Showing posts with label pluralisme. Show all posts
Showing posts with label pluralisme. Show all posts

August 23, 2011

Muslim-Kristen Berbuka Bersama di California

disadur dari: http://www.perisai.net/agama/muslimkristen_berbuka_bersama_di_california





Perisai.net - ADA yang spesial pada acara buka bersama di San Gabriel Valley, Rowland Heights Sabtu (20/8) kemarin. Islamic Center yang terletak di negara bagian California, Amerika Serikat, tersebut mengadakan acara buka puasa bersama dengan mengundang sejumlah umat Kristen.
Ratusan orang Muslim dan Kristen terlihat menikmati hidangan yang disediakan dalam acara tersebut. "Sangat menyenangkan melihat orang-orang dari berbagai tempat datang berbuka bersama kami," ujar Presiden San Gabriel Valley, Arif Rizvi seperti dilansir Pasadena Star-News.
Beberapa pejabat terlihat datang ke tempat tersebut di antaranya adalah anggota kongres, Gary Miller, R-Brea, serta sejumlah anggota dewan dari Walnut dan Diamond Bar. Pidato utama pada acara tersebut dibacakan oleh Sheriff Los Angeles County, Lee Baca.
Saat ini, Islamic Center San Gabriel Valley yang terletak di 19164 E, Walnut Drive North tersebut sedang menjalani pembangunan besar-besaran. Bangunan itu rencananya akan dibuka Februari atau Maret tahun depan.
Sekretaris San Gabriel Valley, Ashraf Jakvani, mengatakan Islamic Center tersebut telah berubah wujud menjadi bangunan segi empat setinggi 40 ribu kaki, dilengkapi dengan tiga lantai utama. Sebelumnya, tempat tersebut hanyalah bangunan setinggi 8.000 kaki dengan sebuah lantai utama yang telah dipakai selama lebih dari 30 tahun.
Baca, yang menyebut dirinya sebagai seorang Katolik yang lemah, mengatakan kerjasama serta pengertian antar agama merupakan nilai yang sangat fundamental bagi Amerika. "Tiap kali seseorang dengan keyakinan tertentu bergabung dengan seseorang dari keyakinan lain, Amerika menjadi lebih kuat. Hal itu juga menandakan segala sesuatunya bisa menjadi lebih baik," kata Baca.
Setelah menikmati hidangan buka puasa, orang-orang Muslim melaksanakan shalat. Sedangkan orang-orang non-Muslim diundang untuk melihat praktek tersebut. []
© Republika

Dialog Bantu Muslim-Non Muslim Amerika Saling Memahami

disadur dari: http://www.perisai.net/agama/dialog_bantu_muslimnon_muslim_amerika_saling_memahami



Perisai.net - SEORANG perempuan tengah memperbaiki kerudung di kepalanya. Sesekali melihat cermin yang ia bawa. Nama perempuan itu Magali Curiel, seorang Kristen, warga Curaco, sebuah kota di salah satu negara Karabia.
Curiel tengah menghadiri, perayaan 17 tahun hari Kemanusiaan di Islamic Center of Pittsburgh, sebuah acara yang dimaksudkan untuk membangun pemahaman antara Muslim dan Non Muslim. "Sebelum saya datang, oleh teman, saya dianggap gila untuk pergi ke sebuah acara orang Islam," paparnya seperti dikutip PostGazzete.com, Selasa (23/8).
Sedari awal, ia sudah niat untuk menghadiri acara tersebut guna mengetahui informasi lebih lanjut tentang Muslim dan Islam. "Ada kesalapahaman," katanya. Dalam acara itu, hadir 650 orang dari berbagai kepercayaan yang mendengarkan pemaparan hukum Islam oleh Imam Ramez Islamobouli, Pengajar hukum Islam, pusat studi Islam dan Arab di Case Western Reverse University, Cleveland.
Menurut Imam Islamic Center, Abdusamih Tadese, mengatakan topik itu dipilih karena pertanyaan tentang Syariah menarik rasa penasaran dari banyak warga AS. Ia mengatakan secara harfiah syariah bermakna dari kewajiban Muslim terhadap tetangga mereka.
Tahun lalu, komite Yahudi Pittsburgh menggelar program antar agama di Aula Social Rodef Shalam, yang mana sekitar 70 siswa dari, Yahudi, Islam, Hindu, Protestan, dan agama Katolik datang bersama-sama. "Beberapa tahun yang lalu, saya takut Muslim," kata Deborah Fidel, Direktur Eksekutif Komite Yahudi Pittsburgh.
"Suatu hari saya mendengar mereka [Muslim] berbicara tentang diskriminasi nyatanya, mereka begitu menderita, dan saya duduk di sana dan mendengarkan, sekaligus menyadari cerita mereka sama dengan nenek moyang kami," kata dia.
Semenjak malam itu, Deborah memutuskan untuk berhenti berbicara soal Muslim dan mulai mendengarakan dan menjadi bagian dari solusi bukan masalah. Deborah, berada di antara lima orang yang dihormati oleh Islamic Center yang diundang untuk mempererat hubungan antara Muslim dan Non Muslim. 
Keempat orang lainnya, uskup David Zubik, Keuskupan Katolik Pittsburgh, Lois Campbell, Direktur Eksekutif Antar keyakinan, Gleen Grayson, dan Jaksa untuk Distrik Barat Pennysylvania, David J Hickton Sammar Barakat, Muslim dari North Oakland, mengatakan ini adalah pertama kalinya dia berpartisipasi dalam sebuah acara yang membantu orang-orang saling memahami.
"Ini adalah kesempatan bagus untuk menjadi bagian dalam suatu acara. Karena memberikan kesempatan untuk bertanya tentang Islam," pungkas dia. []
© Republika

Di Memphis, Islam-Kristen Rekreasi Bersama



Pluralisme di Amerika Serikat
HMINEWS- Inilah wujud toleransi  yang tengah ditumbuh suburkan di Tennesse, Memphis, Amerika Serikat. Ketiadaan masjid tak membuat umat Muslim shalat di trotoar jalan pada hari Jumat. Beberapa gereja besar di sana, mengikhlaskan aulanya digunakan sebagai tempat shalat Jumat.
Gereja-gereja yang membuka diri umumnya yang tergabung dalam Christ United Methodist Church. Christianity Today menunjuk Gereja Heartsong di Cordova, Tennessee, di mana Steve Stone mengundang muslim tetangga gereja untuk menggunakan tempat mereka sebagai masjid darurat bagi kegiatan Ramadan karena  Islamic Center tengah diperbaikini. Hal yang sama juga dilakukan Aldersgate, gereja Methodist Amerika di Arlington, Virginia, di mana jemaat Islam disambut untuk menggunakan ruang gereja untuk shalat Jumat selama beberapa ulan.
Muslim-Kristen juga kerap melakukan kegiatan sosial bersama. Misalnya saja, membantu kaum papa saat Natal bulan lalu. Mereka juga beberapa kali bertamasya bersama.
Namun, langkah ini diprotes beberapa warga Kristen. Menurut mereka, adalah ceroboh menyerahkan kunci pada nonKristen untuk beribadah di salah satu bangunan mereka. “Cinta berarti memimpin orang kepada Yesus, tidak membantu dan bersekongkol dengan agama yang berbeda. Dan ada berbagai cara untuk menunjukkan persaudaraan,” kata seorang warga, seperti dikutip Christianity Today.[]ABNA/rep

January 23, 2011

Paus Benediktus XVI akan Gelar Pertemuan Antar Agama untuk Perdamaian Dunia


HMINEWS- Beberapa jam setelah serangan teroris yang menewaskan 21 orang di sebuah Gereja Koptik di Aleksandria, Mesir, Sabtu (1/1/2011), Paus Benediktus XVI mengumumkan bahwa ia akan mengadakan pertemuan antaragama pada bulan Oktober mendatang di Asisi, Italia. Pada pertemuan para pemimpin agama itu akan dibahas tentang bagaimana agama bisa mempromosikan perdamaian dunia.
Hal itu akan menandai peringatan 25 Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang mulai diadakan Paus Yohanes Paulus II di Asisi pada tanggal 26 Oktober 1986. Mengapa Assisi, sebuah kota di Italia Tengah dipilih?  Tentu bukan karena aksesnya ke sebuah bandara. Kota itu dipilih karena merupakan kota asal Santo Fransiskus Asisi, seorang santo yang dicintai di kalangan Kristen karena  kemurahan hati dan semangat juangnya bagi perdamaian sebagaimana dicontohkan dalam sebuah pertemuan yang sangat bersahabat antara dia dengan Sultan Malik al-Kamil dari Mesir di tengah-tengah Perang Salib Kelima tahun 1219.
Paul Moses, seorang profesor jurnalisme di Brooklyn College dan The CUNY Graduate School of Journalism, dalam artikel di CNN.com, Minggu, menulis, dengan contoh dari Fransiskus yang menginspirasi orang Kristen dalam dialog antaragama, saatnya untuk mengatakan bahwa Sultan al-Kamil, juga bisa menjadi model. Sultan al-Kamil memberikan contoh bagi kaum Muslim untuk menghormati kekudusan Kristen.
Sultan al-Kamil, keponakan dari pejuang besar Muslim, Salah ibn al-Din Yusuf Ayyub, atau Saladin, memimpin Mesir selama sekitar 40 tahun sebagai raja muda dan sultan. Dia berkuasa pada periode yang sulit yang ditandai kelaparan dan serangan oleh kaum Mongol dari timur dan tentara salib dari barat.
Ketika Fransiskus menyeberangi garis musuh untuk mencapai tenda Sang Sultan dekat sungai Nil pada musim panas tahun 1219, Sultan itu memiliki banyak alasan untuk menghentikan seorang pria yang ingin untuk memberitakan iman dari musuhnya. Namun ia justru memperbolehkan biarawan itu berdikusi bersamanya selama beberapa hari.
Tindakan Sultan itu mercerminkan rasa hormat tradisional kaum Muslim bagi biarawan Kristen, sebuah tradisi yang berasal dari masa Nabi Muhammad, yang bertemu dengan para biarawan Kristen. Dikatakan bahwa beberapa biarawan termasuk kelompok pertama yang mengakui bahwa dalam diri Muhammad ada potensi untuk menjadi nabi. Quran juga berbicara dengan penuh kasih  tentang biarawan Kristen, dengan mengatakan mata mereka penuh dengan air mata pengakuan kebenaran akan Allah.
Laporan dari abad Pertengahan dari Gereja Koptik, gereja kuno Mesir, juga memuji Sultan al-Kamil karena toleransinya. Ia memerintahkan untuk mendukung kaum Kristen Koptik ketika terjadi suatu perselisihan tentang apakah membangun sebuah gereja atau masjid di sebuah situs di Kairo. Orang Kristen Koptik gembira dengan berparade di jalan-jalan Kairo pada suatu kesempatan lain ketika ia mendukung mereka dalam sengketa kepemilikan kapal emas dan harta lain yang ditemukan dalam pembangunan sumur di sebuah biara.
Ia juga menangani dengan bijaksana orang Kristen Koptik ketika dipanggil untuk memutuskan sebuah kontroversi di dalam gereja itu tentang siapa yang akan menjadi bapa gereja (pemimpin). Dan, ketika ia mengalahkan tentara Kristen dalam Perang Salib Kelima, ia mengejutkan para tentara salib yang kelaparan dengan memberi mereka makan dan menjamin transportasi mereka ke rumah. Pada saat yang sama, ia adalah seorang Muslim-Sunni yang setia yang membangun sekolah-sekolah keagamaan dan sebuah kubah peringatan indah untuk salah satu ulama besar Islam, Iman al-Syafi’i.
Paul Moses yang menulis buku The Saint and the Sultan: The Crusades, Islam and Francis of Assisi’s Mission of Peace dalam artikelnya menyatakan, “Ketika saya sedang menulis buku tentang pertemuan antara Fransiskus dengan Sultan, saya memulai dengan skeptisisme jurnalistik tentang orang yang berkuasa seperti sultan. (Namun) ia memenangkan saya ketika saya meriset hidupnya, saya menyadari Sultan al-Kamil adalah seorang negarawan yang tindakan bijaknya sangat dipengaruhi oleh imannya. Pada suatu kesempatan, saya meluangkan beberapa jam dari waktu penelitian saya di Kairo untuk berbicara kepada sekelompok siswa di sekolah perempuan Kristen. Para siswa langsung mengenali Sultan itu ketika saya berbicara tentang dia, menilai dia sebagai seorang pemimpin yang baik baik dan kuat.”
Moses berharap, ketika para pemimpin agama dunia berkumpul di kota kelahiran Fransiskus Assisi pada Oktober mendatang untuk membahas bagaimana agama bisa menjadi alat bagi perdamaian, mereka kiranya bisa belajar banyak dari contoh yang telah dilakukan Sultan itu.[]kcm/ian

December 9, 2010

Antara Pluralisme & Pluralitas

PLURALISME
Istilah ‘Plural’ sudah jelas kita mengerti sebagai ‘jamak’, dan ‘Pluralitas’ adalah kenyataan yang harus diterima bahwa kita berada dalam kondisi di Indonesia dan dunia masakini dimana kita menghadapi kejamakan cara berfikir, cara hidup, dan cara beragama. Sampai di sini, Pluralitas hanya menyadari adanya kepelbagaian di dunia.
Lain halnya dengan ‘Pluralisme,’ istilah ini berkembang ditengah-tengah ‘eksklusivisme agama’ yang makin berkembang pada era reformasi sebagai akibat reaksi terhadap fundamentalisme dan modernisme, atau yang dikenal sebagai salah satu cabang reaksi ‘posmo.’ Dalam hal agama, eksklusivisme ditujukan pada kenyataan bahwa setiap agama cenderung mengklaim sebagai satu-satunya agama dimana terdapat jalan keselamatan dan diluar itu tidak ada jalan lain.
Sejak dulu eksklusivisme tidak menjadi masalah, namun eksklusivisme itu menjadi tiran ketika bergabung dengan kekuatan politik kolonial dan menjadi mayoritas sehingga menganggap yang lain yang mayoritas itu sebagai lebih inferior dan harus ditobatkan (proselitasi). Kondisi ini dalam abad kolonialisme menempatkan kekristenan sebagai agama mayoritas dan eksklusif di tengah-tengah bangsa dan agama ditempat jajahan yang semula dianggap inferior.
Dengan latar belakang demikianlah, ketika pada akhir abad-XIX dan awal  abad-XX terjadi gerakan nasionalisme dan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, keseimbangan menjadi berubah dimana bangsa-bangsa jajahan mendirikan negara sendiri dan menentukan identitas sendiri (termasuk tradisi budaya agama) yang juga di klaim sebagai eksklusif. Perbenturan peradaban inilah yang melahirkan usaha-usaha yang mengarah pada penerimaan kejamakan dalam beragama atau dikenal sebagai ‘Pluralisme’ yaitu ‘suatu situasi di mana berbagai agama berinteraksi dalam suasana saling menghargai dan dilandasi rasa kesatuan sekalipun berbeda faham.’
Jadi kalau eksklusivisme menganggap agama sendiri benar yang lain tidak maka pluralisme menganggap semua agama itu benar jadi harus diterima dengan terbuka sekalipun berbeda dengan agama sendiri. Sikap demikian tentu berdampak pagi pandangan ‘Fundamentalisme’ dalam agama-agama yang cenderung mengklaim agamanya sendiri sebagai jalan kebenaran satu-satunya. Selain fundamentalisme, reaksi eksklusif lainnya adalah ‘Proselitisme’ ynag menolak kebenaran agama lain dan menjadikan pengikut agama lain menjadi pengikut agama sendiri dengan berbagai cara. Sebaliknya, ada juga reaksi ‘Sinkretisme’ yang bersifat kompromistis dengan cara mencampur-adukkan keyakinan agama-agama yang bertemu itu.
INKLUSIVISME
Reaksi keempat berjalan lebih jauh dari Sinkretisme dan dikenal sebagai ‘Inklusivisme’ yang berusaha untuk menggapai kesatuan agama-agama, dan berbeda dengan eksklusivisme, di sini ada usaha untuk ‘menjadikan agama-agama yang banyak itu sebagai salah satu facet dari agama yang satu,’ dan berbeda dengan sinkretisme yang mencampur-adukkan agama-agama, disini agama-agama diperas menjadi satu. Dari kubu pluralisme dan inklusivisme inilah kemudian dipopulerkan dialog antar agama sebagai pengganti misi penobatan. Pada awal tahun 1960-an sebagai hasil Konsili Vatikan-II, Gereja Katolik Roma membuka peluang kearah itu, dan di awal tahun 1970-an menyusul Dewan Gereja Dunia (WCC) juga membuka diri akan dialog antar agama.
Pada abad-XX relativisme agama dikaitkan dengan kemajuan evolusioner dipopulerkan oleh Ernst Troeltsch yang menolak absolutisme agama dan menjadikan ‘Yang Mutlak’ menjadi tujuan bersama dalam proses evolusioner dalam semua agama. Sikap Troeltsch ditolak Karl Barth yang mengajukan pandangan eksklusif dan tidak mengenal kompromi mengenai pewahyuan diri Allah dalam Yesus Kristus, namun berbeda dengan eksklusivisme, Barth berpendapat bahwa agama Kristen itu yang benar, namun sejauh agama Kristen melalui rahmat hidup karena rahmat ia menjadi tempat agama yang benar.
John Hick menafsirkan kembali Kristologi tradisional dengan mengemukakan bahwa istilah ‘Allah’ bukanlah seperti yang dikemukakan sebagai pribadi dalam agama teistik melainkan sebenarnya merupakan ‘realitas tak terbatas yang dipahami dengan berbagai cara melalui berbagai bentuk pengalaman beragama’ yang disebutnya sebagai ‘Yang Nyata.’ Wilfred Cantwell Smith mengungkapkan bahwa manusia sekarang memasuki tahapan baru pluralisme agama dimana agama-agama perlu merumuskan kembali dan menguji teori-teori agamanya sendiri dan mengembangkan teori-teori agama yang bisa diterima oleh agama-agama lain. Smith menolak kristologi yang eksklusif. Kristen Stendahl dari Harvard menafsirkan PL & PB sebagai suatu kesaksian tentang ‘partikularisme dalam kerangka universalisme.’  
Tidak semua sepakat dengan Hick, Karl Rahner, teolog Roma Katolik, berusaha secara sistematis untuk menegaskan keeksklusifan dan universalitas Kristus dan sekaligus menghormati kehendak Allah untuk menyelamatkan yang sifatnya universal. Dalam pandangannya yang kelihatannya seperti mendua, Rahner tetap menganggap Kristus secara eksklusif, tetapi secara universal agama-agama lain menghadirkan ‘kristen anonim.’ Rahner berusaha mendamaikan rahmat Allah yang menyelamatkan, yang universal sifatnya, dengan keeksklusivan Kristus sebagai kriteria yang nyata dan sempurna untuk rahmat itu. Ini bisa dijadikan dasar bagi umat Kristen untuk bersikap toleran, rendah hati, namun tegas terhadap semua orang non-Kristen.
Stanley Samartha mengemukakan bahwa umat Kristen harus mendekati dialog antar-agama atas dasar teosentris dan bukan kristosentris. Samartha mendefinisikan dialog sebagai ‘upaya untuk memahami dan menyatakan partikularitas kita bukan hanya dalam kaitan dengan warisan kita sendiri tetapi juga dalam hubungan dengan warisan rohani tetangga-tetangga.’ Raimundo Panikkar yang beribu Kristen RK dan berayah Hindu meneruskan, bahwa: ‘kebenaran yang dikemukakan agama adalah universal dan dianggap sebagai pendirian yang partikular dan terbatas, sedangkan sebetulnya masing-masing merupakan perumusan yang memang dibatasi oleh faktor budaya mengenai suatu kebenaran yang lebih universal.’
Dari berbagai pandangan di atas, inklusivisme kemudian dimengerti sebagai sikap yang menerima kebenaran semua agama, dan bahwa agama itu hanya merupakan jalan partikular untuk mencapai kebenaran yang universal yang menyembah Tuhan ‘Yang SATU’ itu.
ESENSI INKLUSIVISME
Apakah Sebenarnya esensi Inklusivisme itu? Sebenarnya esensi inklusivisme adalah ‘Relativisme’ yang dilandaskan kepercayaan bahwa agama-agama pada hakekatnya sama dan dianggap sebagai sesuatu yang relatif sesuai dengan tahap perkembangannya dalam evolusi agama. Agama-agama tidak lain adalah jalan partikularis menuju yang universalis. Ini mendorong kearah pandangan mengenai kesatuan agama yang disebut ‘universalisme.’
Universalisme’ berlandaskan logika bersama mengenai ‘Yang Satu dan Yang Banyak.’ Dari perspektif filsafat dan teologi, logika bahwa suatu sumber realitas dialami dalam pluralitas cara tampaknya, oleh teolog tertentu dianggap sebagai cara yang paling memuaskan untuk menjelaskan fakta pluralisme keagamaan, ini bisa disebut pendekatan yang ‘theosentris.’ Sebenarnya pandangan demikian didasarkan gagasan ‘Veda’ Hinduisme mengenai hakekat ‘Yang SATU’ yang disebut dengan ‘banyak nama.’ Pandangan ini disebut sebagai ‘Monisme’ yang beranggapan adanya satu keberadaan tunggal ‘Yang Satu’ yang tidak berpribadi (berbeda dengan theisme yang mempercayai Tuhan yang berpribadi).
Pandangan Relativisme dan Universalisme tidak beda dengan faham ‘Mistisisme’ mengenai keyakinan ‘kesatuan manusia yang sezat dengan sumbernya.’ (Yaitu Yang SATU itu). Dalam mistik Hinduisme, penyatuan itu dianggap sebagai penyatuan ‘atman dengan brahman’ atau dalam mistik Buddhisme ‘atman dengan an-atman.’
Di kalangan kristen, ketiga esensi ini berkembang lebih jauh menuju ‘de-kristosentrisme,’ dari kristosentris menuju ‘theosentris’ namun yang dimaksud adalah ‘theos yang tidak berpribadi’ yang merupakan esensi mistik universal. Pandangan theolog liberal yang menganut inklusivisme cenderung untuk ‘memikirkan kembali Kristologi’ yang ujung-ujungnya menjadikan Kristus bukan sebagai jalan yang unik tetapi sekedar sebagai salah satu dari jalan yang banyak itu, Kristus tidak lebih hanya sekedar ‘avatar’ yang sama dengan tokoh-tokoh agama lain.
SIKAP MENGHADAPI PLURALISME
Pluralisme berkembang sebagai reaksi ‘eksklusivisme’ dan ‘fundamentalisme’ agama yang sering membuat manusia terpecah-pecah, namun Pluralisme ujung-ujungnya bukannya suatu keterbukaan terhadap pluralitas (keperlbagaian) tetapi berujung kepada penyamaan semua agama bahkan kemudian cenderung menjurus pada ‘inklusivisme’ yang ingin memeras agama menjadi satu agama universalis yang menuju ‘Yang SATU’ yang tidak berpribadi itu.
Di satu sisi memang kita harus berfikir terbuka bahwa kita hidup di bumi tidak sendirian tetapi berada di tengah-tengah agama lain jadi kita harus menerima kenyataan adanya agama-agama yang berbeda, tetapi menganggap semua agama sebagai sama dan menuju ‘Yang SATU’ rasanya terlalu meremehkan sejarah agama yang sudah ribuan tahun dengan keunikannya masing-masing. Memang pluralisme kelihatan seakan-akan merupakan jalan kompromi yang terbaik untuk menyatukan perbedaan faham agama-agama yang acapkali menimbulkan pertikaian dan perang, namun pluralisme kurang menghargai keunikan agama-agama, khususnya keunikan Kristus yang cenderung di ‘de-kristosentris’kan.
Umat kristen memang seharusnya tidak bersifat eksklusif dalam segala hal tetapi bersikap eksklusif dalam kredo (pengakuan percaya) adalah perlu, sebab sejarah agama Kristen yang dikandung Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru cukup meyakinkan untuk menerima keunikan Kristus. Jadi eksklusivisme dalam iman perlu namun ini jangan menjadikan kita eksklusif dalam sikap. Kita dapat menerima kehadiran agama-agama lain dengan sikap terbuka yang inklusif bahwa semua adalah umat manusia yang dikasihi oleh Tuhan yang berpribadi yang menyatakan diri dalam Kristus, namun penerimaan ini tidak harus menuju sikap yang menganggap semua jalan itu sama atau menganggap bahwa penganut agama lain sebagai ‘kristen anonim’ tetapi kita dapat menganggap mereka sebagai umat manusia yang tetap membutuhkan karunia keselamatan dari Tuhan, dan kita jangan berspekulasi mengenai ‘semua jalan ke Roma’ melainkan kita perlu untuk bersaksi mengenai ‘via dolorosa’ jalan menuju ke Golgota.
Umat kristen diharapkan dapat terbuka menghadapi kehadiran agama-agama, kita perlu mempelajari kitab suci dan pendapat-pendapat dari kalangan agama-agama lain, namun karunia keselamatan yang kita peroleh, ibarat ‘mutiara yang sudah ditemukan’ perlu kita bagikan sebagai kesaksian kepada mereka yang belum mengenal keindahan mutiara tersebut.
Eksklusivisme dan fundamentalisme agama perlu dibuka agar kita tidak menjadi penganut Kristus yang sempit yang tidak toleran dan bersifat menghakimi agama lain, tetapi sikap eksklusivis harus disertai dengan sikap yang terbuka dan toleran. Menghargai perbedaan-perbedaan itu penting, tetapi menerima perbedaan itu seakan-akan tidak berbeda jelas keliru. Untuk mencapai ini, jalan ‘Kasih’ adalah jalan terbaik untuk bersaksi, bukan dengan sikap memaksa dan menganggap rendah orang lain, tetapi dengan sikap kasih kepada sesama karena untuk itulah Kristus telah mati bagi kita.
Rasul Paulus menunjukkan sikap yang inklusif sekaligus beriman eksklusif ketika ia berbicara di Athena (Kisah 17:16-34). Ia menunjukkan sikap inklusif dengan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan para filsuf Epikuri dan Stoa. Ia mempelajari kitab suci dan tulisan para pujangga mereka. Ia tidak menolak kerinduan orang-orang dalam menyembah ‘Allah Yang Tidak Dikenal’ tetapi Paulus sedih hatinya melihat banyaknya berhala dan kuil-kuil di kota itu, karena itulah iman eksklusifnya menghasilkan suatu kesaksian bahwa ‘Yang Tidak Dikenal’ itu diperjelasnya dengan memperkenalkan keunikan Allah yang menjadikan langit dan bumi, Tuhan atas langit dan bumi yang memberikan hidup dan nafas kepada semua orang, dan Injil tentang Yesus yang telah bangkit. Ia tidak memaksa orang lain mengikut Kristus (proselitisme) melainkan ia men’share’kan imannya dan biarlah orang lain yang menentukan iman mereka sendiri. Alhasil ada juga yang percaya dengan kesungguhan hati tanpa dipaksa atau terpaksa. Haleluyah!

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org