December 16, 2010

MARIA: Persoalan yang tak pernah selesai?

Santa Maria, doakanlah kami.
Kita kenal ungkapan ini: "Bicara tentang Maria, tak akan ada habisnya!" Pada tgl 13 April 2001, ketika orang Katolik berbondong-bondong ke gereja untuk upacara cium salib, sebagian orang pergi ke satu tempat di Surabaya ini untuk melihat kebenaran berita "Maria yang menangis air mata madu". Berita ini tidak terlalu heboh. Mungkin karena orang mulai bosan dengan sensasi-sensasi seperti ini. Tetapi untuk saya, berita ini menarik buat direnungkan. Kenapa demikian? Karena belum selesai kita dikejutkan dengan berita: "Maria menangis air mata darah", tiba-tiba kita dihadapkan dengan berita "air mata madu". Lalu saya berpikir praktis: "Bunda Maria ini dari tahun ke tahun koq makin aneh?" Atau yang aneh itu siapa? Maria-nya atau orang-orangnya yang aneh? Menurut catatan sejarah gereja, sudah terjadi banyak penampakan Santa Maria. Ada yang sudah diakui secara resmi oleh gereja, yang lain masih dalam proses penyelidikan. Gereja selalu mengambil sikap "hati-hati", tidak terlalu cepat mengakui semua penampakan itu.

Pada bulan Mei dan Oktober, ribuan bahkan jutaan orang Katolik berziarah dan berdoa menghormati secara khusus Bunda Maria. Gereja menghimbau agar setiap anggotanya menaruh hormat yang penuh terhadap Bunda Gereja ini. Ada dua hal ekstrim yang harus dijauhkan dalam sikap seseorang terhadap devosi kepada Bunda Maria. Yang pertama adalah godaan untuk melebih-lebihkan peran Ilahi dalam karya penyelamatan. Dalam argumen ini Allah tidak perlu kerja-sama manusiawi. Manusia tidak punya peran apa-apa. Sehingga tidak seorang manusia pun, termasuk Maria, bisa layak dihormati. Karena, penghormatan seperti itu akan mengurangi kemuliaan yang hanya ditujukan kepada Allah. Akibat dari ekstrim ini muncul apa yang kita sebut "Mariophobia". Godaan yang kedua yakni melebih-lebihkan peran manusiawi dalam karya penyelamatan sampai melalaikan peran Ilahi. Argumen ini menegaskan bahwa Allah membutuhkan sarana untuk menghadirkan diri. Dan sarana paling nyata adalah Yesus Putra-Nya yang lahir dari rahim Maria. Akibat yang muncul dari ekstrim ini, orang berkeyakinan bahwa sarana saja sudah cukup. Hormati Maria saja sudah lumayan atau ungkapan lazimnya "Mariocentricisme".

Gereja menganjurkan agar setiap anggota membangun penghormatan yang benar dan sehat terhadap Bunda Maria. Keibuan Maria dalam kehidupan gereja sungguh-sungguh memberi inspirasi pelayanan bagi gereja. Uskup Fulton J. Sheen dalam bukunya: "Treasure in Clay" menulis: "Saya berkeyakinan bahwa kelemahan agama-agama dewasa ini yakni pada mereka tidak ada 'aspek keibuan'. Agama-agama sering terjebak kepada wajah agama yang keras dan fanatik. Mungkin boleh ditegaskan di bulan Maria ini, bahwa dunia kita, negara kita, gereja kita, terancam konflik dan menjadi goncang, karena banyak orang kehilangan aspek tadi. Jangan sampai kehidupan kita diwarnai dengan kekerasan dan sikap fanatik, justru karena agama-agama kita kehilangan anggotanya yang berhati ibu.

Berbahagialah kamu yang menerima dan mengakui Maria sebagai Bunda Gereja.


dikutip dari : “Semoga Saya Melihat”; Kumpulan Suara Gembala Gereja Katolik Gembala Yang Baik, Surabaya

Seperti Apa Biji Sesawi Itu?

Sering kita mendengar pewartaan Kitab Suci tentang biji sesawi. Dalam Injil Matius 13:31 dikisahkan perumpamaan Yesus, “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.” Kita jadi bertanya-tanya: Seperti apakah biji sesawi itu? Di bawah ini kita bisa melihat biji sesawi kuning:


Biji sesawi dapat berasal dari tiga jenis tanaman yang berbeda: biji sesawi hitam (nigra), biji sesawi Indian berwarna coklat (juncea), dan biji sesawi putih atau kuning (hirta / sinapis alba). Diameter biji sesawi kurang lebih 1 milimeter. Apabila biji-biji itu ditempatkan dalam botol, maka kita dapat memperkirakan seberapa besarnya:


Biji sesawi biasa dipakai sebagai bahan penyedap makanan. Di bagian benua Indian, biji sesawi bahkan langsung digoreng pada minyak; biji-biji itu cepat masak dalam minyak dan meletus menebarkan aroma dan rasa sedap pada minyak. Biji sesawi mengandung pelbagai macam vitamin: A, Thiamin (B1), Riboflavin (Vit. B2), Niacin (Vit. B3), B6, Folate (Vit. B9), B12, C, E, K; juga mengandung protein, energi, karbohidrat, lemak, kalsium, zat besi, magnesium, phosphorus, potassium, sodium, zinc, dll.

Dalam Matius 13:32, Yesus bersabda, “Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Memang, meski biji sesawi itu sangat kecil sekali ukurannya, namun, jika biji itu bertunas dan bertumbuh, ia akan menjadi sebuah pohon yang besar. Di bawah ini kita bisa melihat pohon sesawi:


Lagi, dalam Matius 17:20, Yesus bersabda kepada kita, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Adakah aku memiliki iman sebesar biji sesawi?

Bilamanakah Tepatnya Hari Sabat Itu?

oleh: P. William P. Saunders *

Seorang teman saya adalah jemaat Adven Hari Ketujuh, dan mereka mengadakan kebaktian pada hari Sabtu. Kami berbicara mengenai bilamanakah tepatnya hari Sabat itu - Sabtu atau Minggu. Saya mengatakan bahwa hari Minggu merupakan hari yang tepat untuk beribadat sebab Yesus bangkit dari antara mati pada hari Minggu. Mohon pendapat.
~ seorang pembaca di Manassas


Gereja Adven Hari Ketujuh memang mempertahankan hari Sabtu sebagai hari Sabat dan bahwa umat beriman patut beribadat kepada Tuhan pada hari Sabtu. Praktek ini, tentu saja, berasal dari Sabat Yahudi. Hari Sabat berhubungan dengan hari istirahat Tuhan pada hari ketujuh penciptaan, “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej 2:3). Ketika Tuhan memberikan Sepuluh Perintah Allah kepada Musa, dasar yang sama diberikan bagi hari Sabat,“Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya” (Kel 20:11). Kata “Sabat” berasal dari akar kata yang berarti “beristirahat” atau “berhenti”. Di kalangan Yahudi, perayaan Sabat menjadi suatu ciri khas yang membedakan orang-orang Yahudi dari orang-orang kafir; merupakan hari istirahat sekaligus hari pertemuan kudus (Im 23:1-3). Singkat kata, dasar ini merupakan alasan mengapa Gereja Adven Hari Ketujuh terus memelihara hari Sabtu sebagai hari untuk beribadat kepada Tuhan. Namun demikian, pandangan tersebut bertentangan dengan tradisi konsisten Kristiani. (Patut diingat bahwa Adven Hari Ketujuh secara resmi didirikan di Battle Creek, Michigan, pada tahun 1863.) Yesus Sendiri menegaskan, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”(Mat 12:8). Tuhan kita bangkit dari antara orang mati pada hari Minggu pagi, hari pertama minggu. Sama seperti Allah telah menciptakan terang pada hari pertama Penciptaan, Kristus adalah Terang yang datang ke dalam dunia, dan pada hari Paskah Ia adalah bintang fajar dari abad baru, yang menaklukkan dosa dan menghalau kegelapan. Sebab itu, Tuhan atas hari Sabat melalui karya penyelamatan-Nya menetapkan suatu perayaan Sabat yang baru.

Perayaan pada “hari pertama minggu” jelas merupakan Sabat baru bagi umat Kristiani. Dalam Kisah Para Rasul, St Paulus mencatat bagaimana pada hari pertama dari tiap-tiap minggu umat beriman berkumpul bersama untuk “memecah-mecahkan roti” dan menyampaikan pewartaan (Kis 20:7dst). Paulus juga berbicara mengenai bagaimana suatu pengumpulan amal kasih diadakan demi membantu warga Gereja yang berkekurangan (1 Kor 16:2).  

Kehidupan Gereja abad pertama juga menegaskan hari Minggu sebagai hari beribadat. Didaché, buku pertama mengenai doktrin, liturgi dan moral yang dianggap sebagai pengajaran para rasul dan ditulis sekitar tahun 80M, mengatakan, “Pada Harinya Tuhan, hendaknya kamu berkumpul bersama, memecah-mecahkan roti dan mengucap syukur, setelah mengakukan dosa-dosamu agar kurbanmu murni.” Perlu diperhatikan bahwa frasa yang tampaknya berlebihan: “Harinya Tuhan” sesungguhnya menyatakan bahwa pada masa awali itu hari Minggu secara resmi disebut “Hari Tuhan” seperti ditetapkan oleh Yesus Sendiri.

Penyebutan hari Minggu sebagai “Hari Tuhan” dinyatakan secara jelas pada abad kedua. St Ignatius dari Antiokhia (wafat thn 107), yang tulisan-tulisannya memberikan banyak pencerahan dalam iman dan tradisi Gereja Katolik awali, mengatakan, “... Mereka yang berjalan-jalan di dalam kebiasaan lama sampai kepada harapan baru dan tidak lagi menaati hari Sabat, tetapi hidup menurut hari Tuhan, pada hari mana kehidupan kita juga diberkati melalui Dia dan kematian-Nya...” (epistula ad Magnesios). St Yustinus Martir (wafat thn 165), dalam “Apologiæ” yang ditujukan kepada Kaisar Antonius Pius guna menunjukkan bahwa kekristenan bukan gerakan melawan kaisar, menulis “Pada hari Minggu kami semua berkumpul, karena itulah hari pertama, padanya Allah telah menarik zat perdana dari kegelapan dan telah menciptakan dunia, dan karena Yesus Kristus, Penebus kita telah bangkit dari antara orang mati pada hari ini.”   

Walau hari Minggu jelas nyata merupakan hari beribadat bagi Gereja, namun hukum Sabat Yahudi kuno yang melarang orang bekerja dan melakukan transaksi bisnis tidak diterapkan pada hari Minggu hingga abad keempat setelah disahkannya kekristenan. Dalam budaya-budaya Kristiani, hari Minggu menjadi bukan saja hari untuk beribadat kepada Tuhan, melainkan juga hari untuk beristirahat. Sungguh sayang, 30 tahun belakangan ini kita melihat hari Minggu kembali ke kekafiran di mana bukan saja hari Minggu telah menjadi hari untuk berbisnis, melainkan juga shopping mall telah menjadi tempat pemujaan berhala.

Dalam suatu amanat Angelus, Paus Yohanes Paulus II mengingatkan umat beriman, “Kebenaran spiritual dari hari Sabat biblis digenapi dalam hari Minggu Kristiani, hari kebangkitan Kristus, `Hari Tuhan' yang mahaunggul di mana hidup menang atas maut, menanamkan benih ciptaan yang baru. Oleh karenanya, perayaan hari Minggu adalah pewartaan peristiwa tersebut. Bagi orang-orang percaya, hal itu bukan hanya merupakan suatu kewajiban untuk berdoa, yang pada kenyataannya hendaknya muncul di setiap saat setiap hari sepanjang hidup manusia, melainkan juga suatu kebutuhan akan apa yang kita sebut sebagai keintiman mesra dengan Tuhan. Hari Minggu adalah hari yang diperuntukkan bagi perjumpaan istimewa antara Bapa dengan anak-anak-Nya, waktu kemesraan antara Kristus dengan Gereja, Mempelai-Nya. Kewajiban untuk ikut ambil bagian dalam Misa Hari Minggu dipahami dalam terang rohani dan pengalaman religius yang mendalam ini.”


Fr. Saunderis dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: When Is the Proper Sabbath?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Busana dan Perilaku Pantas di Gereja

oleh: P. William P. Saunders *


Saya seorang warga senior. Belakangan ini, saya terheran-heran melihat perilaku orang di gereja, bagaimana mereka berpakaian dan cara mereka ambil bagian dalam Misa, yang sama sekali berbeda dengan semasa saya masih muda. Mohon pendapat.
~ seorang pembaca di Springfield

Sesungguhnya, beberapa minggu belakangan ini saya menerima beberapa surat senada mengenai perilaku yang kurang pantas di gereja. Di satu pihak, kita tak perlu heran akan perilaku dan busana yang kurang pantas di gereja. Bagaimanapun, kita tinggal di tengah masyarakat di mana orang mencocok bagian-bagian tubuh mereka dan memasanginya dengan cincin - telinga, alis, hidung, lidah - yah, seperti yang biasa dilakukan para petani kepada ternak-ternak mereka (walau bahkan mereka pun tidak mencocok lidah). Banyak perusahaan sekarang menerapkan “Jumat Santai” di mana para karyawan pria dan wanita tidak harus mengenakan busana formal. Tetapi, The Wall Street Journal baru-baru ini melaporkan bahwa sebagian besar karyawan sekarang lebih tampak amburadul pada hari “Jumat Santai” dan dengan demikian melakukan pekerjaan mereka dengan amburadul pula. Semakin sering saya melihat busana santai pada acara-acara pernikahan dan pemakaman, yang selalu dipandang sebagai acara-acara “resmi”. Banyak orang telah melupakan sopan-santun, seperti membukakan pintu bagi seseorang, teristimewa wanita, atau menawarkan tempat duduk dalam bis kota bagi wanita, terutama yang sedang hamil atau yang lanjut usia. (Saya dibesarkan sebagai orang yang tahu sopan santun, entah orang menganggap saya sok atau kolot, terserahlah). Semakin jarang saja kata-kata “silakan” dan “terima kasih” sampai ke telinga kita. Yah, kita tak perlu heran jika perilaku yang kurang santun demikian masuk juga ke dalam gereja-gereja kita.

Sementara kita tak perlu heran akan perilaku masyarakat yang demikian, namun hendaknya kita tidak terbawa arus dan merendahkan diri kita dengan ikut-ikutan berperilaku demikian. Juga demi hormat terhadap Gereja, setiap kita wajib mengusahakan “Perilaku Misa” yang pantas, dan teristimewa para orangtua hendaknya memastikan bahwa mereka mengajarkan Perilaku Misa yang pantas kepada anak-anak mereka.

Sebab itu, sebagai seorang imam dan sebagai seorang yang dibesarkan serta dididik oleh orangtua yang baik dan saleh, saya akan coba mengemukakan apa yang saya anggap sebagai Perilaku Misa yang pantas.

Pertama-tama, marilah kita mulai dengan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk merayakan Misa. Hendaknya setiap orang berbusana pantas. Seperti layaknya kita berbusana sopan dan pantas untuk pergi ke pesta atau untuk menemui seorang yang kita hormati, misalnya Bapa Uskup atau Bapa Suci, demikianlah kita berbusana untuk menemui Tuhan, yang hadir dalam Ekaristi Kudus. Tentu saja, mungkin kita dapat sedikit lebih santai, tetapi haruslah tetap rapi, bersih dan sopan. Terus terang, celana pendek hanya pantas dikenakan oleh anak-anak yang masih amat muda; T-shirts sebaiknya disimpan untuk piknik; celana ketat sebaiknya disimpan untuk senam; dan baju strapless / backless yang minim sebaiknya dibakar saja. Dalam memutuskan apa yang akan kita kenakan, hendaknya kita memikirkan ini, bahwa “Aku berdandan untuk bertemu dengan Tuhan-ku dan untuk ikut ambil bagian dalam misteri keselamatanku.”

Sebelum meninggalkan rumah, para orangtua perlu memastikan anak-anak pergi ke kamar kecil terlebih dahulu. Orang-orang yang keluar masuk bangku sepanjang Misa untuk pergi ke kamar kecil sungguh mengganggu. Memang, mereka punya alasan yang tepat untuk mempergunakan kamar kecil pada waktu Misa berlangsung. Tetapi, saya pikir sebagian anak-anak mulai menjadikannya sebagai suatu kegiatan rutin: pada saat homili, pergi ke kamar kecil; pada saat Komuni, minum air, dan lalu pergi ke kamar kecil. Sungguh, saat saya masih kecil, saya bahkan tidak tahu bahwa Gereja St Bernadette menyediakan kamar kecil; sebab, kecuali jika saya merasa mual dan hendak muntah, saya tidak pernah meninggalkan bangku selain dari saat menyambut Komuni Kudus.

Selanjutnya, berangkatlah dari rumah pada waktunya agar tiba di gereja sebelum Misa dimulai, sebaiknya sekitar sepuluh menit sebelumnya. Dengan demikian kita punya cukup waktu untuk berdoa dan siap untuk ikut ambil bagian dalam Misa. Tentu saja, terkadang suatu hal mendadak terjadi sehingga keluarga terlambat datang ke gereja; berbeda situasinya jika umat senantiasa datang terlambat.

Ketika tiba di gereja, buanglah permen karet pada tempat sampah yang tersedia. Pastilah ada suatu tempat khusus di api penyucian bagi mereka yang biasa melekatkan permen karet di bangku-bangku gereja. (Sesungguhnya, tak seorang pun diperbolehkan mengunyah permen karet mengingat peraturan puasa sebelum menyambut Komuni). Mereka yang membuang tissue, lembar warta paroki, puntung-puntung rokok, bungkus permen / makanan, dan macam-macam sampah lainnya dalam wilayah gereja kemungkinan besar akan harus tinggal juga di tempat yang sama dalam api penyucian.

Saat masuk ke dalam gereja, pastikan kita membuat Tanda Salib dengan air suci, gerak isyarat ini mengingatkan akan Pembaptisan kita dan menguduskan kita. Sebelum duduk di bangku umat, pastikan kita melakukan genuflect (= berlutut dengan satu kaki), suatu sikap hormat yang penting terhadap kehadiran Tuhan kita dalam Ekaristi Kudus dalam tabernakel. Matikan nada dering sekaligus nada getar telepon genggam. Bukan saja perhatian orang yang seharusnya penuh tertuju kepada Tuhan menjadi terbagi, melainkan orang-orang lain pun akan terganggu oleh nada dering ataupun nada getar yang berbunyi selama Misa (lihat “Tinggalkan Telepon Genggam di Rumah” oleh Rm William P Saunders).

Dalam bersembah sujud, kita perlu ikut ambil bagian dalam nyanyian dan doa-doa, mendengarkan bacaan-bacaan Misa dengan seksama dan mendengarkan homili dengan penuh perhatian. Saya selalu heran akan “tiang-tiang garam” yang tak pernah membuka mulut mereka untuk menyanyi ataupun berdoa, atau akan “barisan kentang” yang membaca warta paroki sepanjang homili. Para orangtua hendaknya membantu anak-anak mereka: hari Minggu yang lalu, saya melihat seorang ibu yang menelusuri kalimat demi kalimat dalam lembar Misa dengan jari-jarinya agar kedua puteranya yang masih kecil dapat lebih mudah mengikuti dan memberikan perhatian pada perayaan Misa. Pada intinya, semua orang hendaknya ikut ambil bagian dalam Misa dengan penuh hormat dan sukacita.

Para orangtua perlu membimbing anak-anak mereka. Yesus mengasihi dan menyambut hangat anak-anak, tetapi anak-anak perlu dibantu. Jika anak mulai rewel, maka orangtua hendaknya segera membawa si anak keluar dan menenangkannya sebelum membawanya masuk kembali ke dalam gereja. Anak-anak hendaknya tidak dibiasakan makan dan minum dalam gereja, tidak dibiarkan menggemerincingkan kunci, menjatuhkan mainan-mainan, menyepak-nyepak bangku, berjalan-jalan atau berlarian dalam gereja. Tingkah laku yang demikian menganggu umat lainnya, dan teristimewa mengganggu imam yang mempersembahkan Misa. Orangtua haruslah menjadi orangtua, dengan menerapkan kasih sayang dan disiplin pada anak-anak.

Ketika menyambut Komuni Kudus, senantiasa lakukanlah dengan penuh hormat. Haruslah kita senantiasa sepenuhnya sadar bahwa kita menyambut Tuhan kita. Jika kita menyambut Komuni Kudus di tangan, pastikan tangan kita bersih dan disusun bagaikan tahta bagi Tuhan. Setelah menerima Hosti Kudus, kita harus segera menyantapnya sebelum berbalik dan kembali ke bangku. Komuni Kudus jangan pernah dianggap sebagai semacam antrian makanan di kantin, melainkan sebagai suatu perjumpaan mesra dengan Tuhan.

Setelah komuni, setiap orang wajib mengucap syukur atas anugerah berharga yang diterima dan membiarkan rahmat memenuhi jiwa. Betapa tragis melihat orang-orang meninggalkan Perayaan Ekaristi tepat setelah menyambut Komuni Kudus, bukan karena suatu keadaan darurat, melainkan karena mereka ingin menjadi orang pertama yang meninggalkan tempat parkir. Saya hanya dapat memikirkan Yudas, orang pertama yang meninggalkan Perjamuan Kudus sebelum selesai. Mempersembahkan kepada Tuhan satu setengah jam - dan biasanya kurang dari itu - demi Kurban Kudus Misa, bukanlah suatu pengorbanan yang teramat besar. Saya bertanya-tanya bagaimana perasaan orang-orang ini jika tamu mereka meninggalkan rumah mereka tengah perjamuan makan tanpa berpamitan dan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya, Misa diakhiri dengan berkat penutup; tinggallah hingga imam berarak masuk sebelum kita meninggalkan bangku. Sungguh baik jika umat bubar setelah lagu penutup selesai dinyanyikan. Tetapi, sebelum meninggalkan bangku, pastikan buku-buku doa telah dikembalikan ke tempatnya. Pastikan kita memungut tissue, lembar warta paroki, bungkus permen / makanan, atau barang-barang lainnya; jangan biarkan orang lain yang harus membereskan sampah kita; mungkin juga bangku akan segera dipakai untuk Misa berikutnya. (Suatu ketika, ibu saya, yang biasa membantu membersihkan Gereja St Bernadette, mendapati popok yang sudah terpakai ditinggalkan begitu saja di bangku gereja).

Saya yakin, point-point yang saya kemukakan di atas tidak sulit dilakukan, namun sering saya jumpai selama pelayanan saya sebagai imam. Saya juga tak ingin terlalu bawel atau cerewet, melainkan hanya mengajarkan penghormatan yang memang sudah sepantasnya bagi Misa yang saya persembahkan dengan penuh cinta. Ya, kita hidup dalam dunia yang amburadul di mana banyak orang telah melupakan sopan santun dan disiplin yang pantas. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa sopan santun “adalah penghormatan hati kepada kekudusan keluhuran manusia” (Thoughts for Daily Living, hal 50). Perilaku yang santun, entah dalam Misa ataupun dalam situasi-situasi lainnya dalam kehidupan sehari-hari, mengungkapkan rasa hormat kita kepada satu sama lain, dan kepada Tuhan.

Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Appropriate Behavior in Church” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”