Showing posts with label tanda salib. Show all posts
Showing posts with label tanda salib. Show all posts

August 22, 2011

Membuat Tanda Salib

disadur dari: http://gkipi.org/membuat-tanda-salib/



Membuat tanda salib mungkin terasa asing bagi umat Kristen khususnya Protestan, tetapi tidaklah demikian dengan umat Kristen Katolik. Sikap ini dilakukan oleh umat Katolik bukan hanya pada saat-saat yang berhubungan dengan liturgi ataupun upacara-upacara gerejawi saja, melainkan mereka juga membuat tanda salib untuk barang-barang atau pada saat ingin memulai suatu pekerjaan.
Mengapa tradisi ini tidak dipakai lagi oleh umat Protestan? Oleh karena itu, makalah ini akan membahas mengenai tradisi/kebiasaan membuat tanda salib tersebut. Salib (dua garis/tiang yang bersilangan) sendiri secara umum cukup banyak dipakai sebagai tanda/simbol di luar agama Kristen. Akan tetapi, saya hanya akan membahas mengenai simbolik tanda salib yang dipakai oleh orang Roma Katolik saja.
Tanda Salib Rakyat Roma Katolik
Rakyat Roma Katolik, khususnya di Eropa Selatan, Amerika Selatan, Filipina, Flores, dan Timor, amat banyak memakai tanda salib. Seperti layaknya dengan adat kebiasaan kerakyatan, tidak seorangpun tahu siapa yang memulai praktik tersebut dan kapan.
Dalam Alkitab Perjanjian Baru saja tidak ditemukan bekas adat/kebiasaan seperti itu. Memang, dalam Perjanjian Lama dan dunia kafir, pengenaan suatu tanda pada diri seseorang (misal budak) atau binatang, yakni untuk menandai bahwa dia itu milik seseorang, sudah biasa dan sudah ada. Akan tetapi, tanda yang dimaksudkan tersebut bukan berupa tanda salib. Namun, seiring perkembangan dan pengalaman iman Kristiani akan salib Kristus, muncullah tradisi Kristiani untuk membuat tanda salib.
Tanda salib pada rakyat Roma Katolik berperan seperti ucapan “Bismillah” pada rakyat Islam[1] . Sejak awal kekristenan, tanda salib ini sudah biasa diberikan kepada para katekumen, bahwa mereka itu kini milik Kristus.
Menurut tradisi liturgi, tanda salib pertama-tama mengungkapkan iman dasar Kristiani akan salib Kristus yang membawa pembebasan dan keselamatan. Kemudian, tradisi ini berkembang menjadi tanda salib yang disertai pengucapan “Dalam/atas/demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus” baru sekitar abad pertengahan, kira-kira abad V.
Arti ‘Tanda Salib’
Di antara orang Katolik, tanda salib itu menjadi cap yang boleh saja diterapkan pada segala sesuatu. Dengan menerapkan cap itu pada sesuatu yang ‘profan’, duniawi, dan manusiawi, orang Katolik sebenarnya mengungkapkan keyakinannya bahwa yang sangat manusiawi itupun diliputi oleh karya penyelamatan dan turut diselamatkan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar hanya profan dan manusiawi saja.
Tanda salib itu menunjuk kuasa salib Kristus yang menyelamatkan dan tanda perlindungan Kristus terhadap kuasa jahat dan setan[2] . Tanda salib yang disertai dengan seruan Trinitas tersebut memiliki makna bahwa orang beriman mengenang baptisannya, di mana dia menjadi milik Kristus, dan pengakuan iman yang dinyatakan pada saat baptis itu menjadi lengkap meskipun pendek. Apalagi ditutup dengan kata amin, iman mereka semakin diperteguh bahwa melalui salib Yesus, Sang Putra Allah, karya penyelamatan dan penebusan dosa dapat tergenapi dan dengan penyertaan Roh Kudus, kita sebagai manusia diantar untuk menghadap Allah Bapa.
Tanda salib digunakan di berbagai upacara dalam liturgi. Ada tanda salib kecil yang dibuat dengan jempol, misalnya pada dahi, bibir, dada, kaki, dan sebagainya. Ada juga tanda salib besar yang biasa dibuat/diberikan pada sejumlah barang. Akan tetapi, secara garis besar, tanda salib adalah sebuah gerakan tangan (biasanya: satu tangan terbuka) sambil menyerukan kutipan Trinitas tadi, dan dilakukan untuk:[3]
  1. Masuk ke dalam Gereja (khususnya Katolik)
  2. Untuk mengawali dan mengakhiri Ekaristi
  3. Membuka dan menutup doa pribadi
  4. Konsekrasi
  5. Saat menerima berkat: pengampunan, pengampunan, persembahan, dan perutusan.
Kesimpulan
Sampai sekarang, tradisi tanda salib masih tetap dipakai oleh umat Katolik. Akan tetapi, apabila saya perhatikan, makna tanda salib itu sendiri (seperti yang sudah diuraikan sebelumnya) sepertinya sudah mengalami pengurangan/kemunduran arti. Atau malah, (jangan-jangan) mereka yang membuat tanda salib itu sendiri tidak tahu kenapa mereka membuat tanda salib tersebut. Lihat saja pemain sepak bola, khususnya di Amerika dan Eropa, yang baru masuk lapangan biasanya membuat salib lalu menyentuh tanah baru masuk lapangan, begitu juga petinju, atau pembalap mobil. Tampaknya tanda salib hanya sebagai usaha ‘penyucian/pengkristenan’ segala sesuatu, baik barang ataupun pekerjaan. Benda/pekerjaan yang haram pun dapat menjadi halal hanya dengan membuat tanda salib di atasnya.
Contoh-contoh tadi memperlihatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, tanda salib lebih mengarah kepada formalisme, atau bahkan lebih mengarah kepada takhayul/magi. Dengan membuat tanda salib, saya akan menang, atau dengan membuat tanda salib, musuh saya akan celaka, atau dengan tanda salib, ‘penyewa saya’ akan banyak, dan sebagainya. Tanda salib itu sendiri akhirnya kehilangan makna religiusnya. Tidak mengherankan bila sering kali kita melihat tanda salib itu dibuat sembarangan atau asal-asalan. Saya sendiri pernah menemui kenyataan dari rekan sendiri yang mengatakan (dari sudut pandang rekan tersebut) bahwa jika sudah sangat kelaparan, orang Katolik cukup membuat tanda salib saja tanpa disertai doa sebelum makan.
Jadi, bukan berarti saya menolak tradisi membuta tentang salib, tetapi sangat disayangkan apabila kita (khususnya umat Katolik) membuat tanda salib, tetapi tidak tahu makna sebenarnya. Apalagi jika tanda salib itu hanya digunakan untuk hal yang berbau magi atau semacam mantra untuk mencapai tujuan tertentu, maka sangat dangkal pemahaman kita mengenai salib itu sendiri. Mungkin juga karena terlalu berbau magi dan takhyul, maka kekristenan pada masa Reformasi Gereja, khususnya umat Protestan, menolak kebiasan membuat tanda salib tersebut hingga saat ini. Atau juga penolakan ini hanya disebabkan oleh faktor malas belaka.
Tentu saja tidak ada kewajiban untuk mengikuti adat kebiasaan itu. Namun tradisi ini memiliki arti yang sangat dalam, meskipun kerap kali kurang disadari bahkan disampingkan maknanya. Akan tetapi, melihat makna sesungguhnya yang sangat mendalam, kekristenan Protestan pun sepertinya membutuhkan hal-hal/kebiasaan semacam itu dalam liturginya yang sudah semakin miskin akan simbol. Lagi pula, tidak sulit bagi kita untuk membuat tanda di dahi, dada, bahu kiri, lalu bahu kanan, sambil mengucapkan Trinitas dan ditutup dengan amin. Jika kita melakukannya, juga tidak akan menguras banyak tenaga dan waktu kita.
Oleh karena itu, jika kita mau melakukannya dengan benar dan dimaknai secara tepat, membuat tanda salib bukan hanya akan memperkaya liturgi dalam gereja kita saja, tetapi juga akan mengingatkan diri kita untuk lebih menyadari bahwa kita telah diselamatkan lewat penderitaan Yesus di salib dan juga untuk membawa kita kepada kesatuan dengan Kristus yang sesungguhnya.
Yosafat Simatupang
Daftar Pustaka
1. Groenen, C. dan Stefan Leks. 1993. Percakapan Tentang Agama Katolik. Yogyakarta: Kanisius.
2. Martasudjita, E. 1998. Memahami Simbol-simbol dalam Liturgi: Dasar Teologi Liturgis, Makan Simbol, Pakaian, Warna, Ruang, Tahun, dan Musik Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.
3. Windhu, I. Marsana. 1997. Mengenal 25 Sikap Liturgi. Yogyakarta : Kanisius.

December 16, 2010

Salib: Selayang Pandang

oleh: P. Kamilus Ndona Sopi, CP

ARTI DAN MAKNA SALIB

Salib (Yun  = stauros atau skolops; Lat  = crux simplex) dimengerti sebagai dua balok kayu yang bersilang membentuk sudut 90 derajat, sehingga terbagi dalam empat arah. Salib adalah alat hukuman mati yang ngeri dan memalukan. Maka, tidaklah mengherankan kalau Cicero, sastrawan Roma menyatakan bahwa kata “salib” mesti dijauhkan dari tubuh, bahkan dari pikiran, mata, dan telinga warga Romawi. Demikian pula Paulus mengatakan, bahwa salib Kristus, bagi orang-orang Yahudi adalah “batu sandungan” dan bagi orang bukan Yahudi adalah “kebodohan” ( 1Kor 1:23; bdk Gal 5:11). Hukuman mati ini berasal dari negeri Persia, kemudian diambil alih oleh Yunani, dan sejak perang dengan Kartago, orang Roma pun menggunakan hukuman salib. Oleh bangsa Romawi salib dijadikan alat hukuman yang paling kejam terhadap para budak dan orang-orang asing (terutama jajahan) yang memberontak. Kedua tangan si terhukum direntang, dipaku dan / atau diikat pada balok horisontal(patibulum), sedangkan kakinya pada balok vertikal (stipes). Kemudian salib dipancang ke tanah, sementara si terhukum dibiarkan tergantung sampai mati.


BENTUK-BENTUK SALIB

Guna memahami lebih dalam tentang bentuk-bentuk salib yang dikenal dalam kalangan Kristiani, di sini terlebih dahulu dipaparkan beberapa gambar kuno. Dalam kebudayaan Mesir kuno ditemui bentuk “Ankh”, yang di kemudian hari dipakai orang Kristen Koptik di Mesir dengan sebutan “Crux Ansata”. Selain Mesir, di daerah Mesopotamia kuno juga ditemukan lambang yang berpola dasar garis silang, yang disebut “Swastika” bila bengkok ke kanan, dan “Sauvastika” bila bengkoknya ke kiri. Lambang ini kemudian menyebar ke daerah Caucasus, Syprus, Athena, Macedonia, Italia, Galilea, dan Scandinavia. Swastika juga terkenal di India. Pelbagai candi, ukiran, lukisan, dan arca di sana senantiasa bergambarkan swastika. Lambang ini sebenarnya sudah terdapat dalam kebudayaan asli Mohenjo Daro, sebelum kedatangan bangsa Arya. Setelah bangsa Arya memasuki India, swastika digunakan juga oleh kaum Hindu dan Budha.

Konon, hukum Yahudi menentukan bahwa para pemuja berhala, penghojat, dan pemberontak dirajam dengan batu dan digantung pada sebuah tiang. Mereka dibiarkan mati secara mengerikan karena dipandang sebagai yang terkutuk oleh Allah. Dan agar tidak menajiskan, maka mayat mereka segera dikuburkan (Ul 21:23; bdk Gal 3:13).

Dalam perkembangan selanjutnya orang lebih sering menggunakan salib dalam beberapa bentuk:

1) Salib Latin (Crux Immisa)
kayu berukuran panjang yang padanya diletakkan kayu palang yang lebih pendek. Dari papan nama (plakat) yang bertuliskan alasan hukuman, seperti yang dipasang pada salib di atas kepala Yesus, dapat disimpulkan bahwa salib bentuk inilah yang dikenakan pada-Nya.
2) Salib Tau (Crux Commisa)
kayu palang diletakkan pada puncak balok vertikal. Bentuk ini disebut juga salib St. Antonius, mungkin karena menyerupai tongkat St. Antonius dan para pertapa lainnya di padang gurun.

3) Salib Yunani
kayu palang dan vertikal berukuran sama dan bersilang tepat di tengah.

4) Salib St. Andreas (Crux Decussata)
balok vertikal dan horisontal juga berukuran sama, tetapi persilangannya membentuk huruf X. Jadi, kedua kakinya sama-sama ditanam ke dalam tanah.



PROSES PENYALIBAN

Penyaliban kerap diawali penderaan. Cara mendera orang Yahudi berbeda dengan orang Romawi. Orang Yahudi tidak boleh memberikan deraan lebih dari empat puluh pukulan, masing-masing pada bahu kiri dan kanan, serta dada. Sedangkan orang Romawi tidak terbatas; mereka boleh memukul di mana saja. Alat penderaan terbuat dari cambuk yang ujungnya diperkuat dengan batu-batu timah atau tulang punggung binatang. Sebelumnya, tangan si terhukum diborgol dan diikat pada sebuah tiang yang tingginya berukuran kurang lebih 60 cm. Dalam posisi membungkuk, si terhukum didera oleh algojo-algojo yang tidak berperikemanusiaan. Kedahsyatan penderaan dapat mengakibatkan banyak luka dan darah di sekujur tubuh si terhukum, sehingga rupanya pun tak tampak (bdk Yes 1:6; 53:3-4). Luka-luka dan aliran darah bekas penderaan tentu saja mempercepat proses kematian.

Selanjutnya si terhukum dipaksa membawa sendiri kayu palang (patibulum) dengan lobang di tengahnya ke tempat eksekusi. Tempat eksekusi biasanya sangat strategis, agar mudah ditonton orang yang lewat. Di tempat ini telah dipancang tiang vertikal (stipes), yang ujungnya dibuat lebih kecil sehingga patibulum mudah dimasukkan. Kedua tangan si terhukum diikat terentang pada palang yang diletakkan di atas bahunya. Tali dililitkan pada tangan kanan membelit lengan, melingkari dada, lalu membelit lengan kiri, mengikat tangan kiri; ujung tali diikat pada pergelangan kaki kiri, sehingga ia terpaksa berjalan membungkuk, tidak bebas, dan menimbulkan tertawaan khalayak ramai yang menyaksikannya. Tiba di tempat hukuman, ia dibaringkan, pergelangan tangan dan telapak kakinya dipaku pada salib. Ada sebatang kayu kecil (sedicula) ditempelkan pada tiang untuk menahan berat badan. Biasanya sedicula ditempatkan pada bagian pantat ataupun pada telapak kaki. Dengan demikian lengan si terhukum tidak mudah sobek, dan ia akan bertahan lebih lama pada salib. Guna mempercepat proses kematian, si terhukum seringkali disesah dan kakinya dipatahkan (crurifragium) (bdk Yoh 19:31-32). Bagi yang tidak punya makam, mayatnya kerap dibiarkan membusuk, bahkan menjadi mangsa serangga dan binatang buas. Namun, sering juga kaum kerabat atau keluarga meminta izin dengan memberi sejumlah uang kepada penguasa, agar mayat si terhukum dapat dikuburkan.


SIMBOL-SIMBOL SALIB

Dalam pandangan publik, salib memang mengerikan, memalukan, bahkan menjijikkan. Namun dengan sengsara dan wafat Yesus, salib memperoleh cahaya dan arti baru. Dikatakan baru karena yang disalibkan justru Putra Allah yang tak bersalah, bukan hamba yang jahat dan memberontak; Ia disalibkan semata-mata demi keselamatan segenap umat manusia, bukan demi keselamatan diri-Nya. Salib mengandung simbolisme yang patut dipahami dan dihayati oleh setiap umat Kristiani. Sejak abad kedua para apolog gencar memperkenalkan salib bukan sebagai alat hukuman yang mematikan, namun sebagai alat yang “menyembuhkan”alam raya dan “menyelamatkan” manusia.

  SALIB: LAMBANG KEHIDUPAN

Para ahli Mesir mengartikan “Ankh” sebagai simbol kehidupan yang dipertentangkan dengan kematian. Ankh diyakini juga sebagai milik para dewa yang diberikan kepada Firaun, raja Mesir, selaku penguasa kehidupan. Demikian pula dengan bentuk “Tau”. Kepercayaan masyarakat atas bentuk “Tau” sebagai tanda kehidupan mungkin berasal dari arti kata “tau” itu sendiri yang dalam bahasa Mesir kuno dibaca “kehidupan”. Orang Roma memakainya bagi tentara yang masih hidup, sedangkan bagi yang sudah meninggal digunakan istilah “theta”. Dalam Perjanjian Lama, tanda Tau juga menyimbolkan kehidupan, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Nabi Yehezkiel, “'Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tuliskan huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah kerena segala perbuatan keji yang dilakukan di sana.' Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman, 'Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan. Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai huruf T itu, jangan singgung!'” (Yeh 9:4-6b). Perintah Allah ini hendak membuktikan kasih-Nya untuk menyelamatkan mereka yang menderita karena kekejian.

Simbolisme perintah yang kurang lebih sama, juga ditujukan kepada Musa dan Harun. Lewat Musa dan Harun, Allah berfirman kepada segenap jemaah Israel di Mesir untuk mengoleskan darah anak domba Paskah pada tiang dan jenang pintu rumah orang-orang yang memakannya. Dengan pengolesan itu mereka akan dibebaskan dari murka Allah (Kel 12:1-28). Darah anak domba Paskah Yahudi ini menjadi lambang darah Kristus, Anak Domba Paskah yang dikorbankan bagi keselamatan umat baru, yang ditandai dengan salib. Simbolisme ini lebih jelas terungkap dalam Wahyu, bahwasannya keempat malaikat ditugasi Allah untuk memeteraikan hamba-hamba-Nya supaya tetap hidup.

Mengenai swastika atau sauvastika ada beberapa kebudayaan yang memberi arti kepadanya. Bagi orang Jerman kuno, swastika dilambangkan dengan palu odam dewa Thor yang digunakan untuk mengolah dunia. Jadi, swastika melambangkan kekuatan dan kekuasaan dewa. Bangsa Mesopotamia menganggapnya sebagai kekuatan alam semesta. Dalam kebudayaan Mohenjo Daro, India kuno, swastika dikaitkan dengan gambar naga, yang melambangkan kesuburan. Hinduisme menghubungkannya dengan Visnu yang menguasai kehidupan dan alam semesta. Sedangkan bagi Budhisme, swastika merupakan simbol peraturan jagat raya, termasuk aturan hidup manusia.

  SALIB: POHON KEHIDUPAN

Dalam kebudayaan non-kristiani, salib dipertautkan dengan pohon yang oleh pelbagai suku bangsa kuno dilihat sebagai lambang: microcosmos dan manusia yang menuju macrocosmos; alam semesta, kehadiran Tuhan di dunia; hidup dan kesuburan; pusat alam sernesta; jalan menuju Tuhan; pembaharuan hidup; dan sebagai pusat hidup yang berawal dari “dunia atas” dan masuk “dunia bawah”. Hal ini melukiskan keterkaitan antara hidup di dunia dengan hidup kekal; keterkaitan manusia dengan para dewa.

Dalam melawan ilmu kebatinan dan penyembahan berhala, Hipolitus dari Roma merayakan salib dengan menghidupkan lagi seluruh simbolisme kuno (Paschal Homily 6). Baginya salib adalah sebatang pohon yang menjulang tinggi dari bumi ke langit, suatu tiang penopang alam raya. Sejalan dengan pandangan Hipolitus, Firmicus Maternus lebih jauh rnenekankan bahwa salib Yesus berfungsi menegakkan gerakan langit sekaligus memperkuat pondasi bumi.

Gambaran pohon atau kayu sebagai pratanda keselamatan memang tersebar di banyak tempat dalam Perjanjian Lama (lih. Kej 6:14-16, 18:1; Kel 4:2-5, 14:16, 17:5-6). Namun, yang paling jelas untuk ditelaah adalah gagasan yang tertera pada Kej 2:9, “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” Pohon kehidupan melambangkan kekekalan Allah; sedangkan pohon pengetahuan melambangkan hasrat manusia untuk memiliki sekaligus menguasai norma-norma moral tentang yang baik dan yang jahat. Dan pohon pengetahuan inilah yang menjerumuskan manusia (Adam) ke dalam maut. Sehubungan dengan ini para teolog Kristen merefleksikan, bahwa sebagaimana pohon pengetahuan menjerumuskan Adam dan umat manusia umumnya ke dalam dosa, maka pohon salib digunakan Kristus sebagai sarana untuk memulihkan kembali hubungan mesra manusia dengan Allah. Jika “pohon Adam” membawa maut, sebaliknya “pohon Kristus” mendatangkan kehidupan. Jadi, sekalipun manusia telah diracuni buah pohon pengetahuan, namun disembuhkan kembali oleh Pohon Kehidupan (Lignum Vitae), yaitu Kristus, Adam Baru (bdk. Why 2:7; 22:2).

St. Ireneus dari Lion memadukan gambaran kedua pohon itu dalam aspek ketaatan Kristus dan ketidaktaatan Adam (manusia). Pohon ketidaktaatan Adam membawa maut, sedangkan pohon ketaatan Kristus menyelamatkan manusia dari maut (bdk. Rm 5:19).

  SALIB: MISTERI KOSMIK

Pada abad-abad pertama para apolog memperkenalkan salib sebagai “misteri kosmik”. Perkenalan ini dimaksudkan untuk memberi corak kristiani ke dalam filsafat Yunani. Mereka melihat salib pada tata penciptaan. Penglihatan ini bertitik-tolak dari keyakinan mereka bahwa ketika menciptakan dunia dan segala isinya, Allah telah memikirkan peristiwa salib dan memberikan bentuknya pada jiwa kosmos. Maka, salib menjadi ukuran struktur dunia.

Bapa-bapa Gereja Timur selalu menggarisbawahi segi “kemuliaan salib”. St. lreneus misalnya menyatakan bahwa bentuk salib secara total menampakkan manifestasi kosmik. Demikian halnya St. Syrillus dari Yerusalem. Bagi Syrillus, Golgota adalah pusat seluruh lingkungan kosmos. Seluruh jagat raya berporos padanya, karena di Golgota, Allah merentangkan tangan-Nya untuk merangkul segala sesuatu. Gregorius dari Nissa melihat salib sebagai suatu cap yang dibubuhkan pada langit dan bumi. Maksudnya bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan salib dan dirangkul olehnya. Dengan demikian tepatlah pemyataan Paulus, bahwa betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus (Ef 3:18). Salib menjadi tanda keselamatan universal, yang mempersatukan segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi (Ef 1:10). Melalui salib Kristus, Allah memperdamaikan segala sesatu dengan diri-Nya (Ef 2:15-16).

  SALIB: TIANG AGUNG KAPAL

Kapal adalah sarana pelayaran yang sangat penting bagi manusia, dahulu maupun sekarang. Dengan kapal orang bisa saja mengadakan perjalanan jauh antar pulau, baik untuk urusan perdagangan, peperangan, penyelidikan, maupun sekedar berpetualang. Keselamatan kapal dan penumpangnya sangat tergantung pada bagaimana kapal itu dibangun. Pembangunan sebuah kapal tentu tidak terpisah dari tiang utama dan layarnya. Bahkan keduanya merupakan komponen penting, sekaligus sebagai simbol kekuatan, keamanan, dan kemenangan dalam suatu ekspedisi. Bentuk tiang dan layar yang terbentang amat mirip dengan salib. Oleh karena itu dalam apologinya, St. Yustinus memperbandingkan tiang dan layar kapal dengan salib. Kalau tiang dan layar kapal dapat menjamin keamanan pelaut, maka salib Kristus mampu mendatangkan keselamatan bagi manusia.

Gambaran tiang dan layar kapal melambangkan salib sebagai tiang agung Gereja, yang membawa penumpang ke tepian keselamatan, kendatipun dihadang ombak lautan yang menggelora. Sebagaimana kekuatan tiang dan layar dapat mendorong kapal melaju ke pelabuhan, demikian pula kekuatan salib dapat membawa Gereja ke pelabuhan keselamatan surgawi. Maka, kalau seseorang mengikat diri pada salib Kristus, ia pasti mencapai keselamatan kekal.

St. Ambrosius dari Hipolitus dalam katekesenya memuji mereka yang “terikat” atau setia memikul salib. Sebab kendati menghadapi keganasan dan gelombang rayuan dunia, toh mereka akhirnya sampai ke pelahuhan abadi. Gereja adalah kapal dan salib Kristuslah Tiang Agung-nya. Terikat pada salib menjadi syarat mutlak untuk mencapai keselamatan. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24; Mrk 8:34; Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27). Dengan demikian, salib menjadi tanda kehidupan dan kemenangan bagi mereka yang setia mengikuti Kristus. Seperti Kristus yang telah mengalahkan dosa dan maut, serta mencapai kebangkitan melalui salib, begitu pula setiap orang yang mengikat diri pada salib akan mengalahkan dosa dan maut dalam hidupnya.

  SALIB: TANDA ANTROPOLOGIS

Di samping sebagai tanda jagat raya, lambang salib dapat juga ditinjau dari aspek antropologis. Hal ini dapat diamati dari bentuk tuhuh manusia, yang bila tangan direntangkan terlihat secara jelas menyerupai salib. Simbolisme ini dapat diamati dari cara Musa berdoa ketika Israel berperang melawan orang Amalek. Selama perang, Musa berdoa dengan merentangkan kedua tangannya sehingga Israel menang. Sebaliknya tatkala ia menurunkan tangannya, maka orang Amaleklah yang meraih kemenangan (Kel 17:8-16). Jadi, kemenangan Israel dikarenakan oleh cara Musa yang berdoa dengan tangan terentang menyerupai salib.

Simbolisme ini memainkan peranan penting dalam Gereja purba; sebab selain menunjukkan sikap badan dalam doa, juga mengingatkan pendoa akan salib Kristus. Simbolisme yang sama juga digunakan dalam liturgi, di mana imam berdoa dengan tangan terentang. Sikap imam ini tentu merujuk kepada sikap doa Yesus di atas salib yang sungguh berkenan kepada Bapa-Nya demi keselamatan kita. Doa Yesus di atas salib membuktikan kekuatan dan kekuasaan-Nya yang penuh belas kasih dalam menghadapi maut.

  SALIB: BUKTI KEKUATAN

Sejak Gereja awali, salib dilihat sebagai tanda mujarab untuk melawan kekuatan-kekuatan jahat yang kerap disimbolkan dalam rupa ular, naga, singa, dsb. Simbol-simbol tersebut dilawankan dengan salib Kristus, yang mengalahkan segala bentuk kejahatan. Tentang ini St. Petrus mengatakan bahwa iblis seperti singa yang mengaum-aum mencari mangsanya (1 Ptr 5:8; bdk. Why 12:3, 13:2.11). Oleh karena itu dibutuhkan perlawanan yang gigih. Dan satu-satunya “senjata” yang ampuh untuk itu adalah salib Kristus, yang kekuatannya melampaui segalanya.

Bertolak dari keyakinan bahwa salib mempunyai kekuatan untuk mengusir kejahatan, maka kaum Kristiani sejak dahulu senantiasa menandai diri dengan tanda salib. Membuat tanda salib menjadi kekhasan Kristiani, sebab dengan demikian orang Kristen menyatakan diri menjadi milik Kristus. Salib menyertai, mempersatukan serta menguatkan kaum beriman. Semula calon baptis ditandai salib pada bibir, mata, telinga, dll, justru untuk mengusir setan, serta menjadikan si calon pantas didiami Roh Kudus. Tanda salib yang diberikan oleh Uskup pada dahi calon Baptis dan Krisma juga menandakan bahwa si penerima sudah dikuasai salib Kristus.

Sekitar abad VIII ditetapkan cara baru. Tanda salib dikenakan pada dahi, dada, bahu kiri dan kanan, disertai seruan Tritunggal. Hal ini hendak menunjukkan keteguhan iman orang Kristen dan kekuatan salib Kristus. Juga mau menginsafkan kita akan permandian yang telah kita diterima melalui air dan Roh Kudus dengan ditandai salib (bdk. Yoh 1:26; Kis 1:5, 11:16). Penandaan pada dahi, dada, dan bahu sebagai peringatan, bahwa misteri salib perlu dipikir, dikenang, dan dipikul dalam perjalanan hidup ini. Dalam kegiatan liturgis, menandai diri dengan tanda salib juga dilakukan pada dahi, bibir, dan dada menjelang pembacaan Injil. Maksudnya, supaya Kabar Gembira keselamatan itu diterima dengan pikiran, diwartakan dengan bibir, dan dihayati dalam hati.

Perihal kebiasaan menandai diri dengan salib rupanya tertera pula dalam dokumen kuno, “Bila saudara tergoda, tandailah dirimu dengan salib, sebab inilah tanda sengsara yang terkenal kekuatannya melawan setan, bila dilakukan dengan iman ... iman sempurna terhadap Sang Anak Domba” (Traditio Apostolica 42). Tanda salib menjadi cara yang paling ampuh untuk menjauhkan diri dari setan dan godaan-godaannya. Karena itu bagi orang Kristen “tanda salib” menjadi hal yang sangat biasa dalam kehidupan beriman hingga sekarang.

Referensi:
1. S. Reksosusilo, “Salib dalam Budaya dan Budaya dalam Salib”; 2. C. Groenan, “Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus”; 3. Luigi di S. Carlo, “Renungan Sengsara Yesus Kristus”; 4. Gabriel Antonelli, “Retret Sengsara Kristus”

Salib dari Timur

oleh: P. William P. Saunders *


Saya mengunjungi sebuah Gereja Orthodox dan saya bertanya-tanya mengapa salib mereka mempunyai tiga palang dan satu palang bawah yang miring. Mohon penjelasan.


Salib yang dikenal sebagian besar umat Katolik Roma secara teknis disebut “Salib Latin” yang mempunyai palang vertikal yang panjang dengan sebuah palang horizontal disilangkan pada jarak sepertiga dari puncaknya. Tipe salib seperti ini diyakini sebagai yang dipergunakan orang-orang Romawi untuk menyalibkan Tuhan kita dengan memakukan tangan-tangan-Nya yang terentang pada ujung-ujung palang horizontal dan kaki-Nya pada bagian bawah palang vertikal.

Dalam tradisi Ritus Timur dari Gereja Katolik Roma kita dan dalam Gereja-gereja Orthodox, berkembang tradisi menambahkan sebuah palang horizontal yang lebih pendek di atas palang tempat tangan-tangan-Nya dipakukan dan sebuah palang miring di bagian bawah salib. Tipe salib ini pada umumnya disebut “Salib Timur”

Palang atas yang lebih kecil mewakili prasasti Pontius Pilatus yang ditulis dalam bahasa Latin, bahasa Yunani dan bahasa Ibrani, Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi. (Yohanes 19:19). Dalam bahasa Latin, prasasti itu berbunyi “Jesus Nazarenus Rex Iudaeorum” yang disingkat menjadi “INRI” pada sebagian besar replika.

Palang bagian bawah mewakili penyangga kaki di atas mana kaki-kaki Yesus dipakukan. Ada beberapa tradisi yang memberikan penjelasan mengenai palang yang miring ini. Pada abad keenam, palang yang miring melambangkan sakrat maut dan pergulatan Tuhan kita sepanjang sengsara-Nya di salib. Injil St Matius mencatat, Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka” (Matius 27:50-52). Dalam puncak traumatik ketika Ia menyerahkan Roh-Nya, palang horizontal itu tersentak dari posisi horizontalnya ke posisi miring.

Suatu tradisi yang muncul sekitar abad kesebelas menyatakan bahwa palang yang miring melambangkan keseimbangan antara penyamun yang baik dan penyamun yang jahat: penyamun yang baik, yang dikenal sebagai St Dismas, menemukan keselamatan di akhir masa hidupnya dan akan diangkat ke surga; sementara penyamun yang jahat, yang mengutuk Tuhan menjelang ajalnya, akan dicampakkan ke neraka.

Suatu penjelasan lain untuk palang yang miring adalah bahwa salib itu merupakan gabungan dari Salib Latin dengan Salib St Andreas. Sesudah Pentakosta, St Andreas mewartakan Injil di wilayah Asia Kecil. Suatu kisah menceritakan bahwa ia berkelana hingga ke Sungai Dnieper, memancangkan sebuah salib di atas sebuah bukit, dan menubuatkan bahwa suatu hari di sana akan ada sebuah kota besar, pusat kekristenan. Kota ini kelak akan menjadi Kiev. Tradisi juga mencatat bahwa St Andreas wafat sebagai martir di sebuah salib berbentuk X pada tanggal 30 November tahun 60 M dalam masa pemerintahan Kaisar Nero di Patrae, Achaia, Yunani.

Ketika St Vladimir memeluk Kekristenan pada tahun 989, Kiev menjadi pusat kekristenan bagi orang-orang Slav dan Rusia, dan St Andreas amat dihormati. Sesudah skisma pada tahun 1054 sebagai akibat dari pertikaian politik dan saling ekskomunikasi antara Paus dan Patriark Konstantinopel, Gereja di Rusia pada akhirnya memutuskan hubungan dengan Roma dan menjadi Gereja Orthodox Rusia. Dengan adanya invasi Mongolia yang dimulai di penghujung 1200-an, Tahta Kiev ditinggalkan dan dipindahkan ke Moskow, dan Uskup Alexis mengambil gelar, “Metropolitan Kiev dan seluruh Rusia”

Pada masa ini, Gereja Orthodox Rusia secara resmi mengangkat St Andreas sebagai santo pelindungnya. Sebab itu, Salib St Andreas yang berbentuk X, yang digambarkan dengan palang-palang miring, digabungkan ke dalam Salib Tuhan kita, Salib Latin tradisional. Di samping itu, suasana politik mendorong penggabungan kedua salib tersebut. Menurut Injil St Yohanes, St Andreas adalah yang pertama menemukan Mesias dan lalu memberitahukannya kepada saudaranya, Simon Petrus (Yohanes 1:40-42); sebab itu, dari perspektif politik, Uskup  Moskow di bawah perlindungan St Andreas mengklaim diri lebih unggul atas Uskup Roma yang di bawah perlindungan St Petrus. Juga, salib yang khusus dengan palang atas dan palang bawah yang miring, membedakan Kristen Orthodox dari Katolik Roma.

Pada pokoknya, entah kita menghormati Salib Latin tradisional atau Salib Timur, kita diingatkan akan Kurban Tuhan kita yang diderita-Nya demi keselamatan kita, dan kita penuh khidmad berdoa, “Kami menyembah Engkau, ya Kristus, dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”  


Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Our Lady of Hope Parish in Sterling, Virginia.

sumber : “Straight Answers: The Eastern Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Tanda Salib

oleh: P. William P. Saunders *

Apa sesungguhnya makna Tanda Salib dan mengapa kita melakukannya?
Bilamana dan bagaimana praktek ini berasal?
~ seorang pembaca di Falls Church

Tanda Salib merupakan suatu gerakan yang indah, yang mengingatkan umat beriman pada salib keselamatan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus. Secara teknis, Tanda Salib merupakan sakramentali, suatu lambang sakral yang ditetapkan Gereja guna mempersiapkan orang untuk menerima rahmat, dan yang menguduskan suatu saat atau peristiwa. Seiring pemikiran tersebut, gerakan ini telah dilakukan sejak masa Gereja Perdana untuk memulai dan mengakhiri doa serta Misa.

Para Bapa Gereja awali menegaskan penggunaan Tanda Salib. Tertulianus (wafat 250) menggambarkan kebiasaan membuat Tanda salib: “Dalam segala kegiatan dan gerakan, setiap kali kami datang maupun pergi, saat mengenakan sepatu, saat mandi, saat makan, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk, dalam segala apapun yang kami lakukan, kami menandai dahi kami dengan Tanda Salib” (De corona, 30).

St. Sirilus dari Yerusalem (wafat tahun 386) dalam Pengajaran Katekesenya menyatakan, “Jadi, marilah kita tanpa malu-malu mengakui Yang Tersalib. Jadikan Salib sebagai meterai kita, yang dibuat dengan mantap menggunakan jari-jari di dahi kita dan dalam segala kesempatan; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, saat kita datang dan saat kita pergi; sebelum kita tidur, saat kita berbaring dan saat kita terjaga; saat kita bepergian, dan saat kita beristirahat” (Katekese, 13). Lama-kelamaan, Tanda Salib dimasukkan dalam berbagai tindakan dalam Misa, misalnya menandai diri tiga kali di dahi, bibir dan hati saat Injil hendak dibacakan atau saat menyampaikan berkat dan saat menandai roti dan anggur persembahan yang dimulai sekitar abad kesembilan.

Cara resmi paling awal dalam membuat Tanda Salib muncul sekitar tahun 400-an, yaitu saat munculnya bidaah Monophysite yang menyangkal adanya dua kodrat dalam pribadi ilahi Kristus, dan dengan demikian menyangkal persekutuan Tritunggal Mahakudus. Tanda Salib dibuat dari dahi ke dada, dan kemudian dari bahu kanan ke bahu kiri. Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah ditangkupkan sebagai lambang Tritunggal Mahakudus - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Di samping itu, ketiga jari ditangkupkan sedemikian rupa hingga melambangkan singkatan Yunani I X C (Iesus Christus Soter, Yesus Kristus Juruselamat): jari telunjuk yang lurus melambangkan I; jari tengah saling bersilangan dengan ibu jari melambangkan X; dan jari tengah yang bengkok melambangkan C. Jari manis dan jari kelingking dilipat ke arah telapak tangan, melambangkan kesatuan kodrat manusia dan kodrat ilahi, kehendak manusia dan kehendak ilahi dalam pribadi Kristus. Cara membuat Tanda Salib seperti ini umum dilakukan di kalangan seluruh Gereja hingga sekitar abad keduabelas, tetapi hingga sekarang masih tetap dipraktekkan dalam Gereja-gereja Katolik Ritus Timur dan Gereja-gereja Orthodox.

Suatu instruksi dari Paus Inosensius III (1198 - 1216) membuktikan adanya tradisi praktek tersebut, sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam praktek Gereja Katolik Ritus Latin, “Tanda Salib dibuat dengan tiga jari, sebab penandaan diri tersebut dilakukan sembari menyerukan Tritunggal Mahakudus…. Beginilah cara melakukannya: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, sebab Kristus turun dari surga ke bumi, dan dari Yahudi (kanan) Ia menyampaikannya kepada kaum kafir (kiri).” Sembari memperhatikan kebiasaan membuat Tanda Salib dari bahu kanan ke bahu kiri, yang dilakukan baik oleh gereja-gereja barat maupun timur, Paus Inosensius melanjutkan, “Namun demikian, yang lain, membuat Tanda Salib dari kiri ke kanan, sebab dari sengsara (kiri) kita harus beralih menuju kemuliaan (kanan), sama seperti Kristus beralih dari mati menuju hidup, dan dari Tempat Penantian menuju Firdaus. [Sebagian imam] melakukannya dengan cara ini, sehingga mereka dan umat menandai diri mereka dengan cara yang sama. Kalian dapat dengan mudah membuktikannya - bayangkan imam menghadap umat untuk menyampaikan berkat - ketika kami membuat Tanda Salib atas umat, kami melakukannya dari kiri ke kanan…” Karenanya, sejak saat itu umat beriman mulai meniru imam dalam menyampaikan berkat, dari bahu kiri ke bahu kanan dengan tangan terbuka. Lama-kelamaan, praktek ini menjadi cara yang biasa digunakan dalam Gereja Barat.       

Dalam karya klasik, “Upacara-upacara Ritus Romawi” tulisan Adrian Fortescue dan J. B. O'Connell, Tanda Salib dibuat dengan cara berikut: “Letakkanlah tangan kiri dengan telapak terbuka di bawah dada. Tangan kanan terbuka juga. Pada saat menyerukan Patris [Bapa] angkatlah tangan kanan dan sentuhkan kening; saat menyerukan Filii [Putra], sentuhlah dada agak ke bawah, tetapi di atas tangan kiri; saat menyerukan Spiritus Sancti [Roh Kudus], sentuhlah bahu kiri dan kanan; saat menyerukan Amin, tangkupkan kedua tangan jika perlu.” Meskipun praktek ini telah berkembang dari bentuk asalnya dan kini masih dipraktekkan dalam Ritus Timur, tetapi telah menjadi praktek yang biasa dilakukan pula dalam Gereja Ritus Latin selama beberapa abad.  

Tak peduli bagaimana orang secara teknis membuat Tanda Salib, gerakan haruslah dilakukan dengan khidmat dan saleh. Umat beriman haruslah menyadari kehadiran Tritunggal Mahakudus, dogma inti yang menjadikan orang-orang Kristen sebagai “Kristen”. Juga, umat beriman haruslah ingat bahwa Salib adalah tanda keselamatan kita: Yesus Kristus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia, yang mempersembahkan kurban sempurna bagi penebusan dosa-dosa kita di atas altar salib. Tindakan sederhana namun mendalam ini membuat setiap orang beriman sadar akan betapa besar kasih Allah bagi kita, kasih yang lebih kuat daripada maut dan akan janji-janji kehidupan abadi. Demi alasan-alasan yang tepat, indulgensi sebagian diberikan kepada mereka yang menandari dirinya dengan Tanda Salib dengan khidmat, sambil menyerukan, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” (Enchirdion of Indulgences, No. 55). Oleh sebab itu, marilah setiap kita membuat Tanda Salib dengan benar dan khidmad serta tidak dengan sembarangan ataupun ceroboh.  

Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sign of the Cross” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”