal-hal yang telah lalu yang menyebabkan Skisma Besar gereja barat-timur. Deklarasi ini dikenal sebagai Pernyataan Bersama Katolik-Ortodoks 1965.
Pada 8 Desember, Konsili Vatikan Kedua secara resmi ditutup, dengan para uskup menyatakan ketaatan mereka terhadap segala dekrit Konsili. Untuk memperlancar pelaksanaan hasil karya Konsili, Paus Paulus:
  • telah membentuk sebelumnya Komisi Kepausan untuk Media Komunikasi Sosial, yang akan membantu para uskup dan penggunaan pastoral akan media-media ini;
  • mendeklarasikan hari peringatan selama 1 Januari hingga 26 Mei 1966 untuk mendorong kaum Katolik mempelajari dan menerima keputusan-keputusan konsili dan mempergunakannya sebagai pembaharuan spiritual mereka;
  • mengubah pada 1965 nama dan prosedur untuk Holy Office, menggantinya dengan nama Kongregasi Kudus untuk Doktrin Iman, dan nama-nama dan wewenang dari departemen lainnya pada Kuria Romawi.
  • membuat permanen lembaga sekretariat Promotion of Christian Unity bagi agama non-Kristen dan bagi mereka yang belum percaya.

[sunting]Hasil Konsili

[sunting]Ikhtisar Dokumen Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II menghasilkan 16 Dokumen, terdiri dari 4 Konstitusi, 9 Dekrit, dan 3 Pernyataan:
#Nama DokumenJenisMengenaiDiumumkan pada
1Sacrosanctum ConciliumKonstitusiLiturgi SuciSidang II (4 Desember 1963)
2Inter MirificaDekritUpaya-Upaya Komunikasi SosialSidang II (4 Desember 1963)
3Lumen GentiumKonstitusi DogmatisGerejaSidang III (21 November 1964)
4Orientalium EcclesiarumDekritGereja-Gereja Timur KatolikSidang III (21 November 1964)
5Unitatis RedintegratioDekritEkumenismeSidang III (21 November 1964)
6Christus DominusDekritTugas Pastoral para Uskup dalam GerejaSidang IV (28 Oktober 1965)
7Perfectæ CaritatisDekritPembaharuan dan Penyesuaian Hidup ReligiusSidang IV (28 Oktober 1965)
8Optatam TotiusDekritPembinaan ImamSidang IV (28 Oktober 1965)
9Gravissimum EducationisPernyataanPendidikan KristenSidang IV (28 Oktober 1965)
10Nostra ÆtatePernyataanHubungan Gereja dengan Agama-Agama bukan KristianiSidang IV (28 Oktober 1965)
11Dei VerbumKonstitusi DogmatisWahyu IlahiSidang IV (18 November 1965)
12Apostolicam ActuositatemDekritKerasulan AwamSidang IV (18 November 1965)
13Dignitatis HumanæPernyataanKebebasan BeragamaSidang IV (7 Desember 1965)
14Ad GentesDekritKegiatan Misioner GerejaSidang IV (7 Desember 1965)
15Presbyterorum OrdinisDekritPelayanan dan Kehidupan para ImamSidang IV (7 Desember 1965)
16Gaudium et SpesKonstitusi PastoralGereja di Dunia Dewasa iniSidang IV (7 Desember 1965)

[sunting]Gereja

Mungkin hasil Konsili yang paling terkenal dan paling berpengaruh adalah Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium.
Pada bab pertama berjudul "Misteri Gereja", terdapat sebuah pernyataan terkenal:
"Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat Iman kita akui sebagai gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Sesudah kebangkitanNya, Penebus kita menyerahkan Gereja kepada Petrus untuk digembalakan, dan ia bersama para rasul lainnya dipercayakan untuk memperluas dan membimbing Gereja dengan otoritas, dan Gereja itu didirikan untuk selama-lamanya sebagai "tiang penopang dan dasar kebenaran". Gereja itu, yang di dunia ini disusun dan diatur sebagai sebuah perhimpunan hidup dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Santo Petrus dan oleh para Uskup yang berada dalam satu persekutuan dengan dia, walaupun, di luar persekutuan itu pun terdapat banyak unsur-unsur yang kudus dan kebenaran, yang sesungguhnya merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik".
Pada bab kedua berjudul "Umat Allah", Konsili mengajarkan bahwa kehendak Allah untuk menyelamatkan bukan sekedar individu (atau satu demi satu) tetapi juga dalam suatu kesatuan jemaat. Dalam hal ini, Allah telah memilih bangsa Israel sebagai umatNya, mengadakan perjanjian dengan bangsa ini, sebagai persiapan dan gambaran akan suatu perjanjian dalam Kristus yang akan membentuk suatu Umat Allah yang baru, yang satu, bukan dalam daging, tetapi dalam Roh, yang disebut sebagai Gereja Kristus (Lumen Gentium, 9). Semua orang dipanggil sebagai milik Gereja. Tidak semua orang sepenuhnya tergabung dalam Gereja, tetap "Gereja mengerti bahwa ia terhubung dalam berbagai cara dengan semua orang yang dibaptiskan, semua yang diterima di dalam nama Kristus, namun demikian tidak menyatakan iman Katolik dalam keseluruhannya atau tidak berada dalam satu kesatuan atau persekutuan di bawah penerus Santo Petrus" (Lumen Gentium, 15). Dan bahkan hubungan dengan "semua yang belum menerima Injil" di antara kaum Yahudi dan Muslim juga disebutkan secara eksplisit (Lumen Gentium, 16). Gagasan membuka diri kepada kaum Protestan telah menyebabkan kontroversi besar sekali di antara kelompok Tradisionalis Katolik.
Judul bab ketiga "Susunan Hirarkis Gereja" secara tegas menggambarkan isinya yang menguraikan peranan para uskup dan Paus di Roma.
Pada bab-bab berikutnya mengenai kaum awam: ajakan akan hidup kudus, religius, peziarahan iman, dan Bunda Gereja. Bab mengenai ajakan akan hidup kudus merupakan bab yang signifikan karena mengindikasikan bahwa kekudusan bukanlah hanya menjadi bagian dari para imam tetapi bahwa semua oran Kristen dipanggil untuk hidup kodus. Tentu saja masalah ini selalu menjadi topik ajaran Gereja, tetapi banyak dari para Bapa Konsili merasa bahwa hal ini telah semakin hilang di kalangan jemaat.
Bab mengenai Maria adalah subyek yang menjadi sumber perdebatan. Pada awalnya subyek ini akan dipisahkan dari dokumen konsili, mempertahankan sifat ekumenis dari dokumen Gereja - dalam pengertian "non-ofensif" bagi kaum Protestan, yang tidak menyetujui pemujaan kepada Maria. Namun demikian, para Bapa Konsili tetap bersikukuh, dengan dukungan Paus, bahwa tempat Maria adalah di dalam Gereja, dan perlakuan terhadap Maria harus dimunculkan dalam Konsitusi Gerejawi.

[sunting]Liturgi

Salah satu isu pertama yang dipertimbangkan dalam Konsili dan masalah yang segera memiliki efek terhadap kehidupan individu Katolik adalah revisi atas liturgi/tata cara ibadah. Gagasan umumnya adalah (dari Konstitusi mengenai Liturgi Suci):
"Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang percaya dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya dalam perayaan-perayaan Liturgi. Keikutsertaan seperti ini sesungguhnya dituntut oleh liturgi sendiri. Kaum Kristiani yang telah dibaptiskan adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Pet 2:9; 2:4-5); dan oleh karenanya keikutsertaan dalam liturgi adalah menjadi hak dan kewajiban mereka."
"Keikutsertaan aktif" yang diinginkan Vatikan II ini melebihi apa yang pernah diijinkan ataupun direkomendasikan para Paus sebelumnya. Para Bapa Konsili menetapkan pedoman untuk mengarahkan jalannya revisi terhadap liturgi tersebut, termasuk mengijinkan dengan sangat terbatas penggunaan bahasa lokal/daerah/pribumi ketimbang bahasa Latin. Para uskup kemudian menetapkan bahwa adat istiadat lokal dapat secara hati-hati dimasukkan sebagai bagian dari liturgi.
Implementasi dari perintah Konsili mengenai liturgi dilaksanakan melalui sebuah Komisi Kepausan Khusus di bawah otoritas Paus Paulus VI (yang kemudian menjadi satu dalam Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Ketertiban Sakramen) dan oleh konferensi nasional masing-masing keuskupan, yang diharapkan untuk berkolaborasi membentuk sebuah penerjemahan bersama.

[sunting]Injil dan Wahyu Ilahi

Konsili menghendaki pemulihan kembali peranan sentral Injil dalam kehidupan keagamaan dan devosi dari Gereja, yang dibangun atas dasar hasil karya para Paus sebelumnya dalam usaha membentuk suatu pendekatan modern atas analisa dan interpretasi Injil. Sebuah pendekatan baru untuk interpretasi Injil disetujui oleh para Uskup. Gereja secara berkelanjutan harus menyediakan terjemahan Kitab Suci dalam bahasa ibu para kaum percaya. Lebih jauh, kaum imam dan awam harus menjadikan studi Kitab Suci sebagai gaya hidup mereka. Hal ini menegaskan kembali pentingnya Kitab Suci seperti diperlihatkan dalam Providentissimus Deus oleh Paus Leo XIII dan tulisan-tulisan para Santo, Pujangga Gereja, dan para Paus selama sejarah Gereja; sekaligus menyetujui interpretasi Injil yang dipelajari secara historis sebagaimana ensiklik Paus Pius XII pada 1943Divino Afflante Spiritu.

[sunting]Para Uskup

Peranan para Uskup di Gereja juga diperbaharui maknanya, khususnya sebagai kumpulan Dewan, yang meneruskan pengajaran oleh para Rasul dan memimpin Gereja. Eksistensi Dewan ini hanyalah jika berada di bawah penerus Santo Petrus. Dengan demikian, Konsili memberikan kepada Gereja, dua sifat kepemimpinan yang terpisah, yaitu Dewan Para Uskup dan Paus. Hal ini diperjelas dalam Catatan Penjelasan Pendahuluan yang ditambahkan kepada Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) dan dicetak pada akhir naskah tersebut. Catatan ini menerangkan: "Tentang Dewan ("Collegium"), yang tidak dapat tanpa kepala, ... dan di dalam Dewan itu Kepalanya tetap menjalankan tugas seutuhnya selaku Wakil Kristus dan Gembala Gereja Semesta. Dengan kata lain cara pandang atas pembedaan bukanlah antara Paus (di satu pihak) dengan Dewan Para Uskup (di lain pihak), melainkan antara Paus (sebagai dirinya sendiri) dengan Paus bersama-sama para Uskup."
Di berbagai negara, para Uskup telah memiliki konferensi regular untuk mendiskusikan masalah-masalah bersama. Konsili mewajibkan penetapan konferensi episkopal seperti itu dan mempercayakan kepada mereka tanggung jawab untuk melaksanakan adaptasi yang diperlukan terhadap norma-norma umum kondisi setempat (lihat juga Dekrit tentang Tugas Pastoral para Uskup dalam Gereja Christus Dominus, 18). Keputusan-keputusan konferensi tersebut akan mengikat bagi para Uskup dan Keuskupan mereka hanya jika diterima oleh dua pertiga suara dan diperkuat oleh Tahta Suci.
Konferensi Regional, seperti Konferensi Waligereja Amerika Latin (CELAM), muncul untuk membantu mempromosikan pada tingkatan regional atau kontinental, tetapi tidak memiliki kekuatan suara.

[sunting]Kritikan akan Konsili dari dalam tubuh Gereja Katolik

Banyak dari kaum Katolik yang sangat konservatif (atau sering disebut Katolik Tradisionalis) berpendapat bahwa Konsili Vatikan II atau interpretasi apapun akan dokumen-dokumen konsili tersebut, menjauhkan Gereja dari prinsip-prinsip penting dari iman Katolik historis; termasuk:
  • kepercayaan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya gereja Kristiani yang dibangun oleh Yesus sendiri;
  • kepercayaan bahwa gagasan modern akan kebebasan beragama adalah kesalahan;
  • tekanan yang pantas untuk "Empat Hal Terakhir" (Kematian, Pengadilan, Surga, dan Neraka);
  • kepercayaan bahwa setiap kitab dari Kitab Suci adalah sempurna;
  • ketaatan kepada skolastisisme.
Dalam kontradiksi terhadap pendapat kebanyakan orang Katolik bahwa Vatikan II adalah sebuah "musim semi yang baru" bagi Gereja, para pengritik memandang bahwa Konsili adalah penyebab utama berkurangnya iman kepercayaan Katolik dan hilangnya pengaruh Gereja di dunia barat. Mereka berpendapat lebih lanjut bahwa Vatikan II mengubah fokus gereja dari menyebarkan kabar keselamatan jiwa menjadi memperbaiki situasi keduniawian umat manusia (lihat Teologi Kebebasan).
Salah satu respon yang berasal dari para Katolik konservatif arus utama terhadap kritikan tersebut adalah bahwa pengajaran sesungguhnya dari Konsili dan interpretasi resmi dari dokumen-dokumennya hars dipisahkan dari perubahan yang lebih radikal yang telah dilakukan atau diajukan oleh para anggota gereja yang liberal selama 40 tahun dalam "semangat Vatikan II". Mereka menyetujui bahwa perubahan-perubahan tersebut adalah bertentangan dengan hukum kanon dan tradisi Gereja. Sebagai contoh, seorang Katolik konservatif arus utama kemungkinan setuju bahwa para imam liberal yang memperkenalkan elemen-elemen baru non-Katolik pantas dikutuk, tetapi mereka juga akan sekaligus memberi catatan bahwa penyalahgunaan ini adalah pelanggaran terhadap Dekrit tentang Liturgi Suci dan dokumen resmi Gereja akan perayaan Misa.
Pada 22 Desember 2005Paus Benediktus XVI dalam kotbahnya di hadapan Kuria Romawi menentang mereka yang menginterpretasikan dokumen-dokumen Konsili sebagai "tidak berkelanjutan dan rapuh". Interpretasi yang benar, menurutnya, adalah bahwa sebagaimana dinyatakan pada awal dan akhir Konsili olehPaus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI. Pada awal konsili, Paus Yohanes XXIII menyatakan bahwa Konsili dimaksudkan untuk "menyebarkan doktrin-doktrin secara murni dan menyeluruh, tanpa pengurangan maupun penyimpangan", dan ia juga menambahkan "Adalah tugas kita untuk tidak hanya menjaga harta yang berharga ini, seakan-akan ini adalah barang kuno, tetapi juga kita harus setia, siap sedia, dan tanpa takut berkarya sesuai dengan kebutuhan zaman kita. Doktrin yang pastinya tidak perlu diubah ini, yang harus dihormati dengan setia, harus dipelajari secara mendalam dan dihadirkan dalam bentuk yang cocok dengan zaman kita. Kebenaran doktrin yang mulia adalah satu hal, dan bagaimana caranya doktrin itu dilaksanakan supaya tetap utuh dan sama-adalah hal lainnya." Setelah mengutip pendahulunya ini, Paus Benediktus kemudian menyatakan: "Di manapun interpretasi ini telah menjadi pedoman yang disambut oleh Konsili, hidup baru telah bertumbuh dan buah-buah telah menjadi matang. ... Hari ini kita melihat bahwa benih yang baik, walaupun tumbuh perlahan-lahan, tetaplah bertumbuh, dan biarlah syukur kita yang amat besar bagi karya kerja Konsili juga tetap bertumbuh demikian."

[sunting]Pranala luar

[sunting]Naskah Vatikan

[sunting]Komentar

January 10, 2011

Iman yang Terlupakan

Sebagai pengikut Yesus selama hampir 2.000 tahun, kini penduduk asli Kristen semakin menghilang di tanah tempat lahirnya keyakinan mereka.



Oleh DON BELT
Foto oleh ED KASHI


PASKAH DI JERUSALEM bukanlah untuk pengecut. Kota Tua yang bahkan kalut dan hiruk pikuk di saat-saat yang paling tenang pun tampak benar-benar gusar dalam beberapa hari menjelang hari suci itu. Puluhan ribu umat Kristen dari seluruh pelosok dunia tumpah ruah seperti gerombolan penakluk, memenuhi berbagai jalanan sempit dan gang kuno di Via Dolorosa. mencari ikatan rohaniah di hamparan bebatuan dingin atau, mungkin, sisa-sisa kegalauan yang dialami Yesus pada beberapa jam terakhir sisa hidupnya. 

Setiap wajah di muka Bumi tampaknya melayang melalui jalanan ini di saat Paskah, manusia dengan mata, rambut, dan warna kulit yang beragam, dandanan dan gaya busana beraneka jenis, mulai dari penganut Kristen dari Afrika yang bermata biru dan berkulit hitam yang mengenakan dashikis yang membuat mata terbelalak, hingga penganut Kristen dari Finlandia yang berpakaian seperti Yesus bermahkota duri penuh darah, hingga penganut Kristen dari Amerika yang memakai sepatu kets dan topi bertuliskan “I [heart] Israel”, yang jelas siap terjun ke medang perang Armageddon.

Mereka datang karena di tempat inilah agama Kristen bermula. Di sini di Jerusalem dan di tanah sekitarnya adalah perbukitan berbatu tempat Yesus berjalan, mengajar, dan wafat—dan kemudian menjadi tempat para pengikutnya berdoa, menumpahkan darah, dan bertarung tentang bagaimana seharusnya ajaran Yesus. Di samping kumpulan bangsa Yahudi yang berpindah agama di gua-gua Palestina dan Suriah, bangsa Arab adalah juga yang pertama mendapat perlakuan buruk akibat menganut keyakinan baru tersebut. Mereka-mereka yang pertama dinamakan umat Kristen. Di sinilah, di Levant—sebuah wilayah geografis yang mencakup Suriah, Lebanon, Yordania, Israel, dan Palestina masa kini—dibangun ratusan gereja dan biara setelah Konstantin si kaisar Romawi melegalkan agama Kristen pada tahun 313 dan mengumumkan bahwa provinsi-provinsi kekaisarannya di Levant sebagai tanah suci. Bahkan setelah kaum Muslimim Arab menaklukkan wilayah itu pada 638 pun, daerah itu tetap didominasi umat Kristen.

Ironis, justru pada masa Perang Salib-lah (1095-1291) umat Kristen Arab secara berangsur-angsur mulai surut menjadi kaum minoritas. Di masa itu, umat Kristen Arab bersama kaum Muslimin dibantai oleh para prajurit Perang Salib dan terperangkap dalam pertempuran antara Islam dan Kristen Barat. Dewasa ini, penduduk asli yang beragama Kristen di Levant adalah duta dari dunia yang terlupakan, yang terus mempertahankan semangat menyala-nyala dari gereja masa awal. Komunitas mereka yang terdiri atas berbagai aliran Ortodoks, Katolik, dan Protestan jumlahnya menyusut pada seabad ini dari 25 persen menjadi sekitar 8 persen dari populasi karena generasi masa kini pergi demi alasan ekonomi, demi menghindari kekerasan di wilayah itu, atau karena memiliki kerabat di dunia Barat yang membantu mereka hijrah. Sungguh memilukan bahwa kepergian mereka membuat Levant harus kehilangan warganya yang berpendidikan paling baik dan yang paling moderat pandangan politiknya—orang-orang yang justru paling diperlukan oleh masyarakat. Jadi, bagi umat Kristen Arab di Jerusalem, terasa ada suasana meriah saat Paskah, seakan setelah masa cobaan yang sepi dan lama, penguat hati yang sangat diperlukan itu pun tiba.

Di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, sepasang suami-istri muda Palestina penganut Kristen yang kusebut saja sebagai Lisa dan Mark sedang mempersiapkan diri menyambut kemeriahan Paskah. Lisa, yang masih bercelana jeans dan berkaus oblong, sedang sibuk membantu putrinya yang berusia 18 bulan, Nadia, mengenakan baju Paskah berwarna putih. Mark yang masih berpiama berupaya tanpa hasil agar putranya yang berusia tiga tahun, Nate, mau mengenakan setelan celana dan rompi barunya. Mark juga berupaya agar Nate yang ingin bergaya a la Spiderman atau Attila the Hun tidak merusak TV, lukisan bayi Yesus di dinding, atau vas bunga di atas meja. Mark si lelaki bertubuh besar yang tidak sabaran itu menyeringai kelelahan. Saat itu jam menunjukkan pukul 8.00 di pagi bulan Mei yang dingin menggigit dan Mark sudah mandi keringat. Namun demikian, ini adalah hari Paskah, saat untuk bersikap optimistis dan berharap dan ini adalah hari yang istimewa.

Ini adalah paskah pertama bagi Mark untuk diperbolehkan merayakannya bersama keluarga di Jerusalem. Dia berasal dari Bethlehem di Tepi Barat, jadi KTP-nya diterbitkan oleh Otoritas Palestina; dia memerlukan izin dari Israel untuk berkunjung ke Jerusalem. Lisa yang keluarganya tinggal di Kota Tua punya memiliki KTP Israel. Jadi, meski keduanya sudah menikah selama lima tahun dan menyewa apartemen di pinggiran kota Jerusalem, menurut hukum Israel mereka tidak bisa tinggal di bawah satu atap. Mark tinggal bersama orang tuanya di Bethlehem yang jaraknya lebih dari sembilan kilometer, tetapi seakan-akan 100 kilometer, jauh dari pos pemeriksaan Israel dan tembok beton setinggi 7 meter yang dikenal sebagai Dinding.

Mark merasa sangat sedih karena “80 persen teman-teman sesama Kristen yang bersama mereka saya tumbuh dewasa bersama telah pergi ke negara lain untuk mencari kerja.”

Namun, dia memahami alasannya. Sebagai pekerja sosial terlatih yang memiliki gelar di bidang sosiologi, Mark sudah berusaha mencari pekerjaan, apa saja, selama hampir dua tahun. “Kami dikelilingi dinding raksasa ini dan tidak ada pekerjaan,” katanya. “Ini seperti percobaan ilmiah. Jika kita mengurung tikus dalam ruang tertutup dan luas ruangan itu dibuat semakin sempit setiap hari dan menerapkan berbagai hambatan baru serta terus-menerus mengubah peraturan, lama kelamaan tikus akan menjadi gila dan mulai saling memangsa. Seperti itulah keadaannya.”

Bagi siapa pun yang tinggal di wilayah Israel atau Palestina, stres adalah sesuatu yang lazim. Namun, 196.500 orang Arab Palestina dan Arab Israel yang beragama Kristen, yang jumlahnya menyusut dari 13 persen populasi pada 1894 menjadi kurang dari 2 persen sekarang, menghuni daerah yang membuat sesak yang diapit oleh bangsa Yahudi Israel yang dilanda trauma dan Muslim Palestina yang juga dilanda trauma, yang kegiatan militan mereka semakin gencar dan dikaitkan dengan gerakan aliran Islam regional yang terkadang menjadikan umat Kristen Arab sebagai sasaran. 

Dalam satu dasawarsa terakhir, “situasinya bagi umat Kristen Arab memburuk dengan cepat,” kata Razek Siriani, lelaki 40-an tahun yang jujur dan dinamis, yang bekerja di Dewan Gereja Timur Tengah di Aleppo, Suriah. “Kami benar-benar kalah dalam jumlah dan dikelilingi oleh suara-suara penuh amarah,” katanya. Pemeluk Kristen di Barat semakin memperburuk keadaan, begitu kata Razek menyuarakan perasaan yang diungkapkan oleh banyak orang Kristen Arab. “Ini karena ulah penganut Kristen dunia Barat yang dipimpin AS di dunia Timur,” katanya sambil menyebut perang di Irak dan Afghanistan, dukungan AS terhadap Israel, dan ancaman “penggantian pemerintahan” oleh Pemerintahan Bush. “Bagi banyak kaum Muslimin, terutama yang fanatik, ini ibarat Perang Salib yang terjadi sekali lagi, perang melawan Islam yang dikobarkan oleh umat Kristen. Karena kami Kristen, mereka memandang kami juga sebagai musuh. Kami ini korban kesalahan umat Kristen di Barat.”

Mark dan Lisa, sama seperti penganut Kristen Arab di mana-mana, terlibat dalam perdebatan tak berkesudahan tentang apakah lebih baik meninggalkan kampung halaman mereka untuk selamanya. Mark punya satu saudara laki-laki di Irlandia, seorang lagi di San Diego, dan dia pernah tinggal di AS selama beberapa tahun. Dia punya green card dan sedang bekerja di California saat menikahi Lisa di Jerusalem pada 2004. Lisa pernah mencoba tinggal di San Diego sebentar, tetapi rindu pada keluarganya di tanah air sehingga pasangan itu pulang kembali setelah kelahiran Nate.

Tinggal sebagai orang Arab di A.S. setelah kejadian 11 September merupakan pengalaman berharga bagi mereka. “Sungguh menggelikan,” kata Mark, “sudut pandang orang Amerika. Mereka belum pernah mendengar ada orang Arab penganut Kristen. Mereka berasumsi semua orang Arab itu Muslim—maksudnya teroris—dan bahwa agama Kristen ditemukan di Italia atau entah di mana. Jadi, jika kami berkata, saya orang Arab beragama Kristen, mereka memandang kami dengan penuh curiga, seakan-akan kami berkata, Bulan itu warnanya ungu. Suatu kali ada seorang perempuan bertanya, ‘Bagaimana sikap keluargamu karena kamu beragama Kristen? Mereka pasti marah sekali!’”

DI ATAS SEBUAH GUNUNG dekat Beirut yang menghadap ke Laut Tengah, seorang petapa terjaga pada pukul 3.00 pagi. Dia lalu mengambil lampu senter yang ada di antara tumpukan buku yang menjadi buah karya kehidupannya sekaligus teman tidurnya sepanjang hayat. Si petapa yang usianya 73 tahun, berjanggut panjang, dan dikenal sebagai Romo Yuhanna bekerja di tempat tersebut hingga fajar, menerjemahkan himne-himne Kristen kuno dari bahasa Aramaik, bahasa yang digunakan Yesus, ke bahasa Arab modern dan menyalinnya ke dalam buku raksasa bersampul kulit yang sebesar bantal kursi. Kemudian dia berdoa, makan sepotong buah, mengenakan mantel dan jubah hitamnya, lalu menebar 10.000 doa restu ke semua tempat di dunia dengan suka cita.

Pertama, dia selalu singgah di Alaska, tempat dia “menghirup udara segar sepuasnya.” Selanjutnya, dia menyusuri Amerika Utara dan Amerika Selatan, melompat ke Afrika, bergerak ke atas melewati Timur Tengah, menyapu Eropa, lalu ke timur ke Rusia dan Asia sebelum meneruskan perjalanannya ke selatan ke Australia. Ke mana pun dia pergi, petapa itu menebarkan berkat, menghitungnya satu per satu pada manik-manik rosario yang bergerak begitu cepat melalui jemarinya seakan-akan burung merpati. Perjalanan harian itu memakan waktu tiga-empat jam dan pada kebanyakan hari—jika tidak berlama-lama di daerah konflik—dia sudah kembali ke rumah tengah hari. Di mata orang awam, petapa itu hanyalah seorang tua yang berjalan-jalan di taman. Namun bagi para sahabat dan pengikutnya yang datang dalam jumlah ratusan untuk menyimak ajarannya tentang Yesus, dia adalah tokoh suci, keturunan para petapa berpengaruh seperti Tetua Simeon—seorang aulia abad kelima yang tinggal di atas pilar batu di pedesaan Suriah selama lebih dari 30 tahun dan menarik penduduk lokal yang taat.

Umat Kristen Maronit biasanya bukanlah orang-orang yang dianggap sebagai calon orang suci. Sebagai pengikut petapa abad keempat yang bernama Maron, aliran itu tampaknya ditakdirkan sejak awal untuk terus memperjuangkan keberadaannya sepanjang sejarah. Ketika St. Maron wafat tahun 410, perseteruan sengit berkobar di antara para pengikutnya dalam memperebutkan kewenangan mengurusi jasadnya. Dalam kurun satu generasi, kaum Maronit juga bertarung melawan aliran Kristen saingan mereka mengenai permasalahan teologi, dan setelah Islam tiba, mereka juga menentang kaum Muslimin. Untuk menghindari penindasan, mereka berjuang melintasi pegunungan dari Suriah hingga masuk ke Lebanon, dan di sana mereka mencari lembah yang paling ganas, membentengi gua dan biara batu cadas mereka, dan bersiap mempertahankan diri dari serbuan pasukan khalifah. Di penghujung abad ke-11 ketika para prajurit perang salib Prancis berbaris menuju Jerusalem, kaum Maronit berbondong-bondong meninggalkan pegunungan untuk mengelu-elukan rekan sesama penganut Kristen mereka. Sekitar 800 tahun kemudian ketika Prancis menduduki Suriah (termasuk Lebanon) di akhir Perang Dunia I, negara itu membalas budi kaum Maronit dengan membentuk negara Lebanon masa depan yang menguntungkan mereka. Dengan menggunakan bahasa Prancis dan memupuk ikatan budaya dengan Eropa, kaum Maronit menjadi satu-satunya umat Kristen Arab yang menjadi mayoritas di sebuah negara Timur Tengah ketika Lebanon mendapatkan kemerdekaannya pada 1943.

Kemudian, kaum Kristen Maronit menjadi salah satu pejuang milisi paling ditakuti dalam perang saudara di Lebanon, melancarkan serangan gencar terhadap berbagai faksi Lebanon—Shiah, Suni, Druze, dan Palestina—di zona pertempuran Beirut antara 1975 dan 1990. Namun kini, umat Kristen Lebanon yang pernah menjadi mayoritas mendapati diri mereka semakin kehilangan pamor dan perannya menjadi sama seperti yang disandang umat Kristen di manapun di Timur Tengah seperti yang sudah begitu dikenal. Setelah puluhan tahun terjadi hijrah orang-orang Maronit dari negerinya, jumlah mereka menyusut hingga di bawah 40 persen dari populasi.

Untuk bisa bertahan, para pemimpin Maronit membentuk aliansi baru: ada yang bersekutu dengan kelompok Shiah yang dominan, Hizbullah; yang lain bersekutu dengan koalisi Suni dan Druze. Sementara itu, milisi Kristen bergerak di bawah tanah—tapi, bukan berarti sikap mereka melunak.
Milad Assaf adalah seorang kontraktor ubin paruh baya yang ramah dan berdinas sebagai tentara rendahan dalam Lebanese Forces (LF), sebuah partai politik Maronit yang berpengaruh kuat. Dari teras apartemennya yang penuh lubang peluru di tingkat lima di Beirut timur, Milad dapat melihat dengan jelas ke permukiman Shiah yang luas, yang terletak di seberang jalan utama yang sibuk. Jalan itu menandai “garis merah” antara wilayah Kristen dan wilayah tempat milisi Shiah bertempur untuk Hizbullah dan sekutunya, Amal. “Seperti tinggal di arena latihan tembak,” katanya sambil tertawa.

Milad baru berusia enam tahun pada April 1975 ketika sekelompok orang Kristen menyulut perang saudara Lebanon dengan menembaki sebuah bus yang dipenuhi para pengungsi Palestina; mereka melakukan hal itu untuk mengirim pesan kepada para pejuang Palestina yang saat itu sedang merambah jalanan kota Beirut, para pejuang yang berniat mengubah Lebanon menjadi markas Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Serangan bus yang menewaskan 27 orang itu hanya berjarak satu blok dari rumah Milad, di depan patung Perawan Maria setinggi orang. Meski daerah itu dihujani tembakan senapan, granat roket, serta bom Israel yang terus-menerus dijatuhkan dari udara sejak 1975, patung tersebut tidak tergores sedikit pun. “Bayangkan saja. Ajaib bukan?” kata Milad.

Tempat tinggal Milad, Ain al-Rumaneh, adalah lingkungan yang keras disesaki gedung apartemen dan toko kecil-kecil yang dipenuhi lubang peluru. Setiap permukaan yang datar, ibaratnya, menampilkan lambang Lebanon Forces, gambar salib yang bagian bawahnya terpapas miring seperti pedang. Setelah pertempuran dengan Shiah belum lama ini, Milad dan teman-temannya mendirikan salib kayu setinggi empat setengah meter di trotoar dan menempelkan dinding kayu lapis dengan poster Yesus berukuran besar. Kemudian, mereka memasang lampu tembak sehingga para pejuang Hizbullah di seberang jalan dapat menerima pesan tersebut selama 24 jam sehari: “Ain al-Rumaneh adalah wilayah Kristen. Jangan coba-coba mendekat.”

Pada usia 12 tahun saat bergabung dengan LF, Milad punya lagak seorang shabb, jagoan. Dia tidak ingat sudah berapa yang tewas di tangannya selama perang. Sudah lusinan kali dia keluar-masuk penjara, dan bahkan sekarang pun di usianya yang ke-40, Milad belum mau meninggalkan kehidupan pejuang yang penuh bahaya. Rambutnya yang menipis disisir ke belakang, gaya Elvis, dan dia mengenakan kalung emas dengan gantungan salib LF besar serta tato di lengan bawah kirinya. Seperti banyak orang Kristen Arab, Milad rajin latihan angkat besi, dan meski perutnya agak buncit, dia punya dada bidang yang dibanggakannya, dada yang ketat dibalut kaus oblong putih merek Armani. 

Dia sering menggerakkan otot biseps dan dadanya. Milad sering mabuk-mabukan di dalam mobil SUV yang sudah dimodifikasi, terlalu banyak menenggak minuman keras, punya banyak pacar. Sejak perang dengan Israel Juli 2006 yang menghancurkan ekonomi Lebanon dan memperkuat Hizbullah, usaha ubinnya ikut terpukul, tetapi Milad berharap dapat bertahan dalam badai krisis ini, seperti berbagai krisis sebelumnya.
Di penjuru negeri, kondisi labil yang kronis ini mendorong pengangguran hingga 20 persen, membuat para investor asing takut, dan meredupkan dunia perdagangan yang dulu pernah berjaya di negara itu. Sepekan sebelumnya di jantung wilayah kaum Maronit di sepanjang Lembah Qadicha, aku singgah di sebuah toko di Bcharre, sebuah kota di tepi tebing yang menjadi kota kelahiran penyair Khalil Gibran. “Pengunjung pertama hari ini,” kata perempuan berambut gelap dari balik meja. Nama perempuan itu Liliane Geagea. Saat itu pukul 11.00 pagi di suatu hari Sabtu yang cerah di bulan April, musim wisatawan, tetapi tempat itu sepi. “Dengan semua masalah itu, orang enggan datang ke sini. Semua orang menabung agar bisa meninggalkan tempat yang gila ini. Aku juga begitu. Sudah 45 tahun aku tinggal di negara ini, sebagian besar dalam perang dan rasanya sudah cukup lama. Aku sudah capek, begitu juga keluargaku. Putriku kuliah di Universitas Beirut. Apabila sudah lulus nanti, nasihatku untuknya adalah: Pergilah ke Amerika, pergilah ke Eropa atau Australia, tidak jadi soal ke mana. Yang penting, keluar dari sini, dan bawa aku.”

Milad tidak punya opsi untuk pergi, dan begitu pula ribuan pemuda tangguh seperti dirinya yang sering berkumpul di balai pertemuan milisia untuk mendiskusikan “situasi” dan mematuhi keputusan partai untuk menjalin persekutuan politik, dan bukan berperang. Namun, yang membuat mereka gelisah adalah jika jumlah senjata mereka lebih sedikit daripada senjata musuh. Milad menunjukkan kekuatan otot lengan atasnya, menepuk popor senapannya, sambil menyeringai. “Kami masih punya senjata,” katanya, sambil menyentuh salah satu senapan M16 yang rajin dia minyaki dan selalu siap di lantai basemen. “Tetapi, sekarang senjata kaum Shiah lebih banyak.” Dia memberi isyarat keluar jendela, ke kompleks apartemen yang dipenuhi lubang peluru di seberang jalan empat jalur yang ibarat batas internasional yang sarat permusuhan. “Hizbullah mengendalikan segalanya di seberang jalan itu,” katanya. “Dan mereka itu orang-orang gila. Mereka punya alat peluncur roket, RPG, dan aneka senjata lainnya, yang dipasok Iran. Jelas sekali, kami harus selalu melindungi daerah permukiman dan keluarga kami. Tetapi sekarang ini, jika terjadi baku tembak, kami pasti kalah. Jadi, sekarang kami mendukung perdamaian.”

DI TEMPAT YANG BERJARAK BEBERAPA JAM KE TIMUR garis batas perang antara kaum Muslimin dan Kristen di Beirut, komunitas di Suriah mengingatkan, bahwa di balik permusuhan dewasa ini, betapa erat sesungguhnya hubungan antara kedua agama tersebut. Ada berbagai oasis toleransi—dulu ada di mana-mana, sekarang tinggal sedikit saja—tempat orang Kristen dan Muslim saling menghadiri upacara pernikahan dan pemakaman, serta saling beribadah di rumah ibadat pihak yang lain. Di sejumlah biara, orang Kristen masih sering bersujud saat berdoa—kebiasaan di zaman Bizantium yang mungkin dikagumi dan diterapkan kaum Muslim di masa-masa awal dulu. Sejumlah gereja masih sering melaksanakan misa dalam bahasa Armaik atau bahasa Siriak, bahasa praIslam.

Pada suatu siang aku mendaki ke biara Bunda Kudus dari Saydnaya, biara Kristen Ortodoks Yunani yang berada di puncak tebing di Suriah yang tetap kokoh, meski berkali-kali mengalami pergolakan kekaisaran sejak 547. Begitu berada di dalam, kudapati diriku tidaklah berada di tengah-tengah umat Kristen, melainkan dalam kerumunan keluarga-keluarga Muslim yang datang untuk meminta berkah dari Perawan Maria, yang kekuatan penyembuhan dan kesuburannya telah menarik orang-orang yang membutuhkan selama hampir 1.500 tahun.

Di saat mataku mulai terbiasa dengan pendaran cahaya lilin di ruangan dalam, kuperhatikan seorang perempuan berjilbab menyorongkan bayinya yang dibalut selimut ke sebuah tempat yang jadi pusat dari tempat ibadah itu. Di titik yang dikelilingi oleh sejumlah patung yang sudah menghitam karena jelaga itu, sebuah pelat kuningan menutupi gambar Maria yang konon dilukis oleh St. Lukas. Gambar itu diyakini menimbulkan inspirasi meskipun terhalang dari pandangan. Dengan mata terpejam dan bibir komat-kamit memanjatkan doa tanpa suara, ibu si bayi menempelkan wajah bayinya dengan lembut ke pelat logam untuk beberapa lama. Kemudian di luar, kutemui perempuan itu dan keluarganya. Mereka datang mengendarai mobil dari Damaskus setelah salat Jumat di masjid.

Karena berhati-hati menghadapi orang asing, mereka hanya memberitahukan nama anak mereka yang sedang sakit, Mahmoud. Usianya baru tujuh bulan, dibungkus selimut hijau, terbaring diam seperti sudah meninggal, matanya terpejam, nyaris tidak bernapas. Wajahnya cokelat tua agak kelabu. “Kata dokter, dia sudah tidak bisa menolong Mahmoud dan meminta kami mengirimnya ke Amerika untuk dioperasi,” kata ibunya. “Itu mustahil, jadi kami mengharapkan keajaiban. Aku Muslim, tetapi dulu sekali, keluargaku penganut Kristen. Aku percaya kepada para rasul—Muslim, Yahudi, dan Kristen—dan aku percaya kepada Maria. Aku datang ke sini agar putraku sembuh.”

Adegan seperti itu mencerminkan sejarah koeksistensi damai antara kaum Muslimin dan penganut agama lain di Levant, yang pernah terjadi di masa awal Islam. Ketika Khalifah Umar bin Khatab menaklukkan Suriah dari Kekaisaran Bizantium sekitar tahun 636, dia melindungi umat Kristen di bawah pemerintahannya, memperbolehkan mereka tetap memiliki gereja dan beribadat sebagaimana yang mereka inginkan. Namun begitu, banyak penganut Kristen yang berpindah ke agama Islam, lebih memilih untuk menjalin komunikasi pribadi dengan Tuhan, tidak melalui hierarki Gereja Bizantium yang menindas. Cucu lelaki gubernur Damaskus terakhir yang beragama Kristen, yang setelah dewasa menjadi ahli teologi St. Yohannes Damascene, menyimak pembicaraan para pemeluk baru ini tentang Islam—kesediaan mereka menerima Kitab Perjanjian Lama dan Baru, rasa hormat mereka kepada para nabi Yahudi, pemujaan mereka terhadap Yesus dan Maria—dan menyimpulkan bahwa ini adalah salah satu dari sekian banyak penyimpangan dari ajaran Kristen yang menyebar di Kekaisaran Bizantium, di luar jangkauan penguasa gereja di Konstantinopel. Dia sama sekali tidak mempertimbangkan, bahkan menulis bertahun-tahun kemudian, bahwa Islam mungkin menjadi agama tersendiri. Ketika beberapa khalifah berikutnya memberlakukan pajak yang berat kepada penganut Kristen, perpindahan agama semakin gencar dilakukan penduduk desa yang miskin. Bagi para penganut Kristen Arab masa awal yang menamakan Tuhan (dan juga yang sekarang) sebagai Allah, menerima ajaran Islam ibarat melangkah menyeberangi sungai kecil, bukan melompati ngarai.

“Kita tidak mungkin hidup berdampingan dengan orang lain selama seribu tahun dan memandang mereka sebagai anak-anak Setan,” begitu pengamatan Paolo Dall’Oglio, seorang pendeta bertubuh besar berpenampilan kasar yang mengajak kaum Muslimin ikut serta dalam dialog antaragama di Deir Mar Musa, biara abad keenam di gurun antara Damaskus dan Homs. Biara itu dia pugar bersama sejumlah orang Arab pengikutnya. “Berlawanan dengan itu, kaum Muslim sama seperti kami. Ini adalah pelajaran yang belum dipelajari oleh dunia Barat dan umat Kristen Arab secara unik memiliki keahlian untuk mengajar. Mereka adalah mata rantai terakhir yang amat penting yang menghubungkan penganut Kristen Barat dan dunia Muslim Arab. Jika para penganut Kristen Arab lenyap, kedua pihak tersebut akan terpisah semakin jauh dibandingkan sekarang. Mereka berperan sebagai perantara.”

KEMBALI KE JERUSALEM, Mark dan Lisa sudah lama sadar tentang peran yang mungkin dimainkan umat Kristen Arab dalam percaturan geopolitik dewasa ini. Namun, mereka tinggal di bagian dunia yang bergolak dan di daerah seperti itu para perantara selalu terancam bahaya ditekan—oleh kaum Muslimin, oleh Yahudi, atau oleh para penganut Kristen Barat yang (tidak berbeda dari para pejuang perang salib) tak mempedulikan mereka di kala orang-orang Barat itu sendiri sibuk menancapkan klaim mereka atas tanah suci Tuhan.

Pada pagi di hari Paskah, Mark dan Lisa tampil serasi dengan dalam pakaian yang biasa mereka kenakan di hari Minggu saat pergi ke gereja, membimbing tangan Nate dan Nadia di trotoar menuju mobil keluarga, sebuah Honda agak tua berwarna merah anggur. Ini adalah momen yang membanggakan, Paskah pertama mereka bersama-sama di Tanah Suci dan Lisa yang melihat lapisan debu tebal mengotori mobil meminta Mark untuk membersihkannya. Mark mengambil selang, lalu menyambungkannya ke keran air yang digunakan bersama para tetangga. Para tetangga yang mengenakan kafiyeh dan jilbab itu juga keluar ke teras, berdiri, dan memperhatikan. Dengan suara yang dilucu-lucukan, Lisa menjelaskan kepada anak-anak bahwa Ayah memandikan mobil untuk menyambut Paskah. Seakan sudah direncanakan, dengan penuh gaya Mark memijit mulut selang. Tidak ada air yang memancar. Dia memeriksa keran, memijit lagi. Masih tetap tak ada air yang memancar. Jadi, dia berdiri di situ, memegang selang yang kering, di hadapan anak-anaknya, tetangganya, dan seorang tamu dari luar negeri. “Saya rasa airnya dialihkan ke daerah permukiman,” katanya perlahan memberi isyarat dengan menunjuk ke ratusan rumah baru milik pemukim Israel yang memenuhi lereng bukit di dekat sana. “Tidak ada lagi (air) untuk kami.” Lisa masih terus berusaha menjelaskan kepada anak-anak di saat mobil meninggalkan tepi jalan.

“Aku benci pada orang Israel,” kata Lisa di suatu hari, secara tiba-tiba, benar-benar tak terduga. “Aku benar-benar benci pada mereka. Kami semua membencinya. Kurasa bahkan Nate juga mulai membenci mereka.”
Apakah itu dosa? Tanyaku.

“Ya,” jawabnya. “Dan hal itu membuatku menjadi pendosa. Tapi, aku mengaku dosa sewaktu pergi ke gereja, dan itu terasa meringankan. Aku sedang belajar untuk tidak membenci. Untuk sementara ini, yang dapat kulakukan hanyalah mengaku dosa.”

“Perasaan benci menghancurkan semangat orang yang membenci,” kata Romo Rafiq Khoury, seorang pendeta Palestina bersuara lembut yang sering mendengar pengakuan dosa di keuskupan Latin Patriarchate di Yerusalem. “Namun, bahkan di tengah semua permasalahan ini, semua kekerasan dan kekecewaan yang membuat para penganut Kristen ini menjauh, kita bisa menyaksikan kehidupan baru di wajah kaum muda dan mengalami harapan yang merupakan karunia Tuhan bagi umat manusia. Itulah ajaran Paskah.”

Namun, bahkan di saat Paskah pun, para penganut Kristen Arab tampaknya terlupakan. Pada suatu malam di Jerusalem Timur, aku menemani Lisa dan Mark mengikuti misa Jumat Agung di Gereja Segala Bangsa yang besar di sebelah Taman Getsemani. Mark yang tidak merasa nyaman jika berada dalam kerumunan orang menunggu di luar bersama Nate dalam udara malam yang sejuk, tetapi Lisa sudah mengikuti misa ini sejak masih kecil dan ingin masuk ke dalam. Jumlah orang yang berkerumun tidak terlalu banyak dan kami berdiri di dalam gereja di bagian belakang, jauh dari deretan bangku, beberapa meter dari pintu. Lisa sudah mendudukkan Nadia di kereta bayi. Ketika kami berdiri di sana mengagumi altar dan ruang depan yang berornamen, para penganut Kristen yang berlalu-lalang di Jerusalem tiba-tiba membanjir masuk gereja, seperti wabah yang disebutkan dalam Perjanjian Lama.

Ratusan peziarah berdesakan melewati kedua daun pintu gereja, mengisi ruangan yang sangat luas itu dengan tubuh-tubuh hangat dan mendorong kami semakin ke dalam. Suhu naik dengan cepat, dan udara mendadak terasa pengap. Kuamati wajah Lisa dan dia tampak cemas sambil mencengkeram kereta bayi dan berusaha mempertahankan diri agar tidak terdorong oleh arus manusia yang mengalir memasuki gereja. Kerumunan orang Belanda, 
Jerman, Korea, Nigeria, Amerika, Prancis, Spanyol, Rusia, Filipina, Brasil, terus merasuk ke depan, dengan penuh dahaga berusaha maju sedekat mungkin dengan Tuhan.

Tiba-tiba saja keputusan Lisa untuk mengajak Nadia seakan-akan sebuah kekeliruan. Lewat tinggi pandangan mata, orang melihat ruang yang ditempati kereta bayi Nadia itu seakan kosong, sehingga dengan agresif mendorong masuk untuk mengisi ruang kosong itu tanpa menyadari ada anak kecil sedang tidur di bawah hingga mereka nyaris jatuh menimpanya. Mata Lisa terbelalak di saat kami berusaha keras melindungi Nadia agar tidak ditimpa badan orang. Ibarat mengarungi kubangan air setinggi dada, kami berusaha membuka jalan untuk kereta bayi menuju ke pintu gereja. Beberapa orang peziarah asing tampak geram melihat perempuan Arab bertubuh mungil ini bergerak melawan arus dan terjadi sedikit adu fisik di saat kami membuka jalan melalui kerumunan orang. Setelah kami berhasil melewati pintu, kerumunan orang mulai agak menipis. Lisa bersandar, berusaha keras agar suaranya terdengar di tengah-tengah hiruk pikuk yang ada di sekeliling kami. “Kaulihat keadaannya?” tanyanya sambil megap-megap di bukit tempat Yesus menghabiskan malam terakhirnya di Bumi. “Ini rumah kami. Tapi, kami bahkan seakan tidak berada di rumah sama sekali!”


January 8, 2011

Sejarah Kerudung

1 Kor 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. 


1 Kor 11:13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? 

Orthodox Etiopia
Ethiopian church women
Dalam alkitab Perjanjian Lama ada kisah pelarian Nabi Yakub ke Mesopotamia di mana ia jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Rachel. Setelah bekerja selama 7 tahun sebagai mas kawin, Yakub malahan dinikahkan dengan Lea, saudaranya Rachel. Dikisahkan Laban, sang ayah, “menipu” Yakub dengan memberikan Lea sebagai pengantin wanita pada hari pernikahan. Yakub tak mengetahui hal itu. Akhirnya memang kemudian Rachel menjadi istri ke-2 Yakub setelah Yakub bekerja 7 tahun lagi pada Laban sebagai mas kawin. Laban beralasan bahwa sesuai adat, Rachel tidak boleh melangkahi kakaknya untuk menikah. Mengapa ”penipuan” Laban ini sukses? Karena menurut adat mesopotamia pada jaman itu seluruh tubuh pengantin ditutup dengan kain hingga hanya terlihat kedua matanya. 




Kerudung telah menjadi budaya di mesopotamia sejak 3000SM. Perempuan terhormat harus menggunakan kerudung untuk menbedakan dari budak dan pelacur pada jaman itu. Kerudung juga merupakan simbol kelas menengah atas masyarakat di tiga kawasan yaitu mesopotamia, babilonia dan asyiria pada jaman itu.


Gereja Orthodox Yunani di kota Amman, Jordania.
Jelaslah bahwa kerudung bukanlah tradisi orisinil Yahudi dan Arab. Namun sampai hari ini masih dilestarikan oleh Yahudi, Kristen Timur dan Islam. Kalau kita masuk ke gereja-gereja Kristen Timur, baik yunani maupun oriental orthodox, maka kita akan melihat setiap wanita yang beribadah mengenakan kerudung. Di Indonesia pun, saya melihat demikian ketika saya beribadah di gereja Orthodox Rusia di Jakarta. Hal ini sangat berbeda jauh dengan suasana di gereja-gereja barat/latin, baik Katolik maupun Protestan. Jangankan kerudung, bahkan saat beribadah pun masih banyak yang menggunakan bayu ”you can see” dan rok mini. *sigh


Umat Perempuan memakai kerudung ketika memasuki Gereja untuk Sholat dan ber Liturgy.
Gereja Orthodox Syria di kota Allepo, Syria.
Di Kristen, melalui perjanjian baru, pemakaian kerudung juga dianjurkan, namun tidak disyariatkan seperti di dalam talmud yahudi. Namun kebanyakan gereja orthodox menafsirkan bahwa kerudung harus dilestarikan wanita saat beribadah seperti ajaran Rasul Paulus. Sedangkan gereja modern Katolik dan Protestan menekankan bahwa kerudung harus dilihat dalam konteks Paulus yang masih sangat terpengaruh tradisi Yahudi jaman itu.


Umat Perempuan memakai kerudung ketika memasuki Gereja untuk Sholat dan ber Liturgy.
Gereja Orthodox Yunani di kota Bethlehem, Palestina.
Tapi sesungguhnya, kalo kita perhatikan bahwa kerudung pun mencapai pengaruhnya ke benua eropa barat. Lihat saja pakaian tradisional Belanda dan Itali yang wanitanya mengenakan tutup kepala walau memang secara bentuk telah berubah dari aslinya.


Pergeseran makna kerudung di Kristen sendiri terjadi pergeseran makna dari semula yang artinya ”tabir” menjadi penutup aurat wanita pada abad ke-4 sebelum Islam lahir. Dalam mitologi Persia kuno, kerudung bahkan dianggap sebagai ”kemah menstruasi” yaitu tempat pengasingan untuk perempuan yang sedang datang bulan. Nama2 kerudung pun berbeda-beda sesuai dengan budaya di banyak tempat. Bentuknya pun bermacam-macam.


Gereja Orthodox Yunani di kota Gaza, Palestina.
Dilihat dari sejarah awal bahwa kerudung ternyata memang bertujuan baik karena untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi perempuan, dan sama sekali bukan merendahkan seperti banyak yang disebut orang barat. Pernah ada kisah jaman dulu bahwa ada perempuan yang sedang buang hajat dan tidak berkerudung lalu diganggu laki-laki iseng karena disangka budak.




Berbeda dengan yahudi, tradisi kerudung masuk ke arab dari mesopotamia melalui jalur perdagangan. Terjadi pada masa imperium Kristen Byzantium (turki). Bahwa secara geokultural, kerudung sangat bermanfaat bagi perempuan-perempuan di timur tengah karena matahari yang terik dapat merusak kulit mereka.


Kerudung menjadi eksklusif sebenarnya terkait dengan kemenangan Khomeini atas Syah Pahlevi. Simbol kemenangan timur atas dunia barat. Sejak itulah kerudung menjadi trend dan masuk ke kampus-kampus sekuler.


Jadi menurut saya, tidak layaklah untuk siapapun alergi apalagi anti terhadap kerudung karena tujuannya adalah baik. Biarlah orang memilih untuk menggunakannya atau tidak. Jika memang seorang wanita (apa pun agamanya) merasa aman dan nyaman untuk berkerudung, maka kita baik untuk mendukungnya.




Last but not least, tau dengan sosok Perawan Maria yang berkerudung? Umat Katolik dan Orthodox sangat menghormati dan meneladani sikap beliau. Umat Muslim pun mengenalnya dengan nama Maryam ibunda Isa Almasih.


Semoga kisah tentang kerudung di atas menambah wawasan kita untuk dapat melihatnya secara konteks sosio-kultural selain konteks teologis. Dan saya sertakan beberapa gambar kerudung yang digunakan oleh wanita Kristen Orthodox.