Showing posts with label roh kudus. Show all posts
Showing posts with label roh kudus. Show all posts

August 1, 2008

Tujuh Karunia Roh Kudus

oleh: P. William P. Saunders *


Baru-baru ini saya menerima Sakramen Krisma. Saya tahu bahwa saya menerima ketujuh karunia Roh Kudus dan tahu karunia apa saja itu, namun demikian saya tidak terlalu paham tentang karunia-karunia tersebut. Dapatkan anda menjelaskannya?

~ seorang pembaca di Crystal City  

 

 

Pewahyuan karunia-karunia Roh Kudus berakar pada nubuat nabi Yesaya mengenai kedatangan Mesias: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN.” (Yes 11:1-3). Sementara nubuat Yesaya ditujukan secara khusus bagi Mesias, Tradisi Gereja menyatakan bahwa karunia-karunia ini diberikan juga kepada semua orang beriman melalui Sakramen Baptis dan teristimewa Sakramen Krisma (Katekismus Gereja Katolik no. 1303). St Paulus mengajarkan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya…” (Rm 8:29), menyatakan bahwa melalui rahmat sakramen-sakramen, orang mengenakan identitas Kristus dan beroleh bagian dalam karunia-karunia tersebut yang sesuai dengan peran-Nya sebagai Mesias (setidak-tidaknya yang dapat diberikan kepada kita).  

 

Menegaskan keyakinan ini, St. Ambrosius dalam De mysteriis mengajarkan, “Karena itu, engkau harus ingat bahwa engkau telah menerima pemeteraian oleh Roh: roh kebijaksanaan dan pengetahuan, roh nasihat dan kekuatan, roh pengertian dan kesalehan, roh takut akan Allah; dan peliharalah apa yang telah engkau terima. Allah Bapa telah memeteraikan engkau, Kristus Tuhan telah menguatkan engkau dan memberikan jaminan Roh ke dalam hatimu” (7,42).

 

Kaum beriman diingatkan akan penganugerahan karunia-karunia ini dalam liturgi. Dalam Misa Pentakosta, ketika umat beriman mengenangkan turunnya Roh Kudus atas para rasul, mereka akan mendaraskan doa ini, “Pada umat beriman, yang mengagungkan serta mengaku Engkau terlebih lagi dengan turunnya tujuh karunia-Mu.”

 

Dalam pelayanan Sakramen Krisma, bapa uskup berdoa, sambil mengulurkan tangannya atas kelompok penerima Penguatan, “Allah yang Mahakuasa, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, Engkau telah melahirkan kembali para hamba-Mu ini dari air dan Roh Kudus, dan membebaskan mereka dari dosa. Sudilah kiranya mencurahkan Roh Kudus penghibur kepada mereka. Semoga mereka Kauanugerahkan roh kebijaksanaan dan pengertian, roh penasihat dan kekuatan, roh pengetahuan dan ibadat; dan semoga mereka Kaupenuhi dengan roh takwa kepada-Mu. Demi Kristus, Pengantara kami. Amin.” Kemudian bapa uskup meneguhkan masing-masing calon, membuat tanda salib dengan minyak krisma suci di dahi calon sambil mengatakan, “Semoga dimeterai oleh karunia Allah, Roh Kudus.”

 

Atas dasar ini, menurut Tradisi Gereja ketujuh karunia Roh Kudus adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan dan rasa takut kepada Allah. (Catatan, teks kitab Nabi Yesaya dalam bahasa Ibrani mencatat hanya enam karunia dengan karunia takut akan Tuhan disebutkan dua kali, terjemahan Septuaginta bahasa Yunani dan Vulgata bahasa Latin mencatat tujuh karunia, dengan menambahkan “kesalehan” dan menghilangkan pengulangan “takut akan Allah. Lagipula, dalam Perjanjian Lama, tujuh merupakan angka sempurna, kelimpahan dan perjanjian).

 

Pertama-tama, istilah “karunia” perlu dijelaskan. Dengan sangat tepat mereka disebut “karunia Roh Kudus” karena Roh Kudus yang mengaruniakannya. Sebab itu, mereka merupakan karunia-karunia rohani yang bekerja dengan cara rohani. Karunia-karunia ini bukanlah karunia yang diberikan pada saat orang berseru dalam saat-saat genting; tetapi karunia ini diberikan kepada orang selama ia tetap berada dalam keadaan rahmat. Dengan demikian, karunia-karunia ini membantu orang untuk mencapai kekudusan dan menghantarnya pada kesempurnaan kebajikan, baik kebajikan ilahi (iman, harapan dan kasih) maupun kebajikan pokok (kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri). Gagasannya di sini ialah bahwa karunia Roh Kudus membantu orang untuk ambil bagian dalam hidup Allah yang paling intim, baik sekarang dalam kehidupan ini maupun kelak dalam kehidupan kekal. Dalam hal ini, seperti yang ditegaskan oleh St. Thomas Aquinas, karunia-karunia tersebut merupakan kepenuhan dari “habitus” (bahasa Latin, artinya cara hidup) yang menandakan kehadiran dan karya mereka yang tetap. Katekismus menggarisbawahi poin ini: “Kehidupan moral orang-orang Kristen ditopang oleh karunia-karunia Roh Kudus. Karunia ini merupakan sikap yang tetap, yang mencondongkan manusia, supaya mengikuti dorongan Roh kudus…. Mereka melengkapkan dan menyempurnakan kebajikan dari mereka yang menerimanya. Mereka membuat umat beriman siap mematuhi ilham ilahi dengan sukarela” (No. 1830-31).

 

Definisi dasar berikut dikutip dari karya klasik Rm Aumann, “Spiritual Theology”. Di samping itu, urut-urutannya disusun oleh Paus St. Gregorius Agung, yang berusaha menangkap dinamika spiritual yang dianugerahkan Roh Kudus kepada jiwa melalui karunia-karunia-Nya: “Dengan takut akan Allah, kita dihantar pada kesalehan, dari kesalehan kepada pengenalan, dari pengenalan kita menimba kekuatan, dari kekuatan kepada nasihat, dengan nasihat kita bergerak menuju pengertian, dan dengan pengertian menuju kebijaksanaan, dengan demikian, dengan ketujuh karunia Roh Kudus, terbukalah bagi kita di akhir pendakian, pintu masuk ke dalam kehidupan Surga” (Homiliae in Hiezechihelem Prophetam, II 7,7).

 

KARUNIA TAKUT AKAN ALLAH memampukan orang “untuk menghindari dosa dan menghindari cinta / kelekatan pada barang-barang duniawi lebih dari rasa cinta dan hormat kepada Tuhan.” Teristimewa, karunia ini membangkitkan rasa hormat mendalam kepada Allah segala kuasa yang Mahatinggi. Di sini, orang menyadari “keterbatasannya sebagai ciptaan” dan ketergantungannya kepada Tuhan, serta tidak akan pernah mau dipisahkan dari Tuhan yang penuh belas kasihan. Karunia takut akan Allah ini membangkitkan dalam jiwa semangat sembah sujud dan takwa kepada Allah yang Mahakuasa serta rasa ngeri serta sesal atas dosa.

 

Karunia ini kadangkala disalahtafsirkan karena kata 'takut'. Takut yang dimaksudkan di sini bukanlah rasa takut seorang budak, di mana orang melayani Tuhan hanya karena ia takut akan penghukuman, baik hukuman yang sifatnya sementara di dunia ini ataupun hukuman abadi di neraka. Hubungan sejati dengan Tuhan didasarkan atas kasih, bukan takut. Sebab itu, “takut akan Allah” ini lebih merupakan takut anak kepada bapa atau takut karena hormat yang menggerakkan orang untuk melakukan kehendak Tuhan dan menghindari dosa karena kasih kepada Tuhan, yang sepenuhnya baik dan patut mendapatkan kasih kita seutuhnya. Demikian juga halnya, seorang anak hendaknya tidak dimotivasi untuk taat pada bimbingan moral orangtuanya ataupun perintah orangtuanya hanya karena takut akan hukuman, melainkan karena kasih dan hormat kepada mereka. Orang haruslah lebih takut menyakiti orang yang dikasihinya dan merusak kepercayaan orang yang dikasihinya itu, daripada takut akan hukuman. (Namun demikian, orang haruslah memiliki rasa takut yang sehat pada hukuman karena dosa, meskipun hal ini bukan menjadi faktor yang memotivasi orang untuk mengasihi Tuhan.)        

 

Karunia takut akan Allah menghantar orang pada kesempurnaan terutama kebajikan akan pengharapan: manusia menghormati Tuhan sebagai Tuhan, percaya pada kehendak-Nya dan mempercayakan hidupnya dalam tangan-Nya. Di samping itu, ia rindu untuk bersatu dengan Tuhan selamanya di surga. Karunia ini juga merupakan landasan bagi karunia-karunia yang lain. Seperti ditegaskan dalam Kitab Suci, “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” (Mzm 112:1) dan “Awal kebijaksanaan ialah ketakutan akan Tuhan.” (Sir 1:14).

 

Kedua, karunia ini juga menyempurnakan kebajikan akan penguasaan diri, yang rindu untuk mempergunakan segala sesuatu dengan bijaksana, dan sepantasnya, serta tidak berlebihan, khususnya yang mendatangkan kesenangan-kesenangan duniawi. Dengan akal sehat dalam terang  iman, penguasaan diri mengendalikan hasrat. Penguasaan diri berhubungan dengan karunia takut akan Allah karena kesadaran dan rasa hormat orang akan kekudusan Tuhan mendorongnya sebagai ciptaan untuk memuliakan Tuhan dengan menguasai diri dalam segala tindakan dan keinginan. Sebagai contoh, kemurnian merupakan suatu kebajikan akan penguasaan diri yang menghormati kebaikan seksualitas diri sendiri, kekudusan perkawinan, dan kekudusan cinta kasih dalam perkawinan; orang yang digerakkan oleh karunia takut akan Allah berjuang untuk hidup murni karena Tuhan adalah pencipta dari segala kebajikan itu dan dengan hidup demikian ia mendatangkan kemuliaan serta puji-pujian bagi-Nya.

 

Dengan karunia takut akan Allah, orang dihantar pada KARUNIA KESALEHAN: “guna menghaturkan sembah sujud kepada Tuhan terutama sebagai Bapa kita dan berhubungan dengan semua orang sebagai anak-anak dari Bapa yang sama.” Di sini, orang menyatakan rasa hormat pada Tuhan sebagai Bapa yang penuh belas kasihan, serta menghormati sesama sebagai anak-anak Tuhan terutama karena memang begitu mereka adanya. Dengan demikian, karunia kesalehan menyempurnakan kebajikan akan keadilan, memampukan orang untuk memenuhi segala kewajibannya kepada Tuhan dan sesama; ia tidak hanya dimotivasi oleh keadilan yang harus ditegakkan, tetapi juga oleh hubungan cinta kasih yang dialaminya bersama sesama. Sebagai contoh, kita mentaati sepuluh perintah Allah bukan hanya karena perintah-perintah itu sendiri, melainkan karena kasih kita kepada Bapa Surgawi dan kasih kita kepada saudara serta saudari dalam Tuhan.

 

KARUNIA PENGENALAN adalah karunia yang memampukan orang “untuk menilai dengan benar dalam hal kebenaran iman sesuai dengan dasar dan prinsip-prinsip dari kebenaran yang telah dinyatakan.” Di bawah bimbingan Roh Kudus, akal budi manusia membuat penilaian yang benar atas barang-barang duniawi dan hubungan antara benda-benda tersebut dengan kehidupan kekal dan kesempurnaan Kristiani. Dengan demikian, karunia ini merupakan suatu pencerahan khusus, yang memampukan orang untuk menyadari kesia-siaan barang duniawi bagi diri mereka sendiri sehingga barang-barang tersebut tidak menjadi penghalang bagi persatuannya dengan Tuhan. Pada saat yang sama, karunia pengenalan memampukan orang untuk melihat melalui karya ciptaan, Tuhan yang menjadikan semuanya. Karenanya, daripada menganggap karya ciptaan sebagai penghalang persatuan dengan Tuhan, jiwa memandangnya sebagai sarana persatuan dengan Tuhan. Dengan demikian, orang melihat bagaimana memanfaatkan karya ciptaan dengan benar dan bahkan dengan cara yang kudus. Lagipula, karunia ini menimbulkan dalam diri orang rasa iman, sensus fidei, artinya orang memiliki insting ilahi tentang ya atau tidaknya sesuatu. Misalnya tentang suatu devosi, apakah sesuai dengan iman atau tidak, meskipun ia tidak pernah mengenyam pendidikan teologi secara formal. Karunia ini menimbulkan beberapa efek yang sungguh bermanfaat bagi pengudusan jiwa: introspeksi diri, memampukan orang melihat keadaan jiwanya; lepas dari kelekatan terhadap hal-hal materi; dan rasa sesal atas penyalahgunaan barang-barang materi atau apabila barang-barang tersebut telah menjadi penghalang hubungannya dengan Tuhan. St. Thomas mengajarkan bahwa karunia pengenalan menghantar orang pada kesempurnaan kebajikan akan iman, tetapi berhubungan juga dengan kesempurnaan kebajikan akan kebijaksanaan, keadilan dan penguasaan diri.

 

Dengan KARUNIA KEPERKASAAN, orang dapat “mengatasi persoalan-persoalan atau menanggung derita dan sengsara dengan kekuatan dan keperkasaan yang dianugerahkan Tuhan.” Sama seperti karunia-karunia yang lain, karunia keperkasaan bekerja atas dorongan Roh Kudus, dan memberikan kekuatan kepada orang untuk melawan yang jahat serta bertekun demi kehidupan kekal. Karunia ini menghantar keutamaan keperkasaan pada kesempurnaan, mengisinya dengan energi, ketekunan dan ketangkasan. Lagipula, karunia ini mendatangkan kepercayaan akan keberhasilan dalam kebajikan. Sebagai contoh, St. Maximilianus Kolbe tidak hanya memiliki keperkasaan yang mengagumkan dalam bersegera menawarkan nyawanya sebagai ganti nyawa orang lain dan menanggung kematian yang mengerikan, tetapi juga kepercayaan bahwa ia akan berhasil mengatasi kekuasaan si jahat dan memperoleh kehidupan kekal. Terakhir, karunia keperkasaan memampukan orang untuk mengamalkan kebajikan-kebajikan lain dengan gagah berani, untuk menderita dengan tabah dan penuh sukacita, untuk mengatasi segala suam-suam kuku dalam melayani Tuhan.

 

KARUNIA NASIHAT adalah karunia “untuk membangkitkan ketaatan dan pasrah diri orang pada nasihat Tuhan dalam segala tindakannya demi mencapai kekudusan dan keselamatan.” Terutama, karunia nasihat memampukan orang untuk menilai tindakan pribadi sebagai baik dan harus dilakukan, atau sebagai jahat dan harus dihindari. Nasihat dibuat sesuai pandangan pribadi akan kekudusan dan tujuan akhir rohaninya. Oleh karenanya, karunia ini mendorong orang untuk bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah tindakan ini menghantar pada kekudusan? Apakah tindakan ini menghantar ke neraka?”

 

Jelaslah, karunia nasihat berhubungan dengan kebajikan akan kebijaksanaan; namun demikian, jika kebajikan akan kebijaksanaan bekerja sesuai dengan akal budi dalam terang iman, karunia nasihat bekerja di bawah bimbingan Roh Kudus. Sebagai konsekuensinya, nasihat yang diberikan mungkin tidak akan dapat dijelaskan dengan akal sehat. Sebagai contoh, teladan St. Maximilianus Kolbe, suatu tindakan pengorbanan diri yang sedemikian itu bagi orang lain merupakan tindakan yang benar dilakukan, tetapi tidak sesuai dengan jalan pikiran akal sehat yang normal yang menggerakkan orang untuk mempertahankan diri dan bukannya mengorbankan diri.

 

Juga, karunia nasihat membantu orang menghadapi situasi genting. Sebagai contoh, melalui karunia nasihat, Roh Kudus membantu orang yang sedang menghadapi dilema akan perlunya menjaga rahasia dengan kewajiban mengatakan kebenaran. Karunia nasihat membantu kebajikan akan kebijaksanaan, dan mengarahkannya pada kesempurnaan. Karunia ini juga mendatangkan banyak manfaat: memelihara suara hati yang baik, menyediakan solusi dalam menghadapi situasi-situasi sulit dan tak terduga, serta membantu memberikan nasihat kepada orang-orang lain, terutama dalam hal kekudusan dan keselamatan pribadi.

 

KARUNIA PENGERTIAN adalah karunia “untuk memberikan pengertian dan pemahaman mendalam akan kebenaran ilahi dalam iman, bukan sebagai pencerahan sementara, melainkan sebagai intuisi tetap.” Dengan pencerahan akal budi terhadap kebenaran, Roh Kudus membantu orang untuk mengerti kebenaran iman dengan mudah dan mendalam, serta memahami kedalaman kebenaran-kebenaran tersebut. Karunia pengertian tidak hanya membantu dalam memahami kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakan, tetapi juga kebenaran-kebenaran alamiah sejauh mereka berhubungan dengan akhir hidup rohani. Kualitas terpenting dari karunia ini adalah “memahami intuisi” - dalam beberapa hal menjangkau yang tak nampak. Karunia ini, yang memberikan pemahaman akan kebenaran-kebenaran iman, bekerja dalam beberapa cara: menyingkapkan makna tersembunyi dalam Kitab Suci; mengungkapkan makna simbol-simbol dan bilangan (seperti St. Paulus memandang Kristus sebagai pemenuhan akan batu karang dalam kisah Keluaran yang memancarkan air untuk melegakan dahaga bangsa Israel (1Kor 10:4); menunjukkan tangan Tuhan yang berkarya dalam hidup manusia, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang paling misterius atau penuh persoalan hidup (misalnya penderitaan); dan mengungkapkan kebenaran rohani yang tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa (misalnya pemahaman akan misteri kurban Kristus dalam ritual Misa). Karunia ini menghantar kebajikan akan iman pada kesempurnaan. Karenanya, St. Thomas mengatakan, “Dalam hidup ini, apabila mata rohani dimurnikan oleh karunia pengertian, orang dapat dengan suatu cara tertentu melihat Tuhan” (Summa theologiae II-II, q. 69, a. 2, ad. 3).

 

Yang terakhir dari ketujuh karunia adalah KARUNIA KEBIJAKSANAAN yaitu “untuk menilai dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan norma-norma ilahi dan dengan kewajaran yang memancar dari persatuan kasihnya dengan Tuhan.” Roh Kudus membantu mengkontemplasikan perkara-perkara ilahi, memampukan orang untuk bertumbuh dalam persatuan mesra dengan Tuhan. Dengan karunia kebijaksanaan, bahkan suatu “jiwa yang tak berpendidikan” dapat memiliki pengetahuan ilahi yang sangat mendalam. Sebagai contoh, St. Theresia dari Liseux tidak memiliki pendidikan formal dalam teologi, namun demikian ia memiliki kebijaksanaan dalam mengenal jalan-jalan Tuhan; oleh karena alasan ini, ia digelari Pujangga Gereja.

 

Sementara karunia kebijaksanaan membantu mengkontemplasikan perkara-perkara ilahi, karunia ini juga mendukung praktek kebijaksanaan praktis. Karunia kebijaksanaan menerapkan ilham-ilham Tuhan untuk menilai baik perkara-perkara duniawi maupun ilahi. Karenanya, karunia ini mengarahkan tindakan-tindakan manusia agar sesuai dengan yang ilahi.

 

Karunia kebijaksanaan mendatangkan banyak manfaat: dengan karunia ini orang akan melihat serta mengevaluasi segala hal - baik sukacita ataupun dukacita, kegembiraan ataupun penderitaan, keberhasilan ataupun kegagalan - dari sudut pandang Tuhan, serta menerima semuanya dengan ketabahan. Dengan kebijaksanaan, segala hal, bahkan yang terburuk sekalipun, dipandang sebagai memiliki nilai rohani. Misalnya, karunia kebijaksanaan memberikan penghargaan kepada kemartiran. Di sini, orang diangkat melampaui kebijaksanaan dunia ini, dan tinggal dalam kasih Allah. Sebab itu, karunia kebijaksanaan mendatangkan kesempurnaan cinta kasih.

 

Karunia-karunia Roh Kudus tak diragukan lagi merupakan karunia-karunia yang teramat penting bagi kekudusan dan keselamatan kita. Setiap umat Kristiani yang dibaptis dan dikuatkan dalam Krisma sepatutnya memohon dengan sangat kepada Roh Kudus untuk mengobarkan karunia-karunia ini dalam jiwanya. Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Dengan karunia-karunia dan kualitas seperti ini, kita siap sedia menghadapi segala macam tugas dan cakap mengatasi segala macam kesulitan.”

 

Doa Mohon Ketujuh Karunia Roh Kudus

 

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.

 

sumber : “Straight Answers: Gifts of the Holy Spirit” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

June 25, 2008

Dalam Bimbingan Roh Kudus

oleh: P. Victor Hoagland, C.P.
berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 2568-2589
Pentakosta

Tuhan memberikan kepada semua orang karunia doa. Tentu saja, kita harus menerima karunia ini serta mempergunakannya dengan setia. Juga kita harus senantiasa belajar berdoa.

 

Bagaimana kita dapat senantiasa belajar berdoa? Melalui Roh Kudus.

 

Roh Kudus: Pengajar Doa

 

Roh Kudus adalah pengajar doa yang hebat. Pada hari Pentakosta, menurut Kisah Para Rasul, Roh Kudus mengumpulkan para pengikut Yesus yang pertama dalam suatu persekutuan doa. Roh Kudus mengajar mereka untuk senantiasa ingat akan Yesus, mengingat kembali Kitab-Kitab Yahudi, memecahkan roti Ekaristi, mengenali ciptaan baru dalam pembaptisan. “Roh membantu kita dalam kelemahan kita,” demikian kata St. Paulus, “sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa…” (Roma 8:26).

 

Sekarang Roh Kudus melaksanakan perannya itu di dalam diri kita juga. Roh Kudus adalah “Guru Besar doa Kristiani”, pembimbing serta pelatih kita. Kita belajar berdoa dari ilham Roh Kudus.

 

Berdoa lewat Perjanjian Lama: para Tokoh dan para Nabi

 

Salah satu cara Roh Kudus mengajar kita berdoa adalah melalui Perjanjian Lama yang, bersama dengan Perjanjian Baru, merupakan buku doa Roh Kudus. Para tokoh serta para nabi, sejarah bangsa Israel, doa-doa mashyur yang kita sebut Mazmur, mengajar kita berdoa. Yesus Sendiri belajar berdoa lewat Kita-kitab Yahudi dan doa-Nya sendiri mencerminkan tradisi mereka.

 

Mari kita lihat para tokoh Perjanjian Lama, tokoh-tokoh besar seperti Habel dan Nuh, yang diilhami oleh Roh Kudus. Bagaimana mereka berdoa? Hidup menyatu dengan alam serta dengan makhluk-makhluk hidup di dalamnya, mereka melihat karunia Tuhan dalam kawanan ternak mereka, hasil panen di ladang mereka, langit yang mengirimkan hujan. Bagi mereka, alam semesta ciptaan Tuhan adalah karunia, yang tidak hanya untuk dimanfaatkan, tetapi juga untuk dikagumi keindahannya. Dengan menghargai karya ciptaan, mereka belajar mengenal Tuhan serta memuji Sang Pencipta.

 

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/Symb075c00b7011833009900.gifMenghargai Ciptaan Tuhan

 

Bukankah Nuh menghargai ciptaan Tuhan ketika ia membangun bahteranya? Ia membangun bahtera bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan makhluk-makhluk hidup lainnya yang terancam punah karena air bah. Doa Nuh serupa dengan doa-doa para tokoh lainnya; ia sangat menghargai karya ciptaan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama kita masih dapat mendengar gema doa penyembahan mereka yang bersumber pada puji-pujian karya ciptaan: “Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, segala bintang di langit, api dan panas terik, unggas di udara, segala binatang buas dan ternak di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.” (Daniel 3, 57)

 

Memanglah benar bahwa kita dapat mengenal Pencipta dari apa yang Ia ciptakan. Jika kita mengamati karya ciptaan Tuhan, dan memeliharanya dengan baik, serta mengagumi keindahannya, kita terdorong untuk berdoa dengan baik. Karya ciptaan Tuhan, begitu beraneka-ragam, begitu memikat dengan warna-warni kemolekannya yang mempesona, akan mengangkat hatimu kepada Sumber segala keindahan.  

 

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/Symb075c00b7011833009900.gifMenyambut Gembira Kehadiran Tuhan Hari demi Hari

 

Melalui Abraham, Roh Kudus mengajarkan kepada kita cara lain untuk berdoa. Tuhan meminta Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke suatu tempat yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Hidupnya adalah suatu perjalanan panjang dari hari ke hari. Di segala tempat di mana ia singgah, Abraham membangun altar untuk Tuhan, sebagai pengingat bahwa Tuhan menyertai perjalanannya ke tempat yang belum diketahuinya. Dari hari ke hari ia berdoa dan menyambut gembira apa yang diberikan Tuhan.

 

Suatu hari, demikian menurut Kitab Suci, Abraham menyambut tiga tamu asing yang datang pada waktu hari panas terik ke kemahnya (Kej 18, 1-16). Dengan menyambut mereka, ia menyambut Tuhan, demikian dikisahkan, dan menerima berkat. Bukankah Roh Kudus mengajarkan kepada kita melalui teladan Abraham bahwa kita harus senantiasa menyambut gembira kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita hari demi hari dengan doa, meskipun kehadiran-Nya tidak selalu nampak jelas?

 

Doa harian umat beriman kepada Tuhan senantiasa dianjurkan dalam Perjanjian Lama. Dengarlah ayat-ayat mazmur berikut ini:

 

“Setiap hari aku hendak memuji Engkau,

dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” (Mzm 145)

 

“Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku;

Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” (Mzm 138)

 

http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/Symb075c00b7011833009900.gifBergulat dengan Tuhan, Berdoa bagi Orang Lain, Berdoa bagi Sesama

 

Tokoh-tokoh Kitab Suci lainnya memberikan pelajaran-pelajaran lain dalam berdoa. Yakub bergulat dalam gelap dengan seorang asing yang misterius. Doa kita kadang-kadang merupakan suatu pergulatan dengan Tuhan sementara kita bimbang dan ragu (Kej 32, 22-32).

 

Doa Musa adalah doa perantara. Musa mendaki gunung dan memohon kepada Tuhan bagi umatnya yang menyimpang, yang lapar dan yang patah semangat. Dan Tuhan mendengarkan doa-doanya. Sama seperti Musa, kita harus berdoa dalam semangat kesetiakawanan dengan mereka yang ada di sekitar kita.

 

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN…

Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus;

dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.”

(Kel 15: 11,13)

 

Raja Daud, yang doa-doanya yang termashyur dicatat dalam Kitab Mazmur, memuji serta memohon dengan khusuk kepada Tuhan yang dilihatnya hadir dalam kenisah, dalam Kota Suci, dalam kesejahteraan bangsanya. Sama seperti Daud, kita berdoa kepada Tuhan, yang telah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, dan yang kehadiran-Nya kita rayakan dengan sukacita dalam Gereja-Nya dan dalam masyarakat.

 

"Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN,

dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.

Aku membaringkan diri, lalu tidur;

aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mzm 3: 4-5)

 

Resapkanlah doa-doa kesaksian yang sungguh luar biasa itu dan camkanlah apa yang mereka ajarkan. Roh Kudus mengajar kita berdoa melalui mereka. Dengan hidup menurut teladan mereka, kehidupan doa kita sendiri akan tumbuh serta bertambah kuat.

 

sumber : "Taught by the Holy Spirit" by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer

 

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”

 


Pentakosta: Turunnya Roh Kudus ke Atas Gereja

oleh: P. Yosef Bukubala, SVD



Hari Raya Pentakosta mengingatkan kita akan turunnya Roh Kudus yang dijanjikan Yesus atas Gereja yang masih muda, yaitu atas para murid bersama Bunda Maria, yang dengan tekun, sehati dalam doa bersama menantikan kedatangan-Nya, sesudah la naik ke surga.

 

Ketika tiba hari Pentakosta itu, turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

 

Apa arti perayaan Pentakosta bagi kehidupan kita yang merayakannya? Bagi kita, turunnya Roh Kudus dan kadar daya kuasa-Nya bagi hidup kita dalam Gereja, bergantung dari persatuan kita dengan Yesus Kristus dalam doa, Ekaristi dan karya nyata. Karena itu kita harus sungguh-sungguh hidup dari kuasa karya Roh Kudus, di mana Kristus dalam RohNya itu meraja di dalam hidup kita dan kita hidup dalam sikap taat dan setia kepada-Nya. Maka, di sanalah akan terjadi

perubahan dan pembaharuan dalam hidup bersama sebagai suatu persekutuan umat Allah dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Roh Kudus pula memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, yaitu mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita hidup dan melaksanakan kehendak Bapa di surga.

 

Dalam hubungan dengan peranan Roh Kudus dalam Gereja, perlu dijelaskan beberapa istilah yang dewasa ini sering disalah-artikan:

 

KHARISMA. Kharisma sebenarnya berarti: karunia / anugerah Roh Kudus. Tetapi tidak semua rahmat Roh Kudus disebut kharisma. Kharisma merupakan suatu rahmat istimewa yang menonjol pada diri seorang yang memilikinya. Kharisma bukan pameran rahmat, melainkan diberikan oleh Tuhan demi pembangunan / pengembangan Gereja, (bdk. 1 Kor 12:7). Singkatnya, kharisma diberikan sebagai anugerah khusus untuk menjalankan suatu tugas dengan baik di dalam Gereja / jemaat.

 

Dengan demikian kharisma adalah anugerah iman yang bersifat amat pribadi. Karena itu, tidak bisa semua orang beramai-ramai dan berambisi untuk memperolehnya. Suatu pemberian khusus dari Tuhan bersifat bebas tanpa jasa dari pihak manusia. Tuhan tidak dapat dipaksa untuk memberikan anugerah itu. Anugerah diberikan oleh Tuhan kepada seseorang seturut kehendak-Nya yang bebas. Segala kharisma diberikan Tuhan demi pembangunan jemaat / umat, dalam ketaatan penuh pada pimpinan Gereja. Pembangunan jemaat tidak hanya dengan doa dan nyanyian saja, tetapi juga harus dengan karya nyata: cintakasih, amal dan karya pelayanan.

 

Kalau tidak demikian, maka bukan kharisma yang sungguh-sungguh melainkan bentuk-bentuk egoisme intern. Jadi, kharisma itu diberikan Tuhan untuk menolong orang lain atau sesama, bukan untuk kepentingan dan kehormatan pribadi. Santo Paulus menyebut beberapa kharisma, antara lain: karunia melayani, mengajar, memberi nasehat, membagikan derma, bahasa roh, penyembuhan.

 

BAHASA ROH. Bahasa Roh berarti berbicara dengan bahasa roh, artinya berbicara langsung di bawah pengaruh roh. Dalam pembicaraan itu seringkali tidak mempergunakan kata-kata yang biasa yang dimengerti orang lain. Orang itu tidak mau mengatakan sesuatu kepada orang lain, tetapi dengan suaranya ia memperlihatkan / memperdengarkan bahwa roh itu ada di dalamnya. Bahasa roh merupakan salah satu kharisma yang diberikan kepada orang-orang tertentu untuk menolong orang lain. Anugerah bahasa Roh pasti akan mendorong orang untuk menyatakan imannya dalam kesatuan dan kerukunan dengan orang beriman lainnya dalam Gereja dan dengan ketaatan penuh pada pimpinan Gereja / hierarki. Kalau tidak demikian, berarti suatu praktek penyimpangan dalam Gereja, atau pun praktek melarikan diri dari realitas kehidupan Gereja / Jemaat.

 

Santo Paulus pun bersyukur bahwa ia memperoleh anugerah bahasa Roh, tetapi ia tidak suka menggunakannya karena tidak bermanfaat bagi orang lain. Mengapa? Karena orang lain tidak mengerti. “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:18-19).

 

PEMBEDAAN ROH. Pembedaan roh berarti menguji karya roh dalam hati sendiri; bukannya suatu bentuk ketaatan kepada roh saja, tetapi hendaknya juga suatu bentuk dalam dalam rangka melibatkan diri dalam pembangunan Gereja. Dewasa ini kita mendengar istilah “prioritas”, karena ada banyak hal yang harus dilakukan. Maka orang harus memilih mana yang lebih penting, mana yang lebih berguna dan terutama mana yang lebih sesuai dengan kehendak Allah. Praktek membedakan roh itu sudah biasa dilaksanakan orang sejak dari dulu, hanya baru sekarang istilah “membedakan roh” semakin populer digunakan.

 

PENCURAHAN ROH. Pencurahan roh berarti segala doa permohonan disampaikan kepada Allah agar berkat rahmat Sakramen Pembaptisan dan Krisma, hidup kita semakin digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus. Hal seperti itu sudah biasa dilaksanakan oleh orang yang sungguh-sungguh beriman. Hanya “Pencurahan Roh” itu sama seperti “membedakan roh” yang dewasa ini lebih populer tapi isinya tetap sama.

 

Namun harus dibedakan dengan baik antara “Pencurahan Roh” dengan Sakramen Pembaptisan dan Krisma, sebab dalam kedua sakramen itu Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita. Penggunaan istilah di atas dapat mengaburkan makna / arti Sakramen Pembaptisan dan Krisma.

 

Konsili Vatikan II mengajak kita agar senantiasa terbuka terhadap Roh Kudus dan segala karunia-Nya. Ciri-ciri orang yang mendapat karunia istimewa adalah orang yang rendah hati dan terbuka terhadap semua orang. Orang yang mempunyai karunia istimewa itu senantiasa mau melayani Gereja / jemaat dengan penuh kasih tanpa pamrih, taat pada hierarki dan memelihara kesatuan dan kerukunan dengan semua umat beriman dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.