December 16, 2010

Teori Evolusi & Iman, Tidak Bertentangan

oleh: P. William P. Saunders *




Beberapa waktu yang lalu, Paus Yohanes Paulus II menyampaikan suatu pernyataan mengenai evolusi, dan tampaknya beliau menerima teori evolusi. Mohon penjelasan, dan bagaimanakah seharusnya kita memahami penciptaan menurut Kitab Kejadian dan menurut teori evolusi?
~ seorang pembaca di Arlington


Dalam amanat kepada suatu rapat Akademi Kepausan untuk Ilmu Pengetahuan, Paus Yohanes Paulus II memang menyampaikan komentar mengenai evolusi dan menghargai perkembangan ilmu pengetahuan dalam menjelaskan asal-mula kehidupan dan proses penciptaan. Namun demikian, Bapa Suci juga menggaris-bawahi keselarasan antara bukti-bukti ilmiah dengan kebenaran-kebenaran iman, dan antara ilmu pengetahuan dengan teologi, “Pemikiran akan metode yang dipergunakan dalam berbagai ilmu pengetahuan memungkinkan keselarasan antara dua sudut pandang yang tampaknya bertentangan. Pengetahuan observasi menggambarkan dan mengukur dengan ketepatan yang terlebih lagi manifestasi penggandaan kehidupan sementara teologi merangkum maknanya terakhir sesuai rancangan sang Pencipta.” Sebelum membahas masalah evolusi lebih lanjut, marilah kita terlebih dahulu melihat kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian dan kebenaran-kebenaran iman yang terungkap di dalamnya.


Patut kita ingat bahwa Kitab Kejadian tidak dimaksudkan sebagai suatu penjelasan ilmiah mengenai bagaimana penciptaan terjadi. Tiga bab pertama dari Kitab Kejadian yang menceritakan penciptaan, jatuhnya manusia ke dalam dosa, dan janji keselamatan, bukanlah suatu teks fisika atau biologi yang menyajikan pemahaman ilmiah tentang manusia dan dunia. Melainkan, kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian merupakan suatu karya teologi yang berpusat pada siapa, mengapa dan apa itu penciptaan. Ditulis berabad-abad sebelum kelahiran Kristus, para penulis kudus yang diilhami, di bawah bimbingan Roh Kudus merangkai suatu kisah untuk menangkap kebenaran-kebenaran Tuhan dan ciptaan-Nya. Karena Abraham hidup kurang lebih tahun 1850 SM, kisah-kisah dalam Kitab Kejadian kemungkinan diwariskan secara lisan selama berabad-abad lamanya sebelum akhirnya diwariskan dalam bentuk tulisan.


Guna memahami keindahan dan pentingnya makna kisah Kejadian, kita perlu melihat budaya-budaya kafir di sekitar bangsa Yahudi. Mereka hidup di antara beragam budaya, masing-masing dengan kepercayaannya sendiri, pula dengan kisah penciptaannya sendiri. Sebagai contoh, bangsa Babilonia mempunyai kisah yang disebut Enuma Elish. Dalam kisah ini, Dewa Apsu dan Dewi Tiamat memperanakkan dewa bernama Ea, yang memperanakkan seorang putra bernama Marduke. Ea membunuh Apsu, dan Marduke membunuh Tiamat. Dari jasad Tiamat, Marduke menjadikan dunia. Marduke juga membunuh Kingu, penasehat Tiamat, dan dengan darah Kingu, Marduke menjadikan manusia.


Sekte Matahari bangsa Mesir yang berpusat di kota Heliopolis menggambarkan bagaimana Atum-Re (atau Ra), dewa matahari dijadikan dari Nun, air yang bergolak. Atum-Re kemudian membuahi dirinya sendiri dengan melakukan tindak masturbasi ilahi dan membuahkan Shu (air) dan Tefnut (uap), dengan memberikan kepada mereka kekuatannya yang vital yang adalah Ka. Shu dan Tefnut menghasilkan Geb (bumi) dan Nut (langit), dan dewa-dewa lainnya. Kisah yang sama ini menceritakan bagaimana manusia dijadikan dari airmata yang mengalir dari pelupuk mata Atum-Re.


Sekte-sekte keagamaan bangsa Mesir lainnya juga mempunyai kisah-kisah penciptaan yang lain pula. Sekte di Memphis mengisahkan bagaimana Dewa Ptah telah mengandung di dalam hatinya dan telah berbicara dengan lidahnya hingga menghasilkan segala makhluk hidup. Sekte Elephantine menggambarkan bagaimana Dewa Khnum sebagai dewa ahli tembikar menjadikan segala makhluk hidup dari tanah liat dengan jentera pembuat tembikarnya. Tentu saja, beberapa unsur dari kisah-kisah ini mirip dengan kisah yang kita dapati dalam Kitab Kejadian, namun demikian perbedaan antara kisah-kisah ini dengan kisah dalam Kitab Kejadian sungguh besar.


Coba perhatikan dengan cermat kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian 1:1-2:4. Di sana kita menemukan Allah yang mahakuasa, mahatahu, mahapengasih, kekal dan tak terbatas. Ia menciptakan dengan bebas menurut kebijaksanaan ilahi-Nya dengan digerakkan oleh kasih sejati.


Tuhan menciptakan segala yang ada dari yang tidak ada (ex nihilo), menciptakan bahkan ciptaan yang darinya ciptaan dijadikan. Namun demikian, Tuhan berbeda dari ciptaan-Nya. Teks bahasa Ibrani mempergunakan kata “bara” untuk “menciptakan”, dan kata ini hanya dipergunakan untuk tindakan Tuhan atas dunia. Obyek yang diciptakan Tuhan selalu merupakan suatu yang baru, mengagumkan serta menakjubkan. Sabda Tuhan yang mencipta tidak hanya pribadi, penuh tanggung-jawab dan berhasil guna, melainkan juga memberi hidup.


Dalam Kejadian, Tuhan menciptakan segalanya menurut suatu tata penciptaan yang amat teratur, mengikuti suatu rancangan tujuh hari. Angka tujuh dianggap sebagai bilangan yang sempurna bagi bangsa Yahudi. Meskipun `hari' pada umumnya berarti rentang waktu selama 24 jam, tetapi `hari' juga dapat dipergunakan untuk suatu masa, suatu waktu atau peristiwa tertentu (misalnya “hari penghakiman”), atau suatu periode waktu. Kita patut ingat bahwa Tuhan adalah tak terbatas dan karenanya tak dibatasi oleh waktu. Oleh sebab itu, dalam Kitab Kejadian, hari dan rangkaian waktu selama tujuh hari lebih menunjuk pada suatu rentang waktu yang terencana dengan maksud tertentu di mana Tuhan mencipta.


Walau bukan merupakan suatu catatan ilmiah, kisah penciptaan mengikuti suatu rancangan ilahi yang masuk akal dari sudut pandang manusia. Dan yang lebih penting, di akhir setiap hari, Allah melihat ciptaan dan menganggap semuanya itu baik. Point mengenai betapa baiknya ciptaan itu ditekankan berulangkali guna menyangkal gagasan yang menyatakan bahwa dunia materi itu jahat, buruk atau rusak, seperti anggapan sebagian budaya atau sekte.


Kisah Kejadian mencapai puncaknya dengan penciptaan laki-laki dan perempuan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (1:27). Ayat yang indah ini menekankan bahwa hanya laki-laki dan perempuan yang diciptakan seturut gambar dan citra Allah. Jadi, keduanya baik laki-laki maupun perempuan, meski berbeda, sama-sama merupakan gambar dan citra Allah. Dari keyakinan ini kita percaya bahwa Tuhan telah menciptakan dan memberikan kepada masing-masing kita suatu jiwa yang unik dan abadi.


Kita akan segera dapat melihat perbedaan antara Kitab Kejadian dengan kisah-kisah penciptaan menurut kebudayaan sekitarnya. Dalam Kejadian tidak ada keturunan para dewa-dewi; dalam Kejadian, Allah itu kekal. Sebaliknya, dalam kisah-kisah lainnya, penciptaan merupakan hasil dari tindakan seksual para dewa dewi, perebutan kekuasaan, pembunuhan, insiden, dan tindakan sembrono. Dalam Kejadian, Tuhan mencipta melalui KebijaksanaanNya - SabdaNya - dan Daya CiptaNya yang abadi, yang teratur, terencana, unik dan memiliki tujuan. Tidak seperti kisah-kisah penciptaan lainnya, Kejadian menekankan Allah yang Mahapengasih yang dengan bebas menciptakan semuanya baik, pula menciptakan manusia menurut gambar dan citra-Nya, menganugerahi masing-masing mereka suatu jiwa yang unik dan abadi. Tuhan dalam Kejadian bukan bagian dari ciptaan; melainkan, Tuhan yang jauh melampaui ciptaan, namun Ia ada guna menopang dan memelihara ciptaan yang “baik” dalam pandangan-Nya. Akhirnya, janganlah kita lupa bahwa segenap ciptaan - seluruh kisah Perjanjian Lama - mengarah pada Kristus dan mendapatkan maknanya yang sebenarnya dari Kristus melalui Siapa segala sesuatu diciptakan dan oleh Dia segala sesuatu diperdamaikan dengan DiriNya (bdk Kolose 1:15-20).


Berdasarkan pemahaman di atas, bagaimana kita dapat menyelaraskan kisah Kejadian dengan teori-teori ilmiah “Bing Bang” dan evolusi? Pertama, kita patut ingat bahwa teori adalah suatu pernyataan, atau “kisah”, yang berusaha menjelaskan serangkaian peristiwa. Sama seperti Kejadian merupakan suatu kisah yang diilhami oleh Roh Kudus, yang menyajikan kebenaran-kebenaran akan penciptaan oleh Allah, maka Bing Bang yang dipadukan dengan evolusi membentuk suatu kisah atau teori yang berusaha menjelaskan bukti ilmiah seputar penciptaan.


Menurut teori-teori ini, berjuta-juta tahun yang lalu, suatu ledakan - suatu “Bing Bang” - mengawali perkembangan alam semesta yang terus berlanjut hingga sekarang ini. Pada intinya, ciptaan telah mengalami evolusi dengan berlalunya waktu dan akan terus berevolusi. Namun demikian, kita harus berhenti sejenak dan melihat bahwa teori Bing Bang menyajikan penciptaan lebih sebagai suatu kebetulan, kesalahan dan kekacauan daripada suatu perkembangan yang ditata, dirancang dan direncanakan.


Namun demikian, bukti-bukti ilmiah sungguh menguatkan teori ini, dan oleh sebab itulah Bapa Suci mengatakan, “Sekarang ini pengetahuan baru menghantar kita untuk mengetahui bahwa teori evolusi lebih dari sekedar suatu hipotesa.” Patut dicatat bahwa Bapa Suci tidak mengatakan bahwa baik teori Bing Bang maupun teori evolusi menangkap seluruh kebenaran seputar penciptaan.


Hingga sekarang ini, para ilmuwan masih terus menyempurnakan teori Bing Bang dan teori evolusi, teristimewa dalam terang penyelidikan DNA, penemuan-penemuan oleh teleskop ruang angkasa Hubbel milik NASA dan penemuan-penemuan fosil terbaru di padang gurung Nambian, sebelah barat-daya Afrika. Para ilmuwan yang jujur akan menjadi mereka yang pertama mengakui bahwa sesungguhnya mereka tidak memiliki semua jawaban mengenai penciptaan. Pertanyaan-pertanyaan masih belum terjawab, “Jika evolusi memang terjadi, mengapa tidak ada ikan yang merangkak ke pantai atau kera yang berevolusi menjadi manusia? Jika “Bing Bang” adalah benar, dengan rangkaian reaksi kekacauannya, bagaimana kekacauan yang demikian menjadikan jagad raya dan segenap makhluk ciptaan, termasuk tubuh jasmani kita ini? Bagaimana kehidupan muncul, teristimewa kehidupan manusia dengan segala kemampuannya untuk berkreasi dan berpikir?”


Pertanyaan-pertanyaan yang demikian membuat orang mengakui bahwa ilmu pengetahuan tidak memiliki semua jawaban yang ingin kita ketahui, dan mungkin tidak akan pernah. Kita dapat menerima banyak dari penemuan-penemuan ilmiah dan namun tetap teguh berpegang pada kepercayaan akan Allah yang mahakuasa, yang mahatahu, yang abadi, yang dengan bebas dan dengan kasih-Nya mencipta dan terus membimbing ciptaan mencapai kesempurnaanya. Bahkan Einstein mengakui bahwa dalam hukum alam “terdapat suatu Sebab yang mahaunggul hingga segala sesuatu yang muncul dalam pemikiran dan pemahaman manusia, hanyalah merupakan refleksi kosong belaka jika dibandingkan dengan-Nya.”


Lalu, bagaimana dengan Adam dan Hawa serta evolusi manusia? Di sini kita juga bergumul dengan ilmu pengetahuan, terutama dengan mereka yang bersikukuh bahwa manusia merupakan evolusi dari bentuk kehidupan yang lebih rendah. Kita juga bertanya-tanya bagaimana manusia berlipatganda dalam populasi sementara menurut Kejadian, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa yang dianugerahi tiga orang putera yaitu Kain, Habel dan Set, tetapi kemudian Kain berhubungan dengan isterinya yang tampaknya muncul tiba-tiba dalam kisah (Kejadian 4:17). Patut dicamkan bahwa ilmu pengetahuan berfokus pada bagaimana kita ada, sementara teologi lebih berfokus pada siapa kita. Lagipula, ilmu pengetahuan tidak memiliki semua jawaban, sementara Kitab Suci tidak menyajikan segala detail penciptaan. Para ahli anthropologi terus menyempurnakan “teori-teori” mereka mengenai perkembangan manusia dan transisi dari homo habilis ke homo erectus ke homo sapiens. Sesungguhnya, dengan mempelajari rangkaian-rangkaian DNA, Allan Wilson dari University of California di Berkeley, bersama para ilmuwan lainnya, berkesimpulan bahwa segenap umat manusia di dunia berasal dari satu leluhur perempuan yang sama (yang menariknya mereka sebut “Hawa”) yang hidup di Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu. (Sejujurnya, para ahli anthropologi yang lain mengajukan kritik atas teori ini; lagi, membuktikan bahwa tak seorang pun memiliki detail lengkap mengenai penciptaan.)


Menanggapi penciptaan manusia dan evolusi, Paus Pius XII dalam ensikliknya “Humani Generis” (1950) mengingatkan bahwa dalam iman Katolik, kita percaya bahwa Tuhan secara langsung menciptakan dan menghembuskan suatu jiwa yang unik ke dalam setiap individu. (Dalam amanatnya, Paus Yohanes Paulus II mengutip Humani Generis dan menggaris-bawahi kebenaran ini.) Mengenai Adam dan keturunannya, Paus Pius XII menegaskan, “Sebab umat beriman tak dapat berpegang pada pendapat yang menyatakan bahwa setelah Adam, ada di dunia ini manusia-manusia lain yang tidak berasal dari keturunannya sebagai leluhur pertama semua orang, ataupun bahwa Adam mewakili sejumlah leluhur pertama. Sekarang tampaknya tidak mungkin bagaimana pendapat yang demikian dapat diselaraskan dengan sumber-sumber kebenaran yang diwahyukan dan dengan pernyataan dari dokumen-dokumen otoritas mengajar Gereja sehubungan dengan dosa asal, yang diwariskan dari suatu dosa yang sesungguhnya dilakukan oleh pribadi Adam dan yang melalui generasi ke generasi diwariskan kepada semua orang dan ada dalam setiap orang sebagai miliknya.” Pernyataan “sekarang tampaknya tidak mungkin” tidak berarti bahwa tidak pula di kemudian hari.


Merefleksikan kisah Kejadian dan keselarasannya dengan ilmu pengetahuan, Kardinal Ratzinger [sekarang Paus Benediktus XVI] dalam suatu homili menyampaikan, “Kita harus memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa proyek agung penciptaan makhluk hidup bukanlah hasil dari suatu kebetulan atau kesalahan. Bukan pula hasil dari suatu proses seleksi di mana kebenaran-kebenaran ilahi dapat dianggap sebagai tak masuk akal, tak ilmiah dan bahkan sekedar dongeng. Proyek agung penciptaan makhluk hidup menunjuk pada suatu Sebab yang mencipta dan memperlihatkan kepada kita suatu Inteligensi yang mencipta, dan mereka melakukannya dengan lebih terang dan lebih cemerlang sekarang ini daripada sebelumnya. Dengan demikian, kita dapat mengatakan sekarang ini dengan suatu kepastian dan sukacita baru bahwa manusia sungguh merupakan suatu proyek ilahi di mana hanya Intelegensi yang mencipta, yang kuat dan agung serta hebat yang dapat mengandungnya. Manusia bukan suatu produk kesalahan melainkan sesuatu yang dikehendaki; manusia adalah buah kasih. Ia dapat mengungkapkan dari dirinya sendiri, bahasa dari Inteligensi yang mencipta yang berbicara kepadanya dan menggerakkannya untuk mengatakan, `Ya, Bapa, Engkau menghendaki aku.'” Dari pernyataan Kardinal Ratzinger ini, kita melihat perlunya menghargai pemahaman ilmiah sembari mempertahankan kebenaran-kebenaran iman.


Katekismus Gereja Katolik meringkasnya dengan baik, “Dari semua pernyataan Kitab Suci mengenai penciptaan, tiga bab pertama dari buku Kejadian mendapat tempat yang khusus. Dilihat dari sudut sastra, teks-teks ini dapat mempunyai sumber yang berbeda. Pengarang-pengarang yang diilhami menempatkannya pada awal Kitab Suci. Dalam bahasa yang meriah mereka dengan demikian mengungkapkan kebenaran mengenai penciptaan, asal dan tujuannya dalam Allah, peraturan dan kebaikannya, mengenai panggilan manusia dan akhirnya mengenai drama dosa dan harapan akan keselamatan. Kalau dibaca dalam cahaya Kristus, dalam kesatuan Kitab Suci dan dalam tradisi Gereja yang hidup, ungkapan-ungkapan ini merupakan sumber utama untuk katekese mengenai misteri-misteri `awal': penciptaan, jatuhnya ke dalam dosa, janji keselamatan” (No 289).


Fr. Saunders is president of Notre Dame Catechetical Institute and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.


sumber : “Straight Answers: Evolution Theory and Faith Don't Conflict” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1996 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com


Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

No comments:

Post a Comment