September 25, 2011

Siapa Maria Magdalena?

oleh: P. William P. Saunders *




Apakah Maria Magdalena adalah perempuan yang sama yang disebut sebagai pezinah dalam Injil, perempuan yang mengurapi Yesus, dan saudari Marta dan Lazarus?
~ seorang pembaca di Sterling

Perdebatan mengenai identitas St. Maria Magdalena telah berlangsung sejak masa Gereja Perdana. Dalam Injil, ada tiga tokoh yang diperbincangkan dalam perdebatan ini: Maria Magdalena, seorang pengikut Kristus (Yoh 20:11-18); perempuan berdosa yang tak disebutkan namanya (Luk 7:36-50), dan Maria dari Betania, saudari Marta dan Lazarus (Luk 10:38-42). Di Barat, terutama sejak masa Paus St. Gregorius Agung, ketiga tokoh tersebut selalu diidentifikasikan sebagai St. Maria Magdalena. Namun demikian, di Timur, ketiga tokoh itu tetap merupakan tokoh yang berbeda, dengan pesta terpisah untuk St. Maria Magdalena dan St. Maria dari Betania.St. Ambrosius, St. Hieronimus, St. Agustinus, St. Albertus Agung dan St. Thomas Aquinas, semuanya tidak menetapkan keputusan akhir.

Jadi, mengapa Paus St. Gregorius menyatukan ketiga “tokoh” tersebut? Pertama, kita perlu memeriksa keterangan-keterangan khusus sehubungan dengan perempuan bernama “Maria Magdalena” seperti yang dicatat dalam Injil. Ia adalah salah seorang dari perempuan-perempuan yang menyertai Yesus dan para rasul: “Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Luk 8:1-3). (Injil St. Markus menegaskan bahwa Kristus telah mengusir tujuh setan dari Maria Magdalena (Mrk 16:9)).

Maria Magdalena juga berdiri di kaki salib pada saat penyaliban (bdk Mrk 15:40, Mat 27:56, dan Yoh 19:25).

Ia juga menjadi saksi pada pemakaman Kristus, dan pada hari Minggu Paskah merupakan orang pertama yang mendapati makam kosong dan kemudian orang pertama yang melihat Kristus yang Bangkit (bdk Yoh 20:1-18).

Setelah mendapatkan keterangan-keterangan spesifik mengenai Maria Magdalena, langkah kedua adalah meneliti apakah Maria Magdalena mungkin juga adalah perempuan berdosa yang diceritakan dalam Injil St. Lukas (Luk 7:36-50). Ingat bagaimana perempuan berdosa itu masuk ke rumah Simon orang Farisi. Ia menangis dan air matanya membasahi kaki Yesus. Ia mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi serta mengeringkannya dengan rambutnya. Simon orang Farisi berkata kepada dirinya sendiri,“Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa,” suatu keterangan yang jelas bahwa perempuan ini adalah orang tersingkir karena dosa yang amat serius seperti zinah atau hubungan di luar pernikahan. Pada akhir kisah, Yesus mengampuni perempuan berdosa itu.

Peristiwa ini merupakan bagian dari pewartaan Yesus di daerah Danau Galilea. Juga, segera sesudah pernyataan pengampunannya dalam Lukas 7:50, Maria Magdalema disebut dengan namanya sebagai pengikut Yesus dan diidentifikasikan sebagai “yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat” (Luk 8:1-3). Perlu diingat bahwa Magdalena berasal dari kata Magdala. Magdala, terletak di pesisir Danau Galilea dekat Tiberias, merupakan kota makmur yang terkenal akan hasil perikanannya yang melimpah. Bangsa Romawi menghancurkan kota ini karena kebejatan moral masyarakatnya dan karena peran sertanya dalam pemberontakan bangsa Yahudi.

Yang menarik, dalam Talmud (= ikhtisar undang-undang dan ajaran Yahudi), dari kata Magdalena terbentuklah istilah “rambut keriting perempuan,” yang berarti seorang pezinah. Meskipun perempuan berdosa dalam Lukas 7 tidak secara khusus diidentifikasikan sebagai Maria Magdalena “yang darinya diusir tujuh setan” seperti dinyatakan dalam Lukas 8, orang dapat dengan mudah menarik kesimpulan demikian, seperti juga Paus St. Gregorius. Lagipula, tradisi Gereja perdana pun menguatkan hubungan ini.

Langkah ketiga dan yang lebih sulit dalam penelitian ini adalah menyelidiki apakah Maria Magdalena mungkin adalah Maria dari Betania. Menyusul Lukas bab 8, injil bab sembilan dan sepuluh menceritakan kisah-kisah seperti mukjizat penggandaan roti, Transfigurasi, pengusiran roh jahat dari seorang anak yang kerasukan setan, dan pengajaran tentang pemuridan. Kristus kemudian melanjutkan perjalanan ke “sebuah kampung” (yaitu Betania, meskipun tidak disebutkan oleh Lukas) ke rumah Marta, yang“mempunyai seorang saudara yang bernama Maria” (bdk Luk 10:38-42). Di sana Marta mempersiapkan jamuan bagi Yesus.

Injil St. Lukas tidak secara istimewa mengidentifikasikan Maria Magdalena sebagai Maria dari Betania, Injil St. Yohanes membantu kita mengatasi masalah ini. Dalam Yohanes 12:1-11, Yesus tiba di Betania “tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.” Marta melayani dalam perjamuan. Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi dan menyeka kaki-Nya dengan rambutnya. Harap ingat bahwa peristiwa ini berbeda dengan peristiwa perempuan berdosa yang mengurapi kaki-Nya di rumah Simon orang Farisi dalam Lukas 7; namun demikian, tindakan yang sama dalam kedua peristiwa tersebut mendorong kita untuk menarik kesimpulan akan pelaku yang sama, yaitu Maria Magdalena.

Lagipula, dalam Yohanes 11, dalam peristiwa sebelumnya di mana Yesus membangkitkan Lazarus dari orang mati, Injil mencatat,“Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.” (Yoh 11:1-2). Di sini Maria diidentifikasikan sebagai ia yang meminyaki kaki Kristus. Sementara sebagian orang berpendapat bahwa pengidentifikasian dalam Yohanes 11 merujuk kepada pengurapan berikutnya seperti dicatat dalam Yohanes 12, mengapakah Yohanes merasa perlu memberikan keterangan demikian jika kisah dalam Yohanes bab 11 langsung bersambung dengan kisah dalam Yohanes 12? Kelihatannya, pengidentifikasian tersebut menunjuk kepada tindakan sebelumnya, yaitu kisah di rumah Simon orang Farisi.

Jika argumentasi ini benar, maka Maria Magdalena, perempuan berdosa yang bertobat, dan Maria dari Betania adalah orang yang sama. Tentu saja, kita masih ditinggalkan dengan sedikit kabut misteri. Namun demikian, saya pribadi sependapat dengan Paus St. Gregorius, yang menyimpulkan bahwa perempuan yang disebut Lukas sebagai perempuan berdosa, yang disebut Yohanes sebagai Maria (dari Betania), adalah yang kita yakini sebagai Maria yang darinya telah diusir tujuh roh jahat menurut Markus. St. Maria Magdalena, perempuan berdosa yang telah bertobat, yang memperoleh pengampunan sekaligus persahabatan dengan Kristus, yang berdiri dengan setia di bawah kaki salib, dan yang melihat Kristus yang bangkit, adalah teladan yang mengagumkan bagi setiap orang beriman.

Gereja menghormati Maria Magdalena sebagai seorang kudus dan menjadikannya teladan bagi setiap orang Kristen yang dengan tulus hati berjuang mengejar kekudusan. Paus St. Gregorius memaklumkan keteladanan St. Maria Magdalena: seorang perempuan yang menemukan hidup baru dalam Kristus.

“Ketika Maria Magdalena datang ke makam dan tidak menemukan jenasah Kristus, ia berpikir bahwa jenasahnya telah diambil orang, maka ia pun memberitahukannya kepada para murid. Setelah para murid datang dan melihat makam, mereka juga percaya akan apa yang dikatakan Maria. Kemudian ayat selanjutnya mengatakan; “Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah,” dan selanjutnya: “tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis.”

Patutlah kita merenungkan sikap Maria dan cinta kasihnya yang begitu besar kepada Kristus; karena meskipun para murid telah pergi meninggalkan makam, ia tetap tinggal. Ia tetap mencari Dia yang tidak ia jumpai, dan sementara ia mencari, ia menangis; terbakar oleh rasa kasih yang hebat kepada Tuhannya, ia merindukan Dia yang dikiranya telah diambil orang. Dan demikianlah terjadi bahwa perempuan yang tinggal untuk mencari Kristus adalah satu-satunya yang pertama melihat Dia. Karena ketekunan diperlukan dalam setiap perbuatan baik, seperti sang kebenaran mengatakan kepada kita: “orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”

~ dari homili Paus St. Gregorius Agung
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Mary Magdalene” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
tambahan: “Mary Magdalen”; www.catholic-forum.com
diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijinThe Arlington Catholic Herald.”

September 12, 2011

Katedral dalam Masjid Hanya Ada di Andalusia

disadur dari: http://dahsyatweb.blogspot.com/2011/09/katedral-dalam-masjid-hanya-ada-di.html





Andalusia daerah sebelah Selatan Spanyol, memiliki gedung-gedung luar biasa indah untuk dikunjungi. Gedung-gedung cantik ini adalah perpaduan arsitektur Arab dan Kristen yang kental. 


Maklumlah, Spanyol pernah berada di bawah ajaran Katolik, kemudian dikuasai negeri Arab, hingga diambil alih lagi oleh Katolik. Maka, pergilah ke Andalusia dan temukan tempat-tempat istimewa mulai dari gereja sampai ke bekas benteng pertahanan.


Katedral Aljama, Cordoba, adalah salah satu bangunan yang paling memesona yang bisa dilihat. Berbeda dari gereja katedral pada umumnya, yang satu ini dibangun di dalam masjid. Bisa dibayangkan betapa uniknya bangunan satu ini. Sejarahnya bermula pada tahun 785, ketika Abd ar-Rahman I, raja Andalusia pada waktu itu, memproklamirkan pembuatan masjid Aljama di lokasi gereja San Vicente. Ketika kekuatan region Andalusia terus menguat pada zaman itu, masjid ini juga semakin diperluas.


Awalnya Hisham I menambah kolam dan menara. Kemudian 40 tahun kemudian Abd ar-Rahman II memperluas masjid menjadi dua kali lebih besar. Pada tahun 951, Abd Ar-Rahman III membentuk menara baru dan meluaskan taman ke sebelah utara. Kemudian anaknya, al-Hakam II melanjutkan perluasan lagi dengan dua belas kolom baru yang dianggap sebagai perluasan paling signifikan. Yang terakhir adalah perluasan ke sebelah timur yang dilakukan al-Mansur pada akhir abad ke-10.


Terdiri dari 3 elemen, taman (sahn), ruang berdoa (liwan) dan menara muazin, masjid ini total mempunyai luas 23,400 m2 dengan 850 buah pilar yang dibangun dari batu granit dan marmer. Al Quran disimpan di dalam Mihrab yang didesain dengan mosaik berwarna emas.


Yang unik dari masjid ini adalah kiblat dari tembok suci yang tidak menghadap ke Mekah. Tembok dibangun dari utara ke selatan dan dibagi antara selatan dan timur. Kontroversi muncul ketika Al-Hakam II merencanakan untuk membetulkan kesalahan ini sampai seorang cendikiawan tinggi Islam mengeluarkan pesan, "He who follows tradition, does right; he who gives himself to novelties will fail". Akhirnya niat Al-Hakam II diurungkan.


Mulai abad ke-13 banyak perubahan pada masjid ini akibat pengaruh Kristen yang kembali menguasai Andalusia. Pada tahun 1236, raja Ferdinand menginginkan agar Aljama diubah menjadi gereja. Akhirnya Villaviciosa Chapel dibangun oleh Alfonso X di tengah-tengah masjid Aljama ini. 


Selama bertahun-tahun katedral dibangun oleh arsitek dan seniman terkemuka Spanyol. Selain kapel-kapel ini, pintu-pintu masuk baru juga dibangun, di antaranya Puerta de Santa Catalina di sebelah timur taman kemudian menambah menara Alminar setinggi 93m.


Pada awalnya pembangunan katedral di tempat masjid ini sempat menimbulkan kontroversi. Ada yang beranggapan pembangunan katedral ini mengganggu keutuhan bangunan yang sebenarnya, karakter dan arti sebenarnya. Tapi ada juga yang beranggapan dengan dibangunnya katedral ini bukannya merusak malah melindungi keutuhan gedung.


Apa pun pendapat yang terjadi dulu, sekarang Cordoba memetik hasilnya, katedral ini disebut-sebut sebagai katedral paling unik dan terindah di dunia akibat perpaduannya dengan arsitektur Islam dari masjid Aljama. Detail-detail desain Arab dari masjid yang bertemu dengan Gothic-nya katedral menjadikan katedral Cordoba ini salah satu tempat yang tidak ada duanya di dunia.


Casa de Pilatos, Sevilla, Saksikan keajaiban dari masa lalu, gabungan dari mistiknya Yunani, Romawi yang legendaris tanpa melupakan akar dari Spanyol sendiri di Casa de Pilatos ini.


Bermula pada akhir abad ke-15, Don Pedro Enriquez, Wali Kota Andalusia dan istrinya Doña Catalina de Rivera membangun rumah ini sebagai tempat tinggal. Anak mereka, Don Enríquez de Rivera, Marquis dari Tarifa meninggalkan Eropa untuk pergi ke Yerusalem. Dua tahun kemudian ia kembali ke Seville. Saat itulah ia membuat perubahan pada tempat tinggalnya.


Kagum dengan arsitektur renaissance dari Italia, Marquis mengambil mengambil pengaruh rennaisance dan Medieval untuk istananya ini, tapi tetap mencerminkan desain khas Andalusia. Sejak perombakan ini, bangunan ini kemudian disebut Rumah Pilate (Casa de Pilatos) karena menyerupai rumah Pontius Pilatus di Yerusalem.


Karakter romantis dari rumah ini yang paling menarik dicerminkan di serambi (patio) utama dengan peninggalan arkeologi berupa tiga patung marmer antik Romawi dan satu dari Athena, Yunani dari tahun 5 sebelum masehi dengan air mancur di tengah-tengah serambi. Tembok-tembok di rumah ini juga dihiasi kerajinan keramik abad ke-16 khas Andalusia. Pengunjung juga bisa melihat ukiran-ukiran yang menghiasi langit-langit kayu di rumah ini. Dari patio utama pengunjung kemudian bisa memasuki taman yang disebut-sebut sebagai terindah di Sevilla, disejajarkan dengan taman di Alcazar.

August 23, 2011

Muslim-Kristen Berbuka Bersama di California

disadur dari: http://www.perisai.net/agama/muslimkristen_berbuka_bersama_di_california





Perisai.net - ADA yang spesial pada acara buka bersama di San Gabriel Valley, Rowland Heights Sabtu (20/8) kemarin. Islamic Center yang terletak di negara bagian California, Amerika Serikat, tersebut mengadakan acara buka puasa bersama dengan mengundang sejumlah umat Kristen.
Ratusan orang Muslim dan Kristen terlihat menikmati hidangan yang disediakan dalam acara tersebut. "Sangat menyenangkan melihat orang-orang dari berbagai tempat datang berbuka bersama kami," ujar Presiden San Gabriel Valley, Arif Rizvi seperti dilansir Pasadena Star-News.
Beberapa pejabat terlihat datang ke tempat tersebut di antaranya adalah anggota kongres, Gary Miller, R-Brea, serta sejumlah anggota dewan dari Walnut dan Diamond Bar. Pidato utama pada acara tersebut dibacakan oleh Sheriff Los Angeles County, Lee Baca.
Saat ini, Islamic Center San Gabriel Valley yang terletak di 19164 E, Walnut Drive North tersebut sedang menjalani pembangunan besar-besaran. Bangunan itu rencananya akan dibuka Februari atau Maret tahun depan.
Sekretaris San Gabriel Valley, Ashraf Jakvani, mengatakan Islamic Center tersebut telah berubah wujud menjadi bangunan segi empat setinggi 40 ribu kaki, dilengkapi dengan tiga lantai utama. Sebelumnya, tempat tersebut hanyalah bangunan setinggi 8.000 kaki dengan sebuah lantai utama yang telah dipakai selama lebih dari 30 tahun.
Baca, yang menyebut dirinya sebagai seorang Katolik yang lemah, mengatakan kerjasama serta pengertian antar agama merupakan nilai yang sangat fundamental bagi Amerika. "Tiap kali seseorang dengan keyakinan tertentu bergabung dengan seseorang dari keyakinan lain, Amerika menjadi lebih kuat. Hal itu juga menandakan segala sesuatunya bisa menjadi lebih baik," kata Baca.
Setelah menikmati hidangan buka puasa, orang-orang Muslim melaksanakan shalat. Sedangkan orang-orang non-Muslim diundang untuk melihat praktek tersebut. []
© Republika

Dialog Bantu Muslim-Non Muslim Amerika Saling Memahami

disadur dari: http://www.perisai.net/agama/dialog_bantu_muslimnon_muslim_amerika_saling_memahami



Perisai.net - SEORANG perempuan tengah memperbaiki kerudung di kepalanya. Sesekali melihat cermin yang ia bawa. Nama perempuan itu Magali Curiel, seorang Kristen, warga Curaco, sebuah kota di salah satu negara Karabia.
Curiel tengah menghadiri, perayaan 17 tahun hari Kemanusiaan di Islamic Center of Pittsburgh, sebuah acara yang dimaksudkan untuk membangun pemahaman antara Muslim dan Non Muslim. "Sebelum saya datang, oleh teman, saya dianggap gila untuk pergi ke sebuah acara orang Islam," paparnya seperti dikutip PostGazzete.com, Selasa (23/8).
Sedari awal, ia sudah niat untuk menghadiri acara tersebut guna mengetahui informasi lebih lanjut tentang Muslim dan Islam. "Ada kesalapahaman," katanya. Dalam acara itu, hadir 650 orang dari berbagai kepercayaan yang mendengarkan pemaparan hukum Islam oleh Imam Ramez Islamobouli, Pengajar hukum Islam, pusat studi Islam dan Arab di Case Western Reverse University, Cleveland.
Menurut Imam Islamic Center, Abdusamih Tadese, mengatakan topik itu dipilih karena pertanyaan tentang Syariah menarik rasa penasaran dari banyak warga AS. Ia mengatakan secara harfiah syariah bermakna dari kewajiban Muslim terhadap tetangga mereka.
Tahun lalu, komite Yahudi Pittsburgh menggelar program antar agama di Aula Social Rodef Shalam, yang mana sekitar 70 siswa dari, Yahudi, Islam, Hindu, Protestan, dan agama Katolik datang bersama-sama. "Beberapa tahun yang lalu, saya takut Muslim," kata Deborah Fidel, Direktur Eksekutif Komite Yahudi Pittsburgh.
"Suatu hari saya mendengar mereka [Muslim] berbicara tentang diskriminasi nyatanya, mereka begitu menderita, dan saya duduk di sana dan mendengarkan, sekaligus menyadari cerita mereka sama dengan nenek moyang kami," kata dia.
Semenjak malam itu, Deborah memutuskan untuk berhenti berbicara soal Muslim dan mulai mendengarakan dan menjadi bagian dari solusi bukan masalah. Deborah, berada di antara lima orang yang dihormati oleh Islamic Center yang diundang untuk mempererat hubungan antara Muslim dan Non Muslim. 
Keempat orang lainnya, uskup David Zubik, Keuskupan Katolik Pittsburgh, Lois Campbell, Direktur Eksekutif Antar keyakinan, Gleen Grayson, dan Jaksa untuk Distrik Barat Pennysylvania, David J Hickton Sammar Barakat, Muslim dari North Oakland, mengatakan ini adalah pertama kalinya dia berpartisipasi dalam sebuah acara yang membantu orang-orang saling memahami.
"Ini adalah kesempatan bagus untuk menjadi bagian dalam suatu acara. Karena memberikan kesempatan untuk bertanya tentang Islam," pungkas dia. []
© Republika