December 4, 2010

CITRA ILAHI DALAM MANUSIA: PAHAM KESELAMATAN DALAM KRISTEN ORTHODOX

Oleh : Efraim Bar Nabba B.Noorsena



*) Makalah disajikan dalam “Pengajian Injil “ yang diselenggarakan YAYASAN KANISAH ORTHODOKS SYRIA, di Hotel Sahid Raya, Surabaya 17 September 1999.

Dalam tabiat IlahiNya sebagai Kalimat Allah (Firman Allah) yang kadim dan selalu qa’imah (melekat) dalam Dzat Allah, maka ia bukan lain sebagai Citra Allah (shuratu I-Lah) [2] ). Maksudnya, sebagai Firman yang kekal yang keluar dari Allah, laksana “terang yang memancar dari Sumber terang” (nur min al-Nur), [3] ) Allah mewahyukan DiriNya sendiri melalui FirmanNya sendiri. Karena itu sebagai Firman yang kekal itu, “huwa baha’u majdi I-Lahi wa Shuratu jawharih “ (Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan Gambar WujudNya. [4] ) Maksudnya, DzatNya yang tidak kelihatan itu, dapat dikenal melalui FirmanNya. Apabila Al-Masih sebagai Firman Allah adalah Citra Allah sendiri, maka manusia diciptakan “menurut Gambar dan Rupa Allah”. Kitab Taurat, Sefer Beresyit/Kejadian 1:27 menyebutkan:Wayyibera Elohim et ha-Adam be-tselemo, be-Tselem Elohim bara otto zakar uneqbah otam. [5] ) Maka Allah menciptakan Manusia itu menurut GambarNya, menurut Gambar Allah diciptakanNya dia laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. 

Sebagaimana disaksikan Alkitab, bahwa Manusia diciptakan “menurut Gambar dan Rupa Allah” (Kejadian 1:26, teks Arab: Wa qala I-lahu : linash-na’I al-Insana ‘ala shuratina kamitslina). Manusia diciptakan menurut Citra Ilahi, sedangkan Citra Ilahi itu adalah Kristus sebagai FirmanNya yang kekal (‘llm.Al ‘Aqal al-Ilahi), maka semua manusia diciptakan menurut “pola Kristus” sendiri. Maksudnya, setiap manusia adalah “images of His Image—men are said to be according to the Image, not to be images of God” [6] ). Dari landasan teologis ini, ada 2 makna yang dapat dicatat oleh Bapa-bapa Gereja:


1. Origen:Setiap Manusia lahir secara fitri adalah “kristen”



Dalam pengertian bahwa setiap manusia tidak terkecuali diciptakan “menurut pola Kristus” itu, Origen dari Iskandariyah (wafat 254) mengatakan bahwa setiap orang dilahirkan ke dunia pada fitrahnya adalah “kristen” (dengan huruf “k” kecil). Selanjutnya, Origen mencatat: “if the firstborn of every creature, is the image of invisible God, the Father is the arche. In the same way, Christ is the arche of those who are made according to the Image of God” [7] ) (Apabila Ia yang pertama dilahirkan dari Allah (Firman Allah) adalah Citra Allah yang tidak kelihatan, dan Bapa sebagai pola azaliNya, maka dengan prinsip jalan yang sama, Al-Masih adalah pola dari setiap manusia yang diciptakan menurut Citra Allah).


2. Athanasius: Firman Allah nuzul (turun) ke dunia untuk mengembalikan Fitrah kemanusiaan yang jatuh



Sebagai mahkota makhluk yang “diciptakan menurut Citra Allah”, manusia diberikan potensi moral untuk meneladani tabiat Allah (Demut, “teladan Allah”). Tetapi manusia telah jatuh ke dalam dosa, sehingga Citra dan Teladan Ilahi itu rusak (sekalipun tidak rusak total). Sisa-sisa Citra Ilahi dalam diri Manusia itu, adalah kesadarannya masih mempunyai kesadaran mencari asal muasal kehidupan ini (Jawa : Sangkan Paraning Dumadi), meskipun pengenalan manusia akan Allah itu sama sekali tidak sempurna, sehingga memerlukan bantuan dari Allah (Roma 3:21-31).

Kondisi manusia setelah kejatuhan dalam dosa, masih mempunyai kesadaran akan makna baik dan jahat (Kejadian 3:22), tetapi manusia tidak mempunyai kekuatan lagi menaklukkan yang jahat. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23).dan sejak kejatuhannya dalam dosa itu maut telah memasuki dunia (Roma 5:12). Manusia yang sebenarnya diciptakan untuk tujuan kekekalan, akhirnya mengalami kelapukan dan kematian. Walaupun kesadaran manusia untuk berbuat baik masih ada, karena citr ilahi yang masih tersisa tadi, tetapi ia menjadi tidaak berdaya apa-apa. Ibarat, “bensin yang masih ada baunya tapi sudah kehilangan daya bakar”, maka manusia mempunyai kesadaran akan keabadian, tetapi tidak mampu lagi mengalahkan maut.

Dalam kesadarannya akan dimensi keabadian itu, manusia mencoba sekuat tenaga menghidupi dirinya dengan Firman Allah, meskipun ia tidak mengenalnya. Memang sebagai Firman Allah, Kristus tidak terbatas: Ia bekerja dimana saja Ia kehendaki, tidak terikat oleh aspek ruang dan waktu. Karena itu, kita dapat mengakui kebaikan dari manapun juga asalnya sebagai milik kita orang Kristen. Bahkan, mengutip kata-kata Yustinus Martyr (wafat 167): “Mereka yang hidup secara akali (berdasarkan FirmanNya) adalah orang Kristen, walaupun mereka disebut atheis” [8] ) Tetapi jarus ditekankan, pengenalan itu sama sekali tidak sempurna. Karena itulah, Firman Allah itu sendiri “telah nuzul dari surga demi kita dan demi keselamatan kita” (hadza alladzi min ajlina nahnu al-basyar, wa min aljli khalashina nazala minas sama) [9] ) Karena itu Ia memanggil semua orang –orang datang dan mengikuti JalanNya.

Dalam maknanya yang penuh secara par exellance setiap orang yang beriman dan menggabungkan diri secara sakramental dengan GerejaNya, disebut :Kristen (dengan “K” besar, Kisah Rasul-rasul 11:26). Itulah makna nuzulnya Kalimatullah ke dunia, sebagaimana diungkapkan oleh Mar Athanasius (wafat 373): “Tiada seorang pun yang dapat menciptakan kembali manusia dalam citra Allah, kecuali Citra Allah itu sendiri yang datang sebagai Manusia” [10] )


At-Tajjali: Pengubah-muliaan dan Mengambil bagian dalam Kodrat Ilahi



Keselamatan dalam Iman Kristen Orthodoks, tidak hanya dipandang sebagai pembenaran dan pengampunan dosa saja, atau yang biasanya digambarkan “masuk surga”. Keselamatan juga dipandang secara positif, pemuliaan dan pengembalian Manusia kepada fitrahnya yang diciptakan menurut Citra Allah. Itulah yang disebut Rasul Petrus dalam suratnya: “tasyiru syuraka’a fi ath-thabi’at al-Ilahiyah”(2 Petrus 1:4, “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi”). Hal ini sama sekali bukan berarti Manusia menjadi Allah dan lebur dalam DzatNya, seperti ajaran dalam paham Wahdatul Wujud (dalam Islam) dan aliran-aliran Patheisme (Kebatinan Jawa), yang mengaburkan batas-batas Allah sebagai Khaliq dan Manusia sebagai MakhlukNya.

Manusia adalah manusia, tetap manusia dan akan selalu menjadi manusia. Menurut Bapa Gereja Yunani, Yuhanna Mansyur Ad-Dimasyqi, [11] ) kata “Ilahi” dalam 2 Petrus 1:4 di atas, sama sekali tidak menunjuk kepada Dzat, tetapi menunjuk pada energiaNya yang memancar dri Dzat itu: yaitu kekudusan, kemuliaaan, kehidupan, kasih dan kuasaNya. Kita menjadi seperti Allah dalam makna meneladani hidup IlahiNya (Kejadian 2:26; 3:22). Menurut Bapa-bapa Gereja, theosis (pengilahian) itu disebut Tajjali (Transfigurasi, “pengubah-muli-aan”) secara sakramental melalui Perjanjian Kudus (Arami :Qurbana Dqaddisha; Arab: Khidmat al-Quddus). Karena itu Perjamuan Kuda disebut “obat ketidakbinasaan”. Mengapa? Sebab kita dilibatkan melalui “kebangkitanNya dari antara orang mati” (1 Korintus 15:20). Kidung Idul Fashha (perayaan Paskah) ini menggambarkan kebenaran iman tersebut:
Al-Masih Qama min bainal amwat. wa wathiy al-mauta bi al-maut, wa wahabal hayyata lil ladzina fil qubr. [12] ) (Kristus telah bangkit dari antara orang mati, dengan kematianNya telah diinjak-injak maut, dan telah dikaruniakan hidup kekal bagi orang-orang yang mati dalam kubur)


Makna Positf Keselamatan dalam Kristus : Manunggaling Kawula Gusti



Dasar teologis dari Tajjali (Transfigurasi, “pengubahmuliaan”) adalah Inkarnasi Kalimatullah (Basyar al-Tajjasad). Sayidina Al-Masih adalah Firman Allah yang menjadi Manusia, maka kemanunggalan kita dengan Allah bukan pada tabiat IlahiNya, dimana hal itu tidak mungkin. Tetapi dengan darah dan tubuh inkarnasiNya. Mengenai “mengambil bagian dalam kodrat Illahi” ini, sering digambarkan dengan simbol “pedang dan api”. Api memanaskan pedang hingga merah, disini energi api mengubah dan meningkatkan kualitas ketajaman pedang. Tetapi pedang tidak pernah menjadi api, sebaliknya api juga tidak pernah menjadi pedang [13] ) Bisa diaplikasikan, energi (kekuatan) Illahi itu menyatu dengan tubuh kemuliaan Al-Masih, dan melalui pemanunggalan kita dengan tubuh kemuliaan Al-Masih, kemanusiaan kita turut dialiri energi IllahiNya tersebut. Jadi, tujuan keselamatan Kristen Orthodoks secara positif adalah mencapai “Manunggaling kawulo Gusti”.




Catatan Kaki :


  1. Qadisah al-Baba al-Muadzim Shanuda III, Al-Ajabiyah: Kitab As Sab’u Shalawat al-Nahariyat wa al-Layliyah (Cairo: Maktabah Al-Muhabat, t.t.) h. 7-8.
  2. Filipi 2:6, Kolose 1:15
  3. Al-Khariy Ilyas (ed), Al-Malja’ al-Amien li-Nufus al-Mut’abin (Yerusalem, Dir Mar Saba’, 1982),h.34
  4. Ibrani 1:3, teks Arab
  5. “Sefer Bereshit 1:26-27”, dalam Torah we Nebiim we Ketibim (Yerusalem:Karen Ahabat Meshihit, 1997).
  6. “Origen’s Commentary on John”, dalam Allan Menzies, D.D (Ed), The Writing of the Fathers Down A.D. 325 Ante-Nicene Fathers, Vol.9 (Peabody, Massachusetts:Hendrickson Publishers, 1994),p.323
  7. Ibid, p.307
  8. Dalam bahasa Indonesia, lihat: Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta:BPK.Gunung Mulia, 1990), h.8-9.Istilah atheis disini, konteksnya pada zaman Yustinus adalah “para filosof Yunani yang tidak mau menyembah dewa-dewa, tetapi memiliki kesadaran filosofisnya sendiri tentang Allah yang mengatasi dewa-dewa Yunani itu.”
  9. Al-Khary Ilyas, Op.Cit.,h. 37.
  10. Tony Lane, Op Cit, h.28.
  11. Mr.Allan Wallerstedt (ed), The Orthodox Study Bible (Nashnille Tennessee: Thomas Nelson Publisers, 1993), p.560.
  12. Al-Kariy Ilyas, Op Cit, h 23
  13. Mr.Allan Wallerstedt (ed), Op Cit, p.562

No comments:

Post a Comment