Dalam tradisi Kristen Timur Ritus Bizantin (termasuk di dalamnya adalah Katolik Timur), masa PraPaskah 40 hari diakhiri dengan Hari Sabtu Lazarus. Hari Sabtu Lazarus jatuh pada hari Sabtu tepat sehari sebelum Hari Raya Minggu Palma. Oleh karena itu, Sabtu Lazarus merupakan jembatan antara masa PraPaskah menuju Pekan Suci.
Pada hari Sabtu Lazarus, kita memperingati peristiwa ketika Tuhan Yesus Kristus membangkitkan Lazarus dari kubur, padahal Lazarus telah mati dan berada dalam kubur selama 4 hari (bdk Yohanes 11).
Peringatan Sabtu Lazarus ini berkaitan dengan Peristiwa Paskah Hari Kebangkitan Tuhan. Dan bisa kita katakan sebagai suatu satu kesatuan. Keduanya bersumber pada 1 pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus. Dan keduanya berbicara mengenai kebangkitan tubuh.
Sabtu Lazarus mewartakan Yesus Kristus yang berkuasa membangkitkan Lazarus. Dan dalam diri Lazarus itu pula lah kita dapat melihat diri kita, serta semua umat manusia yang ada; mulai dari manusia pertama hingga manusia terakhir saat akhir jaman. Maka peristiwa ini merupakan suatu pewartaan dari Yesus Kristus sendiri yang memberikan suatu kepastian bahwa Dia lah Sang Kebangkitan dan Hidup itu sendiri. Dan Dia berkuasa membangkitkan orang mati dan memberi mereka hidup (bdk Yohanes 11:25, dapat dibaca pada bagian bawah).
Dan tentulah arti dari “hidup” yang diberikan Yesus ini berarti hidup yang seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya : semangat dan harapan hidup; hidup rohani kita; hal-hal atau aspek-aspek di dalam kehidupan kita (termasuk hidup rumah tangga, hidup sosial, dst); hidup dari jasmani kita; dan bahkan hidup setelah kematian dan akhir jaman nanti. Dia berkuasa memberikan hidup. Dan bukan hidup yang sekenanya atau sembarang hidup, melainkan hidup yang sepenuhnya. Dia menawarkan dan berkuasa memberikan hidup yang sejati, yang sesungguhnya dan dalam kelimpahan (bdk Yohanes 10:10, dapat dibaca pada bagian bawah), yaitu Hidup yang memiliki relasi dengan Allah, bersatu dengan Allah. Hidup yang kudus, dan dikuduskan terus menerus, terutama dengan Misterion-Misterion (Sakramen) suci, sehingga kita dijadikan semakin serupa dengan Kristus sendiri.
Dalam diri Lazarus dan peristiwa kebangkitannya oleh Kristus, kita dapat melihat secercah gambaran akan kebangkitan kita masing-masing pada akhir jaman. Yesus Kristus lah yang akan membangkitkan manusia satu per satu, dan memberi hidup.
Dalam Liturgi Ilahi pada hari ini, Kidung Trisagion akan diganti dengan kidung berikut : “Semua
yang telah dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Alleluia!” (bdk Gal 3:27). Misteri-misteri yang terjadi dalam sepekan, mulai dari Sabtu Lazarus, lalu Sengsara dan Wafat Kristus, dan berpuncak pada Kebangkitan Kristus; merupakan suatu model atau miniature atau blueprint dari hidup rohani kita. Sungguh, dalam Misterion Baptis, kita semua telah dibaptis dalam Kristus. Kita telah dipandang mati terhadap hidup dosa dan keduniawian. Namun sekaligus pula kita mengenakan dan diberikan hidup yang baru, yaitu hidup dalam Kristus. Kita mengenakan Kristus. Kita bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Kristus yang telah menebus kita. Kita hidup bagi Kristus, dan Kristus hidup dalam kita. Baptis bukanlah akhir, melainkan awal dari hidup dalam Kristus. Maka hidup setelahnya adalah hidup dalam perjuangan menuju kepada kesempurnaan dalam Kristus. Kita berjuang setiap hari, hari demi hari melawan dosa, kedagingan, dan keduniawian, mengkuduskan diri, menyempurnakan diri, mempersatukan hidup dengan Kristus. Maka kelak, kita pun akan bangkit bersama Dia dan mulia bersama Dia.
Kidung Troparion
Dengan membangkitkan Lazarus dari kematian sebelum sengsara-Mu,
Kau telah meneguhkan kebangkitan bagi semua, ya Kristus Allah kami!
Bagaikan anak-anak dengan palem-palem kemenangan,
Kami berseru kepada-Mu, ya Penakluk maut;
Hosana di tempat tinggi!
Diberkatilah Dia yang datang di dalam nama Tuhan!
Kidung Kontakion
Kristus Sang Sukacita, Kebenaran dan Terang dari segala yang ada,
Hidup dunia dan Sang Kebangkitan,
Telah memperlihatkan diri-Nya demi kebaikan-Nya kepada semua yang ada di bumi.
Dia telah menjadi Gambaran bagi kebangkitan kita,
Dia mengkaruniakan pengampunan yang ilahi kepada semua!
Yohanes 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.“
Yohanes 11:25 - Jawab Yesus, “Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”
(Sumber : www.wikipedia.com; www.orthodoxwiki.org; Sumber ikon: full-of-grace-and truth.blogspot.com; saintmarkhouston.org)
Bersama-sama mempelajari iman Kristen beserta sejarah dan referensi pendukungnya. Menyebarkan sayap damai di antara denominasi dan merujuk kepada persamaan iman, bukan mempertentangkannya.
Showing posts with label pra paskah. Show all posts
Showing posts with label pra paskah. Show all posts
April 3, 2012
February 26, 2012
Trihari Suci dan 40 Hari Masa Prapaskah
oleh: P. William P. Saunders *
Terkadang saya mendengar imam dan juga yang lainnya mengatakan bahwa Trihari Suci bukanlah bagian dari Masa Prapaskah. Tetapi, jika saya menghitung hari dari Rabu Abu hingga Sabtu Suci, saya mendapati bahwa jumlahnya baru genap 40 apabila kita menghitung juga Trihari Suci dan tanpa menghitung enam hari Minggu sepanjang Masa Prapaskah. Saya tahu bahwa tanggal Rabu Abu secara khusus ditetapkan supaya Masa Prapaskah berjumlah 40 hari. Jadi, apakah benar saya mengatakan bahwa ketiga hari dari Trihari Suci adalah sungguh bagian dari Masa Prapaskah?
~ seorang pembaca di Woodbridge
Seperti dinyatakan dalam pertanyaan di atas, Masa Prapaskah memang dimulai pada hari Rabu Abu dan merupakan masa persiapan khusus selama 40 hari untuk merayakan Paskah. Juga, seperti dinyatakan dalam pertanyaan, penghitungan “40 hari” dimulai dengan hari Rabu Abu, dengan mengecualikan hari-hari Minggu sepanjang Masa Prapaskah, dan berakhir pada hari Sabtu Suci.
Empatpuluh hari Masa Prapaskah merupakan tradisi yang telah berlangsung lama dalam Gereja kita, teristimewa setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313. Konsili Nicea (tahun 325), dalam hukum disiplinernya, mencatat bahwa dua sinode provinsial haruslah diselenggarakan setiap tahun, “satu sebelum Masa Prapaskah selama 40 hari.”St. Sirilus dari Alexandria (wafat 444) dalam serial “Surat-surat Festal” juga mencatat praktek dan lamanya Masa Prapaskah, dengan menekankan masa puasa selama 40 hari. Dan akhirnya, Paus St. Leo (wafat 461) menyampaikan khotbahnya bahwa umat beriman wajib “melaksanakan puasa mereka sesuai tradisi Apostolik selama 40 hari”. Orang dapat menyimpulkan bahwa pada akhir abad keempat, masa persiapan selama 40 hari menyambut Paskah yang disebut sebagai Masa Prapaskah telah ada, dan bahwa masa ini berakhir pada Hari Raya Paskah.
“Konstitusi tentang Liturgi Kudus” Konsili Vatikan II memaklumkan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah - mengenang atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina tobat - haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa” (no. 109). Selanjutnya Konsili menekankan, “Namun puasa Paska hendaknya dipandang keramat, dan dilaksanakan di mana-mana pada hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan, dan bila dipandang berfaedah, diteruskan sampai Sabtu Suci, supaya dengan demikian hati kita terangkat dan terbuka untuk menyambut kegembiraan hari Kebangkitan Tuhan” (no. 110). Instruksi ini tampaknya menyatakan bahwa Masa Prapaskah, masa persiapan dalam doa, puasa dan matiraga terus berlanjut hingga Misa Paskah pertama, yaitu Misa Malam Paskah.
Namun demikian, dengan pembaharuan liturgi yang diprakarsai oleh Konsili Vatikan II, perayaan Trihari Suci (= Triduum) - Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah - juga dipertimbangkan kembali. Patut diingat bahwa Paus Pius XII sesungguhnya memulai praktek ini dan pada tahun 1951 mengembalikan Malam Paskah ke tempatnya yang lebih sesuai. Masing-masing liturgi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah tidak dipandang sekedar sebagai perayaan dari peristiwa-peristiwa yang terpisah, melainkan ketiganya sungguh dipandang sebagai satu misteri keselamatan. Oleh sebab itu, Misa Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis Putih tidak diakhiri dengan berkat penutup; melainkan berkat diberikan di akhir Misa Malam Paskah. Dalam ensikliknya yang indah, “Ecclesia de Eucharistia” Paus Yohanes Paulus II yang terkasih menulis, “Pencurahan Roh Kudus telah melahirkan Gereja, dan mengutusnya ke seluruh dunia. Tetapi saat yang menentukan bagi pencitraannya pastilah pendasaran Ekaristi di Ruang Perjamuan. Dasar dan sumber mata airnya adalah seluruh Trihari Suci Paskah. Dan semuanya ini seolah diramu, dipancarkan dan dipadatkan buat selamanya dalam karunia Ekaristi. Dalam karunia ini, Yesus Kristus dipercayakan kepada Gereja-Nya, sebagai penghadiran abadi Misteri Paskah. Dengan itu, Ia membentuk misteri `kesatuan waktu' antara Trihari Suci dan perlangsungan segala abad” (no. 5). Sebab itu, orang dapat beragumentasi bahwa Masa Prapaskah berakhir dengan perayaan Misa Perjamuan Malam Terakhir Tuhan pada hari Kamis Putih, yaitu awal dari Trihari Suci; namun demikian orang juga akan mendapati Masa Prapaskah yang kurang dari 40 hari, yang tidak sesuai dengan tradisi yang telah lama berlangsung.
Jadi, bagaimana? Mungkin, di sini tradisi mendapatkan penekanan yang lebih. Seperti dinyatakan di atas, Konsili Vatikan Kedua mengingatkan kita untuk mempertahankan puasa Paskah sepanjang Masa Prapaskah hingga Malam Paskah, yaitu Misa Paskah pertama. Namun demikian, kita juga patut merayakan Triduum sungguh sebagai satu peristiwa penyelamatan yang memungkinkan kita untuk hidup dalam realitas abadi dari perjamuan malam terakhir, sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Trihari Suci bahkan merupakan masa persiapan yang terlebih intensif dalam menyambut Paskah dan menghantar Masa Prapaskah pada puncaknya.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Triduum and 40 Days of Lent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
February 16, 2009
Asal-mula Masa Prapaskah
Asal-mula Masa Prapaskah
oleh: P. William P. Saunders *
Bagaimanakah asal-mula Masa Prapaskah? Apakah Gereja selalu merayakannya sebelum Paskah?
~ seorang pembaca di Falls Church
Masa Prapasakah merupakan masa istimewa untuk berdoa, bertobat, bermatiraga dan melakukan karya belas kasihan sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah. Dalam kerinduannya untuk memperbaharui praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili Vatikan II menyatakan, “Dua ciri khas Masa Prapaskah - mengenang atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina tobat - haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa.” (no. 109).
Sejak masa awal Gereja, terdapat bukti akan adanya semacam masa persiapan menyambut Paskah. Sebagai contoh, St. Ireneus (wafat 203) menulis kepada Paus St. Victor I, perihal perayaan Paskah dan perbedaan-perbedaan dalam perayaannya antara Timur dan Barat, “Perbedaan tidak hanya sebatas hari, tetapi juga ciri puasa yang sesungguhnya. Sebagian berpendapat bahwa mereka wajib berpuasa selama satu hari, sebagian berpuasa selama dua hari, lainnya lebih lama lagi; sebagian menetapkan 'masa' mereka selama 40 jam. Berbagai perbedaan dalam perayaan tersebut bukan berasal dari masa kita, melainkan jauh sebelumnya, yaitu sejak masa para leluhur kita.” (Eusebius, Sejarah Gereja, V, 24). Ketika Rufinus menerjemahkan bagian berikut ini dari bahasa Yunani ke bahasa Latin, tanda baca yang dibubuhkan antara “40” dan “jam” menjadikan maknanya tampak seperti “40 hari, dua puluh empat jam sehari.” Namun demikian, maksud pernyataan di atas adalah bahwa sejak masa “para leluhur kita” - sebutan bagi para rasul - suatu masa persiapan selama 40 hari telah ada. Tetapi, praktek nyata dan lamanya Masa Prapaskah masih belum seragam di seluruh Gereja.
Masa Prapaskah diatur secara lebih mantap setelah legalisasi agama Kristen pada tahun 313. Konsili Nicea (tahun 325), dalam hukum kanonnya, mencatat bahwa dua sinode provincial haruslah diselenggarakan setiap tahun, “satu sebelum Masa Prapaskah selama 40 hari.” St. Atanasius (wafat 373) dalam “Surat-surat Festal” meminta umatnya melakukan puasa selama 40 hari sebelum puasa yang lebih khusuk selama Pekan Suci. St. Sirilus dari Yerusalem (wafat 386) dalam Pelajaran Katekese, mengajukan 18 instruksi sebelum pembaptisan yang diberikan kepada para katekumen selama Masa Prapaskah. St. Sirilus dari Alexandria (wafat 444) dalam serial “Surat-surat Festal” juga mencatat praktek dan lamanya Masa Prapaskah dengan menekankan masa puasa selama 40 hari. Dan akhirnya, Paus St. Leo (wafat 461) menyampaikan khotbahnya bahwa umat beriman wajib “melaksanakan puasa mereka sesuai tradisi Apostolik selama 40 hari”. Orang dapat menyimpulkan bahwa pada akhir abad keempat, masa persiapan selama 40 hari menyambut Paskah yang disebut sebagai Masa Prapaskah telah ada, dan bahwa doa dan puasa merupakan latihan-latihan rohaninya yang utama.
Tentu saja, angka “40” selalu mempunyai makna spiritual khusus sehubungan dengan persiapan. Di gunung Sinai, sebagai persiapan untuk menerima Sepuluh Perintah Allah, “Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air” (Kel 34:28). Elia berjalan selama “40 hari dan 40 malam” ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (nama lain Sinai) (1 Raj 19:8). Dan yang terutama, Yesus berpuasa dan berdoa selama “40 hari dan 40 malam” di padang gurun sebelum Ia memulai pewartaan-Nya di hadapan orang banyak (Mat 4:2).
Begitu Masa Prapaskah selama 40 hari ditetapkan, perkembangan berikutnya adalah menyangkut berapa banyak puasa yang harus dilakukan. Di Yerusalem, misalnya, orang berpuasa selama 40 hari, mulai hari Senin hingga hari Jumat, tetapi tidak pada hari Sabtu dan hari Minggu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama delapan minggu. Di Roma dan di Barat, orang berpuasa selama enam minggu, mulai hari Senin hingga hari Sabtu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama enam minggu. Akhirnya, diberlakukan praktek puasa selama enam hari dalam satu minggu, selama masa enam minggu, dan Rabu Abu ditetapkan untuk menggenapkan hari-hari puasa sebelum Paskah menjadi 40 hari. Peraturan-peraturan puasa bervariasi pula.
Pertama, sebagian wilayah Gereja berpantang dari segala bentuk daging dan produk hewani, sementara yang lain berpantang makanan tertentu seperti ikan. Sebagai contoh, Paus St. Gregorius (wafat 604), menulis kepada St. Agustinus dari Canterbury, perihal peraturan berikut: “Kami berpantang lemak, daging, dan segala makanan yang berasal dari hewan seperti susu, keju dan telur.”
Kedua, peraturan umum adalah orang makan satu kali dalam satu hari, yaitu pada sore hari atau pada pukul 3 petang.
Peraturan-peraturan puasa Masa Prapaskah juga mengalami perkembangan. Pada akhirnya, makan sedikit pada waktu siang diperbolehkan guna menjaga daya tahan tubuh selama melakukan pekerjaan sehari-hari. Makan ikan diperbolehkan, dan akhirnya makan daging juga diperbolehkan sepanjang minggu kecuali pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat. Dispensasi diberikan untuk mengkonsumsi produk-produk hewani jika orang melakukan kerja berat, dan akhirnya peraturan ini pun sepenuhnya dihapuskan.
Selama bertahun-tahun perubahan-perubahan terus dilakukan dalam merayakan Masa Prapaskah, menjadikan praktek kita sekarang tidak saja sederhana, tetapi juga ringan. Rabu Abu masih menandai dimulainya Masa Papaskah, yang berlangsung selama 40 hari, tidak termasuk hari Minggu. Peraturan-peraturan pantang dan puasa yang berlaku sekarang amatlah sederhana: Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, umat beriman berpuasa (makan kenyang hanya satu kali dalam sehari, ditambah makan sedikit untuk menjaga daya tahan tubuh) dan berpantang setiap hari Jumat selama Masa Prapaskah. Umat masih dianjurkan untuk “merelakan sesuatu” sesuatu selama Masa Prapaskah sebagai mati raga. (Catatan menarik adalah bahwa pada hari Minggu dan hari-hari raya, seperti Hari Raya St. Yusuf (19 Maret) dan Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret), orang bebas dan diperbolehkan makan / melakukan apa yang telah dikorbankan sebagai mati raga selama Masa Prapaskah).
Namun demikian, senantiasa diajarkan kepada saya, “Jika kamu berpantang sesuatu demi Tuhan, teguhkan hatimu. Janganlah berlaku seperti orang Farisi yang suka mencari-cari kesempatan.” Lagipula, penekanan haruslah dititikberatkan pada melakukan kegiatan-kegiatan rohani, seperti ikut serta dalam Jalan Salib, ambil bagian dalam Misa, adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, meluangkan waktu untuk berdoa secara prbadi, membaca bacaan-bacaan rohani, dan yang terutama menerima Sakramen Tobat dengan baik dan memperoleh absolusi. Meskipun praktek perayaan dapat berubah dan berkembang dari jaman ke jaman, namun fokus Masa Prapaskah tetap sama: yaitu menyesali dosa, memperbaharui iman, serta mempersiapkan diri menyambut perayaan sukacita misteri keselamatan kita.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: History of Lent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
May 21, 2008
Rabu Abu: Asal Mula Perayaan & Penggunaan Abu
oleh: Romo William P. Saunders *
Seorang teman Protestan bertanya mengapa orang Katolik mengenakan abu pada hari Rabu Abu. Bagaimanakah asal mula perayaan dan penggunaan abu?
seorang pembaca di Purcellville
Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1). Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM) menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.
Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)*
Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya “De Poenitentia”, Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah “hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu.” Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya “Sejarah Gereja” bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.
Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yang menghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, “Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?” Yang mana akan dijawab orang tersebut dengan, “Saya puas.” Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelas makna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.
Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu) menyambut Paskah. Ritual perayaan “Rabu Abu” ditemukan dalam edisi awal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric menyampaikan khotbahnya, “Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada awal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama Masa Prapaskah.” Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita.
Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus. Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.
Sementara kita mencamkan makna abu ini dan berjuang untuk menghayatinya terutama sepanjang Masa Prapaskah, patutlah kita mempersilakan Roh Kudus untuk menggerakkan kita dalam karya dan amal belas kasihan terhadap sesama. Bapa Suci dalam pesan Masa Prapaskah tahun 2003 mengatakan, “Merupakan harapan saya yang terdalam bahwa umat beriman akan mendapati Masa Prapaskah ini sebagai masa yang menyenangkan untuk menjadi saksi belas kasih Injil di segala tempat, karena panggilan untuk berbelas kasihan merupakan inti dari segala pewartaan Injil yang sejati.” Beliau juga menyesali bahwa “abad kita, sungguh sangat disayangkan, terutama rentan terhadap godaan akan kepentingan diri sendiri yang senantiasa berkeriapan dalam hati manusia … Suatu hasrat berlebihan untuk memiliki akan menghambat manusia dalam membuka diri terhadap Pencipta mereka dan terhadap saudara-saudari mereka.”
Dalam Masa Prapaskah ini, tindakan belas kasihan yang tulus, yang dinyatakan kepada mereka yang berkekurangan, haruslah menjadi bagian dari silih kita, tobat kita, dan pembaharuan hidup kita, karena tindakan-tindakan belas kasihan semacam itu mencerminkan kesetiakawanan dan keadilan yang teramat penting bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Ashen Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
* ayat dikutip dari Kitab Suci Komunitas Kristiani, Edisi Pastoral Katolik
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
Subscribe to:
Posts (Atom)