Showing posts with label santo. Show all posts
Showing posts with label santo. Show all posts

July 7, 2011

St. Nimattullah Kassab Al-Hardini


Mari kita mengenal seorang Santo dari Katolik Maronite ( Satu dari 22 Gereja Katolik Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Roma)
St. Nimatullah

Youssef/Joseph Kassab lahir pada tahun 1808, dari ayah Gewagis/George Kassab dan ibu Maryam Raad. Dia masuk sekolah untuk para rahib St. Anthonios di Houb dari tahun 1816 hingga 1822. Beliau memasuki hidup membiara di Biara St. Anthonios Ishaia (=St.Antonius Yesaya) dan menjadi novis pada November 1828. Di situ beliau mengambil nama Fr. Nimatullah Kassab Hardini dan belajar cara menjilid buku. Beliau menyatakan kaul/janji pertamanya pada tanggal 14 November 1830. Setelah beliau menyelesaikan studi teologinya, beliau ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Seiman Zwain di biara Kfifan pada tanggal 25 Desember 1833.


Beliau menjadi anggota konsili umum sebanyak tiga kali yaitu dari tahun 1845 hingga 1848, 1850 hingga 1853, 1856 hingga 1858. Sebagai anggota konsili, beliau tetap pada pekerjaannya sebagai penjilid buku. Beliau mengajar di sekolah-sekolah biara, khususnya di Kfifan.

Aban/Romo/Pater Nimatullah hidup dengan cara yang sangat suci. Beliau adalah seorang pendoa, secara total “ disemangati oleh Tuhan”. Beliau mengisi waktunya siang dan malam dengan meditasi, doa dan adorasi kepada Ekaristi. Perawan Maria menjadi suri teladannya dengan devosi Doa Rosario. Beliau adalah pribadi yang sangat sederhana, sensitive dan sabar yang menghidupi kaul kebiaraannya yaitu “ketaatan, kemurnian dan kemiskinan” demi kesempurnaan. Para rahib sahabatnya dan orang-orang yang mengenalnya menyebutnya sebagai “Mor Soliha/The Saint/Sang Santo” semasa beliau hidup. Salah satu muridnya adalahSanto Charbel Makhlouf (Seorang Santo dari Katolik Maronite juga) dari tahun 1853 hingga 1858.

Aban Nimatullah meninggal di biara Kfifan pada 14 Desember 1858. Beliau meninggal setelah selama sepuluh hari menderita demam tinggi yang disebabkan oleh angin musim dingin yang merupakan karakter alam Lebanon Utara. Beliau hanya berusia limapuluh tahun.Beliau meninggal sambil memegang gambar St. Perawan Maria, dan kalimat terakhirnya adalah: ”O Perawan Maria di dalam pelukanmu kuserahkan jiwaku.” Orang-orang yang berada di dekat beliau saat beliau meninggal bersaksi bahwa cahaya surgawi memancar dari ruangannya dan bau harum semerbak berada di ruangan tersebut selama berhari-hari setelah kematian beliau. Kemudian ketika Patriark Boulos Massad mendengar tentang kisah kematian Aban Nimatullah beliau berkomentar: “Selamat bagi rahib ini yang tahu memahami manfaat dari kehidupan membiara”

Beberapa waktu kemudian para rahib membuka makam Aban Nimatullah dan mereka terkejut menemukan jasadnya tidak mengalami pembusukan.Jasad Aban Nimatullah kemudian dipindahkan dan ditempatkan di dalam sebuah peti di dekat gereja.Setelah meminta izin dari otoritas gereja setempat, dari tahun 1864 para peziarah diperbolehkan melihat jasad utuh Aban Nimatullah hingga tahun 1927. Pada tahun yang sama Komite Pemeriksa yang menyusun penyelidikan terhadap Kasus Aban Nimatullah mengakhiri penyelidikannya. Jasad Aban Nimatullah kemudian dimakamkan kembali di dalam tembok kubah pada salah satu ruang biara, sebelum dipindahkan ke sebuah Kapel kecil tempat misa dirayakan untuk para peziarah. Selanjutnya Patriark MaronitMar Nasrallah Boutros Kardinal Sfeir, memerintahkan supaya makam dibuka dan jasad dipindahkan ke makam baru pada 18 Mei 1996.

Melalui perantaraan Aban Nimatullah banyak kesembuhan terjadi antara lain: kesembuhan dari kebutaan, kesembuhan dari kelumpuhan, anak yang dibangkitkan dari kematian, kesembuhan dari penyakit sistem syaraf (yaitu epilepsy, keterbelakangan mental dan sakit jiwa; pent.), kesembuhan dari penyakit kanker.

Santo dari Kfifan

Beliau masih hidup ketika disebut sebagai “Sang Santo dari Kfifan”. Kesuciannya adalah bukti dari kehidupan membiaranya, perilaku-perilaku Kekristenannya, dan kegiatan kesehariannya.

Keputusan Youssef Girgis Kassab Al-Hardini untuk memasuki hidup membiara pada Ordo Maronit Lebanon adalah mengikuti contoh dari saudaranya pertapa Aban/Romo Alisha. Beliau memutuskan sejak saat itu akan mengikuti jalan kesucian. Beliau tidak pernah berhenti mencari wajah Tuhan sampai beliau bersatu dengan Tuhan di dalam kehidupannya. Kesucian yang luar biasa dari Aban Nimatullah Kassab Al-Hardini adalah unik mengingat beliau tidak mempunyai aktivitas yang luar biasa. Beliau hanya melakukan sikap Kristen yang biasa-biasa saja. Beliau melakukan tugas-tugas normal harian biara dan secara bersahaja menerima semua kesulitan yang dihadapinya pada kehidupan komunitas membiara. Beliau mencari Tuhan secara berkesinambungan melalui wajah-wajah saudara-saudaranya dan beliau mencintai mereka secara bersahaja. Beliau dihidupi Ekaristi sebagai pemeliharaan/penghidupan yang terbaik. Beliau menghormati Maria sebagai seorang ibu, yang tanpa pengantaraannya tidak ada keselamatan baginya.

Selain itu, kesuciannya dicontohkan melalui pemenuhan tugas-tugas kesehariannya, secara sederhana menghormati yang tua dan yang muda. Dengan taat melakukan setiap tugas yang diperintahkan kepadanya. Melakukan pengorbanan dengan diselimuti rasa cinta kasih dan menerima tanggung jawab-tanggung jawab di dalam situasi yang sulit. Menanggung semua hal di tangannya pada tingkat pengorbanan suci.

Inilah Aban/Romo Nimatullah Kassab Al-Hardini seorang manusia yang luar biasa di dalam kehidupannya yang biasa saja. Kita seharusnya mengikuti jejak langkahnya. Cobaan yang kita hadapi adalah dari diri kita sendiri bukan dari Tuhan.


Mujizat-mujizat lain yang dilakukan oleh Bapa Nimatullah Kassab Al-Hardini.

Penglihatan akan masa depan

Selama masa hidupnya, Aban Nimatullah melakukan banyak mujizat yang disebabkan oleh kedalaman kehidupan rohaninya, kebaikannya yang murni dan ketulusan jiwanya yang menjadikannya bersatu dengan Sang Pencipta melalui doa. “Sang Santo dari Kfifan” mempunyai kharisma nubuat yang menyebabkan beliau dikenal sebagai “manusia dengan penglihatan”. Pada suatu kesempatan ketika beliau sedang mengajar dan menatap tembok tinggi di luar biara Kfifan, beliau memperoleh perasaan/sense bahwa tembok tersebut akan segera runtuh. Kemudian, beliau memerintahkan para pelajar untuk menyingkir sebelum tembok itu runtuh, dan menyelamatkan semua yang hadir dari kecelakaan.

Pada kesempatan lain, Aban Nimatullah secara ajaib memperingatkan bahwa kandang sapi milik Biara Kfifan sedang mengalami keruntuhan (sapi merupakan aset vital dari biara). Aban Nimatullah memerintahkan seorang rahib untuk memindahkan sapi-sapi tersebut. Awalnya rahib tersebut menolak, namun Aban Nimatullah tetap meminta dan memaksanya. Setelah semua sapi dipindahkan, atap kandang runtuh dan tak satupun sapi yang tertimpa.

Penyembuhan Putera Altar

Pada suatu kesempatan , Aban Nimatullah akan merayakan misa harian tetapi putera altar yang biasa melayaninya dalam misa tidak hadir. Aban Nimatullah kemudian mendatangi ruangan anak tersebut dan memintanya bangun untuk melayani misa. Putera altar tersebut tidak sanggup karena sedang mengalami demam tinggi. Aban Nimatullah kemudian memintanya untuk berdiri dan kemudian memerintahkan demam itu: “ Pergi darinya…”. Tiba-tiba, anak-anak tersebut sembuh dan pergi melayani misa harian dengan bahagia dan hidup.

Lumbung

Aban Nimatullah sekali waktu pernah mendoakan dan memberkarti lumbung (yang berisi gandum dan bahan makanan lainnya) pada biara El-Kattara yang tinggal sedikit. Tak lama kemudian lumbung tersebut terisi melimpah hingga membuncah. Setiap orang yang melihatnya takjub dan memuji Tuhan atas apa yang mereka lihat. Semasa hidupnya sahabat-sahabat sesama rahib dan orang-orang di sekitarnya yang mengenal beliau menyadari bahwa Aban Nimatullah adalah seorang santo. Tak jarang mereka memintanya untuk mendoakan mereka dan bahkan memberkati air yangdigunakan untuk menyirami tanah dan cadangan mereka.

Moussa Saliba

Setelah kematiannya, Tuhan menganugerahi banyak penyembuhan dan keajaiban melalui perantaraan “Santo dari Kfifan” ini. Suatu penyembuhan semacam itu dianugerahkan kepada seorang pria Orthodox yang buta, Moussa Saliba, yang berasal dari kota Btegrin (Al-Matin). Moussa Saliba mendatangi makam Aban Nimatullah, berdoa dan memohon berkatnya. Di dalam tidurnya yang nyenyak Aban Nimatullah muncul di hadapan Moussa Saliba dan menyembuhkan matanya, membuatnya mampu melihat dengan jelas.


Mickael Kfoury

Mujizat yang lain terjadi pada seorang Katolik Melkite (Satu dari 22 Gereja Katolik Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Roma juga), Mickael Kfoury dari kota Watta El-Mrouge. Suatu penyakit tak tersembuhkan menghinggapi kedua kakinya, membuat kedua kakinya mengering, kehilangan daging dan menjadikannya melengkung dan membuatnya pincang. Para dokter telah kehilangan harapan akan kesembuhannya. Setelah mendengar mujizat yang dilakukan oleh Aban Nimatullah, dia memutuskan untuk mengunjungi makam Aban Nimatullah di Kfifan dan memohon kesembuhan. Dalam tidurnya yang nyenyak di malam hari di biara seorang rahib tua muncul dihadapannya dan berkata:“ Bangun dan pergilah membantu para rahib mengangkut anggur dari ladang.” Dia menjawab:” Tidakkah engkau melihatku lumpuh, bagaimana mungkin aku berjalan dan mengangkut anggur ?” Si rahib menjawab: ” Ambil sepatu ini pakailah dan berjalanlah. “ Si orang sakit itu lalu memakai sepatu tersebut dan mencoba meluruskan kedua kakinya, dia terkejut karena dia mampu melakukannya. Dia bangun dan segera merasakan kedua kakinya sekarang terisi daging dan darah, dan setelah dia berdiri, dia menemukan kedua kakinya telah sembuh total.

Masyarakat Umum

Peristiwa-peristiwayang telah tersebut di atas adalah sedikit dari mujizat-mujizat yang menakjubkan yang terjadi pada Aban Nimatullah. Kehidupan Aban Nimatullah itu sendirilah yang sebenarnya adalah mujizat. Sebenarnya mujizat terbesar yang dilakukan oleh Aban Nimatullah adalah banyaknya orang yang kembali kepada Tuhan melalui perantaraannya serta contoh cara hidupnya. Khususnya bagi para rahib - yang menyadari kedalaman dan kekayaan yang dicontohkan oleh Aban Nimatullah – telah dituntun untuk menjalani jalur kersetiaan yang sama kepada Tuhan Yesus Kristus demi keselamatan.

Mujizat pada Andre Najm

Andre Najm, lahir pada 29 Oktober 1966 hidup dalam kesehatan prima selama 20 tahun pertama dari kehidupannya. Entah bagaimana pada bulan Juni 1986 dia mengalami kelelahan kronis kerusakan syaraf, hingga tidak mampu berjalan untuk jarak yang pendek. Banyak dokter di Lebanon dan dari luar negeri yang merawatnya tidak mampu menyembuhkannya. Dia menderita penyakit yang disebut sebagai “kanker darah” dan membutuhkan transfusi darah secara teratur. Pada September 1987 Andre ditemani keluarga dan sahabat-sahabatnya mengunjungi Biara Kfifan dimana dia berdoa dengan meratap pada makam Aban Hardini. Orang-orang di sekitarnya mendengar dia berkata:” Aku mohon kepadamu, Aban Al-Hardini, berikan aku setetes darah karena aku telah putus asa bahkan aku tidak mampu mengemis darah di jalanan .” Kemudian dia diminta untuk mengenakan jubah biara, dan dia berteriak, “ Aku mengenakan jubah biara, aku sembuh, aku tidak butuh darah lagi.”
Andre tidak membutuhkan transfuse darah lagi sejak saat itu, dan di tahun 1991 dia menikahi Rola Salim Raad. Mereka dikaruniai dua orang anak, seorang anak laki-laki bernama Charbel dan seorang anak perempuan bernama Rafka. Hingga hari ini Andre dalam kesehatan prima.

Sikap Gereja terhadap Mujizat Aban Nimatullah

Pada Mei 1996, Yang Mulia Uskup Khalil Abi-Nader, mantan uskup Keuskupan Maronit Beirut, meminta persetujuan Yang Bahagia Nasrallah Boutros Kardinal Sfeir untuk memulai investigasi mengenai mujizat yang terjadi pada Andre Najm. Pada 26 September 1996 Kongregasi untuk Kasus-Kasus para Santo mulai mempelajari mujizat tersebut. Pada 27 Februari 1997 lima anggota tim medis yang dipilih secara acak menerima penyembuhan ajaib yang dialami oleh Andre Najm dan pada 9 Mei 1997, tujuh anggota tim teologi yang juga dipilih secar acak menerima mujizat tersebut. Pada 1 Juli 1997, Rapat Umum dari Kongregasi untuk Kasus-Kasus para Santo, yang terdiri dari dua puluh empat cardinal, menerima mujizat tersebut.

Pada 7 Juli 1997, dihadapan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, Kongregasi untuk Kasus-Kasus para Santo mengumumkan dekrit penerimaan mujizat yang terjadi melalui perantaraan pelayan Allah, Aban
Al Hardini.

Homili Paus Yohanes Paulus II tentang kanonisasi Aban Nimatullah.

Pada Minggu Paskah keenam 16 Mei 2004, di dalam homilinya Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II tentang kanonisasi Aban Nimatullah beliau mengukuhkan: “Seorang pendoa, yang jatuh cinta pada Ekaristi yang begitu dia puja untuk waktu yang lama, St. Nimatullah Kassab Al-Hardini adalah contoh bagi para rahib Ordo Maronite Lebanon karena dia adalah saudara bagi sesama Lebanon dan bagi semua orang Kristen di seluruh dunia. Dia membaktikan dirinya secara penuh kepada Tuhan di dalam
kehidupan yang penuh pengorbanan-pengorbanan agung, menunjukkan bahwa cinta Allah adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dan kegembiraan bagi manusia. Dia membaktikan dirinya untuk mencari dan mengikuti Kristus, Majikan dan Tuhannya.(Dengan) menerima saudara-saudaranya, dia
memulihkan dan menyembuhkan banyak luka di dalam hati selama masa hidupnya, bersaksi tentang kasih Allah. Jadikanlah dia contoh pencerahan bagi perjalanan kita dan ambillah manfaat, khususnya bagi kaum muda, suatu gairah nyata bagi Allah dan bagi kesucian demi mewartakan kepada dunia mengenai cahaya Injil “


Sumber: http://www.hardini.org/ dan http://www.vatican.va/news_services/liturgy/saints/ns_lit_doc_20040516_al-hardini_en.html

Terjemahan: http://www.pondokrenungan.com/forum/viewtopic.php?f=4&t=2335

Catatan: Aban adalah sebutan
untuk Pater atau Romo dalam Bahasa Aram/Syria, yang dirangkai dari dua kata aba=bapa dan ana=aku, Aban=Bapa yang merupakan sebutan empatik/hormat.

January 23, 2011

Gereja Orthodox menghormati para kudus (saint), BUKAN menyembahnya



Kemuliaan yang menyelimuti para Orang Kudus adalah kemuliaan Allah (II Kor.3:18). Daya kuasa Ilahi yang tak tercipta yang dalam Kitab Suci dan kehidupan para Orang Kudus dinyatakan sebagai terang. Namun kemuliaan para Orang Kudus itu belumlah menjadi kedudukan akhir mereka, itu akan disempurnakan pada kedatangan Kristus kali kedua. Pada saat itulah mereka akan bercahaya “seperti matahari” (Mat.13:43;bdk.Why.21:9–22:5). Keberadaan Orang Kudus mengingatkan orang Kristen bahwa Kristus itu Juru Selamat yang unik, yang telah mengenakan pada diriNya insan tercipta (“Sang Firman yang telah menjadi daging/ manusia” – Yoh.1:14) dan membawanya kepada persekutuan yang sejati dengan Allah yang tak tercipta itu. Sehingga jelas di sini bahwa bagi manusia tidak ada jalan lain menuju Bapa selain melalui Yesus Kristus (Yoh.14:6; I Tim.2:5; Kis.4:12; I Pet.1:18,19).

Bagi Gereja Orthodox para Orang Kudus adalah pendoa syafaat di dalam Gereja Katolik Orthodox yang Esa. Oleh doa-doa mereka setiap orang Kristen semakin dikuatkan dalam iman. Banyak kisah dalam Kitab Suci yang dapat dijadikan bukti bahwa Allah mendengarkan doa-doa orang benar (kudus) yang dipanjatkan demi orang-orang lain (Lih. Kej.18:23–33; 20:7; Kis.32:11–14; Hos.11:8-9). Dalam kitab Wahyu dapat ditemukan bahwa malaikat-malaikat membawa doa-doa Orang-orang Kudus ke hadapan takhta Allah dan Allah mendengarkannya (Why.8:3-5). Mereka peduli dan perhatian kepada saudara-saudara mereka, yaitu kita semua orang Kristen, yang masih ada di dunia serta akan bersukacita dengan kemajuan rohani kita (Luk.15:7).


Penghormatan kepada Bunda Maria dan para Orang Kudus tidak boleh dikacaukan dengan penyembahan kepada Allah. Gereja Orthodox menghormati (venerate) mereka, bukan menyembah (worship) atau memuja (adore) mereka. Sebab penyembahan (worship) dan pemujaan - adorasi (adoration) hanya ditujukan kepada Allah semata. Hubungan orang Kristen Orthodox yang masih hidup di dunia dengan mereka tidak boleh dipahami dan dimengerti sebagaimana para dukun atau paranormal memahami hubungan mereka dengan yang mereka anggap sebagai arwah nenek moyangnya atau sukma tokoh-tokoh sakti yang dianggap mengalami Moksa. Hubungan antara orang Kristen di dunia dengan para Orang Kudus adalah hubungan dalam satu Roh, yaitu Roh Kudus. Hal ini tidak boleh dimengerti secara klenik dan perdukunan.

Mereka hidup sebagaimana kita ini hidup karena roh tidaklah mati, “ia akan hidup walaupun sudah mati” (Yoh.11:25), bahkan hidup mereka lebih sempurna dari hidup kita. Orang-orang yang sama-sama hidup dalam Kristus tentu saja masih mempunyai jalinan yang kuat oleh karena Roh Kudus. Kecintaan Gereja kepada mereka diwujudkan dalam perayaan peringatan hari Namanya, yaitu tanggal ketika mereka meninggal dunia. Tanggal kematian mereka adalah tanggal kelahiran mereka di negeri Sorgawi (Firdaus). Mereka diingat juga dengan melukiskan wajah mereka dalam wujud ikon-ikon kudus.

December 5, 2010

Jenazah yang Tak Rusak


oleh: P. William P. Saunders *

Jenazah Beato Paus Yohanes XXIII

Herald edisi 29 Maret 2001 melaporkan bahwa jenazah Paus Yohanes XXIII tidak mengalami kerusakan, tetapi kemudian timbul perdebatan mengenai apakah hal ini merupakan tanda kekudusannya atau hanya sekedar akibat metode pengawetan biasa. Dapatkah dijelaskan lebih lanjut mengenai hal ini?
~ seorang pembaca di Alexandria

Pada tanggal 16 Januari 2001, Kardinal Sodano, Sekretaris Negara Tahta Suci; Kardinal Noe, Imam Agung Basilika St Petrus; dan Leonardo Sandri, membuka makam Beato Paus Yohanes XXIII yang dibeatifikasi pada tanggal 3 September 2000. (Beliau wafat pada tanggal 3 Juni 1962.) Identifikasi jenazah merupakan bagian dari prosedur normal kanonisasi. Jenazah B Paus Yohanes XXIII hendak dipindahkan dari makam yang sekarang di ruang bawah tanah St Petrus ke suatu makam baru di atas, dalam basilika itu sendiri, di altar yang dipersembahkan demi menghormati St Hieronimus. Paus Yohanes Paulus II menginstruksikan pemindahan tersebut guna menegaskan kekudusan paus pendahulunya itu dan guna memungkinkan umat beriman dapat lebih mudah menghormatinya.

Ketika peti jenazah dibuka, Kardinal Noe mengatakan bahwa wajah B Paus Yohanes XXIII tampak “utuh dan damai”. Laporan resmi menyatakan, “Begitu kain selubung dibuka, wajah beato tampak utuh, dengan kedua mata tertutup dan mulut sedikit terbuka, dengan roman muka yang segera mengingatkan orang pada penampilan familiar paus yang dihormati itu.” Kedua tangan Bapa Suci, yang masih menggenggam sebuah rosario, juga masih utuh.

Pemeriksaan yang demikian merupakan langkah penting yang perlu dilakukan dalam proses kanonisasi. Kardinal Prospero Lambertini (yang dikemudian hari menjadi Paus Benediktus XIV, 1675-1758) menulis lima jilid buku berjudul De Beatificatione Servorum Dei et de Beatorum Canonizatione di mana ia menuliskan dua bab, De Cadaverum Incorruptione. Karya ini tetap merupakan referensi klasik dalam perkara demikian. Jenazah yang tak rusak merupakan sesuatu yang luar biasa dan karenanya jenazah yang tidak mengalami proses pengawetan, namun tetap mempertahankan rona, kesegaran dan kelenturan seolah hidup setelah bertahun-tahun kematian, merupakan suatu mukjizat. Secara spiritualitas, tanda demikian merupakan indikasi bahwa jenazah orang tersebut dipersiapkan untuk kebangkitan tubuh dengan mulia.

Bersamaan dengan incorruptibilitas (= keadaan jenazah yang tak rusak) adalah tanda “harum surgawi”, suatu fenomena di mana jenazah atau makam seorang kudus memancarkan bau harum semerbak. Dalam Perjanjian Lama, bau wangi-wangian dipergunakan untuk menyatakan bahwa seseorang berkenan kepada Allah dan kudus dalam pandangan-Nya. Biasanya, bau harum ini khas dan tak dapat diperbandingkan dengan wangi-wangian apapun. Kardinal Lambertini mengatakan bahwa dalam kasus tubuh yang mati, nyaris tak mungkin ia tidak memancarkan bau busuk, lebih tak masuk akal lagi jika jenazah memancarkan bau harum. Sebab itu, bau harum yang terpancar tersebut pastilah berasal dari suatu kuasa adikodrati dan karenanya dianggap sebagai mukjizat. Walau demikian, perlu dicatat, bahwa iblis pun dapat membuat “bau harum mewangi”; jadi tanda ini harus dipertalikan dan didukung dengan kekudusan hidup orang yang meninggal tersebut secara keseluruhan.

Dalam mempertimbangkan fenomena ini, faktor-faktor lain harus diperhitungkan juga. Sebagai contoh, jenazah Beato Paus Yohanes XXIII ditempatkan dalam suatu peti pualam yang terdiri dari tiga peti - satu dari kayu oak, satu dari timah dan satu dari cypress (semacam kayu cemara). Walau jenazahnya tidak diawetkan, namun jenazah telah disemprot dengan bahan-bahan kimia agar dapat dipertontonkan sebelum dimakamkan. Nazareno Gabrielli, seorang tenaga ahli dari Vatican Museums, mengatakan, “Ketika beliau wafat, diambil langkah-langkah agar jenazah dapat dipertontonkan untuk dihormati oleh umat beriman. Jangan dilupakan juga bahwa jenazah dimasukkan dalam tiga peti, di mana salah satunya disegel dengan timah.” Sebab itu, kemungkinan sedikit oksigen menembus ke dalam peti mati dan mempengaruhi jenazah. (Setelah jenazah diperiksa secara resmi, jenazah disemprot dengan bahan anti-bakteri, dan peti disegel kedap udara).

Pada pokoknya, jenazah yang tak rusak merupakan tanda kekudusan hidup seseorang. Jenazah St Bernadette Soubirous (1844-1879) danSt Katarina Laboure (1806-1876) juga tetap tak rusak hingga kini, walau jenazah mereka tidak diawetkan dan tidak terlindung dari berbagai macam unsur selama bertahun-tahun sebelum makam mereka digali kembali. Karenanya, orang dapat melihat dengan pasti bagaimana tangan Tuhan bekerja dalam memelihara jenazah Beato Paus Yohanes XXIII; juga yang mengagumkan adalah bagaimana beliau melewatkan masa hidupnya dengan hidup kudus.

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: The Debate Over Incorruptibility” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

St. Vinsentius de Paul  (1580-1660)
St. Anna Maria Taigi (1769-1837)
B. Stefanus Bellesini (1774-1840)
St. Paus Pius X (1835-1914)
B. Paus Yohanes XXIII (1958-1963)
St. Ignatius Laconi (1701-1781)
St. Klara Montefalco (1268-1308)
St. Veronica Guiliani (1660-1727)
Venerabilis Maria dari Agreda (1602-1665)

July 26, 2008

Berdoa Kepada Para Pembela Kita di Surga

oleh: P. William P. Saunders *


Teman-teman Protestan sering bertanya kepada saya, “Mengapa orang Katolik berdoa kepada santa santo?” Saya berusaha menjawab sebisa mungkin; mohon penjelasan yang lebih mendalam.

~ seorang pembaca di Gordonsville

 

Sejak masa awal Gereja, umat Katolik telah senantiasa menghormati para kudus, baik laki-laki maupun perempuan, yang telah pergi mendahului kita dan sekarang bersama Tuhan di surga. Tidak seperti kebanyakan denominasi Protestan, Katolik memiliki pemahaman yang jelas bahwa kita, yang adalah bagian dari Gereja Pejuang yang masih berziarah di dunia, memiliki ikatan persatuan dengan Gereja Jaya di surga dan Gereja Menderita yang masih menjalani pemurnian di api penyucian; kita menyebut ikatan persatuan ini sebagai persekutuan para kudus (bdk. Katekismus Gereja Katolik, No. 957). Bersama-sama, Gereja di dunia, di surga dan di api penyucian membentuk satu Gereja, satu Tubuh Mistik Kristus.

 

Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja [Lumen Gentium] dari Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Kristus mendirikan Gereja, yaitu “serikat yang dilengkapi dengan jabatan hirarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang nampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia sorgawi.” Sebab itu, Gereja di dunia dan Gereja di surga bukanlah dua hal yang terpisah, “melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (No. 8).

 

Namun demikian, persatuan ini bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Sama seperti kita, para anggota Gereja di dunia ini, saling tolong-menolong di jalan keselamatan melalui doa-doa, perbuatan-perbuatan baik dan teladan, demikian pula para kudus menolong kita. Lumen Gentium menyatakan, “Sebab karena para penghuni sorga bersatu lebih erat dengan Kristus, mereka lebih meneguhkan seluruh Gereja dalam kesuciannya; mereka menambah keagungan ibadat kepada Allah, yang dilaksanakan oleh Gereja di dunia; dan dengan pelbagai cara mereka membawa sumbangan bagi penyempurnaan pembangunannya. Sebab mereka, yang telah ditampung di tanah air dan menetap pada Tuhan, karena Dia, bersama Dia dan dalam Dia tidak pernah berhenti menjadi pengantara kita di hadirat Bapa, sambil mempersembahkan pahala-pahala, yang telah mereka peroleh di dunia, melalui pengantara tunggal antara Allah dan manusia, yakni Kristus Yesus, sambil melayani Tuhan dalam segalanya, dan melengkapi Tubuh-Nya, yakni Gereja. Demikianlah kelemahan kita amat banyak dibantu oleh perhatian mereka sebagai saudara” (No. 49).

 

Perlu dicatat bahwa Lumen Gentium menegaskan bahwa Kristus adalah PENGANTARA TUNGGAL. Terkadang kaum Protestan menolak devosi Gereja kepada para kudus, karena mereka menyalahartikan “berdoa kepada para kudus” sebagai mengaburkan peran Yesus. Sementara umat Katolik, dengan mengatakan, “Berdoa kepada para kudus,” sesungguhnya yang kita maksudkan adalah mohon para kudus untuk menjadi PERANTARA bagi kita, yaitu dengan berdoa bersama kita dan mendoakan kita kepada Tuhan, sumber segala rahmat. Guna menyanggah penolakan yang diajukan oleh para pemimpin Protestan yang pertama ini, Konsili Trente (1563) menekankan bahwa “kita dengan rendah hati berseru kepada mereka [para kudus], dan mempercayakan diri kepada doa-doa, bantuan serta pertolongan mereka, untuk memperoleh kurnia-kurnia Allah dengan perantaraan Putera-Nya Yesus Kristus Tuhan kita, satu-satunya Penebus dan Penyelamat kita.” Ya, kita tidak pernah boleh kehilangan fokus kita kepada Kristus. Namun demikian, para kudus yang telah hidup bersama Kristus dapat sungguh berdoa bagi kita dan, dengan teladan mereka yang berjaga-jaga dalam iman, para kudus membantu kita memfokuskan pandangan pada Kristus. Di atas segalanya, para kudus ini, yang mewartakan Kristus sebagai Penebus dan Juruselamat sepanjang hidup mereka, rindu untuk menghantar semua orang kepada-Nya, bukan malah mengalihkan fokus kita daripada-Nya.

 

Peran aktif para kudus dalam Gereja tampak hidup dan nyata dalam perayaan Liturgi. Kita ingat bahwa dalam Ritus Pembaptisan dan Pentahbisan, umat beriman memadahkan Litani Para Kudus, berseru memohon pertolongan para saksi iman. Setiap kali kita merayakan Kurban Kudus Misa, kita mengenangkan para kudus yang mulia ini, dengan menyerukan nama mereka, setidak-tidaknya Santa Perawan Maria, santa / santo pelindung paroki (jika ada), dan orang kudus yang pestanya kita rayakan pada hari itu.

 

Dalam Prefasi, imam mendorong umat beriman untuk mengangkat hati dan menggabungkan diri bersama segenap malaikat dan para kudus untuk memuliakan Tuhan. Dalam Doa Syukur Agung, kita mengenangkan perantaraan mereka yang tak kunjung henti bagi kita. Pada saat itu, sekali lagi surga menggabungkan diri dengan bumi sementara Tuhan kita hadir dan tinggal di antara kita dalam Ekaristi Kudus. Persatuan kita dengan Yesus dalam Sakramen Mahakudus mempersatukan kita semua dalam persekutuan dengan segenap malaikat dan para kudus. Sebab itu, kita mengagungkan Tuhan atas rombongan besar para saksi ini; sepatutnyalah kita tidak lupa memohon pertolongan mereka, dengan mengingat kata-kata ini, “Sebab pada hari ini kami Kau izinkan meluhurkan kota-Mu yang suci yaitu Yerusalem surgawi, bunda kami. Di sanalah barisan saudara-saudara kami memuliakan Dikau senantiasa. Ke sana pula kami, kaum musafir di dunia, melangkah maju dalam iman bergegas-gegas dengan hati gembira. Kami semua bersukaria menyaksikan kemuliaan anggota-anggota Gereja yang luhur, pelopor kami dan penyokong dalam kelemahan.” (Prefasi Hari Raya Semua Orang Kudus).

 

* Fr. Saunders is president of Notre Dame Institute and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

 

sumber : “Straight Answers: Praying to Our Advocates in Heaven” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1996 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

July 15, 2008

Bagaimana Para Kudus Mendalami Kitab Suci

oleh: Bert Ghezzi
St. Perawan Maria & Kitab Suci

Kitab Suci bukan sesuatu yang asing bagi para kudus. Renungan Alkitab merupakan salah satu kegiatan utama mereka seperti yang dapat kita lihat dalam perkataan dan tulisan mereka. Firman Allah mengalir seperti arus bawah pikiran mereka, memberi bentuk serta isi pada kata-kata mereka. Marilah kita melihat tulisan tujuh orang kudus untuk mengamati bagaimana Kitab Suci merasuk ke dalam kehidupan mereka.

 

Kita mulai dengan St. Vinsensius Ferrer (1350-1419). la adalah pengkhotbah ulung dan pembuat mujizat, yang bekerja keras untuk menghidupkan kembali iman Kristiani di Eropa pada permulaan abad 15. Vinsensius juga merupakan seorang penulis besar, seperti yang dapat kita lihat dari bukunya Treatise on the Spiritual Life (Risalat Kehidupan Rohani). Di bawah ini adalah renungannya tentang Lukas 17:2 "Kerajaan Allah ada dalam dirimu".

 

"Kamu harus membuka mata batinmu kepada terang, kepada surga di dalam dirimu, suatu horizon yang luas dan melampaui batas aktivitas manusia, suatu daerah yang belum dijelajahi oleh kebanyakan manusia. Pengamat biasa hanya melihat daerah yang berbadai dan tidak pernah menyangka bahwa beberapa kaki di bawah permukaan, air tenang selalu, dalam terang yang bergemilang terlihat tetumbuhan dan makhluk hidup yang indah dengan bermacam-macam bentuk, di kedalaman misterius di mana mutiara dibentuk. Demikian pula keadaan dalam jiwa di mana Allah berada dan menyatakan diri kepada kita. Dan bila jiwa telah memandang Allah, apa lagi yang dimintanya? (lihat Kel. 33:18; Maz. 42:2-3; Maz. 63:2-4). Bila jiwa telah memiliki Dia, mengapa dan untuk siapa ia dapat digerakkan untuk meninggalkanNya? Maka berusahalah sekuat tenaga, jagalah dirimu dalam ketenangan itu supaya jiwa dapat memandang surya abadi."

 

St. Klara dari Asisi (1193-1253) mendirikan komunitas gadis-gadis yang mau mengatur hidup mereka seturut peraturan St. Fransiskus. la juga sangat akrab dengan Kitab Suci sehingga teks- teks biblis seolah-olah mencetus keluar secara alami dalam tulisan- tulisannya. Dalam surat yang kita kutip di bawah ini, ia mendorong sahabatnya, Ratu Agnes dari Bohemia, yang memutuskan pertunangan dengan Kaisar Frederik II, supaya dapat menerima kepapaan injili. Perhatikan bagaimana St. Klara mencampur ayat-ayat dari Matius dengan pengamatannya sendiri:

 

"Seperti yang kau ketahui, saya sungguh percaya bahwa Kerajaan Surga dijanjikan dan diberikan Tuhan hanya kepada yang miskin: karena orang yang mencintai barang-barang yang lapuk oleh waktu akan kehilangan buah-buah cinta kasih. Saya percaya bahwa orang tidak dapat melayani Allah dan uang, karena jika yang satu dicintai maka yang lain dibenci, atau yang satu dilayani dan yang lain dihina (Mat. 6:24). Kamu juga mengetahui bahwa orang yang berpakaian tidak dapat berkelahi melawan orang yang telanjang, karena ia dengan cepat akan dijatuhkan ke tanah karena musuhnya dapat memegangnya; bahwa tak ada yang dapat hidup seperti penguasa di dunia dan berkuasa di sorga bersama Kristus; dan bahwa seekor unta dapat melalui lubang jarum lebih mudah daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 19:24). Karena itulah kamu meninggalkan pakaianmu -harta dunia- supaya kamu tidak dikalahkan oleh musuhmu, tetapi melalui jalan sempit dan pintu yang sempit kamu masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat. 7:14)."

 

Yang berikut adalah kutipan dari surat St. Raymond dari Penyafort (1175-1275) yang terkenal sebagai teolog dan ahli hukum kanon. Renungannya mengupas 2 Timotius 3:12 "Setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus akan menderita aniaya." Tetapi kita juga akan menemukan bahwa ia menyinggung teks lain berkenaan dengan disiplin rohani, misalnya Ibrani 12, Yakobus 1, dan 1 Petrus 1.

 

"Pewarta kebenaran Tuhan telah mengatakan kepada kita bahwa setiap orang yang mau hidup benar dalam Kristus akan menderita aniaya. Satu-satunya perkecualian dari pernyataan umum ini, saya kira, adalah orang yang lalai atau tidak tahu bagaimana harus hidup benar dan adil dalam dunia ini.

 

Semoga kamu tidak termasuk di antara mereka yang rumahnya selalu damai, tenang, dan tidak pernah mengalami kesusahan; mereka yang tidak pernah merasakan teguran Tuhan; mereka yang hidup dalam kemakmuran dan yang dalam sekejap akan turun ke neraka.

 

Kemurnian hidupmu, devosimu, pantas mendapatkan pahala; karena kamu diterima dan menyenangkan hati Tuhan maka kemurnian hidupmu harus semakin dimurnikan dengan pukulan-pukulan, sampai kamu mendapatkan ketulusan hati yang sempurna. Bila dari waktu ke waktu kamu merasakan pedang jatuh menimpamu dengan kekuatan yang dua kali atau tiga kali lipat, kamu juga harus memandangnya sebagai suatu suka cita dan tanda cinta kasih."

 

Pada abad ke-15 St. Fransiskus dari Paola (1416-1506) adalah pendiri Ordo Minims, suatu komunitas pembaruan yang berpola Fransiskan. Pada tahun 1481 paus mengutus Fransiskus untuk mewakilinya ke istana Raja Louis XI di Perancis, dan ia merasa bahwa ia tidak akan pernah kembali ke Italia. Surat perpisahannya kepada saudara-saudaranya bernada seperti surat Paulus kepada Timotius atau Titus, dan kita dapat mengenali inti surat-surat Paulus dalam nasihat-nasihat yang diberikan Fransiskus kepada saudara-saudaranya.

 

"Anak-anakku yang kukasihi dalam cinta kasih Yesus Kristus, aku meninggalkan kamu sekalian untuk pergi ke Perancis. Dengarkanlah nasihatku sebagai bapamu dalam Yesus Kristus. Kasihilah di atas segalanya Bapa kita di surga yang maha pengasih, dan layanilah Dia dengan segala kekuatan dan kemurnian hati.

 

Jagalah dan hukumlah anggota-anggotamu dengan penebusan dosa yang bermanfaat serta bijaksana supaya kamu tidak jatuh ke dalam godaan busuk iblis. la tidak dapat menang atasmu kecuali atas mereka yang malas dan lalai. Dalam cobaan dan godaan yang setiap hari kita hadapi, kamu harus saling membantu dan dengan menjaga kebaikan hati lakukanlah tugas-tugas dan komitmen rohanimu. Dengan cara itu kamu akan memenuhi hukum Yesus Kristus, seperti yang dikatakan Rasul.

 

Dengan kerendahan hati taatilah atasanmu, karena ketaatan adalah tulang punggung iman. Bersabarlah terhadap kelemahan dan kekurangan sesamamu. Bertekunlah dalam panggilanmu yang kudus, yang merupakan panggilan Tuhan kepadamu. Ingatlah selalu bahwa mahkota keselamatan hanya diperoleh mereka yang bertekun. Sia-sialah memulai suatu perbuatan baik jika kamu tidak menyelesaikannya. Jagalah dirimu untuk tetap berada pada jalan kebajikan yang selalu kukejar dengan penuh semangat, terutama perbuatan cinta kasih, kerendahan hati dan kesabaran.

Selamat tinggal, imam-imam dan saudara-saudaraku. Kita tidak akan berjumpa lagi di dunia ini! Semoga Tuhan mempersatukan kita di surga!"

 

St. Atanasius (297-373) diingat terutama karena ia menulis riwayat hidup St. Antonius dari Mesir, yang mengisahkan tentang monastikisme yang dimulai di padang gurun Afrika pada abad ke-4. Dalam seluruh buku, Atanasius menuliskan pengamatan pastoral tentang pertumbuhan rohani, seperti yang akan kita baca di bawah ini. Dalam kutipan ini St. Atanasius memandang ketekunan melalui lensa 1 Korintus 15:31 "Aku mati setiap hari -sesungguhnya, saudara- saudaraku- sama seperti aku bermegah atasmu dalam Yesus Kristus Tuhan kita."

 

"Marilah kita terus berusaha keras mengejar kebajikan. Jangan pernah merasa bosan mencarinya, karena Tuhan kita telah menjadi penunjuk jalan bagi kita dan bagi setiap orang yang menginginkan kebajikan. Supaya hal itu tidak terlalu membosankan bagi kita, St. Paulus menjadi teladan kita ketika ia berkata, "tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut." Nah, jika kita berpikir setiap hari bahwa kita akan mati hari itu, kita tidak akan berbuat dosa sama sekali. Inilah penjelasan bagi perkataan St. Paulus. Jika kita selalu mengingat kematian yang selalu sangat dekat, kita tidak akan pernah dikalahkan oleh dosa: nafsu yang berlalu cepat tidak akan menguasai kita; kita tidak akan menyimpan amarah terhadap sesama; kita tidak akan mencintai benda-benda yang akan binasa; dan kita akan mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita. Karena itu, saudara-saudaraku terkasih, marilah kita bergiat melaksanakan karya yang merupakan tugas kita, dan marilah kita berjalan menuju akhir perjalanan yang telah kita mulai."

 

Kita mengakhiri tinjauan kita dengan dua mistikus, yang satu sangat terkenal, Katarina dari Siena (1347-1380), dan yang satunya tidak begitu dikenal, Teresa Margaret dari Hati Kudus (1747-1770). Kedua wanita ini membuat keseimbangan antara doa dan karya, pengalaman mistik mereka yang luar biasa menghasilkan buah-buah pelayanan kepada sesama tanpa memikirkan diri sendiri. Mereka dikenal oleh orang-orang di sekitar mereka sebagai orang-orang yang mengasihi, dan keduanya berbicara tentang cinta-kasih praktis seperti yang akan kita baca di bawah ini.

 

St. Teresa Margaret meninggalkan beberapa pepatah. Contoh- contoh di bawah ini seakan-akan menjelaskan arti dari 1 Korintus 13:6-7, "Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. la menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

 

"Jika perbuatan sesama kita mempunyai beratus-ratus sisi, kita harus melihat sisi terbaiknya.

 

Jika suatu perbuatan patut dihukum, kita harus berusaha melihat maksud baik yang ada dibaliknya.

 

Marilah kita melakukan semua hal karena kasih, dengan mengingat bahwa kasih hanya menginginkan kasih, maka tak ada sesuatupun yang sulit bagi kita."

 

Di samping seorang mistik, pelaku mukjizat, dan seorang pekerja, Katarina adalah seorang penulis spiritual. Buku karangannya 'Dialog' sangat mendalam dan membuatnya diangkat sebagai Pujangga Gereja. Ketika ia menulis kutipan berikut ini di mana Tuhan sedang berbicara, ia rupanya memikirkan Matius 25:40 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."

 

"Aku telah menempatkan kamu di tengah saudara-saudaramu supaya kamu dapat melakukan bagi mereka apa yang tidak dapat kamu lakukan bagiKu, itu berarti kamu mengasihi sesamamu dengan bebas tanpa mengharapkan balasan apapun darinya, dan apa yang kamu lakukan kepadanya aku perhitungkan sebagai apa yang kau lakukan kepadaKu."

 

Demikianlah para kudus memenuhi pikiran dan hati mereka dengan Kitab Suci. Hal itu sangat menolong mereka menjadi kudus, karena mereka menemukan Tuhan dalam Alkitab. Atau dengan kata lain, ketika para kudus menangkap kata-kata dalam Kitab Suci, Firman menangkap mereka.

 

sumber : “Mendalami Kitab Suci” oleh Bert Ghezzi - Sabda Allah bagi Anda edisi Desember 1998; diterjemahkan dengan izin dari God's Word Today, Ann Arbor, Michigan, USA; alih bahasa Ibu F.M. Tin Subekti, TOC; diterbitkan untuk kalangan sendiri oleh “PERTAPAAN KARMEL” Ngadireso - Malang

June 25, 2008

Proses Seseorang Diangkat Menjadi Santa/Santo

oleh: P. William P. Saunders *



Baru-baru ini, Paus memaklumkan Edith Stein sebagai seorang santa. Mohon dijelaskan mengenai proses seseorang dimaklumkan sebagai seorang santa / santo.

~ seorang pembaca di Falls Church

 

Proses resmi untuk memaklumkan seseorang sebagai seorang santa / santo disebut KANONISASI. Sebelum tahun 1234, Gereja tidak memiliki suatu prosedur resmi yang demikian. Biasanya, para martir dan mereka yang dianggap kudus, dimaklumkan sebagai santa / santo oleh Gereja pada saat wafat mereka. Sebelum disahkannya kekristenan pada tahun 313 oleh Kaisar Konstantinus, makam para martir, misalnya makam St Petrus, diberi tanda dan dijadikan tempat ziarah. Peringatan wafat mereka dikenangkan dan dicantumkan dalam kalender Gereja setempat. Setelah disahkannya kekristenan, seringkali basilika atau kapel dibangun di atas makam-makam tersebut.

 

Dengan berjalannya waktu, Gereja melihat pentingnya memperketat proses kanonisasi. Sebab, sayangnya, seringkali tokoh-tokoh legenda dihormati sebagai santa / santo. Atau, pernah terjadi, Gereja lokal di Swedia mengkanonisasi seorang biarawan pemabuk yang tewas dalam suatu pertikaian karena mabuk - sulit dipercaya bahwa hal tersebut dapat dijadikan bukti kemartiran. Karenanya, pada tahun 1234, Paus Gregorius IX menetapkan prosedur untuk menyelidiki hidup calon santa / santo dan kemungkinan adanya mukjizat yang terjadi. Pada tahun 1588, Paus Sixtus V mempercayakan kepada Kongregasi Ritus (yang kelak diberi nama Kongregasi untuk Masalah Santa / Santo) untuk mengawasi keseluruhan proses. Dimulai dengan Paus Urbanus VIII pada tahun 1634, berbagai Paus telah merevisi dan memperbaharui ketentuan-ketentuan dan prosedur-prosedur kanonisasi.

 

Sekarang ini, prosedur berlangsung sebagai berikut: Apabila seorang yang “dianggap kudus” atau “dianggap martir” meninggal dunia, maka biasanya Uskup Diosesan memprakarsai proses penyelidikan. Salah satu unsur penyelidikan adalah apakah suatu permohonan khusus atau mukjizat telah terjadi melalui perantaraan calon santa / santo ini. Gereja juga akan menyelidiki tulisan-tulisan calon santa / santo guna melihat apakah mereka setia pada “ajaran yang murni,” yang pada intinya tidak didapati adanya suatu kesesatan atau suatu yang bertentangan dengan iman. Segala informasi ini dikumpulkan, dan kemudian suatu transumptum, yaitu salinan yang sebenarnya, yang disahkan dan dimeterai, diserahkan kepada Kongregasi untuk Masalah Santa / Santo.

 

Begitu transumptum telah diterima oleh Kongregasi, penyelidikan lebih lanjut dilaksanakan. Jika calon santa / santo adalah seorang martir, Kongregasi menentukan apakah ia wafat karena iman dan sungguh mempersembahkan hidupnya sebagai kurban cinta kepada Kristus dan Gereja. Dalam perkara-perkara lainnya, Kongregasi memeriksa apakah calon digerakkan oleh belas kasih yang istimewa kepada sesama dan mengamalkan keutamaan-keutamaan dalam tindakan yang menunjukkan keteladanan dan kegagahan. Sepanjang proses penyelidikan ini, “promotor iman” atau pendukung setan, mengajukan keberatan-keberatan dan ketidakpercayaan yang harus berhasil disanggah oleh Kongregasi. Begitu seorang calon dimaklumkan sebagai hidup dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan yang gagah berani, maka calon dimaklumkan sebagai VENERABILIS.

 

Proses selanjutnya adalah BEATIFIKASI. Seorang martir dapat dibeatifikasi dan dimaklumkan sebagai “Beata / Beato” dengan keutamaan kemartiran itu sendiri. Di luar kemartiran, calon harus diperlengkapi dengan suatu mukjizat yang terjadi dengan perantaraannya. Dalam memastikan kebenaran mukjizat, Gereja melihat apakah Tuhan sungguh melakukan mukjizat dan apakah mukjizat tersebut merupakan jawab atas permohonan yang disampaikan dengan perantaraan calon santa / santo. Begitu dibeatifikasi, calon santa / santo boleh dihormati, tetapi terbatas pada suatu kota, keuskupan, wilayah atau kelompok religius tertentu. Selanjutnya, Paus akan mengesahkan suatu doa khusus, atau Misa atau Ofisi Ilahi yang pantas demi menghormati Beata / Beato yang bersangkutan.

 

Setelah beatifikasi, suatu mukjizat lain masih diperlukan untuk kanonisasi dan memaklumkan secara resmi seseorang sebagai seorang santa / santo.           

 

Baru-baru ini, kita menyaksikan keseluruhan proses di atas dalam kanonisasi Edith Stein pada tanggal 11 Oktober 1998, seorang biarawati Karmel yang mengambil nama “Sr. Teresa Benedikta dari Salib.” Beberapa pokok penting dalam hidupnya: Edith Stein dilahirkan di Breslau, Jerman, mengambil kuliah sekaligus di Universitas Breslau dan Universitas Gottingen, menjadi asisten pengajar dari filsuf besar Edmund Husserl, dan menerima gelar Doktor Filsafat dari Universitas Freiburg pada tahun 1917. Setelah melalui pergulatan dengan iman Yahudi yang dianutnya dan ditarik pada iman Katolik, ia dibaptis dan diterima ke dalam pelukan Gereja Katolik pada tanggal 1 Januari 1922. Edith Stein memberikan pengajaran dalam berbagai kapasitas, hingga pada tahun 1933 pemerintahan Nazi mengeluarkan larangan mengajar bagi semua orang Yahudi. Ia kemudian masuk biara Karmel di Cologne, Jerman pada tahun 1933, tetapi dipindahkan ke biara di Echt, Belanda pada tahun 1938  agar tak membahayakan para biarawati lainnya. Akhirnya, pada tanggal 2 Agustus 1942, Sr Teresa Benedikta ditangkap oleh Gestapo karena ia seorang biarawati Katolik sekaligus karena ia seorang keturunan Yahudi. Ia dipenjarakan di Auschwitz dan dihukum mati dengan gas beracun pada tanggal 9 Agustus 1942.

 

Paus Yohanes Paulus II memaklumkan beatifikasinya pada tanggal 1 Mei 1987, menyatakannya sebagai martir iman. Yang menarik, saat para biarawati membersihkan biliknya di biara, mereka menemukan suatu gambar kecil dengan tulisan tangan Sr Teresa Benedikta dibelakangnya, yang berbunyi, “Aku rindu mempersembahkan hidupku sebagai kurban demi keselamatan bangsa Yahudi.” Sungguh, ia telah mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan.

 

Mukjizat melalui perantaraannya menyangkut seorang gadis kecil bernama Teresia Benedikta, yang pada tahun 1987 menderita penyakit Tylenol pada tingkat yang mematikan, yang melumpuhkan fungsi levernya. Kondisi gadis kecil itu terus memburuk. (Ayah anak itu, seorang imam Melkite, melihat dua `kebetulan': Pertama, tanggal tahbisannya bertepatan dengan tanggal wafat Edith Stein. Kedua, setelah mempelajari dengan seksama hidup dan karya Edith Stein, maka ia dan isterinya memutuskan untuk menamai puteri mereka yang baru lahir dengan nama Teresia Benedikta.) Setelah berseru memohon perantaraan St Edith Stein / Teresa Benedikta, gadis kecil itu sekonyong-konyong sembuh secara ajaib. Pada tahun 1998, setelah mengadakan pemeriksaan yang seksama, Kongregasi untuk Masalah Santa / Santo menyatakan bahwa penyembuhan tersebut adalah di luar peristiwa kodrati yang dapat dijelaskan dan dengan demikian merupakan peristiwa adikodrati yang terjadi melalui perantaraan Beata Edith Stein. Oleh sebab ia adalah seorang martir dan sekarang menjadi perantara dari suatu mukjizat penyembuhan, maka Paus Yohanes Paulus II memaklumkan Beata Edith Stein / Teresa Benedikta sebagai santa.

 

Hendaknya kita memahami bahwa proses yang rumit dan seksama ini dilakukan mengingat pentingnya peran para santa / santo sebagai teladan bagi kita, umat beriman yang sekarang sedang berjuang agar dapat masuk dalam Kerajaan Allah dan melihat kegenapan dari kerinduan mereka itu di surga. Vatican II memaklumkan, “Dalam hidup mereka [Gereja di surga, para kudus] yang sama-sama manusia seperti kita, tetapi secara lebih sempurna diubah menjadi serupa dengan citra Kristus, Allah secara hidup-hidup menampakkan kehadiran serta wajah-Nya. Dalam diri mereka Ia menyapa kita, dan menyampaikan kepada kita tanda Kerajaan-Nya. Kita yang mempunyai banyak saksi ibarat awan yang meliputi kita dan yang menghadapi kesaksian sejelas itu tentang kebenaran Injil, kuat-kuat tertarik kepadanya. Namun kita merayakan kenangan para penghuni sorga bukan hanya karena teladan mereka. Melainkan lebih supaya persatuan segenap Gereja dalam Roh diteguhkan dengan mengamalkan cinta kasih persaudaraan.” (“Lumen Gentium,” No. 50).

 

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/1x1.gif

sumber : “Straight Answers: The Process of Becoming a Saint” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/1x1.gif

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”