April 17, 2011

Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani?

sumber: http://gkipi.org/persepuluhan-kewajiban-atau-disiplin-rohani/ 


Persepuluhan: Kewajiban atau Disiplin Rohani?

There are three conversions necessary:
the conversion of the heart, mind, and the purse.
- Martin Luther
Banyak anggota jemaat yang mengalami kebingungan dalam hal persepuluhan. Mereka kerap mendengar dari banyak orang Kristen dari denominasi lain bahwa persepuluhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dipatuhi oleh semua orang Kristen, karena mereka sudah diberkati atau supaya mereka diberkati. Di lain pihak, GKI ternyata tidak mewajibkannya. Lalu, bagaimana harus menyikapinya?
Persepuluhan di dalam Perjanjian Lama
Mereka yang mendesakkan persepuluhan sebagai keharusan hampir selalu memakai Maleakhi 3:10 sebagai dasar alkitabiahnya: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Sejak awal perlulah saya menegaskan bahwa pendekatan alkitabiah tidak sama dengan pendekatan ayatiah. Pendekatan ayatiah biasanya sekadar mencomot ayat-ayat favorit dan menarik darinya sebuah kesimpulan umum. Sedang pendekatan alkitabiah lebih peduli pada pesan utama keseluruhan Alkitab tentang sebuah subjek (persembahan, misalnya) dan merumuskan sikap kristiani masa kini berdasarkan prinsip-prinsip umum tersebut. Oleh karena itu, kita sungguh-sungguh perlu melihat, bagaimana Alkitab secara keseluruhan berbicara mengenai persembahan, khususnya persepuluhan. Kita mulai dari Perjanjian Lama.
Sebelum Hukum Taurat
Sebelum munculnya Hukum Taurat dan hukum-hukum turunan yang mengikutinya, catatan mengenai persepuluhan hanya muncul ketika Abraham memberikan sepersepuluh hasil rampasan perangnya kepada Melkisedek (Kej. 14:20, 22) dan ketika Yakub bernazar kepada Tuhan (Kej. 28:22). Tidak ada pengaturan legal sama sekali. Namun kita bisa menduga bahwa jumlah sepersepuluh yang diberikan oleh Abraham kepada Melkisedek dan oleh Yakub kepada Allah memang menjadi tradisi budaya di wilayah Timur Tengah. Selain itu, dalam peristiwa Yakub, ia memberikan persepuluhan kepada Allah sebagai ungkapan syukur dalam konteks perjanjian dengan Allah, bukan sebagai sebuah kewajiban.
Hukum Taurat
Kita akan segera tahu bahwa sebagian besar catatan mengenai persepuluhan terdapat dalam lima Kitab Taurat (Kejadian-Ulangan). Hal pertama yang harus ditekankan, sehubungan dengan banyaknya hukum dan peraturan dalam lima kitab pertama khususnya dan Perjanjian Lama umumnya, adalah bahwa semua hukum itu semata-mata mencerminkan tuntutan agar umat percaya tunduk dan patuh pada Allah sendiri. Persepuluhan dalam hal ini hanyalah menjadi sebuah contoh penerapannya. Yang dipentingkan, dengan kata lain, adalah gaya hidup menatalayani hidup dan semua yang melekat padanya, agar seluruh kehidupan diabdikan kepada Allah.
Mereka yang pada masa kini berusaha mematuhi perintah persepuluhan hanya dengan menggantungkan diri pada Maleakhi 3:10 ternyata akan mengalami kesulitan besar jika harus mempertimbangkan teks-teks khusus di dalam kelima kitab pertama. Sebab, di dalamnya kita akan menemui ketidakajegan penjelasan mengenai persepuluhan. Ada bermacam-macam versi persepuluhan.
Imamat 27 mencatat bahwa persembahan persepuluhan diberikan dalam bentuk hasil bumi atau ternak (Im. 27:30-32). Namun, jika hendak ditebus dan diberikan dalam bentuk uang, maka orang tersebut harus menambah seperlima (20%) dari harga persembahannya; jadi, total persepuluhan dalam bentuk uang adalah 12%. Jadi, berbeda dengan persembahan persepuluhan dalam bentuk uang yang berlaku pada masa kini.
Bilangan 18 secara khusus menjelaskan bahwa persembahan persepuluhan harus diberikan kepada suku Lewi sebagai ganti tidak diperolehnya tanah pusaka bagi suku ini. Namun suku Lewi ini juga harus mempersembahkan seperpuluh dari penghasilannya itu dan memberikannya kepada imam Harun.
Ulangan 12, secara mengejutkan, mengatur persembahan persepuluhan secara berbeda. Persembahan persepuluhan harus diberikan bersama dengan persembahan-persembahan lainnya ke tempat yang akan dipilih Tuhan. Setelah sampai di sana, umat Tuhan ternyata diharuskan untuk memakan persembahan persepuluhan mereka sendiri; mereka bersama seisi keluarga dan orang Lewi, dengan penuh kegembiraan. Persembahan persepuluhan, dengan demikian, diberikan kepada Allah, untuk dinikmati bersama dengan komunitas dalam perjamuan kasih. Hal yang sama ditegaskan lagi di Ulangan 14:23. Persepuluhan tidak diberikan kepada para imam Lewi saja, namun untuk dinikmati bersama-sama. Kalaupun orang-orang Lewi mendapat bagian dalam perayaan hasil persepuluhan, itu karena mereka merupakan anggota masyarakat yang lemah disebabkan karena mereka tidak memperoleh pembagian tanah Israel. Ulangan 14:27 menyatakan, “Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.” Dengan demikian, orang-orang Lewi dikategorikan sebagai kelompok sosial yang lemah dalam komunitas yang perlu ditopang.
Juga, pada akhir tahun ketiga, persembahan persepuluhan dikhususkan bagi “orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu” (Ul. 24:29). Tahun ketiga ini disebut sebagai “tahun persembahan persepuluhan” (Ul. 26:12). Tampak sangat jelas bahwa persembahan persepuluhan diberlakukan bukan semata-mata karena itu adalah perintah Allah, namun juga demi memelihara kehidupan sosial yang lebih adil. Pola pengaturan persepuluhan dalam konteks Kitab Ulangan ini menarik karena dimensi sosialnya. Apalagi jika kita meletakkannya di dalam konteks Tahun Yobel yang dirayakan setiap tahun ketujuh. Dengan demikian, siklus pengaturan sosialnya berlangsung demikian:
Tahun 1Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 2Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 3Tahun persepuluhan
Ul. 14:28
Tahun 4Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 5Persepuluhan biasa
Ul. 14:22-27
Tahun 6Tahun persepuluhan
Ul. 14:28
Tahun 7Penghapusan utang
Ul. 15:1-11
Pembebasan budak
Ul. 15:12-18
Secara umum kita bisa melihat bahwa pengaturan persembahan persepuluhan tidaklah “stabil.” Ada beragam model pengaturan. Ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi, ada yang diberikan kepada orang-orang Lewi dan janda, anak yatim dan orang asing dan ada yang tidak menjelaskan sama sekali kepada siapa persepuluhan diberikan. Kita melihat pergeseran tempat persembahan persepuluhan, dari tempat-tempat ibadah lokal ke pusat ibadah utama. Ada pula tradisi yang menyarankan persembahan persepuluhan dimakan bersama secara komunal sebagai tanda kebersamaan persekutuan umat percaya. Soal apa yang dipersembahkan pun beragam. Kebanyakan adalah hasil alam dan ternak, namun tidak tertutup kemungkinan diberikan dalam bentuk uang, dengan menambah seperlima dari persepuluhan tersebut.
Kitab-Kitab Lain
Peraturan persepuluhan juga dimunculkan kembali di kitab-kitab sesudahnya, khususnya di dalam 2 Tawarikh 31 dan Nehemia 10, 12 & 13. Persepuluhan ini, dengan mengikuti tradisi Bilangan 18, diberikan kepada orang-orang Lewi, karena mereka tidak memperoleh bagian dari pembagian tanah Israel.
Di dalam kitab nabi-nabi, kita tidak menjumpai catatan yang memadai mengenai persepuluhan, kecuali di dalam Kitab Maleakhi yang akan kita bahas terpisah nanti. Hal ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan lebih dekat dengan tradisi imamat atau ritual dan bukan dengan tradisi sosial atau kenabian. Amos 4 secara khusus berkomentar tentang persepuluhan, namun dengan nada kritis dan negatif. Kita dengan segera dapat mengetahui bahwa yang terjadi pada saat itu adalah kristalisasi hukum yang sudah membeku dan mengeras, sebab aturan hukum dilaksanakan secara legalistis dan malah kehilangan semangat sosialnya. Dengan sinis Amos menyuarakan pesan Tuhan,
“Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan terhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah firman Tuhan Allah.” (Am. 4:4)
Jelas di sini Amos mengajukan kritik tajam atas persembahan persepuluhan yang diberikan Israel, karena persepuluhan itu diberikan terlepas dari makna sosial dan iman. Makna sosial hilang ketika mereka malah melakukan “perbuatan jahat” (ay. 4) dan “memeras orang lemah …menginjak orang miskin” (ay. 1). Makna iman hilang ketika mereka memberi persembahan bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah namun untuk menonjolkan diri dan mendapat pujian (ay.5). Persepuluhan yang tadinya dimaksudkan sebagai sebuah mekanisme penatalayanan hidup sosial, kini telah berubah makna menjadi sebentuk aturan kaku dan beku yang dimanipulasi untuk menutupi penindasan sosial.
Maleakhi 3
Maleakhi 3 perlu mendapat perhatian khusus, sebab ayat 10 secara khusus kerap dicabut dari konteksnya dan dimanfaatkan untuk membenarkan praktik persepuluhan pada masa kini. Kita harus mengakui secara jujur bahwa bahasa religius yang dipakai oleh Kitab Maleakhi sangat legalistis. Aturan agama ingin ditegakkan. Namun demikian, semangat legalisme ini bukanlah yang paling utama. Pesan Kitab Maleakhi bukan soal legalisme hidup iman, namun soal kesetiaan Allah yang direspons tidak sepantasnya oleh umat Israel.
Sejak semula ditegaskan bahwa Allah mengasihi Israel (1:2-5). Ini pengakuan iman yang mendasari hidup mereka. Namun demikian, sekalipun mereka sudah dikasihi Allah, namun mereka tetap melakukan tindakan yang menyedihkan dan penuh cemar; mereka memberi persembahan yang cemar dan tak layak (1:6-14), bahkan para imamnya terlibat dalam perusakan moral Israel (2:1-9), kemudian juga malah orang Israel yang dituntut memelihara kemurnian iman kawin-mawin dengan bangsa kafir (2:10-16). Jadi kalau mau dibuat skema dan bagannya, akan terlihat semacam ini:
Jadi perjanjian kasih Allah-manusia berlaku timpang: Allah mengasihi manusia namun manusia membalas-Nya dengan kejahatan. Semua tindak pencemaran itu seakan-akan menunjukkan ketidakpercayaan Israel bahwa Allah selalu memelihara dan setia. Itu sebabnya Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah berubah, Ia selalu setia (3:6).
Hal ini amat menyedihkan Allah. Yang dituntut dari pihak manusia sebenarnya hanyalah ketaatan yang terwujud dalam pemberlakuan hukum dan peraturan. Tapi mereka melanggarnya (termasuk persepuluhan). Itulah sebabnya dengan nada perih dan luka Allah “menantang” Israel untuk membuktikan kasih-setia Allah kembali. Lalu muncullah 3:10.
Ayat ini dengan demikian bukan bernuansa pengaturan/regulasi persepuluhan, namun sebuah tantangan dari Allah untuk membuktikan kesetiaan Allah. Seakan Allah ingin berkata, “Ujilah Aku! Kenapa engkau tak memercayai kesetiaan-Ku dengan cara menipu-Ku dan mencemari tugas ibadahmu? Kenapa engkau memanipulasi persepuluhan untuk kepentinganmu, seolah-olah kalau engkau memberi persembahan maka engkau akan berkekurangan? Bukankah Aku selalu membuktikan kesetiaan-Ku dengan membuka tingkap langit dan mencurahkan berkat atasmu?”
Jadi, Maleakhi 3:10 harus dilihat dalam kerangka “kita-memberi-karena-sudah-menerima” dan bukan sebaliknya, “kita-memberi-supaya-menerima”. Kerangka berpikir yang kedua sungguh berlawanan dengan prinsip utama keseluruhan Alkitab. Allah Alkitab tidak pernah menetapkan suatu cara berpikir “Hukum Bisnis Rohani.”
Persepuluhan di dalamPerjanjian BARU
Perjanjian Baru ternyata mencatat sedikit bagian yang berbicara langsung tentang persepuluhan: Matius 23:23 (paralel Luk. 11:42); Lukas 18:12; Ibrani 7:1-10.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Mat. 23:23; par. Luk. 11:42)
Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (Luk. 18:12)
Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera… Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut hukum Taurat, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji…  Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup. Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, (Ibr. 7:2, 4-6, 8-19)
Teks-Teks Persepuluhan
Di dalam Injil, persepuluhan disebutkan dalam suasana yang sangat kritis dan profetis. Sayangnya, para pendukung hukum persepuluhan masa kini memanfaatkan Matius 23:23 dan paralelnya di dalam Lukas 11:42 justru sebagai bukti implisit bahwa Yesus mendorong persepuluhan. Penafsiran semacam ini, menurut Paul Leonard Stagg (“An Interpretation of Christian Stewardship,” dalam What is the Church?, 1958, h. 152), didasarkan pada sebuah “penafsiran yang meragukan yang melanggar konteksnya dan mengabaikan pesan utama ayat tersebut.” Yesus mengecam orang-orang Farisi yang terlalu mematuhi aturan persepuluhan namun kehilangan roh di baliknya, yaitu keadilan sosial dan belas kasihan. Dengan kata lain, Yesus justru ingin menunjukkan betapa tak berartinya persepuluhan dibandingkan solidaritas sosial di baliknya. Jadi, Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”
Dengan sikap kritis yang sama, Yesus memaparkan kisah seorang Farisi (Luk. 18:12), yang dengan bangganya mematuhi aturan persepuluhan, namun memiliki sikap sombong rohani dan merendahkan orang lain. Di mata Yesus, orang semacam ini “akan direndahkan” (ay. 14). Kritik Yesus ini berada di dalam arus tradisi kenabian, khususnya Amos, terhadap kehidupan yang menekankan kesalehan ritual dan mengabaikan kesalehan sosial.
Catatan mengenai persepuluhan dalam Perjanjian Baru ternyata muncul paling banyak dalam Surat Ibrani, yaitu di dalam pasal 7 (sebanyak enam ayat), yaitu ketika dibicarakan kembali kisah pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek; itu pun persepuluhan muncul bukan sebagai tema utama, karena yang dibicarakan sebenarnya adalah persiapan untuk membandingkan Imam Besar Melkisedek dengan Yesus sebagai Imam Besar Perjanjian Baru. Jadi, teks Ibrani 7 sangat-sangat berpusat pada Kristus (Kristosentris).
Sikap Yesus yang tidak menyarankan persepuluhan secara tersurat konsisten dengan surat-surat Paulus yang sama-sekali tidak berbicara mengenai persepuluhan. Ia berkali-kali berbicara mengenai uang dan tak satu kali pun berbicara mengenai persepuluhan. Bahkan di dalam perjalanan penginjilannya yang ketiga (Kis. 18:23-21:16), ia mengumpulkan uang bagi jemaat Yerusalem dan persembahan persepuluhan tak sekali pun disinggung, apalagi dipakai sebagai metode pengumpulan uang. Malah, metode yang dipakainya adalah meminta setiap anggota jemaat untuk mengumpulkan uang seperti menabung setiap hari Minggu, sebagaimana tercatat di dalam 1 Korintus 16:1-2:
Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.
Prinsip yang diusung oleh Paulus sesungguhnya sama dengan semangat dari peraturan persepuluhan di dalam Perjanjian Lama, yaitu kepedulian pada mereka yang membutuhkan. Namun, keduanya berujung pada pengaturan teknis yang sama sekali berbeda. Yang satu mengajukan persepuluhan, yang lain penyisihan mingguan secara sukarela. Dari sini agaknya kita perlu memasuki konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru, yang secara mendasar membuat setiap pengharusan persepuluhan tampil sebagai pengabaian terhadap konsep persembahan tersebut.
Konsep Perjanjian Baru tentang Persembahan
Konsep persembahan di dalam Perjanjian Baru sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus), sebab Kristus diyakini sebagai pembaru seluruh hukum Taurat di dalam Perjanjian Lama. Surat Ibrani dengan amat tegas dan jelas menunjukkan pembaruan sistem persembahan yang selama ini dilakukan umat Israel. Pembaruan tersebut terjadi justru karena fokus iman yang bergeser pada Kristus sendiri. Dikatakan misalnya dalam Ibrani 9:9-10,
Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.
Jadi persembahan model Israel itu akan berlaku hanya “sampai tiba waktu pembaharuan”. Kapankah “waktu pembaharuan” itu tiba? Dijelaskan lebih lanjut, pembaharuan itu sudah terjadi di dalam Kristus (ay. 9-14),
Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia,–artinya yang tidak termasuk ciptaan ini,–dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.
Ide dasar dari Kitab Ibrani ini adalah bahwa Kristus adalah Imam Besar sekaligus domba persembahan, yang dipersembahkan “satu kali untuk selama-lamanya” (once and for all). Dengan jalan itu model persembahan Israel yang lama telah dibarui dengan persembahan tubuh Kristus sendiri (Ibr. 10:8-10). Persepuluhan sebagai bagian dari persembahan Israel dengan demikian dan dengan sendirinya turut dihapuskan. Semua tuntutan persembahan–termasuk persembahan persepuluhan–telah dilunaskan “sekali untuk selamanya” di dalam korban Kristus!
Bersamaan dengan penggantian konsep Imam dan korban, konsep bait Allah sebagai rumah Tuhan diganti pula menjadi hidup tiap-tiap orang percaya sebagai bait Allah (1 Kor. 3:16-17; 6:19-20), konsep imam yang dipegang segelintir orang juga diganti menjadi setiap orang percaya yang menjadi imamat am (1 Ptr. 2:9).
Bersamaan dengan itu, Paulus secara khusus menegaskan sebuah prinsip persembahan yang lebih radikal daripada persembahan persepuluhan. Yang harus kita persembahkan adalah seluruh “tubuh” (soma: hidup dalam keutuhannya), “sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Dan itu berarti seluruh milik kita juga, termasuk uang kita. Jadi, 100% uang kita, bukan 10%, adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita dan harus kita persembahkan kepada-Nya.
Dalam perspektif itulah, maka persembahan diserahkan kepada kita untuk kita kelola atau tatalayani seluruhnya untuk kemuliaan Allah.  Amat menarik bahwa Paulus kemudian memberi petunjuk jelas mengenai makna persembahan seluruh hidup itu. Dalam 2 Korintus 8:1-15 ia menganjurkan jemaat Korintus untuk memberikan persembahan khusus kepada jemaat di Yerusalem. Ia menyebutnya sebagai “pelayanan kasih,” karena memang landasan utamanya adalah kasih (2Kor. 8:6, 7, 19-20, 9:12). Prinsipnya, persembahan kasih yang kita berikan kepada sesama itu adalah cerminan dari persembahan hidup kita untuk Allah sendiri.
Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. (2 Kor. 8:19)
Pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (2Kor. 9:12).
Di atas itu semua, persembahan persepuluhan yang disikapi secara legalistis ternyata berlawanan dengan prinsip penatalayanan Kristen. Hidup ini harus ditata sebagai sebentuk pelayanan kepada Allah yang diwujudkan menjadi karya bagi sesama. Dengan demikian, penatalayanan memiliki roh yang sama dengan prinsip di balik persepuluhan di dalam Perjanjian Lama. Marvin E. Tate menegaskan (“Tithing: Legalism or Benchmark?,” Review & Expositor 70 [Spring 1973], 161),
Mungkin, aspek yang paling mengenaskan dari promosi berlebihan atas persepuluhan adalah kerusakan yang dilakukan terhadap konsep penatalayanan yang total. Kapan pun gereja meningkatkan kewajiban persepuluhan pada level hukum ilahi, nyaris tak terhindarkan ia akan menjadi bentuk dominan dari penatalayanan… Teologi penatalayanan dikubur di bawah legalisme persepuluhan.
Kesimpulan dan sikap praktis
  1. Kita menolak pemahaman bahwa orang Kristen yang telah ditebus oleh darah Kristus masih terikat pada kewajiban persembahan persepuluhan.
  2. Persepuluhan kepada orang-orang Lewi dan imam-imam pada zaman Perjanjian Baru dilangsungkan karena mereka adalah kelompok umat yang mengabdikan sepenuhnya hidup mereka bagi komunitas dan mereka tidak memperoleh bagian atas tanah perjanjian. Kini, para pendeta dapat saja ditopang secara baik melalui sistem Jaminan Kebutuhan Hidup (JKH), sehingga persepuluhan untuk mereka tidak lagi dibutuhkan.
  3. Kita juga menolak pemahaman bahwa segala bentuk persembahan, baik persepuluhan maupun persembahan lain, perlu kita berikan demi mendapatkan berkat Allah. Karena justru sebaliknya, kita memberi karena Allah sudah terlebih dahulu memberkati kita.
  4. Pernyataan bahwa 10% penghasilan kita adalah hak Allah benar, namun hanya sebagian, karena kita memahami juga bahwa 100% milik kita adalah milik Allah, yang kemudian dipercayakan kepada kita untuk kita tatalayani secara bertanggung jawab.
  5. Dalam rangka itu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi hamba atau penatalayan yang bertanggung jawab atas seluruh harta yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
  6. Kita juga menegaskan kembali pentingnya keseimbangan antara ibadah formal dan ibadah sosial, antara persembahan kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama. Dalam hal ini maka apa yang kita lakukan kepada sesama kita, termasuk pertolongan finansial, perlu dilihat sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan sendiri.
  7. Sekalipun kita meyakini bahwa hidup kita seluruhnya adalah persembahan yang hidup bagi Allah, namun kita tetap perlu mengungkapkan syukur kita melalui persembahan uang, baik melalui persembahan mingguan dalam ibadah, maupun pelayanan kasih kepada sesama, sejauh dilakukan dengan motivasi pengucapan syukur.
  8. Sekalipun kita menolak praktik persembahan persepuluhan sebagai kewajiban, namun tak berarti bahwa orang Kristen dilarang melakukannya. Kita tetap saja boleh memberikan persepuluhan, asal dengan tulus, sukarela dan disertai pemahaman yang benar, yaitu sebagai disiplin dan komitmen rohani dan pribadi, tanpa pemahaman bahwa semua itu adalah kewajiban.
Pdt. Joas Adiprasetya

No comments:

Post a Comment