Showing posts with label paskah. Show all posts
Showing posts with label paskah. Show all posts

March 26, 2012

“The Passion of the Christ” dalam Terang Passio

disadur dari: http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id371.htm



PENGANTAR


Aku merasa beruntung dapat menyaksikan film “The Passion of the Christ” dengan dipandu oleh Romo Gabriel Antonelli, CP dalam Retret Sengsara Yesus yang diadakan pada tanggal 20 - 22 Maret 2004 di Biara Passionis, Bandulan - Malang. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagiku pribadi. Penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh Rm Gabriel sebelum, selama maupun sesudah pemutaran film, sungguh membantuku dalam menikmati dan berusaha menangkap pesan yang hendak disampaikan lewat film karya Mel Gibson ini. Dengan segala kekurangan yang ada, aku berusaha membagikan pengalaman berharga tersebut, dengan harapan sebanyak mungkin orang dapat pula menikmati “The Passion of the Christ” dalam terang yang benar dan dengan demikian dibangkitkan serta dikobarkan dalam semangat cinta kepada Dia yang begitu mengasihi kita.




PASSIO YESUS


Sebelum pemutaran film, Romo Italia ini membekali kami dengan beberapa hal yang perlu kami ketahui sehubungan dengan Passio Yesus. Menurut beliau, 'Passio' (bhs Latin) diterjemahkan secara kurang tepat ke dalam bahasa Indonesia sebagai 'sengsara'. Padahal, sesungguhnya Passio mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar sengsara atau penderitaan.


Passio mengandung arti:
cinta yang sangat kuat, (yang mendorong orang untuk rela berkorban / menderita)
keinginan dan semangat yang amat besar
hasrat yang berkobar-kobar


Yesus merasakan passio ini bagi manusia. Passio ini yang menghantar-Nya untuk menderita hingga wafat disalib, passio ini yang menguasai seluruh hidup-Nya, sesungguhnya seluruh  Injil merupakan Pasio Yesus bagi manusia. Dalam terang Passio inilah, Rm Gabriel mengajak kami menyaksikan “The Passion of the Christ”.




TAMAN GETSEMANI


Adegan film di mulai di Taman Getsemani. Yesus, yang mengetahui bahwa saatnya sudah tiba, sesudah Perjamuan Malam terakhir, mengasingkan diri ke Taman Getsemani. Di sana, Ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada BapaNya di surga. Rm Gabriel mengajak kami untuk mengingat suatu taman yang lain, Taman Eden, di mana Adam dan Hawa tinggal berbahagia, hingga iblis yang menyamar sebagai ular membujuk mereka untuk makan buah dari POHON terlarang. Karena bujukan iblis, leluhur kita yang pertama itu melanggar perintah Tuhan dan dengan demikian jatuh ke dalam dosa. Dosa mengakibatkan 'rusaknya' hubungan Allah dengan manusia, sehingga pintu gerbang kerajaan surga tertutup untuk selamanya bagi manusia.


Sejak jatuhnya Adam ke dalam dosa, hidup manusia senantiasa dikuasai dosa. Yesus datang untuk menebus dosa manusia; Yesus datang untuk menjadi korban silih dosa. Dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus akan memulihkan kembali hubungan Allah dengan manusia. Melalui POHON Salib-Nya, pintu gerbang kerajaan surga akan dibuka kembali bagi manusia.


Iblis, musuh besar Allah, berusaha mati-matian agar hal itu tidak terjadi. Selanjutnya Rm Gabriel mengajak kami untuk mengingat kembali peristiwa sebelum Yesus menampilkan diri di hadapan orang banyak, di mana Ia mengasingkan diri di padang gurun dan dicobai iblis. Sesudah segala bujuk rayunya yang gagal, “Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4;13). Malam itu, di Taman Getsemani adalah waktu yang tepat, waktu yang telah lama dinanti-nantikan si iblis. Sama seperti ia mencobai manusia pertama hingga jatuh ke dalam dosa karena ketidaktaatan, demikian pula sekarang ia mencobai Yesus agar jatuh kedalam dosa yang sama.


Lewat Injil, dan dengan bagus digambarkan dalam film, kita mengetahui betapa Yesus sesungguhnya amat ngeri dan gentar menyongsong salib-Nya. Namun demikian, jika Adam jatuh ke dalam bujukan si iblis, sebaliknya Yesus justru menyatakan ketaatan-Nya kepada Bapa. “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39). Dengan Fiat-Nya itu, Yesus mengalahkan iblis. Lihat, Yesus meremukkan kepala si ular! “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15) Sebab itu, pantaslah jika Gereja menggelari Yesus sebagai Adam Baru. Adam pertama mendatangkan dosa, Adam Baru menebus dosa.




YUDAS


Yudas adalah salah seorang murid yang paling dikasihi Yesus, salah seorang dari dua belas rasul pilihan-Nya, yang tinggal bersama-Nya, yang menyertai kemana pun Ia pergi, yang kepada-Nya Yesus mengungkapkan rahasia-rahasia pengajaran yang tersembunyi bagi para murid yang lain. Iblis berhasil menanamkan rancangan keji di benak Yudas untuk mengkhianati Yesus. Dan Yudas, dengan kehendak bebasnya, memilih untuk menawarkan diri menjual Guru Ilahi-nya dengan harga tiga puluh keping perak, harga yang dibayarkan orang Israel pada waktu itu untuk membeli seorang hamba. Dan dengan ciuman, ia menyerahkan Yesus kepada orang-orang yang menghendaki nyawa-Nya.


Sesudah Yesus ditangkap oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, Yudas menyaksikan betapa Gurunya yang lemah lembut itu diperlakukan dengan kasar dan brutal. Timbullah rasa sesal dalam hati Yudas. Ia berupaya memperbaiki kesalahannya dengan berusaha membeli Gurunya kembali; suatu usaha yang sia-sia. Yudas pun dihantui perasaan bersalah, hati nuraninya, yang digambarkan sebagai anak-anak kecil dalam film, mengejar dan menuduhnya terus-menerus kemana pun ia pergi; bahkan setan ikut pula mengejeknya. Tak tahan dengan itu semua, Yudas memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya dengan mencabut nyawanya.




BUNDA MARIA


Sejak menyatakan Fiat-nya, Bunda Maria perlahan-lahan menyadari apa yang akan terjadi atas dirinya dan atas diri Putranya, yaitu bahwa Putranya harus melaksanakan kehendak BapaNya menyerahkan diri hingga wafat sebagai korban silih dosa bagi keselamatan umat manusia. Bunda Maria belum sepenuhnya paham akan rencana keselamatan Allah, tetapi ketika Yesus ditangkap di Taman Getzemani, nalurinya menyatakan bahwa saatnya sudah tiba. Maka Bunda Maria pun mengatakan, “Saatnya sudah tiba, ya Allah.” Kemudian, bukannya berdoa mohon belas kasihan Allah agar salib itu dijauhkan dari dirinya dan dari Putranya, Bunda Maria malahan menegaskan kembali Fiat-nya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”


Salib adalah bentuk hukuman mati yang paling keji, dan hanya diperuntukkan bagi penjahat-penjahat yang melakukan tindak kriminal yang paling berat dan serius. Si terhukum dianggap orang hina dan terbuang. Orangtua dan keluarga si terhukum pada umumnya tidak mau menyertai si terhukum dalam jalan salibnya, karena malu akan hinaan dan cemoohan orang banyak yang mau tak mau harus mereka terima juga. Bunda Maria bukannya menghindar, malahan ia minta agar dibawa lebih dekat dalam menyertai Putranya terkasih dalam jalan salib-Nya. “Bawalah aku dekat pada-Nya,” pintanya.


Bagi seorang ibu yang paling lemah lembut dari segala ibu, tentulah hatinya serasa disayat sembilu melihat bagaimana Putranya diperlakukan. Sebagai seorang ibu yang normal, harusnya Bunda Maria pingsan menyaksikan Putranya didera, menyaksikan tubuh Putranya terkasih dihancur-remukkan dengan kejam dan brutal, menyaksikan Putra-Nya yang sudah tidak seperti manusia lagi. Nyatanya, Bunda Maria tetap tegar menghadapi itu semua didorong oleh cinta yang teramat besar kepada Putranya dan kepada manusia serta penyerahan diri yang total kepada Allah-nya. Sepanjang film kita dapat menyaksikan bagaimana Bunda Maria menyertai Putranya; anggukan kecil, tatapan mata, kehadirannya walaupun tanpa kata, merupakan penghiburan dan peneguhan bagi Yesus untuk tetap bertahan hingga kesudahannya. Adegan cinta kasih Ibu dan Putranya yang paling menyentuh adalah ketika Yesus jatuh saat memanggul salib dan Bunda Maria segera berlari mendapatkan-Nya, “Ibu di sini, ibu di sini.” Kata-kata sederhana itu sungguh mengungkapkan banyak makna. Sementara Yesus Sendiri, di tengah sengsara-Nya, menghibur Sang Bunda yang dirundung duka dengan penuh cinta, "Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu baru."  


Setiap deraan, setiap pukulan dan tamparan, setiap kesakitan yang diderita Putranya, semuanya itu mengenai dan diderita juga oleh Bunda Maria secara batin seolah-olah nyata adanya. Sungguh mengharukan menyaksikan adegan di mana Bunda Maria, yang tak berdaya dan tak kuasa melindungi Putranya dari deraan cambuk yang keji, sesudah penderaan berakhir segera bersimpuh di lantai, di mana cabikan-cabikan daging Putranya tercecer dan darah Putranya menggenangi lantai; dan dengan mesra diselamatkannya semua itu dari nista.


Lihat juga, bagaimana tangan-tangan Bunda Maria dengan tegang menggenggam pasir untuk meredam segala gejolak jiwanya saat paku-paku runcing dipalukan menembusi tangan dan kaki Putranya. Cinta kasih Bunda Maria terhadap Putranya tidak berakhir di kayu salib. Saat salib dipancangkan dan ditegakkan dengan Putranya terkasih bergantung di atasnya, Bunda Maria menyatakan cinta kasihnya yang tulus mesra, cinta kasihnya yang tak terbatas, dengan mencium ujung kaki Putranya. Tak peduli apa kata orang, Yesus tetap senantiasa jantung hatinya. “Daging dari dagingku. Hati dari hatiku,”katanya.


Saat yang menusuk hati adalah ketika Maria memangku jenasah Putranya. Pikiranku tiba-tiba beralih ke peristiwa Natal, Allah yang menjadi manusia, yang lahir ke dunia dalam rupa bayi mungil, dibuai mesra dalam pelukan sang Bunda. Sekarang, di akhir hidup-Nya, tubuh yang sama, yang telah dihancurbinasakan karena dosa-dosa manusia, dikembalikan ke dalam pelukan bunda-Nya dalam keadaan tidak bernyawa. Betapa hati Bunda Maria pedih perih serasa disayat sembilu. Bunda Maria mengarahkan pandangannya kepada kita, seolah hendak berkata, “Ini yang engkau perbuat terhadap Putraku.” Namun demikian, tidak terpancar kemarahan, kekecewaan atau pun dendam di wajahnya, yang ada hanyalah wajah yang diliputi dukacita mendalam dan penyerahan diri total kepada Allah-nya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”




SIMON dari KIRENE


Kita tidak pernah tahu orang bagaimanakah sesungguhnya Simon dari Kirene ini. Yang kita tahu hanyalah bahwa ia dipaksa untuk membantu memikul salib Yesus dalam jalan salib-Nya. Digambarkan bagaimana Simon berusaha menolak perintah ini. Penolakannya dapat dimengerti; tidak ada orang yang mau berurusan dengan orang yang dieksekusi, bahkan orangtua ataupun kerabat si terhukum sendiri pun tidak. Di hadapan orang banyak dengan tegas Simon mengatakan, “Baik, aku membantu memanggul salib, tapi ingat bahwa aku tidak ada urusan dengan orang ini.”    


Berjalan bersama Yesus di jalan salib-Nya kiranya mengubah hati Simon yang keras menjadi seperti hati-Nya yang lembut dan rela menolong sesama dengan tulus hati. Sungguh indah menyaksikan bagaimana Yesus dan Simon, pada akhirnya, dengan tangan saling bertautan bahu-membahu memikul salib yang berat bersama.




IBLIS


Iblis terus membayangi sejak awal sengsara hingga wafat Kristus. Iblis berusaha membujuk Yesus di Taman Getsemani, iblis mengobarkan rasa iri, benci dan keinginan untuk membinasakan Yesus dalam diri imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi, iblis menghasut orang banyak dalam memutarbalikkan kebenaran dan menjatuhkan hukuman mati keji atas Yesus, iblis membuat para serdadu kesetanan hingga menyiksa dan menganiaya Yesus dengan keji dan brutal.


Sungguh ironis bahwa pada akhirnya, senjata yang ia gunakan untuk memusuhi dan membinasakan Yesus, justru merupakan bumerang bagi kebinasaannya sendiri. Iblis dikalahkan dan kekuasaannya digunduli.   




MISTERI SENGSARA YESUS


Sengsara Yesus tidak terbatas pada 12 jam terakhir hidup-Nya dan tidak terbatas pada aspek fisik saja. Ada empat tingkat sengsara / penderitaan yang perlu kita ketahui serta mengerti agar dapat memahami misteri sengsara dengan tepat. Itulah sebabnya mengapa Rm Gabriel menyebutnya Misteri Sengsara Yesus.


1. Sengsara Fisik
2. Sengsara Rohani / Spiritual
3. Sengsara Sakramental
4. Sengsara Aktual


1. Sengsara Fisik


Sengsara ini mudah dilihat dan dipahami. Banyak orang mengatakan bahwa film “The Passion of the Christ” terlalu mengeksploitasi kekejaman dan kebrutalan secara berlebihan. Mengenai hal ini, Rm Gabriel - yang memang ahli dalam hal Kain Kafan Turin - mengatakan bahwa sesuai dengan penyelidikan yang dilakukan terhadap kain kafan, memang begitulah yang sesungguhnya terjadi pada waktu itu. “Film yang apa adanya,” begitu komentar Bapa Suci. Selanjutnya Rm Gabriel mengingatkan kita untuk tidak sekedar memandang sengsara Yesus dari segi pietiesme belaka, melainkan kenyataan bahwa Yesus dengan sukarela menanggung sengsara demi passio-Nya terhadap manusia.


“Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.” (Yoh 10:17)


2. Sengsara Rohani / Spiritual


Inilah sengsara yang paling berat bagi Yesus. Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Sebagai manusia, Yesus juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dimiliki manusia. Yesus ngeri dan takut; Yesus mengalami tekanan serta guncangan jiwa yang hebat saat di Getsemani. Yesus merasa pilu dikhianati oleh salah seorang murid yang paling dikasihi-Nya, disangkal oleh murid yang lainnya, serta ditinggalkan seorang diri oleh para pengikut-Nya. Yesus merasakan kesedihan mendalam saat difitnah dan ajaran-ajaran-Nya diputarbalikkan serta dijadikan bahan olok-olok, saat dihinakan dan diludahi, saat dihujat, saat ditolak oleh orang-orang yang kepadanya Ia mencurahkan segala kasih sayang-Nya. Bagaimana perasaan Yesus saat Ia yang adalah raja segala raja, diejek sebagai raja cacing? Bagaimana perasaan Yesus saat Ia bahkan dianggap lebih rendah dan hina dari Barabas, penjahat paling mengerikan di negeri itu, dijatuhi hukuman mati dengan keji dan hina sebagai penyamun. Dalam film kita melihat air mata duka-Nya mengalir jatuh; bukan hendak digambarkan Yesus yang cengeng ataupun sentimentil, melainkan manusia Yesus yang menanggung sengsara batin yang luar biasa.


Terlebih dahsyat lagi sengsara-Nya di atas kayu salib, di mana Ia merasa ditinggalkan oleh Bapa, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mat 27:46). Namun demikian, Yesus tetap setia dan taat pada Bapa hingga kesudahannya.            


3. Sengsara Sakramental


Digambarkan dengan jelas dalam film bagaimana Kurban Tak Berdarah dalam Ekaristi sama dengan Kurban Berdarah di Kalvari.


“Dalam perjamuan malam terakhir, 'pada malam waktu Ia diserahkan' (1Kor 11:23), Ia meninggalkan bagi mempelai kekasih-Nya, Gereja, satu kurban yang kelihatan (seperti yang dibutuhkan kodrat manusia), yang olehnya, [kurban] berdarah itu, yang dibawakan di salib satu kali untuk selama-lamanya, dikenang sampai akhir zaman dan kekuatannya yang menyelamatkan dipergunakan untuk pengampunan dosa, yang kita lakukan setiap hari.” (Konsili Trente: DS 1740)


Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus menjadi kurban, Yesus menjadi makanan dan minuman bagi siapa saja. Yesus tidak pernah menolak untuk disantap siapa saja: orang yang rindu, orang yang suam-suam kuku atau pun orang yang dingin; orang sehat atau pun sakit. Yesus selalu dalam keadaan sebagai makanan.


“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:51)


Di atas salib, ketika seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, segera mengalirlah keluar darah dan air yang diyakini Gereja sebagai lambang sakramen-sakramen Gereja.


4. Sengsara Aktual


Sengsara Yesus berlangsung hingga akhir jaman:
dalam Gereja-Nya yang dikejar-kejar
dalam mereka yang sakit
dalam mereka yang menderita
dalam mereka yang mengalami ketidakadilan


“Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25:45)




KEBANGKITAN KRISTUS


Satu-satunya peristiwa yang menggembirakan dalam film ini adalah kebangkitan Kristus. Sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus adalah satu dan tak terpisahkan.“Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15:14)




KESIMPULAN


Bagaimana pun baiknya film “The Passion of the Christ,” Rm Gabriel berpendapat bahwa film ini tidak dapat dijadikan bahan pelajaran agama karena beberapa 'kejanggalan' di dalamnya, antara lain:


1. Tokoh Veronika sesungguhnya merupakan tokoh fiksi. Pada saat eksekusi berlangsung, tak seorang pun diperkenankan berada dekat si terhukum. Jadi, tidaklah mungkin ada seorang perempuan yang berhasil menerobos penjagaan para prajurit dan, terlebih lagi, menyeka wajah Yesus dengan saputangannya. Menurut tradisi nama perempuan itu ialah “Veronica”. Nama tersebut sesungguhnya berasal dari kata Latin 'vera', yang artinya 'benar' dan kata Yunani 'eikon', yang artinya 'gambar', menunjuk pada gambar Yesus yang tertera di Kain Kafan (Turin).


2. Sesuai penyelidikan dan ilmu kedokteran, Yesus dipaku pada pergelangan tangan-Nya, bukan pada telapak tangan-Nya.


3. Keseluruhan salib beratnya lebih dari 100 kg. Yesus memanggul 'hanya' bagian patibulum yang beratnya sekitar 50 kg.


4. Mahkota duri tidak lagi dikenakan Yesus sepanjang jalan salib dan penyaliban.


5. Peran Klaudia, isteri Pontius Pilatus dianggap berlebihan.


6. Maria Magdalena, menurut Rm Gabriel, bukan perempuan yang kedapatan berzinah dan hendak dijatuhi hukuman rajam. (pendapat lain lihat “Maria Magdalena” oleh Rm William P. Saunders)


Info tambahan lihat: “Passio Yesus Kristus” oleh Rm William P. Saunders
“Salib: Hukuman Mati yang Ngeri dan Keji” oleh Rm Kamilus Ndona Sopi, CP




PENUTUP


“The Passion of the Christ” membantu kita membuka mata hati akan Passio Yesus yang begitu dahsyat terhadap manusia. Passio Yesus, yang memberikan Diri-Nya sehabis-habisnya, dengan wafat di kayu salib demi keselamatan manusia. Mengenai passio-Nya, Yesus Sendiri menegaskan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13)


Mengalami cinta-Nya, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mzm 116:12). Dan ketika sedang asyik merenungkan hal ini, terlintas di benak kata-kata manis dari santa kesayanganku:


“Cinta hanya dapat dibalas dengan cinta.”
~ St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus




Surabaya, 18 April 2004
Hari Raya Kerahiman Ilahi

February 26, 2012

Passio Yesus Kristus

 oleh: P. William P. Saunders *
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Passio” Yesus Kristus?
~ seorang pembaca di Arlington




Passio berasal dari bahasa Latin “patior” yang artinya “sengsara”. Passio Yesus Kristus menunjuk pada sengsara yang diderita Kristus demi menebus umat manusia, berawal dari sakrat maut di Taman Getsemani hingga wafat-Nya di Kalvari. Kisah-kisah Sengsara dalam Injil menceritakan detail sengsara Kristus, dan setidaknya sampai batas tertentu, kisah-kisah tersebut sesuai dengan tulisan para ahli sejarah Romawi masa itu - Tacitus, Seutonius dan Pliny Muda. Penemuan-penemuan arkeologi yang dipadukan dengan penelitian-penelitian menggunakan ilmu kedokteran modern menghasilkan gambaran yang akurat akan apa yang diderita Kristus. Dalam abad di mana salib biasa digambarkan dengan Yesus “yang telah bangkit” dan “sengsara” serta “korban” telah menjadi istilah-istilah yang tidak disukai, hendaknya kita tidak kehilangan pandangan akan kenyataan passio.


Setelah Perjamuan Terakhir, Yesus pergi ke Taman Getsemani di Bukit Zaitun. Kristus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Luk 22:42). Yesus sadar sepenuhnya akan penderitaan yang Ia hadapi. Ia berdoa demikian khusuk hingga“peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Luk 22:44). Ilmu kedokteran membuktikan bahwa orang dapat mengeluarkan keringat darah jika ia berada dalam keadaan emosional yang sangat tinggi (suatu kondisi yang disebut hematidrosis atau hemohidrosis), yang mengakibatkan pendarahan lewat kelenjar-kelenjar keringat. Tak heran jika Bapa mengutus seorang malaikat untuk menguatkan-Nya (Luk 22:43).


Kristus kemudian ditangkap dan diadili di hadapan Mahkamah Agama yang dipimpin oleh Imam Besar Kayafas. Menjawab pertanyaan mereka, Yesus memaklumkan, “Kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” (Mat 26:64). Karena pernyataan-Nya itu, Ia dijatuhi hukuman mati karena menghujat Allah, dan kemudian wajah-Nya diludahi, ditampar dan diolok-olok. Mahkamah Agama dapat menjatuhkan hukuman mati kepada Kristus, namun demikian mereka tidak memiliki wewenang untuk melaksanakannya; hanya Pontius Pilatus, Gubernur Romawi, yang berwenang untuk memerintahkan pelaksanaan hukuman mati.


Sebab itu, pemimpin-pemimpin Yahudi membawa Yesus kepada Pilatus. Perhatikan bagaimana dakwaan sekonyong-konyong berubah; para pemimpin Yahudi mengatakan kepada Pilatus, “Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja.” (Luk 23:2). Bagaimana dengan dakwaan menghujat Allah? Pilatus tidak peduli apakah Yesus ingin menjadi seorang mesias, nabi, ataupun seorang pemimpin agama; tetapi, jika Yesus ingin menjadi seorang raja, Ia merupakan ancaman bagi kekuasaan Kaisar. Segala bentuk pemberontakan, pengkhianatan, atau subversi harus segera dijatuhi hukuman yang kejam. Jadi, Pilatus bertanya, “Engkaukah raja orang Yahudi?” (Luk 23:3)


Pilatus tidak menemukan bukti yang meyakinkan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Pilatus menantang para imam, tua-tua, dan rakyat, “Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.” (Luk 23:14). Ketika mencoba menawarkan untuk membebaskan seorang tahanan, Pilatus bertanya kepada orang banyak tentang Yesus, “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati.” (Luk 23:22). Bahkan isteri Pilatus memohon kepadanya untuk tidak mencampuri perkara “orang benar” itu (Mat 27:19).


Pilatus kemudian memerintahkan agar Yesus disesah (Yoh 19:1). Orang Romawi mempergunakan cambuk pendek (flagrum atau flagellum) dengan beberapa tali kulit tunggal atau tali kulit berjalin. Bola-bola besi atau kait-kait terbuat dari tulang atau kerang disisipkan dengan jarak bervariasi sepanjang tali kulit dan pada ujung-ujungnya. Korban dilucuti pakaiannya dan didera sepanjang punggung, pantat dan kaki-kakinya. Cambuk merobek kulit dan menghujam hingga otot-otot terdalam; daging terkoyak-koyak bersimbah darah. Korban berada di ambang batas shock; dari banyaknya darah yang tercurah dapat diperkirakan berapa lama korban akan sanggup bertahan di salib. Untuk memperhebat penyiksaan terhadap Kristus, para serdadu menambahkan bentuk aniaya yang lain: memahkotai-Nya dengan duri, mengenakan jubah ungu pada tubuh-Nya, menempatkan sebatang buluh di tangan kanan-Nya, meludahi wajah-Nya, dan mengolok-olok Dia, “Salam, hai Raja orang Yahudi!” (Mat 27:27-31).


Setelah Yesus disesah, Pilatus sekali lagi menampilkan Kristus ke hadapan orang banyak yang berteriak-teriak, “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Takut akan timbul pemberontakan, Pilatus menyerah dan memberikan Yesus untuk disalibkan. Bangsa Romawi memiliki hukuman penyaliban yang telah dirancang begitu rupa, hukuman salib sendiri kemungkinan berasal dari Persia, agar mengakibatkan kematian secara perlahan-lahan dengan tingkat kesakitan paling dahsyat. Penyaliban diperuntukkan bagi penjahat-penjahat yang paling berbahaya. Hukuman penyaliban begitu ngeri dan keji hingga Cicero (wafat tahun 43 SM) menetapkan undang-undang dalam Dewan Romawi yang mengecualikan warga Romawi dari hukuman ini; itulah sebabnya mengapa St. Paulus dipenggal kepalanya dan bukannya disalibkan karena menjadi seorang Kristen.


Korban diwajibkan memanggul sendiri salibnya agar pertahanan tubuhnya semakin melemah. Karena keseluruhan salib beratnya sekitar 300 pounds (± 136 kg), biasanya ia memanggul hanya balok horisontalnya saja (patibulum) (75-125 pounds = ± 34-57 kg) ke tempat pelaksanaan hukuman mati di mana balok vertikal (stipes) telah dipersiapkan. Sepasukan pengawal militer yang dipimpin seorang kepala pasukan memimpin arak-arakan. Seorang prajurit membawa titulus di mana ditulis nama si terhukum dan kejahatan yang dilakukannya, titulus itu nantinya akan dipasang pada salib (Mat 27:37). Dalam kasus Yesus, jalan yang harus ditempuh dari praetorium menuju Golgota berjarak sekitar sepertiga mil (± 0,54 km). Yesus begitu lemah hingga Simon dari Kirene dipaksa untuk membantu-Nya (Mat 27:32).


Setibanya di tempat pelaksanaan hukuman mati, hukum menetapkan agar korban diberi minum anggur pahit bercampur empedu untuk membantu menahan sakit (Mat 27:34). Korban kemudian dilucuti pakaiannya (kecuali jika hal ini telah terjadi sebelumnya). Tangan-tangan-Nya direntangkan di atas patibulum dan diikat atau dipaku, atau diikat dan dipaku. Bukti arkeologi mengungkapkan bahwa paku-paku yang dipergunakan berupa besi berujung runcing. Paku-paku tersebut panjangnya kurang lebih tujuh inci (± 18 cm) dengan gagang persegi kurang lebih 3/8 inci (± 95 mm). Paku-paku dipalukan menembusi pergelangan tangan antara tulang lengan dan tulang hasta agar dapat menyangga berat tubuh korban. Patibulum dipasangkan ke stipes, kemudian kaki korban diikat atau dipakukan langsung ke stipes atau ke tempat tumpuan kaki (suppedaneum).


Sementara korban tergantung di kayu salib, orang banyak biasa menyiksanya dengan olok-olok dan makian (bdk Mat 27:39-44). Para prajurit Romawi seringkali memaksa keluarga korban untuk menyaksikan untuk menambah penderitaan batin korban. Para prajurit membagi-bagikan pakaian korban sebagai bagian dari ganjaran mereka (Mat 27:35). Korban akan dibiarkan tergantung di kayu salib selama tiga jam bahkan hingga tiga hari. Sementara ia tergantung menderita kesakitan yang hebat, serangga-serangga akan hinggap pada luka-luka yang menganga, atau pada mata, hidung, dan telinga; burung-burung pada gilirannya akan menyambar dan menggerogoti tubuhnya sebagai mangsa mereka. Dengan berbagai macam siksa derita menyatu akibat banyaknya darah yang tercurah, trauma penderaan dan kekurangan cairan, beban tubuh tertarik ke bawah dengan bertumpu pada lengan-lengan yang  terentang dan kedua bahu, sehingga menyesakkan pernapasan. Korban akan mati perlahan-lahan akibat tercekik. Mungkin itulah sebabnya mengapa Yesus berbicara hanya singkat saja dari salib. Jika korban berusaha mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada kakinya untuk bernapas, rasa sakit yang luar biasa akan terasa pada luka-luka paku dan luka-luka punggung akibat penderaan. Guna mempercepat kematian, para prajurit akan mematahkan kaki korban (Yoh 19:32-33). Jika tampaknya korban sudah mati, para prajurit akan meyakinkan kematiannya dengan menikam lambungnya dengan tombak atau pedang; dan ketika hati Yesus ditikam, memancarlah darah dan air (cairan dari kantung sekeliling jantung) (Yoh 19:34). Biasanya, mayat dibiarkan di atas salib hingga membusuk atau dimangsa burung atau binatang liar; tetapi, hukum Romawi mengijinkan keluarga kurban mengambil jenasah untuk dimakamkan seijin Gubernur Romawi. Dalam kasus Yesus, Yusuf dari Arimatea meminta jenasah Kristus kepada Pilatus dan Ia kemudian dibaringkan dalam sebuah makam (Yoh 19:38).


Sementara kita merenungkan misteri Pekan Suci yang sakral, patutlah kita mencamkan dalam hati apa yang telah Kristus derita demi keselamatan kita. Ia menyerahkan Diri-Nya Sendiri sebagai korban silih dosa yang sempurna di altar salib dan membasuh dosa-dosa kita dengan Darah-Nya yang kudus. Demikianlah kita wajib menyadari tanggung jawab kita untuk menyesali dan bertobat dari dosa-dosa kita: Katekismus Gereja Katolik (no. 598), dengan mengutip Katekese Romawi kuno menegaskan, “Semua pendosa pun adalah 'penyebab dan pelaksana semua siksa yang [Kristus] derita.' dan “Oleh karena dosa-dosa kita menghantar Kristus Tuhan kita kepada kematian di kayu salib, maka sesungguhnya mereka yang bergelinding dalam dosa dan kebiasaan buruk, 'menyalibkan lagi Anak Allah dan menghina-Nya di muka umum.'” Kristus yang tersalib merupakan bukti nyata kasih-Nya bagi setiap kita. Merenungkan sengsara-Nya akan memperkuat kita dalam menghadapi pencobaan, menggerakkan kita untuk menerima Sakramen Tobat lebih sering, dan menjaga kita agar senantiasa ada di jalan keselamatan. Dengan memeluk Kristus yang tersalib dan salib-Nya, kita menyongsong kemuliaan kebangkitan.

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: What Is Meant by the 'Passion of Christ'?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

April 17, 2011

Minggu Palem Dan Sengsara

dipost pada: 10 April 2011


Oleh: Pdt. Rasid Rachman


Hari Minggu terakhir dalam masa Prapaska disebut Minggu Palem dan Sengsara. Ada dua nama untuk hari Minggu tersebut. Sebelum tahun 1992, Minggu Sengsara terpisah dari Minggu Palem; jatuh pada hari Minggu sebelum Palem. Setelah revisi leksionari 1992 menjadi Revised Common Lectionary, Minggu Sengsara dipindahkan ke Minggu ke-6 Prapaska, sementara Minggu Palem sebagai semacam mukadimah di awal liturgi Sengsara. Oleh karenanya, liturgi di hari Minggu tersebut sedikit lebih panjang dari Minggu-minggu Biasa, namun tidak sepanjang ibadah Jumat Agung dan ibadah Paska.


Kisah Yesus masuk kota Yerusalem dan Mazmur yang berhubungan dengan itu dibacakan sebagai tanda perayaan Palem. Bagian ini biasanya, tergantung dengan lokasi dan kondisi gereja, dilakukan dengan prosesi mengitari sekitar gereja. Umat memegang daun-daun, termasuk daun palem. Selama prosesi itu, nyanyian-nyanyian jemaat dinyanyikan. Hal ini menggambarkan umat menyambut dan bersama Yesus memasuki kota Yerusalem. Prosesi tersebut, dapat berlangsung sekitar 10 – 15 menit, dan diakhiri di pintu gereja kembali dan umat masuk ke ruang ibadah.


Kemudian liturgi Sengsara dilakukan di dalam ruang ibadah. Dengan tetap memegang daun-daun, dibacakanlah kisah sengsara Yesus menurut salah satu perikop dari Injil Sinoptik. Hari Minggu Sengsara ini merupakan persiapan yang langsung berhubungan dengan peristiwa: sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Kisah sengsara Yesus dibacakan sekali lagi pada Jumat Agung, tetapi bacaan Jumat Agung ini diambil dari Injil Yohanes 18 – 19.


Daun-daun palem melambangkan pengharapan. Ketika Yesus masuk ke kota Yerusalem, orang-orang melambai-lambaikan daun palem sambil berseru: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat 21:9) Seruan ini juga diwujudkan dalam bentuk nyanyian-nyanyian jemaat, semisal KJ 161 – 162, NKB 74 – 76, PKJ 79, dan Mazmur 118 yang bukan hanya terdengar agung itu, tetapi juga merupakan salah satu Mazmur Paska. Hosana berarti: “Selamatkanlah kami, sekarang.”
Yesus diserukan sebagai anak Daud. Tentu maksudnya adalah bukan anak kandung, tetapi lebih dalam arti penerus kekuasaan Daud. Bagi orang Israel, “Daud” yang kemudian adalah mesias yang akan menyelamatkan Israel dari cengkeraman kekuasaan Romawi dan bangsa-bangsa lain, serta mengembalikan Israel seperti pada zaman Raja Daud pada abad ke-10 SM. Kedatangan Yesus di kota Yerusalem mengandung arti mesianisme, bahwa Dialah yang akan menyelamatkan umat Israel dari kekuasaan Romawi. Jadi terdapat hubungan simbolis antara daun palem dan makna di dalamnya.


Minggu Palem dirayakan oleh gereja-gereja ekumenis pada hari Minggu sebelum Paska, atau Minggu Prapaska terakhir. Para penulis Injil Sinoptik menempatkan kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem hanya satu kali dan di bagian akhir masa pelayanan-Nya. Kemudian secara elok para Penginjil tersebut memperhitungkan hari masuknya Yesus, sehingga ada 7 – 8 hari sejak Yesus masuk ke kota Yerusalem hingga kebangkitan-Nya. Dalam seluruh masa pelayanan-Nya, hanya di bagian akhir hidup-Nya, Ia masuk dan berada hanya 3 - 4 hari di kota Yerusalem. Penempatan kisah ini pun mengandung makna simbolis bahwa Yerusalem menjadi simbol puncak pengharapan umat Israel. Pulihnya Yerusalem yang baru dan bukan dalam arti politis bagi Negera Israel yang sekarang, pada akhirnya, akan menjadi pulihnya kondisi umat Israel.


Apakah makna Minggu Palem dan kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem bagi kita? Pemulihan umat Allah terjadi ketika pengharapannya hanya pada Tuhan Semesta Alam.  ■

Simbol-simbol Paskah dan Maknanya

oleh: P. Francis S. Weiser


ANAK DOMBA PASKAH

Di antara simbol-simbol Paskah yang populer, anak domba adalah yang paling penting dalam perayaan agung ini. Anak Domba Paskah, yang melambangkan Kristus, dengan bendera kemenangan, dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di rumah-rumah keluarga Eropa. Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di Bobbio, Italia. Dua ratus tahun kemudian Roma mempergunakannya dan sesudah itu, selama berabad-abad kemudian, menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.  

Tradiri kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.     

Di abad-abad yang silam, dianggap merupakan suatu tanda keberuntungan jika orang menjumpai anak domba, teristimewa pada masa Paskah. Merupakan takhayul populer bahwa iblis, yang dapat mengambil wujud segala macam binatang, tidak pernah diperkenankan menampakkan diri dalam wujud anak domba karena simbol religiusnya.


TELUR PASKAH

Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa. Bagi para leluhur kita yang belum mengenal ajaran Kristiani, sungguh merupakan peristiwa yang menakjubkan menyaksikan suatu makhluk hidup yang baru muncul dari suatu obyek yang tampaknya mati. Bagi mereka, telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat equinox musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.

Pada masa Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu darimana Kristus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa sukacita Paskah, yaitu karena, dulu, telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Kaum beriman sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.

Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa utara dan di Asia segera sesudah mereka masuk Kristen. Tetapi, di antara bangsa-bangsa Eropa selatan, dan dengan demikian juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.

Ritual Romawi mempunyai tata cara khusus untuk pemberkatan telur-telur Paskah:

“Kami mohon kepada-Mu, ya Tuhan, untuk menganugerahkan berkat-Mu atas telur-telur ini, menjadikannya makanan yang sehat bagi umat beriman, yang dengan penuh syukur menyantapnya demi menghormati Kebangkitan Tuhan kami Yesus Kristus.”

Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.

Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut “Dingeier” (telur-telur yang “dihutang”). Anak-anak tidak berlambat dalam menuntut apa yang “dihutang” dari mereka, dan dengan demikian berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka. Berikut adalah salah satunya yang berasal dari Austria:

Kami menyanyi, kami menyanyi lagu Paskah:
Tuhan membuatmu sehat, kuat dan pintar.
Penyakit dan badai dan segala yang jahat
kiranya jauh dari kerabat, dan ternak dan ladang.
Sekarang, berilah kami telur,
yang hijau, yang biru dan yang merah;
jika tidak, anak-anak ayammu akan mati semuanya.

Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.

Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: “Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin [pengemis].”  

Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Chaldean, Syria dan Yunani, kaum beriman saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavic membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak. Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang Bangkit, Bunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah.   

Berbagai Permainan Menggunakan Telur

Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di Syria, Iraq, dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu; telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai “telur kemenangan”. Permainan ini amat digemari di Amerika lewat pesta telur gelinding di lapangan Gedung Putih di Washington.

Tradisi umum lainnya di antara anak-anak adalah perlombaan mencari telur, baik di dalam rumah maupun di kebun pada hari Minggu Paskah. Di Perancis, anak-anak mendengarkan dongeng bahwa telur-telur Paskah dijatuhkan dari lonceng-lonceng gereja dalam perjalanan mereka kembali dari Roma. Di Jerman dan Austria, keranjang-keranjang kecil berisi telur, kue-kue serta permen diletakkan di tempat-tempat tersembunyi, dan anak-anak percaya bahwa kelinci Paskah, yang juga begitu populer di negeri ini, telah meletakkan telur-telur itu beserta permennya.

Di Rusia dan Ukrainia dan juga Polandia, orang memulai santapan Paskah mereka dengan penuh sukacita setelah masa puasa Prapaskah yang panjang dengan sebutir telur yang telah diberkati pada hari Minggu Paskah. Sebelum duduk makan, sang bapak akan dengan hati-hati membagikan sepotong bagian kecil dari telur Paskah kepada setiap anggota keluarga dan para tamu, sembari mengucapkan selamat berbahagia di hari yang kudus ini. Sebelum mereka memakan telur bagian mereka dalam keheningan, mereka tidak akan duduk untuk menyantap jamuan Paskah mereka.


KELINCI PASKAH

Kelinci Paskah berasal dari tradisi kesuburan masyarakat sebelum masa Kristiani. Kelinci merupakan binatang yang paling subur menurut para leluhur, karenanya kelinci dipergunakan sebagai simbol kehidupan baru yang melimpah di masa musim semi. Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci. Namun demikian, kelinci mendapat peran yang menyenangkan dalam perayaan Paskah sebagai tokoh legenda penghasil telur-telur Paskah bagi anak-anak di berbagai negara. Di berbagai daerah di Jerman, dipercaya bahwa kelinci Paskah meletakkan telur-telur merah pada hari Kamis Putih dan telur-telur berbagai macam warna pada malam sebelum Minggu Paskah. Kelinci-kelinci Paskah dalam bentuk kue-kue dan gula-gula mulai populer di Jerman selatan, dan sekarang kue dan gula-gula tersebut amat disukai anak-anak di berbagai macam negara.


BABI

Jangan melupakan si babi yang memberikan dagingnya sebagai hidangan dalam jamuan Paskah tradisional. Babi selalu melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di kalangan orang-orang Indo-Eropa. Sisa-sisa pemakaian simbol kuno ini masih tetap hidup di jaman kita sekarang. Celengan anak-anak dalam bentuk babi misalnya, merupakan perwujudan dari tradisi kuno ini.

Merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun dari masa sebelum masa Kristiani, untuk makan daging babi dalam berbagai perayaan. Orang-orang Inggris dan Skandinavia menyantapnya, orang-orang Jerman dan Slavia menyantap daging babi panggang pada Hari Raya Natal. Juga, di berbagai wilayah di Eropa, daging babi panggang masih tetap merupakan jamuan utama tradisional dalam pesta pernikahan dan dalam perayaan-perayaan. Pada masa Paskah, ham asap, juga daging anak domba, menjadi santapan sebagian besar bangsa Eropa sejak masa silam, serta merupakan menu Paskah tradisional di berbagai wilayah.    


sumber : “Easter Symbols and Food” taken from The Easter Book by Fr. Francis S. Weiser; www.intermirifica.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”