Showing posts with label liberalisme. Show all posts
Showing posts with label liberalisme. Show all posts

December 22, 2011

Gereja Katolik Bebas

disadur dari http://hurek.blogspot.com/2007/04/gereja-katolik-bebas.html


Di Surabaya ada Gereja Katolik Bebas. Lokasinya di Jalan Serayu Nomor 11, dekat Taman Bungkul. Di depan gereja ada papan nama ‘Gereja Katolik Bebas St. Bonifacius’. Bangunan tua warisan Belanda itu terkesan kumuh, tidak terurus. Tapi tetap antik dan punya kharisma.

Belum lama ini saya mampir ke sana. 

“Kok tidak direnovasi? Kelihatan sudah tua banget.”

“Bagaimana mau renovasi? Jemaatnya sedikit, nggak sampai 20 orang. Jadi, mungkin uang yang terkumpul sedikit,” kata Ahmad Budi, penjaga gereja, kepada saya. Arek Surabaya asli ini sudah bertahun-tahun menjaga Gereja Katolik Bebas.

Sebagai orang Katolik, yang ‘tidak bebas’, Katolik Roma, sejak lama saya penasaran dengan Gereja Katolik Bebas. Apanya yang bebas? Tata liturginya seperti apa? Hierarki? Jemaatnya? Dan sebagainya. 

Maka, pada sebuah Ahad pagi, pukul 08.00 WIB, saya bertamu di Gereja Katolik Bebas. Umatnya memang kurang dari 20 orang. Rata-rata sudah ‘berumur’ alias 50 tahun ke atas. Kedatangan muka baru tentu saja menarik perhatian jemaat. Saya pun memperkenalkan diri. 

“Oh, silakan ikut misa. Kami senang sekali Anda mengikuti liturgi di gereja kami. Siapa saja boleh ikut karena Tuhan Yesus sayang sama semua orang,” ujar Ibu Lisa, salah satu pemuka umat, ramah. 

“Oh, ya, di sini banyak juga orang Katolik [Roma] yang pernah misa di sini. Sama saja kok,” tambah wanita setengah baya ini. 

Suasana di dalam gereja ini hening. Cocok untuk refleksi atau meditasi. Beda dengan gereja-gereja karismatik yang meriah, hiruk-pikuk, mirip konser musik rock. Juga beda dengan suasana misa di Katolik Roma yang ramai umat. Umat Katolik Bebas, rata-rata sepuh, tampaknya cocok dengan suasana hening macam ini. 

Lalu, imam [semacam pastor atau romo] keluar dari sakristi. Pakai jubah, kasula, mitra, ala uskup di Katolik Roma. Imam alias pastor ini memimpin misa dengan membelakangi jemaat. Tidak menghadap jemaat macam di Katolik Roma.

“Kok mirip uskup, ya?” bisik saya.

“Iya. Memang beliau itu uskup,” ujar Bu Lisa. “Tapi uskup di gereja kami boleh menikah, boleh berkeluarga. Beda dengan di gereja Anda.”

Misa pun dimulai. Sebagai orang Katolik, apalagi asal Flores Timur, saya tidak kagok dengan liturgi Katolik Bebas. Mirip misa di Katolik Roma. Saudara-saudara di Katolik Bebas, Surabaya, banyak menggunakan plain songs alias lagu-lagu sederhana untuk mendaraskan mazmur. Lagu-lagu tanpa irama karena mengabdi ke syair mazmur. 

Ayat-ayat mazmur didaraskan sampai selesai, kemudian masuk antifon. Sama dengan sebagian lagu di buku ‘Syukur Kepada Bapa’ yang dulu dipakai di Flores. Pola lagu macam ini menghadirkan ketenangan, suasana meditatif. Tidak ada iringan musik. Musiknya, ya, suara manusia ala lagu-lagu gregorian.

Jemaat Gereja Katolik Bebas Surabaya, meski sedikit, menyanyi dengan penuh semangat. Tak peduli suara fals, mereka berusaha memuji Tuhan dengan suaranya. 

Khotbah tidak panjang, mungkin, karena sang uskup tidak suka bicara. Lalu, liturgi ekaristi. Sekali lagi mirip Katolik Roma, hanya beda susunan kalimat. Doa syukur agung juga ada. Ekaristi diakhiri dengan komuni. Semua jemaat diberi kesempatan untuk menyambut Kristus dalam simbol hosti dan anggur. Upacara penutup, lagi-lagi, pakai pendarasan mazmur.

Karena sudah pernah ikut misa di Gereja Katolik Bebas, saya pun bisa memahami kata ‘bebas’ di gereja ini. Mereka ‘bebas’ karena tak mau terikat dengan Takhta Suci di Vatikan. Tapi, di sisi lain, mereka tetap mengikuti tata liturgi Katolik dengan segala pernak-perniknya. Karena itu, umat Katolik Bebas tidak mau disebut orang Kristen Protestan, apalagi Pentakosta atau Karismatik. 

"Kami ini Katolik, tapi Gereja Katolik bebas. Bukan Gereja Katolik Roma,” tegas Lisa. Saya pun mengangguk. 

Di Indonesia, Gereja Katolik Bebas dimasukkan dalam rumpun gereja-gereja Protestan. Ikut Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan, Departemen Agama Republik Indonesia. Ikut Pembinmas Kristen Protestan kalau di Jawa Timur. 

Ironisnya, orang-orang Protestan [Pentakosta, Karismatik, Baptis, Reformed...] tidak menganggap Gereja Katolik Bebas sebagai salah satu denominasi Kristen Protestan di tanah air. 

Gereja Katolik [Roma] jelas tidak mengakui gereja-gereja yang ‘menyempal’ dari Takhta Suci, Vatikan, termasuk Katolik Bebas. Toh, urusan tetek-bengek admisitrasi macam ini tidak menyurutkan semangat jemaat Gereja Katolik Bebas untuk beribadah.

MORE INFORMATION:

http://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_Catholic_Church

http://nl.wikipedia.org/wiki/Vrij-katholieke_Kerk

December 22, 2010

Liberalisme di Belanda

Liberalisme adalah kata bermakna ganda, ia menyiratkan pembebasan manusia dari segala bentuk otoritas diluar dirinya, tetapi ia juga mendorong manusia membebaskan dirinya dari realita yang transenden (Tuhan). Liberalisme merupakan konsekwensi logis dari perkembangan Renaissance – Rasionalisme – Pencerahan, yang menghasilkan manusia Sekuler yang branggapan bahwa manusia hanya berurusan dengan yang duniawi (saeculum) dan menafikan yang kekal (aeternum).

Di Eropah, negeri yang paling sekuler dan liberal adalah Belanda, ini dimungkinkan karena bangsa Belanda termasuk yang paling bebas, terbuka, dan sangat toleran, ini berarti bahwa sifat itu membawa negeri Belanda pada situasi dimana semua faham baru dan perilaku bisa ditoleransikan. Akibat kebebasan sekuler dan liberal telah menjadikan Amsterdam sebagai pusat peredaran obat bius bahkan ada anggota dewan kota yang pecandu narkoba, dan juga menjadi surga perilaku homoseksual.

Kebebasan bukannya tidak terbatas, dalam dua dasawarsa terakhir masyarakat umum mulai mempertanyakan ‘Tidakkah kebebasan di Belanda sudah terlalu jauh?’ (Backlash and Debate, Permissiveness: the Dutch are wondering if things have gone too far, Time Magazine, August 1987, hlm.20-25). Soalnya, kebebasan penggunaan narkoba, pornografi, sex bebas dan perilaku homoseksual sudah merangsang peningkatan kejahatan dan mengganggu kebebasan penduduk lainnya. Belanda adalah negara pertama yang melegalkan EuthanasiaRuud Lubbers, ketika menjabat perdana menteri, mengeluhkan bahwa Belanda sudah menghadapi ‘Demokrasi yang kelewat batas.

J.A.B. Jongeneel, pakar Misiologi Utrecht Universiteit, dalam diskusi di depan pendeta-pendeta Jakarta di kantor PGI pada tanggal 11 September 1995, mengatakan:
Eropah kini menjadi makin sekuler, dan negara yang paling sekuler adalah Belanda. ... Menurut Prof Jongeneel ... penduduk Amsterdam, yang 200 tahun yang lalu hampir seluruhnya beragama Kristen (99%), sekarang tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja, kebanyakan mereka tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler.” (Sekularisasi Ancaman Bagi Semua Agama, Berita Oikumene, September 1995).

Di Belanda, sejalan dengan sekularisme, liberalisme masuk jauh termasuk kedunia gereja. Kenyataan ini memperngaruhi banyak pendeta dan teolog yang termasuk Nederlandze Hervormde Kerk (NHK) yang sudah lebih dahulu terpengaruh Liberalisme maupun Gereformeerde Kerken in the Nederland (GKN) yang semula lebih conservative. Liberalisme di kalangan Roma Katolik juga paling parah di Belanda, para teolog dan pastor Belanda banyak yang melawan dan menyusahkan kepausan di Roma. Paus Paulus pernah dilempari telur busuk oleh orang Katolik ketika berkunjung ke Belanda.

Sebenarnya GKN sangat ketat menganut faham pengakuan iman reformasi yang teguh dan melepaskan diri dari NHK tetapi sejak tahun 1960-an NHK mengikuti keterbukaan dimana beberapa teolognya mulai menganggap tradisi gereja sebagai tradisi manusia belaka dan Alkitab sekedar buku dongeng. Keterbukaan akan kesimpulan kritik historis mulai menghinggapi pemikiran para teolog muda setelah para teolog konservative satu-persatu memasuki masa pensiun mereka.

Dalam hubungan perubahan arah digereja arus utama di Belanda, teolog Klaas Runia mengemukakan bahwa penyebab utamanya adalah sekularisme yang kuat melanda negeri Belanda. Dan seperti biasanya usaha para teolog muda untuk menyesuaikan berita mimbarnya dengan tuntutan sekularisme, suatu usaha yang akhirnya tidak bisa direm, sehingga sejak tahun 1972 banyak kritik justru datang dari kalangan Reformed Ecumenical Council (REC, organisasi gereja-gereja Reformed Sedunia) ditujukan kepada GKN, bahkan liberalisme yang makin jauh dipraktekkan pendeta-pendeta GKN, dalam beberapa Sidang Raya REC kemudian, GKN diusulkan untuk dikeluarkan. (Klaas Runia, Perplexing Cousins: The Dutch Churches, The Banner Magazine, May 31, 1993, hlm.8).

Memang NHK dan GKN cenderung lebih berurusan dengan pertanyaan modern mengenai ‘Apa arti iman bagi manusia sekuler, apa berita yang bisa disampaikan pada orang di luar gereja, bagaimana mencegah para pemuda keluar dari gereja, dan bagaimana mengembalikan hubungan transendental dengan yang ilahi yang makin menghilang?. Namun, karena pendekatan yang dilakukan adalah lebih bersifat sekuler dan liberal, maka hasilnya banyak gereja ditinggalkan jemaatnya terutama kaum muda. Banyak gereja menjadi kosong, diubah peruntukannya menjadi kelab malam atau bar.

Menarik mendengarkan komentar ahli sosiologi agama Jan Jonkers berkenaan dengan kecenderungan gereja-gereja mapan di Belanda sekarang, yaitu adanya tiga kemungkinan :
  1. Gereja kembali kepada tradisionalisme kuno dan konservatisme kaku, atau
  2. Gereja terus menerus membuka diri terhadap sekularisme, atau
  3. Gereja mencoba secara kreatif mencari terobosan baru dalam menjawab kebutuhan dunia modern
     
Jonkers mengatakan bahwa kemungkinan 1 & 2 menjurus pada jalan buntu, karena itu sebaiknya kita memilih kemungkinan ke-3, tetapi ia juga mengatakan bahwa kemungkinan ke-3 tidak hanya membutuhkan kreativitas saja tetapi juga spritualitas yang dalam, ini diaminkan oleh Klaas Runia yang yakin bahwa hal itu membutuhkan:
dengar-dengaran dengan taat akan firman Tuhan, disertai doa yang terus menerus agar gereja diurapi dengan kaya oleh Roh Kudus, khususnya juga para teolog dan para pemimpin gereja.” (Klaas Runia, Perplexing Cousins: Where Are The Dutch Churches Headed?, The Banner Magazine, June 7 1993, hlm.13)

Yang menarik untuk diamati bahwa akhir abad-20 peradaban dunia diwarnai dengan semangat kembali kepada transendentalisme, maka bilamana gereja membuang yang transendental, dan liberalisme cenderung mengerlingkan mata kepada spiritualitas mistik pantheisme (new age), maka sebagian umat mendapat jalan keluar dalam persekutuan-persekutuan injili dan kharismatik yang kembali menekankan spiritualitas Kristen yang membuka diri pada pekerjaan Roh Kudus.

Bagaimana dengan di Indonesia? Gereja-gereja mapan di Indonesia memang umumnya berdiri karena pekerjaan misi NHK (NZG dan NZV) dan juga GKN (NGZV). Sebagian besar gereja-gereja mapan (GPIB, GKI, GKJW, GKP, GMIM dll.) berasal dari pekerjaan misi Hervorm, dan ada juga yang berasal dari pekerjaan misi Gereformeerd (GKI Jateng, GKJ), namun gereja-gereja mapan di Indonesia ini tidak mengalami nasib malang seperti saudara-saudara mereka gereja di Nederland. Ini disebabkan beberapa kondisi yang berbeda:
1.       Para utusan misi NHK dan GKN perintis gereja-gereja itu adalah pendeta/utusan misi yang beriman konservatif;
2.       Masyarakat Indonesia sebagai bagian masyarakat Timur masih konservatif dan jauh dibandingkan liberalisme Belanda. Orang-orang Indonesia yang konservatif masih sangat terbuka akan hal-hal transendental berbeda dengan orang-orang Belanda yang sekuler dan liberal. Sekularisme belum menjadi masalah;
3.       Dikalangan jemaat Tionghoa, ada pengaruh pelayanan penginjil John Sung yang berbekas pada jemaat Tionghoa baik yang baba dan terutama yang totok (Di Tiongkok John Sung melayani bersama Andrew Gih, karena berbeda orientasi dimana Sung menekankan penginjilan massal sedangkan Gih menekankan pelayanan gereja dan sekolah Teologi, keduanya kemudian berjalan sendiri-sendiri. Andrew Gih juga melayani ke Indonesia dan mendirikan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT));
4.       Sekalipun pengaruh liberalisme masuk juga melalui beberapa utusan misi Belanda/Barat terutama melalui pendidikan di STT tertentu, tetapi pengaruh mereka baru sebatas pengaruh terhadap pribadi-pribadi pendeta dan kaum elit tertentu, pengaruhnya kecil ditengah mayoritas jemaat Indonesia yang konservatif;
5.       Adanya kebangunan gerakan Injili dan Kharismatik dalam kekristenan di Indonesia merupakan nafas segar bagi konservatisme Kristen (fakta menunjukkan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir, nyaris tidak ada pembukaan STT ekumenis yang baru, tetapi pada saat yang sama puluhan STT injili dan kharismatik berdiri).

Dari pengalaman di Belanda itu, kita bisa melihat bahwa liberalisme cenderung membuat gereja kosong, tetapi konservtisme membuat gereja tetap bertahan mengarungi ombak jaman.

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org