Bersama-sama mempelajari iman Kristen beserta sejarah dan referensi pendukungnya. Menyebarkan sayap damai di antara denominasi dan merujuk kepada persamaan iman, bukan mempertentangkannya.
Showing posts with label paus. Show all posts
Showing posts with label paus. Show all posts
February 10, 2011
Suksesi Takhta Kepausan
January 23, 2011
Paus Benediktus Akan Ambil Tindakan Soal Pelecehan Pastor

Vatikan -Paus Benediktus untuk pertama kalinya secara terbuka menjanjikan pengambilan tindakan terhadap skandal dunia tuduhan pelecehan seksual para pastor.
Berbicara pada audiensi yang biasa dilakukan di Lapangan Santo Petrus di Roma, Paus menyatakan dirinya dapat merasakan penderitaan korban pelecehan saat baru-baru ini mengunjungi Malta.
"Saya ikut merasakan penderitaan mereka, dan secara emosional berdoa bersama mereka, menjamin adanya tindakan gereja," kata Paus Benekditus. Meski begitu dia tidak berbicara secara rinci tentang aksi yang akan diambil oleh Vatikan.
Setelah melalui sebuah pertemuan tertutup Minggu (18/4), Vatikan mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa gereja, berdasarkan pernyataan Paus Benediktus, akan melakukan semua hal yang berada dalam wewenangnya. Hal itu tak lain guna menegakkan keadilan atas pastor-pastor yang terlibat dalam tuduhan itu.
Pernyataan itu juga menegaskan Vatikan akan menempuh langkah-langkah yang efektif untuk melindungi anak-anak. Dan Rabu (21/4) muncul pernyataan dari Paus, walaupun tanpa rincian lebih lanjut.
Sementara itu kantor berita Associated Press melaporkan bahwa Paus sudah menerima pengunduran diri Uskup James Moriarty dari Irlandia.
Desember tahun lalu Moriarty mengaku tidak mempertanyakan praktek di masa lalu tentang penanganan kasus dugaan pelecehan anak yang dilaporkan polisi. Namun hingga saat ini masih belum ada pengumuman resmi dari Vatikan.
Paus Temui Korban Pelecehan Seksual Pendeta di Malta
Malta - Menyusul skandal pelecehan seksual yang melanda gereja Katolik beberapa bulan terakhir, Paus Benedict XVI secara pribadi hari Minggu menemui sekelompok korban pelecehan seksual oleh para pendeta. Paus menyampaikan rasa malu dan duka citanya atas keadaan yang menimpa mereka, kata Vatikan.
"Paus sangat terharu atas cerita-cerita mereka dan menyampaikan rasa malu dan duka citanya atas apa yang dialami para korban dan keluarganya," kata Vatikan dalam sebuah pernyataan setelah Paus bertemu delapan pria Malta yang dilecehkan saat mereka muda dalam sebuah panti asuhan.
"Dia berdoa bersama mereka dan menjamin bahwa gereja akan bertindak, dan akan terus bekerja, dengan seluruh kekuatannya untuk menyelidiki dugaan itu, melaporkan mereka yang bertanggng jawab atas pelecehan dan melakukan tindakan efektif untuk menjaga anak-anak muda di masa depan," kata pernyataan itu.
Gereja menghadapi gelombang tuduhan dalam beberapa bulan ini, yaitu telah menutup-nutupi pelecehan seksual anak-anak oleh pendeta dan gagal mengambil tindakan hukum gereja untuk menghukum para pendeta pedofil dan memindahkan mereka dari pekerjaan bersama anak-anak.
Minggu lalu Vatikan menerbitkan sebuah petunjuk yang menjelaskan prosedur yang harus diikuti uskup dalam kasus-kasus pelecehan.
Namun, hingga Minggu, Paus tidak secara langsung menyebut isu tersebut sejak skandal itu terungkap.
Lawrence Grech, 37, salah satu pria yang bertemu dengan Paus hari Minggu, mengatakan pertemuan itu sebuah penebusan.
"Anda berdoa untuk saya dan mengisi kekosongan yang saya rasakan 25 tahun terakhir," kata Grech kepada Paus. "Saya kehilangan iman, segalanya, karena orang-orang seperti anda telah melakukan kerusakan pada saya."
"Saya bangga dengan anda," kata Paus, menurut Grech. "Saya berdoa untuk anda atas keberanian anda untuk datang dan berbicara."
Grech adalah salah satu dari 10 pria pada 2003 yang mengajukan gugatan kriminal terhadap empat pendeta yang menurut mereka telah melecehkan mereka saat mereka berada di sebuah panti asuhan di Malta. Dia dan lainnya telah mengeluhkan bahwa keuskupan Malta telah menyelidiki kasus itu selama tujuh tahun namun tidak mengambil tindakan terhadap para pendeta. Tiga masih bekerja sebagai pendeta di Malta dan satu sekarang di Italia, kata Grech.
Paus bertemu dengan para korban selama 20 menit dalam kapel Apostolic Nunciature di Malta, jauh dari media. Dua uskup lokal dan beberapa anggota rombongan Paus juga hadir. "Suasananya sangat antusias namun tenang," kata juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi, dalam konferensi pers.
Ini merupakan kunjungan keempat Paus yang serupa. Dia juga bertemu dengan korban pelecehan saat mengunjungi Amerika dan Australia tahun 2008, dan di Roma tahun lalu.
"Paus sangat terharu atas cerita-cerita mereka dan menyampaikan rasa malu dan duka citanya atas apa yang dialami para korban dan keluarganya," kata Vatikan dalam sebuah pernyataan setelah Paus bertemu delapan pria Malta yang dilecehkan saat mereka muda dalam sebuah panti asuhan.
"Dia berdoa bersama mereka dan menjamin bahwa gereja akan bertindak, dan akan terus bekerja, dengan seluruh kekuatannya untuk menyelidiki dugaan itu, melaporkan mereka yang bertanggng jawab atas pelecehan dan melakukan tindakan efektif untuk menjaga anak-anak muda di masa depan," kata pernyataan itu.
Gereja menghadapi gelombang tuduhan dalam beberapa bulan ini, yaitu telah menutup-nutupi pelecehan seksual anak-anak oleh pendeta dan gagal mengambil tindakan hukum gereja untuk menghukum para pendeta pedofil dan memindahkan mereka dari pekerjaan bersama anak-anak.
Minggu lalu Vatikan menerbitkan sebuah petunjuk yang menjelaskan prosedur yang harus diikuti uskup dalam kasus-kasus pelecehan.
Namun, hingga Minggu, Paus tidak secara langsung menyebut isu tersebut sejak skandal itu terungkap.
Lawrence Grech, 37, salah satu pria yang bertemu dengan Paus hari Minggu, mengatakan pertemuan itu sebuah penebusan.
"Anda berdoa untuk saya dan mengisi kekosongan yang saya rasakan 25 tahun terakhir," kata Grech kepada Paus. "Saya kehilangan iman, segalanya, karena orang-orang seperti anda telah melakukan kerusakan pada saya."
"Saya bangga dengan anda," kata Paus, menurut Grech. "Saya berdoa untuk anda atas keberanian anda untuk datang dan berbicara."
Grech adalah salah satu dari 10 pria pada 2003 yang mengajukan gugatan kriminal terhadap empat pendeta yang menurut mereka telah melecehkan mereka saat mereka berada di sebuah panti asuhan di Malta. Dia dan lainnya telah mengeluhkan bahwa keuskupan Malta telah menyelidiki kasus itu selama tujuh tahun namun tidak mengambil tindakan terhadap para pendeta. Tiga masih bekerja sebagai pendeta di Malta dan satu sekarang di Italia, kata Grech.
Paus bertemu dengan para korban selama 20 menit dalam kapel Apostolic Nunciature di Malta, jauh dari media. Dua uskup lokal dan beberapa anggota rombongan Paus juga hadir. "Suasananya sangat antusias namun tenang," kata juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi, dalam konferensi pers.
Ini merupakan kunjungan keempat Paus yang serupa. Dia juga bertemu dengan korban pelecehan saat mengunjungi Amerika dan Australia tahun 2008, dan di Roma tahun lalu.
Para Patriarkh “Pentarkhi” (Lima Pusat Patriarkhat Purba) Saat Ini, Minus Kepausan Roma (Ut Omnes Unum Sint I)
Oleh :
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

A.) Sri Bapa Suci, Episkop Agung Konstantinopel, Roma Baru dan Patriarkh Ekumenis, Bartolomeus I (Yunani: Η Αυτού Θειοτάτη Παναγιότης, ο Αρχιεπίσκοπος Κωνσταντινουπόλεως, Νέας Ρώμης και Οικουμενικός Πατριάρχης, Βαρθολομαίος Α'), Patriarkh Ekumenis Konstantinopel, dan “Primus Inter Pares” (Yang terutama di antara yang sederajat”) dalam persekutuan Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Communion), Patriarkh Konstantinopel ke-270 dari Takhta St. Andreas di Fanar, Istambul, Turki. Menduduki takhta Patriarkhat mulai 2 November 1991 – sekarang.

B.) Sri Bapa Suci Theodoros II, Paus dan Patriarkh Alexandria dan Seluruh Afrika (Yunani: Η Α.Θ.Μ. ο Πάπας & Πατριάρχης Αλεξανδρείας & Πάσης Αφρικής κ.κ. ΘΕΟΔΩΡΟΣ Β΄). Bergelar resmi Sri Bapa Suci Paus dan Patriarkh Kota Agung Alexandria, Libya, Pentapolis, Ethiopia, Seluruh Mesir dan Seluruh Afrika, Bapa dari para Bapa, Gembala dari para Gembala, Imam Tertinggi dari para Imam Tertinggi, Rasul Ketigabelas dan Hakim Ekumenis. Kepala Gereja Orthodox di Afrika dan Madagaskar. Menduduki takhta Patriarkhat mulai tahun 2004 – sekarang.

C.) Sri Bapa Suci Patriarkh Ignatius IV (Hazim) dari Antiokhia dan Seluruh Timur, primat dari Gereja Orthodox Kepala Mandiri Patriarkhat Antiokhia (the autocephalous Patriarchate of Antioch). Menduduki takhta Patriarkhat mulai 1979 – sekarang.

D.) Sri Bapa Suci Patriarkh Theophilos III dari Yerusalem, dipilih sebagai primat ke-141 dari Gereja Orthodox Yerusalem pada 22 Agustus 2005. Bergelar Patriarkh Kota Suci Yerusalem dan Seluruh Palestina, Syria, wilayah lebih luas dari Sungai Yordan, Kana di Galilea, Zion Kudus.

E.) Sri Bapa Suci Paus Benediktus XVI, secara resmi bernama Benedictus PP. XVI dalam bahasa Latin, (lahir di Marktl am Inn, Bayern, Jerman, 16 April 1927; umur 82 tahun ;terlahir sebagai Joseph Alois Ratzinger), terpilih sebagai Paus Gereja Katolik Roma pada 19 April 2005. Dia adalah Uskup Roma, pemimpin Negara Kota Vatikan dan Gereja Katolik Roma termasuk Gereja Katolik Timur dalam komuni dengan Takhta Suci. Dia dilantik sebagai Paus secara resmi saat Misa Pelantikan Paus pada 24 April 2005 – sekarang, sebagai primat ke-265 dari Kepausan Gereja Roma Katolik
Th. 1054: Skisma Besar (Perpecahan Akbar) terjadi di dalam Pentarkhi, Kepausan Roma memisahkan diri dari 4 Patriarkhat Purba di Timur. Dua persoalan besar penyebab skisma ini diantaranya tuntutan Roma untuk supremasi Paus Universal dan tambahan kalimat Filioque pada Kredo Nikea. Meneladani perintah Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja, marilah kita berdoa bagi pemulihan kembali Pentarkhi Lima Pusat Patriarkhat Purba: ”Aku berdoa untuk mereka, ... supaya mereka semua menjadi satu, ...” - ”ego pro eis rogo ... ut omnes unum sint ... ” (Iohannes 9; 11, 21 – 23)
Presbyter Rm.Kirill JSL
(Omeц Кирилл Д.С.Л.)
GEREJA ORTHODOX INDONESIA
(THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)
A.) Sri Bapa Suci, Episkop Agung Konstantinopel, Roma Baru dan Patriarkh Ekumenis, Bartolomeus I (Yunani: Η Αυτού Θειοτάτη Παναγιότης, ο Αρχιεπίσκοπος Κωνσταντινουπόλεως, Νέας Ρώμης και Οικουμενικός Πατριάρχης, Βαρθολομαίος Α'), Patriarkh Ekumenis Konstantinopel, dan “Primus Inter Pares” (Yang terutama di antara yang sederajat”) dalam persekutuan Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Communion), Patriarkh Konstantinopel ke-270 dari Takhta St. Andreas di Fanar, Istambul, Turki. Menduduki takhta Patriarkhat mulai 2 November 1991 – sekarang.
B.) Sri Bapa Suci Theodoros II, Paus dan Patriarkh Alexandria dan Seluruh Afrika (Yunani: Η Α.Θ.Μ. ο Πάπας & Πατριάρχης Αλεξανδρείας & Πάσης Αφρικής κ.κ. ΘΕΟΔΩΡΟΣ Β΄). Bergelar resmi Sri Bapa Suci Paus dan Patriarkh Kota Agung Alexandria, Libya, Pentapolis, Ethiopia, Seluruh Mesir dan Seluruh Afrika, Bapa dari para Bapa, Gembala dari para Gembala, Imam Tertinggi dari para Imam Tertinggi, Rasul Ketigabelas dan Hakim Ekumenis. Kepala Gereja Orthodox di Afrika dan Madagaskar. Menduduki takhta Patriarkhat mulai tahun 2004 – sekarang.
C.) Sri Bapa Suci Patriarkh Ignatius IV (Hazim) dari Antiokhia dan Seluruh Timur, primat dari Gereja Orthodox Kepala Mandiri Patriarkhat Antiokhia (the autocephalous Patriarchate of Antioch). Menduduki takhta Patriarkhat mulai 1979 – sekarang.
D.) Sri Bapa Suci Patriarkh Theophilos III dari Yerusalem, dipilih sebagai primat ke-141 dari Gereja Orthodox Yerusalem pada 22 Agustus 2005. Bergelar Patriarkh Kota Suci Yerusalem dan Seluruh Palestina, Syria, wilayah lebih luas dari Sungai Yordan, Kana di Galilea, Zion Kudus.
E.) Sri Bapa Suci Paus Benediktus XVI, secara resmi bernama Benedictus PP. XVI dalam bahasa Latin, (lahir di Marktl am Inn, Bayern, Jerman, 16 April 1927; umur 82 tahun ;terlahir sebagai Joseph Alois Ratzinger), terpilih sebagai Paus Gereja Katolik Roma pada 19 April 2005. Dia adalah Uskup Roma, pemimpin Negara Kota Vatikan dan Gereja Katolik Roma termasuk Gereja Katolik Timur dalam komuni dengan Takhta Suci. Dia dilantik sebagai Paus secara resmi saat Misa Pelantikan Paus pada 24 April 2005 – sekarang, sebagai primat ke-265 dari Kepausan Gereja Roma Katolik
Th. 1054: Skisma Besar (Perpecahan Akbar) terjadi di dalam Pentarkhi, Kepausan Roma memisahkan diri dari 4 Patriarkhat Purba di Timur. Dua persoalan besar penyebab skisma ini diantaranya tuntutan Roma untuk supremasi Paus Universal dan tambahan kalimat Filioque pada Kredo Nikea. Meneladani perintah Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja, marilah kita berdoa bagi pemulihan kembali Pentarkhi Lima Pusat Patriarkhat Purba: ”Aku berdoa untuk mereka, ... supaya mereka semua menjadi satu, ...” - ”ego pro eis rogo ... ut omnes unum sint ... ” (Iohannes 9; 11, 21 – 23)
Paus Benediktus XVI akan Gelar Pertemuan Antar Agama untuk Perdamaian Dunia
Sumber: http://hminews.com/news/paus-benediktus-xvi-akan-gelar-pertemuan-antar-agama-untuk-perdamaian-dunia/
HMINEWS- Beberapa jam setelah serangan teroris yang menewaskan 21 orang di sebuah Gereja Koptik di Aleksandria, Mesir, Sabtu (1/1/2011), Paus Benediktus XVI mengumumkan bahwa ia akan mengadakan pertemuan antaragama pada bulan Oktober mendatang di Asisi, Italia. Pada pertemuan para pemimpin agama itu akan dibahas tentang bagaimana agama bisa mempromosikan perdamaian dunia.
Hal itu akan menandai peringatan 25 Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang mulai diadakan Paus Yohanes Paulus II di Asisi pada tanggal 26 Oktober 1986. Mengapa Assisi, sebuah kota di Italia Tengah dipilih? Tentu bukan karena aksesnya ke sebuah bandara. Kota itu dipilih karena merupakan kota asal Santo Fransiskus Asisi, seorang santo yang dicintai di kalangan Kristen karena kemurahan hati dan semangat juangnya bagi perdamaian sebagaimana dicontohkan dalam sebuah pertemuan yang sangat bersahabat antara dia dengan Sultan Malik al-Kamil dari Mesir di tengah-tengah Perang Salib Kelima tahun 1219.
Paul Moses, seorang profesor jurnalisme di Brooklyn College dan The CUNY Graduate School of Journalism, dalam artikel di CNN.com, Minggu, menulis, dengan contoh dari Fransiskus yang menginspirasi orang Kristen dalam dialog antaragama, saatnya untuk mengatakan bahwa Sultan al-Kamil, juga bisa menjadi model. Sultan al-Kamil memberikan contoh bagi kaum Muslim untuk menghormati kekudusan Kristen.
Sultan al-Kamil, keponakan dari pejuang besar Muslim, Salah ibn al-Din Yusuf Ayyub, atau Saladin, memimpin Mesir selama sekitar 40 tahun sebagai raja muda dan sultan. Dia berkuasa pada periode yang sulit yang ditandai kelaparan dan serangan oleh kaum Mongol dari timur dan tentara salib dari barat.
Ketika Fransiskus menyeberangi garis musuh untuk mencapai tenda Sang Sultan dekat sungai Nil pada musim panas tahun 1219, Sultan itu memiliki banyak alasan untuk menghentikan seorang pria yang ingin untuk memberitakan iman dari musuhnya. Namun ia justru memperbolehkan biarawan itu berdikusi bersamanya selama beberapa hari.
Tindakan Sultan itu mercerminkan rasa hormat tradisional kaum Muslim bagi biarawan Kristen, sebuah tradisi yang berasal dari masa Nabi Muhammad, yang bertemu dengan para biarawan Kristen. Dikatakan bahwa beberapa biarawan termasuk kelompok pertama yang mengakui bahwa dalam diri Muhammad ada potensi untuk menjadi nabi. Quran juga berbicara dengan penuh kasih tentang biarawan Kristen, dengan mengatakan mata mereka penuh dengan air mata pengakuan kebenaran akan Allah.
Laporan dari abad Pertengahan dari Gereja Koptik, gereja kuno Mesir, juga memuji Sultan al-Kamil karena toleransinya. Ia memerintahkan untuk mendukung kaum Kristen Koptik ketika terjadi suatu perselisihan tentang apakah membangun sebuah gereja atau masjid di sebuah situs di Kairo. Orang Kristen Koptik gembira dengan berparade di jalan-jalan Kairo pada suatu kesempatan lain ketika ia mendukung mereka dalam sengketa kepemilikan kapal emas dan harta lain yang ditemukan dalam pembangunan sumur di sebuah biara.
Ia juga menangani dengan bijaksana orang Kristen Koptik ketika dipanggil untuk memutuskan sebuah kontroversi di dalam gereja itu tentang siapa yang akan menjadi bapa gereja (pemimpin). Dan, ketika ia mengalahkan tentara Kristen dalam Perang Salib Kelima, ia mengejutkan para tentara salib yang kelaparan dengan memberi mereka makan dan menjamin transportasi mereka ke rumah. Pada saat yang sama, ia adalah seorang Muslim-Sunni yang setia yang membangun sekolah-sekolah keagamaan dan sebuah kubah peringatan indah untuk salah satu ulama besar Islam, Iman al-Syafi’i.
Paul Moses yang menulis buku The Saint and the Sultan: The Crusades, Islam and Francis of Assisi’s Mission of Peace dalam artikelnya menyatakan, “Ketika saya sedang menulis buku tentang pertemuan antara Fransiskus dengan Sultan, saya memulai dengan skeptisisme jurnalistik tentang orang yang berkuasa seperti sultan. (Namun) ia memenangkan saya ketika saya meriset hidupnya, saya menyadari Sultan al-Kamil adalah seorang negarawan yang tindakan bijaknya sangat dipengaruhi oleh imannya. Pada suatu kesempatan, saya meluangkan beberapa jam dari waktu penelitian saya di Kairo untuk berbicara kepada sekelompok siswa di sekolah perempuan Kristen. Para siswa langsung mengenali Sultan itu ketika saya berbicara tentang dia, menilai dia sebagai seorang pemimpin yang baik baik dan kuat.”
Moses berharap, ketika para pemimpin agama dunia berkumpul di kota kelahiran Fransiskus Assisi pada Oktober mendatang untuk membahas bagaimana agama bisa menjadi alat bagi perdamaian, mereka kiranya bisa belajar banyak dari contoh yang telah dilakukan Sultan itu.[]kcm/ian
January 6, 2011
Tahta Suci dan Tahta St Petrus
oleh: P. William P. Saunders *
Dalam liputan berita mengenai pemakaman Paus Yohanes Paulus II dan juga conclave, istilah “Tahta Suci” seringkali disebut. Saya yakin yang dimaksudkan adalah paus dan Vatican. Benarkah demikian? Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Springfield
Istilah Tahta Suci berasal dari bahasa Latin Sancta Sedes, artinya “Kursi Suci,” bermula dari upacara penobatan Uskup Roma, yaitu paus. Tepatnya, cathedra, yang berarti kursi atau tahta, melambangkan kedudukan dan wewenang Bapa Suci atau seorang uskup, dan tempat di mana ia tinggal dalam wilayah yang termasuk wewenangnya. Di sini, Tahta Suci menunjuk pada “kursi pemerintahan” Gereja universal. Secara geografis, kursi pemerintahan ini berada di Keuskupan Roma. Dalam istilah pemerintahan yang sesungguhnya, Tahta Suci secara spesifik menunjuk pada kedudukan Bapa Suci, yang “berdasarkan tugasnya, yakni sebagai Wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja; dan kuasa itu selalu dapat dijalankannya dengan bebas” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, #22), dan diperluas hingga ke Kuria Romawi, yang terdiri dari Sekretariat Negara atau Kepausan, Dewan Urusan Umum Gereja, Kongregasi-kongregasi, Pengadilan-pengadilan, dan Lembaga-lembaga lainnya (Kitab Hukum Kanonik, #360).
Istilah “Tahta Suci” juga disamaartikan dengan istilah “Tahta Apostolik”. Kitab Hukum Kanonik mendefinisikannya sebagai berikut: “Dengan nama Tahta Apostolik atau Tahta Suci dalam Kitab Hukum ini dimaksudkan bukan hanya Paus, melainkan juga Sekretariat Negara, Dewan Urusan Umum Gereja, Lembaga-lembaga lain Kuria Romawi, kecuali jika dari hakikat perkara atau konteks pembicaraannya ternyata lain” (Kitab Hukum Kanonik, #361).
Istilah “tahta,” berasal dari bahasa Latin “sedes,” sesungguhnya merupakan istilah teknis bagi semua keuskupan dan tempat kediaman para uskup. Sebagai contoh, Mgr Yohanes Hadiwikarta (alm) adalah uskup dari “Tahta Surabaya” dan katedral kediamannya adalah Katedral Hati Kudus Yesus, juga di Surabaya; katedral juga adalah tempat cathedra atau tahta uskup. Pada awalnya, sedes menunjuk pada Gereja-gereja yang dibangun para rasul, dan di kemudian hari secara istimewa terbatas pada lima tahta patriarkat besar: Roma, Kosntantinopel, Alexandria, Antiokhia, dan Yerusalem; yang menarik, hingga saat ini, keempat Gereja-gereja Patriarkal ini (Gereja-gereja Ortodoks Timur) mengakui keunggulan Roma dan mengakui primat kehormatan Bapa Suci.
Pemahaman dan susunan ini tercermin dalam maklumat para paus. Sebagai contoh, Paus Gelasius I (492-496) menyatakan, “Est ergo prima Petri apostoli sedes” (“Karena itu, pertama-tama adalah Tahta Rasul Petrus”). Dalam Liber Pontificalis oleh Paus Leo III (795-816), tercatat sebagai berikut, “Nos sedem apostolicam, quae est caput omnium Dei ecclesiarum judicare non audemus” (“Kami tidak berani mengadili Tahta Apostolik, yang adalah pemimpin dari segenap Gereja-gereja Allah”). Jelas, istilah “Tahta Suci” dan “Tahta Apostolik” mengalami perkembangan hingga secara spesifik menunjuk pada wewenang Bapa Suci dan Keuskupan Roma.
Sungguh menarik bahwa setiap tanggal 22 Februari, Gereja merayakan Pesta Tahta St Petrus. Merayakan pesta sebuah “kursi” terasa janggal, saat kita pertama kali mendengarnya. Tetapi, “kursi” yang dimaksud menunjuk pada primat dan wewenang yang dipercayakan Yesus Kristus kepada St Petrus, di mana keduanya secara bersama-sama merupakan suatu kekuatan pemersatu bagi segenap Gereja; jadi, sungguh, “Tahta Suci” yang sesungguhnya dirayakan dan dihormati. Primat dan wewenang ini dilambangkan dengan kursi St Petrus yang ditempatkan dekat dinding di belakang altar utama Basilika St Petrus, dalam suatu pahatan karya seni oleh artis Bernini; pahatan tersebut merupakan wadah reliqui dari apa yang secara tradisional diyakini sebagai kursi asli atau cathedra St Petrus. Lagi, yang terpenting bukanlah hal keaslian kursi itu sendiri, melainkan apa yang dilambangkan oleh kursi tersebut, yaitu Tahta Suci.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Holy See and the Chair of St. Peter” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Sekilas Tentang Yohanes Paulus II
Karol Józef Wojtyla, yang dikenal sebagai Yohanes Paulus II sejak terpilih menjadi Paus, dilahirkan di Wadowice, sebuah kota kecil 50 kilometer jauhnya dari Cracow, pada tanggal 18 Mei 1920. Ia adalah yang bungsu dari dua putera pasangan Karol Wojtyla dan Emilia Kaczorowka. Ibunya meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang ketiga - bayinya lahir mati - pada tahun 1929. Kakaknya bernama Edmund, seorang dokter, meninggal pada tahun 1932 dan ayahnya seorang bintara angkatan bersenjata, meninggal pada tahun 1941.
Karol menerima Komuni Pertama pada usia 9 tahun dan Sakramen Penguatan pada usia 18 tahun. Setelah lulus dari SMA Marcin Wadowita di Wadowice, ia masuk Universits Jagiellonian, Cracow pada tahun 1938 dan juga belajar di sebuah sekolah drama.
Karol mengalami pergolakan perang di bawah pendudukan Nazi. Nazi menutup universitasnya pada tahun 1939 dan Karol yang masih belia harus bekerja sebagai buruh kasar di sebuah pertambangan (1940-1944), dan kemudian di pabrik kimia Solvay guna menyambung hidup dan menghindarkan diri dari deportasi, sebab sama seperti kebanyakan orang sebangsanya, Karol senantiasa berada dalam ancaman dideportasi ke Jerman.
Pada tahun 1942, di tengah kekacauan perang, ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang imam. Karenanya ia belajar di Seminari Cracow yang dikelola secara sembunyi-sembunyi oleh Kardinal Adam Stefan Sapieha, Uskup Agung Cracow. Pada saat yang sama, ia dan teman-temannya merintis “Teater Rhapsodic”, juga secara sembunyi-sembunyi.
Sesudah Perang Dunia II berakhir, ia melanjutkan kuliahnya di Seminari Utama Cracow, setelah seminari dibuka kembali, dan di Fakultas Theologi, Universitas Jagiellonian, hingga ditahbiskan sebagai imam di Cracow pada tanggal 1 November 1946. Masa-masa ini Pastor Wojtyla banyak dipengaruhi oleh ajaran dan pemikiran St. Louis Marie de Montfort dan St. Yohanes dari Salib.
Segera setelah pentahbisannya, Kardinal Sapieha mengirimnya ke Roma di mana ia bekerja di bawah bimbingan Garrigou-Lagrange, seorang Dominikan Perancis. Ia menyelesaikan doktoratnya dalam bidang theologi pada tahun 1948 di Angelicum, Roma dengan thesis bertopik Iman dalam Karya-karya St. Yohanes dari Salib. Pada masa itu, selama liburannya, ia menjalankan tugas pastoralnya di antara para imigran Polandia di Perancis, Belgia dan Belanda.
Pada tahun 1948, ia kembali ke Polandia dan menjabat Vicaris dari beberapa paroki di Cracow, sekaligus menjadi imam mahasiswa hingga tahun 1951, saat ia memutuskan untuk memperdalam studinya dalam bidang filsafat dan theologi. Pada tahun 1953 ia mempertahankan thesisnya yang berjudul “Evaluasi mengenai kemungkinan membentuk etika Katolik dalam sistem etika Max Scheler” di Universitas Katolik Lublin. Kemudian ia menjadi professor Theologi Moral dan Etika Sosial di Seminari Utama Cracow dan di Fakultas Theologi Lublin.
Pada tanggal 4 Juli 1958, Pastor Wojtyla diangkat sebagai Pembantu Uskup di Cracow oleh Paus Pius XII dan ditahbiskan sebagai Uskup pada tanggal 28 September 1958 di Katedral Wawel, Cracow oleh Uskup Agung Baziak.
Pada tahun 1960, ia menerbitkan bukunya yang sangat terkenal, “Cinta dan Tanggung Jawab”. Paus Paulus VI sangat kagum atas cara Uskup Wojtyla mempertahankan ajaran-ajaran tradisional Gereja Katolik mengenai perkawinan.
Pada tanggal 13 Januari 1964 ia diangkat sebagai Uskup Agung Cracow oleh Paus Paulus VI. Bapa Suci banyak mengandalkan nasehat Uskup Agung Wojtyla dalam menuliskan Humanae Vitae. Tanggal 26 Juni 1967, Paus mengangkatnya menjadi Kardinal (Kardinal: jabatan kehormatan di atas Uskup, tugasnya memberi nasehat dan bekerja sama dengan pemimpin Gereja). Pada tahun 1976, Kardinal Wojtyla diundang oleh Paus Paulus VI untuk menyampaikan khotbah Masa Prapaskah kepada segenap anggota keluarga Kepausan.
Selain ambil bagian dalam Konsili Vatikan II dengan sumbangannya yang amat berharga dalam penyusunan konsep Konstitusi “Gaudium et Spes”, Kardinal Wojtyla juga ikut ambil bagian di seluruh pertemuan Sinode Uskup.
16 Oktober 1978, pukul 5:15 sore, Kardinal Karol Wojtyla terpilih sebagai Paus yang ke-264; penerus Tahta Petrus yang ke-263. Ia menjadi paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI. Untuk menghormati pendahulunya, Paus Yohanes Paulus I, Bapa Suci memilih nama Paus Yohanes Paulus II.
Sejak masa kepausannya, Sri Paus telah melakukan 104 kunjungan pastoral di luar Italia (mengunjungi 129 negara, termasuk ke Indonesia pada tahun 1989), dan 146 kunjungan pastoral dalam wilayah Italia. Sebagai Uskup Roma, beliau telah mengunjungi 317 dari 333 paroki.
Dokumen-dokumen utamanya meliputi 14 ensiklik, 15 nasehat apostolik, 11 konstitusi apostolik dan 45 surat apostolik. Paus juga menerbitkan lima buah buku: “Di Ambang Pintu Pengharapan” (Varcare la Soglia della Speranza, Oktober 1994), “Karunia dan Misteri: Pada Peringatan 50 tahun Imamat” (Dono e Mistero, November 1996), “Tritiko Romano - Sebuah Meditasi”, kumpulan puisi (Maret 2003), “Bangkit dan Berjalanlah!” (Alzatevi, andiamo!, Mei 2004), dan “Kenangan dan Identitas” (Memoria e Identità, musim semi 2005).
Sri Paus telah memimpin 147 upacara beatifikasi (1338 orang kudus dinyatakan sebagai yang berbahagia (beata / beato) dan 51 upacara kanonisasi (482 orang kudus dinyatakan sebagai santa / santo). Bapa Suci mengadakan 9 konsistori di mana ia mengangkat 231 (+ 1 in pectore) kardinal. Ia juga menyelenggarakan enam sidang pleno Dewan Kardinal.
Selama masa pontifikatnya, Paus Yohanes Paulus II memimpin 15 Sinode para Uskup: enam Sinode biasa (1980, 1983, 1987, 1990, 1994, 2001), satu Sinode luar biasa (1985) dan delapan Sinode khusus (1980, 1991, 1994, 1995, 1997, 1998 [2] dan 1999).
Tak ada Paus yang bertemu dengan begitu banyak orang seperti Paus Yohanes Paulus II: lebih dari 17.600.000 peziarah ambil bagian dalam Audiensi Umum yang diadakan setiap hari Rabu (lebih dari 1160 audiensi). Jumlah tersebut di luar audiensi-audiensi khusus dan upacara-upacara religius yang diselenggarakan (lebih dari 8 juta peziarah hanya pada Tahun Jubileum Agung 2000 saja) dan jutaan umat beriman sepanjang kunjungan-kunjungan pastoralnya baik di Italia maupun di seluruh dunia. Patut dicatat juga begitu banyak pertemuan dengan para pejabat negara dalam 38 kunjungan-kunjungan resmi, dan 738 audiensi serta pertemuan dengan pemimpin negara, dan bahkan 246 audiensi dan pertemuan dengan para perdana menteri.
Hingga akhir hidupnya pada tanggal 2 April 2005, beliau telah mengemban tugas mulia sebagai gembala tertinggi 1,1 miliar umat Katolik Roma sedunia selama 26 tahun 5 bulan; jabatan paus terpanjang ketiga setelah St. Petrus, Rasul (34 atau 37 tahun) dan Paus Pius IX (31 tahun 7 bulan).
Subscribe to:
Posts (Atom)