Showing posts with label injil. Show all posts
Showing posts with label injil. Show all posts

March 5, 2011

Tilawatil Injil Dalam Peringatan Natal





KETERANGAN : Gambar Diatas adalah Foto Kegiatan Natal Ortodoks Syria Surabaya

Jamaah Kristen Ortodoks Syria di Indonesia menyelenggarakan Natal 7 Januari, sesuai dengan keyakinan mereka tentang kelahiran Yesus Kristus, Injil dan doanya dibaca dalam bahasa Arab. 

Peringatan Natal malam itu berlangsung khidmat. Pemimpin spiritualitas dalam acara keagamaan itu, Bambang Noorsena, membaca doa dalam bahasa Arab yang fasih. Selain memohon kedamaian buat bangsa Indonesia yang tengah dilanda konflik berbau agama, pembaca doa yang malam itu mengucapkan : Allahummaghfir lanaa dzunuubanaa . . . . 

Para jamaah yang hadir tak kalah khusyu'. Sambil mengangkat kedua telapak tangan menengadah ke wajah setiap kali doa diucapkan mereka serempak menyebut "Amin". Bahkan layaknya umat Islam mengusap wajah ketika doa usai dibacakan. 

Jauh sebelum doa penutup itu dibacakan, peringatan Natal yang digelar umat Kristen Ortodoks Syria di Jakarta itu juga menampilkan prosesi yang tak kalah unik. Menjelang pukul 19.00, Kamis (27/1) lalu, para jamaah sudah memenuhi Ballroom Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Tak lama, para hadirin yang duduk rapi segera berdiri ketika Arak-arakan Injil begitu mereka menamakan prosesi masuk dengan pimpinan seorang wanita berjilbab putih. Berjalan beriringan menuju panggung, peserta arak-arakan menyanyikan Trisagion atau puji-pujian kepada Allah dan Yesus dalam bahasa Arab yang juga fasih. 

Setelah para hadirin duduk kembali, diatas panggung dengan backdrop sebuah tulisan Arab, pemimpin arak-arakan itu mengangkat Injil. Lagi-lagi dalam bahasa Arab yang fasih, dia membacakan Surat Ibrani 1:5, yang berisi tentang kelahiran Isa Almasih. Acara selanjutnya adalah sebuah prosesi yang unik dan khidmat yang didalamnya nuansa Timur Tengah demikian dominan. Seluruh peserta arak-arakan menlantunkan nasidul milad atau puji-pujian untuk Isa Almasih dalam bahasa Arab, mirip sekelompok jamaah pengajian Islam membacakan shalawat badar dalam peringatan Maulid Nabi SAW. 

Tapi, dari seluruh rangkaian prosesi itu, tilawatil Injil al-Muqaddas atau pembacaan ayat-ayat Injil berbahasa Arab adalah bagian yang menarik. Penguasaan tajwid pembacanya, wanita berjilbab putih tadi, sangat prima. Sampai-sampai Ketua Yayasan Wakaf Paramadina Dr. Komaruddin Hidayat, dalam sambutan kehormatannya pada acara itu berkomentar : "Kalau Mbak yang tadi membaca Injil disuruh membaca Al-Qur'an, jangan-jangan penguasaan tajwidnya lebih baik ketimbang saya". 

Ayat yang dibaca dicuplik dari Injil Yahya/Yuhanna 1 ayat 1-3, serta ayat 14 dan 18. Ayat-ayat itu antara lain menjelaskan bagaimana firman Allah menjelma menjadi sosok yang kasat mata, yang oleh kalangan Kristen diyakini sebagai Yesus Kristus. Uniknya, jika kalangan Muslim membaca shadaqallaahu al-'Adhiim (Maha benar Allah yang Agung) seusai membaca Al-Qur'an, maka pembaca Injil itu mengakhiri qiraatnya dengan membaca al-majdu lillaahi daaiman (Segala kemuliaan senantiasa bagi Allah). 

Menurut Bambang, dia dan jamaah merayakan Natal setiap 7 Januari, sesuai dengan keyakinan mereka tentang kelahiran Yesus. Perbedaan tanggal ini, kata dia, terjadi karena antara Gereja Barat dan Gereja Timur terjadi perbedaan pendapat soal kalender semata. Sementara suasana Timur Tengah sengaja dia tampilkan secara kental karena lulusan Fakultas Hukum Kristen Malang (1992) ini yakin bahwa tradisi Kristen memang lebih dekat ke Timur Tengah ketimbang ke Barat. 

Kristen dan Islam berakar dari induk yang sama, yakni millat Ibrahim. Ini harus lebih meyakinkan kita, sekaligus kritik buat Kristen di Barat sana bahwa Timur Tengah lebih dekat untuk budaya Kristen ketimbang Barat, kata Bambang dalam orasi ilmiahnya. "Kalau di antara dua agama itu seolah ada kesenjangan, kita memang harus melakukan pertobatan budaya". 

Pernah mendalami Kristen dua tahun di Timur Tengah. Bambang mengatakan kerukunan umat kedua agama sangat fantastis di sana. Kanisah (gereja) berdampingan dengan masjid di negara-negara Timur Tengah adalah hal biasa. "Makanya, kalau penganut kedua agama ini gampang diadu domba di Indonesia, saya yakin pemahaman kita tentang agama masing-masing harus lebih ditingkatkan lagi" tegasnya. Komaruddin membenarkan pendapat itu. Semakin jauh umat Islam dengan masa keemasan Rasulullah, katanya, semakin jauh pula pemahaman mereka tentang Islam yang (seharusnya) toleran dan akomodatif. Dia mengalogikannya dengan Jakarta, kota megapolitan tempat pertemuan segala ideologi, agama, dan wacana ilmiah. Di kota ini, Bambang bisa dengan leluasa menyelenggarakan malam Natal dengan mengundang kalangan Islam, sebagaimana para akademis Muslim di kampus-kampus biasa memanggil seorang Romo untuk berdiskusi tentang agama. 

"Tapi di Maluku, yang jauh dari Ibukota, mustahil kita bisa menyelenggarakan acara serupa ini". jelas dosen Pascasarjana IAIN Jakarta itu. "Lagi pula di Maluku banyak rempah-rempah. Sejak zaman penjajahan orang berebut datang ke sana, dan seringkali berperang karena rempah-rempah". 

Helmi Hidayat (Sumber Tekad No. 14.7-13 Februari 2000). 

December 11, 2010

Injil Barnabas

Apakah Injil Barnabas itu dan bagaimana sejarahnya sehingga menjadi ada?
Pada tahun 1709, John Toland di Amsterdam menerima dari Cremer, kanzelir Raja Prusia, sebuah naskah berjudul 'Injil Barnabas' dalam bahasa Itali, naskah mana sampai saat ini masih disimpan di perpustakaan di Wina. Pada tahun 1718 'Injil Barnabas' mulai disebut dalam karangan John Toland yang berjudul 'Nazarenus or Jewish, Gentile and Mahometan Christianity'.
Kitab ini mulai menghebohkan ketika diterbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Inggeris oleh Lonsdale dan Laura Rag dengan diberi judul 'The Gospel of Barnabas' (Oxford, 1907). Pada tahun 1908 kitab ini diterjemahkan oleh Khalil Saada ke dalam bahasa Arab, dan pada akhirnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Ahmad Shalaby. Beberapa terjemahan dalam bahasa Indonesia ditulis antara lain oleh J. Bachtiar Affandie (Jasana, 1969), Husein Abubakar & Abubakar Basjmeleh (Pelita, 1970, diterjemahkan dari bahasa Arab), dan Rahnip M. (Bina Ilmu, 1980).
Apakah benar bahwa Injil Bernabas sebuah 'Injil' dan ditulis 'Barnabas' seorang rekan kerja rasul Paulus? Masalah ini sering dipersoalkan orang sehingga ada baiknya  diangkat sebagai bahan diskusi.
APAKAH 'INJIL' ITU DAN SIAPAKAH 'BARNABAS' ITU?
Kata 'Injil' berasal dari kata 'evangelion' (kabar baik) atau tepatnya 'kabar baik perihal Yesus.' Istilah ini digunakan untuk menyebut ke-empat kitab awal dalam Alkitab Perjanjian Baru  (Injil Kanonik : Matius, Markus, Lukas & Yohanes). Disebut demikian karena ke-empatnya menceritakan 'Riwayat Hidup Yesus', khususnya 'ke-tiga kitab pertama (Matius, Markus & Lukas) menyorot kehidupan itu dari sudut pandangan yang sama karena itu disebut 'Injil Sinoptis' sedangkan kitab Yohanes melihatnya dari sudut berbeda yaitu sudut ke'Allah'an Yesus.
Memang dalam Alkitab ada seorang bernama Barnabas (anak penghiburan) yang merupakan gelar dari Yusuf seorang Lewi dari Siprus (Kisah 4:36), rekan kerja Paulus (Kisah 9:27), dan bekerja bersama Paulus di Anthiokia (Kisah 11:22-26). Ia menemani Paulus dalam perjalanan pertama (Kisah 13,14) dan menghadiri sidang di Yerusalem (Kisah 15). Barnabas berpisah dengan Paulus karena persoalan Markus (Kisah 15:36-41), namun dalam surat-suratnya, Paulus menunjuk Barnabas sebagai seorang rekan kerja (1.Korintus 9:6/Galatia 2:1,9,13/Kolose 4:10).
Memang ada kitab 'Kisah Barnabas' yang merupakan kitab Apokrifa yang didasarkan kitab 'Kisah Para Rasul' dan menceritakan dengan lebih jelas perjalanan Barnabas dan Paulus, dan pertentangan soal Markus. Kitab ini memberi kesan ditulis oleh Markus, tetapi menurut penelitian diketahui bahwa kitab ini ditulis sekitar abad-II-V. Ada juga 'Surat Barnabas' yang mempersoalkan apakah Perjanjian Lama itu untuk orang Yahudi atau juga untuk orang Kristen dan juga berisi beberapa pengajaran moral. Kitab ini tidak diakui sah, dan diperkirakan ditulis seorang pemimpin gereja sesudah ditulisnya kitab terakhir dalam Alkitab (abad-II).
APAKAH INJIL BARNABAS ITU?
Yang disebut Injil Barnabas (IB) adalah kitab yang berisi 222 Bab yang isinya kira-kira sama banyaknya dengan gabungan ke-empat Injil ditambah dongeng tradisi Yahudi, Kristen dan Islam, yang disatukan dengan cerita-cerita ke-empat Injil kanonik.  Jadi IB merupakan usaha untuk menyelaraskan ke-empat Injil menjadi satu Injil yang dibumbui dengan tradisi ketiga agama di atas.
Sekalipun disebut sebagai 'Injil' kenyataannya isinya banyak berbeda dengan ke-empat Injil kanonik, seperti misalnya dapat dijumpai dibanyak bagian kitab ini. Dalam Bab-82 disebut bahwa 'Tahun Jobel' dirayakan setiap 100 tahun, padahal dalam Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55;27:16-25) disebut bahwa tahun Jobel lamanya 50 tahun. Ini menunjukkan bahwa kitab IB baru ditulis setelah tahun 1300 karena pada tahun itu Paus Bonifacius VII mendekritkan perubahan tahun Jobel menjadi 100 tahun. Memang Abubakar/Basjmeleh dalam terjemahannya mengemukakan bahwa mungkin hal itu terjadi karena tidak jelasnya perbedaan antara angka L (50) dan C (100), tetapi harus diingat bahwa dalam bahasa Italinya tidak disebut C (angka Latin) tetapi 'cento' yang artinya 'seratus.'.
Pada pembuka kitab IB disebutkan bahwa Barnabas salah seorang murid Yesus, yang bersama-sama dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus hadir waktu Yesus dimuliakan di atas gunung (Bab-42). Yesus mengatakan kepada Barnabas bahwa Ia tidak akan disalibkan (Bab-112), bahkan Yesus memerintahkan Barnabas untuk menulis Injil (Bab-221). Fakta ini jelas berbeda dengan ke-empat Injil. Dalam Injil kanonik tidak dikenal murid bernama Barnabas, ia baru muncul di masa Kisah Para Rasul sesudah Yesus (Kisah 4:36).
KEJANGGALAN GEOGRAFI DAN BUDAYA DALAM INJIL BARNABAS
Ada beberapa kejanggalan geografi dan budaya dalam IB yang menunjukkan fakta kuat bahwa Barnabas bukan 'saksi mata'. Disebutkan bahwa Yesus naik kapal ke Nazaret (Bab-20), padahal Nazaret ada di pegunungan. Yesus disebut naik dari Nazaret ke Kapernaum (Bab-21) padahal Kapernaum lebih rendah dari Nazaret. Pada Bab-145-150 disebut bahwa kaum Farisi menjadi rahib, tidak kawin, dan berjubah istimewa, dan berasal nabi Elia. Ini sebenarnya gambaran kekristenan pada abad-abad pertengahan setelah timbulnya kerahiban.
Disebutkan bahwa prajurit romawi berguling seperti tong anggur kosong ke luar dari bait Allah (Bab-152). Kenyataannya, pada masa Yesus orang Romawi tidak diperkenankan masuk bait Allah, dan pembuatan tong-tong anggur dari kayu adalah budaya abad pertengahan.  Bab-69 menyebut para imam berpakaian indah dan naik kuda, padahal dalam Injil kanonik para Imam tidak pernah disebut naik kuda. Pada Bab-56-58,135 ada diskripsi tentang tujuh dosa pokok dan tujuh tingkat dalam neraka. Ini adalah hasil teologia Katolik abad pertengahan.
NAFAS ISLAM DALAM INJIL BARNABAS
Dalam IB ternyata banyak bagian-bagian yang sebenarnya bernafaskan ajaran Islam, ini menunjukkan bahwa kitab IB tentu di tulis sesudah kehadiran agama Islam. Beberapa contoh mengenai hal ini adalah:
Pada Bab-44 disebutkan bahwa Abraham mengorbankan Ismail dan menunjuk Muhammad sebagai nabi Besar, dan disebutkan bahwa Adam berseru: 'Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah itu." (Bab-39,54,97).
Yesus dihadapan Sanhedrin disebut menyangkal dirinya sebagai 'Messias' dan menunjuk nabi yang akan datang sesudahnya (Bab-72,96). Yesus dianggap bukan 'Anak Allah' (Bab-48,98,222), malah pengakuan Petrus bahwa 'Yesus adalah Anak Allah' dianggap dosa besar (Bab-70, bandingkan Matius 16:16). Yesus juga tidak disalib karena digantikan oleh Yudas (Bab-217) dan Yesus tidak mati maupun bangkit (Bab-221-222).
Ada anggapan bahwa Messias adalah dari keturunan Ismael (Bab-43,55). Dalam Bab-192-192, Nikodemus dikatakan menemukan kitab Musa di bait Allah dan membaca bahwa 'Ismael adalah ayah Messias' dan 'Ishak adalah ayah utusan Messias.' Jadi, Yesus dalam kitab IB seakan-akan 'Yohanes Pembaptis' bagi Muhammad, itulah sebabnya dalam kitab ini Yohanes Pembaptis tidak disebut-sebut.
Dalam IB ada  ungkapan mengenai 'kelima waktu sembahyang' dan 'Uraian mengenai Allah dan sifat-sifatnya' yang dengan jelas kita ketahui sebagai  hasil teologi Islam.
KESIMPULAN
Kitab IB menuntut sebagai kitab 'Injil Tunggal' dan mendiskreditkan ke-empat Injil kanonik. Nada kitab IB menyalahkan Alkitab (khususnya Perjanjian Baru) dan menonjolkan ajaran Islam. Namun,  kamus Islam sendiri menyebut tentang kitab ini bahwa: "Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan .... Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu." Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: "Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan "al-Masi'ah" yang Islam tidak membenarkannya. Selain ia merupakan pemikiran yang asing dalam sejarah kekeramatan, gaya bahasanya cenderung mengejek Injil, sebagaimana tulisan-tulisan Baha' al-Allah terhadap al-Quran." (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.53).
Penulis kitab IB bukanlah Barnabas dalam Alkitab Perjanjian Baru, melainkan seorang Eropah (Italia?) yang hidup pada akhir abad pertengahan yang tidak menguasai geografi Israel, dan kurang memahami adat-istiadat budaya abad pertama dimana Barnabas 'yang asli' hidup. Cara penulisan dan kertas yang digunakan menunjukkan produk abad itu, demikian juga bahasa asli kitab IB merupakan campuran dari dua dialek Italia yaitu 'Tuska & Venezia', padahal bahasa ini belum lahir pada saat Yesus hidup dan baru pada abad-XIII merupakan bahasa tulisan. Kesalahan-kesalahan dalam penulisan bahasa Itali pada kitab IB menunjukkan bahwa penulisnya mempunyai latar belakang Spanyol.
Karena itu, kitab IB ini kemungkinan dikarang oleh seorang Yahudi Spanyol yang tinggal di Italia yang pada abad pertengahan itu dipaksa masuk agama Kristen Katolik, karena itu untuk pembalasan ia berpindah ke agama Islam dan berusaha menyesuaikan kitab Injil dengan ajaran agama Yahudi (panyangkalan Yesus sebagai Messias) dan Islam (Penonjolan Muhammad). Kitab IB ini ditulis sesudah agama Islam berdiri (abad-VII) karena banyak ajaran Islam ada di dalamnya, tetapi lebih tepat diantara abad-XIII s/d XVI karena mencerminkan beberapa teologi Katolik yang lahir pada abad-abad tersebut.
Kiranya informasi ini memperjelas mengenai apa dan bagaimana sebenarnya yang disebut sebagai kitab 'Injil Barnabas' itu sehingga diskusi bisa beranjak dari kenyataan sejarah. Semoga berguna. 
Salam kasih dari Herlianto/YBA.

Injil-Injil Gnostik


Khasanah Gnostik adalah kumpulan tulisan yang dijilid (kodeks) dalam bahasa koptik yang ditemukan di Mesir di perpustakaan Chenoboskion yang lebih dikenal di lokasi Nag Hamadi di tepi sungai Nil di Mesir. Penemuan itu terjadi pada tahun 1945 dan kemudian baru pada tahun 1957 dikenal luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Perpustakaan itu berasal dari abad-3-4M dan berisi tulisan-tulisan berfaham Gnostik, sedangkan kita mengetahui bahwa faham Gnostik baru berkembang sekitar abad-2-3M di sekitar Palestina.
Dalam khasanah Gnostik di Nag Hamadi terkumpul sebanyak 13 kodeks papirus yang dijilid dengan sampul kulit (perkamen) dan seluruhnya terdiri dari 52 traktat Gnostik, termasuk 3 karya Corpus Hermeticum dan terjemahan karyaPlato ‘Republik.’ Setelah melalui berbagai tangan di pasar gelap barang antik, sebagian besar khasanah Gnostik itu akhirnya terkumpul dan disimpan di Museum Koptik di Kairo, Mesir. Dari khasanah Gnostik itu, 5 diantaranya disebut Injil, yang memuat percakapan Yesus yaitu Injil ThomasInjil FilipusInjil MariaInjil Mesir, dan Injil Kebenaran. Dari kelima Injil itu, Injil Thomas-lah yang paling terkenal karena ditemukan lengkap. Injil Thomas paling diminati para penganut Jesus Seminar dan dianggap sebagai Injil Kelima (The Five Gospels, Scribner, 1996) hingga dapat dimengerti mengapa pengikut Jesus Seminar cenderung bernafaskan Gnostik juga.
Injil Gnostik tidak ada satu pun yang sesuai dengan Injil Perjanjian Baru dari abad-1M. Ciri khas dari Injil gnostik adalah percakapan rahasia antara Yesus dengan murid-murid-Nya dimana ajaran gnostik diajarkan di dalamnya.
Khasanah atau pustaka Gnostik dimiliki komunitas Gnostik di Mesir waktu itu yang mungkin karena adanya tentangan karya tulis mereka disembunyikan. Ajaran Gnostik adalah ajaran mistik esoterik yang kemudian dipercayai secara sinkretis dengan kekristenan oleh para pengikutnya. Gnostik berasal dari bahasa yunani ‘Gnosis’ yang artinya ‘pengetahuan rahasia’ yang diungkapkan kepada manusia. Aliran gnostik menawarkan pengetahuan rahasia mengenai realita ilahi. Percikan atau benih ilahi yang baik itu jatuh dari realitas yang transenden ke dua materi yang jahat, dan terpenjara dalam tubuh manusia. Dibangunkan oleh pengetahuan rahasia, percikan api ilahi itu dapat kembali ke dunia dimana dia sebenarnya berasal yaitu dunia spiritual yang transenden.
Bagi para pengikut gnostik, ada sumber kebaikan tertinggi yang disebut pikiran Ilahi yang esa yang berada dialam spiritual diluar alam materi ini yang pada dasarnya baik. Pikiran ilahi yang lebih rendah dipancarkan keluar dari sumber itu secara bertingkat. Yang terakhir dari seri pancaran itu adalah ‘Sophia’ (hikmat) yang mengandung keinginan untuk mengetahui sumber kebaikan yang tidak diketahui itu. Keinginan ini menghasilkan bayangan ilahi yang cacat dan jahat atau ‘Demiurge’ yang diyakini sebagai yang menciptakan alam semesta. Percikan ilahi yang mendiami manusia jatuh ke alam materi untuk membebaskan kemanusiaan. Orang-orang Gnostik menganggap demiurge sebagai Yahweh Perjanjian Lama yang menciptakan langit dan bumi untuk memelihara kemanusiaan dari keinginan mereka kembali kepada sumbernya.
Graham Stanton, ahli Perjanjian Baru Inggeris merumuskan keyakinan Gnostik Kristen secara sederhana sebagai:
“dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.” (Gospel Truth? hlm.87).
Manusia sebagai keturunan Ilahi yang esa itu memiliki percikan kekuatan Ilahi itu, namun ia terkurung dalam penjara tubuh materi. Berbeda dengan kepercayaan Kristen, gnostik mengajarkan bahwa setiap orang bisa berhubungan dengan pikiran Ilahi itu dan keselamatan terletak dalam membangunkan percikan api Ilahi itu dan kembali menyatu kedalam pikiran Ilahi (pandangan mistik/kebatinan). Untuk mencapainya dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang dikalangan gnostik-kristen disebut Kristus.
Bagi Gnostik, Kristus mengajarkan ucapan-ucapan rahasia sehingga mereka yang mengerti bisa mencapai ke’Ilahi’an mereka sama seperti Kristus. Bagi mereka, Kristus, roh Yesus yang ilahi mendiami tubuh manusia Yesus, Yesus yang ilahi tidak mati disalib tetapi dinaikkan ke realita ilahi dimana Ia semula berasal, bahkan dalam Second Discourse of Seth (ca 200-230) disebutkan Yesus tidak mati disalib. Karena itu pengikut Gnostik menolak penderitaan dan kematian Yesus yang menebus manusia dan kebangkitan tubuh.
Injil Gnostik lainnya yang ditemukan kemudian di  Muhafazat El-Minya, kira-kira 300 KM disebelah utara Nag Hamadi, pada tahun 1970-an adalah Injil Yudas. Injil Yudas mulai dikenal khalayak ramai ketika pada bulan April 2006situs web National Geographic memuat liputan panjang soal Injil Yudas. Liputan mana juga difilmkan dan diputar melalui media TV, dan kemudian pada bulan berikutnya dimuat dalam versi cetak dan menjadi cover story majalah National Geographic - May 2006 dan versi Indonesianya dimuat dalam edisi National Geographic - Juni 2006.
Injil Yudas ditemukan dalam bentuk papirus diantara tahun 1950-60 dan menurut perhitungan waktu radiokarbon, papirus itu ditaksir berasal dari tahun ca 220-340, dan ada yang menyimpulkan sebagai terjemahan dari naskah asli bahasa Yunani dari tahun ca 130-180. Yang jelas, sekalipun disebut berjudul Injil Yudas, Injil itu tidak mengklaim diri sebagai ditulis oleh Yudas (Iskariot). 
Injil Yudas mulai menarik perhatian pada tahun 1970 ketika dicuri keluar Mesir dan kemudian muncul ke pasar antik Jenewa pada tahun 1983, dan mulai diperkenalkan pada konperensi Koptik di Paris pada 2004. Setahun kemudian diberitakan bahwa naskah itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis dan Jerman. Pada tahun 1999 baru diketahui sebanyak 26 halaman, kemudian berangsur-angsur dapat dikumpulkan dua-pertiga dari naskah lengkap 62 halaman itu pada awal tahun 2006. Pada bulan April 2006, National Geographic mengumumkan selesainya terjemahan Injil Yudas ke dalam bahasa Inggeris (terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dan dirilis pada tanggal 29 Juni 2006 bersama dengan buku ‘The Lost Gospel’ (Injil yang Terhilang).
Memang, dalam catatan sejarah gereja, Irenius dari Lyons pernah menyebut mengenai Injil Yudas sebagai sejarah fiktif dalam tulisannya ‘Adversus Haereses’ (180) yang kemudian dikutip oleh Origenes dalam tulisannya ‘De Stromateis (230)Pada tahun 375, Epiphanes, uskup Salamis, juga menolak Injil Yudas. Apakah Injil Yudas yang disebutkan oleh Irenius, Origenes dan Epiphanes sama dengan Injil Yudas yang baru ditemukan itu memang tidak pasti, yang jelas Irenius menyebut Injil Yudas yang disebutnya sebagai sesat karena tidak merupakan fakta sejarah dan mengandung ajaran Gnostik ini dikuatkan oleh Origenes dan Epiphanes. Bila perkiraan perhitungan waktu penulisan Injil Yudas baru itu benar, mungkin Injil Yudas itulah yang dimaksudkan oleh Irenius.
Isi dari Injil Yudas memang bersifat gnostik sama halnya dengan tulisan-tulisan yang ditemukan dalam pustaka Gnostik di Nag Hamadi. Bagi Gnostik memang kematian Yesus diatas salib sebagai penebus tidak ada artinya, itulah sebabnya dalam Injil Yudas kesan Yesus sebagai korban yang disalibkan menjadi kabur dan Yudas dijadikan pahlawan. Injil Yudas diawali kalimat berbunyi: “Isi Rahasia Wahyu yang dikatakan Yesus dalam percakapannya dengan Yudas,” dan rahasia itu juga mengungkapkan bahwa yang dimengerti para murid Yesus selama ini salah arah.
Yang jelas, isi Injil Yudas berbalikkan dengan berita Injil yang selama ini dipercayai gereja, misalnya ucapan Yesus yang mengingatkan para muridnya bahwa “mereka selama ini salah jalan.“ Dalam injil ini, Yudas digambarkan secara positif sebagai murid yang paling disukai Yesus, setia dan taat akan perintah Yesus dan bukan sebagai seseorang yang menyerahkan Yesus. Yesuslah yang menyuruh Yudas untuk menyerahkan diri Yesus. Injil ini tidak mengklaim bahwa para murid lainnya setuju dengan pemikirannya, tetapi inti Injil ini menyebutkan bahwa para murid Yesus lainnya belum mengerti Injil yang benar yang hanya diajarkan oleh Yesus secara rahasia kepada Yudas. Itulah sebabnya ada gambaran dalam ‘Injil Yudas’ bahwa ia mati karena dilempari batu oleh murid-murid lainnya. Dalam beberapa kesempatan Yesus disebutkan mengkritik para muridnya akan ketidak acuhan mereka. Kalau begitu, apakah banyak Injil Gnostik yang dianggap ditulis para murid Yesus yang lain seperti Injil Thomas juga salah arah karena penulisnya kurang mengerti gnosis sebenarnya?

Amin!

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

December 6, 2010

The Gospel of John in Arabic



Injil Tomas


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Bagian dari seri tentang
Gnostisisme
Simple crossed circle.svg
Injil Tomas, yang terlestarikan lengkap dalam sebuah manuskrip papirus berbahasa Koptik, dan ditemukan pada1945 di Nag HammadiMesir, adalah sebuah kumpulan dari 114 ucapan yang diyakini berasal dari Yesus. Sebagian dari ucapan-ucapan itu ditemukan dalam keempat Injil kanonik (Injil MatiusInjil MarkusInjil Lukas, dan Injil Yohanes), namun ucapan-ucapan yang lainnya tidak dikenal sebelum penemuan naskah ini.
Berbeda dengan keempat injil kanonik yang menggunakan laporan naratif tentang kehidupan YesusTomas mengambil bentuk yang kurang terstruktur dari kumpulan ucapan yang berasal dari Yesus, dialog-dialog singkat dengan Yesus, dan ucapan-ucapan yang dilaporkan oleh murid-muridnya kepada Didimus Yudas Tomas tanpa diletakkan dalam narasi apa pun atau disusun ke dalam konteks filosofis atau retorika yang mana pun.
Ketika teks yang lengkap ditemukan, dalam versi Koptik, disadari bahwa tiga bagian berbahasa Yunani yang terpisah dari Injil ini sudah ditemukan di Oxyrhynchus, Mesir, pada 1898. Manuskrip-manuskrip yang memuat potongan-potongan berbahasa Yunani dari Injil Tomas diperkirakan berasal dari tahun 200, dan manuskrip versi Koptik dari tahun 340. Meskipun versi Koptik ini tidak persis sama dengan fragmen-fragmen Yunani mana pun, diyakini bahwa versi Koptik ini diterjemahkan dari versi Yunani yang sudah ada sebelumnya.

Daftar isi

 [sembunyikan]


Kebingungan karena persamaan nama dengan karya-karya lain

Injil Tomas adalah karya yang berbeda dan tidak terkait dengan tulisan-tulisan apokrif atau pseudoepigrafa lainnya,Kisah Perbuatan Tomas, dan tulisan yang disebut Injil Masa Kanak-kanak Tomas, yang memperluas teks-teks kanonik untuk menggambarkan masa kanak-kanak Yesus yang ajaib. Ketika Hippolitus dan Origenes (sekitar tahun233) merujuk kepada sebuah "Injil Tomas" di antara injil-injil apokrif yang heterodoks, tidak jelas apakah yang mereka maksudkan itu adalah Injil Masa Kanak-kanak Tomas atau Injil Tomas yang berisikan "ucapan-ucapan" ini. Injil Tomas juga berbeda dengan Kitab Tomas sang Calon, sebuah teks Gnostik.
Pada abad ke-4Kiril dari Yerusalem menyebutkan tentang sebuah "Injil Tomas" dalam Kathekesis V-nya: "Jangan seorangpun membaca injil menurut Tomas, karena ini bukanlah karya salah seorang dari kedua belas rasul, melainkan karya dari ketiga murid Mani yang jahat". Sedikit sekali jejak yang tersisa dari dualisme Manikheis yang dapat ditemukan dalam Injil "ucapan-ucapan" ini, yaitu Injil Tomas, yang disepakati lebih sederhana, kurang berisikan legenda, dan sama sekali tidak ditulis sebagai sebuah dokumen sastrawi.


Papirus Oxyrhyncus yang sejajar

Sebelum penemuan perpustakaan Nag, ucapan-ucapan Yesus yang ditemukan di Oxyrhyncus dikenal semata-mata sebagai Logia Iesu. Potongan-potongan Injil Tomas dalam bahasa Yunani koine yang ditemukan di Oxyrhyncusadalah:
  • Oxyrhyncus 1 - ini adalah setengah lembaran papirus yang memuat potongan-potongan dari logion (kumpulan ucapan) 26 hingga 33.
  • Oxyrhyncus 654 - yang mengandung potongan-potongan dari permulaan sampai dengan logion 7, logion 24 dan logion 36 dalam lembaran sebaliknya dari sehelai papirus yang memuat data tinjauan.
  • Oxyrhyncus 655 - yang mengandung potongan-potongan dari logion 36 sampai dengan logion 39 dan sesungguhnya 8 fragmen yang dinamai a hinggah; namun f dan h sejak itu telah hilang.


Waktu penulisan

Saat ini ada banyak perdebatan tentang kapan teks ini disusun. Para pakar biasanya tergolong ke dalam dua kubu: kubu awal' yang mendukung waktu penulisan sekitar tahun 50-an sebelum injil-injil kanonik dan kubu belakangan yang setuju bahwa waktu penulisannya terjadi setelah injil-injil kanonik terakhir pada tahun 100-an. Di antara para sarjana kritis, kubu awal dominan di Amerika Utara, sementara kubu akhir lebih populer di Eropa (khususnya di Britania dan Jerman).


Kubu awal

Kubu awal berpendapat bahwa karena isinya umumnya bahan-bahan orisinal dan tampaknya tidak didasarkan pada injil-injil kanonik, Injil Tomas tentu telah ditulis berdasarkan suatu tradisi lisan. Karena praktik yang menganggap tradisi lisan berwibawa berakhir pada abad ke-1Injil Tomas tentunya telah ditulis sebelum masa itu, barangkali malah sekitar tahun 40. Karena tanggal ini lebih awal daripada tanggal-tanggap penulisan keempat injil yang tradisional, ada sejumlah klaim bahwa Injil Tomas adalah Injil Q—atau mempunyai kaitan dengannya. Injil Q adalah sebuah teks (atau versi lisan) teoretis yang diduga telah menyebar ke dalam bagian-bagian dari Injil Matius dan Lukas yang dikenal sekarang, dan yang dalam cara tertentu tidak menyalin dari Injil Markus.
Kubu awal berpendapat bahwa sekitar setengah bahan-bahan dalam Injil Tomas ini tidak ada paralelnya di dalam Perjanjian Baru, dan setidak-tidaknya sebagian dari bahan-bahan ini diduga dapat dikatakan berasal dari Yesus historis, seperti ucapan 41 "Jadilah orang-orang yang lewat."
Kamp awal juga mencatat bahwa Q hampir secara universal dianggap oleh para pakar Alkitab sebagai penjelasan yang paling hemat untuk masalah sinoptik dan secara luas dianggap sebagai teks tertulis ajaran-ajaran Yesus yang paling tua. Menurut hipotesis, Q hadir dalam 3 strata, yang disebut Q1, Q2, dan Q3; bahan-bahan apokaliptik tergolong dalam Q2 dan Q3. Para pakar Alkitab telah mengidentifikasikan 37 ucapan yang bertumpang tindih antara Tomas dan Q, yang kesemuanya diduga berada dalam Q1 atau Q2, dan tak satupun dari ucapan-ucapan ini mencakup bahan-bahan apokaliptik Q3 yang berasal dari masa yang belakangan. Karena itu, Tomas tidak atau sedikit sekali memperlihatkan pengetahuan tentang adanya Q3, tidak memuatnya atau tidak menyadari kehadiran Q3. Lapisan-lapisan Q1 dan Q2 diduga berasal dari waktu yang lebih awal dari keempat Injil. Karena itu, Injil tomas diduga berasal dari waktu yang lebih awal.
Argumen sentral dari Elaine Pagels dalam bukunya Beyond Belief (2003) ialah bahwa tampaknya ada konflik antara Injil Yohanes dengan Injil Tomas.Menurut Pagels, yang adalah Profesor Agama Harrington Spear Paine di Universitas Princeton, ayat-ayat tertentu dalam Injil Yohanes hanya dapat dipahami dalam terang ucapan-ucapan, gagasan, tradisi, keyakinan filosofis, dan komunitas, yang mirip dengan Tomas, entah secara tepat atau tidak direpresentasikan di dalam Injil Tomas yang kita kenal sekarang. Contoh yang paling terkenal dalam Injil Yohanes adalah tentang "Tomas yang peragu," yang ditafsirkan Pagels sebagai bantahan terhadap komunitas Tomas. Dalam Yohanes, Tomas yang peragu digambarkan menyentuh Yesus, mengakui hakikat jasmaninya. Gambaran ini berlawanan dengan doketisme kelompok-kelompok gnostik. Penafsiran Pagels tentang Yohanes secara logis mensyaratkan bahwa gagasan-gagasan seperti Tomas atau suatu komunitas yang mirip dengannya, bila tidak kehadiran Injil Tomas yang kita kenal sekarang, sudah ada ketika Injil Yohanes ditulis. Sebuah evaluasi yang tidak simpatik terhadap buku Pagels dapat ditemukan di sini.
Sebuah argumen lain yang mendukung kubu yang awal ialah bahwa ada tumpang tindih antara surat-surat Paulus dan Injil Tomas. Kumpulan surat-surat Paulus yang otentik, yang mencakup 1 KorintusGalatia, dan Filipi secara universal dianggap oleh para ahli Alkitab berasal dari waktu yang lebih awal daripada Injil-injil Kanonik (MarkusMatiusLukas, dan Yohanes). Ada bagian-bagian yang bertumpang tindih di dalam Paulus dan Tomas, yang tidak ditemukan dalam Injil-injil kanonik, (ataupun dipersaksikan oleh keduanya), dan karena itu Tomas mungkin telah meminjam dari suatu kumpulan ucapan bersama yang juga dimanfaatkan oleh Injil-injil kanonik dan oleh Tomas. Menurut teori ini, Paulus memanfaatkan ucapan-ucapan yang secara luas diakui berasal dari Yesus, dan sebagian daripadanya secara unik dilestarikan dalam Injil Tomas.
Kubu awal berpendapat bahwa bila Tomas mengenal Perjanjian Baru, termasuk surat-surat Paulus, dan bila Tomas dianggap memperlihatkan kecenderungan-kecenderungan gnostik, maka sungguh mengejutkan bahwa ia tidak mengambil kesempatan untuk mencantumkan banyak ayat yang akan mendukung teologi "gnostik" seperti itu, yang hadir dalam Perjanjian Baru yang kanonik, seperti misalnya Yohanes 8:58 ""Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Injil Tomas memang mencantumkan banyak sekali bahan yang tidak ditemukan kesejajarannya di dalam Perjanjian Baru. Namun Injil ini tidak memiliki istilah-istilah yang khas dari Gnostisisme abad ke-2 seperti misalnya archonpleromaaeon,demiurgos yang akan diharapkan muncul dari suatu produk dari Gnostisisme historis: hal ini dianggap oleh sebagian ahli sebagai sebuah bukti lainnya yang mendukung waktu penulisan yang lebih awal.


Kubu belakangan

Sebaliknya, kubu yang belakangan berpendapat bahwa Tomas ditulis pada suatu masa setelah tahun 100, umumnya pada awal dan pertengahan abad ke-2, namun segelintir orang berpendapat bahwa Tomas bergantung pada Diatessaron yang disusun tak lama setelah tahun 172. Karena potongan-potongan Injil Tomas yang berbahasa Yunani ditemukan di Mesir biasanya dianggap ditulis antara 140 dan 200, posisi yang sangat terlambat, pasca-Diatessaron tetap merupakan posisi minoritas kecil, bahkan di kalangan kubu yang belakangan.
Argumen utama yang diajukan oleh kubu yang belakangan adalah argumen dari redaksi. Dalam solusi yang paling umum diterima terhadap masalah Sinoptik, Matius dan Lukas sama-sama memanfaatkan Markus, ditambah lagi suatu kumpulan ucapan yang kini hilang, yang disebut Q, untuk menyusun injil=injil mereka. Kadang-kadang Matius dan Lukas memodifikasi kata-kata dari sumber mereka, (Markus (atau Q), dan teks yang telah dimodifikasi itu dikenal sebagai “redaksi.” Lawan-lawan dari kubu yang belakangan berpendapat bahwa sebagian dari redaksi yang sekunder yang diciptakan oleh Matius dan Lukas muncul di dalam Tomas, yang berarti bahwa Tomas ditulis setelah Matius dan Lukas selesai disusun. Karena Matius dan Lukas pada umumnya diduga disusun antara tahun 80-an dan 90-an, Tomas tentunya disusun belakangan dari kedua waktu itu.
Para anggota dari kubu awal menjawab argumen ini dengan mengatakan bahwa para penulis paad abad ke-2 mungkin adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas penyuntingan Sinoptik yang kini hadir di dalam manuskrip-manuskrip Tomas yang ada di tangan kita , bukan para pengarangnya yang asli. Namun kedua kubu ini sepakat bahwa alur teks ini pada abad ke-2 membuat penetapan waktu penulisan Tomas sangat sulit.
Sebuah argumen yang terkait ialah bahwa Matius dan Lukas masing-masing secara independen menggabungkan tradisi-tradisi local mereka sendiri ke dalam Injil-injil mereka, selain daripada tradisi yang mereka peroleh dari Markus dan Q. Tradisi-tradisi local ini biasanya dikenal sebagai Sondergut ataubahan khusus. Kubu yang belakangan mencatat bahwa parallel Tomas tidak hanya memiliki bahan yang sama dengan Injil-injil Synoptik, tetapi juga bahan khusus yang ditemukan dalam masing-masing Injil mereka. Kubu yang belakangan menyimpulkan bahwa mengakses kumpulan bahan yang berbeda-beda ini, termasuk tradisi-tradisi lokal, akan jauh lebih mudah setelah Injil-injil kanonik beredar daripada sebelumnya. Mereka yang percaya bahwa Tomas ditulis pada masa yang belakangan juga mempertanyakan apa yang kelihatannya sebagai asumsi dari mereka yang tergabung dalam kubu awal bahwa bahan-bahan "ucapan-ucapan" pastilah lebih tua daripada Injil-injil yang lengkap, yang mencakup narasi.
Argumen besar terakhir yang mendukung bahwa Tomas ditulis belakangan daripada Perjanjian Baru didasarkan pada analisisi Sejarah Agama-agama. Secara khusus dikatakan bahwa Gnostisisme adalah suatu perkembangan yang belakangan, sementara Kekristenan yang paling awal, seperti yang terbukti dalam surat-surat Paulus, lebih bersifat Yahudi daripada non-Yahudi dan terpusat pada kematian dan kebangkitan Yesus lebih daripada kata-katanya. Dalam hubungan ini, dilihat bahwa Yesus dalam Injil Tomas tidak begitu kelihatan Yahudi, dan bahwa bentuknya yang sekarang mencerminkan karya-karya dari pemikiran Gnostik abada ke-2, seperti misalnya penolakan terhadap dunia fisik dan kaum perempuan (lih. Tomas 114). Harus dicatat pula bahwa Injil Yohanes penuh dengan pernyataan-pernyataan yang berisi penolakan terhadap dunia fisik (lih. Yohanes 6:63), dan keempat Injil menyatakan "dunia ini" adalah kepunyaan "iblis". Graham Stanton, (The Gospels and Jesus 2002, p. 129) menemukan di dalam Tomas suatu dokumen Gnostik: "menyingkirkan lapisan Gnostik tidak akan pernah mudah."
Kubu awal, sebaliknya, membantah dengan megnatakan bahwa Tomas mencerminkan sedikit sekali atau bahkan sama sekali tidak mencerminkan gnostisisme Valentinian seperti yang ditemukan dalam banyak teks lainnya di tempat penyimpanan manuskrip yang ditemukan di Nag Hammadi. Malah, sebagian orang menunjukkan bahwa tidak semua teks Nag Hammadi itu bersifat gnostik; misalnya, salah satu teks itu adalah sebuah parafrase dariRepublik, karangan Plato yang muncul lebih awal beberapa abad sebelum gnostisisme. Juga dicatat bahwa gnostisisme adalah suatu system keyakinan yang berubah-ubah yang mengandung baik unsur-unsur lama maupun baru, dan bahwa bahan yang diidentifikasikan sebagai "gnostik" dalam Tomas mungkin sekali merupakan sesuatu yang baru pada tahun 50. Sementara tentang fokus pada salib yang tidak dimiliki Tomas, para penentu tanggal yang lebih awal berpendapat bahwa Tomas tergolong pada suatu bentuk awal Kekristenan, yang dicontohkan oleh Q, yang memusatkan perhatian pada ucapan-ucapan dari ajaran-ajaran Yesus. Namun bila orang merasa skeptik terhadap Q, seperti sejumlah pakar terkemuka di Britania (lih. hipotesis Farrer), argumen ini tidak begitu meyakinkan.


Tuduhan seksisme dan Ucapan 114

114. Simon Petrus berkata kepada mereka, "Suruh Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak pantas mendapatkan kehidupan." Yesus berkata, "Lihatlah, aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki, sehingga ia pun dapat menjadi roh yang hidup seperti kalian laki-laki. Karena setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."
Dalam Ucapan 114 dari Injil Tomas, Petrus, yang mewakili pandangan yang ortodoks, meminta Yesus untuk menyuruh Maria Magdalena pergi, karena perempuan pada umumnya tidak layak menerima ajaran-ajaran rohani. Yesus menolak permintaan Petrus, dan menyatakan bahwa kaum perempuan yang mengubah dirinya seperti laki-laki layak mendapatkan ajaran-ajaran rohani.
Dalam buku Lee Strobel, The Case for Christ, sebuah karya apologetik Injili, salah seorang dari apologet membuat klaim bahwa Ucapan 114 dalam Injil Tomas menggambarkan Yesus yang menolak kaum perempuan, dan karenanya, bersifat apokrif. Namun demikian, harus diingat bahwa yang digambarkan mengatakan bahwa kaum perempuan tidak layak adalah Petrus, bukan Yesus, dan bahwa Yesuslah yang menegaskan bahwa Maria Magdalena, seorang perempuan, mempunyai hak untuk menerima ajaran-ajaran rohani. Penemuan sifat seksis di balik icapan ini harus ditemukan tanpa acuan kepada pemahaman-pemahaman 'modern' tentang istilah ini, melainkan lebih dalam konteks linguistik dari Palestina abad pertama, dimana gemanya akan terdengar lebih inklusif. Betapa pun juga, pemahaman seperti itu akan lebih sesuai dengan sikap yang ditunjukkan kepada kaum perempuan dalam bagian-bagian lain dari teks ini. Injil Tomas jelas mengakui bahwa Yesus mempunyai rasul-rasul perempuan, termasuk Maria Magdalena dan Salome, sementara semua Injil yang 'kanonik' mengakui kaum perempuan hanya sebagai murid. Inovasi pada pihak Tomas ini dapat dipergunakan untuk memperdebatkan tanggal penulisan yang sangat awal atau sangat belakangan (lih. Injil FilipusInjil Maria Magdalena).
Dapat dicatat bahwa, dalam konteks Platonik, 'laki-laki' dan 'perempuan' mempunyai makna filosofis yang khas, masing-masing berarti 'bentuk' dan 'isi'. Dengan demikian sifat kelaki-lakian sebuah obyek sama dengan aturan-aturan yang memerintah komposisi formalnya, sementara sifat keperempuanannya adalahadalah materi yang lebih rendah daripada yang membentuknya. Konsepsi filosofis ini berasal dari konsepsi Platonis tentang perkembangan fetus manusia; di sini sperma laki-laki dianggap mengandung komponen formal dari apa yang kelak menjadi embrio manusia , sementara perempuan menyumbangkan substrata materialnya di dalam kandungan. Jadi, dengan makna ini, proses menjadi 'laki-laki' sama dengan pemujaan Platonik terhadapBentuk; Jadi, dalam pengertian yang dekat dengan terminologi Platonik (yang tentuya lebih luas tersebar pada zaman kuno), pernyataan Yesus akan menciptakan suatu pemahaman tentang peningkatan rohani dan janji untuk lebih disempurnakan. Pengaruh-pengaruh Platonik terhadap gnostisisme dapat ditemukan di tempat-tempat lain, misalnya dalam konsepsi yang lazim tentang demiurgos.

[sunting]Injil Tomas dan kanon Perjanjian Baru

Kenyataan bahwa Injil Tomas tampaknya tidak pernah dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru dipandang sebagian orang sebagai petunjuk bahwa kitab ini berasal dari waktu yang belakangan — bila memang kitab ini ditulis oleh rasul Tomas, demikian pendapat mereka, argue, tentu setidak-tidaknya kitab ini telah dipertimbangkan dengan serius pada abad segera setelah kematian Yesus. Pandangan ini lebih populer di antara orang-orang Kristen yang menerima kanon Perjanjian Baru yang diilhamkan secara ilahi sebagai pernyataan iman mereka — khususnya mereka yang menganggap dirinya orang Kristen yang fundamentalis atau evangelikal.
Reaksi yang keras dan meluas terhadap kanon Marcion, kanon Perjanjian Baru pertama yang diketahui pernah diciptakan, mungkin memperlihatkan bahwa pada 140 M., telah diterima secara luas bahwa teks-teks yang lain merupakan bagian dari catatan mengenai kehidupan dan pelayanan Yesus.
Meskipun argumen-argumen mengenai sejumlah kitab yang berpotensi masuk ke dalam Perjanjian Baru, seperti misalnya Gembala dari Hermas dan Kitab Wahyu, berlanjut terus hingga abad ke-4 M., empat Injil kanonik, yang diyakini berasal dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, secara universal diterima di antara orang-orang Kristen ortodoks sekurang-kurangnya sejak pertengahan abad ke-2. Karya Diatessaron Tatian yang luas digunakan, dan disusun antara 160 dan 175 M., memanfaatken keempat Injil tanpa mempertimbangkan kitab-kitab yang lainnya. Irenaeus dari Lyons menulis pada akhir abad ke-2 M. bahwa karena ada empat penjuru bumi, … sungguh tepatlah bila Gereja mempunyai empat tiang, … keempat Kitab Injil (Melawan Ajaran-ajaran Sesat, 3:1), dan tak lama kemudian membuat kutipan pertama yang diketahui dari Injil yang keempat – versi kanonik dari Injil Yohanes. Fragmen Muratoria dari akhir abad ke-2 M. juga mengakui hanya ketiga Injil Sinoptik dan Yohanes. Pakar Alkitab Bruce Metzger menulis mengenai pembentukan kanon Perjanjian Baru, "Meskipun batas-batas pinggir dari kanon yang sedang muncul itu belum ditetapkan selama beberapa generasi, terdapat kesepakatan yang tinggi mengenai bagian terbesar dari Perjanjian Baru di antara begitu banyak jemaat orang percaya yang sangat beraneka ragam dan tersebar di mana-mana, bukan hanya di seluruh dunia Laut Tengah tetapi juga meluas hingga mencakup wilayah yang merentang dari Britania hingga ke Mesopotamia."
Perlu dicatat bahwa informasi tentang Yesus historis saja bukanlah satu-satunya kriteria untuk menerima sebuah kitab ke dalam kanon Perjanjian Baru. Para penyusun kanon memilih untuk memasukkan banyak itab yang tidak memuat informasi tentang Yesus historis ataupun ajaran-ajaran dari Yesus historis, seperti misalnya Surat-surat dan Kitab Wahyu.
Injil Tomas mungkin tidak dimasukkan ke dalam kanon Perjanjian Baru karena:
  • Isinya dianggap sesat.
  • Dianggap tidak otentik.
  • Tidak dikenal oleh para penyusun Kanon.
  • Dianggap dikalahkan oleh Injil-injil Naratif.
  • Tergolong dalam suatu cabang kekristenan yang berada di luar lingkaran Atanasius dari Alexandria yang menang.
  • Penekanannya pada spiritualitas pribadi di luar Gereja dianggap anatema bagi kepentingan agama yang terorganisasi.


Filsafat Injil Tomas

Injil Tomas bersifat mistik — Injil ini menekankan pengalaman yang langsung, tanpa perantara, dengan Yang Ilahi. Yesus digambarkan sebagai seorangmistagog, seorang guru misteri ilahi, meskipun tidak pernah sebagai "Juru Selamat" seperti dalam Injil Yohanes. Sementara penekanan dalam Yohanes seimbang antara mujizat-mujizatnya dan kata-katanya, penekanan dalam Injil Tomas semata-mata pada kata-kata Yesus. Penemuan akan penafsiran mengenai kata-kata inilah yang menghasilkan pencerahan. Injil Tomas mencatat hal ini sebagai salah satu dari ucapan-ucapan Yesus: "Ia yang menemukan penafsiran-penafsiran dari ajaran-ajaran rahasia ini tidak akan merasakan kematian" — dan kerahasiaan inilah yang merupakan kontras yang sangat tajam dengan semua ajaran dan Kanon gereja. Temanya menemukan kesejajaran dalam Yohanes, meskipun maksudnya adalah menyerangnya; dengan demikian, dalam Yohanes, keselamatan dipahami sebagai keselamatan dari Hukuman Kekal, dan tidak tergantung pada rahasia apa pun.
Berbeda dengan Yohanes, yang membedakan ketidakpercayaan dengan kepercayaan kepada Yesus sebagai Juru Selamat, Injil Tomas mempunyai premis keselamatan yang tergantung pada suatu pemahaman yang tercerahkan tentang identitas sejati si pendengarnya — suatu gambaran tentang si pendengar sebagai ilahi. Apabila ucapan-ucapan itu paralel dengan apa yang ditemukan dalam Matius dan Lukas, yaitu ucapan-ucapan di dalam Q, mereka ditempatkan tanpa konteks yang lebih dikenal. Bila dibiarkan dengan cara ini, maka ucapan-ucapan itu tampaknya penuh dengan gnosismeskipun tak satupun dari aparatus dari Gnostisisme yang telah berkembang, seperti dalam Pistis Sophia, dapat ditemukan.
Injil Yohanes menekankan Yesus sebagai "anak tunggal" Bapa (Yohanes 1:3), dan dengan demikian memberikan kepada Yesus status yang unik di antara manusia. Dalam Injil Tomas Yesus digambarkan mengatakan bahwa "Kerajaan Bapa menyebar di muka bumi, dan manusia tidak melihatnya." Hal ini pun dapat ditafsirkan sebagai upaya Yesus untuk menghadirkan pencerahan melalui ajaran-ajarannya bahwa keberadaan manusia bukanlah terutama materi melainkan lebih merupakan keberadaan rohani — dengan demikian klaimnya tentang keilahiannya sendiri menyiratkan bahwa "keilahian" ini tidaklah terbatas kepada dirinya saja, melainkan menjadi milik dari siapa pun yang telah dilahirkan kembali secara rohani. Di sini kembali kita menemukan kontras yang sangat jelas dengan Kekristenan kanonik.
Elaine Pagels berpendapat dalam Beyond Belief bahwa, meskipun alur Kekristenan ini telah mati, banyak mistik Kristen yang besar secara independen mengambil gagasan-gagasan yang serupa dengan Tomas, dari Meister Eckhart hingga Teresa dari Avila hingga Santo Yohanes dari Salib. Sebaliknya, para sarjana Kristen arus utama, berusaha membuat pembedaan yang jelas antara gagasan-gagasan dasar dari para mistik Kristen ini dan pengarang Injil Tomas.

[sunting]Pentingnya Injil Tomas dan penulisnya

Betapapun juga Injil Tomas adalah salah satu laporan paling awal tentang pengajaran Yesus di luar Injil-injil yang kanonik dan karena itu dianggap sebagai teks yang berharga. Sebagian orang mengatakan bahwa Injil ini tidak menyebut-nyebut masalah kebangkitan Yesus, suatu pokok penting bagi iman orangKristen. Namun demikian, suatu pandangan minoritas menafsirkan bahwa kata-kata pembukaan kitab ini, “Ini adalah ucapan-ucapan rahasia yang diucapkan oleh Yesus yang hidup dan yang dituliskan oleh Didimos Yudas Tomas " (terjemahan Nag Hammadi Library, 2d. edition, ISBN 0-06-066935-7) berarti bahwa ucapan-ucapan itu disajikan sebagai pengajaran Yesus Kristus setelah kebangkitan, seperti yang terlihat dari penggunaan istilah "yang hidup." Ayat terakhir kitab ini, yang menyentak banyak penafsir sebagai tambahan pada suatu masa yang belakangan, mungkin mencerminkan suatu sikap yang memusuhi perempuan (misogini) yang umum, yang sesungguhnya tidak ditemukan di bagian-bagian lain dari teks ini, yang juga merujuk kepada “kehidupan” dalam pengertian satu-satunya, yaitu “kehidupan yang kekal”.
114. Simon Petrus berkata kepada mereka, "Suruh Maria meninggalkan kita, karena perempuan tidak pantas mendapatkan kehidupan." Yesus berkata, "Lihatlah, aku akan membimbingnya untuk menjadikannya laki-laki, sehingga ia pun dapat menjadi roh yang hidup seperti kalian laki-laki. Karena setiap perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Surga."
Sebagian ahli menganggap Injil ini sebagai sebuah teks gnostik, karena ditemukan di sebuah perpustakaan yang terutama sekali memuat teks-teks Gnostik. Yang lainnya menolak penafsiran ini, karena Tomas tidak memiliki mitologi Gnostisisme yang penuh seperti yang digambarkan oleh Irenaeus dari Lyons, sekitar tahun 185 atau yang diakui oleh keilmuan modern. Para sarjana yang lainnya lagi melihat peredaksian yang semakin lama bersifat semakin Gnostik bila mereka membandingkan ucapan-ucapan dalam Perjanjian Baru dengan ucapan-ucapan yang parallel dalam versi bahasa Yunani dari Injil Tomas (sekitar 200), dan ucapan-ucapan di dalam versi Koptik (sekitar 340). Tak satupun kelompok besar Kristen yang menerima Injil ini sebagai kanonik atau berwibawa.
Injil ini jelas ditulis dari sudut pandang Didimus Yudas Tomas, salah seorang dari kedua belas murid Yesus (yang muncul dalam Injil Yohanes sebagai "Tomas si peragu"). Injil ini mengklaim bahwa penyataan-penyataan dan perumpamaan-perumpamaan khusus (yang dicatat di dalam teks ini) dibuat hanya untuk Tomas. Namun, Injil ini adalah sebuah kumpulan dari ucapan-ucapan dan perumpamaan-perumpamaan, yang tidak mengandung kisah naratif dari kehidupan Yesus, yang dimuat oleh keempat Injil kanonik.
Injil ini penting bagi para sarjana yang meneliti Injil Q, yang, seperti Tomas, diyakini sebagai kumpulan dari ucapan-ucapan atau ajaran-ajaran Yesus. Meskipun tidak ada satu salinan pun dari Q yang pernah ditemukan, kenyataan bahwa Tomas adalah sebuah Injil yang berisi ucapan-ucapan Yesus, oleh sebagian orang dipahami sebagai petunjuk bahwa seorang Kristen perdana memang menulis kumpulan dari ucapan-ucapan Yesus, dan dengan demikian mereka merasa bahwa Injil Tomas membuat teori Q semakin dapat dipercaya.


Injil Tomas dan Yesus historis

Para pakar modern menggunakan tiga criteria untuk menetapkan apakah yang mungkin telah diajarkan oleh Yesus yang historis: banyak kesaksian, perbedaan, dan kredibilitas kontekstual. Banyak sarjana modern yakin bahwa Injil Tomas ditulis secara independen dari Perjanjian Baru, dan karena itu merupakan pembimbing yang bermanfaat bagi penelitian Yesus yang historis.
Dengan menemukan ucapan-ucapan dalam Injil Tomas yang bertumpang tindih dengan Q, Markus, Matius, Lukas, Yohanes dan Paulus, para pakar merasa bahwa ucapan-ucapan itu mewakili “banyak kesaksian” dan karenanya kemungkinan besar berasal dari Yesus yang historis, daripada ucapan-ucapan yang hanya dipersaksikan sekali saja, seperti halnya kebanyakan bahan dalam Yohanes.
Injil Tomas juga telah digunakan oleh para teoris mitisis Kristus, seperti misalnya Earl Doherty, penulis The Jesus Puzzle, dan Timothy Freke, penulisThe Jesus Mysteries, bahwa kekristenan tidak berawal pada Yesus historis, melainkan sebagai suatu adaptasi Yahudi terhadap agama-agama misteriYunani. Kumpulan ajaran yang dihubungkan dengan Yesus mewakili bagian inisiasi ke dalam rahasia-rahasia dari agama mereka.
Injil Tomas dianggap oleh beberapa individu sebagai satu penemuan yang paling penting dalam memahami Kekristenan perdana di luar Perjanjian Baru. Kitab ini memberikan kesaksian tentang kepelbagaian yang luar biasa di dalam Kekristenan perdana, dan pemahaman-pemahaman yang sangat berbeda tentang Yesus. Kitab ini juga menjadi jendela ke dalam pandangan dunia dari budaya kuno ini dan jendela ke dalam perdebatan-perdebatan serta pergumulan-pergumulan di kalangan Kekristenan perdana, dan hubungan serta perpecahannya dengan Yudaisme.

[sunting]Perbedaan antara berbagai terjemahan

Dalam menerjemahkan teks-teks kuno, seringkali makna katanya diungkapkan hanya secara ringkas, dan, setelah diterjemahkan, harus ditransliterasikan agar maknanya dapat dipahami. Inilah yang terjadi dengan semua terjemahan, karena masing-masing mengungkapkan keterbatasn dan perubahan bahasa, dalam tugas-tugas yang menyimpang; karena cukup deskriptif, dan karena mudah digunakan dalam bahasa biasa. Dalam Injil Tomas, logion 66 adaalh sebuah contoh terkenal tetnang bagaimana terjemahan seringkali berbeda secara tersamar dalam transliterasinya yang sebenarnya.
66Yesus berkata, "Perlihatkanlah kepada-Ku batu yang dibuang oleh para tukang bangunan: yaitu batu utama (keystone)." (Dari Scholars Translation - Stephen Patterson and Marvin Meyer.)
Bandingkanlah terjemahan di atas dengan penafsiran di bawah:
66Yesus berkata, "Ajarilah Aku mengenai batu ini yang dibuang oleh para tukang bangunan; inilah batu penjuru (corner stone)." (Edisi Brill.)
Penggunaan kata "batu penjuru", dalam edisi Brill edition, tidak akurat untuk makna ini, dan kata yang tepat adalah "batu utama" (keystone), seperti dalam terjemahan Patterson-Meyer. Untuk memahami perbedaannya, kita harus memikirkan sepenuhnya perumpamaan ini serta maksudnya. Seperti dalam semua perumpamaan Kristen, makna yang lebih dalam mencerminkan sebuah kisah moral. Dalam hal ini, maknanya diperoleh dengan membandingkan pembangunan sebuah gapura:
Dalam memilih bat-batu untuk gapura, batu-batu yang paling aneh bentuknya, yang tidak berguna, ditolak, dan dibuang. Para tukang bangunan memilih batu penjuru terlebih dulu; batu-batu itu harus kuat, berbentuk persegi empat dan harus berfungsi baik sebagai fondasi. Sementara masing-masing tiang yang terpisah dibangun hingga ke atas, batu-batu dipilih karena bentuknya yang sedikit melengkung, untuk mempertemukan puncak tiang-tiangnya.
Akhirnya, batu utama harus dipilih. Batu ini harus mempunyai sudut yang sangat tajam untuk memungkinkan sifat-sifat dari kedua belah gapura itu: Menurut perumpamaan Yesus, inilah batu yang pertama-tama ditolak, berdasarkan perhitungan pertama para tukang bangunan, dan baru setelah semua batu yang lain telah dipasang, maka batu utama ini akan kelihatan manfaatnnya.


Perbandingan Injil Tomas dengan Perjanjian Baru

Injil Tomas tidak menyapa Yesus sebagai "Kristus" atau "Tuhan" seperti dalam Perjanjian Baru, melainkan semata-mata dengan namanya, "Yesus." Injil Tomas juga tidak menyebut-nyebut doktrin-doktrin Kristen yang klasik seperti SetaniblisKedatangan yang kedua kalidosa, atau tanda-tanda. Namun demikian, Injil ini memuat sejumlah perumpamaan yang serupa dengan apa yang ditemukan dalam Injil-injil kanonik yang mengandung tema-tema termasuk neraka, hukuman kekal, surgaKerajaan Allahmujizat (perintah Yesus kepada para pengikutnya untuk menyembuhkan orang lain), dankeselamatan.
Injil Tomas tidak memuat daftar keduabelas rasul, meskipun memang disebutkan nama Yakobus yang Adil secara khusus ("Di mana pun engkau berada engkau harus pergi kepada Yakobus yang Adil, karena demi dialah langit dan bumi diciptakan"); Simon PetrusMatiusTomas, yang dipanggil khusus dan menerima tiga pokok penyataan; Maria; dan Salome. Meskipun Maria Magdalena dan Salome disebutkan di antara murid-murid, Injil-injil kanonik dan “Kisah” hanya menyebutkan nama laki-laki, dan membuat pembedaan antara “murid-murid” dan kelompok “murid” yang dua belas orang— suatu istilah bahasa Yunani yang tidak muncul dalam Tomas — dengan berbagai daftar nama yang membuat keduabelas orang itu kanonik. Meskipun Yakobus yang Adil sering disebut-sebut secara positif, yang biasanya dianggap sebagai orang Kristen yang “pro-sunat”, Injil Tomas pun menolak sunat.
Murid-muridnya berkata kepadanya, "Apakah sunat itu bermanfaat atau tidak?" Ia menjawab mereka, "Bila bermanfaat, ayah mereka tentu sudah menghasilkan anak-anak yang sudah disunat dari ibu mereka. Sebaliknya, sunat yang sejati di dalam roh itulah yang bermanfaat dalam segala hal."
Bandingkan dengan Tomas 8 SV
8Dan Yesus berkata, "Orang itu bagaikan seorang nelayan yang bijaksana yang menebarkan jalanya ke laut dan menariknya kembali dari laut penuh dengan ikan-ikan kecil. Di antara mereka si nelayan yang bijaksana ini menemukan seekor ikan yang bagus dan besar. Ia melemparkan semua ikan kecil itu kembali ke laut, dan dengan mudah memilih ikan yang besar. Barangsiapa mempunyai dua telinga yang baik hendaklah ia mendengarkan! "
dengan Matius 13:47-50
47"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. 48Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.49Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 50lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."
Perhatikan bahwa Tomas membedakan antara ikan-ikan yang besar dan kecil, sementara Matius membedakan antara ikan-ikan yang baik dan yang tidak baik. Lebih jauh, versi Tomas hanya menyebutkan seekor ikan yang tinggal, sementara versi Matius menyiratkan banyak ikan yang baik yang tersisa.
Cara masing-masing Injil menutup perumpamaan ini mengandung pelajaran. Versi Tomas mengundang pembaca untuk menarik kesimpulannya sendiri tentang apa yang dikatakan oleh perumpamaan itu, sementara Matius memberikan penjelasan yang menghubungkan teks itu dengan akhir zaman yang bersifat apokaliptik.
Sebuah contoh yang lain adalah perumpamaan tentang domba yang hilang, yang terdapat paralelnya dalam Matius, Lukas, Yohanes, dan Tomas.
Inilah perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Matius 18:12-14
12"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."
Inilah perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Lukas 15:3-7
3Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4"Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Dan berikut ini adalah perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Tomas 107 SV
107Yesus berkata, "Kerajaan itu adalah bagaikan seorang gembala yang mempunyai seratus ekor domba. Seekor di antaranya, yang terbesar, tersesat. Ia meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor dan mencari yang seekor itu hingga ia menemukannya. Setelah berusaha keras, ia mengatakan kepada domba itu, Aku mengasihi engkau lebih daripada yang sembilan puluh sembilan."
Ini adalah perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Yohanes 10:1-18
1"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.4Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.5Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. :7Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.
14Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

[sunting]Pakar Injil Tomas

Berikut ini adalah daftar para sarjana atau intelektual yang telah menulis karya-karya ilmiah penting dalam studi Injil Tomas atau yang pernah menulis tafsiran tentang Injil ini.

[sunting]Seminar Yesus

Injil Tomas adalah satu di antara Lima Injil yang digunakan oleh Seminar Yesus dalam upayanya menemukan ucapan-ucapan otentik Yesus. Seminar ini memberikan warta Merah kepada ucapan-ucapan yang dianggap sepenuhnya otentik dan Merah Jambu kepada ucapan-ucapan yang diyakini kemungkinan sekali telah diucapkan oleh Yesus.
Ucapan-ucapan dalam Injil Tomas diwarnai Merah oleh Seminar Yesus, dengan persentase dari para pakar Seminar yang memeringkatnya, adalah: 54 (90%), 100:2b-3 (82%), 20:2-4 (76%), 96:1-2 (65%), 69:2 (53%).
Ucapan-ucapan dalam Injil Tomas diwarnai Merah Jambu oleh Seminar Yesus, dengan persentase dari para pakar Seminar yang memeringkatnya, adalah: 36 (75%), 31:1 (74%), 45:1a (69%), 64:1-11 (69%), 36:2 (68%), 76:1-2 (68%), 86 (67%), 14:5 (67%), 39:3 (67%), 47:2 (65%), 98 (65%), 95 (65%), 33:2-3 (63%), 65:1-7 (61%), 62:2 (60%), 26 (60%), 63:1-3 (60%), 113:2-4 (59%), 35 (59%), 5:2 (57%), 89 (57%), 109 (54%), 32 (54%), 97 (53%), 10 (52%), 47:4 (52%), 9 (52%), 99:2 (52%), 78:1-2 (51%), 94 (51%), 2:1 (51%), 47:3(51%), 41 (51%), 14:4a (51%), 6 (50%), 55:1-2a (49%), 107 (48%), 21:9 (46%), 4:2 (45%).


Budaya populer

Plot dalam film Hollywood tahun 1999 Stigmata berkisar sekitar upaya untuk menutup-nutupi Injil Tomas oleh Gereja Katolik Roma, karena ajarannya tentang imanensi Allah sangat mengancam hierarkhi Gereja.


Rujukan

  • Guillaumont, Antoine Jean Baptiste, Henri-Charles Puech, G. Quispel, Walter Curt Till, and Yassah ˁAbd al-Masīh, eds. 1959. Evangelium nach Thomas. Leiden: E. J. Brill Standard edition of the Coptic text
  • Pagels, Elaine, 2003. Beyond Belief : The Secret Gospel of Thomas (New York: Random House)


Pranala luar