January 6, 2011

Tahta Suci dan Tahta St Petrus

oleh: P. William P. Saunders *
Dalam liputan berita mengenai pemakaman Paus Yohanes Paulus II dan juga conclave, istilah “Tahta Suci” seringkali disebut. Saya yakin yang dimaksudkan adalah paus dan Vatican. Benarkah demikian? Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Springfield

Istilah Tahta Suci berasal dari bahasa Latin Sancta Sedes, artinya “Kursi Suci,” bermula dari upacara penobatan Uskup Roma, yaitu paus. Tepatnya, cathedra, yang berarti kursi atau tahta, melambangkan kedudukan dan wewenang Bapa Suci atau seorang uskup, dan tempat di mana ia tinggal dalam wilayah yang termasuk wewenangnya. Di sini, Tahta Suci menunjuk pada “kursi pemerintahan” Gereja universal. Secara geografis, kursi pemerintahan ini berada di Keuskupan Roma. Dalam istilah pemerintahan yang sesungguhnya, Tahta Suci secara spesifik menunjuk pada kedudukan Bapa Suci, yang “berdasarkan tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, #22), dan diperluas hingga ke Kuria Romawi, yang terdiri dari Sekretariat Negara atau Kepausan, Dewan Urusan Umum Gereja, Kongregasi-kongregasi, Pengadilan-pengadilan, dan Lembaga-lembaga lainnya (Kitab Hukum Kanonik, #360).

Istilah “Tahta Suci” juga disamaartikan dengan istilah “Tahta Apostolik”. Kitab Hukum Kanonik mendefinisikannya sebagai berikut: “Dengan nama Tahta Apostolik atau Tahta Suci dalam Kitab Hukum ini dimaksudkan bukan hanya Paus, melainkan juga Sekretariat Negara, Dewan Urusan Umum Gereja, Lembaga-lembaga lain Kuria Romawi, kecuali jika dari hakikat perkara atau konteks pembicaraannya ternyata lain” (Kitab Hukum Kanonik, #361).

Istilah “tahta,” berasal dari bahasa Latin “sedes,” sesungguhnya merupakan istilah teknis bagi semua keuskupan dan tempat kediaman para uskup. Sebagai contoh, Mgr Yohanes Hadiwikarta (alm) adalah uskup dari “Tahta Surabaya” dan katedral kediamannya adalah Katedral Hati Kudus Yesus, juga di Surabaya; katedral juga adalah tempat cathedra atau tahta uskup. Pada awalnya, sedes menunjuk pada Gereja-gereja yang dibangun para rasul, dan di kemudian hari secara istimewa terbatas pada lima tahta patriarkat besar: Roma, Kosntantinopel, Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem; yang menarik, hingga saat ini, keempat Gereja-gereja Patriarkal ini (Gereja-gereja Ortodoks Timur) mengakui keunggulan Roma dan mengakui primat kehormatan Bapa Suci.

Pemahaman dan susunan ini tercermin dalam maklumat para paus. Sebagai contoh, Paus Gelasius I (492-496) menyatakan, “Est ergo prima Petri apostoli sedes” (“Karena itu, pertama-tama adalah Tahta Rasul Petrus”). Dalam Liber Pontificalis oleh Paus Leo III (795-816), tercatat sebagai berikut, “Nos sedem apostolicam, quae est caput omnium Dei ecclesiarum judicare non audemus” (“Kami tidak berani mengadili Tahta Apostolik, yang adalah pemimpin dari segenap Gereja-gereja Allah”). Jelas, istilah “Tahta Suci” dan “Tahta Apostolik” mengalami perkembangan hingga secara spesifik menunjuk pada wewenang Bapa Suci dan Keuskupan Roma.

Sungguh menarik bahwa setiap tanggal 22 Februari, Gereja merayakan Pesta Tahta St Petrus. Merayakan pesta sebuah “kursi” terasa janggal, saat kita pertama kali mendengarnya. Tetapi, “kursi” yang dimaksud menunjuk pada primat dan wewenang yang dipercayakan Yesus Kristus kepada St Petrus, di mana keduanya secara bersama-sama merupakan suatu kekuatan pemersatu bagi segenap Gereja; jadi, sungguh, “Tahta Suci” yang sesungguhnya dirayakan dan dihormati. Primat dan wewenang ini dilambangkan dengan kursi St Petrus yang ditempatkan dekat dinding di belakang altar utama Basilika St Petrus, dalam suatu pahatan karya seni oleh artis Bernini; pahatan tersebut merupakan wadah reliqui dari apa yang secara tradisional diyakini sebagai kursi asli atau cathedra St Petrus. Lagi, yang terpenting bukanlah hal keaslian kursi itu sendiri, melainkan apa yang dilambangkan oleh kursi tersebut, yaitu Tahta Suci.

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Holy See and the Chair of St. Peter” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Kain Kafan Turin

oleh: P. Gabriele Antonelli, CP.Lic.Theol







1. Apa itu Kain Kafan Turin?


Kain Kafan Kudus, yang dalam bahasa Italia biasa disebut “La Santa Sindone” (= Kafan Kudus), adalah sehelai kain linen berukuran kurang lebih 4,36 x 1,10 meter; pada kain kafan terlihat gambar, baik bagian depan maupun bagian belakang, dari seorang laki-laki yang wafat setelah mengalami serangkaian aniaya dengan didera, dimahkotai duri, dipakukan pada salib, dan lambungnya ditikam dengan tombak. Kain ini diyakini sebagai kain yang dipergunakan Yusuf dari Arimatea untuk membungkus tubuh Yesus Kristus (Matius 27:59).



2. Bagaimana Sejarah Singkat Ditemukannya Kain Kafan?


Dalam hal ini perlu kita ingat dua peristiwa penting. Pertama: kota Yerusalem dihancurkan oleh balatentara Roma pada tahun 70 Masehi; semua penduduknya melarikan diri, termasuk Gereja awali. Kedua: peristiwa yang sama dan bahkan terlebih dahsyat terjadi pada tahun 132. Seluruh Palestina dihancurkan; sebagian besar penduduknya dibunuh sementara sebagian lainnya berhasil melarikan diri dan dilarang kembali ke kampung halaman mereka. Sepanjang kejadian ini, Kain Kafan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya dilarikan ke luar Palestina.


Pada abad kedua, di kota Edessa, Turki selatan, didapati suatu gambar khusus di atas kain yang diyakini sebagai Wajah Yesus.


Pada tahun 525, sewaktu diadakan renovasi Gereja Santa Sofia di Edessa, ditemukan kembali gambar “Wajah Yesus” di atas kain yang disebut Mandilion (= sapu tangan); gambar Wajah Yesus diyakini sebagai acheropita (= tidak dibuat oleh tangan manusia). Wajah Kudus Edessa dijadikan model untuk ratusan gambar Yesus pada masa itu.


Pada tanggal 16 Agustus 944, Mandilion dibawa dengan perarakan meriah ke kota Konstantinopel. Setelah Mandilion dibuka untuk perbaikan bingkainya, ternyata kain didapati lebih besar dari yang nampak. Ternyata, kain itu dilipat delapan kali (= tetradiplon), dan gambar yang terdapat pada kain bukan hanya gambar Wajah Yesus, melainkan seluruh tubuh-Nya, bagian depan dan belakang. Sejak tahun 1578, Kain Kafan disimpan di Kapel Kerajaan di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di kota Turin (= Torino), Italia.



3. Apa yang Menarik dari Kain Kafan?


Pameran pertama Kain Kafan di Turin diadakan pada tahun 1898. Pada kesempatan itu, Secondo Pia, seorang fotografer Italia, diijinkan untuk membuat foto pertama Kain Kafan. Hasilnya amat menghebohkan; hasil foto itu seharusnya kelihatan seperti foto negatif, tetapi ternyata kelihatan sebagai foto positif, dengan demikian dapat dilihat lebih banyak hal yang sebelumnya tak terlihat oleh mata telanjang.


Setelah foto pertama itu, banyak lagi dibuat foto Kain Kafan oleh orang-orang lain juga dengan alat-alat yang semakin canggih sehingga semakin banyak detail yang dapat dilihat. Dari sana, dimulailah penelitian-penelitian seksama atas Kain Kafan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan hingga sekarang ini.



4. Apa saja yang Ditemukan Para Ilmuwan?


Pada Kain Kafan para ahli mendapati noda-noda darah dan serum yang tidak bisa dibuat manusia. Darah adalah darah yang membeku di atas kulit seorang yang terluka, dan yang kemudian mencair kembali (= fibrinolisis) karena bersentuhan dengan kain lembab. Darah dari golongan AB; jenis golongan darah yang paling langka. Warna darah adalah merah kendati darah telah mengering, hal mana disebabkan karena Manusia Kain Kafan mati dalam penyiksaan yang hebat.


Darah Manusia Kain Kafan sama dengan darah pada Kain Peluh yang disimpan di Oviedo (Spanyol), yakni kain berukuran kurang lebih 83 x 52 cm dengan noda-noda darah sama seperti pada Kain Kafan. Menurut tradisi, Kain Peluh Oviedo yang biasa disebut Sagrado Rostro atau Wajah Kudus ini datang ke Spanyol dalam sebuah peti melalui Afrika Utara. Darah pada Sagrado Rostro memiliki golongan darah dan profil genetik yang sama dengan yang didapati pada Kain Kafan dan sama juga dengan darah pada Mukjizat Lanciano.


Gambar pada Kain Kafan merupakan foto negatif. Gambar hanya pada permukaan kain, tridimesional dan stabil secara ilmiah. Gambar didapati stabil juga dalam air, tanpa pigmen, tanpa arah, dan tidak terjadi karena tubuh bersentuhan dengan kain. Jadi, didapati juga gambar di tempat-tempat di mana kain tidak bersentuhan dengan tubuh. Hitam-putihnya gambar tergantung dari jarak dekat-jauh antara tubuh dan kain. Para ahli menyimpulkan bahwa gambar terjadi karena suatu radiasi cahaya dari tubuh itu sendiri.



5. Ada Begitu Banyak Teori dan Hipotesa, lalu Apa yang Pasti Mengenai Kain Kafan?


Banyak ilmuwan berusaha membuat gambar yang sama seperti pada Kain kafan, bertolak dari kemungkinan bahwa Kain kafan adalah palsu atau sekedar lukisan. Dilakukan eksperimen vaporograi, kontak, atau dengan strinatura, namun tak satu eksperimen pun berhasil membuat gambar sama seperti gambar pada Kain Kafan.


Eksperimen serupa dilakukan Dr Sebastianus Rodante dengan menyemprotkan cairan kering dan darah pada wajah mayat, lalu ditutup dengan kain yang sudah dibasahi dengan cairan mur dan aloe. Gambar terjadi setelah kontak selama 36 jam. Tetapi, gas amoniak yang keluar dari mulut mayat, akibat proses pembusukan, merusakkan hasilnya. Gas amonia menyebar ke segala arah, bukan hanya ortogonal (atas bawah) seperti terjadi pada Kain kafan. Sementara pada Kain Kafan sama sekali tidak didapati adanya tanda-tanda terjadinya pembusukan.


Jadi, gambar PASTI bukan hasil alat-alat artifisial. Bukan lukisan dan bukan cetakan; sama sekali tidak didapati adanya pigmen. Bukan hasil vaporografi, yakni proses dimana campuran rempah-rempah, gaharu, serta minyak menimbulkan reaksi dengan amonia yang dikeluarkan tubuh sehingga membentuk suatu gambar pada kain. Bukan juga hasil strinatura, yakni kain ditempelkan pada patung panas, sebab gambar hasil strinatura tembus pada kain, condong hilang dan pantulan cahayanya berbeda dengan yang ada pada Kain kafan.



6. Jadi, Kain Kafan Bukan Hasil Rekayasa Seniman Abad Pertengahan?


Pada Abad Pertengahan sama sekali tidak ada pengetahuan tentang pencambukan dan penyaliban, sebab hukuman itu sudah tidak dipakai lagi sejak akhir abad pertama. Seandainya Kain Kafan adalah hasil pemalsuan dari abad pertengahan, si jenius pemalsu tentunya tidak membuat sesuatu yang bertentangan dengan ikonografi pada masa itu, yakni: mahkota duri seperti helm, memikul patibulum (= palang, dan bukan salib), paku pada pergelangan tangan, telanjang total dan tanpa kayu penahan kaki. Mestinya juga ia memperhatikan adat pemakaman orang Yahudi pada masa Kristus.


Si pemalsu haruslah memakai mikroskop untuk menambah beberapa elemen yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti sari bunga, serum, rempah-rempah, aragonit; padahal mikroskop baru ditemukan pada akhir abad keenambelas. Ia juga harus mengenal alat foto, padahal alat foto baru ditemukan pada abad kesembilanbelas. Ia harus mengenal pula dua jenis aliran darah, vena dan arteri, yang baru dikenal pada tahun 1593, dan menodai Kain Kafan dengan dua jenis aliran darah tersebut tepat pada tempatnya. Lagi, seandainya si pemalsu memiliki segala teknologi yang disebutkan di atas, ia seharusnya juga memiliki kecakapan serta alat-alat yang diperlukan untuk membuat gambar seperti Kain Kafan. Dan si pemalsu itu, yang luar biasa jeniusnya, tidak meninggalkan bekas, atau catatan, atau sesuatu yang di kemudian hari dapat dideteksi menggunakan alat-alat canggih seperti sekarang ini.


Yang pasti adalah bahwa Kain Kafan telah dipergunakan untuk membungkus jenasah. Itu berarti, jika Kain Kafan itu hasil rekayasa, maka si pemalsu adalah seorang pembunuh. Dalam kasus ini, tingkat kesulitan akan lebih tinggi. Pikirkan:
si pemalsu memakai seorang yang bentuk wajahnya sangat mirip dengan semua ikon “Wajah Kudus” yang beredar sebelumnya. Ia harus menyiksa korbannya begitu rupa demi mendapatkan luka-luka sesuai dengan ikon-ikon yang beredar. Ia harus menikam lambung korbannya dengan tombak Romawi dan membubuhkan darah dan serum. Ia harus membungkus jenasah korbannya selama kurang lebih 35 jam, tanpa membiarkannya mengalami pembusukan; hal mana sangat sulit, sebab tubuh orang yang mati karena penyiksaan akan lebih cepat membusuk. Dan akhirnya, ia harus “mengeluarkan” jenasah dari Kain Kafan tanpa mengakibatkan pergeseran dan merusak bekuan darah. Untuk ukuran saat ini saja, abad teknologi yang serba canggih, sangat sulit melakukan hal-hal seperti di atas, apalagi pada Abad Pertengahan!



7. Bagaimana Disimpulkan bahwa Kain Kafan berasal dari Palestina?


Ada beberapa alasan yang menyebabkan para ahli menarik kesimpulan bahwa Kain Kafan berasal dari daerah Palestina:
 cara kerja pembuatannya agak kasar: benang diputar arah Z (searah jarum jam); tenunannya 3 a 1, adanya bekas-bekas katun Mesir yang sangat kuno; tidak didapati serat binatang (wol), sesuai ketetapan hukum Yahudi yang tidak memperbolehkan mencampur benang alami dengan benang wol;
 didapati banyak sekali jenis sari bunga yang berasal dari Timur Tengah, di antaranya aloe (= gaharu) dan mur;
 didapati adanya aragonit, yaitu sejenis kalsium yang banyak ditemukan di gua-gua sekitar Yerusalem;
 didapati adanya bekas gambar mata uang yang diedarkan oleh Ponsius Pilatus pada tahun 29 M pada mata kanan dan kiri Manusia Kain Kafan.



8. Bukti2 Apa Saja yang Menguatkan bahwa Kain Kafan Sungguh Digunakan untuk Membungkus Tubuh Yesus?


Terdapat banyak kecocokan sempurna antara kisah Injil Sengsara dengan apa yang ditemukan pada Kain Kafan:
 penderaan tersendiri, terlalu banyak deraan sebagai pendahuluan penyaliban
 mahkota duri, hal yang tak lazim
 memikul patibulum
 dipaku, bukan diikatkan, pada salib
 luka pada lambungnya dan keluarnya darah dan serum
 kakinya tidak dipatahkan
 jenasahnya tidak dimandikan sebelum dimakamkan
 jenasahnya dibungkus dengan Kain Kafan baru yang mahal, bukan dibuang dalam lubang umum sebagaimana lazimnya
 tubuhnya tidak lama tinggal dalam Kain Kafan


Mustahil ada orang lain yang mengalami hal-hal yang persis sama dengan yang dialami Yesus. Mari kita lihat satu-persatu dengan lebih seksama kesamaan antara sengsara Manusia Kain Kafan dan sengsara Yesus Kristus:





Yesus Memanggul Salib




A. Penderaan


Pada tanggal 4 Desember 1532 terjadi kebakaran di Kapel Kastil Chambery di mana Kain Kafan disimpan. Kain Kafan selamat, tetapi terbakar di bagian pinggir lipatannya ketika reliquary perak - tempat Kain Kafan disimpan - mulai meleleh. Para suster Klaris yang diminta menambal Kain Kafan dan yang sempat mengamati gambar dengan seksama, mengatakan bahwa sekujur tubuh Manusia Kain Kafan penuh luka-luka hingga nyaris tidak ada tempat tanpa luka. Sekarang, berkat penelitian dan peralatan canggih dapat direkonstruksi bagaimana penderaan yang diderita Manusia Kain Kafan.


 Manusia Kain Kafan menanggung lebih dari 120 deraan, sementara hukum Yahudi memperbolehkan hanya 40 dikurangi satu deraan. Berarti hukuman dilakukan menurut hukum Romawi yang tidak membatasi jumlah deraan.
 Setiap deraan dilakukan secara sistematis, bukan sembarangan, berarti dilakukan oleh orang-orang yang profesional.
 Cambuk yang digunakan dilengkapi dengan dua bulatan timah atau tulang pada ujungnya.
 Manusia Kain Kafan didera dalam keadaan telanjang, kelihatan bekasnya di mana-mana di sekujur tubuh, dalam posisi terikat dan membungkuk. Ia didera sebelum memikul salib, berarti hukuman penderaan merupakan hukuman tersendiri. Barulah kemudian ia memikul palang salib (= patibulum) seperti terlihat dari luka-luka memar pada pundaknya di atas luka cambuk.



B. Mahkota Duri


Terdapat banyak luka tusukan akibat mahkota duri pada kepala Manusia Kain Kafan. Mahkota ini bukan terdiri dari satu atau dua lingkaran, melainkan lebih merupakan suatu mahkota berbentuk helm yang menutup seluruh kepala. Mahkota duri seperti tampak pada gambar atau patung yang banyak beredar sekarang adalah hasil devosi dan gaya lukis artis Eropa abad pertengahan.


Kepala, baik `kiri maupun kanan' menderita lebih dari 50 tusukan duri. Duri-duri itu menembusi juga beberapa pembuluh darah, vena dan arteri, seperti terlihat dari jenis darah yang membasahi seluruh kepala Manusia Kain Kafan. Ada dua noda darah akibat tusukan duri yang perlu kita beri perhatian secara khusus: Pertama, darah berbentuk angka tiga yang mengalir dari dahi Manusia Kain Kafan. Darah itu adalah jenis darah vena yang memancar dari pembuluh vena di dahi; berbentuk demikian sebab terhalang oleh kerut dahi akibat menahan rasa sakit karena tusukan duri. Yang Kedua adalah darah yang mengalir di bagian kanan atas kepala Manusia Kain Kafan. Darah itu memancar dari pembuluh arteri, dan karena tekanan yang kuat, maka mengalir lebih jauh.


Permasalahannya adalah: adanya dua jenis tekanan darah pada manusia, yakni vena dan arteri, baru ditemukan pada tahun 1595 oleh Andrea Cesalpino. Seandainya Kain Kafan adalah hasil rekayasa manusia abad ke-13, bagaimana mungkin si pemalsu bisa menempatkan kedua jenis darah itu tepat pada tempatnya, padahal ia tidak mengenal tekanan darah vena dan arteri?



C. Manusia Kain Kafan Memikul Patibulum


Sebagian besar lukisan Yesus memikul salib menggambarkan salib yang lengkap, dengan tiang dan palang. Lukisan macam itu merupakan hasil devosi dan bukan berdasarkan pengetahuan ilmiah. Dari penelitian cermat atas Kain Kafan, terlihat dua luka memar pada punggung Manusia Kain Kafan; yang kiri lebih rendah dari yang kanan. Seandainya ia memikul seluruh salib, luka akan terjadi di bagian atas bahu, dan bukan pada punggung. Mengingat si terhukum harus berjalan ke tempat eksekusi, maka bisa dipastikan bahwa kedua luka memar adalah akibat gesekan punggung dengan kayu patibulum.



D. Luka-luka pada Lutut


Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Kalvari, apabila pesakitan yang hendak disalibkan lebih dari satu orang, maka mereka akan diikatkan satu dengan yang lain agar tak dapat melarikan diri. Manusia Kain Kafan berjalan tertatih-tatih, sebab ia telah begitu lemah akibat penderaan, pemahkotaan duri, serta segala perlakuan kasar dan brutal yang dideritanya seperti terlihat jelas dalam Kain Kafan. Ditambah lagi, posisinya berada di urutan paling belakang dalam iring-iringan ketiga orang yang dijatuhi hukuman mati, membuat ia rentan jatuh berkali-kali dengan lutut dan wajahnya menghantam batu jalanan yang keras. Pada Kain Kafan ditemukan banyak “tanah lumpur” pada lutut, hidung dan tumit, jelas akibat benturan dengan batu jalanan.



E. Wajah Manusia Kain Kafan


Wajah Manusia Kain Kafan merupakan bagian tubuh yang paling dahsyat mengalami kerusakan. Tetapi wajah itu tetap memancarkan cahaya keagungan; sedih namun tetap tenang. Bukan seperti wajah orang yang telah mengalami sekian banyak penyiksaan.


Pada wajah Manusia Kain Kafan nampak sangat jelas akibat dari bermacam-macam siksaan, di antaranya:
 dipukul dengan tongkat kayu; lihat pipi kanan dan hidung
 mata kiri tertutup darah; darah juga terdapat pada mata kanan
 memar pada tulang pipi
 darah memancar dari hidung
 memar pada kelopak mata kiri dan kanan
 darah memancar dari bawah bibir atas


Setelah mengetahui apa yang terjadi pada wajah Manusia Kain Kafan, kita jadi lebih mudah memahami mengapa tradisi devosi Kristiani menempatkan seorang perempuan di jalan salib, Veronica, yang mengusap Wajah Kudus Yesus! Perhentian Jalan Salib ke-VI mencoba mengungkapkan justru devosi, hormat dan cinta terhadap Wajah Kudus itu.



F. Luka pada Tangan dan Kaki


Manusia Kain Kafan memperlihatkan tangan yang bersilang, tangan kiri di atas tangan kanan, sehingga kita bisa melihat luka paku hanya pada tangan kiri. Dari luka ini para ahli berkesimpulan bahwa paku menembusi pergelangan tangan di tempat yang disebut Destot. Dari luka pada pergelangan tangan ini terpancar tiga aliran darah: dua aliran langsung ke pinggir dan jatuh ke tanah, sementara satu aliran sampai ke siku.


Arah aliran darah yang berbeda ini bisa dijelaskan sebagai berikut: Manusia Kain Kafan dipaku tangannya dalam posisi berbaring di tanah pada patibulum, kemudian diangkat ke atas stipes (= tiang) sehingga posisi tangan berubah dari horisontal menjadi vertikal. Tangan kanan terlihat lebih tersiksa dari tangan kiri. Punggung tangan kelihatan rusak akibat gesekan dengan kayu. Pada tangannya tidak terlihat ibujari sebab ibujari tertekuk ke dalam akibat tarikan paku di pergelangan tangan.


Kaki kiri Manusia Kain Kafan tampak lebih pendek dari kaki kanan. Hal ini disebabkan kaki kiri ditempatkan di atas kaki kanan dalam penyaliban. Karena Manusia Kain Kafan menjadi kaku setelah kematiannya, maka kaki kiri tetap kelihatan lebih pendek.



G. Sakrat Maut dan Wafat di Salib


Biasanya orang yang disalibkan mati setelah mengalami sakrat maut yang panjang. Bapa Gereja Origenes mengatakan bahwa orang yang disalibkan bertahan “satu malam dan hari berikutnya.” Tetapi Yesus bertahan cuma beberapa jam saja. Apakah yang mengakibatkan-Nya wafat begitu cepat?


Beberapa hipotesa:


a. Asfissia: Manusia Kain Kafan tak dapat bernafas dalam posisi tergantung di atas salib seperti itu sehingga mengalami kejang otot dan akhirnya mati.
b. Kolaps ortostatik: yaitu tensi tiba-tiba turun, mengakibatkan kondisi tak sadar hingga koma dan mati.
c. Emotoraks: karena benturan keras pada dada (akibat jatuh) maka terjadi pendarahan pada paru-paru. Darah yang keluar dari luka-luka dalam itu terkumpul dalam pleura (kantung pembungkus paru-paru). Akibat terlalu banyak darah yang terkumpul di sana, Manusia Kafan tak dapat bernafas dan akhirnya mati.
d. Jantung pecah: sekarang sebagian besar para ahli yang mempelajari fenomena kematian Manusia Kain Kafan, dengan mempertimbangkan sebab-sebab intern dan ekstern Manusia Kain Kafan selama sengsara, berkesimpulan bahwa kematian terjadi akibat jantung pecah diikuti pendarahan cukup besar pada emoperikardium, yaitu kantong elastis yang membungkus jantung.


Mereka mengajukan bukti-bukti sebagai berikut:
1. seruan nyaring yang keluar dari tenggorokannya sebelum wafat, “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya” (Markus 15:37)
2. kematian-Nya yang cepat mengherankan Pilatus: “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati” (Markus 15:44)
3. noda darah dan air dari luka lambung.
4. “segera mengalir keluar darah dan air” (Yohanes 19:34); banyaknya darah dan air yang menyembur dari luka merupakan suatu hal yang aneh bagi orang yang sudah mati dan sudah kehilangan banyak darah.


Penjelasan Lanjut mengenai teori ini:
Orang yang mati karena jantung pecah diikuti emoperikardium akan berseru kesakitan sebelum mati; perikardiumnya dipenuhi darah hingga lebih dari satu liter. Jika orang yang mati demikian dibiarkan selama satu setengah atau dua jam dalam posisi vertikal, maka darah dalam perikardium akan terpisah menjadi dua bagian: yang merah di bagian bawah dan yang putih / kuning di bagian atas. Jika perikardium ditusuk, maka akan segera menyembur keluarlah isinya: darah dan air, yang dilihat oleh Yohanes.


e. “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yohanes 10:17-18). Alasan yang paling cocok dengan Injil dan seluruh rencana Allah adalah bahwa Yesus wafat karena Ia Sendiri menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya. Sebab Ia datang untuk menyerahkan Diri-Nya karena cinta-Nya kepada manusia.



H. Luka pada Lambung


Pada lambung kanan kita melihat sebuah luka terbuka; luka itu ternganga, artinya luka terjadi setelah orangnya mati. Luka itu panjangnya 4,5 cm, lebarnya 1,5 cm, dan dalamnya diperkirakan 5 atau 6 cm. Luka terjadi karena tombak, yang membuat luka itu masuk dari bawah ke atas dan menembusi perikardium sehingga “darah dan air” tersembur keluar. Semua yang dialami Manusia Kain Kafan, seperti tergambar pada Kain Kafan, kelihatan cocok sempurna dengan apa yang dialami Yesus seperti dicatat dalam Injil.



9. Adakah Penemuan-penemuan Terbaru?


Dr John Jackson dan Eric Jumper menemukan bahwa gambar Kain Kafan merupakan foto tiga dimensi. Di samping itu, mereka menegaskan beberapa hal berikut:


 gambar terjadi karena “bulu” Kain Kafan berubah warna. Di mana gambar lebih hitam, di situ didapati lebih banyak bulu berubah warna. Perubahan warna terjadi karena bulu mengalami dehidrasi (= kehilangan air)
 gambar adalah proyeksi vertikal pada meja horizontal
 tidak ada gambar kiri-kanan, sedangkan ada noda darah samping
 di bawah noda darah tidak didapati gambar. Artinya: darah melekat terlebih dahulu, sehingga menghalangi gambar terjadi di bawahnya.



10. Apa yang Masih Belum Diketahui Mengenai Kain Kafan?


Pada Kain Kafan tidak didapati adanya tanda-tanda pembusukan, berarti Manusia Kain Kafan hanya tinggal dalam Kain Kafan sekitar 30-36 jam. Tidak didapati tanda-tanda adanya pergeseran tubuh dalam Kain Kafan; tubuh seperti lenyap begitu saja dari Kain Kafan. Gambar terjadi karena suatu pancaran cahaya. Sebagian orang mengaitkan pancaran cahaya ini dengan peristiwa kebangkitan. Yang belum diketahui adalah mekanisme fisik-kimia yang menyebabkan terjadinya gambar, yakni pancaran sinar yang tidak menembus kain, yang semakin berkurang apabila semakin jauh dari sumber.



BEBERAPA CATATAN KHUSUS:


1. Manusia Kain Kafan dimakamkan secara layak dan pantas, sesuatu yang tak lazim bagi seorang yang dihukum mati disalib.
2. Manusia Kain Kafan tidak dimandikan.
3. Hanya orang kaya atau terpandang saja yang dapat menghadap penguasa meminta jenasah orang yang dihukum mati. Itulah Yosef dari Arimatea yang berani menghadap Pilatus, meminta jenasah Yesus, dan memakamkan-Nya secara pantas.
4. Manusia Kain Kafan tinggal hanya beberapa jam saja dalam makam, antara duapuluh sampai tigapuluh jam. Lebih lama dari tenggang waktu itu, pastilah jenasahnya sudah mulai mengalami proses pembusukan, sementara tidak didapati tanda-tanda pembusukan pada Kain Kafan.
5. Jenasah terpisah dari Kain Kafan secara istimewa atau luar biasa, sebab Kain Kafan pastilah melekat pada seluruh tubuh orang yang dibungkusnya, namun demikian tidak didapati adanya tanda-tanda jenasah dikeluarkan atau digeser pada Kain Kafan.
6. Kain Kafan disimpan orang kendati berlumuran darah. Hal ini secara historis tak dapat dimengerti, sebab bagi orang Yahudi, menyentuh makam atau benda-benda dalam makam menajiskan orang. Di samping itu, mengambil barang dari makam, selain menajiskan, juga diancam hukuman mati. Pastilah ada suatu alasan yang sungguh luar biasa, sehingga orang menyimpan Kain Kafan.



KESIMPULAN


Secondo Pia, fotografer yang pertama kali memotret Kain Kafan, membangkitkan amat banyak reaksi, terutama di kalangan para ilmuwan. Para ahli ini telah mendekati Kain Kafan terdorong keinginan untuk menyingkapkan misterinya. Dan justru pada abad teknologi ini, tersedianya peralatan-peralatan paling canggih memungkinkan manusia datang mempelajari misteri Kain Kafan dengan terlebih cermat dan seksama. Yesus menyapa setiap orang melalui foto negatif Diri-Nya yang ditinggalkan-Nya sebagai tanda kasih bagi kita, dengan berkata Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27).


Puluhan sektor ilmu pengetahuan telah mempelajari Kain Kafan. Anehnya, semakin dipelajari dan diselidiki oleh semakin banyak orang dengan berbagai ragam bentuk metode yang dilakukan justru dalam upaya untuk menyangkalnya, semakin terbuktilah kesesuaiannya dengan apa yang dicatat dalam Kitab Suci. Bapa Suci Paus Paulus VI mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan “satu ikon Sengsara Yesus.” Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa Kain Kafan merupakan Injil Kelima, sebab di sana “tertulis” dalam gambar-gambar yang sangat hidup seluruh pengalaman sengsara Yesus.


Orang-orang pertama yang menyangkal keaslian Kain Kafan adalah justru orang-orang Katolik. Tetapi, telah bangkit menentang mereka, banyak ilmuwan dari berbagai aliran kepercayaan dan ilmu pengetahuan. Lihat saja Ives Delage (agnostik); Max Frei (protestan); Adler (Yahudi); Pellicori (agnostik); Vernon Miller (mormon). Mereka ini semua yang telah mendekati Kain Kafan lebih sebagai peninggalan sejarah daripada reliqui, dan mempelajarinya dengan berbagai metode dan teknik yang berbeda, telah menyatakan bahwa Kain Kafan adalah asli. Pada tahap ini, kekaguman para ilmuwan haruslah diganti dengan kekaguman iman. Tidaklah cukup membuat daftar tanda-tanda sengsara seperti yang tergambar pada Kain Kafan; tidaklah cukup mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar Yesus dari Nazaret. Tetapi, lebih jauh, semuanya itu hendaknyalah menghantar kita pada iman yang lebih mendalam kepada Dia, Yesus Kristus yang kita imani, yaitu Dia yang telah menderita sengsara, wafat dan bangkit demi menebus umat manusia.


sumber : “Seminar Kain Kafan” oleh Pastor Gabriele Antonelli, CP.Lic.Thel.
edit dan tambahan: YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Sekilas Tentang Yohanes Paulus II







Karol Józef Wojtyla, yang dikenal sebagai Yohanes Paulus II sejak terpilih menjadi Paus, dilahirkan di Wadowice, sebuah kota kecil 50 kilometer jauhnya dari Cracow, pada tanggal 18 Mei 1920. Ia adalah yang bungsu dari dua putera pasangan Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowka. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang ketiga - bayinya lahir mati - pada tahun 1929. Kakaknya bernama Edmund, seorang dokter, meninggal pada tahun 1932 dan ayahnya seorang bintara angkatan bersenjata, meninggal pada tahun 1941.

Karol menerima Komuni Pertama pada usia 9 tahun dan Sakramen Penguatan pada usia 18 tahun. Setelah lulus dari SMA Marcin Wadowita di Wadowice, ia masuk Universits Jagiellonian, Cracow pada tahun 1938 dan juga belajar di sebuah sekolah drama.

Karol mengalami pergolakan perang di bawah pendudukan Nazi. Nazi menutup universitasnya pada tahun 1939 dan Karol yang masih belia harus bekerja sebagai buruh kasar di sebuah pertambangan (1940-1944), dan kemudian di pabrik kimia Solvay guna menyambung hidup dan menghindarkan diri dari deportasi, sebab sama seperti kebanyakan orang sebangsanya, Karol senantiasa berada dalam ancaman dideportasi ke Jerman.

Pada tahun 1942, di tengah kekacauan perang, ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang imam. Karenanya ia belajar di Seminari Cracow yang dikelola secara sembunyi-sembunyi oleh Kardinal Adam Stefan Sapieha, Uskup Agung Cracow. Pada saat yang sama, ia dan teman-temannya merintis “Teater Rhapsodic”, juga secara sembunyi-sembunyi.

Sesudah Perang Dunia II berakhir, ia melanjutkan kuliahnya di Seminari Utama Cracow, setelah seminari dibuka kembali, dan di Fakultas Theologi, Universitas Jagiellonian, hingga ditahbiskan sebagai imam di Cracow pada tanggal 1 November 1946. Masa-masa ini Pastor Wojtyla banyak dipengaruhi oleh ajaran dan pemikiran St. Louis Marie de Montfort dan St. Yohanes dari Salib.

Segera setelah pentahbisannya, Kardinal Sapieha mengirimnya ke Roma di mana ia bekerja di bawah bimbingan Garrigou-Lagrange, seorang Dominikan Perancis. Ia menyelesaikan doktoratnya dalam bidang theologi pada tahun 1948 di Angelicum, Roma dengan thesis bertopik Iman dalam Karya-karya St. Yohanes dari Salib. Pada masa itu, selama liburannya, ia menjalankan tugas pastoralnya di antara para imigran Polandia di Perancis, Belgia dan Belanda.

Pada tahun 1948, ia kembali ke Polandia dan menjabat Vicaris dari beberapa paroki di Cracow, sekaligus menjadi imam mahasiswa hingga tahun 1951, saat ia memutuskan untuk memperdalam studinya dalam bidang filsafat dan theologi. Pada tahun 1953 ia mempertahankan thesisnya yang berjudul “Evaluasi mengenai kemungkinan membentuk etika Katolik dalam sistem etika Max Scheler” di Universitas Katolik Lublin. Kemudian ia menjadi professor Theologi Moral dan Etika Sosial di Seminari Utama Cracow dan di Fakultas Theologi Lublin.

Pada tanggal 4 Juli 1958, Pastor Wojtyla diangkat sebagai Pembantu Uskup di Cracow oleh Paus Pius XII dan ditahbiskan sebagai Uskup pada tanggal 28 September 1958 di Katedral Wawel, Cracow oleh Uskup Agung Baziak.

Pada tahun 1960, ia menerbitkan bukunya yang sangat terkenal, “Cinta dan Tanggung Jawab”. Paus Paulus VI sangat kagum atas cara Uskup Wojtyla mempertahankan ajaran-ajaran tradisional Gereja Katolik mengenai perkawinan.

Pada tanggal 13 Januari 1964 ia diangkat sebagai Uskup Agung Cracow oleh Paus Paulus VI. Bapa Suci banyak mengandalkan nasehat Uskup Agung Wojtyla dalam menuliskan Humanae Vitae. Tanggal 26 Juni 1967, Paus mengangkatnya menjadi Kardinal (Kardinal: jabatan kehormatan di atas Uskup, tugasnya memberi nasehat dan bekerja sama dengan pemimpin Gereja). Pada tahun 1976, Kardinal Wojtyla diundang oleh Paus Paulus VI untuk menyampaikan khotbah Masa Prapaskah kepada segenap anggota keluarga Kepausan.

Selain ambil bagian dalam Konsili Vatikan II dengan sumbangannya yang amat berharga dalam penyusunan konsep Konstitusi “Gaudium et Spes”, Kardinal Wojtyla juga ikut ambil bagian di seluruh pertemuan Sinode Uskup.

16 Oktober 1978, pukul 5:15 sore, Kardinal Karol Wojtyla terpilih sebagai Paus yang ke-264; penerus Tahta Petrus yang ke-263. Ia menjadi paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI. Untuk menghormati pendahulunya, Paus Yohanes Paulus I, Bapa Suci memilih nama Paus Yohanes Paulus II.

Sejak masa kepausannya, Sri Paus telah melakukan 104 kunjungan pastoral di luar Italia (mengunjungi 129 negara, termasuk ke Indonesia pada tahun 1989), dan 146 kunjungan pastoral dalam wilayah Italia. Sebagai Uskup Roma, beliau telah mengunjungi 317 dari 333 paroki.

Dokumen-dokumen utamanya meliputi 14 ensiklik, 15 nasehat apostolik, 11 konstitusi apostolik dan 45 surat apostolik. Paus juga menerbitkan lima buah buku: “Di Ambang Pintu Pengharapan” (Varcare la Soglia della Speranza, Oktober 1994), “Karunia dan Misteri: Pada Peringatan 50 tahun Imamat” (Dono e Mistero, November 1996), “Tritiko Romano - Sebuah Meditasi”, kumpulan puisi (Maret 2003), “Bangkit dan Berjalanlah!” (Alzatevi, andiamo!, Mei 2004), dan “Kenangan dan Identitas” (Memoria e Identità, musim semi 2005).

Sri Paus telah memimpin 147 upacara beatifikasi (1338 orang kudus dinyatakan sebagai yang berbahagia (beata / beato) dan 51 upacara kanonisasi (482 orang kudus dinyatakan sebagai santa / santo). Bapa Suci mengadakan 9 konsistori di mana ia mengangkat 231 (+ 1 in pectore) kardinal. Ia juga menyelenggarakan enam sidang pleno Dewan Kardinal.

Selama masa pontifikatnya, Paus Yohanes Paulus II memimpin 15 Sinode para Uskup: enam Sinode biasa (1980, 1983, 1987, 1990, 1994, 2001), satu Sinode luar biasa (1985) dan delapan Sinode khusus (1980, 1991, 1994, 1995, 1997, 1998 [2] dan 1999).

Tak ada Paus yang bertemu dengan begitu banyak orang seperti Paus Yohanes Paulus II: lebih dari 17.600.000 peziarah ambil bagian dalam Audiensi Umum yang diadakan setiap hari Rabu (lebih dari 1160 audiensi). Jumlah tersebut di luar audiensi-audiensi khusus dan upacara-upacara religius yang diselenggarakan (lebih dari 8 juta peziarah hanya pada Tahun Jubileum Agung 2000 saja) dan jutaan umat beriman sepanjang kunjungan-kunjungan pastoralnya baik di Italia maupun di seluruh dunia. Patut dicatat juga begitu banyak pertemuan dengan para pejabat negara dalam 38 kunjungan-kunjungan resmi, dan 738 audiensi serta pertemuan dengan pemimpin negara, dan bahkan 246 audiensi dan pertemuan dengan para perdana menteri.

Hingga akhir hidupnya pada tanggal 2 April 2005, beliau telah mengemban tugas mulia sebagai gembala tertinggi 1,1 miliar umat Katolik Roma sedunia selama 26 tahun 5 bulan; jabatan paus terpanjang ketiga setelah St. Petrus, Rasul (34 atau 37 tahun) dan Paus Pius IX (31 tahun 7 bulan).

Gereja Anglican

oleh: P. William P. Saunders *

Paus Leo XIII
Raja Henry VIII

Seorang teman Episcopalian* tengah berpikir untuk menggabungkan diri dengan Gereja Katolik, terutama karena pentahbisan Gene Robinson sebagai uskup. Ia mengatakan bahwa pastornya juga berpikiran sama. Apakah pastor tersebut dapat diterima sebagai seorang imam Katolik?

Sejak pertengahan 1970-an, Gereja Episcopalian di Amerika Serikat menghadapi beberapa kekacauan intern yang serius. Pada tahun 1976, para wanita ditahbiskan sebagai imam, dan belakangan para wanita ditahbiskan sebagai uskup. Pada tahun 1979, Gereja Episcopalian merevisi Buku Doa Umum dengan menggunakan bahasa kontemporer juga menambahkan beragam pilihan liturgis. Kedua peristiwa ini telah memicu perdebatan sengit dan bahkan skisma. Sekarang semakin meningkat kecenderungan untuk merayakan perkawinan homoseksual dan pentahbisan kaum homoseksual sebagaimana terbukti dengan pentahbisan Gene Robinson sebagai uskup. Mohon dicatat bahwa saya sekedar menyebutkan peristiwa-peristiwa; saya tidak bermaksud mengurusi masalah gereja lain ataupun bersorak atas persoalan-persoalan mereka, teristimewa ketika kita Katolik telah cukup dengan persoalan kita sendiri.

Masalah-masalah ini, dan mungkin masalah-masalah lainnya juga, telah menggerakkan sebagian klerus dan awam Episcopalian berpikiran untuk menggabungkan diri dengan Gereja Katolik Roma. Sebagian besar dari orang-orang ini menganggap diri sebagai “Anglo-Katolik” atau “Episcopalian Tinggi”, artinya bahwa keyakinan dan praktek-praktek liturgis mereka sangat “Roma” dengan pertentangan utama otoritas Bapa Suci. Sebagai contoh, ketika saya belajar di Seminari St Charles di Philadelphia, Gereja Episcopal St Klemens memasang pengumuman Misa, pengakuan dosa, pujian kepada Sakramen Mahakudus dan Vesper (= Ibadat Sore); menghadiri salah satu ibadat mereka - saya benci mengatakannya - setidaknya secara estetis lebih “Katolik” dan hormat dari beberapa paroki Katolik yang saya kunjungi.

Banyak permohonan mengenai kemungkinan diterimanya mereka masuk ke dalam Gereja Katolik disampaikan kepada para Uskup Katolik di Amerika Serikat, yang selanjutnya menghubungi Bapa Suci. Sebagai tanggapan, Paus Yohanes Paulus II melalui Kongregasi Suci untuk Ajaran Iman menerbitkan sebuah pernyataan yang ringkas padat pada bulan Juni 1980. Pertama-tama, Tahta Suci mengijinkan suatu “ketentuan pastoral,” yang memberikan “suatu identitas umum yang mencerminkan unsur-unsur khas dari warisan mereka sendiri.” Di sini keseluruhan jemaat Episcopalian dapat masuk ke dalam Gereja Katolik dan diperkenankan untuk tinggal dalam paroki dan mempergunakan Misa Katolik gaya Anglican entah dengan Buku Doa Umum versi bahasa tradisional atau versi bahasa Inggris modern.

Kedua, warga perseorangan dari Gereja Episcopal dapat masuk ke dalam Gereja Katolik atas inisitatif mereka sendiri. Sesuai “Dekrit Ekumenisme” Konsili Vatican II, tindakan ini akan dipandang sebagai suatu “rekonsiliasi dari individu-individu tersebut yang menghendaki persatuan Katolik sepenuhnya.”

Yang terakhir, klerus Episcopalian dapat menjadi imam Katolik. Seorang pelayan tertahbis Episcopalian menyatakan pengakuan iman dan diterima dalam Gereja Katolik, untuk sesudahnya menyambut Sakramen Krisma. Selanjutnya ia mengikuti pendidikan yang memungkinkannya untuk melayani sebagai seorang imam Katolik. Setelah pengujian yang layak oleh uskup Katolik dan dengan ijin Bapa Suci, ia akan ditahbiskan pertama-tama sebagai seorang diakon transisi dan kemudian sebagai seorang imam Katolik.

Klerus Episcopalian perlu ditahbiskan sebab Gereja Katolik tidak mengakui keabsahan tahbisan suci mereka, setidaknya dalam pemahaman Katolik mengenai tahbisan suci. Ingat bahwa pada tahun 1534 Raja Henry VIII memutuskan hubungan gereja di Inggris dari Gereja Katolik semesta dan menetapkan dirinya sebagai kepala gereja Inggris. Oleh karena alasan inilah, hingga hari ini, Ratu Elizabeth II adalah pemimpin resmi Gereja Inggris, dan dialah yang menetapkan semua uskup kerajaan dengan persetujuan parlemen. Setelah Henry VIII mangkat, Edward VI, putera dan penerusnya, menerbitkan suatu tata cara baru untuk ritus tahbisan. Tata cara Edwardian, yang disusun oleh Uskup Agung Cranmer, yang amat dipengaruhi oleh teolog Lutheran bernama Martin Bucer, mengubah ritus-ritus tahbisan dari Kepausan Katolik Roma. Tahbisan Gereja Inggris ini dimaklumkan sebagai tidak sah dari pemahaman Katolik mengenai Tahbisan Suci oleh Paus Yulius III dalam suatu surat kepada Kardinal Reginald Pole (1554) dan oleh Paus Paulus IV dalam dua surat beliau (1555).

Paus Leo XIII pada tahun 1896 memaklumkan keputusan definitif dalam bulla “Apostolicae Curae,” yang menyatakan bahwa “tahbisan yang dilaksanakan seturut ritus Anglican adalah dan mutlak tidak sah dan sama sekali tidak berlaku.” Keputusan ini didasarkan pada cacat forma maupun intensi dalam ritus Anglican. Ritus Anglican dengan sengaja menghilangkan keyakinan akan imamat sebagai kurban yang dilaksanakan dalam Misa dan Ekaristi Kudus. Mengenai cacat forma, artinya doa-doa yang dipergunakan untuk tahbisan, Paus Leo memaklumkan, “Kiranya satu argumentasi ini menjawab semuanya: yakni, doa-doa ini [doa-doa tahbisan] telah dengan sengaja dilucuti dari segala yang dalam ritus Katolik dengan jelas menyatakan martabat dan jabatan imamat. Jadi, adalah mustahil suatu forma layak dan pantas bagi suatu sakramen jika forma tersebut menindas apa yang seharusnya secara khusus dinyatakannya. Kasusnya sama dengan konsekrasi Episcopal. …  Oleh sebab Sakramen Tahbisan dan imamat sejati Kristus telah sama sekali dihapuskan dari ritus Anglican, dan karenanya imamat sama sekali tidak diberikan dalam konsekrasi Episcopal dari ritus yang sama, sama mustahilnya bagi episkopat sendiri untuk diberikan secara sungguh dan layak; terlebih lagi karena peran utama episkopat adalah mentahbiskan para pelayan untuk Ekaristi Kudus dan untuk kurban….”

Paus Leo menyimpulkan, “Dengan demikian, bukan saja di sana dalam keseluruhan tata tahbisan tidak ada penyebutan jelas mengenai kurban, konsekrasi, imamat, kuasa untuk mengkonsekrasikan dan mempersembahkan kurban, tetapi sebagaimana telah kami nyatakan, setiap pertalian darinya dan dari hal-hal serupa yang kita temukan dalam doa-doa dari ritus Katolik yang sama sekali tidak ditolak, secara sengaja disingkirkan dan dihapuskan.”

Paus Leo juga menyebutkan cacat intensi: “Jika ritus diubah dengan tujuan nyata untuk memperkenalkan suatu ritus lain yang tidak diterima oleh Gereja, dan untuk menyangkal apa yang sesungguhnya dilakukan Gereja dan dengan penetapan Kristus menjadi hakekat sakramen, maka itu merupakan bukti, bukan hanya ketiadaan intensi yang dibutuhkan suatu sakramen, tetapi malahan terdapat intensi yang tidak sesuai dan tidak selaras dengan sakramen.” Sebab itu, pelayan Episcopalian siapapun yang rindu untuk menjadi seorang imam Katolik haruslah ditahbiskan sebagai diakon dan imam seturut ritus Gereja Katolik.

Bagaimana dengan kaul selibat sebagaimana dikehendaki dari para imam Katolik? Jika ia yang tadinya pelayan Episcopalian itu seorang bujang pada saat pentahbisannya sebagai seorang diakon dan kemudian imam Katolik, ia wajib mengucapkan kaul selibat. Jika ia yang tadinya pelayan Episcopalian itu seorang yang terikat perkawinan pada saat pentahbisannya sebagai seorang diakon dan kemudian imam Katolik, ia akan dibebaskan dari kaul selibat dengan ijin khusus dari Bapa Suci; namun demikian jika di kemudian hari ia menjadi duda, maka ia akan terikat pada hidup selibat dan tak diperkenankan menikah lagi. Kaul selibat dilonggarkan sebagai kemurahan bagi para klerus yang telah menikah, dengan mempertimbangkan situasi khusus mereka dan kerinduan mereka untuk mempersatukan diri dengan Gereja Katolik. Namun demikian, Bapa Suci telah berulang kali menegaskan disiplin selibat bagi klerus Katolik Roma dari ritus Latin. (Ritus-ritus Timur tidak mewajibkan kaul selibat terkecuali bagi uskup.) Paus Paulus VI dalam ensikliknya “Sacerdotalis caelibatus” (1967) merefleksikan bahwa selibat merupakan suatu pengidentifikasian diri dengan Kristus, Ia Sendiri yang selibat; suatu tindakan kasih yang berkurban, di mana seorang imam memberikan dirinya secara penuh demi pelayanan kepada Tuhan dan Gereja-Nya; dan suatu pratanda akan kedatangan Kerajaan Allah, di mana Tuhan kita bersabda, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Matius 22:30).

Sementara informasi yang disajikan di sini memberikan “jawaban langsung” kepada pertanyaan yang diajukan, marilah kita berdoa bagi warga Gereja Episcopalian. Saya secara pribadi mengenal orang-orang Kristen yang tulus yang adalah warga Gereja Episcopalian yang sedang berduka atas situasi yang tengah terjadi atas gereja mereka. Realitanya adalah ini, sebagaimana dikemukakan Paus Leo XIII dalam tanggapan beliau mengenai keabsahan tahbisan Anglican: Ketika orang dengan sengaja mengabaikan kebenaran yang dinyatakan dalam Kitab Suci, ajaran iman yang konsisten dan rancangan yang Tuhan kita berikan kepada Gereja-Nya, orang tinggal hanya dengan sebuah kelompok sosial atau partai politik, bukan gereja. .     

* Warga Gereja yang dipimpin oleh para uskup, dan khususnya orang-orang Kristiani di Amerika Serikat yang berada dalam persekutuan dengan Uskup Agung Canterbury, Inggris. [Kamus Teologi: Gerald O'Collins, SJ & Edward G. Farrugia, SJ]

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Our Lady of Hope Parish in Sterling, Virginia.

sumber : “Straight Answers: The Anglican Church” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”