February 10, 2011

Apologetik Penghormatan Salib / Mencium Salib


Penghormatan Salib [dengan mencium], atau berlutut merupakan Tradisi di Gereja Katolik, seni religius Katolik berupa benda 2 dimensi (seni lukis/mosaic) maupun 3 dimensi (seni pahat/patung). Perlu diingat bahwa Gereja Katolik berpegang pada Alkitab [Canon Alexandria, yang berisi 46 PL dan 27 PB ] dan Tradisi (para rasul dan para bapa Gereja). Gereja Orthodox, juga sama, mereka berpegang pada Alkitab [Canon Alexandria, berisi 46 PL dan 27 PB] dan Tradisi (para rasul dan para bapa Gereja).
Gereja Orthodox mengenal "penghormatan" IKON, yang berupa lukisan, sulaman, mosaic atau relief ukiran.

Mengapa kedua Gereja ini (Katolik dan Orthodox) berpegang pada hal yang sama?
Karena memang berawal dan bersumber SATU. Mengapa mereka berdua berpegang pada alkitab dan Tradisi? Karena berdasarkan fakta sejarah Tradisi sudah ada, sebelum Alkitab ditulis; Gereja sudah ada [sejak saat Yesus menunjuk Petrus] sebelum para rasul menulis Injil atau berkeliling yang menghasilkan Kisah Para Rasul dan Surat-surat.

Seperti yang pernah saya tuliskan, pada masa Abraham belum ada kitab apa-apa Juga masa Nuh, Musa; setelah Musa baru ada Taurat Musa (Pentateukh, 5 kitab Torah Moshe).
Pada masa Yesus, belum ada satupun "Kitab Perjanjian Baru"; yang ada tulisan-tulisan terpisah [Nebiim, Pesahim dan Tehillim] juga Talmud.
Perjanjian baru ditulis kira-kira dari tahun 50M sampai 90M, jadi sebelum itu dan di masa itu para rasul dan ketujuhpuluh murid berpegang pada Tradisi lisan "dari guru kepada muridnya". Para rasul dan murid-murid selama itu berkotbah dan mengajar tanpa Alkitab!

Bagaimana bentuk cikal bakal Alkitab?
Tulisan panjang dengan nomor (ayat?) tanpa pasal, dan surat-surat (yang tentu saja tanpa nomor pasal dan ayat). Penyusunan secara sitematis bagian Perjanjian Lama, dipilah kitab-kitab, dibagi dalam perikop, diberi nomor pasal dan ayat; baru dilakukan pada masa Ptolemaios II Philadelphos [285 - 246 SM], yang memerintahkan 70 orang ahli kitab Yahudi [yang "menurut tradisi" dipilih 6 orang dari setiap suku Israel yang berjumlah 12] menyalin dalam susunan yang rapi [Septuagint].
Kisah Yesus dan ajaranNya, perjalanan dan korespondensi para rasul serta pandangan apokaliptik Yohanes dituangkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Pengajaran, teladan, nasihat dan tatanan/aturan dari para rasul, ketujuhpuluh murid dan para bapa Gereja, itulah yang menjadi Tradisi Gereja. Dari tiga hal : Tradisi, Gereja dan Alkitab; justru Alkitab yang termuda usianya. [Alkitab Katolik & Orthodox th 405M, Alkitab Protestan pada abad 16].

Di bawah ini adalah kutipan penjelasan resmi dari Gereja Orthodox mengenai "penghormatan" [Veneration] kepada orang suci yang disimbolkan/ditampilkan dalam bentuk Ikon. Isinya tidak jauh berbeda dengan sudut pandang Gereja Katolik. Bukan kayu atau catnya yang disembah, juga bukan salib/ikon itu; tetapi orang yang digambarkan/dipahatkan disitu. [relative veneration]. Penghormatan [Veneration, Dulia, proskynesis] berbeda dengan Penyembahan [Worship, Latria, Latreia],

An icon, it is true, is made of wood and paint, but it is only a symbol. Further, it is neither an object of absolute veneration nor of worship. On the contrary, icons are only relatively venerated, for the true object of veneration is ultimately the person depicted in the icon, not the image itself. Moreover, a clear distinction is to be drawn between veneration (proskynesis), with which the icons should be honored, and worship (latreia), which belongs to God alone.
Sebuah ikon, benarlah, terbuat dari kayu dan cat, tetapi itu hanyalah simbol. Lebih lanjut, itu bukan sebuah oblek "penghormatan mutlak" ataupun penyembahan. Sebaliknya, ikon-ikon hanya dihormati secara relatif, karena obyek penghormatan sesungguhnya adalah seseorang yang terlukis pada ikon, bukan lukisan itu sendiri. Lebih lanjut, harus dipaparkan suatu perbedaan yang jelas antara penghormatan [veneration, proskynesis], dengan mana ikon sepatutnya dihormati, dan penyembahan [worship, latreia], yang hanya bagi Allah.

In sum, it was altogether unlawful to worship icons, for God alone is worshipped and adored; they could and should, however, be venerated. This insistence that icons should be honored brings us to the Church's second crucial argument - the christological. This argument maintains that a pictorial representation of the Lord or of the saints is entirely permissible and, in fact, necessary because of the incarnation.
Dalam garis besar, secara keseluruhan menyembah ikon adalah suatu yang terlarang, penyembahan dan adorasi hanya untuk Allah; tetapi mereka [ikon2] bisa dan semestinya, setidaknya, dihormati. Tujuan ini bahwa ikon semestinya dihormati membawa kita pada argumen krusial Gereja yang kedua - secara kristologis. Argumen ini menunjukkan bahwa suatu representasi gambaran dari Tuhan atau para kudus seluruhnya diperkenankan, dan faktanya, perlu karena perwujudan itu [dengan menjadi manusia].

That is to say, the son of God can be depicted pictorially precisely because he became visible and describable by taking on our flesh and becoming man. Any repudiation of the Lord's icon is tantamount to a denial of the incarnation. Fittingly enough, the defeat of iconoclasm is celebrated annually by the Orthodox Church on the first Sunday of Lent. This "Feast of Orthodoxy" commemorates the final restoration of images (11 March, 843).
Ini untuk mengatakan, Putera Allah dapat digambarkan dengan tepat karena Dia menjadi nampak dan tergambarkan dengan mengambil kedagingan kita dan menjadi manusia. Setiap penolakan terhadap gambaran [ikon] Tuhan sama saja dengan penyangkalan perwujudan [Tuhan menjadi manusia]. kekalahan ikonoklasme dirayakan setiap tahun oleh Gereja Orthodox pada hari Minggu pertama Prapaska. "Pesta Ke-ortodox-an" ini memperingati restorasi akhir gambar-gambar (11 Maret 843).

Semoga dapat membuat kita lebih mengerti dan menghargai Tradisi, dan bisa memahami beda penghormatan dan penyembahan. Dalam kehidupan sekular, semisal kita [maaf] mengencingi foto presiden atau raja, maka kita akan dikenai tuduhan "penghinaan". Alkitab di Indonesia adalah cetakan LAI, cetakan manusia dan hasil karya manusia [demikian juga dengan kitab suci agama lain], tetapi perbuatan tak sepatutnya terhadap "buku suci" disebut Sacrilegia dan dianggap sebagai "penghinaan" atau "pelecehan" terhadap suatu agama. Yang kita lakukan pada fotonya, bukan orangnya; tetapi nyata bahwa gambar [image] merupakan simbol atau 'perwakilan' dari orangnya. Kita bisa memberi hormat [ala militer?] kepada bendera nasional, membungkukkan badan atau cium tangan [kepada manusia yang kita hormati] atau menghormati 'image'nya dalam tatanan bermasyarakat dan bernegara. Kalau kita melayat orang meninggal, dengan berbagai cara sesuai budaya, ada 'penghormatan terakhir' kepada seseorang [yang faktanya sudah jadi mayat]. Adakah yang aneh atau janggal menghormati Yesus, para kudus, rasul-rasul dalam bentuk 'simbolik' juga, yang notabene "pendiri" dan "pengembang" agama Kristen?. Yang perlu diingat adalah bahwa tanpa mereka, terutama Yesus, tidak ada Kristen!

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id

Suksesi Takhta Kepausan




  • Santo Petrus (33-64 atau 33-67)

  • Santo Linus dari Tuscany (67-76)

  • Santo Anacletus (atau Cletus) dari Roma (76-88)

  • Santo Clement I dari Roma (88-97)

  • Santo Evaristus dari Yunani (97-105)

  • Santo Alexander I dari Roma (105-115)

  • Santo Sixtus I dari Roma (115-125)

  • Santo Telesphorus dari Yunani (125-136)

  • Santo Hyginius dari Athena, Yunani (136-140)

  • Santo Pius I dari Aquileia (140-155)

  • Santo Anicetus dari Emesa, Syria (155-166)

  • Santo Soter dari Campagna, Italia (166-175)

  • Santo Eleutheriusdari Nicopolis di Epirus, Yunani (175-189)

  • Santo Victor I dari Afrika (189-199)

  • Santo Zephyrinusdari Roma (199-217)

  • Santo Callixtus I dari Roma (217-222)

  • Santo Urban I dari Roma (222-230)

  • Santo Pontian dari Roma (230-235)

  • Santo Anterus dari Yunani (235-236)

  • Santo Fabian dari Roma (236-250)

  • Santo Cornelius dari Roma (251-253)

  • Santo Lucius I dari Roma (253-254)

  • Santo Stephen I dari Roma (254-257)

  • Santo Sixtus II dari Athena, Yunani (257-258)

  • Santo Dionysius, asal tidak diketahui (259-268)

  • Santo Felix I dari Roma (269-274)

  • Santo Eutychian dari Luni (275-283)

  • Santo Caius dari Dalmatia (283-296)

  • Santo Marcellinus dari Roma (296-304)

  • Santo Marcellus I dari Roma (308-309)

  • Santo Eusebius dari Calabria, Yunani (309-310)

  • Santo Melchiades atau Miltiades dari Afrika (311-314)

  • Santo Sylvester I dari Roma (314-335)

  • Santo Markus dari Roma (336)

  • Santo Julius I dari Roma (337-352)

  • Liberiusdari Roma (352-366)

  • Santo Damasus I dari Spanyol (366-384)

  • Santo Siricius dari Roma (384-399)

  • Santo Anastasius I dari Roma (399-401)

  • Santo Innocentius I dari Albano (401-417)

  • Santo Zozimus dari Mesuras, Yunani (417-418)

  • Santo Boniface I dari Roma (418-422)

  • Santo Celestinus I dari Campania (422-432)

  • Santo Sixtus III dari Roma (432-440)

  • Santo Leo I (Agung) dari Tuscany (440-461)

  • Santo Hilarius dari Sardinia (461-468)

  • Santo Simplicius dari Tivoli (468-483)

  • Santo Felix III (II) dari Roma (483-492)

  • Santo Gelasius I dari Afrika (492-496)

  • Anastasius IIdari Roma (496-498)

  • Santo Symmachus dari Sardinia (498-514)

  • Santo Hormisdas dari Frosinone (514-523)

  • Santo Yohanes I dari Tuscany (523-526)Martir

  • Santo Felix IV (III) dari Samnium (526-530)

  • Boniface II dari Roma (530-532)

  • Yohanes II(Mercury) dari Roma (533-535)

  • Santo Agapitus I dari Roma (535-536)

  • Santo Silverius I dari Campania (536-537)

  • Vigiliusdari Roma (537-555)

  • Pelagius I dari Roma (556-561)

  • Yohanes III dari Roma (561-574)

  • Benedictus Idari Roma (575-579)

  • Pelagius IIdari Roma (579-590)

  • Santo Gregorius I (Agung)dari Roma (590-604)

  • Sabiniandari Blera di Tuscany (604-606)

  • Boniface IIIdari Roma (607)

  • Santo Boniface IVdari Abruzzi (608-615)

  • Santo Deusdedit (Adeodatus I)dari Roma (615-618)

  • Boniface Vdari Naples (619-625)

  • Honorius I dari Campania (625-638)

  • Severinus dari Roma (640)

  • Yohanes IV dari Dalmatia (640-642)

  • Theodore I orang Yunani dari Leventine Koloni di Roma (642-649)

  • Santo Martin I dari Todi (649-655)

  • Santo Eugene I dari Roma (654-657)

  • Santo Vitalian dari Segni (657-672)

  • Adeodatus II dari Roma (672-676)

  • Donusdari Roma (676-678)

  • Santo Agatho dari Yunani dari Sicilia (678-681)

  • Santo Leo II dari Sicilia (682-683)

  • Santo Benedictus II dari Roma (684-685)

  • Yohanes V dari Antiokia, Siria (685-686)

  • Conon dari Yunani dari Thracian (?) (686-687)

  • Santo Sergius I orang Siria dari Palermo (687-701)

  • Yohanes VI dari Yunani (701-705)

  • Yohanes VIIorang Yunani dari Calabria (705-707)

  • Sisinnius orang Yunani dari Siria (708)

  • Constantine dari Siria (708-715)

  • Santo Gregorius II dari Roma (715-731)

  • Santo Gregorius III dari Siria (731-741)

  • Santo Zacharius orang Yunani dari Calabria (741-752)

  • Stephen II (III) dari Roma (752-757)

  • Santo Paulus I dari Roma (757-767)

  • Stephen III (IV)dari Sicilia (768-772)

  • Adrianus I dari Roma (772-795)

  • Santo Leo III dari Roma (795-816)

  • Stephen IV dari Roma (816-817)

  • Santo Paschal I dari Roma (817-824)

  • Eugene II dari Roma (824-827)

  • Valentinus dari Roma (827)

  • Gregorius IV dari Roma (827-844)

  • Sergius II dari Roma (844-847)

  • Santo Leo IV dari Roma (847-855)

  • Benedictus III dari Roma (855-858)

  • Santo Nicholas I (Agung) dari Roma (858-867)

  • Adrianus II dari Roma (867-872)

  • Yohanes VIII dari Roma (872-882)

  • Marinus I dari Gallese (882-884)

  • Santo Adrianus III dari Rome (884-885)

  • Stephen V (VI) dari Rome (885-891)

  • Formosus Uskup Porto (891-896)

  • Boniface VI dari Roma (896)

  • Stephen VI (VII) dari Roma (896-897)

  • Romanus dari Gallese (897)

  • Theodore II dari Roma (897)

  • Yohanes IX dari Tivoli (898-900)

  • Benedictus IV dari Roma (900-903)

  • Leo V dari Ardea (903)

  • Sergius III dari Roma (904-911)

  • Anastasius III dari Roma (911-913)

  • Landus dari Sabina (913-914)

  • Yohanes X dari Tossignano (Imola) (914-928)

  • Leo VI dari Roma (928)

  • Stephen VII (VIII) dari Roma (928-931)

  • Yohanes XI dari Roma (931-935)

  • Leo VII dari Roma (936-939)

  • Stephen VIII (IX) dari Roma (939-942)

  • Marinus II dari Roma (942-946)

  • Agapitus II dari Roma (946-955)

  • Yohanes XII (Octavius) dari Tusculum (955-964)

  • Leo VIII dari Roma (963-965)

  • Benedictus V dari Roma (964-966)

  • Yohanes XIII dari Roma (965-972)

  • Benedictus VI dari Roma (973-974)

  • Benedictus VII dari Roma (974-983)

  • Yohanes XIV (Peter Campenora) dari Pavia (983-984)

  • Yohanes XV dari Roma (983-996)

  • Gregorius V (Bruno dari Carinthia) dari Saxony (996-999)

  • Sylvester II (Gerbert) dari Auvergne (999-1003)

  • Yohanes XVII (Siccone) dari Roma (1003)

  • Yohanes XVIII (Phasianus) dari Roma1004-1009

  • Sergius IV(Peter) dari Roma (1009-1012)

  • Benedictus VIII (Theophylactus) dari Tusculum (1012-1024)

  • Yohanes XIX (Romanus) dari Tusculum (1024-1032)

  • Benedictus IX (Theophylactus) dari Tusculum (1032-1044)

  • Sylvester III (Yohanes) dari Roma (1045)

  • Benedictus IX (kedua kalinya) (Theophylactus) dari Tusculum (1045)

  • Gregorius VI (Yohanes Gratianus) dari Roma (1045-1046)

  • Clement II (Suitger, Lord Morsleben & Hornburg) dari Saxony (1046-1047)

  • Benedictus IX (ketiga kalinya) (Theophylactus) dari Tusculum (1047-1048)

  • Damasus II (Poppo) dari Bavaria, Jerman (1048)

  • Santo Leo IX (Bruno) dari Alsace (1049-1054)

  • Victor II (Gebhard) dari Swabia (1055-1057)

  • Stephen IX (X) (Frederick) dari Lorraine (1057-1058)

  • Nicholas II (Gerard) dari Burgundy (1059-1061)

  • Alexander II (Anselmo da Baggio) dari Milan (1061-1073)

  • Santo Gregorius VII (Hildebrand) dari Tuscany (1073-1085)

  • Beato Victor III (Dauferius atau Desiderius) dari Benevento (1086-1087)

  • Beato Urban II (Otto diLagery) dari Perancis (1088-1099)

  • Paschal II (Raniero) dari Ravenna (1099-1118)

  • Gelasius II (Giovanni Caetani) dari Gaeta (1118-1119)

  • Callistus II (Guido dari Burgundi) dari Burgundy, Perancis (1119-1124)

  • Honorius II (Lamberto) dari Fiagnano (Imola) (1124-1130)

  • Innocentius II (Gregorio Papareschi) dari Roma (1130-1143)

  • Celestinus II (Guido) dari Citta di Castello (1143-1144)

  • Lucius II (Gerardo Caccianemici) dari Bologna (1144-1145)

  • Beato Eugene III (Bernardo Paganelli di Montemagno) dari Pisa (1145-1153)

  • Anastasius IV (Corrado) dari Roma (1153-1154)

  • Adrianus IV (Nicholas Breakspear) dari Inggris (1154-1159)

  • Alexander III (Rolando Bandinelli) dari Siena (1159-1181)

  • Lucius III (Ubaldo Allucingoli) dari Lucca (1181-1185)

  • Urban III (Uberto Crivelli) dari Milan (1185-1187)

  • Gregorius VIII (Alberto de Morra) dari Benevento (1187)

  • Clement III (Paulo Scolari) dari Roma (1198-1191)

  • Celestinus III (Giacinto Bobone) dari Roma (1191-1198)

  • Innocentius III (Lotario dei Conti di Segni) dari Anagni (1198-1216)

  • Honorius III (Cencio Savelli) dari Roma (1216-1227)

  • Gregorius IX (Ugolino, Count Segni) dari Anagni (1227-1241)

  • Celestinus IV (Goffredo Castiglioni) dari Milan (1241)

  • Innocentius IV (Sinibaldo Fieschi) dari Genoa (1243-1254)

  • Alexander IV (Rinaldo) dari Ienne (Roma) (1254-1261)

  • Urban IV (Jacques Pantalon) dari Troyes, Perancis (1261-1264)

  • Clement IV (Guy Foulques atau Guido le Gros) dari Perancis (1265-1268)

  • Beato Gregorius X (Teobaldo Visconti) dari Piacenza (1271-1276)

  • Beato Innocentius V (Peter dari Tarentaise) dari Savoy (1276)

  • Adrianus V (Ottobono Fieschi) dari Genoa (1276)

  • Yohanes XXI (Petrus Juliani atau Petrus Hispanus) dari Portugal (1276-1277)

  • Nicholas III (Giovanni Gaetano Orsini) dari Roma (1277-1280)

  • Martin IV (Simon de Brie) dari Perancis (1281-1285)

  • Honorius IV (Giacomo Savelli) dari Roma (1285-1287)

  • Nicholas IV (Girolamo Masci) dari Ascoli (1288-1292)

  • Santo Celestinus V (Pietro del Murrone) dari Isernia (1294)

  • Boniface VIII (Benedetto Caetani) dari Anagni (1294-1303)

  • Beato Benedictus XI (Niccolo Boccasini) dari Treviso (1303-1304)

  • Clement V (Bertrand de Got) dari Perancis (1305-1314)

  • Yohanes XXII (Jacques d'Euse) dari Cahors, Perancis (1316-1334)

  • Benedictus XII (Jacques Fournier) dari Perancis (1334-1342)

  • Clement VI (Pierre Roger) dari Perancis (1342-1352)

  • Innocentius VI (Etienne Aubert) dari Perancis (1352-1362)

  • Beato Urban V (Guillaume de Grimoard) dari Perancis (1362-1370)

  • Gregorius XI (Pierre Roger de Beaufort) dari Perancis (1370-1378)

  • Urban VI (Bartolomeo Prignano) dari Naples (1378-1389)

  • Boniface IX (Pietro Tomacelli) dari Naples (1389-1404)

  • Innocentius VII (Cosma Migliorati) dari Sulmona (1404-1406)

  • Gregorius XII (Angelo Correr) dari Venice (1406-1415)

  • Martin V (Oddone Colonna) dari Roma (1417-1431)

  • Eugene IV (Gabriele Condulmer) dari Venice (1431-1447)

  • Nicholas V (Tommaso Parentucelli) dari Sarzana (1447-1455)

  • Callistus III (Alfonso Borgia) dari Jativa (Valencia) (1455-1458)

  • Pius II (Enea Silvio Piccolomini) dari Siena (1458-1464)

  • Paul II (Pietro Barbo) dari Venice (1464-1471)

  • Sixtus IV (Francesco della Rovere) dari Savona (1471-1484)

  • Innocentius VIII (Giovanni Battista Cibo) dari Genoa (1484-1492)

  • Alexander VI (Rodrigo Borgia) dari Jativa (Valencia) (1492-1503)

  • Pius III (Francesco Todeschini-Piccolomini) dari Siena (1503)

  • Julius II (Giuliano della Rovere) dari Savona (1503-1513)

  • Leo X (Giovanni de'Medici) dari Florence (1513-1521)

  • Adrianus VI (Adrian Florensz) dari Utrecht, Jerman (1522-1523)

  • Clement VII (Giulio de'Medici) dari Florence (1523-1534)

  • Paulus III (Alessandro Farnese) dari Roma (1534-1549)

  • Julius III (Giovanni Maria Ciocchi) dari Roma (1550-1555)

  • Marcellus II (Marcello Cervini) dari Montepulciano (1555)

  • Paulus IV (Gian Pietro Carafa) dari Naples (1555-1559)

  • Pius IV (Giovan Angelo de'Medici) dari Milan (1559-1565)

  • Santo Pius V (Antonio-Michele Ghislieri) dari Bosco (Alexandria) (1566-1572)

  • Gregorius XIII (Ugo Buoncompagni) dari Bologna (1572-1585)

  • Sixtus V (Felice Peretti) dari Grottamare (Ripatransone) (1585-1590)

  • Urban VII (Giambattista Castagna) dari Roma (1590)

  • Gregorius XIV (Niccolo Sfondrati) dari Cremona (1590-1591)

  • Innocentius IX (Giovanni Antonio Facchinetti) dari Bologna (1591)

  • Clement VIII (Ippolito Aldobrandini) dari Florence (1592-1605)

  • Leo IX (Alessandro de'Medici) dari Florence (1605)

  • Paulus V (Camillo Borghese) dari Roma (1605-1621)

  • Gregorius XV (Alessandor Ludovisi) dari Bologna (1621-1623)

  • Urban VIII (Maffeo Barberini) dari Florence (1623-1644)

  • Innocentius X (Giovanni Battista Pamfili) dari Roma (1644-1655)

  • Alexander VII (Fabio Chigi) dari Siena (1655-1667)

  • Clement IX (Giulio Rospigliosi) dari Pistoia (1667-1669)

  • Clement X (Emilio Altieri) dari Roma (1670-1676)

  • Beato Innocentius XI (Benedetto Odescalchi) dari Como (1676-1689)

  • Alexander VIII (Pietro Ottoboni) dari Venice (1689-1691)

  • Innocentius XII (Antonio Pignatelli) dari Spinazzola (Venosa) (1691-1700)

  • Clement XI (Giovanni Francesco Albani) dari Urbino (1700-1721)

  • Innocentius XIII (Michelangelo dei Conti) dari Roma (1721-1724)

  • Benedictus XIII (Pietro Francesco-Vincenzo Maria-Orsini) dari Gravina (Bari) (1724-1730)

  • Clement XII (Lorenzo Corsini) dari Florence (1730-1740)

  • Benedictus XIV (Prospero Lambertini) dari Bologna (1740-1758)

  • Clement XIII (Carlo Rezzonico) dari Venice (1758-1769)

  • Clement XIV (Giovanni Vincenzo Antonio-Lorenzo-Ganganelli) dari Rimini (1769-1774)

  • Pius VI (Giovanni Angelo Braschi) dari Cesena (1775-1799)

  • Pius VII (Barnaba-Gregorio-Chiaramonti) dari Cesena (1800-1823)

  • Leo XII (Annibale della Genga) dari Genga (Fabriano) (1823-1829)

  • Pius VIII (Fracesco Saverio Castiglioni) dari Cingoli (1829-1830)

  • Gregorius XVI (Bartolomeo Alberto-Mauro-Cappelari) dari Belluno (1831-1846)

  • Pius IX (Giovanni M. Mastai-Ferretti) dari Senigallia (1846-1878)

  • Leo XIII (Gioacchino Pecci) dari Carpineto (Anagni) (1878-1903)

  • Santo Pius X (Giuseppe Sarto) dari Riese (Treviso) (1903-1914)

  • Benedictus XV (Giacomo della Chiesa) dari Genoa, Italia (1914-1922)

  • Pius XI (Achille Ratti) dari Desio, Milan, Italia (1922-1939)

  • Pius XII (Eugenio Pacelli) dari Roma (1939-1958)

  • Yohanes XXIII (Angelo Giuseppe Roncalli) dari Sotto il Monte (Bergamo) (1958-1963)

  • Paulus VI (Giovanni Battista Montini) dari Concescio (Brescia) (1963-1978)

  • Yohanes Paulus I (Albino Luciani) dari Forno di Canale (Belluno) (1978)

  • Yohanes Paulus II (Karol Wojtyla) Wadowice, Polandia (1978-2005)

  • Benedictus XVI (Y. Ratzinger) Bavaria, Jerman (2005-Sekarang
  • January 23, 2011

    Jawa Pos Jelajah Sungai Nil; Sebuah Ekspedisi Spiritual: Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam

    by Agus Mustofa 
    on Saturday, August 21, 2010 at 8:09pm


    Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil. 

    Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.

    Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.

    Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.


    Berbincang akrab dengan Abuna (Romo) Bishoi, di Biara Durunka

    Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.

    Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:

    Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.

    Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.

    Quluubna bitikhibbik khubb

    ma lausy matsil.

    A'idzin nufadhdhol janbik wa

    naquulu taraatil.

    (Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.

    Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.

    Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.

    Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)

    Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.


    jamaah berdoa di depan ruang Maryam, di dalam gua Jabbal Asyut

    Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.

    Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.


    Di depan gua Maryam, menjelang pembaptisan anak

    Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.

    Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.

    Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.

    Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)." 

    Sumber:

    Jawa Pos, Minggu, 22 Agustus 2010 : http://www.jawapos.com

    Sang Theotokos: Perawan Maryam Dalam Gereja Orthodox Timur

    Oleh : 
    Presbiter Rm. Kirill J.S.L. 
    (Omeц Кирилл Д.С.Л.)
    Paroki St Jonah dari Manchuria, Surabaya 
    GEREJA ORTHODOX INDONESIA
    (THE INDONESIAN ORTHODOX CHURCH)

    (Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah “Lumen Dei”, Media Informasi – Komunikasi dan Pengajaran Badan Pelayanan Keuskupan (BPK) – Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) Keuskupan Surabaya, Edisi Oktober – Desember 2009; dengan judul “Perawan Maria dalam Gereja Orthodox Timur”)

    “Yang untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, telah turun dari Sorga, dan menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maryam serta menjadi Manusia”.

    [Kredo/Syahadat/ Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel tahun 325; point ke-3]

    Posisi Maria dalam Gereja selalu mengundang kontroversi. Kedudukan Maria di dalam Gereja terus dipandang secara berbeda oleh Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Protestan. Pada satu sisi Gereja Roma Katolik memberikan penghormatan yang luar biasa terhadap Maria dengan Devosi Maria-Nya. Hingga oleh gereja-gereja Protestan dianggap suatu bentuk hiperdouleia terhadap Maria.

    Perlu diketahui tentang perbedaan antara Douleia dan Latreia. Douleia ialah kebaktian/devosi/penghormatan yang tertuju kepada Allah melalui manusia yang menampakkan kebesaran serta kebaikan Allah atau penghormatan kepada seseorang yang diabdi demi Allah. Douleia merupakan perwujudan sikap hati orang beriman yang dengannya orang secara pribadi mengarahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang dihargai, dijunjung tinggi, dicintai dan dituju. Inilah penghormatan relatif yang sama sebagaimana ditunjukkan kepada simbol-simbol bendawi-jasmaniah lainnya, misalnya “Salib yang mulia dan memberi hidup” dan Kitab Suci Injil. Bila douleia bersangkutan dengan Allah, maka disebut devosi religius. Sedang Latreia adalah kebaktian dalam arti penyembahan yang hanya semata-mata ditujukan pada Allah. Inilah penyembahan mutlak dan wajib, yang hanya boleh ditujukan kepada Allah sebagai suatu ibadah dan penyembahan. Douleia yang dilakukan secara berlebih-lebihan dan tak terkendali yang disebut Hiperdouleia bisa mengancam kehidupan Latreia, bahkan bisa mengarah menuju musyrik (menyekutukan Allah atau ber-ilah lebih dari satu), yaitu keyakinan serta sikap hati dan ibadah yang membuat sekutu dan tandingan bagi Allah, sehingga dengan demikian keesaan Allah dalam keilahianNya (Tauhid Ilahiah), dalam kepenguasaanNya (Tauhid Rububiyah), dan dalam Ibadah kepadaNya (Tauhid Ubudiyah) mengalami pengrusakan dan perongrongan. 

    Sebaliknya pada sisi yang lain, gereja-gereja Protestan telah menyingkirkan Maria dari ibadah gereja mereka. Beberapa pendeta Protestan bahkan memandang Maria hanya sekedar botol kecap saja dimana setelah kecapnya keluar, botolnya tidak diperlukan lagi atau Maria dianggap hanya sebagai saluran saja, dalam arti tak menyumbangkan apapun kepada kodrat kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma, seperti layaknya pipa kran yang dialiri air. Juga pada kenyataannya, hampir tidak ada gereja-gereja Protestan yang menggunakan nama diri Maria sebagai nama tempat gerejanya.

    Dua buah sikap yang sangat jauh berbeda! Bagaimana mungkin hal ini terjadi, sementara kedua bentuk Kekristenan Barat tersebut mempunyai iman yang sama kepada puteraNya, Yesus sebagai (Putera) Allah? Adakah jalan tengah yang bisa disepakati bagi Gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Protestan? Adakah pemikiran yang lain mengenai kedudukan Maria dalam Gereja? Sebuah pemikiran untuk menempatkan posisi Maria dalam Gereja sesuai dengan kehormatan dan tempatnya yang layak baginya. Tidak melebih-lebihkannya (hiperdouleia) atau menyingkirkannya sama sekali dalam Gereja, sehingga kita tidak bersalah dihadapan Allah dan PuteraNya, Isa ibn Maryam (Yesus, Putera Maria), Tuhan dan Juruselamat kita. Berikut ini adalah ajaran Gereja Orthodox atau yang dikenal juga sebagai Gereja Timur tentang Maria, Sang Theotokos, Bunda Allah Tersuci.

    Dalam penjelmaanNya sebagai manusia Firman Allah yang turun dari sorga, menjelma “dari Sang Perawan Maryam”. Dan dengan menjelma “dari Sang Perawan Maryam” ini, Ia “menjadi manusia”. Dengan demikian maka “kemanusiaan” yang diambil dan dikenakan oleh Firman Allah “dalam penjelmaanNya” itu pastilah berasal dari “Sang Perawan Maryam” ini. Karena sebagai “Firman Allah” yang adalah “Anak Allah yang Tunggal” sejak “sebelum segala zaman” dan bersifat “Allah sejati” karena Ia itu “keluar dari Allah sejati” serta dalam wujud “Terang” - jadi bukan berwujud jasmani - karena Ia “keluar dari Terang” karena Allah memang bersifat terang, maka jelas Ia tak memiliki wujud kemanusiaan dan bukan manusia. Sebagai yang bukan manusia itu Ia “turun dari sorga”, dan setelah “menjelma … dari Sang Perawan Maryam” itu Ia “menjadi manusia”. Berarti Maryam telah ikut berpartisipasi dalam memberikan kemanusiaan kepada Firman Allah, agar Ia dapat “disalibkan, mati, dikuburkan serta bangkit dari antara orang mati”, dan tubuh yang telah diambil dari Maryam dan dibangkitkan itu akhirnya dibawa “naik ke sorga” serta “didudukkan di sebelah kanan Allah” dan dengan “tubuh yang telah dimuliakan” yang asalnya “dari Sang Perawan Maryam” itulah nantinya Kristus “akan datang lagi dalam kemuliaan”. Itulah sebabnya andil Maryam bagi keselamatan manusia itu besar sekali, meskipun yang menjalankan keselamatan dengan mengalahkan kematian itu bukan pribadi Maryam, namun pribadi Anak Allah yang telah mengambil kemanusiaan dari Maryam itu sendiri. 

    Jadi Maryam itu bukan juruselamat, dan tak pula ikut ambil bagian sebagai penebus disamping Kristus, bukan pula ia itu pengantara keselamatan kepada Allah. Ia adalah yang mengandung “Anak Allah yang Tunggal…Terang…Allah Sejati…Satu Dzat Hakekat dengan Sang Bapa” ketika Ia menjelma “dari Sang Perawan Maryam”. Jadi yang tinggal dalam rahim Maryam saat Ia mengandung itu bukan manusia biasa namun “Allah sejati” yaitu “Anak Allah Yang Tunggal” yaitu “Firman Allah” sendiri yang sedang “menjelma”. Oleh karena itu “Pribadi” anak yang sedang dikandung oleh Maryam ini bukanlah hanya sekedar pribadi manusia biasa namun pribadi “Allah Sejati” yang sedang menjelma. 


    Sang Theotokos” (”Bunda Allah”) tersuci, ”Sayidatina Siti Maryam Al ’Adzra” (”Bunda Maria Sang Perawan Tak Bernoda”)

    Dengan demikian Maryam tidak sekedar menjadi Ibu seorang manusia biasa, namun Ibu dan Bunda dari “Allah Sejati” yang sedang menjelma dan menjadi manusia ini. Demikianlah maka Gereja menyebut Maryam sebagai “Theotokos” (Yunani: Θεοτόκος, Slavonik: Bogoroditsa, Arab: Wālidat Allah atau Wālidatulillah, Latin: Deipara, Dei genetrix, Jawa Kuno (Kawi): Sang Pamiyos Widhi) yaitu ia yang “Memberi Kelahiran - dalam penjelmaanNya secara jasmani - kepada Allah – Firman Allah – “ atau lebih dikenal dengan gelar ”Bunda Allah” (Yunani: Meter Theo), dengan bentuk singkatan dalam ikonografi Orthodox ”ΜΡ ΘΥ”; Slavonik: Bogamateri; Latin: Mater Dei. Dan kejadian bayi dari kemanusiaan Maryam ini adalah semata-mata mukjizat “dari Sang Roh Kudus” yang menjadikan “indung telur” dari rahim Maryam tanpa dibuahi pria “menjadi manusia”. Fungsi Roh Kudus kepada Maryam adalah untuk “menyucikan Maryam” agar layak menjadi sarana menjelmaNya Firman Allah di dalam dirinya. Itulah sebabnya Gereja Orthodox tidak mengajarkan bahwa: “Maryam Terkandung Tanpa Dosa Asal”. Maryam adalah orang berdosa sama seperti kita semua namun yang disucikan oleh Roh Kudus saat ia menerima panggilan menjadi Ibu Sang Penebus. Atas dasar semua alasan inilah Maryam memiliki tempat dalam Pengakuan Iman, dalam theologia Gereja, dalam ekspresi ibadah Gereja, dan dalam ikonografi Gereja. Jadi Maryamologi (Mariologi) dalam Iman Orthodox hanya perpanjangan dari Kristologi saja, bukan sesuatu pembahasan yang berdiri sendiri terlepas dari Kristus. 

    Sebagian orang yang tak mengerti Iman Orthodox secara benar, atau karena mungkin sebagai reaksi terhadap Mariologi dari Gereja Roma Katolik, bahkan dikalangan ummat Kristen sendiri, serta tanpa merenungkan implikasi theologis dan landasan Alkitabiah mengenai gelar “Theotokos” bagi Maryam Sang Perawan ini sering mengejek gelar ini dengan mengatakan: ”Allah tidak punya Ibu. Allah tidak dilahirkan oleh siapapun. Maryam hanya melahirkan manusia biasa saja. Jadi dia itu bukan Bunda Allah, hanya Bunda Yesus saja”. Jadi Maryam tak boleh disebut ”Theotokos” namun ”Anthropotokos” (”Dia yang Melahirkan Manusia”) atau paling tinggi dengan sebutan ”Kristotokos” (”Dia Yang Melahirkan Kristus”), persis seperti yang dikatakan Patriarkh Konstantinopel, Nestorius (428 - 431) itu. St. Kyrillos I, Patriarkh Alexandria (412 - 444) menegaskan, bahwa memang layak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”, karena Dia yang dilahirkan olehnya adalah “Firman” yang adalah “Allah”, yang “telah menjadi manusia” (Yoh. 1:1,14). Atas pernyataan semacam itu, kita bertanya:

     Betulkah orang-orang yang mengaku Kristen ini percaya pada ke-Allah-an Yesus sebagai “Firman Allah” atau tidak?

     Kalau memang percaya, apakah ke-Allah-an Yesus sebagai “Firman Allah” itu kekal atau tidak? 

     Jika memang kekal, ketika berada di dalam rahim Maryam, Dia masih memiliki ke-Allah-an, yaitu tetap sebagai “Firman Allah” atau tidak? 

     Jika masih memiliki, maka Maryam itu hanya sekedar melahirkan manusia biasa saja, ataukah melahirkan “Allah” yaitu “Firman Allah” yang menjadi manusia? 

     Jika dia melahirkan “Allah” yaitu “Firman Allah” yang menjadi manusia, maka kemanusiaan dari Anak yang dilahirkannya itu miliknya Allah yaitu “Firman Allah” ini atau bukan? 

     Jika kemanusiaan bayi yang dilahirkan Maryam memang milikNya Allah yang menjelma ini, berarti Maryam menjadi “IbuNya Allah” yang menjelma ini dalam kemanusiaanNya atau bukan? 

     Jika demikian, bukankah Maryam adalah “Bunda Allah” dalam penjelmaanNya sebagai manusia? “

    Jadi memang Maryam bukan “Bunda Allah” Bapa (Allah yang Esa) yang tak pernah menjelma menjadi manusia, sebab Sang Bapa itu kekal tanpa awal maupun akhir, dan tak diperanakkan ataupun beranak. Bukan pula gelar “Bunda Allah” berarti Maryam itu “isterinya” Allah, sebagai pasangan dari Allah Sang Bapa. Sebab Allah yang bukan laki-laki, bukan perempuan, bukan banci serta tak berjenis kelamin itu bagaimana memiliki isteri? Lagipula Allah yang ghoib, tak bertubuh jasmani, bersifat Roh murni, bagaimana dapat memiliki pasangan yang kasat-mata, bertubuh jasmani, hanya sekedar makhluk saja? Itulah sebabnya Maryam bukan disebut sebagai “Allah Sang Ibu” karena dia bukan pasangan ataupun isteri “Allah Sang Bapa”. Namun Maryam adalah “Bunda Allah”, yaitu Bunda “Firman Allah” dalam penjelmaanNya sebagai manusia, karena “Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Yesus disebut Anak Allah bukan karena Dia lahir tanpa Bapa manusia, seolah-olah Allah itu menjadi suami Maryam dan melahirkan Anak Allah, dengan Maryam sebagai Bunda Allah Anak ini. Yesus disebut “Anak Allah” bukanlah dalam wujud kemanusiaanNya, namun dalam keberadaanNya sebagai Firman (Yohanes 1;14,18). Anak Allah yaitu Firman Allah sudah ada sebelum bayi Yesus lahir dari Perawan Maryam (Yohanes 17:5, 8:56-58). Firman Allah disebut “Anak Allah” karena sejak kekal Dia dikandung di dalam Diri Allah sendiri, sebagai Akal-Budi atau Ilmu Ilahi dan selalu bersama Allah (Yohanes 1:1) yaitu melekat satu dalam Hakekat (Dzat, Essensi) Allah itu. Jadi Allah “mengandung” FirmanNya sendiri. Dan dari kandungan Hakekat Allah inilah Firman itu “keluar” dari Allah (Yohanes 8:42) ketika diwahyukan dalam diri Allah sendiri dalam kekekalan sebagai “Gambar Allah” (“Cermin Allah” menurut bahasa Tassawuf), ketika diucapkan sebagai Sabda “Kun Faya kun” (“Jadilah maka jadi”, “yehi wa yehi”) saat penciptaan dunia, ketika diturunkan ke dunia menjadi manusia Yesus Kristus saat Inkarnasi. Jadi seolah-olah Firman yang dikandung Allah itu dikeluarkan atau “dilahirkan” oleh Allah di dalam DiriNya sendiri. Itulah sebabnya Firman Allah itu secara kata kias disebut sebagai “Anak Allah”. Demikianlah jelas bahwa Allah itu tak diperanakkan maupun beranak apalagi beristeri, sebab yang dimaksud “Anak Allah” adalah “Firman Allah” sendiri yang sejak kekal dikandung dan dikeluarkan oleh Allah sendiri, dan akhirnya diturunkan (“nuzul”) dalam wujud manusia Yesus Kristus. Dengan demikian bukan karena lahirnya tanpa bapa manusia itu, yang menyebabkan Yesus Kristus disebut “Anak Allah”. Kelahiran Yesus oleh Maryam itu bukan permulaan keberadaanNya, itu hanya permulaan nuzulNya di atas bumi ini saja. Itulah sebabnya jika Maryam hanya disebut Bunda Yesus saja, berarti Yesus itu hanya manusia biasa, dan tak memiliki ke-Allah-an sebagai Firman Allah yang kekal dan sekarang telah nuzul. 

    Jika begitu sejak kapan Yesus menjadi Allah, sebab ketika lahir dari Maryam Dia bukan Allah, buktinya Maryam tak boleh disebut “Bunda Allah” untuk menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkannya itu adalah Allah dalam hakekat pribadi kekalNya? Jika hanya baru kemudian saja manusia Yesus anak Maryam ini menjadi Allah, apa bedanya dengan agama kafir yang membuat manusia biasa menjadi ilah? Bukankah kalau begitu orang sedemikian ini percaya pada kemungkinan manusia biasa Anak Maryam bisa berkembang menjadi Allah? Apakah bukan berhala dan kemusyrikan ajaran yang sedemikian ini? Dengan demikian Yesus bukan betul-betul Allah namun manusia yang baru kemudian jadi Dewa, karena waktu dalam kandungan Maryam dan waktu dilahirkan Dia bukan Allah, dan tak boleh disebut Allah, sebab Ibunya tak boleh disebut Bunda dari “Allah” yang sedang menjelma menjadi manusia Yesus ini? Atau jika bukan demikian, apakah ke-Allah-an Yesus itu terpisah-pisah dari kemanusiaanNya, dimana waktu Dia dikandung serta dilahirkan Maryam, ke-Allah-an itu dalam keadaan terpisah? Jika betul demikian justru inilah bidat “Nestorianisme” yang ditentang Gereja Orhodox di jaman purba, melalui Konsilinya yang ketiga di Efesus tahun 431 Masehi, dan justru gelar “Theotokos” ini yang setidak-tidaknya pada abad kedua dan ketiga sudah digunakan di dalam Gereja Purba, dan dalam Konsili itu disahkan secara resmi penggunaannya karena memang konsisten dengan ajaran Alkitab, untuk dijadikan pagar bagi menjaga ketak-terpisahan Dua-Kodrat Yesus di dalam satu Pribadi itu. Inilah implikasi yang sangat menyesatkan dari penolakan gelar Bunda Allah bagi Maryam itu. Jadi Gereja Orthodox tetap konsisten pada Tauhid, gelar ”Theotokos” bagi Maryam justru untuk menjaga Tauhid tadi, yaitu menjaga agar tak ada anggapan bahwa manusia dapat berkembang menjadi Allah, dan untuk menjaga agar tak ada anggapan bahwa Firman Allah dapat berubah dari keilahian dan kesatuanNya dengan Allah ketika Nuzul sebagai manusia. Gelar ini bukan untuk meninggikan Maryam sebagaimana kemudian yang disalah-artikan atau dibesar-besarkan dalam tradisi Roma Katolik, namun gelar ini untuk menjaga integritas ke-Dua-Kodrat-an dalam Kesatuan Pribadi dari Firman Allah yang menjelma: Yesus Kristus. “Theotokos” lebih bersifat Kristologis daripada Mariologis dalam ajaran Gereja Orthodox. Jika begitu marilah kita selidiki ajaran Alkitab, terutama Perjanjian Baru mengenai gelar ”Theotokos” (Bunda Allah) bagi Maryam Sang Perawan ini. 

    Perjanjian Baru tidak banyak memuat kisah Maryam, karena Maryam memang bukan fokus pemberitaan Perjanjian Baru. Berita Perjanjian Baru adalah tentang Kristus, dan pembahasan kita tentang Maryam adalah sebagai “dampak” langsung dari Inkarnasi (Penjelmaan sebagai Manusia), dan bukan inti dari Inkarnasi itu sendiri. Maryam harus ada agar Inkarnasi Firman Allah ke dalam dunia ini terjadi. Jika tak ada Maryam Inkarnasi itu tak terjadi, sebab wanita yang harus menjadi sarana kelahiran Firman dalam penjelmaanNya sebagai manusia itu sosoknya sudah dinubuatkan (Kejadian 3:15), pribadinya sudah ditentukan (dari keturunan Abraham, dari jalur Daud, berasal dari Betlehem), dan semuanya itu hanya tergenapi dalam Maryam saja, bukan wanita yang lain. Itulah sebabnya sosok Maryam itu bukan suatu kebetulan, namun pribadi yang sudah direncanakan oleh kerelaan kehendak Allah dan ditetapkan oleh Allah di dalam ke-Maha-Berdaulatan dan ke-Maha-TahuanNya. Meskipun pembahasan tentang Maryam itu sebagai “dampak” dan bukan inti dari peristiwa Inkarnasi, namun ini merupakan suatu dampak yang sangat penting, karena ini akan merupakan pagar yang sangat penting dalam kita menjaga iman kita kepada Kristus agar tak terbelokkan kepada pengajaran yang salah. 

    Dalam Matius 1:23, bayi yang dilahirkan oleh Maryam itu disebut sebagai “Immanuel” yang artinya “Allah menyertai kita”. Ini berarti bahwa yang berwujud manusia itu ternyata bersifat dan berhakekat Allah, sebab jika tidak demikian pastilah Dia tak disebut sebagai “Allah menyertai”. Serta ini bermakna pula bahwa dalam keadaan sebagai bayi manusia itupun Pribadi bayi ini adalah Pribadi Allah. Jadi ini menegaskan apa yang dikatakan oleh Yohanes bahwa “Firman” yang adalah “Allah” (Yohanes 1:1) telah “menjadi manusia” (Yohanes 1:14) tanpa berubah dari sifat ke-Allah-anNya, sebab Allah itu tak mungkin berubah, sehingga setelah lahir dalam wujud manusiapun Dia tetap disebut “Allah” menyertai kita. Jadi “Subyek” yang menjadi Pribadi dari bayi manusia Anak Maryam ini adalah Firman Allah (“Anak Allah”) yang kekal dan pra-ada sebelum lahir jadi bayi. Hal ini dikatakan oleh Alkitab demikian: 

    ”…Allah mengutus AnakNya (yaitu: FirmanNya yang pra-ada itu) yang lahir (dalam nuzulNya ke bumi dalam pengutusan itu) dari seorang perempuan (Maryam)” 
    Galatia 4:4

    Jadi ke-ilahi-an yang pra-ada dari Firman Allah (Yohanes 1:1) atau Anak Allah (Galatia 4:4) itu tak hilang dan tak berubah ketika Dia nuzul sebagai bayi, karena Allah ataupun KalimatNya memang tak pernah berubah. Demikianlah Firman Allah itu tetap Allah sebelum turun, ketika dikandung, dan setelah dilahirkan oleh Maryam Sang Perawan dalam wujud baru yang dikenakanNya itu karena Dia “telah mengambil rupa…menjadi sama dengan manusia“ (Filipi 2:7). Karena manusia itu dikenal melalui hakekat pribadinya dan bukan hanya melalui bentuk-raganya, demikianlah Maryam itu tidak hanya mengandung raga seorang bayi manusia saja, namun mengandung bayi yang memiliki hakekat Pribadi Firman Allah yang bersifat Allah, yang mengenakan dan mengambil raga bayi dari ovum Maryam. Ovum ini tanpa sperma laki-laki telah diciptakan oleh Kuasa Allah sendiri menjadi bayi dan disatukan serta dimanunggalkan dengan kodrat ilahi Sang Sabda Allah sendiri serta diberi kehidupan manusiawi oleh Roh Kudus atau Roh Allah yang berada melekat satu di dalam Hakekat (Essensi, Dzat) Allah sendiri. Karena itulah Gereja-Gereja Orthodox berbahasa Arab di Timur-Tengah memberi gelar Maryam sebagai ”Sayidatina Maryam Al ’Adzra” (”Bunda Maria Sang Perawan Tak Bernoda”) atau ”Qiddisa Settena Maryam Al 'Adzra, Umm Al Maseeh” (”Santa Perawan Maryam, Ibu Kristus”), dan Gereja-Gereja Orthodox yang berbahasa Slavonika menyebutnya dengan gelar ”Bogoroditse Deva” (“Theotokos Sang Perawan”), sebuah gelar penghormatan kepada Sang Theotokos. Dengan demikian Firman Allah yang kekal dan yang sama itulah yang menjadi subyek Pribadi si bayi Anak Maryam itu. Sehingga Maryam memang betul-betul melahirkan seorang bayi manusia yang subyek PribadiNya adalah Allah yaitu Firman Allah sendiri. Demikianlah Maryam itu benar-benar “Theotokos” (Tokos = Sang Pemberi lahir secara jasmani karena nuzulNya; Theos = kepada Allah yaitu Firman Allah yang secara kekal tak berjasmani itu). Jadi sebutan “Theotokos” bagi Maryam itu justru menjelaskan keilahian Kristus yang tak pernah berubah sebagai Firman Allah itulah yang ditekankan, bukan diri Maryam sendiri. Itulah sebabnya ketika Maryam mengunjungi Elisabet, oleh ilham Roh Kudus dalam suatu nubuat wanita tua yang saleh ini menyapa Maryam dengan sebutan “Ibu Tuhan”-ku (Lukas 1:43). Kata “Tuhan” (“Kyrios”) yang digunakan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru itu mempunyai 3 latar-belakang, yaitu:

    1. Kata ini menterjemahkan kata “YHWH” (sering dibaca Yehuwah atau Yahweh) sebagai Nama Allah sendiri dalam Alkitab Ibrani. Orang Yahudi menganggap kata ini sangat suci sekali sehingga takut untuk mengucapkannya, sebagai gantinya setiap ada kata “YHWH” ini mereka baca dengan bunyi “Adonay” (“Tuhanku”). Pada waktu Alkitab Ibrani diterjemahkan oleh ummat Yahudi ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), maka setiap kali ada kata “YHWH” bunyi bacaannya “Adonay” (Yunaninya: Kyrios) itulah yang ditulis dalam terjemahan. Maka “Kyrios” bermakna Nama Allah sendiri.

    2. Kata Kyrios dalam makna harafiahnya menunjuk kepada sebutan penghormatan, kepenguasaan atau kepada sesuatu yang dipertuan. Pada saat Yesus hidup di atas dunia ini kata “Kyrios” yang digunakan orang-orang sezamanNya untuk menyapa Dia itu seyogyanya dimengerti sebagai sebutan penghormatan saja: ”Tuan, Pak, Mister, Sir”, dan memanglah demikian maknanya.

    3. Namun ketika Yesus telah dimuliakan, sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) untuk Yesus ini mempunyai makna sebagai “Penguasa” atau “Yang Dipertuan”. Jadi kata “Tuhan” (Kyrios) di sini tak langsung menunjuk kepada makna “Allah” (“Theos”). Itulah sebabnya sebutan “Allah” (“Theos”) bagi Sang Bapa, itu dibedakan penggunaanya dengan sebutan “Kyrios” (“Tuhan”) bagi Yesus Kristus. Sehingga “Tuhan Yesus” maknanya bukan “Allah Yesus” namun “Sang Penguasa Yesus”, “Sang Junjungan Yesus”. Hal ini dibuktikan dalam penggunaannya dalam ayat-ayat berikut ini: ”…Yesus adalah Tuhan…Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati…” (Roma 10:9-10), “Allah, yang membangkitkan Tuhan…” (I Kor.6:14), “…satu Allah saja, yaitu Bapa,…satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus…” (I Kor.8:6), dan masih banyak yang lain lagi. Ayat-ayat di atas jelas membedakan “Allah” yaitu “Bapa” dengan “Tuhan” yaitu Yesus Kristus, yang dibangkitkan oleh “Allah” atau “Bapa” ini. Sejak kapan Yesus menerima gelar “Tuhan” ini? Sejak kebangkitanNya. Karena sesudah bangkit dari antara orang mati Dia mengatakan kepada para muridNya: ”KepadaKu telah diberikan (berarti: ada yang “memberikan”, yaitu Allah sendiri) SEGALA KUASA (Kepenguasaan mutlak: Jabatan Tuhan) di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Dengan demikian karena Allah yang memberikan “SEGALA KUASA” di sorga dan di bumi kepada Yesus yang telah bangkit ini, maka Allah pulalah yang mengangkat Yesus menjadi “Penguasa Mutlak” atau “Tuhan” atas sorga dan bumi ini. Inilah yang dikatakan dalam Kisah 2:36: ”Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang telah kamu salibkan itu, menjadi Tuhan…”.

    Yesus diangkat sebagai Penguasa Mutlak atau “Kyrios” (“Tuhan”) ini memiliki tiga tujuan: 

    a. Untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Adam yang terakhir yang telah memulihkan kepenguasaan Adam atas alam, yang hilang karena kejatuhan.

    b. Untuk menunjukkan bahwa Yesus yang manusia itu sungguh-sungguh Sang Sabda yang menjelma sebagai manusia. Karena Allah selalu melaksanakan kepenguasaanNya atas alam melalui kalimatNya, sekarang kuasa yang sama atau ke-Tuhan-an Allah yang sama dan hanya satu itu, dilaksanakan melalui manusia Yesus Kristus, sehingga Yesus disebut Tuhan, dengan demikian Yesus tetaplah Sang Firman yang satu dan yang sama, karena melalui Sabda Allah itu Allah melaksanakan kuasa KetuhananNya sendiri. Dengan demikian baik Allah maupun KalimatNya tak berubah, baik dalam hakekatNya maupun dalam hubunganNya, meskipun Kalimat itu telah nuzul sebagai manusia.

    c. Untuk tujuan keselamatan manusia, karena dengan kuasa mutlak sebagai “Penguasa” atau “Tuhan” ini Yesus Kristus akan mengubah tubuh manusia yang hina ini sehingga menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia pada Hari Kebangkitan nanti (Filipi 3:20-21).

    Setelah mengerti makna kata “Tuhan” yang dikenakan kepada Yesus Kristus, maka jelas jika kita sekarang menyebut “Tuhan Yesus Kristus” maka makna ketiga itulah yang kita maksud. Sedangkan ketika para Malaikat (Lukas 2:11) menyebut Kristus sebagai Tuhan, dan terutama sekali ketika Elisabet menyebut Maryam sebagai “Ibu Tuhan” (Lukas 1:43), jelas yang dimaksud bukan makna ketiga ini, karena Yesus baru atau belum lahir, belum bangkit, dan belum dimuliakan. Bukan pula makna kedua, karena seorang bayi tak akan disebut “Pak” atau “Tuan”, namun itu menunjuk makna pertama “Kyrios” (“YHWH”), yaitu sebagai Nama Allah sendiri, untuk menunjuk bahwa bayi yang sedang lahir itu adalah “YHWH” yaitu “Firman YHWH” sendiri yang sedang menjelma sebagai manusia. Dengan demikian “Ibu Tuhan” bagi Maryam ini identik dengan “Bunda Allah” atau “Theotokos”. Jadi Maryam memang “Ibu dari Yang Ilahi” sendiri, yaitu “Bunda Allah” Sang Sabda dalam keberadaan nuzulNya, bukan dalam keadaan azali atau kekalNya. Karena keberadaan Sabda Allah yang azali dan kekal itu tak berbadan jasmani, tak beribu serta tak dilahirkan wanita, dan tanpa awal maupun akhir. Melalui gelar “Theotokos” bagi Maryam inilah justru keilahian Yesus Kristus sebagai Firman Allah dijaga dan dipagari. Maka kita tak akan lupa bahwa bayi yang dilahirkan Maryam itu ternyata tetap Allah yang sama, dan tak pernah berubah meskipun telah turun sebagai manusia, sehingga Ibu manusiaNya berhak disebut “Bunda Allah” (“Theotokos”). Sisi lain dari gelar “Theotokos” ini adalah untuk menegaskan kemanusiaan Yesus Kristus. Karena tanpa menegaskan kemanusiaanNya, kita akan jatuh pada ajaran bidat Monofisitisme yang hanya menekankan keilahian Yesus Kristus dan menghilangkan kemanusiaanNya serta dengan demikian mensifatkan wujud kemanusiaanNya itu sebagai Yang Ilahi sendiri. Jika yang demikian ini yang terjadi akhirnya kita bukan menyembah Allah yang benar dan ghaib, namun menyembah makhluk manusia Anak Maryam: “Dewa Yesus”.

    Alkitab mengajarkan bahwa ketika Firman Allah “mengambil rupa…menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7) atau “lahir dari seorang perempuan” (Galatia 4:4) yaitu “menjadi manusia” (Yohanes 1:14), dia mengambil ini dengan “menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka” (Ibrani 2:14) artinya “dalam segala hal (yaitu: termasuk tubuh, jiwa, roh, akal-budi, emosi, kehendak, dan segenap sifat-sifat kemanusiaan) Ia harus disamakan dengan ”manusia” (Ibrani 2:17). Ini berarti bahwa Yesus Kristus adalah manusia sempurna. Dalam segala hal Dia memiliki kodrat yang sama persis dengan segenap manusia lainnya. Karena kodrat kemanusiaan yang diambilNya itu tak berbeda dalam segala hal dari segenap manusia di alam ini, maka Dia betul-betul Anak Maryam (Markus 6:3). Karena Yesus dalam kemanusiaanNya itu disebut “Anak Abraham” dan “Anak Daud “ (Matius 1:1), maka haruslah dalam jasad daging kemanusiaanNya itu mengalir “gen” dari Abraham dan Daud, bapa-bapa leluhurNya secara manusia itu. Padahal “gen” tadi harus didapat dari manusia yang merupakan keturunan Abraham dan Daud, dan kita tahu satu-satunya manusia yang mempersembahkan kemanusiaan dengan cara melahirkan Firman Allah yang menjelma ini sebagai bayi adalah Maryam, berarti Yesus memang harus mengambil “gen” Abraham dan Daud itu melalui Maryam. Artinya Maryam harus sungguh-sungguh dalam arti literal adalah Ibu kemanusiaan dari Penjelmaan Firman Allah ini. Maryam tidak hanya sekedar dilalui atau dilewati oleh kelahiran Yesus saja, namun kemanusiaan Yesus itu berasal dari ovum kemanusiaan Maryam. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai “buah rahim” Maryam (Lukas 1:42). Ini berarti Maryam adalah pohon dari kemanusiaan Yesus, dan rahim atau ovum Maryam itu menjadi asal-usul dimana “BUAH” yaitu tubuh kemanusiaan bayi Yesus itu diproses. 

    Jadi Maryam bukan hanya sebagai saluran saja, dalam arti tak menyumbangkan apapun kepada kodrat kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma, seperti layaknya pipa kran yang dialiri air. Analogi ini tak masuk akal, karena air dari pipa kran itu bukan “buah” dari pipa tadi, padahal Yesus adalah “buah rahim” Maryam. Jadi memanglah kemanusiaan Yesus itu semata-mata berasal dari ovum Maryam yang tanpa sperma laki-laki oleh Kuasa Firman Allah itu sendiri dijadikan bentuk Bayi dan oleh Roh Allah sendiri diberikan kehidupan. Dengan demikian Yesus itulah ”Keturunan Perempuan” (Kejadian 3:15) karena terjadi tanpa sperma pria sama sekali namun langsung oleh Kuasa Yang Maha Tinggi sebagai mukjizat luar biasa, dan sekaligus “keturunan Abraham dan Daud”, karena Maryam adalah keturunan mereka dan melalui ovumnya “gen” Abraham dan Daud menjadi kemanusiaan dari Firman Allah yang menjelma. Itulah sebabnya Galatia 4:4 mengatakan bahwa Anak Allah yang pra-ada itu ketika lahir menjadi manusia dikatakan “genomenon ek gunaikos” = ”lahir keluar dari” atau “berasal dari ”perempuan“. Jadi “berasal dari” atau “keluar dari” Maryam inilah kemanusiaan Yesus itu dilahirkan ke dunia. Maryam bukan hanya dilalui saja, namun betul-betul menjadi Ibu Yesus Sang Firman Allah itu, yang darinya Sabda Allah yang tak berjasad jasmani itu mendapatkan jasad-jasmani kemanusiaanNya. Itulah sebabnya Maryam disebut “Theo-“ yang menekankan ke-“Allah”-an si Bayi sebagai Firman Allah, dan “-tokos” yang menekankan sungguh-sungguh si Bayi itu terlahir dari Maryam, berarti Ia manusia sejati yang memiliki permulaan dari kelahiran. 

    Jadi memang Maryam yang harus memiliki gelar ini, untuk menandaskan secara tegas bahwa kemanusiaan dari Bayi yang terlahir itu memang berasal dari Ibu yang melahirkan itu yang adalah betul-betul manusia. Sehingga si Bayi itu adalah manusia sejati dan sempurna, karena Ibu yang melahirkan adalah manusia sejati. Demikianlah gelar “Theotokos” bagi Maryam itu merupakan ringkasan theologis tentang makna Inkarnasi Kristus, serta menjadi pagar dan penjaga kokoh bagi “keilahian” dan “kemanusiaan” Kristus, yang tidak saling berbaur, tidak saling kacau, namun tak-terpisah-pisahkan dan tak terbagi-bagi dalam kesatuan Pribadi Firman Allah yang hanya satu itu. Gereja Orthodox pada tahun 431 di Efesus mengutuk “Nestorius” yang menolak gelar ini, karena penolakan itu berarti pemisah-misahan Pribadi Kristus yang satu itu menjadi dua. Jika Maryam hanya melahirkan kemanusiaanNya saja, berarti si Bayi yang lahir itu tak memiliki Pribadi Ilahi, dengan demikian sudahlah terpisah antara Pribadi Ilahi dan Pribadi Manusianya, sehingga ada dua Pribadi yang berbeda. Dengan demikian Yesus Kristus itu bukan Firman Allah yang menjelma, namun hanya manusia biasa Anak Maryam, yang baru kemudian kesurupan Firman Allah, seperti layaknya kalau orang kesurupan setan. Dalam pengertian semacam ini maka Pribadi Firman Allah dan Pribadi Anak Maryam memang beda, berarti ada dua pribadi dalam Yesus, dan bukan Satu Pribadi yang berkodrat dua secara tak terpisah. Jikalau begitu yang disalib itu hanya sekedar manusia biasa, bukan kematian dari kodrat kemanusiaan Firman Allah yang menjelma, sebab kodrat ilahiNya memang tak dapat disalib dan tak dapat mati. Jika yang mati itu hanya manusia biasa Anak Maryam saja, maka keselamatan tak akan terjadi oleh kematian semacam itu. Sampai sekarangpun Gereja Orthodox akan tetap menyangkal “Nestorius-Nestorius“ modern yang menolak menyebut Maryam sebagai “Theotokos”. Jelaslah gelar Theotokos bukanlah untuk memberhalakan atau mendewakan Maryam seperti yang sering disalah-mengerti serta seperti yang telah dialih-maknakan dalam Gereja Roma Katolik. Namun gelar itu untuk menjaga keutuhan dan kesatuan “dua-kodrat” Kristus dalam “satu Pribadi”. Sedangkan Maryam sendiri sebagai pribadi sampai kapanpun dia adalah “hamba Tuhan” yang suci, saleh, serta taat (Lukas 1:38). 

    Selain gelar ”Sang Theotokos” (”Bunda Allah”), Gereja sejak masa purba memberi gelar kepada Maryam sebagai ”Bunda Gereja”. Dalam Injil Yohanes 19:25-27, kita membaca pesan Yesus kepada murid-muridNya (Gereja).

    “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maryam, isteri Klopas dan Maryam Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu !" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” 
    (Yoh. 19:25-27)

    Maryam adalah Ibu dari murid Yesus yang terkasih, berarti menjadi ibu kita juga jika kita memang betul adalah murid Yesus. Murid Yesus yang terkasih adalah anak dari Maryam, berarti jika kitapun adalah murid Yesus, kita juga anak Maryam dalam keberadaan manusia baru kita. Murid Yesus menerima Maryam dalam rumahnya, maka kitapun jika memang murid Yesus harus menerima Maryam juga dalam rumah iman kita. Ummat percaya semua adalah Anak Maryam, berarti Maryam adalah “Ibu Kaum Beriman”. Dan kaum beriman adalah “Gereja” karena menyatu dalam Tubuh Kristus yang satu, maka Maryam adalah “Ibu/Bunda Gereja”, sekaligus lambang dan detak jantung Gereja, meskipun bukan ”Kepala Gereja”, karena Kristuslah satu-satunya Kepala Gereja. Karena sebagaimana Gereja itu adalah ”Perawan Suci” (2 Korintus 11:2) dan sekaligus ”Ibu/Bunda” (Galatia 4:26), maka Maryam-pun adalah ”Perawan Suci” dan ”Ibu/Bunda”.Ini makin nampak jelas pada hari Pentakosta (turunnya Roh Kudus, yang merupakan terbentuknya Gereja yang pertama), Bunda Maria ada bersama-sama para Rasul (Kis.1:14; 2). Maryam sebagai Ibu Kaum Beriman selalu bersama dengan para Rasul yang adalah gambaran dari Gereja/jemaat/kaum beriman. Itulah sebabnya sejak masa awal Gereja Purba, Maryam diberi gelar sebagai “Bunda Gereja” yaitu “Bunda Kaum Beriman”. Gelar-gelar lain yang diberikan para Bapa Gereja dan Gereja Orthodox Timur maupun Gereja Katolik Timur (gereja-gereja Uniat) untuk menghormati Bunda Maria diantaranya:

     “Aeiparthenos Maria” – “Forever virgin Mary”, ”Tetap Perawan”, “Selalu Perawan”.
     “Panaghia” (Παναγία) – ”All Holy”, ”Suci Kudus”, ”Suci Sempurna”.
     “Panagia Evangelistria” – “Our Lady of the good Tidings”, “Bunda dari Kabar Baik”. 
     ”Hyperhaghia Theotokos” – “Most Holy Mother of God”, ”Amat Sangat Suci”.
     ”Panagia Despoina” - ”Our Lady and Queen”, “Sang Bunda dan Ratu”
     “Akhrantos” – ”Tak Bercacat”, Tanpa Cela”, “Immaculata Post-Natum” tetapi bukan ”Immaculata Conceptio” (”Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal”).
     ”Hypereulogheemenee” – ”Amat Sangat Terpuji”, ”Amat Sangat Terberkati”.
     “Axion Esti” - “it is worthy to bless Thee, the Virgin” , “Sungguhlah patut dan benar memberkatimu, ya Sang Perawan Theotokos”
     ”Platytera Toon Ouranoon” – ”Lebih luas dari Sorga” atau ”Sorga Kedua” (1 Raja 8:27). 
     “Rodon to Amaranton” – “the Unfading Rose”, “Bunga Mawar Yang Tak Pernah Pudar” 
     ”Panagia Myrtidiotissa” – “the Most Holy Theotokos "Of the Myrtle Tree (Myrtidiotissa)", “Bunda Tersuci dari Pohon Myrtle (Myrtidiotissa)”.
     Kemudian “Perantara”, “Pelindung”, “Ratu Sorga”, ”Bunda Surgawi”, ”Ratu Para Malaikat”, “Ibu Pengampun”, ”Sukacita Segenap Dunia”, dan lain-lain.

    REFERENSI

    1. Arkhimandrit Rm. Daniel Bambang Dwi Byantoro. Bahan-bahan Katekisasi Gereja Orthodox Indonesia: Gereja Orthodox dan Ajaran-ajarannya: Sang Perawan Maryam. Jakarta. (Tahun?).

    2. Frans Harjawiyata OCSO. Kehidupan Devosional Dalam Gereja-gereja Timur. Seri Sumber Hidup 16. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Cetakan pertama 1993. 

    3. Romo Arkhimandrit Dr. Daniel Bambang D.B. Ph.D. Bunda Maria, Devosi Kepadanya di dalam Gereja Katolik-Apostolik Orthodox Timur. Haghia Sophia Foundation. Jakarta. Indonesia. (Tahun?).

    4. Dan lain-lain.