Showing posts with label bapa gereja. Show all posts
Showing posts with label bapa gereja. Show all posts

December 16, 2010

Busana dan Perilaku Pantas di Gereja

oleh: P. William P. Saunders *


Saya seorang warga senior. Belakangan ini, saya terheran-heran melihat perilaku orang di gereja, bagaimana mereka berpakaian dan cara mereka ambil bagian dalam Misa, yang sama sekali berbeda dengan semasa saya masih muda. Mohon pendapat.
~ seorang pembaca di Springfield

Sesungguhnya, beberapa minggu belakangan ini saya menerima beberapa surat senada mengenai perilaku yang kurang pantas di gereja. Di satu pihak, kita tak perlu heran akan perilaku dan busana yang kurang pantas di gereja. Bagaimanapun, kita tinggal di tengah masyarakat di mana orang mencocok bagian-bagian tubuh mereka dan memasanginya dengan cincin - telinga, alis, hidung, lidah - yah, seperti yang biasa dilakukan para petani kepada ternak-ternak mereka (walau bahkan mereka pun tidak mencocok lidah). Banyak perusahaan sekarang menerapkan “Jumat Santai” di mana para karyawan pria dan wanita tidak harus mengenakan busana formal. Tetapi, The Wall Street Journal baru-baru ini melaporkan bahwa sebagian besar karyawan sekarang lebih tampak amburadul pada hari “Jumat Santai” dan dengan demikian melakukan pekerjaan mereka dengan amburadul pula. Semakin sering saya melihat busana santai pada acara-acara pernikahan dan pemakaman, yang selalu dipandang sebagai acara-acara “resmi”. Banyak orang telah melupakan sopan-santun, seperti membukakan pintu bagi seseorang, teristimewa wanita, atau menawarkan tempat duduk dalam bis kota bagi wanita, terutama yang sedang hamil atau yang lanjut usia. (Saya dibesarkan sebagai orang yang tahu sopan santun, entah orang menganggap saya sok atau kolot, terserahlah). Semakin jarang saja kata-kata “silakan” dan “terima kasih” sampai ke telinga kita. Yah, kita tak perlu heran jika perilaku yang kurang santun demikian masuk juga ke dalam gereja-gereja kita.

Sementara kita tak perlu heran akan perilaku masyarakat yang demikian, namun hendaknya kita tidak terbawa arus dan merendahkan diri kita dengan ikut-ikutan berperilaku demikian. Juga demi hormat terhadap Gereja, setiap kita wajib mengusahakan “Perilaku Misa” yang pantas, dan teristimewa para orangtua hendaknya memastikan bahwa mereka mengajarkan Perilaku Misa yang pantas kepada anak-anak mereka.

Sebab itu, sebagai seorang imam dan sebagai seorang yang dibesarkan serta dididik oleh orangtua yang baik dan saleh, saya akan coba mengemukakan apa yang saya anggap sebagai Perilaku Misa yang pantas.

Pertama-tama, marilah kita mulai dengan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk merayakan Misa. Hendaknya setiap orang berbusana pantas. Seperti layaknya kita berbusana sopan dan pantas untuk pergi ke pesta atau untuk menemui seorang yang kita hormati, misalnya Bapa Uskup atau Bapa Suci, demikianlah kita berbusana untuk menemui Tuhan, yang hadir dalam Ekaristi Kudus. Tentu saja, mungkin kita dapat sedikit lebih santai, tetapi haruslah tetap rapi, bersih dan sopan. Terus terang, celana pendek hanya pantas dikenakan oleh anak-anak yang masih amat muda; T-shirts sebaiknya disimpan untuk piknik; celana ketat sebaiknya disimpan untuk senam; dan baju strapless / backless yang minim sebaiknya dibakar saja. Dalam memutuskan apa yang akan kita kenakan, hendaknya kita memikirkan ini, bahwa “Aku berdandan untuk bertemu dengan Tuhan-ku dan untuk ikut ambil bagian dalam misteri keselamatanku.”

Sebelum meninggalkan rumah, para orangtua perlu memastikan anak-anak pergi ke kamar kecil terlebih dahulu. Orang-orang yang keluar masuk bangku sepanjang Misa untuk pergi ke kamar kecil sungguh mengganggu. Memang, mereka punya alasan yang tepat untuk mempergunakan kamar kecil pada waktu Misa berlangsung. Tetapi, saya pikir sebagian anak-anak mulai menjadikannya sebagai suatu kegiatan rutin: pada saat homili, pergi ke kamar kecil; pada saat Komuni, minum air, dan lalu pergi ke kamar kecil. Sungguh, saat saya masih kecil, saya bahkan tidak tahu bahwa Gereja St Bernadette menyediakan kamar kecil; sebab, kecuali jika saya merasa mual dan hendak muntah, saya tidak pernah meninggalkan bangku selain dari saat menyambut Komuni Kudus.

Selanjutnya, berangkatlah dari rumah pada waktunya agar tiba di gereja sebelum Misa dimulai, sebaiknya sekitar sepuluh menit sebelumnya. Dengan demikian kita punya cukup waktu untuk berdoa dan siap untuk ikut ambil bagian dalam Misa. Tentu saja, terkadang suatu hal mendadak terjadi sehingga keluarga terlambat datang ke gereja; berbeda situasinya jika umat senantiasa datang terlambat.

Ketika tiba di gereja, buanglah permen karet pada tempat sampah yang tersedia. Pastilah ada suatu tempat khusus di api penyucian bagi mereka yang biasa melekatkan permen karet di bangku-bangku gereja. (Sesungguhnya, tak seorang pun diperbolehkan mengunyah permen karet mengingat peraturan puasa sebelum menyambut Komuni). Mereka yang membuang tissue, lembar warta paroki, puntung-puntung rokok, bungkus permen / makanan, dan macam-macam sampah lainnya dalam wilayah gereja kemungkinan besar akan harus tinggal juga di tempat yang sama dalam api penyucian.

Saat masuk ke dalam gereja, pastikan kita membuat Tanda Salib dengan air suci, gerak isyarat ini mengingatkan akan Pembaptisan kita dan menguduskan kita. Sebelum duduk di bangku umat, pastikan kita melakukan genuflect (= berlutut dengan satu kaki), suatu sikap hormat yang penting terhadap kehadiran Tuhan kita dalam Ekaristi Kudus dalam tabernakel. Matikan nada dering sekaligus nada getar telepon genggam. Bukan saja perhatian orang yang seharusnya penuh tertuju kepada Tuhan menjadi terbagi, melainkan orang-orang lain pun akan terganggu oleh nada dering ataupun nada getar yang berbunyi selama Misa (lihat “Tinggalkan Telepon Genggam di Rumah” oleh Rm William P Saunders).

Dalam bersembah sujud, kita perlu ikut ambil bagian dalam nyanyian dan doa-doa, mendengarkan bacaan-bacaan Misa dengan seksama dan mendengarkan homili dengan penuh perhatian. Saya selalu heran akan “tiang-tiang garam” yang tak pernah membuka mulut mereka untuk menyanyi ataupun berdoa, atau akan “barisan kentang” yang membaca warta paroki sepanjang homili. Para orangtua hendaknya membantu anak-anak mereka: hari Minggu yang lalu, saya melihat seorang ibu yang menelusuri kalimat demi kalimat dalam lembar Misa dengan jari-jarinya agar kedua puteranya yang masih kecil dapat lebih mudah mengikuti dan memberikan perhatian pada perayaan Misa. Pada intinya, semua orang hendaknya ikut ambil bagian dalam Misa dengan penuh hormat dan sukacita.

Para orangtua perlu membimbing anak-anak mereka. Yesus mengasihi dan menyambut hangat anak-anak, tetapi anak-anak perlu dibantu. Jika anak mulai rewel, maka orangtua hendaknya segera membawa si anak keluar dan menenangkannya sebelum membawanya masuk kembali ke dalam gereja. Anak-anak hendaknya tidak dibiasakan makan dan minum dalam gereja, tidak dibiarkan menggemerincingkan kunci, menjatuhkan mainan-mainan, menyepak-nyepak bangku, berjalan-jalan atau berlarian dalam gereja. Tingkah laku yang demikian menganggu umat lainnya, dan teristimewa mengganggu imam yang mempersembahkan Misa. Orangtua haruslah menjadi orangtua, dengan menerapkan kasih sayang dan disiplin pada anak-anak.

Ketika menyambut Komuni Kudus, senantiasa lakukanlah dengan penuh hormat. Haruslah kita senantiasa sepenuhnya sadar bahwa kita menyambut Tuhan kita. Jika kita menyambut Komuni Kudus di tangan, pastikan tangan kita bersih dan disusun bagaikan tahta bagi Tuhan. Setelah menerima Hosti Kudus, kita harus segera menyantapnya sebelum berbalik dan kembali ke bangku. Komuni Kudus jangan pernah dianggap sebagai semacam antrian makanan di kantin, melainkan sebagai suatu perjumpaan mesra dengan Tuhan.

Setelah komuni, setiap orang wajib mengucap syukur atas anugerah berharga yang diterima dan membiarkan rahmat memenuhi jiwa. Betapa tragis melihat orang-orang meninggalkan Perayaan Ekaristi tepat setelah menyambut Komuni Kudus, bukan karena suatu keadaan darurat, melainkan karena mereka ingin menjadi orang pertama yang meninggalkan tempat parkir. Saya hanya dapat memikirkan Yudas, orang pertama yang meninggalkan Perjamuan Kudus sebelum selesai. Mempersembahkan kepada Tuhan satu setengah jam - dan biasanya kurang dari itu - demi Kurban Kudus Misa, bukanlah suatu pengorbanan yang teramat besar. Saya bertanya-tanya bagaimana perasaan orang-orang ini jika tamu mereka meninggalkan rumah mereka tengah perjamuan makan tanpa berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya, Misa diakhiri dengan berkat penutup; tinggallah hingga imam berarak masuk sebelum kita meninggalkan bangku. Sungguh baik jika umat bubar setelah lagu penutup selesai dinyanyikan. Tetapi, sebelum meninggalkan bangku, pastikan buku-buku doa telah dikembalikan ke tempatnya. Pastikan kita memungut tissue, lembar warta paroki, bungkus permen / makanan, atau barang-barang lainnya; jangan biarkan orang lain yang harus membereskan sampah kita; mungkin juga bangku akan segera dipakai untuk Misa berikutnya. (Suatu ketika, ibu saya, yang biasa membantu membersihkan Gereja St Bernadette, mendapati popok yang sudah terpakai ditinggalkan begitu saja di bangku gereja).

Saya yakin, point-point yang saya kemukakan di atas tidak sulit dilakukan, namun sering saya jumpai selama pelayanan saya sebagai imam. Saya juga tak ingin terlalu bawel atau cerewet, melainkan hanya mengajarkan penghormatan yang memang sudah sepantasnya bagi Misa yang saya persembahkan dengan penuh cinta. Ya, kita hidup dalam dunia yang amburadul di mana banyak orang telah melupakan sopan santun dan disiplin yang pantas. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa sopan santun “adalah penghormatan hati kepada kekudusan keluhuran manusia” (Thoughts for Daily Living, hal 50). Perilaku yang santun, entah dalam Misa ataupun dalam situasi-situasi lainnya dalam kehidupan sehari-hari, mengungkapkan rasa hormat kita kepada satu sama lain, dan kepada Tuhan.

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Appropriate Behavior in Church” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

December 9, 2010

Gereja Di Tengah Masyarakat

Dalam pekan ini, ada dua artikel di dua surat-kabar ibukota yang menarik untuk disimak.
Pertama, ada berita bahwa di salah satu kawasan perumahan ibukota yang akan dibangun gereja, masyarakat membuat spanduk yang berisi penolakan pembangunan gereja di tengah masyarakat mayoritas muslim. Kedua, ada berita di Camden, Australia, bahwa rencana pembangunan mesjid ditolak oleh empat gereja di kawasan itu yaitu gereja Baptis, Anglikan, Presbyterian, dan Evangelis. Yang menarik, alasan yang dikemukakan keduanya sama, yaitu: “Pembangunan tempat ibadat itu  dapat menimbulkan keresahan dan mengganggu ketenangan hidup beragama masyarakat mayoritas.”
Menghadapi kedua kenyataan yang kasusnya mirip itu kita sadar bahwa dimana-mana dan bagaimanapun, masyarakat mayoritas cenderung menjadi penentu dalam interaksi yang mengganggu homogenitas masyarakat mayoritas.
Kasus penolakan gedung gereja bahkan sampai pembakaran sudah banyak terjadi di tanah air dan di negara-negara Muslim, bahkan di Arab Saudi dilarang mendirikan gedung gereja sama sekali, sebaliknya, pembangunan mesjid di negara-negara Barat juga menghadapi dilema yang sama, masyarakat mayoritas cenderung menolak kehadiran pendatang minoritas yang mereka anggap sebagai ‘mahluk asing’ itu bahkan ada mesjid yang dirusak pula!
Kalau kita menyimak lebih dalam masalah ini, kita sadar bahwa kelompok agama cenderung eksklusif, baik dikalangan Islam maupun kalangan Kristen sehingga biasanya merupakan komunitas kecil ditengah komunitas besar yang berbeda dengannya.
Kalau kita menyimak bagaimana ‘Gereja di Tengah Masyarakat’ demikian, kita dapat memulainya dengan melakukan introspeksi diri sehingga mengurangi penolakan demikian. Beberapa hal yang ikut menjadi penyebab kemelut itu adalah:
Denominationalisme. Gereja terdiri dari berbagai denominasi yang saling berbeda, bersaing bahkan berebut jemaat, ini mengakibatkan cenderung dibangun gereja sekalipun jumlah jemaatnya masih sedikit. Akibatnya bisa dilihat akan banyak gedung gereja diperlukan untuk kebutuhan semua. Pernah ada deretan ruko dimana ada tiga gereja yang sangat berdekatan sekali, yang menarik, ketiganya berfaham aliran yang sama yang secara eksklusif ditujukan kepada kalangan etnis tertentu, namun ketiganya berbeda organisasinya, dibanyak kompleks ruko kita biasa menjumpai adanya gereja-gereja berbeda aliran yang saling berdekatan tanpa yang satu mau kenal dengan yang lainnya.
Gereja Interlokal. Berbeda dengan mesjid dikampung-kampung yang umumnya didatangi masyarakat sekitarnya atau semacam gereja Pentakosta lama di kampung-kampung yang juga memiliki jemaat yang saling berdekatan, gereja denominasi memiliki anggota yang bertebaran di segenap penjuru kota. Ini menimbulkan konsekwensi, khusunya jemaat tingkat menengah keatas, akan banyak mobil diparkir pada waktu kebaktian yang pada saat ada aktivitas di gereja itu jelas akan mengganggu privasi tetangga. Masalah ini juga sering menjadi pemicu ketidak puasan masyarakat disekitarnya karena mengganggu lalu-lintas dan menimbulkan kebisingan. Masyarakat modern di kota besar cenderung memiliki tingkat ekonomi yang meningkat dengan mobilitas tinggi sehingga mobil bukanlah merupakan kendaraan yang sulit dibeli dan mobil membutuhkan tempat parkit yang luas.
Gigantisme Narsistik. Cinta diri yang yang besar mendorong gereja-gereja kelas menengah ke atas membangun gereja-gereja mega dengan kapasitas besar dan biaya tak berhingga. Secara sosial, gereja besar cenderung menunjukkan arogansi yang menimbulkan jurang kaya miskin yang besar dengan lingkungan, apalagi kalau dibangun didekat kawasan kumuh.  Secara ekonomi pembangunan, pembangunan gedung gereja paling tidak ekonomis. Biasa gereja dibangun berlipat-lipat dari kapasitas yang sebenarnya diperlukan, akibatnya gereja cenderung kosong sepanjang tahun kecuali pada waktu perayaan Paskah atau Natal, ini menimbulkan masalah biaya operasional dan pemeliharaan yang tinggi. Saat ini di Amerika dan Eropah banyak gereja besar mengalami krisis keuangan, soalnya ditengah krisis global sekarang, banyak sumber dana pendukung mengurangi partisipasinya sehingga biaya rutin makin sulit dipenuhi.
Kenyataan-kenyataan diatas memang sulit untuk berubah karena sejalan dengan sifat alami gereja-gereja pada masakini, karena itu dalam waktu-waktu yang akan datang pembangunan gereja di Indonesia akan makin sukar dilaksanakan lebih-lebih gereja-gereja dikawasan berpenduduk padat yang bermodal kecil. Kondisi demikian akan bisa diatasi kalau gereja-gereja mau kembali dengar-dengaran akan firman Tuhan dan tidak saling bersaing menonjolkan diri.
Sejarah gereja menunjukkan adanya hubungan terbalik antara gereja yang dibangun sederhana dimasa susah dengan gereja yang dibangun besar-besar dimasa senang. Gereja mengalami kekuatannya ketika mereka harus beribadat (sekalipun dilarang) di lorong-lorong bawah tanah (katakombe), tetapi pada saat mereka menjadi kaya dan menjadi sekular dengan basilika-basilikanya, iman jemaat makin merosot (sekularisasi gereja di masa raja Konstantin). Kenyataan demikian terjadi sepanjang sejarah gereja. Gereja-gereja besar dan mewah (megachurch) merupakan persemaian bibit nepotisme, perpecahan, perebutan warisan, kepemimpinan dan harta, apalagi kalau pendeta perintis yang dikultuskan meninggal dunia. Baik Cristal Cathedral di Los Angeles (Robert Schuller) maupun Yoido Church di Seoul (Yonggi Cho) sudah mengalami prahara perpecahan.
Di dunia Barat dimana kekristenan masih terbilang mayoritas (sekalipun secara statistik) gejala kemerosotan sudah banyak terjadi dimana rasionalisme dan sekularisasi melanda iman jemaat sehingga kerinduan berjemaat secara organisasi mengendur dan jemaat mulai meninggalkan gedung-gedung gereja yang makin kosong. Banyak gereja sudah beralih pemilik, kalau tidak untuk museum, bar/tempat hiburan, atau berubah menjadi mesjid.
Menghadapi kenyataan-kenyataan demikian, gereja-gereja sudah harus berbenah, apalagi yang baru mau didirikan. Hukum optimum pembangunan gedung gereja yang paling tepat untuk berjemaat dan kemampuan manajemen yang mengelola harus benar-benar diperhatikan agar eforia yang semula tinggi untuk membangun gereja secara besar-besaran diiringi dengan studi kelayakan yang benar sehingga tidak dihadapi masalah dikemudian hari.
Sudah tiba saatnya arogansi kelompok disalibkan bersama Kristus dan umat Kristen bisa kembali memikirkan berdirinya ‘gereja-gereja rumah’ seperti yang diceritakan dalam Kitab Para Rasul, bukan sebagai substitut (pengganti) tetapi sebagai complement (pelengkap), dimana andaikan terjadi pelarangan maupun pengrusakan gereja tidak akan mengganggu kesinambungan persekutuan dikalangan jemaat.
Umat kristen perlu kembali banyak berdoa dan banyak taat kepada Tuhan Yesus dan mencari apa kehendak-Nya dalam hal pembangun gereja, agar jemaat di dalamnya dapat bertumbuh dengan sehat, baik secara jumlah maupun secara iman, sehingga jemaat bisa menjadi  gereja yang berbuah lebat dan menjadi berkat bagi lingkungannya, dengan demikian Allah dipermuliakan karena kebajikan gereja-gerejanya.

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org

Mengapa Gereja Ditolak?


“Siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu  tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”
(1Petrus 3:13-17)
Gambar diatas menunjukkan ibadah di alam terbuka sebuah jemaat gereja yang pembangunan gerejanya ditolak warga sekalipun sudah mengantongi izin Pemda. Menurut statistik, pada kurun lima tahun terakhir sudah lebih dari 100 gedung gereja ditolak pembangunannya, ada yang dibakar, ada yang ditarik kembali izinnya, ada yang dirusak massa, dan ada yang dihentikan pembangunannya oleh massa tertentu. Dalam kurung sejak orde baru memerintah tercatat lebih dari 1.000 gedung gereja mengalami penghambatan dalam pembangunannya.
Mengapa gereja mendapat penolakan di berbagai lokasi di tanah air? Ayat diatas menunjukkan bahwa penderitaan yang dialami gereja bisa terjadi karena dua hal, bisa karena kebenaran tetapi bisa juga karena kesalahan gereja itu sendiri! Karena itu apa saja kesalahan yang mungkin melekat dalam gereja?
Beberapa faktor dapat menjadi bahan renungan bagi gereja agar menjadikan momentum penolakan terhadap gereja itu sebagai cermin untuk introspeksi diri.
1. Ungkapan kekesalan yang kalah.
Seorang tokoh Islam pernah berkomentar mengenai kaum radikal diagamanya yang membakar Mesjid (Ahmadyah) dan Gereja. Ia mengatakan bahwa tindakan itu didorong oleh rasa terdesak agama mayoritas atas migrasi agama minoritas di lingkungan mereka dan karena kesal dan merasa kalah maka timbullah reaksi yang acapkali radikal. Di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya beragama kristen, fanatisme yang sama juga bisa diidap oleh sekelompok kaum fundamentalis kristen, gerakan ‘anti Islam’ sekarang tumbuh di Barat;
2. Kristenisasi Massal?
Gereja banyak dituduh melakukan kristenisasi massal, benarkah? Belum lama ini di Bekasi ada gereja dimana pendetanya dikejar-kejar dan dihalalkan darahnya, soalnya pendeta itu melayani yayasan yang mengumpulkan banyak pemulung dan melakukan aksi sosial kepada mereka, tak lama kemudian dilakukan pembaptisan masal para pemulung yang didatangkan ke kolam renang dengan banyak bus;
3. Fanatisme Israel.
Dalam kasus konflik Israel-Palestina, umat kristen cenderung membela Israel, bahkan banyak turis kristen berkunjung dan mendatangkan devisa untuk Israel dan menutup mata terhadap penderitaan orang Palestina di sana. Kita harus sadar bahwa nenek moyang orang Palestina sudah lebih dahulu berada di kawasan itu sebelum Abraham menyeberang dari kawasan Aram diseberang sungai Efrat ke Kanaan. Ingat juga bahwa Yesus tidak pernah mau dijadikan pembebas bangsa Israel secara fisik apalagi mendirikan kerajaan Israel, tetapi membebaskan manusia dari dosa. Kalau kita membaca sejarah PL + PB dimana umat Israel berkali-kali dibuang keluar dari Israel kecuali mereka bertobat dan kembali kepada Allah, mereka tetap mengeraskan hati bahkan membunuh Tuhan Yesus Kristus di kayu salib;
4. Dari Katakombe ke Basilika;
Gereja-gereja diawali dengan misi yang sederhana bahkan menderita di lorong-lorong bawah tanah (Katakombe), namun setelah terkumpul masa dan kaya maka dibangunlah gereja besar bahkan megachurch yang sering mencolok dilihat (ala Basilika, masa ini disebut masa sekularisasi gereja). Seusai kerusuhan SARA di Situbondo (1996) dan sekitarnya dimana 27 gereja dirusak/dibakar, ada gereja di jalan protokol yang dibangun lebih mewah dari puing kebakarannya, ini mendatangkan kritik Sumartana almarhum yang menyebut bahwa: “Gereja kurang peka membangun dipintu masuk kota santri itu. Bandingkan ini dengan seorang yang di jalan-masuk rumahnya ada tamu tak disenangi yang berdiri dengan ‘mekakang’!
5. Denominasionalisme.
Salah satu masalah internal gereja adalah persaingan antar gereja. Kita bisa melihat kalau ditempat berdekatan dibangun beberapa gereja dari denominasi berbeda, akibatnya rasio jumlah jemaat lokal dibanding kesediaan gedung gereja menjadi pincang. Ada kota sedang didekat Situbondo dimana penulis pernah melayani dan diajak majelis berkeliling kota dan ditunjukkan sebuah gereja besar yang kapasitasnya 2.000 kursi yang dibangun dekat pesantren, lalu penulis menanyakan ‘jemaatnya berapa ya?’ jawabnya ‘200.’ Baru-baru ini seorang majelisnya memisahkan diri dan membangun gereja saingan berkiblat ke gereja sukses di Surabaya yang dibangun diantara gereja itu dan pesantren. Gereja berdempetan bukan hal baru di ruko-ruko bahkan sering berebut jemaat dan tampat parkir!
6. Eksklusivisme.
Salah satu kelemahan gereja masakini adalah umumnya memiliki jemaat yang berdomisili jauh dari lokasinya, akibatnya kalau masa kebaktian mobil-mobil berjubel dikekeliling gereja itu. Berbeda dengan itu, mesjid umumnya bersifat lokal dimana banyak jemaatnya berasal dari lingkungan yang sama sehingga cukup berjalan kaki, akibatnya perbedaan sosial pengunjung gereja dan lingkungan tidak besar, ini berbeda dengan gereja-gereja etnis tertentu yang cenderung tidak peduli dengan penduduk disekitar gerejanya.
Dari beberapa contoh diatas, kita dapat bercermin mengapa gereja di kawasan tertentu ditolak. Bukanlah gereja-gereja juga memiliki andil dalam timbulnya radikalisme penolakan itu? Akibat dari sikap arogansi beberapa gereja tertentu, gereja-gereja yang tulus dan memang membutuhkan tempat ibadah menjadi korban.
Kondisi demikian seharusnya menjadikan kita peka akan lingkungan, bersikap ramah tehadap penduduknya, dan tidak menyusahkan tetangga yang depan rumah mereka dipenuhi mobil-mobil orang asing. Semoga hal-hal ini menjadi bahan introspeksi. Sekalipun demikian, kita harus siap menerima penderitaan apapaun, sekalipun kita sudah bersikap patut, ramah dan sadar lingkungan, sebab memang kita harus siap menerima konsekwensi ‘Karena Nama Kristus!’ ***
Salam kasih dari YABINA ministry www.yabina.org.

December 7, 2010

Bapa Gereja Pada Masa Gereja Mula-Mula

( Abad 1 - 4 M)
1. Polykarpus ( 69-156 M )
Seorang murid dari Rasul Yohanes dan pemimpin Gereja Smirna. Dalam penganiayaan yang diperintahkan oleh Kaisar Roma ia ditangkap dan dibawa ke hadapan Gubernur. Di sana ketika ditawarkan kebebasan apabila ia bersedia mengutuk Kristus, ia menjawab: "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Kristus dan Dia tidak pernah melakukan suatu kejahatan kepadaku, bagaimana mungkin bagiku untuk mengutuk Dia, yang adalah Tuhan dan Juruselamatku?". Polykarpus menemui ajalnya dibakar hidup-hidup.

2. Ignatius ( 67-110 M )
Seorang murid dari Rasul Yohanes dan pemimpin Gereja Antiokhia. Kaisar Trajanus, dalam suatu kunjungannya ke Antiokhia, memerintahkan penangkapan Ignatius. Kaisar ini memimpin sendiri pengadilan atas Ignatius, dan menjatuhkan hukuman dilemparkan ke tengah binatang buas di arena di Roma. Dalam perjalanannya ke Roma, ia menulis surat kepada orang-orang percaya di Roma, agar tidak memohonkan pengampunan baginya, karena ia sangat merindukan kehormatan mati bagi Tuhannya. Ia berkata, "semoga binatang-binatang buas itu menerjang aku dengan penuh semangat. Bila mereka enggan melakukannya, aku akan memaksa mereka. Marilah, wahai binatang buas! Marilah, cabiklah dan terjanglah, wahai penghancur tulang dan sendi! Marilah, wahai pembinasa keji yang jahat! Aku hanya mau bertemu dengan Kristusku."

3. Papias ( + 75 - 155 M )
Satu lagi murid Rasul Yohanes, dan pemimpin Gereja Hierapolis, sekitar 100 mil sebelah Timur Efesus. Ia menulis sebuah buku yang berjudul "Penjelasan akan Ucapan Tuhan Yesus". Dalam buku itu ia menekankan bahwa para tua-tua harus melakukan persis seperti yang dikatakan oleh Yesus. Papias mati martir di Pergamum, kira-kira pada masa yang sama dengan Polykarpus. Polykarpus, Ignatius, dan Papias, menjadi penghubung antara masa Para Rasul dan masa sesudahnya.

4. Yustinus Martir (100 - 167 M)
Lahir di kota Neapolis, (atau yang dulu dikenal dengan nama Sikhem) kira-kira pada masa Rasul Yohanes mati. Ia mendalami Filsafat. Pada masa mudanya ia menyaksikan banyak sekali penganiayaan terhadap orang Kristen. Setelah bertobat, ia melakukan banyak perjalanan dengan jubah seorang filsuf, namun dengan tujuan untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Ia menulis "Pembelaan terhadap Kekristenan", sebuah surat yang ditujukan kepada Kaisar Roma. Salah satu tokoh yang paling hebat di masanya. Ia mati sebagai martir di kota Roma. Ia menunjukkan bahwa di masanya kekristenan berkembang begitu pesat dengan berkata, "tidak ada satu ras pun di bumi ini yang tidak berdoa dalam nama Yesus".
Inilah apa yang dipahami oleh Yustinus Martir tentang ibadah dalam masa Gereja Kristen mula-mula: "Semua yang tinggal di kota atau desa bertemu pada hari Minggu. Kemudian dibacakanlah satu bagian dari tulisan para Rasul dan satu bagian dari tulisan para Nabi. Tidak ada pembatasan waktu untuk pembacaan itu. Setelah itu, pemimpin ibadah akan berbicara kepada jemaat, untuk menghayati dan mengamalkan semua hal-hal mulia yang telah didengar itu. Kemudian semua kita akan berdiri dan mengucapkan doa bersama-sama. Pada akhir dari doa, roti dan anggur dan ucapan syukur atas karyanya, dan jemaat menjawab 'amin'. Kemudian roti dan anggur itu dibagikan kepada setiap orang yang hadir, dan sisanya dibawa oleh para diaken ke rumah-rumah mereka yang tidak bisa hadir. Mereka yang mampu dan mereka yang rela kemudian akan memberikan persembahan sesuai kerelaan hatinya, dan persembahan ini disimpan oleh pemimpin, untuk dipakai melayani para yatim, janda, orang tahanan, orang asing, dan semua yang membutuhkannya."

5. Iranaeus (130 -200 M)
Dibesarkan di Smirna, murid Polykarpus dan Papias. Ia melakukan banyak perjalanan. Menjadi pemimpin Gereja di Lyons, di Gaul (sekarang Prancis). Ia banyak dikenal karena tulisan-tulisannya menentang paham Gnostisisme. Ia sangat menghormati gembalanya, Polykarpus. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, "Aku ingat betul tempat di mana gembala Polykarpus biasa duduk dan berbicara. Aku ingat kata-kata yang diucapkannya kepada umat, dan bagaimana ia melukiskan persekutuannya dengan rasul Yohanes, dan dengan mereka yang pernah bersama Tuhan Yesus; bagaimana ia mengulang kata-kata Kristus dan mujizat-mujizat yang diperbuat-Nya; bagaimana ia menceritakan pengajaran-pengajaran dari para Saksi Mata yang telah melihat sang Firman Hidup itu, pengajaran-pengajaran yang sejalan dengan Kitab Suci."

6. Origenes (185-254 M)
Tokoh yang paling terpelajar di masa Gereja mula-mula. Pengelana yang hebat, dan penulis yang luar biasa. Ia biasa memakai sampai dua puluh orang rekan yang bekerja sebagai juru tulis/salin tulisan-tulisannya. Ia mengutip dua pertiga dari Perjanjian Baru dalam tulisan-tulisannya. Ia tinggal di Alexandria, kota di mana ayahnya Leonidas, mati sebagai martir, dan kemudian di Palestina, di mana ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam pemennjaraan dan aniaya di bawah pemerintahan Kaisar Dusius.

7. Tertulianus dari Kartago (160-220 M)
"Bapa Gereja Latin". Seorang pengacara Romawi yang kafir, namun setelah pertobatannya menjadi pembela Kekristenan yang disegani.

8. Eusebius (264-340 M)
Dikenal sebagai "Bapa Sejarah Gereja". Pemimpin Gereja Kaisera ketika Kaisar Konstantin menerima Kristus. Ia mempunyai pengaruh besar atas sang kaisar. Karya tulisannya adalah "Sejarah Ekklesia", tentang sejarah Gereja mulai dari masa Kristus sampai Dewan Gereja di Nicaea.

9. Yohanes Krisostom ( 345-407 M)
Dijuluki "Si mulut emas", orator yang tiada bandingannya. Salah satu pengkhotbah terbaik di masanya. Ia lahir di Antiokhia, menjadi penatua di Gereja Konstantinopel. Berbicara di depan orang banyak di gereja di St.Sophia. Seorang pembaharu sejati, yang membuatnya tidak disenangi Kaisar. Ia mati dalam pembuangan.

10. Jeromus ( 340 - 430 M)
Dididik di Roma, dikenal sebagai tokoh Gereja Latin yang paling terpelajar. Menghabiskan banyak tahun dalam hidupnya di Betlehem, menerjemahkan Alkitab ke bahasa Latin, yang dikenal dengan nama Vulgate.

11. Agustinus ( 354-430 M)
Pemimpin Gereja di Hippo, Afrika Utara. Teolog besar di masa Gereja mula-mula. Pengaruhnya sangat besar bagi perkembangan doktrin gereja di masa pertengahan.