July 15, 2008

Mengapa Tradisi dan Kitab Suci dan bukan hanya Kitab Suci saja?

oleh: P. John Noone
Mewariskan Tradisi

Ada kalanya kita berhadapan dengan seseorang yang mengatakan, “Jika tidak ada dalam Kitab Suci, sekali-kali aku tidak percaya.” Perkataan tersebut mengandaikan bahwa semua perkataan dan perbuatan Yesus dicatat dalam Kitab Suci. Namun demikian, kita semua tahu bahwa Yesus tidak melimpahkan rahmat-Nya kepada kita dengan bergantung pada kemampuan membaca atau memiliki Kitab Suci. Yesus tidak memberikan perintah kepada Para Rasul-Nya untuk pergi dan menuliskan segala sesuatu yang telah dikatakan-Nya agar orang banyak dapat membacanya. Melainkan, Yesus mengatakan “Pergilah dan baptislah! Ajarlah mereka!” (Mat 28:19-20); kebenaran-Nya haruslah diwartakan. Nyata sekali bahwa pada waktu itu, yaitu sebelum penemuan mesin cetak, yang dimaksud adalah dengan pengajaran / perkataan lisan. Memang benar bahwa beberapa dari para Rasul dan pengikut-pengikut mereka menuliskan banyak hal tentang hidup dan ajaran Kristus. Ajaran lisan para Rasul adalah benar-benar Sabda Allah, sama seperti tulisan-tulisan dalam Kitab Perjanjian Baru. Kenyataan ini dibuktikan dengan ayat-ayat Kitab Suci sebagai berikut:

 

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini.” (Yoh 20:30)

 

“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)

 

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15)

 

Dan dalam Lukas 10:16 Yesus bersabda, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku.”

 

“Sungguhpun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu, supaya sempurnalah sukacita kita.” (2Yoh 1:12)

 

“Banyak hal yang harus kutuliskan kepadamu, tetapi aku tidak mau menulis kepadamu dengan tinta dan pena. Aku harap segera berjumpa dengan engkau dan berbicara berhadapan muka.” (3Yoh 13-14)

 

Dua pernyataan terakhir dapat lebih mudah dipahami jika kita menyadari bahwa cara komunikasi terbaik antar para anggota keluarga adalah dengan saling berbicara satu dengan yang lainnya, bukan dengan saling menuliskan pesan. Dengan Perjanjian Baru, kita dijadikan anggota keluarga Allah. Hal-hal pokok yang diperlukan untuk memperoleh belas kasih Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, tetapi itu tidak berarti bahwa Tuhan - dalam limpahan kasih-Nya - tidak menyediakan jauh lebih berlimpah bagi mereka yang melaksanakan Sabda-Nya. Tidak juga berarti bahwa kita semua dapat membaca Kitab Suci serta dengan sendirinya memahami sabda yang tertulis di dalamnya, seperti yang dengan jelas diceritakan dalam Kis 8:30-31 tentang sida-sida Etiopia. Ingatlah bahwa 2 Timotius 3:16 mengatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat; tetapi dalam kitab tidak disebutkan atau bahkan disinggung bahwa segala tulisan itu adalah satu-satunya sumber.

 

Maksudnya ialah:

 

Kitab Suci, yakni Sabda Allah, bukanlah satu-satunya sumber informasi. Kitab Suci berisi catatan tentang peristiwa-peristiwa penting yang dapat dipercaya dan terbentuknya Wewenang Mengajar Gereja. Hanya mengandalkan Kitab Suci sebagai satu-satunya wewenang, sama dengan hendak mengatakan bahwa perkataan Yesus tidak patut dipercaya, karena bukankah Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia akan menyertai Gereja-Nya senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20).

 

Kitab Suci bukanlah buku pelajaran agama atau dokumen teologi di mana seseorang dapat dengan cepat dan mudah menemukan jawab atas suatu pertanyaan. Kebenaran ada dalam Kitab Suci, tetapi kita harus tahu bagaimana mendapatkan kebenaran tersebut, sebab dalam banyak hal, tulisan-tulisan tersebut tidak disampaikan secara terus terang serta mudah dimengerti oleh umat Kristiani abad ke-20. Hal itu dikarenakan para penulis kudus amat bergantung pada tradisi, kebiasaan, serta keyakinan bangsa Yahudi abad pertama (bahkan sebelumnya) yang dianggap tidak perlu dicatat dalam Kitab Suci. Sebab itu, penting bagi kita untuk mengetahui sejarah, dan kemudian mempelajari, bagaimana tulisan-tulisan (yang kini menjadi bagian dari Kitab Suci) tersebut dipahami serta diajarkan kepada mereka, yaitu kepada siapa tulisan-tulisan itu ditujukan.

 

“Jika tidak ada dalam Kitab Suci, sekali-kali aku tidak percaya,” hanya mungkin masuk akal bagi ia yang mengatakannya, tetapi pernyataan itu sendiri adalah pernyataan yang bertentangan dengan Kitab Suci, karena tidak dijumpai dalam ayat manapun dalam Kitab Suci pernyataan yang menyatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya wewenang mengajar. Jadi, ia yang membuat pernyataan tersebut percaya akan sesuatu yang tidak ada dalam Kitab Suci. Sesungguhnya, Kitab Suci menyatakan bahwa Gerejalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim 3:15).

 

sumber : "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; Copyright © 1999 by Fr. John Noone; www.scborromeo.org

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Apa dan Bagaimana Berdoa Novena


oleh: P. Lawrence G. Lovasik, S.V.D.




Novena berarti sembilan hari berturut-turut memperingati suatu peristiwa atau suatu ujud dalam doa umum ataupun doa pribadi dengan sungguh-sungguh. Novena berpangkal pada praktek para rasul yang bersama Santa Perawan Maria tinggal di Yerusalem selama sembilan hari berturut-turut, dalam doa, menantikan kedatangan Roh Kudus.

 

Berdoa Novena berarti dengan sungguh hati berdoa selama sembilan hari atau sembilan Minggu berturut-turut untuk memohon rahmat. Ini sesuai dengan ajaran Yesus bahwa kita harus tekun berdoa terus-menerus dan tak pernah boleh kehilangan kepercayaan. Kepercayaan ini didasarkan pada sabda Tuhan sendiri, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Lukas 11:9-10).

 

Banyak dari antara umat beriman Katolik yang berdoa novena langsung kepada Tuhan, maupun melalui perantaraan Bunda Maria ataupun para kudus lainnya.

 

Berusahalah bercakap-cakap dengan Tuhan selama Novena. Kesungguhan hati yang mutlak adalah sangat penting. Dan sebagaimana kalian bertumbuh setiap hari dalam doa dan refleksi, kalian akan menemukan cara untuk bercakap-cakap dengan Tuhan, seperti kalian bercakap-cakap dengan seorang sahabat karib. Gunakan kata-kata sederhana dalam pembicaraanmu dengan Tuhan, secara berangsur-angsur ini akan menjadi jalan bagi doa pribadimu kepada Tuhan. Kalian akan mendapati bahwa Roh Kudus menerangi pikiran kalian dan menguatkan keinginan kalian untuk melakukan kehendak Tuhan. Amin.

June 25, 2008

Simbol-Simbol Penulis Injil

oleh: P. William P. Saunders *

St Matius
St Markus
St Lukas
St Yohanes

Para penulis Injil memiliki simbol-simbol - manusia, singa, lembu dan burung rajawali - yang saya pikir menunjuk pada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Mengapakah dipergunakan simbol-simbol ini?

~ seorang pembaca di North Carolina

 

Menurut tradisi, keempat penulis Injil dilambangkan dengan simbol-simbol berikut: St Matius, manusia ilahi; St Markus, singa bersayap; St Lukas, lembu bersayap; dan St Yohanes, rajawali yang terbang tinggi. Simbol-simbol ini diambil pertama-tama dari Nabi Yehezkiel (1:1-21), “Pada tahun ketiga puluh, dalam bulan yang keempat, pada tanggal lima bulan itu, ketika aku bersama-sama dengan para buangan berada di tepi sungai Kebar, terbukalah langit dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah…. Lalu aku melihat, sungguh, angin badai bertiup dari utara, dan membawa segumpal awan yang besar dengan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar; di dalam, di tengah-tengah api itu kelihatan seperti suasa mengkilat. Dan di tengah-tengah itu juga ada yang menyerupai empat makhluk hidup dan beginilah kelihatannya mereka: mereka menyerupai manusia, tetapi masing-masing mempunyai empat muka dan pada masing-masing ada pula empat sayap. Kaki mereka adalah lurus dan telapak kaki mereka seperti kuku anak lembu; kaki-kaki ini mengkilap seperti tembaga yang baru digosok. Muka mereka kelihatan begini: Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang….”

 

Dalam Kitab Wahyu (4:4-8), kita mendapati gambaran yang serupa, “Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah. Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: `Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.'”

 

Gambaran-gambaran ini, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menggerakkan St Ireneus (140-202) untuk menghubungkannya dengan keempat penulis Injil oleh karena isi dari Injil mereka dan fokus istimewanya mengenai Kristus. Dalam risalat “Adversus Hæreses” (“Melawan Bidaah,” XI), St Ireneus mengemukakan, “`Makhluk hidup yang pertama menyerupai seekor singa' melambangkan karya-Nya yang berdaya kuasa, kepemimpinan-Nya, dan kekuasaan rajawi-Nya; `kedua menyerupai seekor lembu,' melambangkan kurban-Nya dan jabatan imamat-Nya; tetapi `yang ketiga memiliki, seolah, rupa seorang manusia,' - suatu gambaran yang jelas akan kedatangan-Nya sebagai manusia; `yang keempat menyerupai seekor rajawali terbang,' menunjukkan karunia Roh yang terbang menaungi seluruh Gereja dengan sayap-sayapnya. Dan karena itu, Injil sesuai dengan gambaran-gambaran ini, di mana Kristus Yesus bertahta.”

 

Secara lebih spesifik, St Ireneus menjelaskan simbol-simbol itu sebagai berikut: St Matius dilambangkan dengan seorang manusia ilahi sebab Injil Matius menekankan kedatangan Yesus ke dalam dunia ini, pertama-tama dengan menyajikan silsilah keluarga-Nya - “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (Mat 1:1) - dan inkarnasi serta kelahiran-Nya - “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut...” (Mat 1:18). “Maka inilah,” menurut St Ireneus, “Injil kemanusiaan-Nya; oleh sebab itulah juga, karaketer dari seorang manusia yang lemah lembut dan rendah hati terus dipelihara sepanjang keseluruhan Injil.”

 

St Markus, dilambangkan dengan singa bersayap, menunjuk pada Nabi Yesaya kala ia memulai Injilnya, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: `Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.'” “Suara orang yang berseru-seru di padang gurun” mengingatkan orang pada auman singa, dan roh nubuat yang turun ke bumi mengingatkan orang akan “pesan bersayap.” Singa juga melambangkan jabatan rajawi, suatu simbol yang tepat bagi Putra Allah.

 

Lembu bersayap melambangkan St Lukas. Lembu dipergunakan dalam kurban-kurban di Bait Suci. Sebagai contoh, ketika Tabut Allah dibawa ke Yerusalem, apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, dikorbankanlah seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan (2 Sam 6). St Lukas memulai Injilnya dengan pemaklumkan kelahiran St Yohanes Pembaptis kepada ayahnya, yakni seorang imam yang bernama Zakharia, yang sedang mempersembahkan kurban di Bait Suci (Luk 1). St Lukas juga mencatat kisah tentang Anak yang Hilang, di mana anak lembu tambun disembelih, bukan hanya untuk merayakan pulangnya si anak yang hilang, melainkan juga untuk menggambarkan sukacita yang pastilah kita alami dalam memperoleh rekonsiliasi dengan Bapa melalui Juruselamat kita yang Mahabelas-kasih, yang sebagai Imam mempersembahkan DiriNya Sendiri sebagai kurban demi pengampunan dosa-dosa kita. Sebab itu, lembu bersayap mengingatkan kita akan karakter imamat Tuhan kita dan kurban-Nya demi penebusan kita.

 

Yang terakhir, St Yohanes dilambangkan dengan rajawali terbang. Injil Yohanes dimulai dengan prolog yang “tinggi” dan “melambung” guna menembus masuk hingga kekedalaman yang paling dalam dari misteri-misteri Tuhan, hubungan antara Bapa dan Putra, dan inkarnasi: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:1-3) dan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Injil St Yohanes, tidak seperti Injil-Injil lainnya, membawa pembaca masuk ke dalam ajaran-ajaran paling mendalam dari Tuhan kita, seperti percakapan panjang antara Yesus dengan Nikodemus, juga dengan perempuan Samaria; ajaran-ajaran indah mengenai Roti Hidup dan Gembala Yang Baik. Yesus juga menyebut DiriNya sebagai “jalan, kebenaran dan hidup,” dan siapa pun yang sungguh percaya kepada-Nya akan dibangkitkan ke kehidupan kekal bersama-Nya.

 

Walau masing-masing dari simbol-simbol di atas berfokus pada tema-tema khusus dari masing-masing Injil, hanya dengan memeluk ke empat Injil seluruhnya sajalah kita dapat berjumpa sepenuhnya dengan Tuhan kita.

 

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.

 

sumber : “Straight Answers: The Symbolism of the Gospel Writers” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

 


Kitab-Kitab yang Hilang dari Kitab Suci

oleh: P. William P. Saunders *
Kisah Tobia dalam Kitab Tobit

Minggu lalu, seorang teman Kristen Baptis datang berkunjung dan bersama saya pergi ke Misa. Bacaan pertama diambil dari Kitab Kedua Makabe. Belum pernah ia mendengar kitab itu sebelumnya. Saya mengatakan, “Kitab itu ada dalam Kitab Suci.” Jawabnya, “Tetapi, tidak ada dalam Alkitab-ku.” Apakah memang ada perbedaan?

~ seorang pembaca di Gordonsville

 

Ya, memang ada perbedaan antara Kitab Suci Katolik dan Kitab Suci Protestan. Sebelum membahas masalah ini lebih lanjut, orang pertama-tama harus ingat bahwa Allah yang Mahakuasa tidak pernah menyerahkan suatu Kitab Suci yang lengkap kepada siapa pun dan mengatakan, “Ini, ambillah.” Melainkan, selama berabad-abad sejarah keselamatan, Roh Kudus mengilhami penulis-penulis Kitab Suci agar menuliskan wahyu-wahyu Tuhan kepada manusia. Dengan berlalunya waktu, Gereja menyusun kitab-kitab ini menjadi suatu Kanon - suatu daftar resmi Kitab Suci - dan memaklumkannya sebagai “Sabda Allah”.

 

Kitab-kitab Perjanjian Lama ditulis kemungkinan antara tahun 1000-100 SM, dan biasanya diklasifikasikan menjadi empat kelompok: Kitab Pentateukh (atau Taurat, yaitu kelima kitab pertama dari Perjanjian Lama kita); Kitab Sejarah; Kitab Para Nabi; Kitab Puitis dan Hikmat (lihat “Mengenal Kitab Suci Katolik”). Kitab Makabe I dan II termasuk dalam kelompok Kitab Sejarah, ditulis antara tahun 150-100 SM. Bahkan dalam Perjanjian Baru sendiri, kita temukan referensi-referensi bacaan dari Kitab Pentateukh dan Kitab Para Nabi dalam kebaktian di rumah-rumah ibadat (mis Luk 4:16-19; Kis 13:15). Setelah jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 M, para rabi Yahudi mengadakan Konsili Jamnia (90-100) di mana mereka menetapkan kitab-kitab mana saja yang mereka anggap sebagai Kitab Suci mereka. Pada masa itu, masih terdapat kontroversi atas apa yang disebut sebagai ketujuh “Kitab Deuterokanonika” - yaitu Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Putera Sirakh, Barukh, Makabe I & II - meskipun kitab-kitab tersebut dimasukkan, secara keseluruhan atau setidaknya sebagian, dalam Septuaginta, yaitu terjemahan resmi Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (100 SM). Sebagian dari alasan kontroversi itu adalah karena kitab-kitab tersebut merupakan tulisan-tulisan terakhir Perjanjian Lama dan ditulis dalam bahasa Yunani, bukan bahasa Ibrani; sementara kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya - “Kitab-kitab Protokanonik” - lebih tua umurnya dan aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Para ahli modern mencermati bahwa Jamnia tidak mengeluarkan satu kitab pun secara definitif; kanon Yahudi yang baku baru muncul sekurang-kurangnya 100 tahun kemudian, dan bahkan setelah itu, kitab-kitab yang lain - termasuk kitab-kitab Deuterokanonika - dibaca dan dihormati. Walau demikian, banyak ahli Kitab Suci tak memiliki keraguan sedikit pun bahwa Gereja Apostolik menerima kitab-kitab Deuterokanonika sebagai bagian dari kanon Kitab Sucinya. Misalnya, Origen (wafat 245) menegaskan penggunaan kitab-kitab tersebut di kalangan umat beriman Kristiani meskipun sebagian dari para pemimpin Yahudi tidak secara resmi menerimanya.

 

Sementara itu, kitab-kitab Perjanjian Baru muncul antara masa wafat Kristus dan akhir abad pertama. (Penelitian terbaru atas Gulungan Kitab Laut Mati (Dead Sea Scrolls) oleh beberapa ahli memperkirakan tulisan-tulisan paling awal dibuat sekitar masa wafat Kristus, sementara sebagian besar ahli lainnya memperkirakan tulisan berasal dari antara tahun 50 dan 100 M). Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313, Gereja berusaha menetapkan tulisan-tulisan mana saja dari Perjanjian Baru yang sungguh dianggap sebagai diilhami Roh Kudus dan merupakan ajaran otentik Tuhan kita.

 

St Atanasius dalam tulisannya Paschal Epistle (367) mengajukan daftar lengkap ke-27 Kitab Perjanjian Baru dengan mengatakan, “Inilah sumber-sumber keselamatan, sebab mereka yang haus dapat mereguk dalam-dalam sabda yang ditemukan di sini. Di sini sajalah ajaran-ajaran kesalehan dicatat. Janganlah seorang pun menambahkan atau mengurangkan sesuatu pun darinya.” Daftar ke-27 kitab bersama ke-46 kitab Perjanjian Lama (termasuk kitab-kitab Deuterokanonika) disahkan sebagai Kanon resmi Kitab Suci bagi Gereja Katolik oleh Sinode Hippo (393), Karthago I & II (397 dan 419). Surat amanat Paus St Inosensius I pada tahun 405 juga secara resmi mencantumkan daftar kitab-kitab ini.

 

Meski muncul beberapa diskusi mengenai dimasukkannya kitab-kitab lain ke dalam kanon Kitab Suci Gereja setelah masa ini, Konsili Florence (1442) secara definitif menetapkan daftar resmi 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.

 

Dengan latar belakang ini, kita sekarang dapat melanjutkan dengan mengapa Kitab Suci Protestan memiliki lebih sedikit kitab daripada Kitab Suci Katolik. Pada tahun 1534, Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman. Ia mengelompokkan ketujuh kitab Deuterokanonika (Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Putera Sirakh, Barukh, Makabe I & II) dari Perjanjian Lama sebagai “Apocrypha” dengan memaklumkan, “Inilah kitab-kitab yang tidak sejajar dengan Kitab Suci, namun demikian berguna dan baik dibaca.” Luther juga mengkategorikan kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai: kitab-kitab tentang karya keselamatan Allah (Yohanes, Roma, Galatia, Efesus, Petrus I dan Yohanes I); kitab-kitab kanonik lainnya (Matius, Markus, Lukas, Kisah Para Rasul, epistula-epistula Paulus yang lainnya, Petrus II dan Yohanes II); dan kitab-kitab non-kanonik (Ibrani, Yakobus, Yudas, Wahyu dan kitab-kitab Perjanjian Lama). Banyak sejarahwan Gereja berspekulasi bahwa Luther sebenarnya siap untuk mengeluarkan apa yang ia sebut sebagai “kitab-kitab non-kanonik” dari Perjanjian Baru, tetapi tidak melakukannya karena pertimbangan politis. Mengapa Luther mengambil tindakan yang demikian, sulit dikatakan. Sebagian ahli percaya Luther ingin kembali ke “iman primitif” dan sebab itu menerima hanya kitab-kitab Perjanjian Lama yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani; sebagian ahli lainnya berspekulasi bahwa ia hendak menyingkirkan semua kitab yang tidak sesuai dengan teologinya sendiri. Namun demikian, tindakannya ini mendatangkan konsekuensi permanen dengan menghilangkan ketujuh kitab Deuterokanonika Perjanjian Lama dari Kitab Suci Protestan.

 

39 Pasal Agama (1563) Gereja Inggris memaklumkan bahwa kitab-kitab Deuterokanonika ini dapat dibaca sebagai “teladan hidup dan pedoman perilaku,” walau kitab-kitab tersebut tidak boleh dipergunakan “untuk menetapkan suatu ajaran” (Pasal VI). Sebab itu, Kitab Suci versi King James (1611) menempatkan kitab-kitab tersebut di antara Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. John Lightfoot (1643) mengkritik penataan ini sebab ia berpendapat “sampah Apocrypha” dapat dianggap sebagai jembatan di antara kedua perjanjian. The Westminster Confession (1647) mendekritkan bahwa kitab-kitab tersebut, “bukan merupakan ilham ilahi, dan bukan bagian dari kanon Kitab Suci, dan karena itu tidak memiliki otoritas dalam Gereja Tuhan; dengan cara apapun tak dapat disetujui atau dipergunakan selain sebagai tulisan-tulisan manusia.” The British and Foreign Bible Society pada tahun 1827 memutuskan untuk menyingkirkan kitab-kitab ini dari cetakan selanjutnya, menyebut kitab-kitab ini sebagai “apocryphal.”

 

Dalam menanggapi kaum Reformasi Protestan, Konsili Trente mengulang kembali kanon Florence dalam Dekrit mengenai Kitab Suci dan Tradisi yang Wajib Diterima (1546) dan mendekritkan bahwa kitab-kitab ini hendaknya diperlakukan “dengan devosi dan penghormatan yang sejajar.” Katekismus Gereja Katolik mengulangi daftar kitab yang sama dan lagi menegaskan Tradisi Apostolik mengenai kanon Kitab Suci.

 

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

 

sumber : “Straight Answers: The Missing Books of the Bible” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”